cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
LOKABASA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 1 (2013)" : 11 Documents clear
SYAIR LAGU JENIS POP SUNDA KARYA DOEL SUMBANG (Kajian Struktural-Semiotik dan Nilai Moral) PRAMANIK, NIKNIK DEWI
LOKABASA Vol 4, No 1 (2013)
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v4i1.3127

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidenti􀂿kasi struktur puisi syair lagu jenis pop Sunda karya Doel Sumbang yang meliputi, imaji, simbol, musikalitas, suasana, tema dan gaya bahasa; mengidenti􀂿kasi aspek semiotik (ikon, indeks dan simbol); dan mendeskripsikan nilai moralnya. Dalam penelitian ini digunakan metode deskriptif. Data dikumpulkan dengan teknik dokumentasi dan transkripsi. Setelah dianalisis terlihat bahwa kehidupan di dunia tidak terlepas dari dua kemungkinan, yaitu kesenangan dan kesedihan. Di akhir penelitian ditarik kesimpulan, hasil analisis struktur syair lagu jenis pop Sunda karya Doel Sumbang, bahwa imaji yang banyak ditemukan adalah imaji penglihatan. Gaya bahasa yang paling banyak terlihat adalah hiperbola dan personi􀂿kasi. Sedangkan hasil analisis semiotik syair lagu karya Doel Sumbang disimpulkan tanda yang paling banyak dijumpai adalah simbol dan indeks. Hasil analisis nilai moral dalam syair lagu karya Doel Sumbang banyak menceritakan mengenai kritikan bagi para penguasa dan pejabat negara yang mempunyai prilaku nilai kurang terpuji seperti korupsi, yang menyebabkan rakyat sengsara. AbstractThis study aims to identify the structure of Sundanese pop song lyrics by Doel Sumbang, comprising images, symbols, musicality, nuance, theme and 􀂿gure of speech; to identify the aspects of semiotics (icons, indexes and symbols); and to uncover the moral of the lyrics. The research used the descriptive method. The data were documentated and transcribed. Results show that the wordly life cannot be separated from the two possibilities, namely pleasure and misery. The structural analysis reveals that the most common image was visual images. The most identifiable figures of speech were hyperbole and personi􀂿cation. Meanwhile, the semiotic analysis indicates that the signs most often found were symbols and indexes. Results of moral examination show that much of the lyrics carries criticisms to state of􀂿cials who are corrupt, and consequently makes the people miserable.
SASTRA LISAN DI SEPANJANG PINGGIR SUNGAI CITANDUY CIAMIS (Kajian Struktur dan Nilai Pendidikan) SULASTRI, EVI
LOKABASA Vol 4, No 1 (2013)
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v4i1.3110

Abstract

Penelitian ini bertujuan memaparkan sastra lisan yang ada di sepanjang pinggir Sungai Citanduydi Kabupaten Ciamis yang dikaji dari struktur dan nilai pendidikan. Deskripsinya mencakup jenis,struktur intrinsik, dan nilai pendidikan dalam sastra lisan. Metode yang digunakan yaitu metodedeskriptif. Teknik yang digunakan adalah telaah pustaka, wawancara, studi dokumentasi, danrekaman. Dari 26 dongeng ditemukan 11 dongeng sasakala, 7 dongeng mitos, dan 9 dongeng sage.Dongeng tersebut ada hubungannya dengan masalah keluarga, kekuasaan, kerajaan, unsur kekuatangaib (jin dan siluman-sileman, hubungannya dengan sesama makhluk hidup dan alam. Pelaku dalamdongeng ini rata-rata mewakili manusia biasa, manusia sakti, raja, putri, jin (onom), punggawa,dan prajurit. Latar tempat yang digunakan umumnya di hutan, sungai, pesisir, gunung, sawah, danperkampungan. Latar waktu yang digunakan umumnya mengenai tanggal, tahun, dulu, hari, danmalam. Latar suasana yang digunakan umumnya gembira, khawatir, merasa tidak nyaman, tidakenak perasaan, merasa takut, dan adanya interaksi dengan kerajaan lainnya. Alur yang digunakandari 26 dongeng yaitu alur maju. Amanat yang disampaikan rata-rata mengenai hidup secarabersama di dunia harus sesuai dengan perilaku yang baik berdasarkan yang sudah ditentukan olehagama, adat, dan negara. Dongeng tersebut memiliki 26 nilai moral yang berhubungan denganpribadi, 10 nilai sosial yang ada hubungannya dengan masyarakat, dan 11 nilai keaagamaan yangberhubungan dengan kepercayaan.AbstractThe research was about oral literature along the banks of Citanduy River, in Ciamis regency,speci􀂿cally examining its structure and educational values. It described the genre of oralliterature, its intrinsic structure, and the moral value. The method used was quantitative usinga descriptive method comprising interviews, book reviews, recording, and documentation. Outof 26 oral literatures (stories), 11 were classi􀂿ed as legends, 7 myths, and 9 ‘saga’ stories. Thestories contain issue of families, authorities, kingdoms, and unseen powers, (genie, ghost and theirrelationship with other creatures and nature). The characters of the stories were mainly ordinarypeople, kings, magicians, princes, queens, genies, guards and soldiers. The settings were jungles,rivers, beaches, mountain, paddy 􀂿elds, and villages. Time setting general used was date, year, dayand night. The nuances were happiness, worry, discomfort, uneasiness, fear, and interaction withother kingdoms. The plot of the 26 stories was forward plot. The morals of the stories in generalwere how to live peacefully in the world in accordance with values set by religions, norms, andstates. The 26 stories contain personal values, social values and religious values or beliefs.
MASYARAKAT SUNDA DALAM SASTRA: KOMPARASI MORALITAS DAN KEPRIBADIAN ISNENDES, RETTY
LOKABASA Vol 4, No 1 (2013)
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v4i1.3128

Abstract

Tulisan ini mengangkat aktualisasi diri tokoh sastra dalam peranannya membentuk moral manusia Sunda. Tokoh sastra adalah refleksi berbagai struktur sosial, begitu pun dengan tokoh sastra Sunda yang bisa membiaskan kebenaran universal tentang sifat, sikap, karakter, dan kepribadian manusia Sunda pada tataran realitas. Karya sastra yang dianalisis adalah sample dari karya sastra Sunda dari tiga periode, yaitu: Periode Sastra Sunda Kuno atau Lama (Buhun), Periode Sastra Sunda Pertengahan (Bihari), dan Periode Sastra Sunda Modern atau Baru (Kiwari). Pada akhirnya, sistem nilai yang muncul dari kompleksitas aktivitas dipengaruhi oleh perubahan jaman dan bergantinya kekuasaan.  AbstractThis paper raised the self-actualization literary 􀂿gure in the role of moral human form Sunda. Various literary 􀂿gures are a re􀃀ection of social structure, as was the literary figures that can refract universal truths about the nature, attitude, character, and personality Sunda at the level of reality. Literary works are analyzed samples of literary works from three periods, namely: Ancient Sundanese Literary Period or Old (Buhun), Sunda Literature Medieval Period (Bihari), and Sundanese Modern Literary Period or New (Kiwari). In the end, the value systems that arise from the complexity of the activity is in􀃀uenced by the change of time and the alternation of power.
NASKAH LONGSER KARYA H. R HIDAYAT SURYALAGA SEBAGAI BAHAN PANGAJARAN DI SMA/MA/SMK (Ulikan Struktural-Sémiotik) FIRMANSYAH, ARIEF
LOKABASA Vol 4, No 1 (2013)
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v4i1.3090

Abstract

Dewasa ini peminat drama longser semakin menurun, hal itu disebabkan oleh sajian cerita yangditampilkan tidak sesuai dengan keadaan di masa sekarang. Tujuan diadakan penelitian ini adalahuntuk mengidentifikasi dan mendeskripsikan karya sastra, khususnya naskah longser kemudianditerapkan sebagai bahan pembelajaran di SMA/MA/SMK. Penulis menggunakan dua metodepenelitian, yaitu metode deskriptif analitis dan struktural-semiotik. Sumber data yang digunakandalam penelitian ini adalah dari kumpulan naskah drama karya H.R Hidayat Suryalaga yang tidakditerbitkan, difokuskan pada dua naskah longser yang berjudul “Mad Toing” dan “Tisolédat”.Setelah proses identifikasi terhadap naskah longser tersebut dapat dideskripsikan kedua naskahtersebut bertemakan tentang kemanusiaan yaitu mengenai masalah moral dan masalah sosial yangsedang berlangsung.Kata Kunci: naskah longser, bahan pangajaran, struktural-semiotikAbstractNowadays interest in the longser drama is increasingly declining, which is due to the fact thatits presentation does not 􀂿t with the current situation. The goal of this study was to identify anddescribe literature works, in particular the manuscript of longser as a teaching material at SMA/MA/SMK. Two research methods were used, namely a descriptive analytical method and a structuralsemioticmethod. The data stemmed from the unpublished collection of drama manuscripts by H.RHidayat Suryalaga, focusing on two longser manuscripts entitled “Mad Toing” and “Tisolédat”.Examination of the manuscripts indicates that the main theme of the texts is humanity, speci􀂿callythe moral and social issue in modern day times.Keywords: longser manuscript, teaching material, structural-semiotic
PERIBAHASA SUNDA (Kajian Struktur, Semantik, dan Psikolinguistik) NUGRAHA, HARIS SANTOSA
LOKABASA Vol 4, No 1 (2013)
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v4i1.3112

Abstract

Penilitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan struktur peribahasa Sundaditinjau dari unsur fungsional sintaksisnya (tata kalimat), menganalisis dan mendeskripsikanunsur semantik peribahasa Sunda ditinjau dari jihat makna perbandingan dan maksudnya, sertamenemukan dan mendeskripsikan pemetaan peribahasa Sunda di setiap jenjang sekolah (SD, SMP,SMA) yang ditinjau dari aspek psikolinguistik (perkembangan bahasa anak). Dalam penelitian inidigunakan metode deskripstif-analisis. Melalui teknik studi pustaka, diambil data secara purposifsebanyak 185 peribahasa. Data tersebut diolah menggunakan metode hermeneutik melalui analisisunsur langsung. Kajian ini menyimpulkan bahwa (a) struktur peribahasa Sunda memiliki empatpola kalimat yang terdiri atas dua pola struktur kalimat sempurna dan dua pola kalimat tidaksempurna; (b) peribahasa Sunda memiliki makna perbandingan (murni dan campuran) dan maknamaksud (piluangeun, paréntah dan pituah); serta (c) unsur psikolinguistik peribahasa bisa untukmemetakan peribahasa di sekolah. Peribahasa untuk siswa SD ada 47 (25%), SMP ada 77 (40%),dan SMA ada 65 (35%). AbstractThis research aims to describe and analyze the structure of Sundanese proverb as seen fromthe functional elements of syntax, to describe and analyze the semantic elements of Sundaneseproverb by comparing meanings and intents, and to discover and schematize Sundanese proverbsat every level of school (elementary, junior high, senior high school) from the standpoint ofpsycholinguistics (child language development). This study used descriptive-analytical method.Through purposive sampling, the data comprised 185 proverbs. Samples were analyzed usingthe method of hermeneutics through direct elemental analysis. The study concluded that (a) thestructure of Sundanese proverbs has four patterns of sentences consisting of two perfect sentencestructure patterns and two incomplete sentence patterns; (b) Sundanese proverbs contain meaningcomparison (pure and mixed) and the meaning of intent (piluangeun, parentah and pituah), and (c)psycholinguistic elements of the proverbs in school: 47 proverbs for elementary school students(25%), 77 for junior high school students (40%), and 65 for senior high school (35%).
INTERFERENSI LEKSIKO-GRAMATIKAL DARI BAHASA INDONESIA TERHADAP BAHASA SUNDA DALAM LIRIK LAGU POP SUNDA ANSHARI, ASEP FAJAR
LOKABASA Vol 4, No 1 (2013)
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v4i1.3097

Abstract

Bahasa mempunyai sifat yang dinamis serta heterogen. Bahasa bisa terus berkembang sesuai dengan waktu dan perkembangang zaman yang memengaruhi penutur bahasa tersebut. Pada penutur bahasa ada yang disebut dwibahasawan atau bilingualisme, yaitu masyarakat bahasa yang menguasai dua bahasa dengan sama baiknya kemudian mengaplikasikannya dalam komunikasi. Pada masyarakat Sunda saat ini banyak yang termasuk pada kritéria tersebut. Masyarakat Sunda juga umumnya menyukai nilai seni, yang salah satunya seni suara atau kawih. Dalam perkembangannya telah lahir seni suara kawih dalam genre pop Sunda yang akhir-akhir ini banyak karya lirik lagunya dikemas dalam dua bahasa yaitu bahasa Sunda (BS) dan bahasa Indonesiaa (BI). Fenomena ini memunculkan gejala interferensi bahasa dari BI terhadap BS selaku bahasa pertama dalam lagunya. Oleh karenanya, tulisan ini berjudul “Interferensi Léksiko-gramatikal Basa Indonesia terhadapBSdalamLirik Lagu Pop Sunda”. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Yang dideskripsikannya adalah masalah interferensi léksiko-gramatikal dalam lirik lagu pop Sunda. Setelah dilakukan tulisan, ternyata banyak ditemukan interferensi leksiko-gramatikal dari BI terhadap BS.Unsur interferensinya meliputi bentuk leksikal murni dari BI, atau leksikal serapan baik itu dari bahasa asing ataupun dari bahasa daerah, dan leksikal rekaan.Yang direkanya yaitu leksem BI diimbuhi BS yang dianggap tidak tepat pemakaiannya dalam BS. Pada interferensi bentuk gramatikal meliputi interferensi morfologis dan interferensi sintaksis. Dalam interferensi morfologis mencakup pola dan  proses afiksasi, reduplikasi, komposisi, dan abreviasi. Dan pada interferensi sintaksis mencakup pola frase, klausa dan kalimat.Begitu pula frekuensi dan distribusi pemakaiannya dalam lirik lagu pop Sunda dapat dilihat setelah dilakukan analisis. AbstractLanguage has a dynamic and heterogeneous nature. Language continously develops as the time goes and such a development affects the speakers. There exist bilingual speakers, language users who have mastery of two languages and use them in communication. Many Sundanese people belong to such a criterion. Sundanese people generally like arts, one of which is kawih, songs. Recently, Sundanese pop songs have emerged and much of the lyric is in two languages:   Sundanese and Indonesian. This phenomenon has led to interference of Indonesian to Sundanese as the dominant language of the song. This research is therefore entitled «Lexico-grammatical Interference of Indonesian to Sundanese in Sundanese Pop Song Lyrics». The method used was descriptive, focusing on the lexico-grammatical interference in Sundanese pop song lyrics. Examination discovers much lexico-grammatical interference from Indonesian to Sundanese, including pure lexical forms of Indonesian, loanwords of foreign languages   or from other local languages, and made-up lexical items. On the last issue, Sundanese af¿xes are improperly attached to Indonesian lexemes. The grammatical interference includes morphological and syntactic interference. Morphologically, the interference comprised morphological af¿xation, reduplication, composition, and abbreviation. Syntactically, the interference comprised syntactic phrases, clauses and sentences. In addition, interference in terms of the frequency and distribution of non-Sundanese elements in the Sundanese pop songs was also uncovered.
MODEL SUPERVISI KLINIS PENGAWAS DAN MGMP BAHASA SUNDA UNTUK MENINGKATKAN KOMPETENSI GURU BAHASA SUNDA DALAM MERENCANAKAN PEMBELAJARAN PRAMUDITA, HARYADI
LOKABASA Vol 4, No 1 (2013)
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v4i1.3115

Abstract

Penelitian dipusatkan pada Model Supervisi Klinis oleh Pengawas dan MGMP Bahasa Sunda terhadap guru-guru bahasa Sunda yang ada di Kabupaten Cirebon pada Tahun Ajaran 2011-2012 dengan tujuan untuk mengidentifikasi, mendeskripsikan dan menganalisis pengaruh supervisi klinis oleh Pengawas dan MGMP bahasa Sunda. Metode yang dipakai adalah metode kuasi eksperimen dengan pendekatan kualitatif dengan rancangan desain one group time series design. Instrumen untuk mengukur hasilnya adalah validasi RPP. Lokasi dan sampel penelitian adalah guru-guru yang ada dikabupaten Cirebon berjumlah 35 orang. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa korelasi antara variabel X1 dan variabel Y korélasinya positif dan signifikan. Oleh sebab itu, adanya pengaruh supervisi klinis pangawas mata pelajaran bahasa Sunda kepada kompeténsi guru bahasa Sunda dalam membuat RPP sebesar 57,43%, dan sisa 42,57% dipengaruhi oleh faktor lainnya. Supervisi Klinis ti Pengawas Mata Pelajaran sangat stratégis dalam membantu guru baik secara kompeténsi profésional, pédagogik, kapribadian, dan sosial, melalui wadah MGMP. AbstractThe research focused on the clinical supervision model by Sundanese Teachers Consultation and supervisors implemented to Sundanese teachers in Cirebon regency in 2011-2012 school year. The goal was to identify, describe and analyze the in􀃀uence of clinical supervision by the Sundanese Teachers Consultation and supervisors. The method used was quasi-experimental, employing a qualitative approach using a one group time series design. The instrument used to measure results was validation of instructional planning. The subjects were 35 teachers at Cirebon regency. Results indicate that the correlation between X1 and Y variables was positive and signi􀂿cant. Therefore,there was 57.43% in􀃀uence of the clinical supervision model to Sundanese teachers’ competence in designing instructional planning, the remaining 42.57% was due to other factors. The clinical supervision model successfully aided teachers in their professional competence, pedagogic competence, personality, and social competence within the Teachers Consultation.
KAJIAN TASAWUF DALAM GUGURITAN SINOM GURINDA PANGRASA KARYA RADEN HAJI MUHAMAD SYU’EB (Analisis Struktural dan Hermeneutik) ALIA, DWI
LOKABASA Vol 4, No 1 (2013)
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v4i1.3098

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih kurangnya penelitian mengenai kajian tasawuf dalam naskah guguritan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tasawuf pada naskah guguritan dengan menggunakan analisis struktural dan hermeneutik. Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan beberapa hal berikut:1) dari hasil analisis struktural pada naskah guguritan ini, terdapat 2 bait yang tidak sesuai dengan aturan guru gatra pupuh Sinom yaitu pada bait ke-3 dan bait ke-58. Menurut aturan guru wilangan dalam pupuh Sinom, naskah guguritan ini tidak sesuai dengan aturan yang baku; 2) dari hasil analisis hermeneutik didapatkan isi dari guguritan ini adalah menggambarkan hal-hal yang dialami oleh pengarang dalam mencapai hakikat diri untuk ma’rifatullah; 3) AlMaqam dalam istilah tasawuf yang didapatkan dari hasil kajian pada guguritan ini adalah: attaubah, al-zuhud, as-shabr, at-tawakkal, al-ridha, al-mahabbah, dan al-ma’rifah. AbstractThis research was motivated by the dearth of research on the study of Su¿sm of guguritan manuscripts. This main goal was to examine the Su¿sm concepts in a guguritan manuscript using a structural analysis and hermeneutics. Results reveal the following: i) the structural analysis on the guguritan manuscript indicates that two stanzas (i.e. the 3rd stanza and 58th stanza do not align with the rules of the guru gatra pupuh Sinom. According to the rules of the guru wilangan in pupuh Sinom, this guguritan manuscript is not in accordance with the standard rules; ii) the hermeneutic analysis indicates that the guguritan describes what the author experienced in reaching the level of ma’rifatullah (acknowledging God); iii) the ¿ndings reveal Al-Maqam-related Su¿sm terms: attaubah, al-zuhud, as-shabr, at-tawakal, ar- ridho, al-mahabbah, and al-ma’rifah.
MEDIA AUDIO VISUAL UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENYIMAK DONGÉNG Gustiar, Mella Lisyanti
LOKABASA Vol 4, No 1 (2013)
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v4i1.3120

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana efektivitas media audio-visual dalam mendengarkan dongeng, yang diajarkan dengan menggunakan bantuan audio visual (media), serta hasil belajar siswa di kelas yang menggunakan metode konvensional. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa Kelas X SMA Negeri 1 Manonjaya Tasikmalaya Tahun Akademik 20122013/, yang dibagi menjadi kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Setiap kelompok terdiri atas 30 orang, yang pilih secara acak. Pengolahan data dalam penelitian ini dilakukan melalui pengujian sifat data, uji gain, dan hipotesis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikan hasil dari Kelas X SMA Negeri 1 Manonjaya Tasikmalaya antara siswa yang menggunakan media audio visual dibandingkan dengan siswa yang menggunakan metode konvensional. Dimana hasil belajar siswa yang diajarkan dengan menggunakan audio visual media (17,06) lebih tinggi daripada hasil belajar siswa yang diajarkan dengan menggunakan metode konvensional (10,00). Temuan dari penelitian adalah guru perlu menggunakan media berbasis teknologi dalam mengajar, sebagai contoh bisa menggunakan bantuan audio visual, sehingga hasil belajar bisa dicapai secara optimal, terutama untuk mendengarkan pelajaran menyimak dongeng. AbstractThis reseach aims to identify the effectiveness of audio-visual media in teaching folktales, comparing instruction with audio-visual aids to that with a conventional method. The research subjects were grade X students of SMA Negeri 1 Manonjaya Tasikmalaya 2012/2013 academic year, divided into an experiment group and a control group. Each group consisted of 30 people, randomly chosen. The data were investigated by testing their nature, the test gain, and hypotheses. Results indicate that there was a signi􀂿cant difference between instruction with audio visual aid compared to instruction with a conventional method. The achievement results of students in an audio visual class were (17,06) higher than those in a conventional method class (10,00). The endings suggest that teachers need to apply media-based teaching, e.g.using audio-visual aids to achieve an optimal learning, especially in teaching folktales.
FUNGSI GRAMATIKAL DAN SEMANTIS SUFIKS -EUN DALAM BAHASA SUNDA SUDARYAT, YAYAT
LOKABASA Vol 4, No 1 (2013)
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v4i1.3132

Abstract

Kajian ini bertujuan mendeskripsikan sufiks -eun dalam bahasa Sunda yang dikaji dari segi fungsi gramatikal dan semantik. Deskripsinya mencakup bentuk kata, fungsi gramatikal dan semantis, perilaku sufiks -eun, fungsi gramatikal sufiks -eun, dan fungsi semantis sufiks -eun. Dalam kajian ini digunakan metode deskriptif. Sumber data kajian ini berupa ragam bahasa Sunda lisan dan tulis. Untuk mengumpulkan data digunakan teknik teks, intuisi atau introspeksi, dan teknik elisitasi. Untuk mengolah data digunakan metode distribusional dengan analisis unsur langsung sebagai teknik dasar, yang diikuti teknik subsitusi sebagai teknik lanjutan. Kajian ini menyimpulkan bahwa sufiks -eun memiliki perilaku mandiri dan gabungan dengan sufiks lain serta reduplikasi. Sufiks -eun membentuk kata turunan dari bentuk dasar. Baik sufiks -eun mandiri maupun gabungan memiliki fungsi inflektif dan fungsi derivatif seperti fungsi verbal, fungsi adjektival, fungsi nominal, dan fungsi numeral. Sebagai akibat hubungannya dengan bentuk dasar, sufiks -eun memiliki makna gramatikal seperti ‘orang III ada dalam keadaan BD’. This study aims to describe the suf􀂿x-eun in Sundanese are assessed in terms of grammatical and semantic functions. Includes a description of the form of words, grammatical and semantic functions, behavior-eun suf􀂿x, suf􀂿x-eun grammatical functions and semantic functions of suf􀂿xeun. In this study used a descriptive method. The study of data sources in the form of the languagevariety spoken and written. Techniques used to collect data text, intuition or introspection, and elicitation techniques. To process the data used distributional methods with direct elemental analysis as the basic techniques, followed by a substitution technique as advanced techniques. The study concluded that the suf􀂿x-eun has independent behavioral and combined with other sufixes and reduplication. Suf􀂿x-eun forming a derivation of the basic form. Either independently or suf􀂿x-eun has combined function and derivative function such in􀃀ectional verbal function, the function adjektival, nominal function, and the function of the numerals. As a result to do with the basic form, the suf􀂿x-eun has grammatical meanings such as ‘third person is in a state of BD’.

Page 1 of 2 | Total Record : 11