cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
LOKABASA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 2 (2013)" : 11 Documents clear
NILAI KEARIFAN LOKAL DALAM UPACARA ADAT RITUS TIWU PANGANTEN DI KECAMATAN BABAKAN KABUPATEN CIREBON (Analisis Struktural-Semiotik) HARYADI, FIET
LOKABASA Vol 4, No 2 (2013)
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v4i2.3133

Abstract

Kebudayaan identik dengan kesenian, upacara-upacara adat yang dilaksanakan oleh beberapa kelompok suku bangsa, pakaian adat, cerita rakyat atau legenda serta kesusastraan. Kebudayaan juga sering dikaitkan dengan segala hal yang tradisional. Salah satu contohh kebudayaan yang melekat di masyarakat Sunda, khususnya di Kecamatan Babakan Kabupaten Cirebon yaitu Upacara Adat Ritus Tiwu Panganten (UARTP). UARTP yaitu upacara iring-iringan pengantin tebu yang diarak dari balai pertamuan Pabrik Gula Tersana Baru sampai ke dalam Pabrik Gula Tersana Baru. Dalam UARTP mengandung unsur struktural yang merupakan susunan acara dalam kegiatannya, serta mengandung unsur semiotik yaitu ikon, indeks, simbol, alat, dan pelaku. Selain unsur structural-semiotik, UARTP juga mempunyai nilai kearifan lokal. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode deskriptif. Yang dideskripsikannya adalah tentang nilai kearifan lokal dalam UARTP dikaji dari unsur struktural semiotiknya. Setelah dianalisis, nilai-nilai yang terdapat dalam UARTP yaitu nilai kesejahteraan, kerja keras, disiplin, pendidikan, kesehatan, gotong royong, pengelolaan gender, pemeliharaan budaya, perduli lingkungan, ketenteraman, sopan santun, kejujuran, kesetiakawanan sosial, kerukunan dan penyelesaian konflik, komitmen, pikiran positif, dan rasa syukur. Konsép yang terdapat dalam UARTP, yaitu konsep- konsep permainan, folklor, ritus, mite, punduh, magi, teater. Fungsi yang terdapat dalam UARTP yaitu fungsi hiburan (rekreatif), alat pengesahan pranata-pranata dan lembaga-lembaga kebudayaan (kultural), alat pendidikan anak (edukatif), dan alat pemaksa atau pangawas agar norma-norma masyarakat akan terpanuhi (sosial). Unsur semiotik yang terdapat dalam UARTP yaitu unsur ikon, indeks, dan simbol. Culture is identical to artistry, indigenous ceremonies carried out by some ethnic groups, custom clothing, folk tales or legends and literatures. Culture is often associated with all things traditional. One form of Sundanese culture, especially in Babakan subdistrict of Cirebon district is the Traditional Ceremony of Bride’s Sugarcane Rite. This is a parade ceremony of sugarcane bride from New Tersana meeting hall to the New Tersana building. This ceremony contains structural elements in the form of programs. It also comprises elements of semiotics, which include icons, indexes, symbols, tools and actors. In addition, the ceremony contains local wisdom. The method used in this research is a descriptive method. It delineates the local wisdom extracted from the ceremony by examining semiotic structural elements. Results indicate that the ceremony has many values namely hardworking,discipline, education, health, mutual-cooperation, management of gender, cultural preservation, environmental care, security, courtesy, honesty, social solidarity, harmony and conflict resolution, commitment, positive thoughts and gratitude. The concepts identifiable in the ceremony include the concepts of games, folklores, rite, mites, punduh, magi, and theater. The ceremony has the following functions: entertainment (recreational), instrument of ratification and cultural institutions (cultural), children education tools (educational), and corecive tools to ensure that societal norms are met (social). The semiotic elements found in the ceremony are icon, indexes and symbols.
MENGUSUNG PEMBELAJARAN SASTRA LISAN GAMBANG RANCAG BETAWI MENUJU PEMBELAJARAN INOVATIF ATTAS, SITI GOMO
LOKABASA Vol 4, No 2 (2013)
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v4i2.3144

Abstract

Mengusung Pembelajaran Sastra Lisan Gambang Rancag Betawi Menuju Pembelajaran Inovatif. Tujuan menulis makalah ini adalah untuk mengembangkan pembelajaran sastra lisan agar tidak terkungkung pada pembelajaran teks. Selain itu, bertujuan untuk mebuat pembelajaran sastra lisan lebih kreatif dan inovatif. Diketahui bahwa pembelajaran sastra lisan selama ini, baik di sekolah maupun di perguruan tinggi para pembelajar tidak digiring pada pembelajaran model kelisanan sebuah materi sastra lisan, termasuk memaknai teks lisan itu dengan konteksnya sehingga teks lisan yang dimaknai kehilangan maknanya secara utuh karena hanya memaknai objek (materi) sebagian. Metode pembelajaran sastra lisan gambang rancag Betawi seutuhnya diarahkan pada pembelajaran yang inovatif, yaitu menggunakan media teks pertunjukan untuk mengenali konteks sebuah materi pembelajaran. Pendekatannya dengan teori Joice dan Weil (1986), sebagai langkah pembelajaran sastra lisan dengan objek teks pertunjukan dikenali bentuk kelisanannya, sementara melalui konteks, pembelajar bisa menandai makna isi cerita sesuai konteksnya, termasuk fungsi dari cerita yang di tampilkan. Berdasarkan bentuknya akan ditunjukkan sebuah pertunjukan cerita rakyat Betawi sehingga secara utuh pemaknaan pembelajaran sastra lisan sebagai muatan lokal akan tertanam dalam diri pembelajar sebgai karakter.The objective of this paper is to develop the oral literary teaching in order to supplement textual teaching. In addition, the paper aims to create a more creative and innovative oral literary teaching method. It has been assumed that in the context of teaching oral literature in school or higher education to date, students are not exposed to a teaching model of oral literature, including interpreting oral texts within their contexts. This leads to the loss of whole meaning of oral texts due to partial interpretation. The teaching model of Gambang Rancag Betawi is an innovative model, utilizing performance texts as media to recognize contexts of a subject matter. Joice and Weil’s (1986) theory was adopted in order to unpack the oral form of the text. Through contexts, students can comprehend the gist of the story, including the function of the story. In terms of the form, the performance will be conducted so that students can arrive at a whole interpretation of teaching oral literature as local content.
CIRI-CIRI FANTASTIK DUA CERITA RAKYAT KALIMANTAN DALAM BUKU KUMPULAN CERITA RAKYAT NUSANTARA KARYA KIDH HIDAYAT Suhendi, Indrawan Dwisetya
LOKABASA Vol 4, No 2 (2013)
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v4i2.3134

Abstract

Tulisan ini mencoba untuk mengungkap ciri-ciri fantastik dua cerita rakyat Kalimantan dalam buku Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara (KCRN) karya Kidh Hidayat. Seperti judul buku tersebut, cerita ini memang berasal dari cerita lisan yang kemudian dituliskan untuk lebih dikenal luas di kalangan pembaca. Data yang tersedia dalam buku ini berupa cerita rakyat Kalimantan yang berjudul Asal Mula Hantu Jadi-jadian Hantuen (AMHJH) dan Asal Mula Burung Roak (AMBR). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Di mana data yang berupa teks cerita akan dideskripsikan menurut struktur cerita fantastik Raymond Rogé untuk kemudian dilihat ciri-ciri kefantastikkan yang dimilikinya. Dalam tulisan ini, akan dibahas mengenai (1) struktur cerita AMHJ dan AMBR, dan (2) ciri-ciri fantastik dalam kedua cerita tersebut. This paper attempts to uncover the characteristics of two fantastic stories in Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara (KCRN) by Kidh Hidayat. As the title of the book implies, this story is derived from the oral stories that were later written in order to be more widely known among readers. The data are in the form of the tradisional prose entitled Asal Mula Hantu Jadi-jadian Hantuen (AMHJH) and Asal Mula Burung Roak (AMBR). The method used in this research is a descriptive method. The data will be described according to Raymond Rogé’s fantastic story structure and their fantastic features will be examined. In this paper, the following will be laid out: (1) the structure of AMBR and AMHJ stories, and (2) the characteristics of the fantastic features in the two stories.
CERITA WAYANG RAHWANA PEJAH GARAPAN ASEP SUNANDAR SUNARYA (Kajian Struktur dan Psikologi Sastra) RAKHMAN, FAHMI
LOKABASA Vol 4, No 2 (2013)
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v4i2.3130

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan struktur dan unsur psikologi sastra dalam cerita wayang garapan Asep Sunandar Sunarya, alur yang dibangun oleh tokoh, pengaruh latar pada pribadi tokoh, kemudian mengkaji kebutuhan dasar para tokoh berdasarkan pada kajian psikologi. Metode deskriptif-analitik digunakan dalam penelitian ini untuk mendeskripsikan data-data yang diperoleh, dan menafsirkan objek penelitian berdasarkan data-data tersebut. Teknik yang digunakan adalah teknik studi pusataka, analisis data, transkripsi. Sumber data diperoleh dari original video compact disc (VCD) pagelaran wayang golek Rahwana Pejah garapan Asep Sunandar Sunarya. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, alur yang digunakan adalah alur sorot balik. Latar tempat meliputi latar nyata dan latar imajinatif. Latar waktu meliputi masa peperangan dan masa penahanan. Latar sosial melibatkan masyarakat kelas menengah ke bawah dan petinggi kerajaan. Rahwana merupakan tokoh utama yang memiliki peranan penting dalam keseluruhan alur cerita. Berkat kekurangan dan kelebihan yang dimililikinya, serta pengaruh lingkungan pembentuk wataknya, Rahwana mengaktualisasikan diri dengan cara yang berbeda dari manusia pada umumnya. Psikologi humanistik yang meliputi kebutuhan dasar manusia, yaitu kebuthan fisiologis, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan akan rasa memiliki-dimiliki atau kasih sayang, kebutuhan akan penghargaan, dan kebutuhan aktualisasi diri sebagian besar dapat memenuhi para tokohnya. Apresiasi terhadap tokoh ini bisa dijadikan alternatif untuk pembelajaran terhadap semua kalangan masarakat. Melalui penelitian ini maka anggapan bahwa sastra merupakan cerminan dari kehidupan sosial masyarakat, terbukti benar adanya.  Abstract  The aim of this research is to describe the structure and literary-psychological elements, the story plot built by characters, the impact of settings to characters, and to examine the basic needs of all characters from the standpoint of psychology. A analytic-descriptive method was used to delineate and interpret the data. Techniques used include literature review, data analysis, and transcription. Source of data is the Sundanese puppet, The Death of Rahwana by Asep Sunandar Sunarya. Results show that the plot of the story is forward. Settings include real and imaginative settings, and the time settings include war and arrest period. Social setting involves middle to low class and royal families. Rahwana is the main character, which plays an important role throughout the story. He has various negative and positive influences in addition to having a unique character from his upbringing. Rahwana actualizes himself quite differently from any normal human being. This character is able to fulfill most of the humanistic psychological needs including human basic needs like physiological needs, safety needs, and needs of love, needs of acknowledgment, and needs of self-actualization. Appreciation to characters of this sort can be used as an alternative teaching model. This research corroborates the assumption that literature reflects people’s social life. 
PEMERTAHANAN BAHASA SUNDA DI SENTRA KRAMIK PLERED (Studi Kasus) TATANG, TATANG
LOKABASA Vol 4, No 2 (2013)
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v4i2.3145

Abstract

Penelitian ini didasari oleh fenomena kontak bahasa yang terjadi di Sentra Kramik Plered Jawa Barat. Plered adalah salah satu daerah Sunda di Jawa Barat yang mayoritas masyarakatnya menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa pengantar sehari-hari. Bagaimanapun, fenomena kontak bahasa antara masyarakat Plered dengan para pelancong (peminat kramik) baik dari dalam negeri maupun luar negeri, akan menimbulkan fenomena multilingualisme; campur kode atau alih kode. Bagaimana masyarakat Plered mempertahankan bahasa daerah Sunda sebagai bahasa daerahnya, fenomena ini menjadi menarik untuk dikaji. Untuk mengetahui hal tersebut, peneliti melakukan wawancara dengan para pengrajin keramik dan observasi langsung terhadap transaksi jual beli di Sentra Kramik Plered. Dari hasil pengolahan data, disimpulkan bahwa upaya pemertahanan bahasa Sunda dilakukan melalui penamaan produk keramik (95% berbahsa Sunda, 5 % bahasa Asing), dalam percakapan sehari-hari antar orang dewasa dan antar anak-anak, dalam kegiatan formal kepala desa, dalam acara keagamaan, dalam transaksi jual beli yang penjualnya adalah orang dewasa. Bahasa Sunda kurang digunakan dalam peristilahan bahan baku, proses, dan alat pembuatan keramik, dalam penamaan toko, dalam pergaulan antar remaja, dan dalam transaksi jual beli yang penjualnya anak remaja.Kata kunci: The present research is motivated by the language contact phenomena at the ceramic center, Plered, West Java. Plered is one of Sundanese speaking areas in West Java in which Sundanese is used as a daily language by the majority of the people. The language contact phenomena between people of Plered and domestic and international visitors (ceramic enthusiasts) give rise to multilingualism phenomena; code mixing or code switching. How people of Plered maintain Sundanese as their local language is the focal interest of this research. To meet that end, interviews with ceramic makers and direct observation of transaction at the ceramic center were deployed. Results indicate that Sundanese language maintenance is undertaken through the naming of ceramic products (95% in Sundanese and 5 % in foreign language), in daily communications between adults and children, on formal occasions of the chief of the village, religious activities, and business transaction whose vendors are adults. Sundanese is less used in the naming of raw materials, process and ceramic-making tools, ceramic stores, interactions among teenagers and business transaction whose vendors are teenagers.
STRUKTUR WACANA RUBRIK BALE BANDUNG DALAM MAJALAH MANGLE (Analisis Wacana Kritis Model Teun A. van Dijk) MAULANA, IRFAN
LOKABASA Vol 4, No 2 (2013)
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v4i2.3135

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menemukan dan membahas struktur makro, superstruktur, struktur mikro dan karakteristik wacana kritis yang ada pada rubrik “Bale Bandung”. Dalam penelitian ini digunakan metode deskriptif. Melalui teknik studi pustaka, diambil data secara purposif sebanyak tujuh wacana. Data tersebut diolah menggunakan analisis wacana kritis model Teun A. van Dijk. Analisis ini menyimpulkan bahwa tema pokok dalam wacana rubrik “Bale Bandung” merupakan kritik sosial dari masyarakat yang ditujukan kepada pemerintah yang sedang berkuasa. Skema yang disampaikan dalam wacana tersebut sudah sistematis, hal ini disebabkan adanya dukungan summary dan story. Dilihat dari segi struktur mikro, unsur semantik, sintaksis, stilistik, dan retorisnya sudah terlihat jelas. Adapun karakteristik wacana tersebut sudah terwakili semua unsurnya ketika wacana dianalisis menggunakan analisis wacana kritis dengan pendekatan Teun A. van Dijk. The purpose of this study is to identify and discuss the macrostructure, superstructure, microstructures and critical discourse features of “Bale Bandung” rubric. This study used a descriptive method. Through a literary review technique, seven sample discourses were purposely selected from “Balé Bandung” rubric. The samples were then analyzed by Teun A. van Dijk model of critical discourse analysis. The analysis reveals that “Bale Bandung” rubric portrays the current social events in the society. The theme is usually social critique towards the ruling government. The discourses have deployed a systematic scheme supported by summary and story. The discourses are considered good by their microstructures. The fact is verified after their semantic, syntactic, stylistic, and rhetoric elements were analyzed. Based on the data description and analysis using Teun A. van Dijk approach, it is shown that the element of critical discourse characteristics of Sundanese Language exists in “Bale Bandung” rubric.
NILAI AGAMA DALAM WAWACAN HIKAYAT HASAN SHOIG BASHRI UNTUK BAHAN AJAR MEMBACA DI SMA KELAS XII MELANDI, RINDI VAIVTI; KOSWARA, DEDI; KUSWARI, USEP
LOKABASA Vol 4, No 2 (2013)
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v4i2.3141

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memahami isi teks dan mendeskripsikan nilai-nilai agama dalam wawacan untuk dijadikan bahan ajar membaca di SMA kelas XII. Untuk mencapai hal itu, digunakan metode deskriptif dan metode edisi teks standar yang diharapkan bisa mendapatkan gambaran secara obyektif. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa wawacan Hikayat Hasan Shoig Bashri merupakan sebuah naskah yang ditulis menggunakan huruf Arab Pegon dan ditransliterasi ke dalam huruf Latin. Wawacan ini dibagi ke dalam dua jilid, terdiri atas 128 halaman dan delapan pupuh yang bercerita mengenai kehidupan sosial seorang pemuda yang sangat taat pada ajaran agama yang dianutnya. Alur dari cerita wawacan ini adalah maju dan tokoh utamanya adalah Hasan Shoig Bashri. Secara umum, latar tempat yang digunakan adalah tempat-tempat yang erat hubungannya dengan agama Islam. Dalam penulisannya, pengarang menggunakan sudut pandang orang ketiga karena pengarang berada di luar cerita, selain itu pengarang juga menggunakan beberapa gaya bahasa, peribahasa Sunda, dan syair-syair Arab. Nilai agama yang terkandung dalam wawacan ini terdiri atas aqidah, akhlak, dan fiqih. Hasil temuan ini direkomendasikan untuk dijadikan bahan ajar sesuai SKKD mata pelajaran bahasa dan sastra Sunda. This study aims to comprehend contents of the text and unearth the religious values in the text used as reading material in Grade XII of Senior High School. To meet the goal, this study used a descriptive method and a standard text method in hope to get an objective view. This study concludes that Hikayat Hasan Shoig Bashri is a text that was written through Arab Pegon and was transliterated into Latin alphabets. The text consists of two chapters, 128 pages and 8 pupuh. It tells a story of a moslem young man who obeyed his religion rules. Plot of the text is forward and the main actor is Hasan Shoig Bashri. Generally, the settings of the text are some places related with Islamic religion. The author of the text uses a third person viewpoint and uses a number of figurative speeches, Sundanese idioms, and even Arabic poetries. The religious values embedded in the text constitute Akidah, Akhlaq, and Fikih. The text is recommended to be a learning material suited with the standard competencies and basic competencies of Sundanese language and literature.
AFIKS PEMBENTUK ADJEKTIVA DALAM BAHASA LAMPUNG DIALEK A LOGAT BELALAU (Analisis Morfologis MEGARIA, MEGARIA
LOKABASA Vol 4, No 2 (2013)
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v4i2.3146

Abstract

Penelitian ini mengkaji tentang afiks pembentuk adjektiva dalam bahasa Lampung dialek A logat Belalau yang disingkat (BLA). Analisis dalam penelitian terdiri atas prefiksasi, sufiksasi, infiksasi, dan konfiksasi. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Data berasal dari telaah pustaka, khususnya teks yang menggunakan bahasa Lampung Dialek A dan sebagian berasal dari tuturan lisan yang berfungsi sebagai pelengkap data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa afiks pembentuk adjektiva dalam BLA terdiri atas (1) prefiks, (2) sufiks, (3) konfiks, dan (4) kombinasi afiks. Prefiks pembentuk adjektiva dalam BLA terdiri atas prefiks se-, dan te-. Sufiks dalam BLA hanya satu, yakni sufiks -an. Afiks lainnya adalah konfiks ke-an dan kombinasi afiks.Kata kunci:  . This research examines the adjective affixes in Lampungese, focusing on A Belalau Logat dialect. The analysis of this study consists of prefixes, suffixes, infixes, and confixes. This study employed a descriptive qualitative method. The main data came from the existing literature, especially the text in the dialect in question and the complementary data came from oral speech of Lampung native speakers. This study showed that the adjective affixes in Lampungese comprise (1) prefixes, (2) suffixes, (3) confixes, and (4) affix combinations. The prefixes include the prefix se- and te-. The suffix observed is only the suffix -an. In addition, there exists the confix ke-an as well as the combination of affixes.
RAGAM DAN STRUKTUR BAHASA PADA UPACARA ADAT RITUS TIWU PANGANTEN DI KECAMATAN BABAKAN KABUPATEN CIREBON DEWI, NIDA KANIA
LOKABASA Vol 4, No 2 (2013)
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v4i2.3136

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ragam dan struktur bahasa yang digunakan pada saat Upacara Adat Ritus Tiwu Panganten berlangsung. Kecamatan Babakan Kabupaten Cirebon merupakan daerah pengguna multibahasa. Dalam kesehariannya, masyarakat Babakan menggunakan bahasa Cirebon, bahasa Sunda, dan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasinya. Masyarakat Kecamatan Babakan juga memiliki ritual upacara adat yang rutin dilaksanakan setiap tahunnya ketika musim giling tebu tiba. Upacara adat tersebut yakni Upacara Adat Ritus Tiwu Panganten. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bahasa apa yang lebih sering digunakan dalam upacara adat tersebut, selain itu, struktur kata pun menjadi tujuan dari penelitian ini. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif. Setelah dilakukan penelitian, ternyata pada upacara adat ritus tiwu panganten, bahasa yang lebih dominan digunakan adalah bahasa Sunda. Ragam bahasa yang ditemukan adalah ragam bahasa sehari-hari dan ragam bahasa sastra. Termasuk ragam bahasa sastra karena terdapat ‘purwakanti’ yang di antaranya adalah purwakanti pangluyu, purwakanti maduswara, dan purwakanti larasmadya. Struktur kata yang ditemukan adalah kata dasar, kata berimbuhan, kata ulang, kata majemuk, dan kata singkatan. Struktur kalimatnya yang dianalisis adalah kalimat konvensi atau kalimah yang mengandung subjek.This research aims to determine the register and structure of the language used during the traditional ceremonies of Tiwu Panganten rites. Babakan Subdistrict of Cirebon District is an area in which multiple languages are spoken. In daily communications, people use Cirebon language, Sundanese, and Indonesian. The people of Babakan also have a traditional ceremonial ritual that is regularly held every year when the sugarcane-milling season arrives. The ceremony in question is the traditional ceremony of Tiwu Panganten rites. This study aims to determine which language is more often used in this traditional ceremony. In addition, the structure of the language is also the focus of this study. The method used is the descriptive method. Results reveal that the most dominant language used in this traditional ceremoy of Tiwu Panganten rites is Sundanese. The register found is everyday language and literatury language. Included in the literary language are ‘purwakanti’, among others ‘purwakanti pangluyu’, ‘purwakanti maduswara’, and ‘purwakanti larasmadya’. The types of sentence structures found are ‘kata dasar’, ‘kecap rundayan’, ‘kecap rajékan’, ‘kecap kantétan’, and ‘kecap wancahan’. The sentences analysed are conventional sentences or sentences containing subject.
ASPEK PSIKOLINGUISTIK SOSIAL DALAM PERIBAHASA SUNDA (Tinjauan Gambaran Watak Orang Sunda) PERTIWI, SISKA; SUDARYAT, YAYAT; SOLEHUDIN, O.
LOKABASA Vol 4, No 2 (2013)
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v4i2.3142

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan aspek psikolinguistik sosial dalam babasan dan paribasa (peribahasa) Sunda dan gambaran karakter orang Sunda yang ada dalam peribahasa Sunda. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analisis dengan menggunakan teknik telaah pustaka pada buku kumpulan peribahasa Sunda. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa terdapat enam aspek psikolinguistik dalam peribahasa Sunda, yaitu aspek: (1) gotong royong; (2) saling menolong; (3) saling menghargai; (4) tali persahabatan; (5) kekeluargaan; dan (6) harmonis. Selain itu, hasil penelitian ini membahas 59 gambaran watak orang Sunda yang terdapat dalam peribahasa Sunda, yang terbagi dalam lima tipologi watak berdasarkan kebudayaan, watak campuran tipologi, watak khusus, dan watak yang terdapat dalam peribahasa Sunda. Setelah itu, penelitian ini membahas tentang hubungan antara peribahasa Sunda dan aspek psikolinguistik sosial dalam menggambarkan watak orang Sunda. Hasil temuan ini direkomendasikan untuk menjadi referensi tambahan dalam khazanah ilmu psikolinguistik. The research aims to describe the aspect of social psycholinguistics in Sundanese proverbs and the description of the characteristics of Sundanese people embedded in the proverbs. An analytical descriptive method was used coupled with literature review of a compilation book of Sundanese proverbs. Results indicate that Sundanese proverbs contain six psycholinguistic aspects, namely (1) mutual aid; (2) mutual help; (3) mutual respect; (4) partnership; (5) kinship; and (6) harmony. In addition, 59 descriptions of the characteristics of Sundanese people were delineated. These fall into five typology of characteristics based on culture, mixed typology, special characteristics, and characteristics contained in the Sundanese proverbs. Furthermore, the research explores the relationship between Sundanese proverbs and aspects of social psycholinguistics that illustrate the characteristics of Sundanese people. These results are recommended to serve as supplementary reference in psycholinguistics.

Page 1 of 2 | Total Record : 11