cover
Contact Name
Khairul Sani Usman
Contact Email
khairul.sani@uin-alauddin.ac.id
Phone
+6285352217814
Journal Mail Official
plano.madani@uin-alauddin.ac.id
Editorial Address
Ruang Redaksi Jurnal Plano Madani Gedung Fakultas Sains dan Teknologi Jurusan Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota Jl. Yasin Limpo No 63 Samata Kabupaten Gowa
Location
Kab. gowa,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Plano Madani : Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota
ISSN : 2301878X     EISSN : 25412973     DOI : https://doi.org/10.24252/jpm
Core Subject : Social, Engineering,
Plano Madani : Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota is a scientific journal in the Field of Regional and City Planning published by the Department of Regional and City Planning, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar. The editorial team accepts scientific writings/articles and book reviews in the field of Regional and City Planning and Development or those with an emphasis on Spatial Planning. The encompassed fields include spatial planning, urban design, geographic information systems for regional and urban planning, Islamic spatial planning, transportation, coastal planning, environmental studies, socio-economic regional planning, rural planning, tourism planning, disaster management, urban landscape, and other relevant areas.
Articles 251 Documents
STRATEGI ADAPTASI NELAYAN TERHADAP PERUBAHAN EKOLOGIS DANAU TEMPE DI DESA PALLIMAE KECAMATAN SABBANGPARU KABUPATEN WAJO Fadhil Surur
Plano Madani : Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota Vol 4 No 1 (2015)
Publisher : Jurusan Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jpm.v4i1.1020

Abstract

Kawasan Danau Tempe merupakan kawasan potensial dalam pengembangan perikanan dan pariwisata dengan karakteristik kondisi perairan yang dinamis berdasarkan volume air yang mengikuti pola musim. Akan tetapi saat ini perairan Danau Tempe mengalami perubahan ekologis, yang ditandai dengan pendangkalan berkisar 15-20 cm yang cenderung meningkat setiap tahunnya. Saat ini maksimum kedalaman pada puncak musim kemarau hanya sekitar 0,5 m dan terjadi penurunan rata-rata sebesar 1,48 km2/tahun sehingga diprediksikan Danau Tempe akan hilang pada puncak musim kemarau di tahun 2018. Akibatnya terdapat indikasi nelayan tradisional di sekitar Danau Tempe untuk beradaptasi terhadap perubahan ekologis tersebut. Perubahan ekologis di kawasan ini terjadi karena pendangkalan dan pencemaran yang berakibat pada penurunan hasil tangkapan. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji bentuk perubahan ekologis berdasarkan pemahaman nelayan, strategi adaptasi yang dilakukan nelayan dalam menghadapi perubahan ekologis Danau Tempe dan mengidentifikasi kearifan lokal komunitas nelayan tradisional yang relevan terhadap perubahan ekologis di Desa Pallimae Kecamatan Sabbangparu Kabupaten Wajo. Metode analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif untuk menggambarkan secara konkrit fenomena yang dikaji. Berdasarkan hasil observasi di lokasi penelitian, pilihan-pilihan adaptasi yang dilakukan oleh nelayan antara lain: menganekaragamkan sumber pendapatan, melakukan perubahan daerah penangkapan, mobilisasi anggota keluarga dan memanfaatkan hubungan sosial. Selanjutnya terdapat kearifan lokal komunitas nelayan tradisional yang masih relevan dan dimanfaatkan untuk dapat beradaptasi dengan perubahan ekologis di Danau Tempe.
PENATAAN RUANG TERBUKA HIJAU KAWASAN KAMPUS II UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) ALAUDDIN MAKASSAR DI KABUPATEN GOWA Syarif Beddu
Plano Madani : Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota Vol 4 No 1 (2015)
Publisher : Jurusan Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jpm.v4i1.1007

Abstract

Secara umum, kondisi eksistingruang terbuka hijau (RTH) yang terdapat di kampus II UIN Alauddin Makassar merupakan daerah hijau atau area RTH yang berkualitas cukup baik antara lain berupa jalur hijau pada median dan sempadan jalan utama. Dengan vegatasi peneduh yang ada dapat membuat suasana yang sejuk dan nyaman bagi pengguna khususnya para mahasiswa maupun pegawai kampus.di samping itu, tingakt polusi udara akan dapat dinetralisir oleh tanaman yang ada. Dalam hal ini diharapkan hutan kota dalam kampus ini dapat menyerap panas, meredam suara yang bising dari jalan-jalan di sekitarnya, mengurangi debu, memberikan estetika, membentuk habitat untuk berbagai jenis burung atau satwa lainnya. Hutan kota dapat berfungsi untuk perlindungan daripancaran sinar matahari lansung, hujan deras, angin, pemandangan yang kurang baik dan manfaatnya akan memberi keindahan sekitar kampus sehingga dapat dijadikan tempat rekreasi dan relaksasi, sebagai laboratorium alam untuk pendidikan dan penelitian. Kesimpulan akhir dari arahan pengambanganRTH kampus II UIN di bagi atas 4 segmen dan masing-masing segmen mempunyai fungsi dan penanganan tersendiri. Sebagai saran dalam rangka arahan pemanfaatan ruang terbuka hijau kawasan kampus II UIN Alauddin Makassar yaitu Perlu adanya pelibatan semua stakholder pemerintah, pihak kampus II UIN, pihak swasta agar berperan aktif dan ikut terlibat untuk melestarikan lingkungan kampus sehingga kepedulian terhadap ruang terbuka hijau dapat dirasakan secara menyeluruh. 
ANALISIS PEMANFAATAN RUANG DI WILAYAH PESISIR KECAMATAN BONTOHARU KABUPATEN KEPULAUAN SALAYAR Murshal Manaf
Plano Madani : Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota Vol 4 No 2 (2015)
Publisher : Jurusan Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jpm.v4i2.990

Abstract

Analisis Pemanfaatan Ruang Wilayah Pesisir Kecamatan Bontoharu Kabupaten Kepulauan Selayar adalah judul yang saya angkat dalam skripsi ini. Studi tentang pemanfaatan ruang berdasarkan potensi dan masalah di kawasan pesisir Kecamatan Bontoharu Kabupaten Kepulauan Selayar. Pengembangan beberapa sektor yang merupakan potensi utama untuk dikembangkan, yaitu dari segi perikanan dan kelautan maupun pariwisata. Kajian ini meliputi pola pemanfaatan ruang. Dari hal tersebut dapat dilihat dimana yang termasuk kawasan budidaya atau non budidaya Kecamatan Bontoharu. Jenis penelitian ini yaitu jenis penelitian terapan dengan menggabungkan kualitatif dan kuantitatif. Kegiatan pengelolaan wilayah pesisir menghadapi berbagai ancaman baik dari aspek ekologi yaitu terjadinya penurunan kualitas lingkungan, seperti pencemaran, perusakan ekosistem dan penangkapan ikan yang berlebihan (overfishing) maupun dari aspek sosial yaitu rendahnya aksesibilitas dan kurangnya penerimaan masyarakat lokal. Sehingga di dalam mengantisipasi perubahan-perubahan dan ancaman-ancaman tersebut, pengelolaan wilayah pesisir harus dilakukan secara komprehensif dan terpadu dengan mengarahkan pemanfaatan ruangnya sesuai dengan potensi yang ada.
KESESUAIAN LAHAN PENGEMBANGAN PERKOTAAN KAJANG KABUPATEN BULUKUMBA Asmirawati Asmirawati
Plano Madani : Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota Vol 5 No 1 (2016)
Publisher : Jurusan Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jpm.v5i1.979

Abstract

Peningkatan kebutuhan lahan perkotaan dengan sisi lainnya terdapat keterbatasan ketersediaan dan kemampuan lahan, mengharuskan perencanaan pemanfaatan lahan dilakukan secara optimum. Kecamatan Kajang merupakan kawasan perkotaan penunjang di Kabupaten Bulukumba. Pesatnya kebutuhan lahan dan pemanfaatan sumberdaya lahan. Penelitian bertujuan untuk menilai tingkat daya dukung lahan dan memberikan informasi dalam pelestarian lingkungan. Metode yang digunakan pada penelitian adalah deskriptif kuantitatif, terdiri dari tahap pengambilan dan pengolahan data. Pengambilan data dilakukan melalui studi literatur dari beberapa instansi terkait. Sementara analisis data spasial dilakukan dengan menggunakan software Sistem Informasi Geografi (GIS). Hasil yang diperoleh yaitu keseluruhan lahan di seluruh sub BWP berpotensi dilakukan kegiatan pembangunan atau kegiatan budidaya. Analisis Kesesuaian Lahan diperoleh kesesuaian lahan untuk permukiman dan penyangga. Kawasan permukiman (terbangun) mencapai 507,03 ha atau sekitar 90,12% dari luas total kawasan, sisanya sekitar 55,56 ha atau hanya mencapai 9,88% merupakan kawasan penyangga. Hal ini menunjukkan bahwa dominan BWP Kajang dapat dikembangkan sebagai kawasan terbangun, sehingga RTRW alokasi pemanfaatan lahan masih dapat memenuhi kebutuhan lahan pembangunan perkotaan.
PENGARUH PERTUMBUHAN EKONOMI TERHADAP TINGKAT KEMISKINAN A. Idham Pananrangi
Plano Madani : Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota Vol 2 No 1 (2012)
Publisher : Jurusan Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jpm.v2i1.749

Abstract

Sumatera Selatan merupakan salah satu provinsi dengan penduduk yang cukup besar sekitar 3.567.897orang pada tahun 2009. Jumlah ini meningkat pesat dibandingkan tahun 2005 sebesar 2.338.793. Masalah tingginya jumlah penduduk ini akan membawa kekhawatiran tersendiri diantaranya akan banyak pengangguran di Sumatera Selatan yang mencerminkan banyaknya penduduk yang masih hidup di bawah garis kemiskinan karena tidak mempunyai penghasilan untuk membiayai kebutuhan hidup.   Pemerintah daerah selalu berupaya untuk mengurangi tingkat kemiskinan yang ada di Sumatera Selatan dengan memperbaiki kualitas sumber daya manusia. Langkah yang diambil adalah dengan menambah investasi non fisik terutama pendidikan dan kesehatan.  Investasi yang dilakukan cenderung untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Dari tahun 1997 hingga 2009, jumlah investasi mengalami peningkatan. Investasi yang tertinggi dilakukan pada tahun 2009 sebesar 103.882 juta rupiah.Berdasarkan hasil regresi bahwa pertumbuhan ekonomi belum mampu digunakan untuk mengatasi tingkat kemiskinan di Sumatera Selatan. Dengan kata lain bahwa pertumbuhan ekonomi belum biasa memberikan pengaruh yang nyata terhadap pengentasan kemiskinan di Sumatera Selatan. Investasi pemerintah yang di lakukan di Sumatera Selatan belum dapat mengurangi  tingkat kemiskinan di Sumatera Selatan. Hal ini disebabkan karena investasi yang dilakukan belum fokus pada sektor-sektor yang berkaitan dengan pengentasan kemiskian, terutama sektor produktif dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
STRATEGI PENGEMBANGAN POTENSI DESA BONTO LOJONG SEBAGAI KAWASAN AGROWISATA DI KECAMATAN ULU ERE KABUPATEN BANTAENG Muhammad Anshar
Plano Madani : Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota Vol 4 No 1 (2015)
Publisher : Jurusan Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jpm.v4i1.1016

Abstract

Pada hakekatnya Desa merupakan suatu wadah dimana hampir sebagian besar penduduknya bergerak di sektor pertanian serta masyarakat yang hidup di daerah perdesaan memiliki nilai sosial yang cukup tinggi. Selain itu, adat istiadat masyarakat Desa juga masih terjaga dengan baik. Seperti halnya dalam penelitian ini yang mengkaji potensi sumber daya alam Desa Bonto Lojong sebagai kawasan agrowisata. Hal ini di dasarkan pada potensi pertanian Desa Bonto Lojong sangat memungkinkan untuk dijadikan sebagai kawasan wisata dengan tidak mengurangi kegiatan pertanian masyarakat setempat. Namun tujuan dalam penelitian ini yaitu untuk mengetahui potensi apa saja yang dimiliki Desa Bonto Lojong sebagai kawasan agrowisata, serta mengidentifikasi strategi pengembangan potensi Desa Bonto Lojong sebagai kawasan agrowisata. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode analisis deskriptif yang dilakukan sesuai dengan tujuan penelitian ini yaitu metode analisis deskriptif yang dilakukan sesuai dengan tujuan penelitian dengan menggambarkan atau menguraikan secara jelas apa yang ada di lapangan disertai perbandingannya, sedangkan metode analisis SWOT dilakukan untuk mengetahui strategi pengembangan potensi yang dimiliki oleh suatu daerah. Hasil penelitian yang telah dilakukan yaitu: Desa Bonto Lojong yang memiliki potensi sumber daya alam berupa hasil pertanian dan perkebunan yang dapat dikembangkan sebagai salah satu daya tarik wisatawan sebagai Desa wisata
EVALUASI PENGELOLAAN SAMPAH KABUPATEN GOWA STUDI KASUS KECAMATAN SOMBA OPU Syahriar Tato
Plano Madani : Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota Vol 4 No 2 (2015)
Publisher : Jurusan Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jpm.v4i2.995

Abstract

)” adalah judul penelitian yang coba kami angkat dan hal ini didasari pada masalah-masalah  yang terjadi di Kota-kota besar di Indonesia akibat dari pertumbuhan penduduk suatu kota yang tinggi serta meningkatnya kegiatan pembangunan diberbagai sektor. Peningkatan jumlah penduduk dan laju pertumbuhan ekonomi serta pembangunan mempunyai dampak positif dan negatif. Seiringnya dengan bertambahnya penduduk dan beragamnya aktivitas maka timbulan sampah di Kecamatan Somba Opu juga semakin banyak yaitu 261 M3/Hari, Penduduk yang terlayani dari jumlah total penduduk kecamatan Somba Opu 130.126 jiwa  yang terlayani hanya 115.615 jiwa dengan total 11 kelurahan dari 14 kelurahan yang ada di Kecamatan Somba Opu. Hal ini dapat diketahui bahwa masih banyaknya masyarakat yang tidak terlayani sehingga menimbulkan masalah peningkatan jumlah timbulan sampah, daerah layanan sampah perkotaan yang rendah dan tidak jelasnya strategi pengelolaan sampah berdampak  negative terhadap lingkungan perkotaan. Masyarakat yang tidak mendapatkan pelayanan sampah cenderung untuk memperlakukan sampahnya dengan cara dan metode mereka sendiri. Oleh karena itu, diperlukan pengevaluasian pengelolaan sampah berdasarkan karakteristik perkotaan. Untuk mengevaluasi pengelolaan persampahan maka disingkronkan antara kenyataan dilapangan dan sarana persampahan yang harus ada dengan menggunakan standar pelayanan minimal (SPM) dengan tujuan untuk mengetahui tingkat pencapaian pengelolaan sampah yang ada saat ini, sehingga menghasilkan pengelolan sampah yang akan dievaluasi kemudian memberi penanganan dari evaluasi yang dilakukan. Sebagai rekomendasi, perlu dilakukan penanganan sampah pada sumbernya dengn menggunakan konsep 3R, peran serta masyarakat, pemerintah dan swasta sangat dibutuhkan dalam pelaksanaan dan pengambil kebijakan tertinggi dalam peraturan daerah dan sanksi tentang persampahan yang ada di Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa.
PENGARUH BANJIR TERHADAP PRODUKSI TANAMAN PANGAN DI KECAMATAN TANASITOLO KABUPATEN WAJO Muhammad Sukirman
Plano Madani : Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota Vol 5 No 1 (2016)
Publisher : Jurusan Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jpm.v5i1.985

Abstract

Kecamatan Tanasitolo ditetapkan sebagai produksi tanaman pangan dan holtikultura yang mempunyai luas pertanian 5.075 Ha dengan produktivitas pada tahun 2012 menghasilkan 50.20 ton/Ha. Potneis tersebut mengalami penurunan dengan kerawanan terhadap banjir karena sebagioan batas administrasinya berbatasan langsung dengan Danau Tempe.. Olehnya itu diadakan penelitian Pengaruh Banjir Terhadap Produksi Tanaman Pangan di Kecamatan Tanasitolo Kabupaten Wajo agar dapat dketahui seberapa kuat  pengaruh banjir ini terhadap hasil pertanian sehingga dapat ditemukan sebuah solusi nantinya untuk meminimalisir bencana banjir yang sering terjadi di wilayah ini. Metode yang di gunakan dalam penelitian ini adalah analisis overlay untuk mengetahui tingkat kerawanan banjir yang terjadi dalam analisis korelasi untuk mengetahui seberapa kuat pengaruh debit banjir ini mempengaruhi produktivitas tanaman pangan di Kecamatan Tanasitolo Kabupaten Wajo. Hasil penelitian ini adalah wilayah yang memiliki tingkat kerawanan banjir agak rawan memiliki nilai korelasi kuat terhada produksi tanaman pangan di Kecamatan Tanasitolo.wilayah yang memiliki nilai koifisien korelasi sedang terhadap tanaman pangan di Kecamatan Tanasitolo Kabupaten Wajo. Dan wilayah yangmemiliki tingkat kerawanan banjir rawan memiliki nilai koifisien korelasi kuat terhadap tanaman pangan di kecamatan Tanasitolo, dan wilayah yg memiliki tingkat kerawanan sangat kuat memiliki nilai koifisien korelasi sangat kuat terhadap tanaman pangan di Kecamatan Tanasitolo. 
ANALISIS PENGEMBANGAN KOTA BERDASARKAN KONDISI FISIK WILAYAH KOTA MASOHI IBUKOTA KABUPATEN MALUKU TENGAH Asbi Samli
Plano Madani : Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota Vol 2 No 1 (2012)
Publisher : Jurusan Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jpm.v2i1.760

Abstract

Dua hal penting dalam perkembangan kota, yaitu pertama; Menyangkut perubahan yang dikehendaki untuk memenuhi kebutuhan prasarana kota dan fasilitas hidup yang mengikat seiring perkembangan penduduk, kedua; menyangkut perluasan kota, sebab perkembangan ruang kota menuntut adanya ruang yang luas namun keterbatasan ruang yang merupakan kendala yang tak terhindarkan sehingga cenderung dilakukan konsolidasi dan pencadangan lahan serta peremajaan kota.Kota Masohi memiliki potensi yang sangat strategis baik dari segi posisi kewilayahan yang berada pada simpul pergerakan transportasi di daerah Kepulauan Seram yang dapat memicu perkembangan arus penduduk dalam jumlah besar, kemudian dari segi Historis yang merupakan ibukota kabupaten induk dari kedua kabupaten pemekaran yang menghimpit Kota Masohi dengan kondisi perkembangan yang telah ada baik itu ketersediaan sarana dan prasarana wilayah maupun kemampuan dalam mengelola sebuah perkotaan sehingga ketergantungan pada daerah ini masih sangat besar. Dengan melihat potensi-potensi tersebut, maka Kota Masohi memiliki beban yang bukan hanya dari dalam saja akan tetapi mendapat beban dari luar sehingga perkembangan wilayah secara fisik dirasakan sangat meningkat, sementara kondisi fisik wilayah kota memiliki beberapa keterbatasan dan kendala dalam perluasan wilayah kota dengan adanya beberapa faktor pembatas tersebut.
FENOMENA PERUBAHAN PEMANFAATAN RUANG DAN PERTUMBUHAN AKTIVITAS PERKOTAAN (Kasus Koridor Ruas Jalan Hertasning - Samata di Makassar - Gowa) Harry Hardian Sakti
Plano Madani : Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota Vol 5 No 2 (2016)
Publisher : Jurusan Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jpm.v5i2.1592

Abstract

The accelerations of Hertasning area development within Metropolitan Mamminasata zone, identified as a result of spatial physical change factors and the existence of Hertasning-Samata road corridor connecting Makassar city and Gowa Regency. This research aims to examine and analyze the determinants of spatial utilization change and influence of road corridor towards the growth of urban activities. In this research used quantitative methods with analysis tools, statistic descriptive to explain the determinants of spatial utilization change and analysis of correlation tests to explain the effects of urban activities growth. The results of analysis and discussions identified the determinant factors of spatial utilization change are movement distance, transportation infrastructures, availability of education facilities, availability of commercials and services facilities, types of land use, land prices, land sell values, site strategic values, and site selections, also factors that affected the growth of urban activities are settlement activities, commercials and services, educations, and movement network. Spatial development within Hertasning area has a significant role towards spatial utilization changes, because of structuring pattern of spatial utilizations that become basis to determine the development of spatial functions, therefore spatial pattern that formed appropriate to allotment and directions of future urban development.

Page 4 of 26 | Total Record : 251