cover
Contact Name
Mohammad Subhan Zamzami
Contact Email
mszamzami@iainmadura.ac.id
Phone
+6281232684323
Journal Mail Official
islamuna@iainmadura.ac.id
Editorial Address
Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri Madura Jalan Raya Panglegur KM. 4 Pamekasan 69371 - Jawa Timur
Location
Kab. pamekasan,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Studi Islam
ISSN : 2407411X     EISSN : 24433535     DOI : http://doi.org/10.19105/islamuna
Islamuna specializes in Islamic Studies which are the results of fieldwork research, conceptual analysis research, and book reviews from various perspectives i.e. education, law, philosophy, theology, sufism, history, culture, economics, social and politics. This journal encourages articles that employ an interdisciplinary approach to those topics and aims at bridging the gap between the textual and contextual approaches to Islamic Studies.
Articles 4 Documents
Search results for , issue "Vol. 10 No. 2 (2023)" : 4 Documents clear
THE CONCEPT OF TARETAN DHIBI’ IN THE FRAME OF MADURESE RELIGIOUS MODERATION Nor Hasan; Nurul Qomariyah
Islamuna: Jurnal Studi Islam Vol. 10 No. 2 (2023)
Publisher : Madura State Islamic Institute (Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/islamuna.v10i2.8146

Abstract

Taretan dhibi' is one of the cultural enculturations of the Madurese people. This study attempts to investigate the Madurese people's cultural concept of the taretan dhibi’. The term taretan for Madurese people is the concept of relatives with the ideology of Madurese people who have a cultural obligation to maintain emotional interactions and kinship ties between one another. It is quite fascinating to study the concept of religious moderation due to the social style of Madurese society itself which is different from other regions. therefore, despite all of their distinctions in terms of religion, customs, and traditions, the author will look at how the Madurese people carry out the concept of taretan dhibi. Through descriptive phenomenological analysis, this research reveals that taretan dhibi' is a manifestation of the emotional ties between Madurese people. Thus, the form of religious moderation in the cultural concept of taretan dhibi' is firstly respecting brothers and sisters (mentioned in Madura as taretan) by allowig any kind of differences and providing space for self-expression. The concept of "taretan dhibi," which is entwined with Madurese society's religious moderation, is essentially the fundamental ideology of the Madurese people, which regards sincerity as the foundation of brotherhood. Second, appreciate and respect the part of the taretan concept that can equalize social positions among Madurese people. Third, the city of Pamekasan is a ideal example of the strength of the concept of taretan dhibi' within the framework of religious moderation in Madurese society. ABSTRAK Taretan dhibi’ adalah salah satu enkulturasi budaya masyarakat Madura. Tulisan ini mencoba menelusuri konsep budaya taretan dhibi’ dalam kehidupan masyarakat Madura. Istilah taretan bagi masyarakat Madura adalah konsep kerabat dengan ideologi masyarakat Madura yang memiliki kewajiban kultural untuk menjaga dan memelihara hubungan emosional dan silaturahmi ikatan kekerabatan antara yang satu dengan yang lainnya. Tergolong menarik untuk dikaji dengan konsep moderasi beragama, karena corak bersosial masyarakat Madura sendiri berbeda dengan daerah yang lainnya. Oleh karena itu, penulis akan mengkaji bagaimana Masyarakat Madura menjalankan konsep taretan dhibi’' dengan semua perbedaan yang ada di antara mereka, baik agama, kebiasaan dan tradisi. Melalui analisis fenomenologi deskriptif, penelitian ini mengungkapkan bahwa taretan dhibi’ adalah wujud dari adanya ikatan emosional antar masyarakat Madura. Oleh karena itu, wujud moderasi beragama dalam konsep budaya taretan dhibi’ adalah Pertama menghormati antar saudara (taretan) dengan mengakomodir segala bentuk perbedaan dan memberi ruang untuk mengekspresikan diri. Konsep taretan dhibi’ yang terjalin dalam moderasi beragama masyarakat Madura yakni pertama, ideology dasar masyarakat Madura yang menjadikan keikhlasan dan ketulusan sebagai dasar bersaudara. Kedua, menghargai dan menghormati bagian dari konsep taretan yang dapat menyamaratakan kedudukan dalam bersosial antar masyarakat Madura. Ketiga, kota Pamekasan menjadi contoh nyata kuatnya konsep taretan dhibi’ dalam bingkai moderasi beragama masyarakat Madura.
MAINTAINING MENTAL HEALTH BY DEVELOPING AN ISLAMIC LIFESTYLE Waharjani; Jailani, Mohammad
Islamuna: Jurnal Studi Islam Vol. 10 No. 2 (2023)
Publisher : Madura State Islamic Institute (Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/islamuna.v10i2.8428

Abstract

ABSTRAK Kajian ini bermula dari hasil analisis dan pengamatan literatur yang akhir-akhir ini mulai memperhatikan kesehatan mental. Kondisi ini ini mulai mendapatkan perhatian seiring majunya peradaban manusia dan tingginya tuntutan hidup. Kehidupan yang nyaman dimulai dari lingkup yang paling kecil yakni keluarga. Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin juga memberi tuntunan bagaimana kehidupan dunia agar seimbang dan berdampak pada kebaikan akhirat. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan ingin mengkaji 1) bagaimana membangun kesehatan berdasarkan Islam dan 2) bagaimana membangun keluarga yang tenteram dan sejahtera. Dari penelitian ini diharapkan bisa mengarah pada kesehatan mental berbasis ajaran Islam. Penelitian ini merupakan penelitian literatur
ANALYSIS OF AMINA WADUD'S HERMENEUTIC WEAKNESSES THROUGH WASATIYYAH YUSUF QARDHAWI'S PERSPECTIVE Azizah, Khansa'
Islamuna: Jurnal Studi Islam Vol. 10 No. 2 (2023)
Publisher : Madura State Islamic Institute (Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/islamuna.v10i2.10902

Abstract

ABSTRACT The emergence of some activists from the feminist movement who consider the need for deconstruction and reconstruction as well as interpretation of the Al-Qur'an. This case is aimed at achieving a fairer meaning, and no party is marginalized. Amina Wadud is one of the feminist figures who is active and active in this field. Various issues of injustice contained in the Al-Qur'an are explained again according to his point of view. However, the spirit of interpretation with a hermeneutical style of gender equality needs to be analyzed from a wasat}iyyah perspective; in this case, the author takes Yusuf Qardhawi's wasat}iyyah principle. This writing was carried out using qualitative research methods based on data and library literature, data processing using concept analysis, and deductive-inductive analysis techniques in an exciting conclusion. Amina Wadud's description of thinking starts from the concept of human creation, so the main idea is called the hermeneutics of monotheism. Then, in applying the derivative language, it prioritizes ideal moral values ​​as ideas from Fazlur Rahman's ideas. However, in Yusuf Qardhawi's wasat}iyyah principle, there is an impression of imposing one's will and only focusing on issues of injustice, making the hermeneutic concept of gender equality less suitable to be applied. There is still a need for further exploration and interpretation rules that need to be taken into account. Even in its application, some characteristics of Islamic teachings tend to be ignored. ABSTRAK Munculnya sebagian aktivis dari gerakan feminisme menganggap perlunya dekonstruksi dan rekonstruksi sekaligus terhadap tafsir Al-Qur'an. Hal ini ditujukan untuk mencapai makna yang lebih adil dan tidak ada pihak yang termarjinalkan. Amina Wadud adalah salah satu tokoh feminis yang aktif dan bergerak dalam bidang ini. Berbagai isu ketidakadilan yang terkandung dalam nas} Al-Qur'an diuraikan kembali sesuai cara pandangnya. Namun, semangat penafsiran dengan corak hermeneutika kesetaraan gender perlu dianalisa dengan perspektif wasat}iyyah, yang dalam hal ini penulis mengambil prinsip wasat}iyyah Yusuf Qardhawi. Penulisan ini dilakukan dengan metode penelitian kualitatif berdasarkan data dan literatur kepustakaan, pengolahan data dengan analisis konsep dan teknik analisa secara deduktif-induktif. Dalam menarik kesimpulan. Uraian pemikiran Amina Wadud dimulai dari konsep penciptaan manusia menjadikan ide utamanya disebut hermeneutika tauhid. Kemudian dalam penerapan bahasan turunannya lebih mengedepankan nilai ideal moral sebagai ide dari gagasan Fazlur Rahman. Namun, dalam prinsip wasat}iyyah Yusuf Qardhawi, didapati kesan akan memaksakan kehendak dan hanya fokus pada permasalahan ketidakdilan membuat konsep hermeneutika kesetaraan gender ini kurang sesuai untuk diaplikasikan begitu saja. Masih perlunya pendalaman dan kaidah penafsiran yang perlu diperhatikan. Bahkan dalam implementasinya, sebagian karakteristik ajaran Islam sendiri cenderung diabaikan.
AN ISLAMIC PERSPECTIVE ON E-SPORT COMPETITION Bangkit Wira Malik; Harisah, Harisah
Islamuna: Jurnal Studi Islam Vol. 10 No. 2 (2023)
Publisher : Madura State Islamic Institute (Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/islamuna.v10i2.13620

Abstract

ABSTRACT This paper focuses on the study of a phenomenon that has just emerged due to the rapid development of technology, namely the e-sport competition which is much favored by millennials. The purpose of this study is to analyze how the law of e-sport competition is viewed from the arguments of the Al-Qur'an and Hadits, and how the law of the professional player profession, as well as maqashid sharia stipulation of a law. This research is a type of qualitative research whose data sources come from primary data sources through direct interviews with one of the professional players, and secondary data sources through studies of various literature such as books, articles in journals, and others. The results of this study indicate that: First, e-sport competitions are included in prize competitions that are forbidden in Islam because they have violated all the provisions contained in the Al-Qur'an and Hadith. Second, with the prohibition of e-sport competition, it will have implications for the law of the professional player profession which causes it to become an unlawful profession. Third maqashid sharia regarding the determination of a law is to protect and maintain the needs that are essential for humans, namely: religion, soul, mind, offspring, and property. So that this research makes an important contribution to the development of contemporary fiqh and Islamic law studies that are relevant to new phenomena in the digital era related to e-sport competitions. ABSTRAK Tulisan ini berfokus pada kajian mengenai fenomena yang baru muncul akibat pesatnya perkembangan teknologi yaitu tentang kompetisi e-sport yang banyak digemari oleh kalangan milenial. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis bagaimana hukum kompetisi e-sport ditinjau dari dalil Al-Qur’an dan Hadits, dan bagaimana hukum profesi professional player, serta maqashid shariah penetapan suatu hukum. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif yang sumber datanya berasal dari sumber data primer malalui wawancara secara langsung kepada salah satu professional player, dan sumber data sekunder melalui kajian dari berbagai literatur seperti buku, artikel dalam jurnal, dan lain-lain. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa: Pertama, kompetisi e-sport termasuk ke dalam kompetisi berhadiah yang diharamkan dalam Islam karena telah melanggar semua ketentuan yang terdapat dalam Al-Qur’an dan Hadits. Kedua, dengan diharamkannya kompetisi e-sport maka akan berimplikasi kepada hukum profesi professional player yang menyebabkannya menjadi profesi yang bathil. Ketiga maqashid shariahmengenai penetapan suatu hukum adalah untuk menjaga dan memelihara kebutuhan yang sifat nya esensial bagi manusia yaitu: agama, jiwa, akal, keturunan, beserta harta. Sehingga penelitian ini memberikan kontribusi penting terhadap pengembangan kajian fikih dan hukum Islam kontemporer yang relevan dengan fenomena baru di era digital terkait kompetisi e-sport.

Page 1 of 1 | Total Record : 4