cover
Contact Name
Aqil Luthfan
Contact Email
walisongo@walisongo.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
aqilluthfan@walisongo.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan
ISSN : 08527172     EISSN : 2461064X     DOI : -
Core Subject : Humanities, Social,
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan is an international social religious research journal, focuses on social sciences, religious studies, and local wisdom. It is intended to communicate original research and current issues on the subject. The subject covers literary and field studies with various perspectives i.e. philosophy, culture, history, education, law, art, theology, sufism, ecology and much more.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue " Vol 25, No 2 (2017)" : 10 Documents clear
Portraying Peaceful Coexistence and Mutual Tolerance Between Santri and Chinese Community in Lasem Sobirin, Mohamad
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 25, No 2 (2017)
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ws.25.2.1860

Abstract

Coexistence and tolerance among the elite religious leaders in many cases seem not being considered as a problem, but at the grassroots level, the conflict often happened as an ironic phenomenon. This paper reveals and elaborates the socio-religious relations that existed between Santri and Chinese communities in Lasem—a small town located in the northern coastal part of the east end of the Central Java Province. The history recorded Lasem as one of the most important cities in Indonesia that bridged trading with China as early as the 14th century. It explains why Tionghoa villages (pecinan), as well as plenty of Konghucu’s religious worshipping sites (klenteng), could be found in the town and also legacy sites as a place of religious worshipping of Konghucu. On the other hand, Muslims with a strong religious level largely grew in this town. With the qualitative approach, this research found that there are some factors contributing to build six models of coexistence, tolerance, and respect for the socio-religious diversities among the societies as the attitudes toward plural societies which brought into socio-harmony of Lasem. The analyzed data obtained through observation and interviews with various parties which is the object of this research, such as Islamic masters (kyai) and students (santri) at Islamic boarding school (pesantren) in Lasem, community and religious leaders of Chinese-Confucianism, and also documents that describe the historicity of Muslims and Chinese in Lasem.Koeksistensi dan toleransi diantara kalangan elit pemuka agama dalam banyak kasus tampak tidak pernah ada permasalahan, namun pada kalangan grassroot tidak jarang konflik hadir sebagai fenomena yang ironis. Paper ini menampilkan hubungan sosial-keagamaan yang terjalin di antara komunitas santri dengan etnik Tionghoa beragama Konghucu di Lasem—kota kecil terletak di pantura bagian ujung timur provinsi Jawa Tengah. Sejarah mencatat bahwa Lasem adalah salah satu kota terpenting dalam peta pelayaran dan perdagangan China pada abad ke-16. Itulah mengapa di kota ini bisa ditemui tidak sedikit perkampungan orang Tioghoa dan juga situs-situs peninggalannya seperti tempat ibadah agama Konghucu. Disisi lain, di kota ini pula umat Muslim dengan tingkat keagamaan yang kuat tumbuh dan besar. Dengan pendekatan kualitatif, penelitian ini menemukan bahwa ada faktor yang turut membentuk enam model koeksistensi, toleransi, dan penghargaan terhadap perbedaan keyakinan diantara mereka. Pertama, integrasi sosial, kedua, asimilasi budaya, ketiga kooperasi bisnis, keempat selebrasi seremonial, kelima pelestarian budaya, dan keenam sinkritisme agama. Data yang dianalisis diperoleh melalui observasi dan interview dengan berbagai pihak yang merupakan objek penelitian ini, seperti kyai dan santri di empat pondok pesantren tertua di Lasem, tokoh dan masyarakat Tioghoa beragama Konghucu, dan juga dokumen-dokumen yang menerangkan historisitas Muslim dan Tionghoa di Lasem.
Class, Habitus, and the Dynamics of Social Relations of Traders in Diamond Trade in the Martapura Town, South Kalimantan Hidayat, Yusuf
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 25, No 2 (2017)
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ws.25.2.1913

Abstract

This study examines the pattern of social relationships among diamond traders in diamond trade that polarized into patterns of social relationships between small, medium and large traders with their respective values. This study aims to describe the pattern of social relationships between diamond traders and reveal the rules of the underlying game patterns of their social relationships that lead to polarization of social relationships between small, medium and large traders. This study used Buordieu framework especially about Field, Habitus, and Doxa to analyze the phenomena. This research uses qualitative research methods and has been implemented in the town of Martapura, South Kalimantan. In this study, five people were interviewed, consisting of merchants of a large trader, two medium traders and two merchants. The study finds that first, there are three forms of social relations pattern among traders of diamond namely: cooperation relationships between small traders, competition relationships between wholesalers and middle traders in accordance with its position, he develops cooperative relationships while in diamond market and relationships competition when trading outside the diamond market. Second, Each class has its own rules of play in accordance with their capacity in the sale and purchase of diamonds and the rules of this game have become a common consciousness among members of the merchant class so that all members of the group implement these rules spontaneously and without questioning its validity.Penelitian ini mengkaji tentang pola hubungan sosial antar pedagang intan di dalam perdagangan intan yang terpolarisasi menjadi pola hubungan social antar pedagang kecil, menengah dan besar dengan nilainya masing-masing. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan pola hubungan social antar pedagang intan dan mengungkap aturan-aturan main yang mendasari pola hubungan sosial mereka sehingga memunculkan polarisasi hubungan sosial antar pedagang kecil, menengah dan besar. Tujuan penelitian ini dianalisis dengan menggunakan kerangka pemikiran Buordieu terutama tentang Field, Habitus dan Doxa. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dan telah dilaksanakan di kota Martapura, Kalimantan Selatan. Dalam Peneltian ini, telah diwawancarai sebanyak lima orang informan yang terdiri dari pedagang seorang pedagang besar, dua orang pedagang menengah dan dua orang pedagang kecil. Penelitian ini menemukan bahwa pertama, ada tiga bentuk pola hubungan sosial antar pedagang intan yaitu: hubungan-hubungan kerjasama antar pedagang kecil, hubungan-hubungan persaingan antar pedagang besar dan pedagang menengah sesuai dengan posisinya, dia mengembangkan hubungan kerjasama ketika berada dalam pasar intan dan hubungan persaingan ketika bertransaksi di luar pasar intan. Kedua, Masing-masing kelas memliki aturan mainnya sendiri sesuai dengan kapasitas mereka dalam transaksi jual beli intan dan aturan main ini telah menjadi kesadaran bersama antar anggota kelas pedagang sehingga semua anggota kelompok melaksanakan aturan-aturan ini dengan spontan dan tanpa mempertanyakan lagi keabsahannya.
Islamic Values of Social Relation in Besaprah Tradition of Sambas Society: The Case of Post-Conflict Malay-Madura in 1999-2017 Wahab, Abdul
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 25, No 2 (2017)
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ws.25.2.1339

Abstract

This paper discusses the effects of inter-ethnic conflict in 1999 on the social life in Sambas. Therefore, any effort dealing with post-conflict situation is needed, through the concept of Islamic character education to modify the Besaprah local wisdom in Malay-Sambas society. This study used a qualitative method with an ethnographic approach which tries to interpret the phenomena in Sambas society since the post-conflict of Malay-Madura in 1999. The research findings show that the inter-ethnic conflict in Sambas, West Kalimantan, occurring in 1999 led to some problems, i.e. moral and social problem, as well as the crisis of local wisdom values. Accordingly, empowering local wisdom values in Besaprah tradition has a contribution to Islamic education concept as it gives an alternative solution to cope with negative effects of the inter-ethnic conflict.Artikel ini membahas dampak konflik antar etnis pada tahun 1999 terhadap kehidupan sosial di Sambas. Karena itu, setiap upaya untuk menghadapi situasi pasca konflik sangat dibutuhkan, yaitu melalui konsep pendidikan karakter Islami sebagai modifikasi kearifan lokal Besaprah dalam masyarakat Melayu-Sambas. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi yang menafsirkan fenomena masyarakat Sambas pasca konflik Melayu-Madura pada tahun 1999. Temuan penelitian menunjukkan bahwa konflik antar etnis di Sambas, Kalimantan Barat, yang terjadi pada tahun 1999 menyebabkan beberapa masalah, yaitu masalah moral dan sosial, serta krisis nilai-nilai kearifan lokal. Dengan demikian, memberdayakan nilai-nilai kearifan lokal dalam tradisi Besaprah memiliki kontribusi terhadap konsep pendidikan Islam sebagai solusi alternatif untuk mengatasi dampak negatif dari konflik antaretnis.
Maintaining Employees’ Morality to Improve Internal Control in the Sharia Microfinance Institution Mukhibad, Hasan
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 25, No 2 (2017)
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ws.25.2.1924

Abstract

Problems of fraud committed by a company’s internal party are hitherto still problematic to figure out, including in sharia microfinance institutions. This research examines the benefit of maintaining employees’ morality for the improvement of internal control in sharia microfinance institution. The object of this research is Anda BMT (sharia microfinance institution in Indonesia). The research uses a qualitative method. The data were obtained by interviewing the managers and twenty employees, and also through field observations for four months. The result of this research shows that the management needs to improve the employees’ morality as it is the key element to prevent fraud act. The efforts made to improve the employees’ morality are like praying together, joining a program of Islamic study once a week, and targeting all employees to read the Quran at least One Day One Juz (ODOJ). Islamic religious activities should be applied to sharia financial institutions in order to improve the employees’ morality and to diminish the act of fraud. It is because the employees who properly carry out Islamic religious activities may reduce the potency of fraud.Masalah kecurangan (fraud) yang dilakukan oleh pihak internal perusahaan masih menjadi masalah yang sulit dipecahkan sampai saat, termasuk di dalamnya adalah lembaga keuangan syariah. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi model mengembangkan lingkungan pengendali yang digunakan untuk meningkatkan efektifitas sistem pengendalian internal. Obyek penelitian ini adalah BMT Anda. Metode penelitian menggunakan metode kualitatif. Data dikumpulkan dengan metode wawancara dan pengamatan di lapangan selama 4 bulan. Narasumber penelitian adalah manajer, dan 20 karyawan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa manajemen memiliki komitmen bahwa etika karyawan merupakan elemen kunci untuk menghindari kecurangan. Upaya untuk menjaga etika karyawan, manajemen mewajibkan karyawan untuk melaksanakan salat berjamaah (Dhuhur dan Asar), mengikuti kegiatan pengajian seminggu sekali, dan menargetkan semua karyawan untuk membaca Alquran setidaknya satu hari satu juz (One Day One Juz - ODOJ). Pelaksanaan kegiatan keagamaan Islam harus diterapkan pada lembaga keuangan syariah dalam upaya meningkatkan etika karyawan, selanjutnya akan mengurangi potensi kecurangan. Hal ini dikarenakan karyawan yang melaksanakan kegiatan keagamaan secara benar bisa mengurangi potensi kecurangan.
Muslim Immigrants in the Early 20th Century America: Some Have Forsaken, While Others Preserved Their Identity Bhuiyan, Haider A
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 25, No 2 (2017)
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ws.25.1.1882

Abstract

This article explores the challenges that immigrant Muslims faced in pre-1965 America in their efforts to find acceptance within the American host society. To understand this phenomenon I have used the ethnographic methods of research and collecting data focusing on a Palestinian Muslim family (Abukhdeir) who came to America in 1910 and settled in Provo, Utah as Kader family and adopted Mormonism. As such, this article demonstrates that the identity crisis of early generation Muslim immigrants resulted in the following consequences: (1) Who assimilated to the prevailing American melting pot culture of mainstream society, including converting to American religions; (2) Who did not assimilate, rather escaped the pressure of assimilation by returning to their home countries and resettled there without coming back to live in America; and (3) Who both assimilated and preserved their Islamic identities, as they were the children of returnees, which coincided with the wake of multiculturalism in America in the late 1960s. These grown-up children of the returnees then shared the new process of assimilation into the multicultural America, replacing melting pot culture, and affiliated with the fastest growing Muslim communities.Artikel ini membahas tantangan yang dihadapi imigran Muslim di Amerika pra-1965 untuk diterima oleh masyarakat Amerika. Untuk memahami fenomena ini, penelitian ini menggunakan metode etnografi dan mengumpulkan data yang berfokus pada keluarga Muslim Palestina, Abukhdeir, yang datang ke Amerika pada tahun 1910 dan menetap di Provo, Utah sebagai keluarga Kader lalu mengadopsi Mormonisme. Artikel ini menunjukkan bahwa krisis identitas imigran Muslim generasi awal menghasilkan konsekuensi berikut: (1) Berasimilasi dengan budaya Amerika, yang berlaku di masyarakat mayoritas, termasuk beralih ke agama-agama Amerika; (2) Tidak berasimilasi, keluar dari tekanan asimilasi dengan kembali ke negara asal mereka dan bermukim di sana tanpa harus tinggal di Amerika; dan (3) Berasimilasi dan mempertahankan identitas Islam, sebagai keturunan dari para imigran yang kembali, bersamaan dengan menguatnya multikulturalisme di Amerika pada akhir 1960an. Keturunan dari para imigran yang kembali ini kemudian membentuk proses asimilasi baru dalam budaya multikultural Amerika, menggantikan budaya peleburan “melting pot”, dan berafiliasi dengan komunitas Muslim yang berkembang dengan cepat.
Empirical Facts of Educational Chances for Women in Islamic World: Past and Present Ja'far, Handoko; Rigo, Taufik
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 25, No 2 (2017)
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ws.25.2.1250

Abstract

This article explores educational opportunities in the early period of Islam until the 13th century, which shows the significant role of women in education. It can be argued that the role of women in education can be traced not only in certain areas of religious knowledge but also in the patronage of education and even in determining the political policy of the government. Unfortunately, compared to the next period until the 21st century, policy concerning education has recently turned to unfair treatment such as marginalization, exclusion, and even deprivation. What is surprising is that the reasons for the genitals, which deprive women of their right to participate in education, casually occurred. In other cases, socio-cultures are restricting their access to education. The factual errors on educational thoughts for woman here are explicitly used as an empirical description in this study, while its purpose is to demonstrate the shift in the treatment of female education. The result expected in this study is to reach the historical footprint of Islamic education and ensure inappropriate reasons, such as genital terms, used and abused as arguments for not allowing woman to get education.Artikel ini mengeksplorasi peluang pendidikan pada periode awal Islam hingga abad ke-13 yang menunjukkan peran penting wanita dalam pendidikan. Dapat dikatakan bahwa peran perempuan dalam pendidikan dapat ditelusuri tidak hanya di bidang pengetahuan agama tertentu tetapi juga mereka terlibat dalam patronase pendidikan dan bahkan terlibat dalam penentuan kebijakan politik pemerintah. Sayangnya, dibandingkan dengan periode berikutnya hingga pada abad ke-21, kebijakan penanganan pendidikan akhir-akhir ini berubah menjadi perlakuan tidak adil seperti marginalisasi, eksklusi, dan bahkan deprivasi. Satu hal yang mengejutkan adalah perempuan dianggap sebagai aurat dan dijadikan alasan untuk mencabut hak mereka untuk berpartisipasi dalam pendidikan terjadi begitu saja. Kasus lainnya, sosio-budaya membatasi akses perempuan untuk berpendidikan. Kesalahan faktual pada pemikiran pendidikan bagi perempuan sebagaimana tersebut, secara eksplisit digambarkan sebagai deskripsi empiris dalam penelitian ini sementara tujuan penelitian adalah untuk menunjukkan pergeseran perlakuan atas pendidikan perempuan. dengan mencapai jejak historis pendidikan Islam dan memastikan tidak tepatnya penggunaan alasan seputar aurat dan penyalahgunaannya sebagai argumen untuk tidak mengizinkan perempuan mendapatkan pendidikan.
Muslim Minority in Myanmar: A Case Study of Myanmar Government and Rohingya Muslims Wekke, Ismail Suardi; Hasbi, Hasbi; Mawardin, M; Ladiqi, Suyatno; Salleh, Mohd Afandi
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 25, No 2 (2017)
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ws.25.2.2317

Abstract

The discrimination suffered by Rohingya Muslims is increasingly blewed up in media in last decade. The peak of the discriminatory treatment against Rohingya Muslim by Myanmar government is the unavailability of shelter from Myanmar government. In the perspective of international law, Myanmar government's actions constitute a serious violence, because it ignores the rights of its citizens. Even a series of massacres and inhumane treatment became a major offense committed by Myanmar government in terms of humanity. This attracted international attention in solving the problem. This article illustrated the fate of Rohingyas who are not given citizenship rights by Myanmar government. It also revealed the irony of Muslims of Rohingya life who are discriminated by the government of Myanmar, both in the practical as well as in the political context.Diskriminasi yang diderita oleh Muslim Rohingya semakin mengemuka di media dalam dekade terakhir. Puncak perlakuan diskriminatif terhadap Muslim Rohingya adalah tidak tersedianya tempat tinggal dari pemerintah Myanmar. Dalam perspektif hukum internasional, tindakan pemerintah Myanmar ini merupakan bentuk kekerasan yang serius, karena mengabaikan hak warganya. Selain itu serangkaian pembantaian dan perlakuan tidak manusiawi menjadi pelanggaran besar yang dilakukan oleh pemerintah Myanmar dalam hal kemanusiaan. Hal ini menarik perhatian dunia internasional dalam upaya memberikan solusi atas permasalahan-permasalahan tersebut. Artikel ini selain menggambarkan nasib warga Rohingya yang tidak diberikan hak kewarganegaraan oleh pemerintah Myanmar, juga mengungkap ironi Muslim dari kehidupan Rohingya yang didiskriminasi oleh pemerintah Myanmar, baik dalam praktik maupun dalam konteks politik.
Pesantren as a Basis for Internalization of Pluralistic Values for Preparing a Democratic Citizens in a Diverse Society Rohman, Abdul
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 25, No 2 (2017)
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ws.25.2.1324

Abstract

Indonesia, as a pluralistic country, has potentialities of conflict at anytime as frequent violence has happened in Indonesia. Therefore, pluralism value has to be early introduced to the students in order to make them accustomed to a democratic attitude, and in turn, able to live in the diverse society harmoniously. Education has an important role to instill pluralism and tolerance values to students. It is a strategic way to socialize the values of tolerance, moderation, respect, and empathy, and to develop an attitude for learners in responding to the pluralism. This study will qualitatively discuss the role of pesantren in internalizing pluralism values to students in responding to a diverse society. It focuses on how the curriculum is constructed, instruction is done for the sake of creating a school culture for holding education that addresses pluralistic values. This study shows that pesantren with a pluralism based religious education is an effective basis for internalizing the values of pluralism to perform tolerance and inclusiveness to prepare the students to live in a pluralistic or diverse society.Indonesia, sebagai negara majemuk, memiliki potensi konflik yang bisa terjadi sewaktu-waktu dan hal ini bisa berujung pada kekerasan. Oleh karena itu, nilai pluralisme harus diperkenalkan lebih awal kepada siswa agar membuat mereka terbiasa dengan sikap demokratis, dan pada gilirannya, mampu hidup secara harmonis dalam masyarakat yang beragam. Pendidikan memiliki peran penting untuk menanamkan nilai pluralisme dan toleransi kepada siswa. Pendidikan merupakan media strategis untuk mensosialisasikan nilai toleransi, moderasi, rasa hormat, dan empati, dan untuk mengembangkan sikap bagi peserta didik dalam menanggapi pluralisme. Studi kualitatif ini akan membahas peran pesantren dalam menginternalisasikan nilai pluralisme kepada siswa dalam menanggapi masyarakat yang beragam. Studi difokuskan pada bagaimana kurikulum dibangun, pembelajaran dilakukan untuk menciptakan budaya sekolah dalam menyelenggarakan pendidikan yang membahas nilai-nilai pluralistik. Studi ini menunjukkan bahwa pesantren dengan pendidikan agama berbasis pluralisme merupakan dasar yang efektif untuk menginternalisasikan nilai-nilai pluralisme untuk memiliki sikap toleransi dan inklusivitas untuk mempersiapkan siswa hidup dalam masyarakat majemuk.
The Transcendent Unity Behind the Diversity of Religions and Religiosity in the Perspective of Perennial Philosophy and Its Relevance to the Indonesian Context Baharudin, M.; Luthfan, Muhammad Aqil
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 25, No 2 (2017)
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ws.25.2.2025

Abstract

This study is conducted to answer an important question: is there any transcendent unity behind the diversity or plurality of religions and religiosity? This question will be answered through perennial philosophy approach. The study found that, according to perennial philosophers, there is a transcendent unity behind the diversity or plurality of religions and religiosity. This transcendent unity is seen in ‘the common vision’, or what in Islam is called the ‘basic message of religion’, namely ‘submission’ to always fear God and live His presence in everyday life. Further, the perennial philosophers argue that the True God is one; therefore, all religions emerging from the One are in principle the same for they come from the same source. In other words, the diversity of religions and religiosity lies only in the exoteric level, and all religions actually have a transcendent unity in the esoteric level. However, in this case, the perennial philosophers do not mean to unify or equate all religions. In fact, they try to open a way to a spiritual ascent through the reviving of the religious traditions in every religion.Penelitian ini dilakukan untuk menjawab sebuah pertanyaan penting: adakah kesatuan transenden di balik keragaman atau pluralitas agama dengan religiusitas? Pertanyaan ini akan dijawab melalui pendekatan filsafat perennial. Penelitian ini menemukan bahwa, menurut para filsuf perennial, ada kesatuan transenden di balik keragaman atau pluralitas agama dan religiusitas. Kesatuan transenden ini terlihat dalam pandangan bersama, atau apa yang di dalam Islam disebut pesan dasar agama, yaitu tunduk untuk selalu takut kepada Tuhan dan menjalani kehadiran-Nya dalam kehidupan sehari-hari. Selanjutnya, para filsuf perennial berpendapat bahwa Tuhan yang Sejati adalah satu. Oleh karena itu, semua agama yang muncul dari Yang Satu pada prinsipnya sama karena mereka berasal dari sumber yang sama. Dengan kata lain, keragaman agama dan religiusitas hanya terletak pada tingkat eksoteris, dan semua agama benar-benar memiliki kesatuan transenden di tingkat esoteris. Namun, dalam kasus ini, filsuf perennial tidak bermaksud menyatukan atau menyamakan semua agama. Sebenarnya, mereka mencoba membuka jalan menuju pendakian spiritual melalui kebangkitan kembali tradisi keagamaan di setiap agama.
Politicization of Religion: Religion in Political Discourse Syarif, Fajar
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 25, No 2 (2017)
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ws.25.2.1569

Abstract

This article discusses the position of religion in politic that has relation to leadership. The main argumentation of this research is religion will constantly become a political power and social movement. In one side the research has different opinion from the integration politic paradigm and secular that proposed by Hasan al-Bannā and ‘Alī Abd. al-Rāziq, but in another side, it has reinforced the two paradigms. By using literature study and descriptive method and philosophical historical approach, it indicates Islam will constantly exist and has influence in the political process. Although Islam is not depending on politic and on the contrary. Islam and politic are both integrated dimension of life, so both are not able to be separated from social politic dynamics.Artikel ini membahas kedudukan agama dalam politik yang berkaitan dengan kepemimpinan. Argumentasi utama penelitian ini adalah bahwa agama tetap akan menjadi kekuatan politik dan gerakan sosial. Di satu sisi penelitian ini berbeda pendapat dengan paradigma politik integrasi dan sekuler yang dikemukakan oleh Hasan al-Banna dan ‘Alî Abd. al-Rāziq, namun di sisi lain memperkuat kedua paradigma tersebut. Dengan menempuh studi kepustakaan dan menggunakan metode deskriptif serta pendekatan filosofis dan historis, penelitian ini menunjukkan bahwa Islam akan tetap eksis dan berpengaruh dalam proses politik. Hakikat Islam meskipun tidak bergantung pada politik dan begitu pula politik tidak bergantung pada Islam. Islam dan politik merupakan dua dimensi yang integral dalam kehidupan, maka keduanya tidak dapat dipisahkan dari dinamika sosial politik.

Page 1 of 1 | Total Record : 10


Filter by Year

2017 2017


Filter By Issues
All Issue Vol. 33 No. 1 (2025) Vol. 32 No. 2 (2024) Vol. 32 No. 1 (2024) Vol. 31 No. 2 (2023) Vol 31, No 1 (2023) Vol 30, No 2 (2022) Vol 30, No 1 (2022) Vol 29, No 2 (2021) Vol 29, No 1 (2021) Vol 28, No 2 (2020) Vol 28, No 1 (2020) Vol 27, No 2 (2019) Vol 27, No 1 (2019) Vol 26, No 2 (2018) Vol 26, No 2 (2018) Vol 26, No 1 (2018) Vol 26, No 1 (2018) Vol 25, No 2 (2017) Vol 25, No 2 (2017) Vol 25, No 1 (2017) Vol 25, No 1 (2017) Vol 24, No 2 (2016): Agama, Politik dan Kebangsaan Vol 24, No 2 (2016): Agama, Politik dan Kebangsaan Vol 24, No 1 (2016): Ekonomi (Bisnis) Islam Vol 24, No 1 (2016): Ekonomi (Bisnis) Islam Vol 23, No 2 (2015): Agama dan Sains untuk Kemanusiaan Vol 23, No 2 (2015): Agama dan Sains untuk Kemanusiaan Vol 23, No 1 (2015): Pendidikan dan Deradikalisasi Agama Vol 23, No 1 (2015): Pendidikan dan Deradikalisasi Agama Vol 22, No 2 (2014): Dakwah Multikultural Vol 22, No 2 (2014): Dakwah Multikultural Vol 22, No 1 (2014): Relasi Agama dan Negara Vol 22, No 1 (2014): Relasi Agama dan Negara Vol 21, No 2 (2013): Agama Lokal Vol 21, No 2 (2013): Agama Lokal Vol 21, No 1 (2013): Resolusi Konflik Vol 21, No 1 (2013): Resolusi Konflik Vol 20, No 2 (2012): Spiritualisme Islam Vol 20, No 2 (2012): Spiritualisme Islam Vol 20, No 1 (2012): Fundamentalisme Agama Vol 20, No 1 (2012): Fundamentalisme Agama Vol 19, No 2 (2011): Pendidikan Islam Vol 19, No 2 (2011): Pendidikan Islam Vol 19, No 1 (2011): Ekonomi Islam Vol 19, No 1 (2011): Ekonomi Islam More Issue