cover
Contact Name
Mochammad Maola
Contact Email
maola@walisongo.ac.id
Phone
+6285848304064
Journal Mail Official
jish@walisongo.ac.id
Editorial Address
Jalan Walisongo No. 3-5 Semarang Jawa Tengah, Indonesia Phone/Fax. +6224 7614454 Email: jish@walisongo.ac.id
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of Islamic Studies and Humanities
ISSN : 25278401     EISSN : 2527838X     DOI : https://doi.org/10.21580/jish
Journal of Islamic Studies and Humanities (JISH) intends to publish a high-standard of theoretical or empirical research articles within the scope of Islamic studies and humanities, which include but are not limited to theology, mysticism, cultural studies, philology, law, philosophy, literature, archaeology, history, sociology, anthropology, and art. All accepted manuscripts will be published both online and in printed forms.
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 2 (2017)" : 12 Documents clear
Media dan Demokrasi di Era Global: Studi Dakwah Islam Kontemporer di Indonesia Rachmawati, Farida
Journal of Islamic Studies and Humanities Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : UIN Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (450.4 KB) | DOI: 10.21580/jish.22.2521

Abstract

Globalization has affected all the cultural subsystems of today's society, especially in media. How Islamic da’wa opportunities in the midst of media globalization is the focus of this article. Library studies have been used in this study. The result shows that Islamic da’wa is in the marginal position and has not been able to become a major player. There are four opportunities that can be used in preaching Islam in the era of media globalization. First, the freedom of information media is filled with enhancing creativity in making Islamic content more interesting and reflecting Islam's rahmatan lil 'alamin. Secondly, Islamic missionary media participated in the formation of public opinion. Third, the education of Muslims based on morality. Muslims must be faithful to the teachings of religion and consistent with the religious ideal. Fourth, to maximize the source of Islamic capitalism such as zakat, as a tool to achieve the welfare of all people.* * *Globalisasi telah memengaruhi semua subsistem budaya masyarakat saat ini, terlebih di bidang media. Bagaimana peluang dakwah Islam di tengah globalisasi media merupakan fokus dari artikel ini. Studi kepustakaan telah digunakan dalam penelitian ini. Hasilnya menunjukkan bahwa posisi dakwah Islam berada di posisi terpinggirkan dan belum mampu menjadi pemain utama. Terdapat empat peluang yang bisa digunakan dalam berdakwah Islam di era globalisasi media. Pertama, kebebasan media informasi diisi dengan meningkatkan kreativitas dalam membuat konten-konten Islami yang lebih menarik dan mencerminkan Islam rahmatan lil ‘alamin. Kedua, media dakwah Islam Ikut serta menjadi pemain dalam pembentukan opini publik. Ketiga,  pendidikan umat Islam berbasis  moralitas. Muslim  harus setia pada ajaran agama dan konsisten terhadap idealitas agama. Keempat, mendayagunakan secara maksimal sumber kapitalisme Islam seperti zakat, sebagai alat untuk mencapai kesejahteraan seluruh umat. 
Tahlilan Muhammadiyah: Analisis Konflik Sosial Masyarakat Kotagedhe Yogyakarta Aslamah, Sayyidah
Journal of Islamic Studies and Humanities Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : UIN Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (56.945 KB) | DOI: 10.21580/jish.22.2522

Abstract

Tahlillan according to Nahdliyin is religious activities that can strengthen social ties. On the contrary, for the Muhammadiyah community in Kotaghede, tahlilan became the trigger for conflict. This conflict is interesting to observe because it occurs not between Nahdliyin and Muhammadiyah communities, but occurs in the Muhammadiyah community itself, between those who disagreed and who practiced it. This article finds out how the conflict occurred related to the understanding of Islam and local culture. This finding is based on the observation of the four groups involved. First, Muhammadiyah and Nahdliyin communities that practiced tahlilan; second, the Muhammadiyah community that opposes it; third, Muhammadiyah community in Kotagedhe who agreed and practiced the tahlilan, and fourth, Nahdliyin community who commented on it.* * *Tahlilan bagi masyarkat Nahdliyin adalah aktivitas keagamaan yang mampu memperkuat ikatan sosial. Namun sebaliknya bagi masyarakat Muhammadiyah di Kotaghede, tahlilan menjadi pemicu konflik. Konflik ini menarik untuk diamati karena terjadi bukan antara masyarakat Nahdliyin dan Muhammadiyah, akan tetapi terjadi pada masyarakat Muhammadiyah sendiri, antara yang tidak setuju dan yang melaksanakannya. Artikel ini menemukan bagaimana konflik itu terjadi terkait dengan pemahaman Islam dan budaya lokal. Temuan ini berdasarkan pada pengamatan terhadap empat kelompok yang terlibat; pertama, masyarakat Muhammadiyah dan Nahdliyin yang menjalankan tahlilan; kedua, masyarakat Muhammadiyah yang menentangnya; ketiga masyarakat Muhammadiyah di Kotagedhe yang setuju dan menjalankan tahlilan, dan keempat masyarakat nahdliyin yang memberikan komentar.
Urgensi Jurnalistik Islam dalam Dakwah di Media Baru Fitri, F
Journal of Islamic Studies and Humanities Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : UIN Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/jish.22.2523

Abstract

The growth of mass media over time continues to grow and complex. The use of the term journalism or the press also continues to expand to include a broader meaning. Advances in communication technology create new journalism. Press or journalism with new media/internet is a channel of information dissemination that is effective and efficient. Islamic Journalism is part of national journalism in general. The presence of Islamic journalism other than as an agent of information dissemination and educators is dawah using writing. This article reviews the role of Islamic Journalism as a dawah in new media. The author analyzes the contents of the news text by taking samples on the Islamic sites are eramuslim.com and islampos.com. The result is both the site eramuslim.com and islampos.com can apply Islamic journalism, but less emphasize open attitude to the differences of understanding.* * *Pertumbuhan media massa dari waktu ke waktu terus berkembang dan kompleks. Penggunaan istilah jurnalisme atau pers juga terus berkembang mencakup makna yang semakin luas. Kemajuan teknologi komunikasi menciptakan jurnalisme baru. Pers atau jurnalisme dengan media baru (internet) merupakan saluran penyebaran informasi yang cukup efektif dan efisien. Jurnalistik Islam merupakan bagian jurnalistik nasional pada umumnya. Kehadiran jurnalisme atau jurnalistik Islam selain sebagai agen penyebar informasi, dan pendidik merupakan dakwah dengan tulisan. Artikel ini mengulas Peran Jurnalistik Islam sebagai dakwah di media baru. Penulis menganalisis isi teks berita dengan mengambil sampel pada situs Islam yaitu eramuslim.com dan islampos.com. Hasilnya baik situs eramuslim.com dan islampos.com dapat menerapkan jurnalistik Islam, namun kurang menonjolkan sikap terbuka bagi perbedaan paham.
Al-Fiqh Al-Islāmiy wa Āṡāruhu ‘alā al-Qānūn al-Ūrūbiy Meirison, M
Journal of Islamic Studies and Humanities Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : UIN Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (731.318 KB) | DOI: 10.21580/jish.22.2524

Abstract

Islamic Jurisprudence and Its Effects on European Law. A must for every Muslim to know and a right to know where someone draws European law and obsessed with him and not to say that Europe is the bearer of progress and prosperity for us and family law (ahwal as-syakhsiyah) as civilization and without it will live in the darkness and the darkness in life. Western nations will easily be said that the Islamic world has been indebted to the west to build their laws, especially in the field of private law (ahwal as-syaikhsiyah), marriage, inheritance and other mu'amalah actual fields formerly derived from Islam itself as joint property ownership in marriage. Even Islamic law has effect until the current international law.* * *Pengaruh Fiqh Islam Terhadap Hukum di Eropa. Sebuah keharusan bagi setiap muslim untuk mengetahui dan berhak untuk tahu di mana seseorang menggambar hukum Eropa dan terobsesi dengannya dan agar tidak mengatakan bahwa Eropa adalah  pembawa kemajuan dan kemakmuran bagi kita dan hukum keluarga (ahwal as-syakhsiyah) sebagai peradaban dan tanpa itu akan hidup dalam kegelapan dan kegelapan dalam kehidupan. Bangsa barat dengan mudah akan mengatakan dunia Islam telah berhutang kepada barat untuk membangun hukum mereka terutama di bidang ahwal as-syaksiyah, pernikahan, waris dan bidang mu'amalah lainnya yang sebenarnya dahulunya berasal dari Islam sendiri seperti kepemilikan harta bersama dalam perkawinan. Bahkan hukum Islam mempunyai pengaruh sampai kepada hukum internasional yang berlaku sekarang.
Interaksi Kaum Sufi dengan Ahli Hadis: Melacak Akar Persinggungan Tasawuf dan Hadis Arafat, Ahmad Tajuddin
Journal of Islamic Studies and Humanities Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : UIN Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (584.676 KB) | DOI: 10.21580/jish.22.2520

Abstract

This article examines the root of intersection between the study of Sufism and Hadith through the interaction between Sufis with the Hadis Transmitters (Ahl al-Hadis). A historical approach used in this research. The result founded that some early Sufis identified as active and credible transmitters of Hadis. Early Sufis generations already applied the exoteric views or irfani perspective toward understanding the Hadis. This view is a pillar for them to get the significance of the Prophetic traditions. It stated that early Sufis make the Prophet attitude as an ideal model for them. The research also founded that the Sufi’s interactions with the Transmitters are considered as a dialogical interaction between them. These interactions historically confirmed in the middle of the second century of hijriyah, for example, Ibnu Mubarak (118 H.), and the third century of hijriyah,  al-Muhasibi (243 H) and Zun an-Nun al-Misri (245 H).* * *Artikel ini mengkaji akar persinggungan antara kajian Tasawuf dan Hadis melalui pola interaksi para Sufi dengan perawi Hadis (Ahl al-Hadis). Penelitian ini menggunakan pendekatan historis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada beberapa sufi awal yang diidentifikasi sebagai perawi aktif dan kredibel dari Hadis. Sufi generasi awal sudah menerapkan pandangan eksoteris atau perspektif irfani terhadap pemahaman Hadis. Pandangan ini merupakan hal yang penting bagi mereka untuk mendapatkan hakikat makna hadis Nabi. Sufi awal selalu menjadikan Nabi sebagai model ideal untuk mereka. Gambaran interaksi Sufi dengan perawi dianggap sebagai interaksi dialogis antara keduanya. Interaksi ini secara historis terjadi pada pertengahan abad kedua hijriyah, terutama di zaman Ibnu Mubarak (118 H.), dan pada abad ketiga hijriyah, di era al-Muhasibi (243 H) dan Zun an-Nun al-Misri (245 H).
Media dan Demokrasi di Era Global: Studi Dakwah Islam Kontemporer di Indonesia Rachmawati, Farida
Journal of Islamic Studies and Humanities Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : UIN Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (450.4 KB) | DOI: 10.21580/jish.22.2521

Abstract

Globalization has affected all the cultural subsystems of today's society, especially in media. How Islamic da’wa opportunities in the midst of media globalization is the focus of this article. Library studies have been used in this study. The result shows that Islamic da’wa is in the marginal position and has not been able to become a major player. There are four opportunities that can be used in preaching Islam in the era of media globalization. First, the freedom of information media is filled with enhancing creativity in making Islamic content more interesting and reflecting Islam's rahmatan lil 'alamin. Secondly, Islamic missionary media participated in the formation of public opinion. Third, the education of Muslims based on morality. Muslims must be faithful to the teachings of religion and consistent with the religious ideal. Fourth, to maximize the source of Islamic capitalism such as zakat, as a tool to achieve the welfare of all people.* * *Globalisasi telah memengaruhi semua subsistem budaya masyarakat saat ini, terlebih di bidang media. Bagaimana peluang dakwah Islam di tengah globalisasi media merupakan fokus dari artikel ini. Studi kepustakaan telah digunakan dalam penelitian ini. Hasilnya menunjukkan bahwa posisi dakwah Islam berada di posisi terpinggirkan dan belum mampu menjadi pemain utama. Terdapat empat peluang yang bisa digunakan dalam berdakwah Islam di era globalisasi media. Pertama, kebebasan media informasi diisi dengan meningkatkan kreativitas dalam membuat konten-konten Islami yang lebih menarik dan mencerminkan Islam rahmatan lil ‘alamin. Kedua, media dakwah Islam Ikut serta menjadi pemain dalam pembentukan opini publik. Ketiga,  pendidikan umat Islam berbasis  moralitas. Muslim  harus setia pada ajaran agama dan konsisten terhadap idealitas agama. Keempat, mendayagunakan secara maksimal sumber kapitalisme Islam seperti zakat, sebagai alat untuk mencapai kesejahteraan seluruh umat. 
Tahlilan Muhammadiyah: Analisis Konflik Sosial Masyarakat Kotagedhe Yogyakarta Aslamah, Sayyidah
Journal of Islamic Studies and Humanities Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : UIN Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (56.945 KB) | DOI: 10.21580/jish.22.2522

Abstract

Tahlillan according to Nahdliyin is religious activities that can strengthen social ties. On the contrary, for the Muhammadiyah community in Kotaghede, tahlilan became the trigger for conflict. This conflict is interesting to observe because it occurs not between Nahdliyin and Muhammadiyah communities, but occurs in the Muhammadiyah community itself, between those who disagreed and who practiced it. This article finds out how the conflict occurred related to the understanding of Islam and local culture. This finding is based on the observation of the four groups involved. First, Muhammadiyah and Nahdliyin communities that practiced tahlilan; second, the Muhammadiyah community that opposes it; third, Muhammadiyah community in Kotagedhe who agreed and practiced the tahlilan, and fourth, Nahdliyin community who commented on it.* * *Tahlilan bagi masyarkat Nahdliyin adalah aktivitas keagamaan yang mampu memperkuat ikatan sosial. Namun sebaliknya bagi masyarakat Muhammadiyah di Kotaghede, tahlilan menjadi pemicu konflik. Konflik ini menarik untuk diamati karena terjadi bukan antara masyarakat Nahdliyin dan Muhammadiyah, akan tetapi terjadi pada masyarakat Muhammadiyah sendiri, antara yang tidak setuju dan yang melaksanakannya. Artikel ini menemukan bagaimana konflik itu terjadi terkait dengan pemahaman Islam dan budaya lokal. Temuan ini berdasarkan pada pengamatan terhadap empat kelompok yang terlibat; pertama, masyarakat Muhammadiyah dan Nahdliyin yang menjalankan tahlilan; kedua, masyarakat Muhammadiyah yang menentangnya; ketiga masyarakat Muhammadiyah di Kotagedhe yang setuju dan menjalankan tahlilan, dan keempat masyarakat nahdliyin yang memberikan komentar.
Al-Fiqh Al-Islāmiy wa Āṡāruhu ‘alā al-Qānūn al-Ūrūbiy Meirison, M
Journal of Islamic Studies and Humanities Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : UIN Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (731.318 KB) | DOI: 10.21580/jish.22.2524

Abstract

Islamic Jurisprudence and Its Effects on European Law. A must for every Muslim to know and a right to know where someone draws European law and obsessed with him and not to say that Europe is the bearer of progress and prosperity for us and family law (ahwal as-syakhsiyah) as civilization and without it will live in the darkness and the darkness in life. Western nations will easily be said that the Islamic world has been indebted to the west to build their laws, especially in the field of private law (ahwal as-syaikhsiyah), marriage, inheritance and other mu'amalah actual fields formerly derived from Islam itself as joint property ownership in marriage. Even Islamic law has effect until the current international law.* * *Pengaruh Fiqh Islam Terhadap Hukum di Eropa. Sebuah keharusan bagi setiap muslim untuk mengetahui dan berhak untuk tahu di mana seseorang menggambar hukum Eropa dan terobsesi dengannya dan agar tidak mengatakan bahwa Eropa adalah  pembawa kemajuan dan kemakmuran bagi kita dan hukum keluarga (ahwal as-syakhsiyah) sebagai peradaban dan tanpa itu akan hidup dalam kegelapan dan kegelapan dalam kehidupan. Bangsa barat dengan mudah akan mengatakan dunia Islam telah berhutang kepada barat untuk membangun hukum mereka terutama di bidang ahwal as-syaksiyah, pernikahan, waris dan bidang mu'amalah lainnya yang sebenarnya dahulunya berasal dari Islam sendiri seperti kepemilikan harta bersama dalam perkawinan. Bahkan hukum Islam mempunyai pengaruh sampai kepada hukum internasional yang berlaku sekarang.
Interaksi Kaum Sufi dengan Ahli Hadis: Melacak Akar Persinggungan Tasawuf dan Hadis Arafat, Ahmad Tajuddin
Journal of Islamic Studies and Humanities Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : UIN Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (584.676 KB) | DOI: 10.21580/jish.22.2520

Abstract

This article examines the root of intersection between the study of Sufism and Hadith through the interaction between Sufis with the Hadis Transmitters (Ahl al-Hadis). A historical approach used in this research. The result founded that some early Sufis identified as active and credible transmitters of Hadis. Early Sufis generations already applied the exoteric views or irfani perspective toward understanding the Hadis. This view is a pillar for them to get the significance of the Prophetic traditions. It stated that early Sufis make the Prophet attitude as an ideal model for them. The research also founded that the Sufi’s interactions with the Transmitters are considered as a dialogical interaction between them. These interactions historically confirmed in the middle of the second century of hijriyah, for example, Ibnu Mubarak (118 H.), and the third century of hijriyah,  al-Muhasibi (243 H) and Zun an-Nun al-Misri (245 H).* * *Artikel ini mengkaji akar persinggungan antara kajian Tasawuf dan Hadis melalui pola interaksi para Sufi dengan perawi Hadis (Ahl al-Hadis). Penelitian ini menggunakan pendekatan historis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada beberapa sufi awal yang diidentifikasi sebagai perawi aktif dan kredibel dari Hadis. Sufi generasi awal sudah menerapkan pandangan eksoteris atau perspektif irfani terhadap pemahaman Hadis. Pandangan ini merupakan hal yang penting bagi mereka untuk mendapatkan hakikat makna hadis Nabi. Sufi awal selalu menjadikan Nabi sebagai model ideal untuk mereka. Gambaran interaksi Sufi dengan perawi dianggap sebagai interaksi dialogis antara keduanya. Interaksi ini secara historis terjadi pada pertengahan abad kedua hijriyah, terutama di zaman Ibnu Mubarak (118 H.), dan pada abad ketiga hijriyah, di era al-Muhasibi (243 H) dan Zun an-Nun al-Misri (245 H).
Interaksi Kaum Sufi dengan Ahli Hadis: Melacak Akar Persinggungan Tasawuf dan Hadis Ahmad Tajuddin Arafat
Journal of Islamic Studies and Humanities Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : UIN Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (584.676 KB) | DOI: 10.21580/jish.22.2520

Abstract

This article examines the root of intersection between the study of Sufism and Hadith through the interaction between Sufis with the Hadis Transmitters (Ahl al-Hadis). A historical approach used in this research. The result founded that some early Sufis identified as active and credible transmitters of Hadis. Early Sufis generations already applied the exoteric views or irfani perspective toward understanding the Hadis. This view is a pillar for them to get the significance of the Prophetic traditions. It stated that early Sufis make the Prophet attitude as an ideal model for them. The research also founded that the Sufi’s interactions with the Transmitters are considered as a dialogical interaction between them. These interactions historically confirmed in the middle of the second century of hijriyah, for example, Ibnu Mubarak (118 H.), and the third century of hijriyah,  al-Muhasibi (243 H) and Zun an-Nun al-Misri (245 H).* * *Artikel ini mengkaji akar persinggungan antara kajian Tasawuf dan Hadis melalui pola interaksi para Sufi dengan perawi Hadis (Ahl al-Hadis). Penelitian ini menggunakan pendekatan historis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada beberapa sufi awal yang diidentifikasi sebagai perawi aktif dan kredibel dari Hadis. Sufi generasi awal sudah menerapkan pandangan eksoteris atau perspektif irfani terhadap pemahaman Hadis. Pandangan ini merupakan hal yang penting bagi mereka untuk mendapatkan hakikat makna hadis Nabi. Sufi awal selalu menjadikan Nabi sebagai model ideal untuk mereka. Gambaran interaksi Sufi dengan perawi dianggap sebagai interaksi dialogis antara keduanya. Interaksi ini secara historis terjadi pada pertengahan abad kedua hijriyah, terutama di zaman Ibnu Mubarak (118 H.), dan pada abad ketiga hijriyah, di era al-Muhasibi (243 H) dan Zun an-Nun al-Misri (245 H).

Page 1 of 2 | Total Record : 12