cover
Contact Name
Johan Arifin
Contact Email
attaqaddum@walisongo.ac.id
Phone
+6285727512933
Journal Mail Official
attaqaddum@walisongo.ac.id
Editorial Address
Lembaga Penjaminan Mutu, UIN Walisongo Semarang Jln. Walisongo, No 3-5, Ngaliyan Semarang 50185
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
At-Taqaddum
ISSN : 19794703     EISSN : 25279726     DOI : 10.21580/at
AT-TAQADDUM, adalah Jurnal Peningkatan Mutu Keilmuan dan Kependidikan Islam, terbit setahun 2 kali oleh Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang. Jurnal ini menekankan kedalaman pembahasan, mengkomunikasikan hasil-hasil penelitian, dan mensosialisasikan kajian-kajian kontemporer tentang studi islam dan kemanusiaan.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 24 Documents
Search results for , issue "Volume 6, Nomor 2, November 2014" : 24 Documents clear
DIMENSI KEILMUAN DALAM AL-QUR’AN Misbahudin, Iing
At-Taqaddum Volume 6, Nomor 2, November 2014
Publisher : Quality Assurance Institute (LPM) State Islamic University Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (783.614 KB) | DOI: 10.21580/at.v6i2.715

Abstract

Al-Qur?an tiada keraguan didalamnya adalah petunjuk bagi manusia khususnya mereka yang beriman dan bertakwa kepada Allah. Dan Al-Qur?an sebuah kitab suci agama Islam sebagai sumber pokok ajaran agama. Dengan demikian Al- Qur?an sebagai kitab petunjuk (gide book) bagi setiap insan untuk memperoleh kebahagiaan dan keselamatan hidup dunia dan akherat.Namun demikian dalam Al Qur?an terdapat pentunjuk bagaimana manusia memperoleh ilmu pengetahuan  dan Al- Qur?an  dari mana sumber ilmu pengetahuan. Didalamnya ditemukan  banyak ayat yang memberi isyarat kebenaran ilmu pengetahuan dan hakekat imu pengetahuan. Menurutnya  ilmu pengetahuan itu ada dua  sumber yaitu pertama  ayat al matluwah (yang dapat dibaca) yakni Al-Qur?an dan kedua ayat al-Majluwah (yang dapat dilihat) yakni alam semesta keduanya  bersumber dari Allah  ayat al-matluwah adalah firmannya dan ayat al-Majluwah adalah ciptaannya. Inilah hakekat ilmu pegetahuan yang tak terbatas.Al-Qur?an  memberikan informasi kepada kita bahwa Allah telah memberikan ilmu pengetahuan kepada manusia secara langsung, sebagaimana diberikan kepada para nabi dan rasul  dan orang-orang soleh  dengan melalui  wahyu dan ilham. Dan juga Allah memberikan ilmu pengetahuan kepada mereka  yang bukan para nabi, rasul dan orang soleh melalui  proses  pembelajaran dan aktualisasi potensi akal  dan qolbu  serta indra yang telah Allah anugrah kepada manusia sejak lahir. Maka ilmu pengetahuan hendaknya di abdikan untuk  Allah dan seorang berilmu semakin bertambah ilmunya semakin bertambah keimanan dan ketakwaannya kepada Allah bukan sebaliknya.
FALSIFIKASI KARL POPPER DAN KEMUNGKINAN PENERAPANNYA DALAM KEILMUAN ISLAM Komarudin, Komarudin
At-Taqaddum Volume 6, Nomor 2, November 2014
Publisher : Quality Assurance Institute (LPM) State Islamic University Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (822.638 KB) | DOI: 10.21580/at.v6i2.720

Abstract

Salah satu persoalan yang sama-sama dihadapi oleh keilmuan dalam tradisi Barat maupun Islam adalah masalah penentuan batasan kebenaran yang diusung oleh tradisi keilmuan yang dibangun. Metodologi seperti apakah yang digunakan oleh masing-masing tradisi dalam menentukan kebenaran ilmu atau pengetahuan yang dibangun. Persoalan ini dalam tradisi keilmuan Barat telah melahirkan berbagai diskursus sangat intens, sehingga telah memunculkan berbagai teori yang membicarakan batas-batas kebenaran ilmu pengetahuan, yang salah satunya adalah teori falsifikasi yang dikemukakan Karl Raymond Popper. Teori Popper ini menegaskan bahwa kebenaran proposisi suatu ilmu tidak ditentukan melalui uji verifikasi, tetapi upaya penyangkalan atas kebenarannya melalui berbagai percobaan yang sistematis. Semakin besar upaya untuk menyangkal suatu teori, dan jika teori itu ternyata terus mampu bertahan, maka semakin kokoh pula keberadaannya. Prinsip dalam teori falsifikasi Popper ini tampaknya sangat baik jika diterapkan dalam berbagai studi keilmuan di dalam Islam.
MODEL REHABILITASI SOSIAL GELANDANGAN PSIKOTIK BERBASIS MASYARAKAT (Studi Kasus di Ponpes/Panti REHSOS Nurusslam Sayung Demak) Karnadi Hasan; Sadiman Al-Kundarto
At-Taqaddum Volume 6, Nomor 2, November 2014
Publisher : Quality Assurance Institute (LPM) State Islamic University Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/at.v6i2.722

Abstract

Ponpes/Panti REHSOS “Nurusssalam” Sayung Demak yang menjadi lokus dari penelitian ini merupakan salah satu panti rehabilitasi sosial yang dikelola langsung oleh masyarakat dan patut menjadi model rujukan bagi rehabilitasi sosial para gelandangan-psikotik di Jawa Tengah atau bahkan bisa menjadi rujukan “Nasional”. Riset ini menyimpulkan bahwa hasil rehabilitasi sosial terhadap gelandangan psikotik yang diberikan di Ponpes/Panti REHSOS “Nurusssalam” Sayung Demak lebih komprehensip dibanding 2 (dua) panti lain yang menjadi pembanding karena rehabilitasi yang diberikan di sini meliputi; bimbingan sosial, medik, herbal, fisik, rekreatif dan pemberdayaan di bidang ekonomis produktif dengan terapi religius model pondok pesantren lebih manusiawi, karena memandang manusia secara utuh meliputi : fisik, mental maupun sosial, berdampak positif pada upaya secara langsung menghilangkan stigma masyarakat, sehingga tingkat kambuh kembali relatif kecil;Selain itu, tingkat penyembuhan klien di Panti Nurusslam lebih optimal, terlebih-lebih setelah difasilitasi Hydrotherapy by shower lebih efektif dan efisien. Karena terdapat kenaikan jangkauan pelayanan dari model manual hanya bisa melayani 30 orang per malam dengan 3 shower bisa menjadi 90 orang ( 300 % ) per malam.Penggunaan Hydrotherapy by shower dapat merangsang kesadaran syaraf sensoris, sehingga klien dapat mudah tidur dan selanjutnya merangsang tingkat kesadaran diri yang tinggi yang berdampak positif untuk mudah disembuhkan.
DEMOKRASI PESANTREN : MENEBAR FORMAT POLITIK YANG DAMAI Imam Yahya
At-Taqaddum Volume 6, Nomor 2, November 2014
Publisher : Quality Assurance Institute (LPM) State Islamic University Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/at.v6i2.713

Abstract

Dalam bahasa KH Abdurrahman Wahid, Pesantren merupakan sebuah sub kultur budaya masyarakat Indonesia. Kyai sebagai  pengasuh Pesantren menjadi tokoh sentral tidak saja sebagai pengeloa Pesantren tetapi Kyai juga sebagai tokoh dan panutan masyarakat Pesantren. Bahkan ada yang menyatakan bahwa Kyai di Pesantren bagaikan Raja-raja kecil yang mempunyai kekuasaan penuh atas masyarakat yang memberikan mandat kepadanya.Namun dalam dunia politik ketokohan Kyai tidak bisa disamakan dalam posisinya sebagai tokoh Pesantren. Hal ini bukan karena Kyai tidak layak untuk menjadi panutan dalam berpolitik, tetapi dalam dunia politik, Pesantren menggunakan perspektif sunni, di mana kekuasaan adalah kewajiban kelompok (fardu kifayah), sehingga politik dijadikan sebagai wasilah/media bukan ghoyah/tujuan dalam rangka mencapai kemashlahatan ummat.Banyaknya praktek politik yang mengatasnamakan politik Islam seperti khilafah Islamiyah di timur tengah semacam al-Qaedah, ISIS dan sejenisnya, menjadikan kesan politik Islam yang arogan dan menakutkan. Sementara berpolitik ala pesantren mencerminkan politik Islam yang penuh kedamaian dan persahabatan.
PELESTARIAN LINGKUNGAN DALAM PERSPEKTIF SUNNAH Ulin Niam Masruri
At-Taqaddum Volume 6, Nomor 2, November 2014
Publisher : Quality Assurance Institute (LPM) State Islamic University Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/at.v6i2.718

Abstract

Ajaran Islam menawarkan kesempatan untuk memahami Sunnatullah serta menegaskan tanggung jawab manusia. Ajaran Islam tidak hanya mengajarkan untuk mengambil manfaat dari sumberdaya alam, tetapi juga mengajarkan aturan main dalam pemanfaatannya dimana kesejahteraan bersama yang berkelanjutan sebagai hasil keseluruhan yang diinginkan. Salah satu sunnah Rasulullah saw menjelaskan setiap warga berhak untuk mendapatkan mafaat dari suatu sumberdaya alam milik bersama untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya sepanjang tidak melanggar, menyalahi, dan menhalangi hak-hak yang sama pada diri orang lain. Penggunaan sumberdaya alam yang langka harus tetap mendapat pengawasan dan perlindungan yang baik.Menjaga kelestarian lingkungan hidup merupakan bagian dari akhlak mulia yang harus diterapkan di tengah-tengah kehidupan manusia. Hal ini, untuk menjaga keberlangsungan kehidupan di dunia dan menjauhkan kerusakan dan bencana yang terjadi karena ulah sebagian manusia. Rosulullah sebagai seorang Nabi telah memberikan perintah yang tegas kepada umatnya untuk menjaga alam ini dan tidak membuat kerusakan di dalamnya.
KESIAPAN MADRASAH DALAM PELAKSANAAN KURIKULUM 2013 Mulyani Mudis Taruna
At-Taqaddum Volume 6, Nomor 2, November 2014
Publisher : Quality Assurance Institute (LPM) State Islamic University Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/at.v6i2.723

Abstract

Secara umum kesiapan guru MTs Negeri di Jawa Tengah dilihat dari aspek penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) berada pada kategori BAIK (81,59). Apabila dibedakan antara kesiapan guru mapel umum dengan guru mapel PAI, maka terdapat perbedaan, yaitu kesiapan guru mapel dalam penyusunan RPP terkait dengan pelaksanaan Kurikulum 2013 adalah Lebih Baik (84,84 / Baik) dari pada guru mapel PAI (78,13 / Cukup). Adapun dilihat dari kesiapan guru MTs Negeri di Jawa Tengah dari aspek pelaksanaan pembelajaran di kelas berada pada kategori Cukup(78,26). Apabila dibedakan antara kesiapan guru mapel umum dengan guru mapel PAI, maka terdapat perbedaan, yaitu kesiapan guru mapel dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas dengan menggunakan kurikulum 2013 adalah Lebih Baik (81,45) dari pada guru mapel PAI (74,66)Faktor pendukung dalam kesiapan pelaksanaan kurikulum 2013 adalah 1). adanya sosialisasi kurikulum 2013 untuk kepala madrasah, pengawas dan guru serta mengadakan koordinasi dengan KKM, MGMP, Pokjawas secara mandiri dan intens, 2). menciptakan suasana kelas yang standar dengan tuntutan kurikulum 2013, 3). SDM guru cukup baik terutama guru yang sudah mengikuti sosialisasi kurikulum 2013 sebagai peserta inti dari pusat dan siap bekerjasama. Adapun faktor Penghambat adalah 1). dari aspek waktu, materi, dan narasumber ketika sosialisasi, workshop, dan diklat kurang proporsional, 2). Buku pegangan guru dan peserta didik belum terpenuhi terutama untuk buku PAI, 3). tidak semua guru memiliki atau terampil dalam mengoperasikan laptop, 4). Tidak semua alat peraga maupun perlengkapan laboratorium IPA tersedia sesuai dengan tuntutan materi, 5). Belum tersedianya ruangan khusus bagi guru untuk mengadakan evaluasi maupun sharing pembelajaran, 6). Mindset Guru di mana guru masih menggunakan metode klasik dengan ceramah yang lebih dominan, dan 7). Faktor pendampingan bagi guru yang dilakukan oleh pengawas tidak berjalan dengan baik.
Melacak Pemikiran Tarekat Kyai Muslih Mranggen (1912-1981 M) melalui Kitabnya : Yawaqit al-Asani Fi Manaqib al-Syeikh Abdul Qadir al-Jilani Mohammad Masrur
At-Taqaddum Volume 6, Nomor 2, November 2014
Publisher : Quality Assurance Institute (LPM) State Islamic University Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/at.v6i2.714

Abstract

Sebelum wafat (2007), Kyai Luthfi Hakim bin Muslih bin Abdirrahman yang menyerahkan sebuah manuskripYawaqit al-Asani Fi Manaqib al-Syeikh Abdul Qadir al-Jilani kepada Kyai Chumaidi Kendal, salah seorang murid dekat Kyai Muslih untuk menerjemahkannyaSetelah divalidasi oleh Kyai Chumaidi dan Kyai Rofi’i Kebonbatur Mranggen serta sejumlah murid dekat Kyai Muslih lainnya, diyakini bahwa kitab tersebut adalah karya Kyai Muslih. Lalu pada tahun 2009, setelah diterbitkan oleh Karya Toha Putra Semarang, kitab tersebut di-launching disertai dengan ijazah ’ammahPersoalannya, bagaimana menggunakan kitab tersebut, sementara selama ini manaqib yang biasa dibaca adalah al-Lujain al-Dani  karya al-Barzanji. Kyai Muslih sendiri juga sangat menaruh perhatian terhadap kitab ini, dengan menulis terjemahnya dalam dua jilid yang diberinya judul al-Nur al-Burhani.Untuk menjawab persoalan penting ini, perlu dilacak pemikiran tarekat Kyai Muslih dengan menjadikan kitab Yawaqit sebagai core-nya.Hasil penelitian ini menyimpulkan : Pertama, penyusunan kitab ini terkait dengan upaya beliau untuk menyuguhkan manaqib yang lebih simple pembacaannya, tetapi secara ruhiyah tidak kurang dari manaqib yang telah ada. Kedua, pendekatan interteks, ditemukan, bahwa Yawaqit merupakan media puncak dari pemikiran beliau di bidang tarekat. Hal ini ditunjukkan oleh karya-karya beliau di bidang tarekat, mulai dari penulisan al-Nur al-Burhni fi Tarjamah al-Lujain al-Dani dalam dua jilid, Risalah Tuntunan ariqah Qadiriyyah wa Naqsyabandiyah dalam dua jilid, Munajat Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah wa Ad’iyatuha dan al-Futuhat al-Rabbaniyyah.Ketiga, pendekatan sejarah sosial.Dengan pendekatan ini ditemukan bahwa Yawaqit juga merupakan media puncak dari gerakan tarekat beliau.Kesimpulan ini didasarkan pada sejumlah aktifitas beliau, dimulai dari keaktifan beliau bertarekat, keaktifan beliau menjadi mursyid tarekat dan keaktifan beliau dalam organisasi tarekat.
FENOMENA SPIRITUALITAS TERAPAN DAN TANTANGAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI ERA GLOBAL Sofa Muthohar
At-Taqaddum Volume 6, Nomor 2, November 2014
Publisher : Quality Assurance Institute (LPM) State Islamic University Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/at.v6i2.719

Abstract

Fenomena spiritualitas terapan seperti aliran pranana, energy spiritual nusantara, hypno, psichotronika, transfer energy dll sebagai fenomena pola spiritualitas yang mampu mengisi sebagian ruang kegelisahan  orang-orang modern. Berbeloknya manusia modern yang mulai lelah dengan hanya mengandalkan pola berfikir materialis positifis menuju spiritualitas sebagai keseimbangan fithri manusia ternyata tidak serta merta mereka membutuhkan agama yang di dalamnya berisi ke imanan terhadap Allah SWT, Tuhan semesta alam. Namun ternyata spiritualitas terdiri dari banyak ragamnya. Setidaknya ada tiga pola dasar spiritualitas yaitu spiritualitas yang berdasar psikologi/diri manusia, alam dan agama. Dua macam spiritualitas yang pertama hakikatnya sama dengan ilmu-ilmu sain yang mendasarkan pada keyakinan bahwa pusat energi adalah manusia dan alam (anthropo centre dan natural centre) yang juga akan sampai pada titik kehampaan dan keterbatasan manusia dan alam dan berbuah kegelisahan dan keputusasaan. Spiritualitas agama seharusnya bisa tampil ke permukaan, disampaikan dengan metode dan strategi pendidikan agama khususnya Islam yang mudah dipahami dan di aktualisasikan sesuai dengan globalisasi sehingga bisa menjadi solusi bagi kegersangan manusia modern akan hakikat hidup yang serba kompleks, cepat dan majemuk. Spiritualitas agama Islam dengan demikian bisa diharapkan menjadi fondasi baru peradaban mendatang.
DIMENSI KEILMUAN DALAM AL-QUR’AN Iing Misbahudin
At-Taqaddum Volume 6, Nomor 2, November 2014
Publisher : Quality Assurance Institute (LPM) State Islamic University Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/at.v6i2.715

Abstract

Al-Qur’an tiada keraguan didalamnya adalah petunjuk bagi manusia khususnya mereka yang beriman dan bertakwa kepada Allah. Dan Al-Qur’an sebuah kitab suci agama Islam sebagai sumber pokok ajaran agama. Dengan demikian Al- Qur’an sebagai kitab petunjuk (gide book) bagi setiap insan untuk memperoleh kebahagiaan dan keselamatan hidup dunia dan akherat.Namun demikian dalam Al Qur’an terdapat pentunjuk bagaimana manusia memperoleh ilmu pengetahuan  dan Al- Qur’an  dari mana sumber ilmu pengetahuan. Didalamnya ditemukan  banyak ayat yang memberi isyarat kebenaran ilmu pengetahuan dan hakekat imu pengetahuan. Menurutnya  ilmu pengetahuan itu ada dua  sumber yaitu pertama  ayat al matluwah (yang dapat dibaca) yakni Al-Qur’an dan kedua ayat al-Majluwah (yang dapat dilihat) yakni alam semesta keduanya  bersumber dari Allah  ayat al-matluwah adalah firmannya dan ayat al-Majluwah adalah ciptaannya. Inilah hakekat ilmu pegetahuan yang tak terbatas.Al-Qur’an  memberikan informasi kepada kita bahwa Allah telah memberikan ilmu pengetahuan kepada manusia secara langsung, sebagaimana diberikan kepada para nabi dan rasul  dan orang-orang soleh  dengan melalui  wahyu dan ilham. Dan juga Allah memberikan ilmu pengetahuan kepada mereka  yang bukan para nabi, rasul dan orang soleh melalui  proses  pembelajaran dan aktualisasi potensi akal  dan qolbu  serta indra yang telah Allah anugrah kepada manusia sejak lahir. Maka ilmu pengetahuan hendaknya di abdikan untuk  Allah dan seorang berilmu semakin bertambah ilmunya semakin bertambah keimanan dan ketakwaannya kepada Allah bukan sebaliknya.
FALSIFIKASI KARL POPPER DAN KEMUNGKINAN PENERAPANNYA DALAM KEILMUAN ISLAM Komarudin Komarudin
At-Taqaddum Volume 6, Nomor 2, November 2014
Publisher : Quality Assurance Institute (LPM) State Islamic University Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/at.v6i2.720

Abstract

Salah satu persoalan yang sama-sama dihadapi oleh keilmuan dalam tradisi Barat maupun Islam adalah masalah penentuan batasan kebenaran yang diusung oleh tradisi keilmuan yang dibangun. Metodologi seperti apakah yang digunakan oleh masing-masing tradisi dalam menentukan kebenaran ilmu atau pengetahuan yang dibangun. Persoalan ini dalam tradisi keilmuan Barat telah melahirkan berbagai diskursus sangat intens, sehingga telah memunculkan berbagai teori yang membicarakan batas-batas kebenaran ilmu pengetahuan, yang salah satunya adalah teori falsifikasi yang dikemukakan Karl Raymond Popper. Teori Popper ini menegaskan bahwa kebenaran proposisi suatu ilmu tidak ditentukan melalui uji verifikasi, tetapi upaya penyangkalan atas kebenarannya melalui berbagai percobaan yang sistematis. Semakin besar upaya untuk menyangkal suatu teori, dan jika teori itu ternyata terus mampu bertahan, maka semakin kokoh pula keberadaannya. Prinsip dalam teori falsifikasi Popper ini tampaknya sangat baik jika diterapkan dalam berbagai studi keilmuan di dalam Islam.

Page 2 of 3 | Total Record : 24