cover
Contact Name
Asy-Syariáh
Contact Email
Jurnalasy-syariah@uinsgd.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
ine.fauzia@uinsgd.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Asy-Syari'ah
ISSN : 20869029     EISSN : 26545675     DOI : -
Memfokuskan diri pada publikasi berbagai hasil penelitian, telaah literatur, dan karya ilmiah lainnya yang cakupannya meliputi bidang ilmu syariah, hukum dan kemasyarakatan secara monodisipliner, interdisipliner, dan multidisipliner.
Arjuna Subject : -
Articles 259 Documents
SISTEM NENGAH SAWAH DI DESA CIKITU KABUPATEN BANDUNG DALAM PANDANGAN HUKUM ISLAM Asep Rohmana
Asy-Syari'ah Vol 19, No 2 (2017): Asy-Syariah
Publisher : Faculty of Sharia and Law, Sunan Gunung Djati Islamic State University of Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/as.v19i2.4390

Abstract

AbstractThe practice of muzara'ah, or joint management of agricultural land, can be found in various regions in Indonesia. One of them is in the Cikitu Village, Pacet District, Bandung Regency, using the term nengah. One of the main principles in this muzara'ah is the determination of profit sharing at the beginning of agreement (akad), in addition to other requirements. The pillars are the parties, seeds and the types of plants to be planted, land to be cultivated, and the processing period. This study raises issues regarding the suitability of nengah with the conditions required by muzara'ah. The approach method used in this study is case study with data obtained from interviews, fiqh muamalah documentation and references. The results of the study show that the nengah system in Cikitu Village has fulfilled the pillars of muzara'ah. However, from the conditions, the profit sharing between land owner and farmer is not determined at the beginning of agreement (akad), but at harvest time. If the results are good, the distribution is 50:50, but if the yield is considered unsatisfactory, then the profit sharing is 2/3 for the land owner and 1/3 for the sharecropper. The determination has an element of uncertainty (gharar) in the distribution of crops.Keywords:Muzara’ah, land cultivation, sharecropAbstrakPraktik muzara’ah, atau pengelolaan bersama lahan pertanian, dapat ditemukan di berbagai wilayah di Indonesia. Salah satunya adalah di Desa Cikitu Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung dengan menggunakan istilah nengah. Salah satu prinsip utama dalam muzara’ah ini adalah penetapan pembagian hasil di awal akad, di samping persyaratan lainnya. Adapun rukunnya adalah orang yang berakad, benih dan jenis tanaman yang akan ditanam, lahan yang dikerjakan, dan jangka waktu pengolahan. Kajian ini mengangkat permasalahan mengenai kesesuaian pelaksanaan nengah dengan ketentuan yang disyaratkan dalam muzara’ah tersebut. Metode pendekatan yang digunakan dalam kajian ini yaitu studi kasus dengan data-data yang diperoleh dari hasil wawancara, dokumentasi dan referensi fiqh muamalah. Hasil kajian menunjukkan bahwa penggarapan lahan dengan cara nengah sawah di Desa Cikitu telah memenuhi rukun muzara’ah. Namun dari syarat, pembagian hasil untuk petani pemilik lahan dan petani penggarap tidak ditentukan pada waktu akad, melainkan ditentukan pada waktu panen.  Ketentuan tersebut antara lain jika hasilnya bagus maka pembagiannya 50:50, akan tetapi jika hasil panennya dirasa kurang memuaskan, maka bagi hasilnya 2/3 untuk pemilik lahan dan 1/3 untuk petani penggarap. Penetapan tersebut memiliki unsur ketidakpastian (gharar) dalam pembagian hasil panen.Kata Kunci :Muzara’ah, Nengah, penggarapan lahan
RASIONALISME DALAM TAFSIR AHKAM Jaenudin Jaenudin
Asy-Syari'ah Vol 19, No 2 (2017): Asy-Syariah
Publisher : Faculty of Sharia and Law, Sunan Gunung Djati Islamic State University of Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/as.v19i2.4290

Abstract

AbstractInterpretation of al-Quran is a human effort to understand the meaning and purpose of God’s words based on their ability level. Various methods of interpretation have been born along with the development of religion and science. The method used in this study is Descriptive-Analysis by describing the method of interpretation. The verses of al-Quran in the field of Law have become a particular study, called as Tafsir Ahkam. In Islamic law, this study broadly branched out into rationalist schools of fiqh (ahl al-Ra'y) and textual Hijaz schools (ahl al-hadis). But these divisions are getting thinner as law development (instibath) requires reasoning gained from qiyas and istihsan or maslahat.  Therefore, the tafsir ahkam method developed with the growth of the school of fiqh, and the emergence of a rational approach in tafsir ahkam is a logical consequence of a dynamic of ijtihad fiqh method development.Keywords: Tafsir, Ahl ra’yi, Fiqh. AbstrakTafsir Al-Quran merupakan upaya manusia untuk memahami makna dan maksud firman Allah sesuai dengan kadar kemampuannya. Berbagai metode Tafsir telah lahir seiring dengan perkembangan ilmu agama dan sains. Ayat-ayat al-Quran di bidang Hukum telah menjadi bidang kajian tafsir tersendiri dan melahirkan tafsir ahkam. Metode yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah Deskriptif-Analisis dengan menguraikan tentang metode penafsiran. Di bidang hukum Islam telah berkembang pula mazhab fiqh yang secara garis besar terbagi atas mazhab fiqh irak yang rasionalis (ahl al-Ra’y) dan mazhab Hijaz yang tekstual (ahl al-hadis). Namun ciri tersebut semakin tipis seiring berkembang istinbath hukum yang memerlukan penalaran baik dengan qiyas, istihsan atau maslahat. Karena itu, corak tafsir ahkam berkembang dengan tumbuhnya mazhab fiqh, dan lahirnya pendekatan rasional dalam tafsir ahkam sebagai konsekuensi logis dari pertumuhan metode ijtihad fiqh yang dinamis.Kata Kunci: Tafsir, Ahl ra’yi, Fiqh.
PENGGUNAAN METODE IJTIHAD INTIQA’I DALAM PENGELOLAAN ZAKAT PRODUKTIF DI KOPERASI KPRI SABILULUNGAN BANDUNG Cheppy Risnandar
Asy-Syari'ah Vol 19, No 2 (2017): Asy-Syariah
Publisher : Faculty of Sharia and Law, Sunan Gunung Djati Islamic State University of Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/as.v19i2.4348

Abstract

AbstractYusuf al-Qaradawi with his various opinions has placed him as a contemporary fiqh expert, among others in the field of zakat. His opinions include the analogy of various business activities such as bonds and stocks into trade zakat. This paper aims to explain the implementation of the trade zakat at KPRI Sabilulungan, particularly regarding the legal basis used in determining mustahiq, the istinbath method, and how to channel it. The method used in this study is descriptive analytical, which qualitatively examines the opinions of Yusuf al-Qaradawi and observations at KPRI Sabilulungan obtained by observation and interviews. The results of the study indicate that KPRI Sabilulungan uses the same legal basis as that used by Yusuf al-Qaradawi with the istinbath intiqa'i / tarjih method, especially in applying the goal of distribution of mustahik. The implementation of zakat distribution is given to amil zakat and then distributed to mustahik.Keywords:Yusuf al-Qaradhawi, zakat trade, mustahik, cooperative AbstrakYusuf al-Qaradhawi dengan berbagai pendapatnya telah menempatkannya sebagai ahli fiqh kontemporer, antara lain di bidang zakat. Pendapatnya antara lain hasil analogi berbagai kegiatan usaha seperti obligasi dan saham ke dalam zakat perdagangan. Tulisan ini bertujuan untuk memaparkan pelaksanaan zakat perdagangan tersebut di KPRI Sabilulungan, khususnya mengenai landasan hukum yang digunakan dalam penentuan mustahiq, metrode istinbath, serta cara penyalurannya. Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah deskriptif analistis, yang secara kualitatif mengkaji pendapat Yusuf al-Qaradhawi dan hasil pengamatan di KPRI Sabilulungan yang didapat dengan cara observasi dan wawancara. Hasil kajian menunjukkan bahwa KPRI Sabilulungan menggunakan dasar hukum yang sama dengan yang digunakan oleh Yusuf al-Qaradhawi dengan metode istinbath intiqa’i/tarjih, khususnya dalam penerapan sasaran pendistribusian mustahik. Adapun pelaksanaan penyaluran zakat diberikan kepada amil zakat untuk kemudian dibagikan kepada para mustahik.Kata Kunci: Yusuf al-Qaradhawi, zakat perdagangan, mustahik, koperasi
SANKSI HUKUM BAGI FASILITATOR TINDAK PIDANA ASUSILA DALAM PERSFEKTIF FIQH JINAYAH Dudi Badruzaman
Asy-Syari'ah Vol 19, No 2 (2017): Asy-Syariah
Publisher : Faculty of Sharia and Law, Sunan Gunung Djati Islamic State University of Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/as.v19i2.4319

Abstract

AbstractNowadays, adultery is no longer an individual act, but becomes an industry with its localization both legal and illegal. In this case, many actors are involved in it, such as the presence of pimps, sex brokers, place providers, delivery agents, and so on. They can be referred to as facilitators of adultery, in addition to the adulterer itself. The purpose of this study was to determine the view of fiqh jinayah towards facilitators of adultery acts and its sanctions. By using the content analysis method as well as the juridical-normative approach to various qualitative data in form of rules and theories related to the object of research, this study shows that facilitators of the acts are categorized as jarimah and jarimah ta'zir to be specific. Judging from the concept of participation, the facilitator of obscene acts are participating directly or indirectly depending on his case, Sanctions for facilitators of this obscene act are ta'zir sanctions. The severity of the punishment becomes the state rights in order to achieve public benefits.Keywords: fiqh jinayah, facilitator, immoral act AbstrakSeks bebas sekarang bukan sekedar perbuatan perseorangan lagi, tapi sudah menjadi “industri” dengan adanya lokalisasi baik legal maupun ilegal. Dalam hal ini banyak pelaku terlibat didalamnya seperti adanya germo, calo seks, penyedia tempat, tukang antar, dan lain sebagainya. Mereka dapat disebut sebagai fasilitator perbuatan zina/cabul, di samping pelaku zina itu sendiri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pandangan fiqh jinayah terhadap fasilitator perbuatan asusila serta sanksi bagi mereka. Dengan menggunakan metode content analisys serta pendekatan yuridis-normatif terhadap berbagai data kualitatif berupa peraturan dan teori yang terkait dengan objek penelitian, penelitian ini menunjukkan bahwa para fasilitator perbuatan asusila merupakan perbuatan jarimah dan termasuk pada bagian jarimah ta’zir. Dilihat dari konsep turut serta, fasilitator perbuatan cabul ini termasuk pada turut serta secara tidak langsung dan bergantung pada kasusnya, bisa dengan jalan persepakatan, menghasut (menyuruh), atau memberi bantuan. Sanksi bagi fasilitator perbuatan cabul ini adalah sanksi ta’zir, berat ringannya menjadi hak negara sesuai dengan tuntutan kemaslahatan.Kata kunci: fiqih jinayah, fasilitator, asusila.
KONSTRUKSI WAKAF SECARA FIKIH Jaenudin Jaenudin
Asy-Syari'ah Vol 21, No 1 (2019): Asy-Syari'ah
Publisher : Faculty of Sharia and Law, Sunan Gunung Djati Islamic State University of Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/as.v21i1.4303

Abstract

Abstract: Endowments (waqf) in Islamic law is an importent act, done by wakif as eternal good deeds, to promote economic equality of the people. It has been carried out from the beginning of Islam, being developed up to the present time. By reviewing library materials related to waqf, it was found that waqf law has its own characteristics. Commonly, endowments are binding and should not be traded, but in Hanafi schools of thought, waqf is seen as a ghair lazim contract. Because of its unique and important position, the waqf law needs to be studied thoro­ughly, and should be designated as special law.Abstraks: Perwakafan dalam hukum Islam merupakan salah satu bagian penting dalam mewujud­kan keadilan ekonomi serta amal kebajikan yang terus berlangsung bagi wakif. Wakaf telah dilaksanakan sejak masa Nabi saw dan terus berkembang pada masa sahabat dan generasi setelahnya. Dengan penulusuran bahan pustaka yang terkait permasalahan hukum wakaf, ditemukan bahwa hukum wakaf memiliki ciri tersendiri dari hukum keben­daan (fikih muamalat). Di satu sisi, wakaf bersifat mengikat tidak boleh diperjual­beli­kan, tetapi pada madzhab Hanafi wakaf dipandang sebagai akad ghair lazim. Kerana kedu­dukan­nya yang unik dan penting, hukum wakaf secara fikih dikaji secara menyeluruh, bahkan dalam wakaf juga dilegilasi menjadi hukum yang khusus.
INOVASI PENYALURAN DANA ZAKAT PADA PROGRAM PEMBERDAYAAN DI LEMBAGA AMIL ZAKAT Iwan Setiawan
Asy-Syari'ah Vol 21, No 1 (2019): Asy-Syari'ah
Publisher : Faculty of Sharia and Law, Sunan Gunung Djati Islamic State University of Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/as.v21i1.4334

Abstract

Abstract: Zakat is intended to empowering the mustahik and improving their living standard. For this reason, the Islamic economic system through zakat is believed as one of  solution to overcome social gap and inequalities. Qualitative descriptive research is used to reveal Zakat Law Number 23 of 2011 drafting as Law Number 38 of 1999 replacement; and al-Maqashid al-Shari'ah as analysis approach. The high poverty rate, the great potential of zakat, and the responsibility of the State promote the “productive zakat” in form of scholarships, venture capital, and other forms are inevitably, while distributing the fund to the eight asnaf as stated in Al Qur'an Surah At-Taubah verse 60.Abstrak: Sistem ekonomi Islam melalui zakat merupakan solusi untuk menanggulangi kesen­jangan sosial yang akan berakibat pada kecemburuan sosial, konflik sosial, bahkan sampai revolusi sosial. Pengelolaan zakat yang baik mendistribusikan dana zakat tidak bersifat konsumtif tetapi secara produktif baik dimensi ekonomi, pendidikan, bahkan sarana sosial lainnya sehingga mustahik mampu mengembangkan dana zakat yang diteri­­ma guna meningkatkan taraf kehidupannya. Penelitian deskriptif kualitatif diguna­kan untuk mengungkapkan kejadian atau fakta proses pembuatan undang-undang nomor 23 tahun 2011 sebagai perubahan dari undang-undang nomor 38 tahun 1999. Sedangkan untuk menganalisis digunakan pendekatan al-Maqashid al-Syari’ah. Angka kemiskinan yang tinggi dan potensi zakat yang besar serta tanggungjawab Negara dalam hal itu menjadikan pengelolaan zakat secara produktif seperti dalam bentuk beasiswa, permodalan, pemberian alat-alat produksi dan sebagainya adalah hal yang niscaya dengan tetap mendistribusikannya tidak keluar dari delapan asnaf yang tertuang dalam Al-quran surat At-Taubah ayat 60.
PERSPEKTIF SIYÂSAH DUSTÛRIYAH ATAS HAK POLITIK PEREMPUAN DALAM MUSREMBANG KOTA BOGOR Erma Yulianis
Asy-Syari'ah Vol 21, No 1 (2019): Asy-Syari'ah
Publisher : Faculty of Sharia and Law, Sunan Gunung Djati Islamic State University of Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/as.v21i1.4558

Abstract

Abstract: Regional development planning can not be separated from the imple­mentation of community consultations in an area, especially women who are considered as minorities, but become a central point in decision making. City of Bogor Regulation No. 2 of 2008 Article 29 Paragraph (4) Letter B Number (6) states that women's repre­sentation should be considered especially in the framework of conducting regional development plans which must include all elements of society. This study tries to explain how to eliminate discrimination that occurs in women based on Siyâsah Dustûriyah perspective, focusing on equality principle (musawwah). Descriptive method is applied to describe various conditions in 6 sub-districts of Bogor City, supported by secondary data that came from related refferences. The results of the study explain that, basically women in Islam have an obligation to uphold and practice amar ma'ruf nahi munkar. In the perspective of Siyâsah Dustûriyah women have equal rights to express their opinions in order to make the amar ma'ruf nahi munkar real. Bogor City Regulation No. 2 of 2008 is one of legal base to strengthen Siyâsah Dustûriyah perspective on political rights of women who wish to express their opinions, especially in regional development planning.Abstrak: Perencanaan pembangunan daerah tidak lepas dari pelaksanaan musyawarah masya­rakat dalam suatu daerah, khususnya perempuan yang dianggap sebagai kaum minoritas, namun menjadi titik central dalam pengambilan keputusan. Perda Kota Bogor No. 2 Tahun 2008 Pasal 29 Ayat (4) Huruf B Angka (6) yang menyebutkan bahwa keter­wa­kilan perempuan seharusnya dapat diperhatikan terlebih dalam rangka melakukan pe­nyu­sunan rencana pembangunan daerah yang harus mengikutsertakan seluruh elemen masyarakat. Penelitian ini mencoba menjelaskan tentang bagaimana meng­hapus diskri­minasi yang terjadi pada perempuan berdasarkan perpektif Siyâsah Dustûriyah dengan me­ni­tik­beratkan pada suatu prinsip persamaan (musawwah). Perempuan dalam agama Islam memiliki kewajiban untuk menegakkan dan meng­amalkan amar ma’ruf nahi munkar. Metode deskriptif digunakan untuk memapar­kan atau menggambarkan hasil penelitian yang sebenarnya. Data primer diambil dari 6 kantor kecamatan Kota Bogor.  Sedangkan data sekunder berasal dari teori dan tinjauan kepustakaan yang tersedia. Hasil penelitian menjelaskan bahwa, dalam perpektif Siyâsah Dustûriyah wanita memiliki kesempatan yang sama dalam hak mengemukakan pendapat sehingga amar makruf nahi munkar dapat terwujud. Perda Kota Bogor No. 2 Tahun 2008 merupakan salah satu bentuk payung hukum dalam memperkuat pandang­an Siyâsah Dustûriyah bagi hak politik perempuan yang ingin menyampaikan pendapat.
KAIDAH-KAIDAH ISLAM MENJAWAB PERMASALAHAN SOSIAL DAN EKONOMI UMAT Neneng Hasanah; Hamzah Hamzah
Asy-Syari'ah Vol 21, No 1 (2019): Asy-Syari'ah
Publisher : Faculty of Sharia and Law, Sunan Gunung Djati Islamic State University of Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/as.v21i1.4617

Abstract

Abstract: Talking about the rules of jurisprudence on social issues, also called norms of jurisprudence on muamalah (transaction social), can not be separated from human life as social beings whose deliberations will never be completed in a short time, he needs space and time in addressing and finish it. As social beings, humans have always played an important role and dominate the issue, because he is as subject and object. So he tested must be able to provide solutions to every social problem that occurred. In muamalah jurisprudence and Islamic family law, the scope of ijtihad to be very broad and materials jurisprudence as a result of ijtihad becomes very much. While al-Quran and al-Hadith and to determine the field muamalah only sketchily which is reflected in the arguments kully (general), maqasid al-shariah, the spirit of the teachings and rules kulliyah. In this framework, humans were given the freedom sought on this earth. To prosper the life of this world, man as God's caliph must kretaif, innovative, hard work and struggle. Not fighting for life but life is a struggle to carry out the mandate of God, which is essentially for human kemashlahatan all. Thus a lot of the efforts of the jurists to give way on the problems of mankind with their ijtihad in fiqh rules about muamalah field, ranging from fundamental rules and branches.Abstrak: Berbicara tentang aturan hukum Islam pada masalah sosial, atau disebut juga dengan fiqih muamalah, tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia sebagai makhluk sosial yang tidak akan pernah selesai dalam waktu singkat, ia mem­butuh­kan ruang dan waktu dalam menyikapi dan menyelesaikannya. Sebagai makhluk sosial, manusia selalu memainkan peran penting dan mendominasi masalahnya, kare­na ia sebagai subjek dan objek pada permasalahan tersebut. Maka ia diuji sejauh mana mampu memberikan solusi pada setiap masalah sosial yang terjadi. Dalam perma­salahan sosial/muamalah dan hukum keluarga Islam, ruang lingkup ijtihad menjadi sangat luas dan materi sebagai hasil dari ijtihad menjadi sangat banyak. Sedangkan al-Quran dan al-Hadits dalam bidang muamalah tidak secara eksplisit menjelaskannya, ia hanya tercermin dalam kaidah kully (umum), maqasid al-syariah, semangat ajaran dan aturan kulliyah. Berdasar­kan kerangka itulah manusia diberi kebebasan berusaha di muka bumi ini, berusaha untuk menjadi yang terbaik. Dalam memakmurkan kehidupan alam jagat raya, manusia sebagai khalifah Allah harus kreatif, inovatif, kerja keras, dan berjuang untuk menggali potensinya sebagai wakil Allah di bumi ini. Bukan berjuang hanya sekedar untuk hidup, tetapi hidup ini adalah perjuangan untuk melaksanakan amanat Allah yang pada hakikatnya untuk kemashlahatan manusia semua. Sehingga dengan demikian, banyak sekali usaha-usaha para fuqaha (ahli hukum Islam) untuk memberikan jalan pada permasalahan umat manusia dengan ijtihad mereka dalam bidang kaidah fiqih tentang muamalah, mulai dari kaidah asasi dan cabangnya.     
PENDEKATAN MAQASHID AL-SYARI’AH DALAM PRAKTIK PEMBIAYAAN DI KOPERASI PETERNAK SAPI BANDUNG UTARA (KPSBU) LEMBANG Ade Iskandar Nasution
Asy-Syari'ah Vol 21, No 1 (2019): Asy-Syari'ah
Publisher : Faculty of Sharia and Law, Sunan Gunung Djati Islamic State University of Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/as.v21i1.4036

Abstract

Abstract: The chairman of KPSBU took a solution in Annual Member Meeting to eliminate interest on their loan product in order to reduce bad loans and complies the concept of sharia cooperation. This research analyzed whether the maqâshid syarî'ah has been applied and become a solution to their problems. With descriptive-analytic methods, this research comes to the conclusions that KPSBU Lembang has been implements the maqâshid syarî'ah with dharûrriyat, hajiyat and tahsiniyat principles. Through the maqâshid syarî'ah implementation on financing/loan products, customers receive waivers since there is no loan interest, but the customer/member payment is based on profit sharing from the milk sale. Abstrak: Ketua Koperasi Peternak Sapi Bandung Utara (KPSBU) Lembang mengambil solusi dalam Rapat Anggota Tahunan (RAT) untuk menghilangkan bunga pada produk pinjaman dengan harapan dapat menekan tingkat kredit macet, sejalan dengan konsep koperasi secara syari’ah. Penelitian ini mencoba untuk menganalisis apakah nilai-nilai maqâshid al-syarî’ah telah diterapkan dengan baik dan menjadi solusi bagi masalah yang dihadapi. Dengan metode deskriptif analitis, penelitian ini menunjukkan kesimpulan bahwa KPSBU Lembang sudah menerapkan maqâshid al-syarî’ah dalam prinsip dharrû­riyat, hajiyat dan tahsiniyat. Melalui penerapan maqâshid al-syarî’ah pada produk pem­biaya­an/ pinjaman, nasabah memperoleh keringanan. Karena tidak dikenakan bunga atas pinjaman, melainkan bagi hasil berdasarkan hasil penjualan susu dari nasabah kepada koperasi
PARTISIPASI POLITIK KAUM PEREMPUAN BERDASARKAN PANDANGAN FATIMA MERNISSI DAN YUSUF QARDHAWI Gayatri Belina Jourdy
Asy-Syari'ah Vol 21, No 1 (2019): Asy-Syari'ah
Publisher : Faculty of Sharia and Law, Sunan Gunung Djati Islamic State University of Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/as.v21i1.4547

Abstract

Abstrak: Discussions about the women involvement of in political are always becomes hot topic to discuss as long as women are still underestimated by some people. One of the most dominant works related to women as head of state is what Fatima Mernissi did in her book “The Forgotten Queens of Islam”, explains how women may becomes heads of state. In contrary, Yusuf Qardhawi argued that women may serve as head of state if only as judicial or legislative leaders, not as an executive leader. Through  descriptive-analytic-comparative method, this research tried to describe and explain Fatima Mernissi and Yusuf Al-Qardhawi's views on Women's Political Participation as Head of State, and how their argument can be applied in current life.Abstrak: Perbincangan mengenai keterlibatan perempuan dalam politik akan selalu menjadi perbincangan yang hangat selama masih ada sebagian orang yang memandang sebelah partisipasi perempuan sebagai kepala negara. Salah satu karya fenomenal yang mem­bahas tentang partisipasi perempuan sebagai kepala negara adalah  buku “Ratu-ratu Islam yang Terlupakan” karya Fatima Mernissi yang menyatakan bahwa perempuan boleh menjabat sebagai kepala negara secara mutlak. Hal yang berbeda diungkapkan oleh Yusuf Qardhawi yang menyatakan bahwa perempuan tidak memiliki partisipasi mutlak sebagai kepala negara, perempuan diperbolehkan menjabat sebagai kepala negara dengan syarat-syarat tertentu. Melalui metode deskriptif-analitik-komparatif, penulis mendeskripsikan, menjelaskan, serta membandingkan pandangan kedua tokoh tersebut  dan menganalisa bagaimana relevansi pendapat keduanya dalam kehidupan di masa kini.

Page 8 of 26 | Total Record : 259