cover
Contact Name
Moh. Nur Ichwan, M.A., Ph.D.
Contact Email
-
Phone
+62274515856
Journal Mail Official
jurnal.dakwah@uin-suka.ac.id
Editorial Address
Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Jl. Marsda Adisucipto Yogyakarta
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Dakwah: Media Komunikasi dan Dakwah
ISSN : 14115905     EISSN : 26141418     DOI : https://doi.org/10.14421/jd
Jurnal Dakwah memuat berbagai artikel yang mendiskusikan tentang dakwah, baik secara normatif maupun historis. Diterbitkan oleh Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga, dua nomor setiap tahun. Redaksi menerima tulisan tentang berbagai persoalan yang terkait dengan dakwah dalam berbagai aspeknya. Isi tulisan yang dimuat tidak harus sejalan atau pun mencerminkan pandangan redaksi.
Articles 328 Documents
PENANGANAN ANAK DALAM MASA TANGGAP DARURAT BENCANA ALAM: TINJAUAN KONVENSI HAK ANAK DAN UNDANG-UNDANG PERLINDUNGAN ANAK M. Ulil Absor
Jurnal Dakwah: Media Komunikasi dan Dakwah Vol 12, No 1 (2011)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (329.429 KB)

Abstract

Kajian tentang penanganan anak dalam masa tanggap darurat sangat jarang dilakukan. Kajian ini akan mencoba mengkaji salah satu pendekatan dalam memberikan layanan kepada anak-anak yang menjadi korban bencana alam yaitu pendekatan berbasis hak. Kajian ini akan memberikan landasan konseptual dan teoritis dalam merancang dan melaksanakan program penanganan anak. Pendekatan ini menekankan pada upaya pemenuhan hak anak melalui partisipasi dari semua pemangku kepentingan baik dari unsur pemerintah maupn non-pemerintah seperti lembaga swadaya masyarakat, perusahaan dan masyrakat.Pendekatan berbasis hak mengacu pada Konvensi PBB tentang Hak Anak dan Undang-Undang No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Berdasarkan dua perundang-undangan tersebut ada lima kluster atau kelompok hak anak yang harus dipenuhi dalam masa tanggap darurat yaitu Hak sipil dan kemerdekaan, Lingkungan keluarga dan pengasuhan alternatif, Kesehatan dan kesejahteraan dasar, Pendidikan, waktu luang dan kegiatan budaya dan Perlindungan khusus
BEREBUT LADANG DAKWAH PADA MASYARAKAT MUSLIM JAWA: (Studi Kasus terhadap Konflik Majelis Tafsir Al-Qur’an (MTA) dan Nahdlatul Ulama (NU) di Kabupaten Purworejo Indriyani Ma'rifah; Ahmad Asroni
Jurnal Dakwah: Media Komunikasi dan Dakwah Vol 14, No 2 (2013)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1590.306 KB) | DOI: 10.14421/jd.2013.14204

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menganalisis konflik antara warga Majelis Tafsir Al-Qur’an (MTA) dan Nahdlatul Ulama (NU) di berbagai daerah seperti di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Konflik ini berlangsung pada tahun 2011 dan terjadi antara lain di Kelurahan Pangenjurutengah Kabupaten Purworejo. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan dengan menggunakan pendekatan sosiologis. Pengumpulan data lapangan menggunakan metode observasi, dokumentasi, dan wawancara.Penelitian ini menghasilkan: Pertama, konflik antara warga MTA dan NU di Kabupaten Purworejo dilatarbelakangi oleh perbedaan pandangan teologis, terutama menyangkut tradisi lokal. Orang-orang MTA menganggap bahwasannya upacara-upacara keagamaan yang dilakukan orang-orang NU sebagai perbuatan bid’ah yang tidak ada tuntunannya dalam Al-Qur’an dan Hadis. Warga NU merasa keberatan dengan materi dan metode pendekatan yang dilakukan MTA dalam melakukan dakwah karena MTA tidak menghormati perbedaan fiqhiyah, cenderung melecehkan ajaran kelompok lain, provokatif, menyebarkan kebencian, dan permusuhan di kalangan umat Islam. Kedua, resolusi konflik MTA dan NU di Purworejo dilakukan melalui dialog. Dialog difasilitasi oleh Pemkab Purworejo mengundang pihak-pihak yang berkonflik, Majelis Ulama Indonesia (MUI), Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), berbagai ormas keagamaan, dan sejumlah stakeholders. Kesepakatan damai akhirnya tercapai melalui dialog. Pihak MTA meminta maaf dan berjanji akan mengevaluasi metode-metode dakwah supaya tidak provokatif, menyebarkan kebencian, dan mencela ‘amaliyah kelompok Islam lainnya.
KONSTRUKSI CITRA DIRI MUSLIM PADA MEDIA MASSA M. Arifiani M. Arifiani
Jurnal Dakwah: Media Komunikasi dan Dakwah Vol 11, No 1 (2010)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (274.916 KB) | DOI: 10.14421/jd.2010.11105

Abstract

Pemaknaan kehidupan dalam perjalanan hidup seseorang akan terus berlanjut karena kehidupan seseorang selalu dinamis dan tidak statis. Dalam keseharian kita selalu dihadapkan dengan berbagai macam tanda yang hadir dalam berbagai macam bentuk seperti gambar, simbol, maupun teks. Tanda-tanda tersebut tentu memiliki berbagai macam makna yang berbeda-beda. Media memiliki kekuatan untuk mengkonstruksi realitas yang ada di sekitarnya. Konstruksi yang dibangun tentunya memiliki kekuatan dan kelemahan. Kontruksi yang dibangun tersebut tentu saja tidak terlepas dari sudut pandang bagaimana sebuah media memandang sebuah peristiwa atau berita yang kemudian diangkat dalam sebuah tulisan. Konstruksi yang dibangun oleh media bisa berupa berita politik, ekonomi, sosial, budaya maupun agama. Berita yang dibangun tersebut kemudian diturunkan dalam sebuah laporan baik berupa berita utama, editorial, tulisan khas ( feature ) maupun gambar-gambar yang diambil untuk menguatkan konstruksi yang dibangun tersebut. Tarbawi sebagai sebuah majalah Islam yang baru, memiliki kekhasan tersendiri karena memilih isu atau wacana yang berbeda dibandingkan dengan majalah- majalah yang lain. Tarbawi mengangkat permasalahan kehidupan dari sudut pandang yang berbeda, humanisme, kemanusiaan dengan perspektif Islam. Ini menjadikan Tarbawi khas dan menjadi inspirasi bagi orang-orang yang membacanya, terlebih lagi dengan jurnalisme nurani yang diusungnya.Penelitian ini melihat bagaimana media membingkai dan mengkonstruksi sebuah realitas yang ada melalui teks yang ditampilkan majalah Tarbawi khususnya tentang bagaimana konstruksi citra diri muslim dalam majalah Tarbawi edisi 101-103.
TRADISI HAROA (Dakwah Islam Dalam Masyarakat Marginal Muslim Buton) Nurdin Nurdin
Jurnal Dakwah: Media Komunikasi dan Dakwah Vol 16, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (189.986 KB) | DOI: 10.14421/jd.2015.16106

Abstract

Artikel ini mengkaji dakwah islam yang dilakukan oleh masyarakat marginal Muslim Buton melalui tradisi haroa. Tradisi ini dilakukan mulai dari rumah-rumah warga, mesjid dan rumah pejabat. Pada tradisi ini diyakini dapat memberikan pencerahan kepada masyarakat muslim marginal Buton tentang pentingnya dakwah karena tradisi ini dilakukan pada setiap hari besar islam. Penelitian sejenis telah dilakukan oleh Mahrudin yang mengangkat judul tentang Tradisi Haroa dalam kaitannya dengan resolusi konflik. Kalau penelitian sebelumnya menjadikan tradisi haroa sebagai resolusi konflik, maka penelitian ini menjelaskan bahwa tradisi haroa dapat pula dijadikan media dakwah dalam masyarakat. Dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif dan pendekatan etnografi, hasil penelitian menunjukan bahwa tradisi ini telah melestarikan nilai-nilai Islam dari generasi kegenerasi masyarakat muslim marginal Buton berikutnya, karena sampai saat ini tradisi haroa ini masih dilakukan setiap memasuki hari-hari besar islam sehingga keberlangsungan ajaran islam beserta pemeluknya dari generasi kegenerasi berikutnya tidak terputus. Tradisi haroa dalam pemahaman masyarakat marginal buton telah memberikan manfaat yang sangat besar dalam pemahaman keagaman karena melalui acara ini orang yang tidak pernah mendengarkan ayat-ayat suci alqur'an dengan tradisi ini dapat langsung mendengarkan ayat suci al qur’an yang di bacakan oleh Imam, lebe dan Modhi. Demikian pula halnya dengan orang yang tidak pernah shalat melalui tradisi haroa masyarakat marginal buton dalam menghadiri haroa berpenampilan menarik seperti memakai kopiah, sarung dan baju muslim. Oleh karena itu, melalui tradisi haroa masyarakat muslim pesisir Buton dapat diajak untuk melestarikan nilai-nilai islam dari generasi-kegenerasi, sehingga keberlangsungan islam di Buton sampai saat ini masih terjaga dengan baik.
DAKWAH TRANSFORMATIF LEMBAGA PESANTREN DALAM MENGHADAPI TANTANGAN KONTEMPORER Ahidul Asror
Jurnal Dakwah: Media Komunikasi dan Dakwah Vol 15, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3098.093 KB) | DOI: 10.14421/jd.2014.15204

Abstract

Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan Agama Islam yang cukup tua di Indonesia. Sejak zaman penjajahan, pesantren mempunyai andil besar dalam memajukan negara Indonesia. Pada dasarnya pesantren mengajarkan ilmu agama islam yang bisa diterapkan langsung dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Seiring dengan perkembangan dunia pendidikan yang semakin kontemporer, pesantren mengalami pasang surut dalam mengembangkan dan bersaing dengan lembaga pendidikan formal. pesantren dituntut mempunyai metode dalam proses pengajarannya sebagai upaya berdakwah yang transformatif. agar jati diri pesantren dalam menegakkan Islam di tengah-tengah kehidupan sosial dengan selalu mempertimbangkan kondisi sosial dan budaya masyarakat.Oleh karena itu, pesantren harus mampu memainkan peran dalam masyarakat. Diantaranya ialah memberdayaan ekonomi masyarakat sipil yang tengah dihimpit oleh kapitalisme global, mengembangkan sikap toleran dan terbuka, melarang setiap bentuk kekerasan yang diusung ideologi Islam radikal yang berwatak keras dan eksklusif, serta memperjuangkan terwujudnya identitas gender yang penuh dengan semangat kesetaraan dan berkeadilan.
EFEKTIFITAS KOMUNIKASI DALAM DAKWAH PERSUASIF Slamet Slamet
Jurnal Dakwah: Media Komunikasi dan Dakwah Vol 10, No 2 (2009)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1528.577 KB) | DOI: 10.14421/jd.2009.10204

Abstract

Dalam proses komunikasi, keberhasilan seorang komunikator adalah ketika dia bisa menjadi orang lain secara tepat sebagaimana yang dibutuhkan untuk dapat menyampaikan pesan-pesan tertentu. Disini seorang komunikator harus bisa bermain peran, menjadi aktor. Akan tetapi dalam kegiatan dakwah, seorang da'i bukan sekedar menjadi komunikator, melainkan juga pendorong (motivator) dan contoh (teladan) dalam praktik kehidupan sehari-hari. Sebab, pesan dalam dakwah bukan sekedar data informasi; melainkan nilai-nilai keyakinan, ibadah dan moral (akhlak) yang menuntut pengamalannya dalam sepanjang rentang kehidupan individu di tengah masyarakat.
Model Dakwah Anak Berkebutuhan Khusus dengan Teknik Bimbingan Kelompok di SLB Wiyata Guna Bandung Siti Chodijah
Jurnal Dakwah: Media Komunikasi dan Dakwah Vol 19, No 2 (2018)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (536.398 KB) | DOI: 10.14421/jd.2018.19202

Abstract

Artikel ini ditulis berdasarkan penelitian yang bertujuan untuk menyusun model dakwah kepada anak berkebutuhan khusus dengan teknik bimbingan kelompok. Dakwah bagi anak berkebutuhan khusus dilandasi konsep-konsep bimbingan serta kondisi empiris di lapangan berkaitan dengan kebutuhan yang dalam hal ini sangat diperlukan oleh orang tua/keluarga/lembaga pendidikan formal ataupun non formal. Penelitian dilakukan melalui sejumlah tahapan yaitu: 1) studi pendahuluan; 2) pengembangan dan validasi rasional model; 3) validasi empirik; dan 4) revisi juga desiminasi model. Penelitian ini menunjukkan bahwa efektifitas model dakwah anak berkebutuhan khusus tergolong dalam kategori kurang efektif sehingga perlu adanya kerja sama dari semua pihak, yaitu keluarga, lingkungan, dan lembaga.
TIGA PILAR PENYANGGA EKSISTENSI DINASTI UMMAYYAH Khoiro Ummatin
Jurnal Dakwah: Media Komunikasi dan Dakwah Vol 13, No 2 (2012)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (92.726 KB) | DOI: 10.14421/jd.2012.13204

Abstract

Dinasti bani Ummayyah berlangsung lebih kurang 90 tahun telah banyak melakukan perubahan. Tulisan singkat ini akan menguraikan aspek hadirnya kebudayaan baru pada era pemerintahan bani Ummayyah dengan melihat tiga sudut pandang sebagai penyangga eksistensi kekuasaan Islam, yaitu dari sisi sistem pemerintahan, perkembangan kebudayaan dan gerakan dakwah Islam. Keberadaan khalifah ternyata tidak semua bisa dijadikan tauladan dalam pemerintahan, pengem-bangan kebudayaan dan gerakan dakwah. Ketika istana berada di tangan khalifah yang dinamis, maju jujur dan berkomitmen memajukan kebudayaan, pemerintahan dan dakwah, kondisi istna berkembang dengan baik dan mampu mencapai puncak kejayaannya.
EKSISTENSI DAN PERAN ALUMNI DALAM MENJAGA KUALITAS MUTU FAKULTAS DAKWAH A. Said Hasan Basri
Jurnal Dakwah: Media Komunikasi dan Dakwah Vol 12, No 1 (2011)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (354.299 KB)

Abstract

Alumni sebagai produk akhir yang dihasilkan perguruan tinggi keberadaannya berperan penting bagi kualitas dan eksistensi dari perguruan tinggi yang meluluskannya. Oleh sebab itu, upaya strategis dalam rangka memperhatikan keberadaan alumni ini harus dilakukan, karena selain menjadi sasaran mutu sebuah perguruan tinggi, alumni juga menjadi media evaluasi dan tolak ukur kesuksesan sebuah perguruan tinggi. Fakutas Dakwah sebagai salah satu unit dari UIN Sunan Kalijaga, hendaknya juga melakukan upaya strategis melalui penelitian pelacakan alumni, menjalin hubungan dan kerjasama dengan alumni, serta mempersiapkan calon alumni yang kompeten dan berkualitas. Ketiga langkah strategis ini dapat menjadi solusi bagi eksistensi Fakultas Dakwah sebagai penyelenggara pendidikan yang terpercaya, unggul dan terkemuka dalam pandangan stakeholder.
POLA DAKWAH PADA 'MASYARAKAT SUKU TERASING' DI KALIMANTAN SELATAN Zulfa Jamalie
Jurnal Dakwah: Media Komunikasi dan Dakwah Vol 16, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (207.379 KB) | DOI: 10.14421/jd.2015.16101

Abstract

Dakwah memiliki ruang lingkup yang luas. Karenanya, aktivitas dakwah tidak terbatas hanya pada sekelompok orang atau kawasan tertentu saja, tetapi bersifat menyeluruh. Salah satu kelompok masyarakat marginal yang patut untuk diperhatikan dakwah adalah masyarakat suku terasing yang dalam konteks lain terkadang disebut juga sebagai masyarakat daerah terpencil, masyarakat adat, atau masyarakat lokal. Diperlukan strategi atau pola dakwah yang berbasis kepada pemahaman dan karakteristik masyarakat lokal, sebab kehadiran dakwah bagi mereka diyakini tentu sangat diperlukan. Tidak hanya untuk memberikan perncerahan secara rohani (keagamaan), akan tetapi juga pemberdayaan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan hidup. Data menunjukkan bahwa di Kalimantan Selatan, sedikitnya terdapat 32.506 jiwa atau 7.724 KK (Kepala Keluarga) yang hidup terasing sehingga tahun 1990-an. Angka ini kemudian menurun pada tahun 2001, menjadi 5.724 KK. Mereka tersebar di delapan daerah, yakni Kabupaten Banjar, Tapin, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Utara, Tabalong, Tanah Laut dan Kotabaru. Keterasingan hidup masyarakat terpencil tersebut disertai dengan tiga permasalahan utama, yakni perambahan hutan, sosial budaya, dan pemilikan tanah. Di samping itu keterasingan kehidupan mereka ditandai pula oleh kondisi kesehatan yang masih rendah atau tradisional, tingkat pendidikan yang rendah, tingkat buta huruf yang masih tinggi, kurang gizi, tempat tinggal tak layak dan lingkungan yang tidak sehat, komunikasi dan kurangnya interaksi sosial dengan masyarakat yang lain, serta lemahnya tingkat pemahaman, penghayatan dan kehidupan beragama. Dalam konteks demikian, menarik untuk dipertanyakan, siapa masyarakat suku terasing dimaksud dan bagaimana pola dakwah terhadap mereka? Inilah yang hendak diuraikan dan menjadi pembahasan utama dalam tulisan ini.

Page 11 of 33 | Total Record : 328