Articles
328 Documents
EFEKTIFITAS METODE DISKUSI DAN CERAMAH DALAM MENINGKATKAN MOTIVASI BERAGAMA PADA MATA PELAJARAN PAI SISWA KELAS IX DI SMP 03 DAN SMP 07 KOTA GORONTALO
Abdul Rahmat
Jurnal Dakwah: Media Komunikasi dan Dakwah Vol 11, No 1 (2010)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (246.451 KB)
|
DOI: 10.14421/jd.2010.11104
Kecenderungan mengikuti gaya hidup yang baru, yang «trendy» dan menempatkan nilai-nilai baru dalam ukuran keberhasilan telah merusak dan menghancurkan nilai-nilai tradisional yang sebelumnya dipegang teguh dan diyakini sebagai kebenaran. Nilai yang mementingkan kebersamaan dan menumbuhkan sikap gotong royong dilibas oleh nilai individualistis. Nilai yang meletakkan unsur spiritual berganti dengan unsur materi. Sikap yang mementingkan keselarasan dalam kehidupan bersama, sebagaimana yang telah mewarnai kehidupan masyarakat Indonesia, diubah menjadi sikap yang selalu mau bersaing dan memenangkan persaingan, tak peduli apapun caranya dan siapapun yang dihadapi. Didalam pendidikan khususnya pelajaran pendidikan agama Islam ditekankan bahwa kita harus menegakan agama yaitu agama Islam secara keseluruhan didalam kehidupan sehari-hari. Dengan adanya pelajaran Pendidikan Agama Islam ini diharapkan kita lebih meningkatkan motivasi beragama.Berdasarkan latar belakang di atas penulis tertarik untuk meneliti tentang efektifitas metode diskusi dan metode ceramah dalam meningkatkan motivasi beragama pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Siswa Kelas IX di SMP 03 dan 07 Kota Gorontalo.Tujuan penelitian ini adalah efektifitas metode diskusi dan metode ceramah dalam meningkatkan motivasi beragama pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Siswa Kelas IX di SMP 03 dan 07 Kota Gorontalo
INTERNALISASI NILAI ISLAM MELALUI KEBIJAKAN PUBLIK (Studi terhadap Dakwah Struktural Program Bandung Agamis)
Tata Sukayat
Jurnal Dakwah: Media Komunikasi dan Dakwah Vol 16, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (263.757 KB)
|
DOI: 10.14421/jd.2015.16105
Dakwah Struktural melalui Program Bandung Agamis mencerminkan bahwa internalisasi dan transformasi nilai-nilai agama bisa dilakukan oleh pemerintah pada wilayah publik tanpa labelisasi shari’at Islam secara formal seperti pendapat kelompok integralis, dan tidak juga memisahkan agama dengan negara seperti pendapat kalangan sekularis. Hal itu memperkuat pendapat paradigma simbiotik dalam relasi agama dan negara, seperti diungkapkan hasil kajian sebelumnya yaitu: al-Mawardi dalam al-Ahkâm al-Sultâniyah wa al-Wilâyah al-Dîniyah; al-Ghazali dalam al-Tibr al-Masbûk fî-al-Nasîhat al-Mulûk, Kimiyât al-Sa’âdah, dan al-Iqtis}âd fî al-‘Itiqâd; Fazlurrahman, dalam The Islamic Concept State dan Islam and Modernity; dll. Juga membuktikan lemahnya pendapat:1). Kalangan sekularistik yang menyatakan bahwa agama tidak memiliki hubungan dengan Negara; dan 2). Kalangan integralistik yang menyatakan bahwa agama dan negara harus menyatu.Penelitian ini sejalan dengan pendapat Fazlurrahman, dalam Islam and Modernity, bahwa yang terpenting adalah terwujudnya masyarakat muslim bukan negara Islam dan Munawir Sadjali dalam Islam dan Tata Negara, bahwa paradigma simbiotik merupakan alternatif yang kompromis antara integralistik dengan sekularistik, serta hasil penelitian Jose Casanova dalam Public Religions in the Modem World, bahwa agama secara empirik dihubungkan dengan berbagai persoalan sosial-kemasyarakatan. Pendekatan penelitian ini adalah menganalisis Kebijakan Program Bandung Agamis (pada periode 2003 sampai 2010) yang sekaligus dijadikan sebagai data primer.
MENGEMBANGKAN PRIBADI YANG TANGGUH MELALUI PENGEMBANGAN KETERAMPILAN RESILIENCE
Ros Mayasari
Jurnal Dakwah: Media Komunikasi dan Dakwah Vol 15, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (3495.385 KB)
|
DOI: 10.14421/jd.2014.15203
Menjalani kehidupan adalah sesuatu yang harus dijalani setiap makhluk ciptaan Allah SWT. Perkembangan zaman yang semakin modern menjadikan hidup semakin kompleks dan penuh tantangan, diperlukan pribadi ketangguhan, kepribadian tahan banting agar dalam menghadapi berbagai tantangan, kesulitan hidup baik sebagai pribadi maupun kelompok tangguh dalam istilah agama, merupakan pribadi yang senantiasa bersyukur atas segala apapun yang diberikan Allah SWT kepadanya apakah itu nikmat atau ujian. Untuk menjadi pribadi yang tangguh adalah tidak mudah, maka diperlukan latihan agar keterampilan pribadi yang tangguh dapat terasah sehingga apapun keadaannya dapat berprasangka baik kepada Allah SWT. Keterampilan resilience akan terlatih dengan interaksi individu dengan lingkungan, semakin individu berhasil mengatasi krisis yang dihadapi maka akan semakin meningkatkan potensi individu dalam rangka menghadapi tahapan perkembangan berikutnya. Hal itu pula yang akan menjadikan mental dan jiwa seseorang akan selalu hidup dan mempunyai energi positif yang terpancarkan. Selalu optimis dalam menhghadapi segala masalah kehidupan yang menerpa.
KEHIDUPAN BERAGAMA NARAPIDANA DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN WIROGUNAN YOGYAKARTA
Abdullah Abdullah
Jurnal Dakwah: Media Komunikasi dan Dakwah Vol 10, No 2 (2009)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (4472.27 KB)
|
DOI: 10.14421/jd.2009.10203
Rumah tahanan selain sebagai tempat penahanan sementara juga sebagai tempat rehabilitasi dan resosialisasi. Oleh karena itu perlu diketahui masalah-masalah apa saja yang terjadi antar sesama narapidana dalam berintegrasi sosial satu sama lainnya, dan sistem nilai budaya napi dalam hal ini meliputi pemahaman agama. Untuk itu, penulis tertarik untuk mengadakan penelitian terhadap warga narapidana yang sedang menjalankan hukuman di LP Wirogunan Yogyakarta pada tahun 1999.
Rekonstruksi Dakwahtainment Sebagai Media Dakwah
Nur Ahmad
Jurnal Dakwah: Media Komunikasi dan Dakwah Vol 19, No 2 (2018)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (576.549 KB)
|
DOI: 10.14421/jd.2018.19201
Salah satu fenomena yang sangat marak di media massa saat ini adalah program-program dakwahtainment; program yang menggabungkan tuntunan dan tontonan. Sebagian besar masyarakat Indonesia telah sangat akrab dengan beberapa tema acara pengajian yang banyak dijumpai di beberapa stasiun televisi yang mengusung beragam tema bernuansa agama dalam bingkai dakwah ini. Tujuan dakwah yang religius ternyata dalam realisasinya dominan dengan muatan materialistis semata yang berdampak pada kemunduran dakwah itu sendiri. Sebagai media dakwah, dakwahtainment justru banyak mengikis moral masyarakat karena minimnya tauladan yang diperankan oleh individu yang terlibat di dalamnya serta tidak tersampaikannya esensi materi dakwah yang ingin disampaikan. Metode dakwah dengan entertainment ini juga sering mengundang persepsi masyarakat yang tanpa disadari mengkerdilkan nilai-nilai agama Islam. Kondisi yang demikian jika berlangsung terlalu lama akan berdampak pada nihilisasi peran masyarakat sebagi mad’u yang pada kenyataannya hanya berperan sebagai penonton pada acara hiburan dan tidak menampakkan indikasi keberhasilan misi religius dari acara dakwahtainment. Hal tersebut dipengaruhi oleh banyak faktor yang bersifat materialistis dan kapitalis sebagai bagian dari bisnis media. Dakwahtainment hanya memberi banyak keuntungan finansial yang diraup oleh pihak manajemen dari stasiun televisi belaka. Sebuah ironi ketika agama memuat ajaran-ajaran yang berlawanan dengan nilai kapitalisme, tetapi justru agama dijadikan alat mencapai tujuan kapitalistis.
PONDOK PESANTREN DAN PENGEMBANGAN POTENSI DAKWAH
H.M. Kholili H.M. Kholili
Jurnal Dakwah: Media Komunikasi dan Dakwah Vol 13, No 2 (2012)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (112.474 KB)
|
DOI: 10.14421/jd.2012.13203
Pesantren adalah pusat keteladanan dari seorang kyai kepada santrinya yang saling berinteraksi 24 jam. Di pesantren juga dikembangkan perasaan kebersamaan, yang meliputi sikap tolong-menolong, kesetiakawanan, dan persaudaraan sesama santri. Dari sisi pembinaan karakter individual, pesantren mengajarkan sikap hemat dan hidup sederhana yang jauh dari sifat konsumtif masyarakat perkotaan. Dengan demikian, pesantren sebagai institusi pendidikan milik masyarakat, sangat potensial untuk dkembangkan menjadi pusat pengembangan sumber daya manusia (SDM) menuju terwujudnya kecerdasan dan kesejahteraan bangsa. Cukup banyak dakwah yang bias dilakukan melalui pesantren, tidak hanya baik dakwah yang menyampaikan ajaran Islam, tetapi juga maupun dakwah tentang kehidupan dan pembangunan ummat. Tulisan ini mengupas tentang hal tersebut.
BAHASA DAKWAH UNTUK KALANGAN REMAJA TERPELAJAR
Nurbini Nurbini
Jurnal Dakwah: Media Komunikasi dan Dakwah Vol 12, No 1 (2011)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (344.073 KB)
Gambaran pandangan hidup sebagian remaja di jaman sekarang sangat memprihatinkan, untuk itu penanganannya harus dilakukan secara lebih professional. Situasi yang mereka hadapi saat ini memang jauh lebih sulit dan rumit d aripada situasi pada masa-masa dahulu. Kalau dahulu komunikasi kebanyakan remaja itu hampir seluruhnya dijalani lewat tatap muka, kini semakin banyak remaja yang berkomunikasi lewat media, lebih-lebih di kalangan remaja terpelajar di masyarakat modern sekarang ini. Bila dulu informasi yang mereka terima berasal dari orang-orang yang memiliki kedekatan jarak dan emosional dengan mereka, seperti keluarga, family, guru dan teman sekolah serta tetangga, sekarang semakin banyak remaja yang menerima aliran informasi dari orang-orang yang kurang bahkan tidak ada kedekatan jarak dan emosional dengan mereka, baik melalui media cetak, audio visual atau internet .
HUBUNGAN ISLAM DAN POLITIK MASA ORDE BARU
Okrisal Eka Putra
Jurnal Dakwah: Media Komunikasi dan Dakwah Vol 9, No 2 (2008)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (3791.993 KB)
Perkembangan krisis yang terjadi pada penghujung Orde lama dan akibat yang ditimbulkannya, yaitu berupa kelahiran era Orde Baru . Kita juga harus melihat respon umat Islam ketika melihat kejatuhan Orde Lama dan kelahiran sebuah orde yang sangat dinantikan oleh umat Islam, khususnya dalam kaitannya dengan kehidupan bernegara atau politik. Di era Orde Baru nanti akan dilihat dinamika umat Islam ketika berhadapan dengan sebuah negara yang baru lahir. Tentu saja banyak harapan dan impian yang selama ini tersekat oleh beberapa faktor yang ada, tak terkecuali dari pihak umat Islam sendiri. Bab ini diharapkan nanti memberikan gambaran tentang respon politik umat Islam terhadap gerakan Orde Baru di Indonesia.
TANTANGAN PROFESI PENYULUH AGAMA ISLAM DAN PEMBERDAYAANNYA
Abdul Basit
Jurnal Dakwah: Media Komunikasi dan Dakwah Vol 15, No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (2894.521 KB)
|
DOI: 10.14421/jd.2014.15108
Penyuluh Agama Islam merupakan profesi yang menjadi ujung tombak dalam syiar Agama Islam baik itu fungsional maupun honorer atau bahkan sukarelawan. Persolaan yang dihadapi pun semakin kompleks dengan berkembangan zaman yang serba digital (modern). Untuk menjawab persoalan-persoalan tersebut, maka penulis menempatkan epistemologi profesi penyuluh agama Islam sebagai landasan berpikir dan memetakan tantangan yang dihadapi oleh penyuluh agama Islam. Melalui proses pemetaan akan tergambar secara jelas tantangan apa saja yang dihadapi oleh penyuluh agama Islam di Indonesia. Diantaranya adalah munculnya gerakan Islam liberal dan fundamental, dimana kehadirannya justru membenturkan masyarakat satu dengan masyarakat yang lain. Oleh karena itu, adanya profesi Penyuluh Agama Islam sebagai kepanjangan pemerintah melalui Kementerian Agama diharapkan mampu menjadi penangkal gerakan yang memecah belah masyarakat khususnya dan Bangsa Indonesia umumnya.
DAKWAH STRUKTURAL: Studi Kasus Perjanjian Hudaibiyah
Siti Fatimah
Jurnal Dakwah: Media Komunikasi dan Dakwah Vol 10, No 1 (2009)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (7620.828 KB)
Dalam kegiatan dakwah Rasulullah, muncul strategi dengan pendekatan struktural, ketika Rasulullah mengirimkan pesan dakwahnya kepada raja-raja dan penguasa negara melalui para delegasi. Para raja dan penguasa tersebut dapat diharapkan masuk Islam sehingga pengikutnya juga mengikuti jejak dan agama sang penguasa. Pada pembahasan makalah ini difokuskan pada analisis tentang dakwah yang dijalankan Rasulullaih dengan pendekatan struktural yang terefleksi dalam perjanjian Hudaibiyah.