cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Kelautan Tropis
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 14108852     EISSN : 25283111     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 451 Documents
Diversitas dan Distribusi Alga Merah (Rhodophyta) di Perairan Pulau Ternate Ardan Samman; M. Janib Achmad
Jurnal Kelautan Tropis Vol 26, No 1 (2023): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jekk.v%vi%i.13342

Abstract

Red algae (Rhodophyta) are low-level plants that generally grow attached to certain substrates such as coral, mud, sand, rocks and other massive objects. This type of algae take nutrients from the substrate by diffusion through the walls from its thallus. This alga prefers habitat of clear waters that have substrate base of coral, dead coral, volcanic rocks or massive objects. Red algae can be found in intertidal, subtidal to coastal areas with strong waves and currents as well as in mangrove area. This study aims to determine the diversity and distribution patterns and associations of red algae in seagrass ecosystems and coastal coral reefs of Ternate Island. The method used in this study is a descriptive method with sampling by line-transect quadrat (1x1 meter). The sampling locations were divided into three stations. Data were analyzed descriptively and the number of red algae (Rhodophyta) found at each station was included in a distribution map based on depth and density index. The results showed that the total number of individuals found at the three stations was 33, where ST II dominated with 12 with an average of 3 individuals per depth. Distribution of individuals per depth at ST II was highest at a depth of 10 m with 4 individuals, followed by a depth of 5 and 15 m each with 3 individuals, a depth of 25 m was 1 individual, and no individual was found at 20 m depth. Substrate type at a depth of 10 m was dominated by coral and sandy fractures that could support well the growth and development of red algae.  Alga merah (Rhodophyta) merupakan tumbuhan tingkat rendah yang umumnya tumbuh melekat pada substrat tertentu seperti pada karang, lumpur, pasir, batu dan benda keras lainnya. Salah satu alga yang penting untuk diteliti adalah alga merah (Rhodophyta). Jenis alga ini mengambil nutrisi dari substrat secara difusi melalui dinding thallus-nya sedangkan habitatnya adalah perairan jernih yang mempunyai substrat dasar batu karang, batuan vulkanik dan benda-benda yang bersifat massive yang berada di dasar perairan. Alga merah dapat ditemukan pada daerah intertidal, subtidal sampai daerah tubir dengan ombak besar dan arus deras serta di hutan mangrove. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui diversitas dan pola sebaran serta asosiasi alga merah pada ekosistem lamun dan terumbu karang pesisir Pulau Ternate. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pengambilan sampel secara line transek kuadrat (1x1 meter). Lokasi pengambilan sampel dibedakan menjadi tiga stasiun. Data dianalisis secara deskriptif dan jumlah alga merah (Rhodophyta) yang ditemukan pada setiap stasiun di tuangkan dalam peta distribusi berdasarkan data kedalaman serta indeks kepadatannya.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa total individu yang ditemukan pada ketiga stasiun adalah sebanyak 33, dimana pada ST II mendominasi dengan jumlah 12 dengan rata-rata perkedalaman adalah 3 individu. Sebaran individu perkedalaman ST II terbanyak pada kedalaman 10 m sebanyak 4 individu, diikuti kedalaman 5 dan 15 m masing-masing adalah 3 individu, kedalaman 25 m sebanyak 1 individu, sedangkan pada kedalaman 20 m tidak ditemukan. Tipe pada kedalam 10 m didominasi oleh patahan karang dan berpasir dimana pada kondisi substrat tersebut dapat mendukung pertumbuhan dan perkembangan alga merah. 
Chloroform Fraction from Methanol Extract of Starfish Acanthaster planci Stimulates Catfish (Clarias sp.) Macrophage Immunomodulatory Activity Janib Achmad; Ervia Yudiati; Nuril Azhar; Rabia Alghazeer
Jurnal Kelautan Tropis Vol 26, No 1 (2023): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v26i1.16481

Abstract

Catfish (Clarias sp.) is Indonesia's most important and popular freshwater commodity, widely cultured and intensively grown. This study is aimed to find out the effects of the chloroform fraction from a methanol extract of Acanthaster planci on non-specific immunity in Clarias sp. Thin Layer Chromatography analysis of the methanol extract's chloroform fraction yielded three fractions: FrKl3.1, FrKl3.2, and FrKl3.3. The FrKl3.3 fraction of Acanthaster planci had a significant influence on Phagocytic Activity at doses of 0.1 (54.09 ± 8.99 %), 0.3 (48.16 ± 3.34 %), 0.5 (50.39 ± 5.71 %), and 0.7 mg/kg Body Weight (46.58 ± 0.37 %). At 0.5 mg/kg Body Weight (4.03 ± 1.40 %), the Phagocytic Index of FrKl3.2 was significantly higher than the control. At 0.5 mg/kg Body Weight (38.22 ±1.43 cell 106/ml) and 0.7 mg/kg BW (40.41 ± 1.92 cell 106/ml), the number of leukocytes/white blood cells was significantly higher than the control. Nitroblue Tetrazolium and Total Plasma Protein were not significantly different from the control. Based on the results,  the FrKl3.3 was leading on phagocytic capacity and number of leukocytes 
Geokimia dan Asesmen Pencemaran Logam Berat Cd, Cu dan Zn pada Sedimen Permukaan Estuari Baturusa, Bangka Mohammad Agung Nugraha; Irma Akhrianti; Fika Dewi Pratiwi; Agung Priyambada
Jurnal Kelautan Tropis Vol 26, No 1 (2023): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v26i1.16467

Abstract

 The Baturusa estuary receives inputs of organic and inorganic materials from several human activities along the river. The characteristics of heavy metals such as toxicity, resistance to decomposition, and ability to accumulate in aquatic biota can indirectly have a negative impact on the health of humans who consume marine biota. The research was conducted with the aim of studying the geochemical characteristics and assessing the level of heavy metal contamination of Cd, Cu and Zn in the sediments of the Baturusa Estuary. Heavy metal fractionation was analyzed by sequential extraction. The CF value of Cu and Zn metals shows a low level of contamination, while Cd shows a moderate level of contamination. I-Geo metal Cd is in the unpolluted to moderately polluted status, while Cu and Zn are not polluted. The PLI value indicates the unpolluted category. Geochemical fractionation of heavy metals Cd, Cu and Zn Baturusa Estuary is characterized by the presence of exchangeable, carbonate, reducible, oxidizable and residual fractions. Cu and Zn mainly tend to be stored/bound to the residual fraction (mainly derived from natural sources) while Cd is more bound to the non-residual fraction (mainly derived from human/anthropogenic activities). The risk evaluation of Cd metal is very high to high risk/hazard, while Cu and Zn are not at risk/hazardous to low. These conditions indicate that Cd metal may be harmful to the environment and has a higher mobility than other metals so that it has a higher risk of being available in the body of biota.  Estuari Baturusa menerima masukan bahan organik dan anorganik dari beberapa aktivitas manusia disepanjang sungai. Karakteristik logam berat seperti toksisitas, resisten terhadap dekomposisi, dan kemampuan akumulasi terhadap biota akuatik serta secara tidak langsung dapat berdampak negatif terhadap kesehatan manusia yang mengkonsumsi biota laut. Penelitian dilakukan dengan tujuan untuk mengkaji karakteristik geokimia dan menilai tingkat kontaminasi logam berat Cd, Cu, dan Zn pada sedimen Estuari Baturusa, Bangka. Fraksinasi logam berat dianalisis dengan ekstraksi bertahap. Nilai CF logam Cu dan Zn menunjukkan tingkat kontaminasi rendah (CF<1), sedangkan Cd menunjukkan tingkat kontaminasi sedang (1≤CF<3). I-Geo logam Cd berada pada status tidak tercemar hingga tercemar sedang (0<Igeo<1), sedangkan Cu dan Zn memiliki status tidak tercemar (Igeo 0). Nilai PLI menunjukkan kategori tidak tercemar (PLI<1). Fraksinasi geokimia logam berat Cd, Cu dan Zn Estuari Baturusa dicirikan dengan adanya fraksi exchangeable, karbonat, reducible, fraksi oxidizable, dan residual. Logam Cu dan Zn utamanya cenderung tersimpan/ terikat pada fraksi residual (utamanya berasal dari sumber alami) sedangkan Cd lebih terikat pada fraksi non residual atau non resisten (utamanya berasal dari aktivitas manusia/ antropogenik). Evaluasi resiko dari logam Cd yaitu resiko/ bahaya sangat tinggi hingga tinggi, sedangkan Cu dan Zn tidak beresiko/ berbahaya hingga rendah. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa logam Cd kemungkinan berbahaya bagi lingkungan serta memiliki mobilitas lebih tinggi daripada logam lain sehingga beresiko lebih tinggi tersedia dalam tubuh biota.
Konsentrasi Logam Berat Timbal (Pb) dan Tembaga (Cu) pada Hasil Tangkapan Nelayan Pesisir Semarang dan Tegal Jawa Tengah Chrisna Adhi Suryono; Agus Indardjo
Jurnal Kelautan Tropis Vol 26, No 1 (2023): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v26i1.17321

Abstract

Coastal areas of Semarang and Tegal are the fishing ground area of traditional fishermen. But with the increasing activity in coastal and marine areas it will increase heavy metal contaminants in these waters which are allegedly contaminating existing biota. Heavy metals are pollutants that can accumulate in marine life. This study aims to know the concentration of lead metals (Pb) and copper (Cu) on the catch of the coastal fishermen of Semarang and Tegal, Central Java. Analysis of Pb and Cu concentration in tissue organisms using ICPMS. The results of the analysis showed that Pb and Cu metals were found in biota such as white shrimp (P. merguensis), crab (P. pelagicus), coocle (A. inaequivalvalvis) and gastropods (H. ternatanus). The highest concentration of Pb in the four biota captured in Semarang (4.48-5.76 ppm) and Tegal (0.53-3,055 ppm). Whereas the highest Cu metal in the biota argued in the Tegal waters (0.16 - 0.197ppm) while in Semarang (0.03-0.177 ppm) Semarang. The highest concentration of Pb (3,055-5.58 ppm) is found in gastropods both in Semarang and Tegal.  Thus, the metal Cu (0.177-0.197 ppm) in gastropods from Tegal and Semarang. Gastropods accumulate the highest Pb and Cu metal in the two regions of the fishing ground.  Pesisir Semarang dan Tegal merupakan daerah fishing ground nelayan tradisional.  Namun dengan semakin meningkatnya aktifitas di wilayah pesisir dan laut tersebut akan meningkatkan kontaminan logam berat di perairan tersebut yang diduga akan mengkontaminasi biota yang ada.  Logam berat merupakan polutan yang dapat terakumulasi dalam biota laut.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi logam Timbal (Pb) dan Tembaga (Cu) pada Hasil Tangkapan Nelayan Pesisir Semarang dan Tegal Jawa Tengah.  Analisa konsentrasi Pb dan Cu dalam jaringan organisme menguunakan ICPMS.  Hasil analisa menunjukkan logam Pb dan Cu ditemukan dalam biota seperti udang putih (P. Merguensis), rajungan (P. pelagicus), kerang bulu (A. inaequivalvis) dan gastropoda (H. ternatanus).  Konsentrasi tertinggi Pb di keempat biota yang ditangkap di Semarang (4,48–5,76 ppm) dan Tegal (0,53– 3,055 ppm).  Sedangkan logam Cu tertinggi pada biota yang ditangkap di perairan Tegal (0.16– 0.197ppm) sedangkan di Semarang (0.03–0.177 ppm) Semarang.  Konsentrasi tertinggi Pb (3,055–5,58 ppm) terdapat dalam gastropoda baik di Semarang maupun Tegal.  Demikian logam Cu tertingggi (0,177 - 0,197 ppm) pada gastropoda dari Tegal dan Semarang.  Gastropoda mengakumulasi logam Pb dan Cu tertinggi di kedua daerah fishing ground tersebut.
Komparasi Deversitas Moluska Musim Hujan dan Kemarau Di Kawasan Mangrove Luppung, Kabupaten Bulukumba Magdalena Litaay; Like Ayu Sutrisnu; Andi Rahmawati; Nurul Istiqamah; Aryuni Utariningsih; Ayub Wirabuana Putra
Jurnal Kelautan Tropis Vol 26, No 1 (2023): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v26i1.16399

Abstract

This study aims to determine the diversity of molluscs (bivalves and gastropods) in two seasons in the mangrove ecosystem in Luppung, Ujung Loe District, Bulukumba Regency. Data collection usied random plot size I x m2, which applied at six stations determined by Purposive Sampling Method. Species Identification based on morphological characteristics and some other identification references. Data analysis including diversity, uniformity and dominance. The degree of similarity amongst station was analysed using Clustering by the Bray-Curtis method. Data analysis used the PAST 4.03. In this studi, 37 species of molluscs, consisting of the bivalve class (19 species) and the gastropod class (17 species) were identified. Bivalve Tellina (Quidnipagus) palate (Iredale, 1929) and GastropodsNassarius (Plicarcularia) leptospirus (A. Adams, 1852) were found at all six research stations. SpeciesCorbicula japonica (Prime, 1864). Uncertain Nerita (from the bush, 1844), Oualaniense Clithon (Lesson, 1831), Episcomitra cornicula (Linnaeus, 1758), Rough coastlines (Linnaeus, 1758), Pugilina cochlidium (Linnaeus, 1758), Melanoides punctata (Lamarck, 1822), Polinices mammilla (Linnaeus, 1758),and Rhinoclavis aspera (Linnaeus, 1758) found only in one station. The frequency of appearance of this type of mollusk shows the distribution of this type in the study location. The highest diversity Bivalvia is found at station 1 during the dry season and station 2 during the rainy season. The highest Gastropod diversity values were found at station 3 during the dry season and station 1 during the rainy season. Diversity of Bivalvia and Gastropods is higher in the dry season. There is no similarity in the structure of the gastropod community between the dry and rainy seasons. There is little similarity in bivalve community structure between the dry and rainy seasons.   Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman moluska (bivalvia dan gastropoda) pada dua musim di ekosistem mangrove di Dusun Luppung Kecamatan Ujung Loe Kabupaten Bulukumba. Pengambilan data menggunakan metode plot acak dan stasiun ditentukan dengan Purposive Sampling Method. Enam plot berukuran 1 x 1 m2 diaplikasi pada enam stasiun. Identifikasi species berdasarkan karakteristik morfologi dan disesuaikan dengan referensi identifikasi. Analisis data meliputi keanekaragaman, keseragaman, dan dominansi. Tingkat kesamaan (similaritas) antar stasiun menggunakan analisis Clustering metode Bray-curtis, Analisis data menggunakan Aplikasi PAST 4.03. Pada studi ini, Teridentifikasi 37 species (jenis) moluska, terdiri dari dua klas bivalvia (19 species) dan Gastropoda (17 species). Bivalvia jenis Tellina (Quidnipagus) palatam (Iredale, 1929) dan Gastropoda jenis Nassarius (Plicarcularia) leptospirus (A. Adams, 1852) dijumpai pada semua stasiun penelitian. Species Corbicula japonica (Prime, 1864). Nerita incerta (von dem Busch, 1844), Clithon oualaniense (Lesson, 1831), Episcomitra cornicula (Linnaeus, 1758), Littoraria scabra (Linnaeus, 1758), Pugilina cochlidium (Linnaeus, 1758), Melanoides punctata (Lamarck, 1822), Polinices mammilla (Linnaeus, 1758), dan Rhinoclavis aspera (Linnaeus, 1758) hanya di temukan di salah satu stasiun penelitian. Frekuensi pemunculan jenis moluska menunjukan sebaran jenis tersebut di lokasi penelitian. Nilai keanekaragaman tertinggi Bivalvia terdapat di stasiun 1 pada musim Kemarau dan stasiun 2 pada musim Hujan. Nilai keanekaragaman tertinggi Gastropoda terdapat di stasiun 3 pada musim Kemarau dan stasiun 1 pada musim Hujan. Keanekaragaman Moluska (Bivalvia dana Gastropoda) lebih tinggi pada musim Kemarau. Tidak terdapat kesamaan struktur komunitas gastropoda antara musim kemarau dan hujan. Terdapat sedikit kesamaan struktur komunitas bivalvia antara musim kemarau dan hujan.
Peningkatan Kadar Fenolik Total dari Chlorella sp. Menggunakan Cekaman Radiasi Ultraviolet-B Sri Sedjati; Endang Supriyantini; Sri Yulina Wulandari; Nur Islamiah Sulastri
Jurnal Kelautan Tropis Vol 26, No 1 (2023): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v26i1.15559

Abstract

 The treatment of abiotic stressing in microalgae cultures can trigger the production of secondary metabolites that have a variety of bioactivity. Phenolic compounds are one of the secondary metabolites produced by Chlorella sp. and have been categorized as an important  antioxidants that play a role in the scavenging of free radicals.  This research uses ultraviolet (UV)-B (λ 280-320 nm) as a stressing in Chlorella sp. cultures.  The aim is to determine the effect of UV-B radiation on the biomass production of Chlorella sp. and total phenolic content (TPC), as well as its antioxidant activity.  The research method used is experimental with a completely randomized design (RAL).  The treatment tested was UV-B radiation with different duration of 0 (control), 40, 80, and 120 minutes/day during the culture period. Chlorella sp. culture is carried out using 12 glass containers with seawater (salinity 35 ppt) as culture media and enriched by Walne fertilizer (1 mL/L).  During the culture period, photosynthetically active radiation (PAR) light and aeration are carried out for 24 hours.  Biomass of Chlorella sp. was harvested 1 day after the peak of growth, then determined the weight of biomass and ethanol extract, followed by TPC, and antioxidant activity. The TPC test was carried out using the Follin-Ciocalteu reagent, while antioxidant activity used an inhibition test against 2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl (DPPH).  The results showed that UV-B radiation  had no significant effect on the biomass (p=0.122) and its ethanol extract yield (p=0.194), but had a significant effect on TPC (p=0.003) and DPPH inhibition percentage (p=0.036).  The UV-B radiation for 80 minutes/day for 10 days of the Chlorella sp. culture can be used to increase phenolic production with a TPC value of 4.906 mg GAE/g extract.  Pemberian cekaman abiotik pada kultur mikrolga dapat memicu produksi metabolit sekunder yang memiliki beragam bioaktivitas.  Senyawa fenolik adalah salah satu metabolit sekunder yang diproduksi oleh Chlorella sp. dan telah dikatagorikan sebagai antioksidan penting yang berperan dalam penangkalan radikal bebas.  Penelitian ini menggunakan cahaya ultraviolet (UV)-B (λ 280-320 nm) sebagai cekaman dalam kultur Chlorella sp.  Tujuannya adalah untuk menentukan pengaruh radiasi UV-B terhadap produksi biomassa Chlorella sp. dan kadar fenolik total/ total phenolic content (TPC), serta aktivitas antioksidannya.  Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental dengan desain rancangan acak lengkap (RAL).  Perlakuan yang diujicobakan adalah pemberian radiasi UV-B dengan durasi yang berbeda, yaitu 0 (kontrol), 40, 80, dan 120 menit/hari selama masa kultur. Kultur Chlorella sp. dilakukan menggunakan 12 wadah kaca dengan media kultur berupa air laut (salinitas 35 ppt) dan ditambahkan pupuk Walne (1 mL/L).  Selama masa kultur, pemberian cahaya photosynthetically active radiation (PAR) dan aerasi dilakukan selama 24 jam.  Biomassa Chlorella sp. dipanen 1 hari setelah tercapai puncak pertumbuhan, kemudian ditentukan berat biomassa dan ekstrak etanolnya, dilanjutkan uji TPC, dan aktivitas antioksidannya. Uji TPC dilakukan menggunakan reagen Folin-Ciocalteu, sedangkan aktivitas antioksidan menggunakan uji inhibisi terhadap 2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl (DPPH). Hasil penelitian menunjukkan bahwa radiasi UV-B tidak berpengaruh signifikan terhadap biomassa Chlorella sp. (p=0,122) dan rendemen ekstrak etanolnya (p=0,194), namun berpengaruh signifikan terhadap TPC (p=0,003) dan persentase inhibisi DPPH (p=0,036).  Pemberian radiasi UV-B selama 80 menit/hari selama 10 hari masa kultur Chlorella sp. dapat digunakan untuk meningkatkan produksi fenolik dengan nilai TPC sebesar 4,906 mg GAE/g ekstrak. 
Sebaran Material Padatan Tersuspensi Berdasarkan Data Citra Sentinel-2 di Perairan Tanjung Jati, Jepara Dhany Ajiperwata; Elis Indrayanti; Baskoro Rochaddi
Jurnal Kelautan Tropis Vol 26, No 2 (2023): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v26i2.18468

Abstract

Tanjung Jati waters are located around the Tanjung Jati Coal Fired Power Plant, Jepara. Burning coal as a fuel for power plant produces fly and bottom ash, which can affect the concentration of total suspended solid (TSS). This study aims to determine the distribution of TSS based on Sentinel-2 level 2A imagery data of Tanjung Jati waters, Jepara. TSS data from field survey, TSS, and Reflectance Remote Sensing (RRS) data from the Copernicus Sentinel site on 25 October 2021 with a resolution of 10 m were used in this study. Processing data using the algorithm of Lemigas, Budhiman, Parwati, Laili, and developing a new algorithm with a regression function method to estimate TSS concentration. The distribution pattern of TSS in Tanjung Jati Waters, Jepara has a high concentration in areas near land and decreases towards the open sea. The Root Mean Square Error (RMSE) value is 2.704 mg/l, it can be concluded that the proposed algorithm is suitable for describing the distribution of TSS concentrations in Tanjung Jati waters, Jepara. Observation of the distribution of TSS can be used for further analysis to determine sedimentation patterns and water quality.  Perairan Tanjung Jati merupakan perairan yang berada di sekitar area PLTU Tanjung Jati, Jepara. Batu bara sebagai bahan bakar untuk kebutuhan PLTU menghasilkan fly dan bottom ash yang dapat mempengaruhi konsentrasi material padatan tersuspensi (MPT) di perairan sekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sebaran MPT di Perairan Tanjung Jati, Jepara berdasarkan data citra Sentinel-2 Level 2A. Data yang digunakan dalam penelitian meliputi data MPT hasil pengukuran lapangan, data MPT dan Reflectance Remote Sensing (RRS) dari situs sentinel copernicus tanggal 25 Oktober 2021, dengan resolusi 10 m. Pengolahan data menggunakan algoritma Lemigas, Budhiman, Parwati, Laili, dan pengembangan algoritma baru dengan metode regresi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola sebaran MPT di Perairan Tanjung Jati, Jepara memiliki konsentrasi tinggi pada daerah dekat daratan dan semakin berkurang menuju laut lepas. Nilai RMSE sebesar 2,704 mg/l, hal ini menunjukkan bahwa formula algoritma usulan yang diperoleh sesuai untuk menggambarkan sebaran konsentrasi MPT di perairan Tanjung Jati, Jepara. Hasil sebaran MPT ini dapat digunakan dalam analisa lebih lanjut untuk mengetahui pola sedimentasi dan penilaian kualitas air.
Kebiasaan Makanan Beberapa Jenis Ikan di Ekosistem Mangrove Lubuk Kertang, Sumatera Utara Ananingtyas S Darmarini; Desrita Desrita; Onrizal Onrizal
Jurnal Kelautan Tropis Vol 26, No 2 (2023): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v26i2.16143

Abstract

Mangrove ecosystems are very important for coastal waters, one of which is as a provider of food sources for biota in the surrounding waters. This study aims to determine the food habits of several types of fish found in the waters around the Lubuk Kertang mangrove ecosystem, Langkat, North Sumatra. The research location is a mangrove restoration area with the main species Rhizopora apiculata. The research was conducted in January 2021. The collection of fish samples was carried out using gill net with 1.5 inchi which is commonly used by fishermen. Sampling was carried out by spreading the net three times. The tested fish samples consisted of 46 individuals with 12 species, 9 families, and 6 orders. The highest number of fish caught was Clupeiformes with a percentage of 41.67%, while the order found with a low percentage was Beloniformes (2%). The families found in large numbers were Mugillidae, the families found in low numbers were Lutjanidae and Serranidae. The species caught the most is Chelon subviridis. Stomach contents analysis was performed with the Index of Preponderance (IP). Based on the type of food found in the stomach contents of the test fish, there were various types of food consisting of 11 types, namely phytoplankton, zooplankton, squid, fish (juvenile fish), crabs, shrimp, shellfish, litter, moss, pieces of insect bodies, and plant parts. The types of food that the plant fragments are found in are 9 fish species, phytoplankton (7 species), shrimp (7 species), and litter (5 species).  Ekosistem mangrove sangat penting bagi perairan salah satunya adalah sebagai penyedia sumber makanan biota pada perairan di sekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kebiasaan makanan beberapa jenis ikan yang ditemukan di perairan sekitar ekosistem mangrove Lubuk Kertang, Langkat, Sumatera Utara. Lokasi penelitian merupakan merupakan wilayah restorasi mangrove dengan vegetasi utama Rhizopora apiculata. Penelitian dilakukan pada bulan Januari 2021. Pengumpulan sampel ikan dilakukan dengan menggunakan jaring gill net dengan ukuran 1.5 inchi yang biasa digunakan oleh nelayan. Sampling dilakukan dengan melakukan tiga kali tebar jaring. Sampel ikan uji terdiri dari 46 individu dengan 12 spesies, 9 famili, dan 6 ordo. Jumlah ikan terbanyak yang tertangkap adalah Clupeiformes dengan persentase sebesar 41.67%, sedangkan ordo yang ditemukan dengan persentase yang rendah adalah Beloniformes (2%). Famili yang ditemukan dalam jumlah besar adalah Mugillidae, famili yang ditemukan dengan jumlah rendah adalah Lutjanidae dan Serranidae. Spesies yang paling banyak tertangkap adalah jenis Chelon subviridis. Analisis isi perut dilakukan dengan Indeks of Preponderance (IP). Berdasarkan jenis makanan yang ditemukan pada isi perut ikan uji, terdapat berbagai jenis makanan yang terdiri dari 11 jenis yaitu fitoplankton, zooplankton, cumi-cumi, ikan (juvenil ikan), kepiting, udang, cangkang kerang, serasah, lumut, potongan tubuh serangga, dan potongan tubuh tumbuhan. Jenis makanan potongan tumbuhan terdapat pada 9 spesies ikan, fitoplankton (7 spesies), udang (7 spesies) dan serasah (5 spesies). 
Bioconcentration of Chromium (Cr) on The Soft Tissue of Mussels (Perna viridis, Linnaeus 1758) in Tambak Lorok Waters, Semarang Siti Rudiyanti; Suryanti Suryanti; Churun Ain
Jurnal Kelautan Tropis Vol 26, No 2 (2023): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jekk.v%vi%i.17563

Abstract

Industrial development provides economic benefits, but also increases the concentration of waste pollution which affects the aquatic environment of Tambak Lorok on the North Coast of Central Java. The existence of this waste will affect the life of the biota in it, such as mussels (Perna viridis). The heavy metal Chromium is the focus of research, considering that its presence in large quantities which accumulates in the human body causes health problems. The aims of the research were to determine the content of heavy metal Cr in the waters, sediments, and soft tissue of mussels, to determine the bioconcentration of heavy metal Cr in mussels, and to determine the tolerable intake of weekly consumption of the mussels cultivated in Tambak Lorok waters. The content of Cr in water samples, sediment, and mussel soft tissue was measured the APHA 3111B-2012 method, US EPA SW-846/3050 B-1996 SM 3111B-2012 method, and SSA method. The calculation of bioconcentration mussels, using the bioconcentration factor and Maximum Tolerable Intake. The heavy metal content of Cr in the water column was 0.015 – 0.025 mg.L-1 (upper the quality standard), in sediment was 25.12 – 28.72 mg.kg-1(lower the quality standard), and in the soft tissue of mussels was 0.155 – 0.265 mg/kg (upper the quality standard). The bioconcentration factor of metal Cr in mussels is classified as low, which is around 10.35 – 14. The maximum tolerable intake for mussels was 6,078 kg/week, it is considered safe for consumption.
Kepiting Genera Scylla di Pesisir Kota Langsa: Distribusi, Dimensi Tangkapan Alami dan Analisis Bioekonominya Muhammad Jamil; Andika Putriningtias; Silvia Anzhita; Helmy Akbar; Syahrial Syahrial; Hanisah Hanisah; Teuku Muhammad Faisal; Sorbakti Sinaga
Jurnal Kelautan Tropis Vol 26, No 2 (2023): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v26i2.17780

Abstract

A study of the Scylla genera of crabs was conducted in May in five villages in Langsa City to know their distribution, dimensions of natural catch, and bioeconomic analysis. The method used was the accidental sampling of 30 respondents. Then the information was collected on the demographics and characteristics of the respondents as well as the distribution and dimensions of the Scylla genera crab catch. Respondents indicated that the Scylla genera crabs were distributed in 12 villages, namely Cinta Raja Village, Sungai Lueng, Alue Pineung Timue, Kapa, Lhok Banie, Simpang Lhee, Seuriget, Matang Seulimeng, Sungai Pauh, Kuala Langsa, Sungai Pauh Pusaka, Sungai Pauh Firdaus, and Sungai Pauh Tanjong. The highest catch composition was 4 kg/trip (40%) and the sizes of crabs were all sizes (100%). Furthermore, the dominant duration of the profession of crab catcher is 4 – 6 years (37%) with the predominant age of a crab catcher being 30 – 44 years (53%). The results of the bioeconomic analysis show that the Scylla crab fisheries in Langsa City are still profitable because any increase in catch costs does not reduce total income at all.   Kajian kepiting genera Scylla dilakukan pada bulan Mei di 5 desa Kota Langsa dengan tujuan untuk mengetahui distribusi, dimensi tangkapan alami dan analisis bioekonominya. Metode yang digunakan adalah accidental sampling pada 30 responden, kemudian informasi yang dikumpulkan mengenai demografi dan karakteristik responden serta distribusi dan dimensi penangkapan kepiting genera Scylla. Responden menunjukkan bahwa kepiting genera Scylla terdistribusi di 12 desa yaitu Desa Cinta Raja, Sungai Lueng, Alue Pineung Timue, Kapa, Lhok Banie, Simpang Lhee, Seuriget, Matang Seulimeng, Sungai Pauh, Kuala Langsa, Sungai Pauh Pusaka, Sungai Pauh Firdaus dan Sungai Pauh Tanjong dengan komposisi tangkapan tertingginya adalah 4 kg/trip (40%) dan ukuran kepiting genera Scylla yang diambil adalah semua ukuran (100%). Selanjutnya lamanya profesi sebagai penangkap kepiting yang telah dijalani dominannya adalah 4 – 6 tahun (37%) dengan usia penangkap kepiting dominannya adalah 30 – 44 tahun (53%). Sementara hasil analisis bioekonomi memperlihatkan bahwa kondisi perikanan tangkap kepiting genera Scylla di Kota Langsa masih menguntungkan karena setiap kenaikan biaya tangkapan sama sekali tidak menurunkan total pendapatan.