cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
ach.journal@unud.ac.id
Editorial Address
JL PB Sudirman Denpasar Bali
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Archive of Community Health
Published by Universitas Udayana
ISSN : 2302139X     EISSN : 25273620     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Archive of Community Health menerbitkan hasil penelitian berhubungan dengan kesehatan masyarakat seperti kebijakan kesehatan, kesehatan ibu dan anak, kesehatan lingkungan, gizi kesehatan masyarakat, kesehatan kerja, promosi kesehatan, ekonomi kesehatan serta ilmu ilmu dasar yang berkaitan seperti bioteknologi kesehatan, biologi molekuler, bioinformatik dan genetik, tanaman, hewan, serta sel yang terkait dengan kesehatan masyarakat.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 5 No 2 (2018): Desember (2018)" : 10 Documents clear
PERSEPSI TENTANG MANFAAT SENAM YOGA TERTAWA TERHADAP KESEHATAN LANSIA DI KOTA DENPASAR I Kadek Abdi Kesuma Wijaya; Ni Komang Ekawati; Ni Wayan Arya Utami
ARCHIVE OF COMMUNITY HEALTH Vol 5 No 2 (2018): Desember (2018)
Publisher : Program Studi Sarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Udayana Berasosiasi Dengan Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (737.843 KB) | DOI: 10.24843/ACH.2018.v05.i02.p06

Abstract

ABSTRAK Lanjut usia menurut definisi dari World Health Organization (WHO) adalah orang yang berusia 60 tahun keatas. Lansia sangat rentan untuk terkena penyakit. Beberapa penyakit yang dialami oleh lansia adalah hipertensi, rematik, diabetes mellitus, gagal jantung dan lain-lain. Selain upaya penanganan kesehatan yang dibuat pemerintah, terdapat kegiatan lain yang dapat menangani masalah kesehatan pada lansia yaitu senam yoga tertawa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi tentang manfaat senam yoga tertawa terhadap kesehatan lansia di Kota Denpasar.Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan fenomenologi yang menggunakan metode pengumpulan data dengan Focus Group Discussion dan wawancara mendalam. Berdasarkan hasil penelitian, sebagian besar lansia memandang di usia 60 tahun keatas akan rentan terkena penyakit serius. Lansia yang mengikuti senam yoga tertawa didorong atas 2 faktor yaitu faktor internal dikarenakan ingin sembuh dan menjadi lebih sehat, serta faktor eksternal disebabkan oleh dukungan keluarga. Tidak ada hambatan yang dirasakan lansia dalam mengikuti senam yoga tertawa. Hal ini dikarenakan mereka termotivasi untuk sehat dan sembuh dari penyakit serta dukungan dari keluarga.Kesimpulan bahwa persepsi lansia terhadap manfaat senam yoga tertawa adalah sakit yang dirasakan berkurang dan lebih sehat. Jadi dapat disarankan senam yoga tertawa dapat diterapkan sebagai alternatif untuk membantu lansia dalam mengatasi masalah kesehatan dan bagi penelitian selanjutnya dapat dijadikan dasar penelitian dalam hal kesehatan lansia dan yoga. Kata Kunci: persepsi, senam yoga tertawa, lansia, kesehatan mental, Denpasar ABSTRACT The elderly according to the definition of the World Health Organization (WHO) are people aged 60 years and over. The elderly are very susceptible to disease. Some diseases experienced by the elderly are hypertension, rheumatism, diabetes mellitus, heart failure and others. In addition to health care efforts made by the government, there are other activities that can handle health problems in the elderly, namely laughing yoga exercises. This study aims to determine perceptions about the benefits of laughing yoga exercises on the health of the elderly in Denpasar City. This research is a qualitative study using a phenomenological approach that uses data collection methods with Focus Group Discussion and in-depth interviews. Based on the results of the study, most of the elderly looked at the age of 60 years and over will be vulnerable to serious illness. The elderly who attend yoga exercises are encouraged to push for 2 factors: internal factors due to wanting to recover and become healthier, and external factors caused by family support. There are no obstacles felt by the elderly in participating in the laughing yoga exercises. This is because they are motivated to be healthy and recover from illness and support from the family. The conclusion that the elderly's perception of the benefits of laughing yoga is a pain reduction and healthier. So it can be suggested laughing yoga exercises can be applied as an alternative to helping the elderly in overcoming health problems and for further research can be used as a basis for research in terms of health of the elderly and yoga. Keywords: perception, laughing yoga exercises, elderly, mental health, Denpasar
TINGKAT PENGETAHUAN, SIKAP, DAN KEINGINAN SUAMI DARI PASANGAN USIA SUBUR TERHADAP METODE KONTRASEPSI VASEKTOMI DI KECAMATAN DENPASAR SELATAN TAHUN 2017 Kadek Diah Wulandari; Ketut Hari Mulyawan; Desak Nyoman Widyanthini
ARCHIVE OF COMMUNITY HEALTH Vol 5 No 2 (2018): Desember (2018)
Publisher : Program Studi Sarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Udayana Berasosiasi Dengan Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (644.703 KB) | DOI: 10.24843/ACH.2018.v05.i02.p04

Abstract

ABSTRAK Kota Denpasar merupakan salah satu daerah yang memiliki akseptor Keluarga Berencana (KB) pria (vasektomi) terendah di Provinsi Bali dengan akseptor rate tahun 2015 sebesar 0,0013. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengetahuan, sikap dan keinginan suami dari pasangan usia subur (PUS) terhadap metode kontrasepsi vasektomi di Kecamatan Denpasar Selatan Tahun 2017. Penelitian ini merupakan cross sectional deskriptif yang dilakukan pada suami dari pasangan usia subur (PUS) di wilayah Kecamatan Denpasar Selatan tahun 2017 sebanyak 62 sampel yang memenuhi kriteria menjadi akseptor vasektomi, yang dipilih secara multistage random sampling dari 326 pasangan usia subur (PUS) yang berdomisili di 10 desa/kelurahan di Kecamatan Denpasar Selatan. Data pengetahuan, sikap dan keinginan menggunakan metode wawancara dan dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 9,7% suami dari pasangan usia subur (PUS) berkeinginan menjadi akseptor vasektomi, sebanyak 66,1% memiliki pengetahuan kurang dan sebanyak 72,6% memiliki sikap positif terhadap kontrasepsi vasektomi. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa lebih dari setengah responden memiliki pengetahuan yang rendah dan tidak berkeinginan terhadap metode kontrasepsi vasektomi Diharapkan kepada petugas kesehatan khususnya BKKBN dapat memberikan sasaran penyuluhan yang lebih mengkhusus kepada masyarakat dengan kelompok umur 35-45 tahun dan diharapkan dapat memberikan informasi sedini mungkin tentang kontrasepsi vasektomi bagi pasangan suami istri. Kata Kunci: Pengetahuan, Sikap, Keinginan, Metode Kontrasepsi Vasektomi, Suami dari Pasangan Usia Subur (PUS) ABSTRACT Denpasar City is one of the regions that has the lowest male family planning (KB) acceptor (vasectomy) in Bali with an acceptor rate of 0.0013 in 2015. The purpose of this study was to determine the knowledge, attitudes and desires of husbands of fertile age couples (PUS) to vasectomy contraceptive methods in the South Denpasar District in 2017. This study use a descriptive cross sectional study conducted on husbands of fertile age couples (PUS) in the District area South Denpasar in 2017 as many as 62 samples that met the criteria of being a vasectomy acceptor, were selected by multistage random sampling from 326 fertile age couples (PUS) who are domiciled in 10 villages / sub-districts in South Denpasar District. Knowledge data, attitudes and desires using the interview method and analyzed descriptively. The results showed 9.7% of husbands of fertile age couples (PUS) wanted to be vasectomy acceptors, 66.1% had less knowledge and 72.6% had positive attitudes towards vasectomy contraception. From this study it can be concluded that more than half of respondents have low knowledge and do not wish to have vasectomy contraception methods. It is expected that health workers, especially BKKBN, can provide counseling targets that are more specific to people in the age group of 35-45 years and are expected to provide information as early as possible about vasectomy contraception for married couples. Keywords: Knowledge, Attitude, Desire, Vasectomy Contraception Method, Husband of a Fertile Age Partner (PUS)
PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA PUTRI TENTANG KEKERASAN PEREMPUAN DAN DAMPAKNYA TERHADAP KESEHATAN REPRODUKSI DI KOTA DENPASAR TAHUN 2017 Gusti Ayu Purnama Dewi; Ni Made Dian Kurniasari; I Ketut Tangking Widarsa
ARCHIVE OF COMMUNITY HEALTH Vol 5 No 2 (2018): Desember (2018)
Publisher : Program Studi Sarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Udayana Berasosiasi Dengan Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (583.474 KB) | DOI: 10.24843/ACH.2018.v05.i02.p07

Abstract

ABSTRAK Kekerasan terhadap perempuan merupakan masalah kesehatan masyarakat karena berdampak pada kesehatan reproduksi. Prevalensi kekerasan perempuan di dunia maupun di Indonesia mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Peningkatan kasus kekerasan dapat disebabkan oleh faktor seperti pengetahuan dan sikap. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan sikap remaja putri tentang kekerasan perempuan dan dampaknya terhadap kesehatan reproduksi di Kota Denpasar Tahun 2017.Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan rancangan cross-sectional. Sampel penelitian adalah 96 siswi kelas VII dan VIII SMP yang dipilih dengan teknik multistage random sampling dan simple random sampling. Pengumpulan data pengetahuan dan sikap dilakukan dengan menggunakan kuesioner terstuktur dan data dianalisis secara deskriptif.Hasil penelitian didapatkan 78,1% remaja putri memiliki pengetahuan baik, 15,6% memiliki pengetahuan cukup, dan 6,3% memiliki pengetahuan kurang. Hasil untuk sikap terhadap kekerasan perempuan didapatkan 67,7% remaja putri memiliki sikap baik dan 32,3% memiliki sikap cukup. Dapat disimpulkan bahwa sebagian besar remaja putri memiliki tingkat pengetahuan baik serta lebih dari setengah memiliki sikap menolak kekerasan perempuan. Disarankan kepada pihak sekolah untuk meningkatkan peran guru BK dan juga mengaktifkan peran PIK-R dalam upaya meningkatkan pemahaman para remaja tentang dampak negatif jangka panjang dari kekerasan, sehingga para remaja tersebut memiliki keberanian untuk melapor bila menjadi korban kekerasan dikemudian hari. Kata Kunci: pengetahuan, sikap, kekerasan terhadap perempuan (KtP), kesehatan reproduksi, remaja putri ABSTRACT Violence against women is a public health problem because it impacts reproductive health. The prevalence of female violence in the world and in Indonesia has increased from year to year. Increased cases of violence can be caused by factors such as knowledge and attitudes. The purpose of this study was to determine the knowledge and attitudes level of young women about female violence and its impact on reproductive health in Denpasar City in 2017. This research is a quantitative descriptive study with cross-sectional design. The research sample was 96 class VII and VIII junior high school students, who selected by multistage random sampling and simple random sampling techniques. Knowledge and attitude data collection was carried out using a structured questionnaire and the data were analyzed descriptively. The results showed 78.1% of young women had good knowledge, 15.6% had sufficient knowledge, and 6.3% had less knowledge. The results for attitudes towards female violence obtained 67.7% of young women had good attitudes and 32.3% had sufficient attitudes. It can be concluded that the majority of young women have a good level of knowledge and more than half have attitudes to resist female violence. It is suggested to the school to increase the role of BK teachers and also activate the role of PIK-R in an effort to increase the understanding of adolescents about the long-term negative effects of violence, so that these youth have the courage to report if they become victims of violence in the future. Keywords: knowledge, attitudes, violence against women (KtP), reproductive health, adolescent girls
ANALISIS LAMA RAWAT INAP PASIEN KANKER PAYUDARA YANG MENJALANI PEMBEDAHAN MASTEKTOMI DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT (RSUP) SANGLAH TAHUN 2016 Debby Amanda Putri Tarigan; Ni Made Dian Kurniasari; Ketut Hari Mulyawan
ARCHIVE OF COMMUNITY HEALTH Vol 5 No 2 (2018): Desember (2018)
Publisher : Program Studi Sarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Udayana Berasosiasi Dengan Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (610.678 KB) | DOI: 10.24843/ACH.2018.v05.i02.p03

Abstract

ABSTRAK Di Indonesia jenis kanker tertinggi yang diderita wanita adalah kanker payudara dengan angka kejadian 2,2% dari 1000 perempuan (Depkes RI, 2012). Salah satu jenis pengobatan yang dapat dilakukan pasien kanker adalah dengan melakukan pembedahan mastektomi sehingga pasien harus rawat inap. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui lama rawat inap pasien kanker payudara yang menjalani pembedahan masektomi dan faktor yang mempengaruhinya di Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah. Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah. Desain penelitian menggunakan analitik kohort retrospektif. Sebanyak 89 sampel penelitian yaitu pasien yang menjalani pembedahan mastektomi di Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah pada tahun 2016 diambil secara acak sederhana. Pengumpulan data berasal dari catatan rekam medis pasien. Analisis data dilakukan dengan uji statistik Kaplan Meier, Log Rank dan Regresi Cox. Hasil penelitian menunjukkan median lama rawat inap pasien kanker payudara yang menjalani pembedahan mastektomi di RSUP Sanglah Denpasar tahun 2016 adalah 9 hari. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara tingkat stadium pasien kanker payudara (HR=7,19 , 95%CI= 2,88-17,95) dan riwayat kemoterapi yang dilakukan pasien (HR = 5,47 , 95%CI = 3,12-9,59) terhadap lama rawat inap pasien kanker payudara yang menjalani pembedahan mastektomi, serta dari penelitian ini dapat dilihat bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara umur (HR= 1,37, 95%CI = 0,85-2,21) dan ukuran tumor (HR=2.63, 95%CI= 0,79-8,68) terhadap lama rawat inap pasien kanker payudara yang menjalani pembedahan mastektomi. Kata kunci: Kanker Payudara, Lama Rawat Inap, Pembedahan Mastektomi ABSTRACT In Indonesia the highest type of cancer suffered by women is breast cancer with an incidence rate of 2.2% of 1000 women (Depkes RI, 2012). One type of treatment that can be done by cancer patients is by performing a mastectomy surgery so that patients must be hospitalized. The purpose of this study was to determine the length of stay of breast cancer patients undergoing masectomy surgery and the factors that influenced it at Sanglah Central General Hospital. This research was conducted at the Sanglah Central General Hospital. The study design used a retrospective cohort analytic. A total of 89 study samples, namely patients who underwent mastectomy surgery at Sanglah Central General Hospital in 2016, were taken by simple random sampling. Data collection comes from the patient's medical record. Data analysis was performed with Kaplan Meier statistical tests, Log Rank and Cox Regression. The results showed the median length of stay for breast cancer patients undergoing mastectomy surgery at Sanglah Hospital Denpasar in 2016 was 9 days. The analysis showed a significant relationship between the stage of breast cancer patients (HR = 7.19, 95% CI = 2.88-17.95) and the history of chemotherapy performed by patients (HR = 5.47, 95% CI = 3 , 12-9,59) to the length of stay of breast cancer patients undergoing mastectomy surgery, and from this study it can be seen that there is no significant relationship between age (HR = 1.37, 95% CI = 0.85-2, 21) and tumor size (HR = 2.63, 95% CI = 0.79-8.68) to the length of stay of breast cancer patients undergoing mastectomy surgery. Keywords: Breast Cancer, Length of Hospitalization, Mastectomy Surgery
PERILAKU PENGUNJUNG LAPANGAN PUPUTAN DALAM PENERAPAN PERDA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG KAWASAN TANPA ROKOK (KTR) DI KABUPATEN KLUNGKUNG TAHUN 2017 Ni Putu Sona Kharisma; Ni Komang Ekawati; I Made Kerta Duana
ARCHIVE OF COMMUNITY HEALTH Vol 5 No 2 (2018): Desember (2018)
Publisher : Program Studi Sarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Udayana Berasosiasi Dengan Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (573.856 KB) | DOI: 10.24843/ACH.2018.v05.i02.p08

Abstract

ABSTRAK Upaya pemerintah dalam mengendalikan permasalahan rokok adalah dengan melakukan regulasi tentang peraturan pemerintahan. Kab. Klungkung merupakan salah satu Kabupaten di Bali yang telah mengadopsi Perda KTR yang ditetapkan dalam Peraturan Daerah Nomor 1 tahun 2014 tentang Kawasan Tanpa Rokok. Pemerintah Daerah Kab. Klungkung sangat berkomitmen untuk menurunkan angka perokok dengan mengadopsi Perda KTR dan membuat aturan mengenai larangan iklan rokok, namun kenyataannya tingkat kepatuhan masyarakat terhadap Perda KTR di tempat umum masih rendah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perilaku pengunjung Lapangan Puputan Kab. Klungkung dalam penerapan Perda Nomor 1 tahun 2014 tentang Kawasan Tanpa Rokok, dengan menggunakan metode penelitian kualitatif. Sampel dalam penelitian ini dipilih dengan metode purposive sampling dan jumlah informan dalam penelitian ini adalah 10 orang dan 2 orang informan kunci. Dari 10 informan tersebut terdiri dari 5 informan merupakan perokok dan 5 informan bukan perokok, pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam dan observasi. Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa pengetahuan informan terkait Perda KTR di Lapangan Puputan Kab. Klungkung masih kurang dan persepsi informan mengenai pelaksanaan Perda KTR di Lapangan Puputan Klungkung termasuk negatif. Selain itu ketersediaan tanda KTR masih minim, serta peran dari Dinas Kesehatan dan Satpol PP masih belum efektif dalam penerapan Perda tersebut. Disimpulkan bahwa pengetahuan, persepsi, ketersediaan tanda, dan peran Dinas Kesehatan dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) terkait Perda KTR di Lapangan Puputan Kabupaten Klungkung masih kurang sehingga mempengaruhi perilaku informan terhadap kebiasaan merokok di tempat umum, oleh sebab itu Dinas Kesehatan Kabupaten Klungkung disarankan untuk melaksanakan sosialisasi ke desa-desa dan Satpol PP agar lebih tegas melakukan pengawasan, dan untuk peneliti selanjutnya agar meniliti determinan-determinan lain. Kata kunci: Perilaku, Perda KTR, Kawasan Tanpa Rokok ABSTRACT Government efforts in controlling the problem of cigarettes is to make regulations on government regulations. Klungkung is one of the regencies in Bali that has adopted a KTR Regional Regulation stipulated in Regional Regulation No. 1 of 2014 concerning No-Smoking Areas. Government of Klungkung District is very committed to reducing the number of smokers by adopting the KTR regulation and making rules regarding the prohibition of cigarette advertising, but in reality the level of public compliance with the KTR regulation in public places is still low. The purpose of this study was to determine the behavior of visitors Puputan Field in Klungkung District in the application of Perda No. 1 of 2014 concerning No-Smoking Areas, by using qualitative research methods. The sample in this study was selected by the method of purposive sampling and the number of informants in this study were 10 people and 2 key informants. Of the 10 informants consisting by 5 smokers and 5 non-smokers, data collection is done by in-depth interviews and observation. Based on the results of the study it can be seen that the informant's knowledge related to the Regional Regulation on KTR in Puputan Field in Klungkung is still lacking and informants' perceptions regarding the implementation of the Regional Regulation on KTR in Puputan Field in Klungkung are negative. In addition, the availability of KTR markings is still minimal, and the role of the Health Office and Satpol PP is still not effective in the application of the regulation. It was concluded that knowledge, perception, availability of signs, and the role of the Health Office and the Civil Service Police Unit (Satpol PP) related to the Regional Regulation on KTR in Puputan Field in Klungkung were still lacking so that it influenced the informant's behavior towards smoking habits in public places, therefore the Klungkung District Health Office It is recommended to carry out socialization to villages and Satpol PP to be more assertive in conducting supervision, and for further researchers to examine other determinants. Keywords: Behavior, Regional Regulation on KTR, Non-Smoking Area
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEJADIAN PNEUMONIA PADA BALITA DI RUMAH SAKIT IBU ANAK PERMATA HATI KABUPATEN KLUNGKUNG TAHUN 2015-2017 Dea Eka Manuwati Ramandey; Ni Made Dian Kurniasari; Desak Nyoman Widyanthini
ARCHIVE OF COMMUNITY HEALTH Vol 5 No 2 (2018): Desember (2018)
Publisher : Program Studi Sarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Udayana Berasosiasi Dengan Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (581.711 KB) | DOI: 10.24843/ACH.2018.v05.i02.p02

Abstract

ABSTRAK Pneumonia merupakan proses infeksi akut yang mengenai jaringan paru-paru (alveoli). Pneumonia pada balita di Indonesia masih merupakan masalah kesehatan utama, dilihat dari tingginya angka kepadatan penduduk setiap tahunnya. Salah satu upaya untuk menurunkannya adalah dengan mengetahui faktor faktor yang menyebabkan terjadinya pneumonia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian pneumonia pada balita di RSIA Permata Hati Kabupaten Klungkung. Jenis penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif analitik dengan rancangan kasus kontrol (case control study). Sampel dari penelitian ini yaitu sebanyak 80 diantaranya 40 ibu yang memiliki balita tidak pneumonia sebagai kelompok kontrol dan 40 ibu yang memiliki balita pneumonia sebagai kelompok kasus. Pengambilan sampel pada kasus dengan simple random sampling dan pada kontrol dengan purposive sampling. Dengan wawancara menggunakan kuesioner. Analisis data mencakup analisis univariat dan bivariat. Hasil penelitian menunjukkan faktor determinan yang mempengaruhi pada kejadian pneumonia pada balita adalah faktor jenis kelamin (OR= 3,095 95% CI=1,134-8,530;p=0,013), berat badan lahir (OR=12,666 95% CI=2,540-119,627;p=0,0002), pemberian vitamin A (OR=25,705 95% CI=5,610-238,625;p=0,0001),ASI ekslusif (OR=16,333 95% CI=4,628-64,082 ;p= 0,0001),paparan asap rokok (OR=3,44 95% CI=1,191-10,294;p=0,010). Simpulan dari penelitian ini adalah faktor yang mempengaruhi determinan pneumonia pada balita adalah faktor anak dan lingkungannya. Kata kunci: Pneumonia, Balita, Faktor-faktor ABSTRACT Pneumonia is an acute infection process that affects the lung tissue (alveoli). Pneumonia in toddlers in Indonesia is still a major health problem, seen from the high population density each year. One effort to reduce it is by knowing the factors that cause pneumonia. This study aims to determine the factors that influence the incidence of pneumonia in infants at RSIA Permata Hati, Klungkung Regency. This type of research uses a quantitative analytical approach with a case control study. The samples of this study were 80 of them 40 mothers who had no pneumonia as a control group and 40 mothers who had pneumonia as a case group. Sampling in cases with simple random sampling and in controls with purposive sampling. With interviews using a questionnaire. Data analysis includes univariate and bivariate analysis. The results showed that the determinant factors affecting the incidence of pneumonia in infants were gender (OR = 3,095 95% CI = 1,134-8,530; p = 0.013), birth weight (OR = 12,666 95% CI = 2,540-119,627; p = 0,0002), giving vitamin A (OR = 25,705 95% CI = 5,610-238,625; p = 0,0001), exclusive breastfeeding (OR = 16,333 95% CI = 4,628-64,082; p = 0,0001), smoke exposure cigarettes (OR = 3.44 95% CI = 1,191-10,294; p = 0.010). The conclusions of this study are the factors that influence the determinants of pneumonia in toddlers are the factors of children and their environment. Keywords: Pneumonia, toddler, the factors
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DENGAN PERILAKU PENCEGAHAN KEJADIAN KERACUNAN MAKANAN PASCA KLB KERACUNAN MAKANAN Anak Agung Gde Indra Putra; Ni Wayan Septarini; I Made Subrata
ARCHIVE OF COMMUNITY HEALTH Vol 5 No 2 (2018): Desember (2018)
Publisher : Program Studi Sarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Udayana Berasosiasi Dengan Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (554.615 KB) | DOI: 10.24843/ACH.2018.v05.i02.p09

Abstract

ABSTRAK Makanan adalah kebutuhan yang sangat penting bagi setiap manusia karena di dalam makanan terkandung zat gizi yang berguna untuk pertumbuhan dan perkembangan manusi. Potensi bahaya yang dapat mencemari atau mengkontaminasi makanan dapat berasal dari bahan (1) biologis berupa bakteri, virus, dan protozoa, (2) kimia berupa toksin bakteri, mikotoksin, cemaran logam berat, residu antimikroba, pengawet, pewarna dan pemanis buatan, pestisida dan (3) fisik berupa batu, rambut, serpihan kaca, potongan kayu, debu, tanah, dan lain lain. KLB keracunan makanan terjadi di beberapa desa/kelurahan di Kabupaten Gianyar. Tahun 2014 terjadi 3 KLB keracunan makanan, tahun 2015 terjadi 2 KLB keracunan makanan, tahun 2016 terjadi 2 KLB keracunan makanan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan perilaku pencegahan kejadian keracunan makanan pada masyarakat di Desa Bukian, Kecamatan Payangan Kabupaten Gianyar. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk melihat ada atau tidaknya hubungan antara kedua variabel tersebut. Penelitian ini menggunakan rancangan cross sectional analitik yang dilaksanakan di Desa Bukian, Kecamatan Payangan, Kabupaten Gianyar. Responden dalam penelitian ini adalah salah satu perwakilan anggota keluarga pada setiap kepala keluarga (KK) yang berumur diatas atau sama dengan (?) 15 tahun sebanyak 106 orang yang terpilih menggunakan teknik Probability Proportional to Size (PPS). Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang dianalisis secara univariat dan bivariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 58,49% masyarakat memiliki tingkat pengetahuan yang kurang mengenai keracunan makanan, 54,72% masyarakat memiliki perilaku pencegahan yang kurang mengenai keracunan makanan, ada pengaruh/hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan dengan perilaku pencegahan kejadian keracunan makanan dengan nilai PR= 9,59 CI 95% = 3,75-24,5.Disarankan untuk memberikan penyuluhan atau sosialisasi yang merata tentang keracunan makanan oleh pemerintah ataupun institusi terkait dan penelitian lebih lanjut disarankan untuk melihat perilaku pencegahan keracunan makanan antara daerah yang mengalami KLB dan tidak mengalami KLB. Kata kunci: Keracunan Makanan, Tingkat Pengetahuan, Perilaku Pencegahan ABSTRACT Food is a very important requirement for every human being, because in the food contained nutrients that are useful for human growth and development. Potential hazards that can contaminate or contaminate food can come from (1) biological ingredients such as bacteria, viruses and protozoa, (2) chemicals in the form of bacterial toxins, mycotoxins, heavy metal contamination, antimicrobial residues, preservatives, artificial dyes and sweeteners, pesticides and (3) physical form of stone, hair, glass chips, pieces of wood, dust, soil, etc. Outbreaks of food poisoning occur in several villages in Gianyar Regency. In 2014 there were 3 outbreaks of food poisoning, in 2015 there were 2 outbreaks of food poisoning, in 2016 there were 2 outbreaks of food poisoning. The purpose of this study was to determine the level of knowledge and behavior to prevent food poisoning in the community in Bukian Village, Payangan District, Gianyar Regency. In addition, this study also aims to see whether or not there is a relationship between the two variables. This study used an analytic cross sectional design which was carried out in Bukian Village, Payangan District, Gianyar Regency. Respondents in this study were one representative of family members in each head of household (KK) aged over or equal to (?) 15 years as many as 106 people were selected using the Probability Proportional to Size (PPS) technique. Data were collected using a questionnaire that was analyzed univariately and bivariately. The results showed that 58.49% of the community had a lack of knowledge about food poisoning, 54.72% of the community had a lack of preventive behavior regarding food poisoning, there was a significant influence / relationship between the level of knowledge with the behavior of preventing food poisoning events with PR values = 9.59 CI 95% = 3.75-24.5. It is recommended to provide even outreach or socialization about food poisoning by the government or related institutions and further research is recommended to look at the behavior of food poisoning prevention between areas experiencing outbreaks and not experiencing an outbreak. Keywords: Food Poisoning, Knowledge Level, Preventive Behavior
FAKTOR PENDORONG DAN PENGHAMBAT WANITA PEKERJA SEKS (WPS) DI DENPASAR UNTUK MELAKUKAN PAP SMEAR/IVA SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN KANKER SERVIKS TAHUN 2017 Gusti Ayu Ikha Adyastuty Sanatha; Ni Wayan Septarini; Desak Putu Yuli Kurniati
ARCHIVE OF COMMUNITY HEALTH Vol 5 No 2 (2018): Desember (2018)
Publisher : Program Studi Sarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Udayana Berasosiasi Dengan Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (656.769 KB) | DOI: 10.24843/ACH.2018.v05.i02.p01

Abstract

ABSTRAK Kanker serviks menempati urutan kedua di dunia setelah kanker payudara. Pada tahun 2016, kasus baru kanker serviks terbanyak di Bali ditemukan di Kota Denpasar sebanyak 834 kasus dan meninggal sebanyak 12 orang. Wanita Pekerja Seks berisiko untuk menderita kanker serviks karena sering berganti-ganti pasangan seksual dan berhubungan seksual pada usia dini. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor pendorong dan penghambat Wanita Pekerja Seks (WPS) di Denpasar untuk melakukan Pap Smear/IVA sebagai upaya pencegahan kanker serviks tahun 2017. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan menggunakan metode cross-sectional. Jumlah sampel pada penelitian ini sebanyak 82 wanita pekerja seks langsung dengan menggunakan teknik quota sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner dan data dianalisis secara univariat dan bivariat. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa sebagian besar wanita pekerja seks langsung di Kota Denpasar berumur < 35 tahun (74,4%), berpendidikan rendah (92,7%), dan berasal dari luar Bali (98,8%). Faktor pendorong wanita pekerja seks langsung untuk melakukan Pap Smear/IVA adalah faktor biaya Pap Smear terjangkau (64,6%) dan biaya IVA terjangkau (100%), serta akses ke fasilitas kesehatan dekat (68,3%). Faktor penghambat untuk melakukan pemeriksaan Pap Smear/IVA adalah pengetahuan kurang (79,3%), bersikap negatif (81,7%), tidak pernah mendapat sumber informasi (72%), fasilitas dan sarana kesehatan tidak tersedia (76,8%), tidak mendapat dukungan teman (85,4%) dan petugas kesehatan (73,2%). Penyebaran informasi tentang pencegahan kanker serviks yang lebih intensif dengan meningkatkan peran serta tenaga kesehatan diharapkan mampu menurunkan kejadian kanker serviks dan meningkatkan kemauan Wanita Pekerja Seks untuk melakukan pemeriksaan Pap Smear/IVA. Kata Kunci: Faktor Pendorong, Faktor Penghambat, Wanita Pekerja Seks, Pap Smear, IVA ABSTRACT Cervical cancer is second in the world after breast cancer. In 2016, the most new cases of cervical cancer in Bali were found in Denpasar City with 834 cases and 12 people died. Female Sex Workers who are at risk for cervical cancer due to frequent changing of sex partners and having sex at an early age. The purpose of this study was to know the factors driving and inhibiting female sex workers (WPS) in Denpasar to conduct Pap Smear / IVA as an effort to prevent cervical cancer in 2017. This research is a descriptive study using cross-sectional methods. The number of samples in this study were 82 direct female sex workers using the quota sampling technique. Data collection was performed using a questionnaire and data were analyzed univariately and bivariately. From the results of the study it was found that most direct sex workers in the City of Denpasar were <35 years (74.4%), had low education (92.7%), and came from outside Bali (98.8%). The driving factors for direct female sex workers to have Pap Smear / IVA are the affordable Pap Smear cost (64.6%) and the affordable IVA cost (100%), as well as access to close health facilities (68.3%). The inhibiting factors for Pap Smear / IVA test are lack of knowledge (79.3%), negative thinking (81.7%), never getting information sources (72%), health facilities and facilities not available (76.8%), did not have the support of friends (85.4%) and health workers (73.2%). Dissemination of information about increasing cervical cancer more intensively by increasing the role and improvement of health related to increased cervical cancer and increasing the willingness of Female Sex Workers to do Pap Smear / IVA. Keywords: Encourage Factors, Inhibiting Factors, Female Sex Workers, Pap Smear, IVA
KEJADIAN INFEKSI MENULAR SEKSUAL BERDASARKAN KARAKTERISTIK SOSIAL DEMOGRAFI DI PUSKESMAS II DENPASAR UTARA TAHUN 2014-2016 Kadek Yulita Dewi Lestari; Desak Nyoman Widyanthini; I Ketut Tangking Widarsa
ARCHIVE OF COMMUNITY HEALTH Vol 5 No 2 (2018): Desember (2018)
Publisher : Program Studi Sarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Udayana Berasosiasi Dengan Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (580.866 KB) | DOI: 10.24843/ACH.2018.v05.i02.p05

Abstract

ABSTRAK Infeksi Menular Seksual (IMS) adalah infeksi yang penularannya terutama melalui hubungan seksual. Di Indonesia, jumlah kasus IMS pada tahun 2014 terjadi sebanyak 5608 kasus. Dinas Kesehatan Provinsi Bali mencatat jumlah pasien IMS yang ditemukan pada tahun 2013 sebanyak 9.202 orang. Jumlah ini meningkat sebanyak 62,17% pada tahun 2014 dan mengalami penurunan sebanyak 61,82% pada tahun 2015. Data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Kota Denpasar menunjukkan bahwa dari keseluruhan kasus di Kota Denpasar pada tahun 2016, kasus IMS tertinggi berada di wilayah Puskesmas II Denpasar Utara yaitu sebanyak 36,94 %. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kejadian IMS berdasarkan karakteristik sosial demografi meliputi jenis penyakit, umur, jenis kelamin, pendidikan terakhir, status perkawinan, pekerjaan, kelompok risiko, pemakaian kondom dan jumlah pasangan seksual pada bagian IMS di Puskesmas II Denpasar Utara tahun 2014-2016. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain penelitian cross sectional retrospektif. Populasi dan sampel pada penelitian ini adalah seluruh pasien yang berkunjung ke Klinik IMS Puskesmas II Denpasar Utara periode tahun 2014-2016 yang diperoleh secara total sampling. Data sekunder yang diperoleh selanjutnya diolah secara statistik dengan menggunakan stata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kejadian IMS lebih tinggi pada kelompok umur 41-50 sebanyak 25%, subjek laki-laki sebanyak 26,4%, tidak pernah sekolah sebanyak 12,5%, subjek dengan status kawin sebanyak 37,6%, pekerjaan berisiko sebanyak 25,5%, kelompok WPS sebanyak 60%, subjek yang kadang-kadang memakai kondom sebanyak 18,2% dan jumlah pasangan seksual >1 sebanyak 39,4%. Kesimpulan dari penelitian ini adalah kejadian IMS di Puskesmas II Denpasar Utara tahun 2014-2016 yaitu 7,4%-13%. Kejadian IMS lebih tinggi pada kelompok umur 41-50 dengan pekerjaan berisiko, kelompok WPS dan jumlah pasangan seksual >1. Tiga jenis IMS yang paling sering terjadi di Puskesmas II Denpasar Utara dalam 3 tahun terakhir yaitu Urethritis Non-GO disusul Servisitis dan Kandidiasis. Diharapkan sasaran dalam pelaksanaan program IMS tidak hanya bagi penderita namun juga bagi pasangannya dan tidak hanya menyasar kelompok risiko seperti WPS namun juga pelanggan PS. Kata Kunci: Kejadian, IMS, karakteristik, cross sectional retrospektif ABSTRACT Sexually transmitted infections (STIs) are transmitted infections mainly through sexual contact. In Indonesia, the number of STI cases in 2014 reached 5608 cases. The Bali Provincial Health Service recorded 9,202 STI patients found in 2013. This number increased by 62.17% in 2014 and decreased by 61.82% in 2015. Data obtained from the Denpasar City Health Office showed that of all cases in Denpasar City in 2016, the highest STI cases were in the Puskesmas area II North Denpasar as much as 36.94%. The purpose of this study was to determine the incidence of STIs based on socio-demographic characteristics including the type of disease, age, sex, recent education, marital status, occupation, risk group, condom use and number of sexual partners in the STI section at Puskesmas II Denpasar Utara in 2014-2016 . This research is a descriptive study with a retrospective cross sectional research design. The population and sample in this study were all patients who visited the IMS Clinic II North Denpasar Health Center for the period 2014-2016 obtained in total sampling. The secondary data obtained are then processed statistically using stata. The results showed that the incidence of STIs was higher in the 41-50 age group by 25%, male subjects by 26.4%, never attending school by 12.5%, subjects with marital status by 37.6%, occupations at risk as much as 25.5%, FSW group as much as 60%, subjects who sometimes used condoms as much as 18.2% and the number of sexual partners> 1 were 39.4%. The conclusion of this study is the incidence of STIs in Puskesmas II Denpasar Utara in 2014-2016, namely 7.4% -13%. The incidence of STIs was higher in the 41-50 age group with risk jobs, FSW groups and number of sexual partners> 1. Three types of STIs that most often occur in Puskesmas II Denpasar Utara in the last 3 years, namely Non-GO Urethritis followed by Cervicitis and Candidiasis. It is expected that the target in the implementation of the IMS program is not only for sufferers but also for their partners and not only targeting risk groups such as WPS but also PS customers. Keywords: Occurrence, STI, characteristic, retrospective cross sectional
PENGETAHUAN, SIKAP DAN MOTIVASI PERAWAT PELAKSANA TENTANG KESELAMATAN PASIEN TERKAIT KEBERSIHAN TANGAN DI RUANG RAWAT INAP RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KABUPATEN BULELENG Luh Ayu Ristayani; Rina Listyowati
ARCHIVE OF COMMUNITY HEALTH Vol 5 No 2 (2018): Desember (2018)
Publisher : Program Studi Sarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Udayana Berasosiasi Dengan Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (648.162 KB) | DOI: 10.24843/ACH.2018.v05.i02.p10

Abstract

ABSTRAK Rumah sakit wajib menerapkan standar keselamatan pasien yaitu pengurangan risiko infeksi terkait pelayanan kesehatan untuk meningkatkan mutu pelayanan. Namun, kejadian infeksi rumah sakit masih banyak ditemukan. Salah satu program mengurangi infeksi yaitu kebersihan tangan. Keberhasilan program disebabkan oleh beberapa faktor sehingga tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengetahuan, sikap dan motivasi perawat tentang keselamatan pasien terkait kebersihan tangan. Jenis penelitian yaitu deskriptif kuantitatif cross sectional. Sampel sebanyak 105 perawat di ruang rawat inap RSUD Kabupaten Buleleng dengan teknik proportionated random sampling. Pengumpulan data dengan metode kuesioner dan dianalisis univariat. Hasil penelitian menunjukkan 57,1% responden memiliki pengetahuan baik dan hanya 14,3% yang kurang, 68,6% sikap positif dan 60,0% motivasi tinggi. Pengetahuan baik dan sikap positif cenderung pada umur ? 30 tahun, perempuan, pendidikan S1/Ners, masa kerja >10 tahun dan status kepegawaian tetap. Motivasi tinggi cenderung pada responden umur ? 30 tahun, jenis kelamin laki-laki, pendidikan S1/Ners, masa kerja >10 tahun dan status kepegawaian tetap. Sebagian besar responden sudah memiliki pengetahuan baik, sikap positif dan motivasi tinggi. Diharapkan rumah sakit dapat memberikan motivasi kepada petugas untuk meningkatkan kinerja, pelatihan berkala dan sosialisasi mendalam mengenai keselamatan pasien terutama sasaran pengurangan risiko infeksi pelayanan kesehatan termasuk kebersihan tangan. Kata kunci: Keselamatan pasien, Kebersihan Tangan, Pengetahuan, Sikap, Motivasi ABSTRACT Hospitals must implement patient safety standards, namely reducing the risk of infection related to health services to improve the quality of service. However, the incidence of hospital infections is still commonly found. One program to reduce infection is hand hygiene. The success of the program is caused by several factors so the purpose of this study is to find out nurses' knowledge, attitudes and motivations regarding patient safety related to hand hygiene. This type of research is descriptive cross sectional descriptive. A sample of 105 nurses in the inpatient ward of Buleleng Regency Hospital using proportionated random sampling technique. Data collection by questionnaire method and univariate analysis. The results showed 57.1% of respondents had good knowledge and only 14.3% were lacking, 68.6% positive attitude and 60.0% high motivation. Good knowledge and positive attitudes tend to be ? 30 years old, women, S1 / Nurse education, tenure of> 10 years and permanent employment status. High motivation tends to be respondents aged ? 30 years, male sex, education S1 / Nurse, tenure of> 10 years and permanent employment status. Most respondents already have good knowledge, positive attitude and high motivation. It is expected that the hospital can provide motivation to officers to improve performance, regular training and in-depth socialization on patient safety, especially the target of reducing the risk of health care infections including hand hygiene. Keywords: Patient Safety, Hand Hygiene, Knowledge, Attitude, Motivation

Page 1 of 1 | Total Record : 10