cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. serang,
Banten
INDONESIA
Jurnal Pendidikan dan Kajian Seni
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 1 (2016)" : 7 Documents clear
MODEL PEMBELAJARAN TEMATIK “KAULINAN BARUDAK” UNTUK MENINGKATKAN KECERDASAN SOSIAL ANAK Dwi Juniarti Lestari
JPKS (Jurnal Pendidikan dan Kajian Seni) Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Pendidikan Seni Drama Tari dan Musik, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (320.902 KB) | DOI: 10.30870/jpks.v1i1.852

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peranan model pembelajaran tematik “kaulinan barudak”  untuk meningkatkan kecerdasan sosial anak di sanggar kesenian Siloka Citra. Penelitian ini berpijak pada keresahan yang dirasakan oleh pelatih terhadap kurangnya rasa bersosialisasi, berkomunikasi dan berinteraksi antar anak-anak di Sanggar kesenian Siloka Citra. Metode yang digunakan penelitian ini adalah action research yang terdiri dari empat siklus dan sembilan pertemuan. Pada penelitian ini digunakan, foto, video, hasil wawancara dan studi pustaka dalam mencari data yang dibutuhkan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa melalui pembelajaran “kaulinan barudak” ada aspek-aspek serta rangsangan-rangsangan yang dapat mempengaruhi dalam meningkatkan kecerdasan sosial anak. Dilihat dari permainan yang dimainkan melalui  aspek kinestetik selain anak dapat menggerakan tangan, anak bebas mengerakan anggota badannya sesuai dengan yang diinginkan. Aspek kognitif anak mengetahui permainan sesuai dengan kesukaannya. Aspek kebersamaan terlihat pada saat berkumpul membentuk beberapa lingkaran sesuai dengan keinginannya masing-masing. Aspek kreatif, anak dengan senang hati melakukan dan mengembangkan gerak yang akan digunakan dalam pembelajaran. Melalui bermain anak mendapatkan rangsangan untuk membangkitkan fikiran dan semangat, khususnya dalam memotivasi anak menari. Dengan begitu dari proses pembelajaran ini ditemukan sebagai tindakan awal pembelajaran diperkuat dengan cara bermain kaulinan barudak karena proses pembelajaran ini dapat meningkatkan kecerdasan sosial anak di sanggar kesenian Siloka Citra.
FUNGSI PERTUNJUKAN SENI REAK DI DESA CINUNUK KECAMATAN CILEUNYI Hendi Rohendi
JPKS (Jurnal Pendidikan dan Kajian Seni) Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Pendidikan Seni Drama Tari dan Musik, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (270.348 KB) | DOI: 10.30870/jpks.v1i1.853

Abstract

Penelitian ini mengungkap fungsi secara mendalam dari  pertunjukan seni reak di desa Cinunuk kecamatan Cileunyi. Latar belakang permasalahannya yaitu apa fungsi seni reak bagi masyarakat, apa yang dimaksud dengan fungsi ritual, fungsi hiburan , dan fungsi integritas masyarakat, apa nilai filosofis pertunjukan seni reak, bagaimana perkembangan seni reak bisa bertahan sampai saat ini. penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Dengan metode ini penulis melakukan pencarian atau pengumpulan data dan fakta, melalui observasi, wawancara, dan studi pustaka. Hasil penelitian diperoleh data dan fakta bahwa seni reak masih berfungsi dimasyarakat sebagai ritual, hiburan, dan penyatu masyarakat (integritas masyarakat). Sehingga masyarakat desa cinunuk kecamatan cileunyi masih melakukan kegiatan kesenian tersebut.   dimainkan melalui  aspek kinestetik selain anak dapat menggerakan tangan, anak bebas mengerakan anggota badannya sesuai dengan yang diinginkan. Aspek kognitif anak mengetahui permainan sesuai dengan kesukaannya. Aspek kebersamaan terlihat pada saat berkumpul membentuk beberapa lingkaran sesuai dengan keinginannya masing-masing. Aspek kreatif, anak dengan senang hati melakukan dan mengembangkan gerak yang akan digunakan dalam pembelajaran. Melalui bermain anak mendapatkan rangsangan untuk membangkitkan fikiran dan semangat, khususnya dalam memotivasi anak menari. Dengan begitu dari proses pembelajaran ini ditemukan sebagai tindakan awal pembelajaran diperkuat dengan cara bermain kaulinan barudakkarena proses pembelajaran ini dapat meningkatkan kecerdasan sosial anak di sanggar kesenian Siloka Citra. 
PENDIDIKAN SENI SEBAGAI PENUNJANG KREATIFITAS Suhaya Suhaya
JPKS (Jurnal Pendidikan dan Kajian Seni) Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Pendidikan Seni Drama Tari dan Musik, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (225.359 KB) | DOI: 10.30870/jpks.v1i1.837

Abstract

Konsep pendidikan seni di Sekolah Dasar diarahkan pada pembentukan sikap, sehingga terjadi keseimbangan intelektual dan sensibilitas, rasional dan irasional, akal pikiran dan kepekaan emosi. Karena pada masa usia Sekolah Dasar, perkembangan mental dan fisik anak sedang dalam tahap maksimal sehingga untuk mengoptimalkan kreativitasnya maka pendidikan seni merupakan salah satu cara yang tepat untuk digunakan. Pada usia SD  anak masih memiliki kejujuran dan kepolosan dalam berekspresi dan mengembangkan kreativitasnya. Oleh karena itu, pendidikan seni baik seni rupa, seni music, seni tari maupun drama seharusnya dapat menjadi wadah atau sarana bagi anak untuk mengembangkan dan menuangkan kreativitasnya. Kebutuhan akan kreativitas bagi anak tidak hanya bagi kehidupan seninya saja tetapi juga dalam kehidupannya sehari-hari, kreativitas memiliki peranan yang sangat penting. Kreativitas bukan hanya kemampuan untuk menciptakan tetapi lebih dari itu yaitu meliputi kemampuan membaca situasi, kemampuan beradaptasi dengan lingkungan, kemampuan membuat analisis yang tepat, serta kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru yang lain dari pada yang lain. Maka dari itu, melalui pendidikan seni, anak dapat melatih dan meningkatkan kreativitasnya melalui kegiatan-kegiatan seni yang sesuai dengan tujuan pendidikan yang telah ditetapkan, tetapi kegiatan-kegiatan seni yang dilakukan ini tetap menyenangkan bagi anak. 
INTERTEKSTUALITAS DALAM PENCIPTAAN TEATER “SANGKU MENCARI RIANG” Giri Mustika Roekmana
JPKS (Jurnal Pendidikan dan Kajian Seni) Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Pendidikan Seni Drama Tari dan Musik, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (305.543 KB) | DOI: 10.30870/jpks.v1i1.854

Abstract

“Sangku Mencari Riang” adalah cerita yang mempertemukan tokoh Sangkuriang dari Sunda dengan tokoh Oidipus dari Yunani Klasik. Cerita ini dibuat sebagai lanjutan dari cerita rakyat Sangkuriang dari Sunda dengan cerita tragedi dari Yunani karya Sophocles yaitu Oidipus Sang Raja. Melalui kajian intertekstualitas cerita ini menjadi tafsir baru, makna baru dalam sebuah cerita baru “Sangku Mencari Riang”.“Sangku Mencari Riang” ini bercerita tentang Sangku dan Oidipus bertemu di suatu tempat antah berantah, lalu keduanya menceritakan petualangan masing-masing yang tidak membahagiakan sebelumnya. Cerita mereka memang berbeda, kultur merekapun berbeda namun peristiwa hidup mereka memiliki kesamaan yaitu membunuh bapak dan mengawini ibu kandungnya sendiri yang dianggap sebagai sebuah takdir dan nasib yang digariskan oleh Dewata, padahal peristiwa itu terjadi atas ketidaksengajaan dan ketidaktahuan mereka. Setelah keduanya saling mengetahui bahwa keduanya memiliki kesamaan kisah dari cerita mereka sebelumnya, maka keduanya berniat untuk melakukan protes dan memberontak pada Dewata di Kahyangan.  Sangku dan Oidipus kini menjadi satu kesatuan yang satu, satu dalam dua, dua dalam satu, yakni “Sangku“ yang berarti “Sang Aku” yang akan menuntut perubahan nasib dan takdir mereka menjadi lebih baik, sebuah jalan yang dipilih dengan memberontak sang nasib dan takdir untuk mencapai kebenaran dalam meraih kebahagiaan. Merekapun melakukan perjalanan spiritual yang melelahkan untuk mencapai Kahyangan, setelah tiba di pintu gerbang kahyangan mereka di hadang oleh makhluk yang menyerupai Siluman (Sunda) dan Titan (Yunani), terjadilah perkelahian sengit sebagai simbol dari pertarungan diri Sangku dan Oidipus dengan hawa nafsunya sendiri, Sangku dan Oidipus kalah. Munculah Sang Hyang dan Zeus sebagai simbol dari penguasa alam yang menentukan takdir dan nasib manusia. Kedua Dewata itu lalu memberikan pesan bahwa takdir itu adalah sebuah kepastian yang sudah digariskan dan manusia tidak bisa menghindar darinya (kemutlakan), sementara nasib masih mungkin di ubah sepanjang manusia itu sanggup untuk mengubahnya, salah satu caranya dengan mengalahkan nafsu serakah yang ada di dalam diri manusia itu sendiri. Cerita ini akan dipagelarkan dengan pendekatan konsep teater rakyat dari Sunda yang memiliki dinamika struktur yang fleksible dan dinamis. Konsep ini akan dipadu dengan beberapa unsur yang ada di dalam konvensi teater Yunani Klasik, yang di dalamnya terdapat peran Kor dengan kata-kata puitis pada setiap dialognya, juga penggunaan media topeng yang memberikan kesan penajaman karakter, ritualistik dan pandangan estetik bagi penonton. Sehingga kedua konsep ini akan memberikan ruang perspektif baru dalam karya penciptaan seni teater. Maka hasil dari kolaborasi kedua konsep ini akan terlihat sebuah pertunjukan dengan kekuatan-kekuatan musikal, tematik yang esensial, estetika visual, dinamika oral, sehingga memunculkan daya tarik bagi penonton.
PEMAHAMAN KONSEP KURIKULUM DAN PEMBELAJARAN DENGAN PETA KONSEP BAGI MAHASISWA PENDIDIKAN SENI Fuja Siti Fujiawati
JPKS (Jurnal Pendidikan dan Kajian Seni) Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Pendidikan Seni Drama Tari dan Musik, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (237.949 KB) | DOI: 10.30870/jpks.v1i1.849

Abstract

Kurikulum dan Pembelajaran merupakan bagian integral dari sistem pendidikan. Setiap pendidik dan tenaga kependidikan profesional harus memiliki kompetensi  yang meliputi kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial dan profesional. Penguasaan kompetensi pedagogik pada dasarnya tidak dapat dilepaskan dari pemahaman tentang konsep kurikulum dan pembelajaran.  Setiap pendidik dan tenaga kependidikan selain menguasai kemampuan teknis yang relevan dengan tugasnya, harus memiliki pemahaman konseptual mengenai kurikulum dan pembelajaran termasuk kemampuan mengembangkan kurikulum di sekolah. Begitupun bagi mahasiswa pendidikan seni yang akan menjadi calon pendidik dimasa yang akan datang, harus memiliki kompetensi sebagai calon pendidik profesional  yang salah satunya mampu memahami konsep kurikulum dan pembelajaran. Salah satu upaya untuk memahami konsep kurikulum dan pembelajaran bagi mahasiswa pendidikan seni adalah dengan peta konsep.  Peta konsep dikembangkan sebagai strategi untuk dapat menjabarkan kedudukan kurikulum dan pembelajaran dalam sistem pendidikan, sehingga tergambarkan dengan jelas konsep kurikulum dan pembelajaran kaitannya dalam sistem pendidikan bagi mahasiswa pendidikan seni.
DASAR-DASAR BELAJAR REBAB SUNDA Rian Permana
JPKS (Jurnal Pendidikan dan Kajian Seni) Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Pendidikan Seni Drama Tari dan Musik, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (357.159 KB) | DOI: 10.30870/jpks.v1i1.855

Abstract

Rebab adalah sebuah alat musik tradisional Sunda yang yang dimainkan dengan cara digesek. Peranan rebab sangatlah penting karena salah satu fungsinya adalah sebagai pembawa melodi. Orang yang memainkan rebab disebut dengan juru rebab. Pada garap pertunjukan kesenian Sunda, keberadaan seorang juru rebab sangatlah penting, kehadirannya hampir diperlukan disemua jenis pertunjukan kesenian Sunda, misalnya: Wayang Golek, Kiliningan, Ketuk Tilu, Tembang Sunda Cianjuran, Jaipongan dan lain-lain. Akan tetapi jumlah juru rebab yang ada, tidak sebanding dengan banyaknya kebutuhan permintaan pertunjukan kesenian. Jumlah juru rebab lebih sedikit dibanding dengan juru wiyaga yang lainnya. Salah satu faktor penyebab kurangnya juru rebab dibanding dengan juru wiyaga lainnya yaitu masalah sulitnya rebab untuk dipelajari. Oleh karena itu hal-hal yang berkaitan dengan bagaimana cara mempelajari rebab atau sistem pembelajaran rebab sangatlah penting demi kelangsungan perkembangan juru rebab muda di masa yang akan datang. Ditambah pada kenyataan yang ada, sumber referensi mengenai rebab sangat kurang sekali. Tulisan ini berkaitan langsung untuk membahas waditra rebab, bagaimana teknik dasar-dasar memainkan rebab Sunda gaya Priangan. Selain penulis sebagai akademisi pendidik, juga sebagai pelaku seni yang berkecimpung langsung pada waditra rebab. Sesuai dengan permasalahan yang ada dan dari hasil pengalaman pribadi, diperolehlah metode pembelajaran rebab yang dirasa dapat menjadi bahan atau acuan bagi para generasi muda yang ingin mempelajari waditra rebab. Metode pembelajaran rebab tersebut meliputi teknik dasar tengkepan, dan teknik dasar gesekan. 
PEMBELAJARAN TARI KREATIF UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN CINTA LINGKUNGAN PADA ANAK USIA DINI Ratna Yulianti
JPKS (Jurnal Pendidikan dan Kajian Seni) Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Pendidikan Seni Drama Tari dan Musik, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (326.17 KB) | DOI: 10.30870/jpks.v1i1.851

Abstract

Usia dini merupakan masa terpenting dan potensial dalam pertumbuhan anak-anak untuk mendapatkan pengalaman eksplorasi dari segala aspek baik motorik, maupun psikomotorik. TK Bukit Dago Bandung telah 47 tahun menjadi salah satu penyelenggara pendidikan anak usia dini. Sebelumnya, di sekolah ini pembelajaran seni tari masih menjadi kegiatan yang insidental, sehingga siswa memiliki keterbatasan untuk mengekspresikan dirinya melalui gerak. Pembelajaran yang dilakukan menggunakan metode yang terpusat pada guru sebagai model, sehingga anak hanya menirukan dan menghafalkan gerak baku yang dilakukan oleh guru. Dalam proses ini ruang imajinasi dan kreativitas siswa dikesampingkan. Pandangan demikian tentu berbeda jauh apabila memposisikan seni tari sebagai salah satu wadah yang efektif untuk mengantarkan anak-anak melewati dunianya.Gerak sebagai media tari mengajarkan anak-anak untuk berimajinasi, berkreasi dan bereskpresi. Sesuai dengan teori belajar humanistik, pembelajaran tari kreatif merupakan proses aktivitas individu yang perkembangannya ditentukan oleh individu itu sendiri. Melalui perubahan paradigma tersebut, kini di TK Bukit Dago diterapkan pembelajaran tari kreatif (creative dance) bertema lingkungan yang melibatkan siswa secara aktif dalam eksplorasi dan penemuan gerak. Lingkungan hidup dipilih untuk tema tari kreatif karena kesadaran cinta lingkungan harus diajarkan sejak usia dini. Guru bertindak sebagai motivator dan fasilitator yang membantu mengarahkan dan membimbing siswa dalam mengoptimalkan kreativitasnya. Melalui tari kreatif bertema lingkungan siswa mendapatkan pengalaman secara konstruktif dan kreatif. Siswa mendapatkan ruang imajinasi dan ekspresi. Pemilihan peran disesuaikan minat siswa. Menjadi bunga, kupu-kupu, pohon, orang hutan, burung, atau objek lingkungan yang lain merupakan bentuk kebebasan yang dapat dipilih oleh setiap siswa. Peneliti menggunakan metode tindakan kelas (actions research) yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pengajaran siswa. Dari penerapan tari kreatif ini didapatkan materi pembelajaran, proses pembelajaran dan hasil pembelajaran di TK Bukit Dago. Dilengkapi kostum dan properti penuh warna serta diiringi irama musik yang selaras, siswa bergerak penuh semangat dan mengalami pengalaman menyenangkan sesuai kebutuhan anak usia dini. Di sisi lain, kebersamaan, kedisiplinan, kemandirian, tanggungjawab siswa yang terjalin di dalam proses tari kreatif dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap cinta lingkungan.

Page 1 of 1 | Total Record : 7