cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Acta Pharmaceutica Indonesia
ISSN : 0216616X     EISSN : 27760219     DOI : -
Core Subject :
Acta Pharmaceutica Indonesia merupakan jurnal resmi yang dipublikasikan oleh Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung. Jurnal ini mencakup seluruh aspek ilmu farmasi sebagai berikut (namun tidak terbatas pada): farmasetika, kimia farmasi, biologi farmasi, bioteknologi farmasi, serta farmakologi dan farmasi klinik. Acta Pharmaceutica Indonesia is the official journal published by School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung. The journal covers all aspects of pharmaceutical issues which includes these following topics (but not limited to): pharmaceutics, pharmaceutical chemistry, biological pharmacy, pharmaceutical biotechnology, pharmacology and clinical pharmacy.
Arjuna Subject : -
Articles 261 Documents
Antihypertensive Effect of Bay Leaf Extract (Syzygium polyanthum (Wight) Walp., Myrtaceae) Sukrasno, Sukrasno; Anggadiredja, Kusnandar; Dudi, Dudi; Suciatmo, Afifah B.
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol 38, No 4 (2013)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bay leaf (Syzygium polyanthum (Wight) Walp., Myrtaceae) has been recently widely used as traditional medicine in addition to its conventional use as seasoning in cooking. Ethanol insoluble fraction of water extract has been tested for its antihypertensive activity. Bay leaf extract tested in this experiment significantly decreased systole and diastole of rat after being induced with ephinephrine compared to control at 36 mg/kg bw (p < 0.01). At 9 mg/kg decreased systole significantly (p< 0.05) but the decrease of diastole was not significant (p < 0.05), while at 18 mg/kg bw the decrease of systole and diastole were both not significant (p < 0.05). The major component of the extract has been isolated and partially identified by UV and IR spectrophotometry and GC-MS, and it is more likely to be a substituted catechin monomer.Keywords: Syzygium polyanthum, ethanol insoluble aqueous extract, antihypertensive activity.AbstrakSelain digunakan secara konvensional sebagai bumbu masak, daun salam (Syzygium polyanthum (Wight) Walp., Myrtaceae) juga banyak digunakan secara luas sebagai tanaman obat tradisional. Telah dilakukan pengujian aktifitas antihipertensi pada fraksi tidak larut etanol dari ekstrak air daun salam. Ekstrak daun salam yang diujikan pada percobaan ini secara signifikan dapat menurunkan tekanan sistol dan diastol dari tikus yang telah diinduksi oleh epinefrin, dibandingkan dengan tikus kontrol pada 36 mg/kg bb (p< 0,01). Pada konsentrasi 9 mg/kg bb terlihat dapat menurunkan tekanan sistol secara signifikan (p> 0,05), namun tidak menurunkan tekanan diastol secara signifikan (p < 0,05). Sedangkan pada konsentrasi 18 mg/kg bb, penurunan tekanan sistol dan diastol tidak menunjukkan hasil yang signifikan (p < 0,05). Komponen utama dari ekstrak telah berhasil diisolasi dan dilakukan identifikasi sebagian menggunakan spektrofotometer UV, spektrofotometer inframerah, dan KG-SM. Hasil identifikasi menunjukkan kemiripan dengan monomer katekin yang tersubstitusi.Kata kunci: Syzygium polyanthum, ekstrak air tidak larut etanol, aktifitas antihipertensi.
FORMULASI DAN UJI POTENSI ANTIOKSIDAN NANOSTRUCTURED LIPID CARRIER (NLC) RETINIL PALMITAT Sriarumtias, Framesti Frisma; Darijanto, Sasanti Tarini; Damayanti, Sophi
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol 42, No 1 (2017)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1887.255 KB)

Abstract

ABSTRAK Retinil palmitat (RP) merupakan golongan retinioid, yaitu ester vitamin A (Retinol) yang memiliki gugus palmitat pada ujung rantainya. Retinil palmitat banyak digunakan sebagai antioksidan dan anti kerut dalam industri kosmetika. Hal yang perlu diperhatikan dalam formulasi RP yaitu menjaga stabilitas dari panas, cahaya dan oksigen, sehingga perlu dicari sistem yang mampu melindungi RP dari degradasi. Salah satunya dibuat dalam sistem Nanostructured lipid carriers (NLC), sebagaimana diketahui bahwa NLC merupakan sistem penghantaran obat yang bisa meminimalisir degradasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan sistem penghantaran NLC untuk meningkatkan stabilitas serta potensi antioksidan dan meningkatkan difusi RP melalui kulit. Bahan-bahan yang digunakan untuk pembuatan NLC dengan metode teknik mikroemulsi yaitu 4% PEG-8 beeswax dan 4% Isopropil miristat sebagai lipid padat dan lipid cair, 13% Polisorbat 80 sebagai surfaktan, dan 10% Sukrosa stearat sebagai kosurfaktan. Karakterisasi yang dilakukan yaitu pengukuran ukuran partikel dan polidisperistas indeks, efisiensi penjerapan, uji difusi dengan Franz diffusion cell, karakterisasi morfologi dengan Transmission electron microscopy (TEM) dan uji aktivitas antioksidan dengan DPPH. NLC-RP memiliki ukuran partikel 65,63±1,09 nm, indeks polidispersitas 0,32±0,07, efisiensi penjerapan 94,55±0,76%, hasil uji difusi tertinggi yaitu pada NLC-RP 52,58±4,37%, diikuti krim NLC-RP 36,36±1,46%, krim RP 18,70±2,13% dan emulsi RP 18,22±1,50%. Uji stabilitas fisika dan kimia NLC-RP disimpan selama 60 hari pada suhu 25°C RH 65% dan 40°C RH 75% menunjukan bahwa tidak ada perubahan pada kondisi tersebut. Dari penelitian ini didapat kesimpulan bahwa NLC-RP mampu menjaga stabilitas retinil palmitat. Sedangkan NLC-RP yang dimasukan kedalam krim mengalami penurunan kadar sebanyak 58,15% pada suhu ruang dan 70,05% pada suhu 40°C serta penurunan potensi antioksidan akibat keberadaan basis krim.Kata kunci: antioksidan, DPPH, nanostructured lipid carrier, retinil palmitatRETINYL PALMITATE NANOSTRUCTURED LIPID CARRIER (NLC) FORMULATION AND ANTIOXIDANT POTENTIAL TEST ABSTRACT Retinyl palmitate (RP), member of retinoid family is an ester of retinol with palmitate functional group at the end of the chain. RP is commonly used as antioxidants and anti-wrinkle component in cosmetic industry. RP instability requires a formulation system which makes it stable against heat, light and oxygen, such as Nanostructured Lipid Carriers (NLC). NLC is known as notable drug delivery system to minimize degradation. The aim of this research is to develop NLC delivery system to improve stability and antioxidant activity and increase RP diffusion through the skin. Materials used in NLC formulation were obtained using microemulsion technique are 4% PEG-8 beeswax and 4% isopropyl myristate as lipids in solid and liquid form, respectively; 13% polysorbate 80 as surfactant and 10% sucrose stearate as cosurfactant. Characterization NLC were evaluated using particle size measurement, polydispersity index, entrapment efficiency, in vitro diffusion testing using Franz diffusion cell, morphological characterization using Transmission Electron Microscopy (TEM) and antioxidant activity using DPPH. Particle size of NLC-RP was 65,63±1,09 nm, polydispersity index of 0,32±0,07, entrapment efficiency of 94,55±0,76%. Penetration result showed liquid NLC-RP difusion the highest 52,58±4,37%, followed by NLC-RP in cream 36,36±1,46%, RP in cream 18,70±2,13% and RP in emulsion 18,22±1,50%. Physical and chemical stability testing NLC-RP were stored for 60 days at 25°C RH 65% and 40°C RH 75%, the results shown there are no changed in these condition. Research results showed NLC-RP is able to maintain stability of RP, meanwhile NLC RP in cream formulation shows 58.15% amount decrease in room temperature and 70.05% amount decrease at 400C, and antioxidant activity decrease due to cream formulation.Keywords: antioxidant, DPPH, nanostructured lipid carrier, retinyl palmitate
Pengaruh Pengolahan Bahan Terhadap Kadar Dan Komponen Minyak Atsiri Rimpang Zingiber Cassumunar Roxb. Wirasutisna, Komar Ruslan; Sukrasno, -; Nawawi, As’ari; Marliani, Lia
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol 36, No 1 & 2 (2011)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (555.772 KB)

Abstract

Minyak atsiri merupakan salah satu komponen Zingiber cassumunar Roxb. yang memiliki aktivitas farmakologi. Sehubungan dengan potensi pemanfaatan minyak atsiri Zingiber cassumunar Roxb. dalam pengembangan obat, diperlukan jaminan terhadap kualitas bahan yang meliputi kontrol terhadap kualitas bahan baku yang digunakan, termasuk kandungan minyak atsirinya. Penghalusan, pengeringan, dan penyimpanan adalah proses penyiapan bahan yang dapat mempengaruhi kadar minyak atsirinya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pengolahan bahan terhadap kandungan minyak atsiri. Metode penghalusan rimpang segar yang digunakan dalam penelitian ini adalah perajangan (SR) dan penggilingan menggunakan blender (SB). Metode pengeringan yang digunakan adalah pengeringan menggunakan oven 40°C (PO) dan sinar matahari (PM). Sedangkan proses penyimpanan dilakukan dalam tiga tempat berbeda yaitu besek (SSb), karung (SSk), dan keranjang plastik (SSp) selama 14 (A) dan 90 (B) hari. Kadar minyak atsiri setiap sampel ditentukan dan komponennya dianalisa menggunakan kromatografi gas-spektrometri massa (KG-SM). Uji t-test (α=0,05) terhadap kadar minyak atsiri menunjukkan perbedaan signifikan antara SR dengan PO, PM, SSb B, SSk B, dan SSp B. Hal ini berarti bahwa proses pengeringan dan penyimpanan selama 90 hari mempengaruhi kadar minyak atsiri. Hasil GC-MS menunjukkan komponen utama untuk setiap sampel adalah 4-terpeniol (41,52% - 53,15%), beta-pinene (27,63% - 40,48%), gamma-terpinene (3,97% - 6,02%), alpha-terpinene (1,8% - 2,57%), cis-sabinene hidrate (0,91% - 1,98%), trans-sabinene hidrate (0,85% - 2,08%).
Identifikasi Drug Therapy Problems (DTPs) Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Rawat Jalan di Salah Satu RS Swasta di Bandung Yuniar, Cindra Tri; Sukandar, Elin Yulinah; Lisni, Ida
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol 37, No 2 (2012)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.564 KB)

Abstract

Menurut data WHO tahun 2000, Indonesia menempati urutan ke-4 terbesar dalam jumlah pasien diabetes melitus di dunia. Data angka kematian dan resiko komplikasi diabetes melitus menunjukkan pentingnya pemberian terapi dan pencapaian keberhasilan dari terapi diabetes melitus. Dalam hal ini peran farmasis sangat dibutuhkan untuk menjamin bahwa pengobatan yang diterima pasien adalah pengobatan yang rasional, dengan cara mengidentifikasi dan mencegah terjadinya masalah-masalah yang berkaitan dengan terapi obat (Drug Therapy Problems). Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi dan mengelompokkan kejadian Drug Therapy Problems (DTPs) dalam rangka meningkatkan therapeutic outcome pasien. Data resep pasien dan rekam medik dikumpulkan pada periode September-November 2009 secara retrospektif. Dari penelitian terhadap 63 pasien diabetes melitus tipe 2 rawat jalan, terdapat 41 pasien (65,08%) mengalami DTPs, dengan rincian 2 pasien (4,88%) membutuhkan terapi obat tambahan, 6 pasien (16,63%) menerima terapi obat yang tidak diperlukan, 5 pasien (12,20%) menerima dosis terlalu rendah, 16 pasien (39,02%) mengalami reaksi obat merugikan, 1 pasien (2,44%) menerima dosis terlalu tinggi, dan 11 pasien (26,83%) dengan interaksi obat. Reaksi obat merugikan merupakan DTPs yang paling sering muncul pada kedua kelompok pasien; 38,71% kejadian pada pasien dewasa dan 40% pada pasien geriatri. Analisis DTPs ini menunjukkan bahwa peran farmasis penting dalam mencapai keberhasilan terapi dan mencegah terjadinya reaksi obat merugikan.Kata kunci: drug therapy problems, diabetes melitusAccording to the WHO in 2000, Indonesia is in fourth position based on numbers of peoples suffer from diabetes mellitus. Numbers of death and complication risk shows how important therapy and progressing achievement from the diabetes therapy. Therefore, pharmacist is definitely needed to guarantee that the medication on the patient is rational, by identifying and avoiding DTPs. The aim of this research was to identify and classify DTPs incidences in order to increase patient’s therapeutic outcome. This retrospective study was conducted by collection of the patient’s prescription and medical record within September-November 2009 period. The result to 63 patients of diabetes mellitus type 2, showed that 41 patients (65.08%) had DTPs, 2 patients (4.88%) need additional drug therapy, 6 patients (16.63%) showed unnecessary drug therapy, 5 patients (12.20%) received too low dose, 16 patients (39.02%) showed adverse drug reactions, 1 patient (2.44%) received too high dose, and 11 patients (26.83%) with drug interactions. Adverse drug reaction is the most occasional DTPs event in both group of patients;38.71% in adults and 40% in geriatric patients.Keywords: drug therapy problems, diabetes mellitus
Evaluasi Penggunaan Obat Tuberkulosis pada Pasien Rawat Inap di Ruang Perawatan Kelas III di Salah Satu Rumah Sakit di Bandung Sukandar, Elin Yulinah; Hartini, Sri; Hasna, Hasna
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol 37, No 4 (2012)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (450.668 KB)

Abstract

Tuberkulosis (TB) merupakan salah satu penyebab kematian utama yang diakibatkan oleh infeksi. Ditemukan drug-related problems pada 86 pasien tuberkulosis rawat inap di ruang perawatan kelas III di salah satu rumah sakit di Bandung. Ketidaksesuaian dosis sebesar 19,82% dengan kejadian dosis yang berada di bawah rentang normal adalah 18,15% dan dosis yang berada di atas rentang normal 1,67%. Potensi kejadian interaksi obat sebesar 84,88% dengan tipe interaksi kuat (29%), sedang (63,92%), dan lemah (7,08%). Reaksi obat merugikan (ROM) yang dicantumkan sebagai diagnosis pasien yaitu sebesar 6,98% dengan ROM tipe A sebesar 4,65% dan ROM tipe B sebesar 2,33%. Indikasi tidak tertangani sebesar 13,96% dengan 2 kategori yaitu pasien dengan 1 indikasi tidak tertangani (10,47%) dan pasien dengan 2 indikasi tidak tertangani (3,49%). Medikasi tanpa indikasi sebesar 11,63%. Tidak ditemukan kegagalan menerima medikasi dan seleksi obat tidak sesuai.Kata kunci: tuberkulosis, evaluasi penggunaan obat, drug-related problems.Tuberculosis is one of infection disease which causes mortality. There were drug-related problems in 86 tuberculosis hospitalized patients in the third class ward in one of hospital in Bandung. Inappropriate doses incidence was 19.82% with dose under normal range was 18.15% and dose above normal range was 1.67%. Potential drug interactions incidence was 84.88% with each type of drug interactions are major (29%), moderate (63.92%), and minor (7.08%). Adverse drug reactions (ADR) incidence was 6.98% with ADR type A was 4.65% and ADR type B was 2.33%. Untreated indications incidence was 13.96% with 2 category that was patient with 1 untreated indication (10.47%) and patient with 2 untreated indications (3.49%). Medication use without indication incidence was 11.63%. This research didn’t find failure to receive medication incidence and improper drug selections incidence.Keywords: tuberculosis, drug use evaluation, drug-related problem.
Optimasi Reaksi Transesterifikasi Minyak Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) dan Penetapan Kadar Metil Ester Asam Lemak Menggunakan Kromatografi Gas Damayanti, Sophi; Yuanita, Vita; Kartasasmita, Rahmana Emran
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol 38, No 1 (2013)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (418.761 KB)

Abstract

Indonesia merupakan produsen minyak kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) terbesar di dunia. Pengolahan menjadi produk turunannya dapat meningkatkan nilai ekonomi minyak kelapa sawit. Salah satu produk turunannya adalah metil ester asam lemak yang memiliki banyak kegunaan dalam industri pangan, farmasi dan kosmetik. Metil ester asam lemak dihasilkan melalui reaksi transesterifikasi minyak kelapa sawit. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kondisi optimum reaksi transesterifikasi minyak kelapa sawit. Optimasi diamati berdasarkan penetapan kadar metil ester asam lemak secara semikuantitatif menggunakan metode kromatografi gas. Metil ester asam lemak disintesis dari minyak kelapa sawit menggunakan katalis natrium hidroksida dan kalium hidroksida masing-masing pada suhu 40, 50 dan 60 ºC selama 1, 2 dan 3 jam. Metil ester asam lemak yang diperoleh dinetralkan dan dicuci. Baku metil ester asam lemak disintesis dari asam palmitat. Kadar metil ester asam lemak ditentukan menggunakan kromatografi gas dengan kolom DB-Wax 30 m x 0,25 mm, detektor FID, dan kondisi oven pada suhu 50 ºC selama 1 menit, kemudian dinaikkan 25 ºC /menit sampai 200 ºC, lalu dinaikkan kembali 3 ºC /menit sampai 230 ºC dan ditahan selama 18 menit. Kadar asam lemak bebas dari minyak kelapa sawit dan metil ester asam lemak ditentukan dengan metode titrasi. Rata-rata bobot hasil reaksi transesterifikasi menggunakan katalis natrium hidroksida dan kalium hidroksida adalah masing-masing 84,63±2,63 dan 84,25±4,77 g. Rata-rata kadar asam lemak bebas metil ester asam lemak hasil reaksi transesterifikasi menggunakan katalis natrium hidroksida dan kalium hidroksida adalah 0,68±0,03% dan 0,65±0,03 %. Kondisi optimum reaksi transesterifikasi minyak kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) menggunakan katalis natrium hidroksida dan kalium hidroksida masing-masing adalah pada suhu 60 ºC selama 1 jam, sebesar 34,20% (b/v) dan pada suhu 50 ºC selama 2 jam, sebesar 32,40% (b/v).Kata kunci: Transesterifikasi, minyak kelapa sawit, metil ester asam lemak, kromatografi gas, katalis basa. AbstractIndonesia is the largest producer of crude palm oil (Elaeis guineensis Jacq.) in the world. Processing into derived products can increase the economic value of crude palm oil. One of the derived products is the fatty acid methyl esters that have many uses in the food, pharmaceuticals and cosmetic industry. Fatty acid methyl ester is produced through transesterification reaction of crude palm oil. The aim of this research is to obtain the optimum condition of transesterification reaction of crude palm oil. Optimization was observed by the assay of fatty acid methyl esters as semi-quantitative using gas chromatography method. Fatty acid methyl esters were synthesized from crude palm oil using catalysts sodium hydroxide and potassium hydroxide respectively at 40, 50 and 60 ºC for 1, 2 and 3 hours. The fatty acid methyl esters obtained were neutralized and washed. The standard of fatty acid methyl ester was made by palmitic acid synthesis. The assay of fatty acid methyl esters was carried out using gas chromatography equipped with 30 m x 0,25 mm DB-Wax column, flame ionization detector (FID), using oven temperature at 50 °C, 1 minute, 25 °C /minute to 200 °C, 3 °C /minute to 230 °C, 18 minutes and determination of free fatty acid content from crude palm oil and fatty acid methyl esters. The average mass of the result of the transesterification reaction using sodium hydroxide and potassium hydroxide as catalyst were 84.63±2.63 and 84.25±4.77 g, respectively. The average of free fatty acid content of fatty acid methyl ester synthesized using sodium hydroxide and potassium hydroxide as catalyst were 0.68±0.03 % and 0.65±0.03 %. The optimum conditions of the transesterification reaction of crude palm oil (Elaeis guineensis Jacq.) using sodium hydroxide and potassium hydroxide as catalyst were at 60 ºC for 1 hour and at 50 ºC for 2 hours, which were 34.20% (w/v) and 32.40% (w/v), respectively.Keywords: Transesterification, crude palm oil, fatty acid methyl ester, gas chromatography, base catalyst.
Front Matter Vol 38 No 4 (2013) Indonesia, Acta Pharmaceutica
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol 38, No 4 (2013)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (681.242 KB)

Abstract

Uji Aktivitas Antistres dan Sedatif Minyak Biji Pala (Myristica fragrans Houtt.) pada Mencit Jantan Galur Swiss Webster Adnyana, I Ketut; Nugrahani, Retta; Suwendar, Suwendar; Zazuli, Zulfan
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol 37, No 2 (2012)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (235.347 KB)

Abstract

Telah diteliti efek antistres minyak biji pala (Myristica fragrans Houtt.) yang diberikan secara oral dan aromaterapi secara inhalasi pada mencit jantan Swiss Webster yang diinduksi stres dengan cara imobilisasi. Efek antistres ditentukan berdasarkan jumlah perpindahan mencit dalam kotak transisi terang-gelap dan lama tidur yang diinduksi dengan tiopental. Mencit yang stres ditandai dengan penurunan bobot badan yang bermakna (p<0,05). Minyak biji pala yang diberikan secara oral dengan dosis 16,90 μL/kg bobot badan dan secara aromaterapi dengan konsentrasi 0,4 g/mL dalam minyak kelapa dengan lama inhalasi dua jam memperpanjang waktu tidur (berturut-turut sebesar 208,29±159,63 menit dan 531,00±265,22 menit) secara bermakna (p<0,05) dibadingkan terhadap kontrol (38,00±7,70 menit). Efek antistres minyak biji pala ditandai dengan peningkatan jumlah perpindahan mencit dalam kotak transisi terang-gelap yang berbeda bermakna bermakna dibandingkan terhadap kontrol (9,71±2,98 kali dan 6,71±3,03 kali secara berurutan, p<0,05).Kata kunci: minyak biji pala, Myristica fragrans Houtt, antistres, sedatif.The antistress effect of nutmeg seed oil (Myristica fragrans Houtt.) given orally and as an aromatherapy through inhalation had been evaluated in stressed-male Swiss Webster mice induced by immobilization. The antistress effect was determined based on total number of crossings of mice in light-dark transition box and sleep duration induced by thiopental. Stressed mice were indicated by significant decreased of mice body weight (p<0.05). Nutmeg oil given orally at 16.90 μL/kg body weight and as aromatherapy at concentration of 0.4 g/mL in virgin coconut oil through inhalation for two hours prolonged sleep duration (208.29±159.63 minutes and 531.00±265.22 minutes respectively) significantly (p<0.05) compared to that of control (38.00±7.70 minutes). The nutmeg oil given as aromatherapy by inhalation for two hours significantly increased total number of crossing of mice in light-dark transition box compared to that of control (9.71±2.98 times and 6.71±3.03 times respectively, p<0.05) indicated the antistress effect.Keywords: nutmeg seed oil, Myristica fragrans Houtt, antistress, sedative.
Studi Dinamika Molekul Dendrimer Pamam G3 Terkonjugasi Ho(III) DTPA dan Asam Folat pada Suhu 25°C dan 37°C dalam Kondisi Vakum dan Berair sebagai Senyawa Pengontras Magnetic Resonance Imaging (MRI) Ramdhani, Danni; Miftah, Amir Musadad; Mutalib, Abdul
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol 37, No 4 (2012)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (540.329 KB)

Abstract

Telah dilakukan pemodelan molekul dendrimer PAMAM G3 terkonjugasi Holmium(III)-asam dietilen triamin penta asetat (DTPA) dan asam folat dalam kondisi vakum dan berair pada suhu 25 °C dan 37 °C dengan menggunakan program ChemBio 3D 12.0. Senyawa ini diharapkan dapat digunakan sebagai senyawa pengontras MRI yang spesifik untuk diagnostik sel kanker dan juga dapat berperan sebagai terapi kanker. Sebelum dilakukan pemodelan molekul dan studi dinamika molekul, terlebih dahulu dilakukan parameterisasi untuk senyawa Holmium yang belum terdapat pada program Chem 3D. Parameterisasi, meliputi panjang ikatan, sudut ikatan, sudut dan konstanta gaya masing-masing. Selanjutnya dilakukan pemodelan molekul dengan program chem draw dan perhitungan dinamika molekul dengan melihat nilai dari kestabilan energi total dan energi potensial. Hasil simulasi dinamika molekul didapat nilai energi potensial dan energi total dari senyawa PAMAM G3 terkonjugasi Ho(III)DTPA dan asam folat yang paling stabil pada suhu 25 °C dalam kondisi berair.Kata kunci: PAMAM, DTPA, Holmium, dinamika molekul, energi total, energi potensial.Molecular modeling has been carried out G3 PAMAM dendrimer conjugated Holmium (III)-penta acetic acid diethylene triamin (DTPA) and folic acid in vacuum and aqueous conditions at 25 °C and 37 °C by using the program ChemBio 3D 12.0. These compounds are expected to be used as MRI contrast compounds that specific for diagnostic cancer cells and also serve as a cancer therapy. Prior to molecular modeling and molecular dynamics studies, first performed Holmium parameterization for compounds that have not been found on the Chem 3D program. Parameterization, including bond lengths, bond angles, angles and force constants respectively. Further molecular modeling performed with the program chem draw and molecular dynamics calculations to see the value of the stability of the total energy and potential energy. Molecular dynamics simulation results obtained value of the potential energy and total energy of the compound conjugated PAMAM G3 Ho (III) DTPA and folic acid is most stable at 25 ° C in aqueous conditions.Keywords: PAMAM, DTPA, Holmium, molecular dynamics, total energy, potential energy.
Front Matter Vol 38 No 1 (2013) Indonesia, Acta Pharmaceutica
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol 38, No 1 (2013)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (115.698 KB)

Abstract

Page 6 of 27 | Total Record : 261