cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Acta Pharmaceutica Indonesia
ISSN : 0216616X     EISSN : 27760219     DOI : -
Core Subject :
Acta Pharmaceutica Indonesia merupakan jurnal resmi yang dipublikasikan oleh Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung. Jurnal ini mencakup seluruh aspek ilmu farmasi sebagai berikut (namun tidak terbatas pada): farmasetika, kimia farmasi, biologi farmasi, bioteknologi farmasi, serta farmakologi dan farmasi klinik. Acta Pharmaceutica Indonesia is the official journal published by School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung. The journal covers all aspects of pharmaceutical issues which includes these following topics (but not limited to): pharmaceutics, pharmaceutical chemistry, biological pharmacy, pharmaceutical biotechnology, pharmacology and clinical pharmacy.
Arjuna Subject : -
Articles 261 Documents
Aktivitas Antijamur Fusarium oxysporum Schlecht dari Tanaman Asli Indonesia Karlina, Yenni; Sukrasno, Sukrasno; Aryantha, I Nyoman Pugeg
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol 38, No 3 (2013)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Telah dilakukan penelitian aktivitas antijamur ekstrak metanol dari tujuh belas simplisia, yaitu rimpang dringo (Acorus calamus L.), umbi lapis bawang putih (Allium sativum L.), rimpang lengkuas (Alpinia galanga (L.) Wild.), rimpang kunyit (Curcuma domestica Val.), daun kayu manis (Cinamomum burmanii), daun sereh wangi (Cymbopogon nardus), herba urang aring (Eclipta alba), daun sirih (Piper betle L.), daun ketepeng (Cassia alata L.), rimpang temu putih (Curcuma zedoaria (Christin) Rosc.), rimpang temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.), rimpang jahe (Zingiber officinale Rosc.), bunga dan daun cengkeh (Syzygium aromaticum(L.) Merrill and Perry), kulit buah manggis (Garcinia mangostana L.), herba babadotan (Ageratum conyzoides L.),dan daun sirih merah (Piper crocatum ) terhadap pertumbuhan jamur Fusarium oxysporum Schlecht. Uji aktivitas antijamur menggunakan metode difusi agar dengan menghitung prosentase penghambatan pertumbuhan radial miselium jamur pada hari ke tujuh. Konsentrasi ekstrak metanol yang digunakan untuk uji aktivitas antijamur, yaitu 2,5%, 5%, dan 10%. Ekstrak metanol daun sirih, bunga dan daun cengkeh memiliki aktivitas antijamur tinggi, yaitu 76-100%, Ekstrak metanol kunyit, dringo, temulawak, jahe memiliki aktivitas < 50%. Ekstrak metanol babadotan, bawang putih, lengkuas, ketepeng, temuputih, sereh wangi, sirih merah, manggis, kayu manis, dan urang aring tidak memiliki aktivitas antijamur Fusarium.Kata kunci : Antijamur, Fusarium oxysporium, tanaman obat.AbstractAntifungal activity of methanol extracts from 17 crude drugs, i.e. rhizome of Acorus calamus, bulbs of Allium sativum L, rhizome of Alpinia galanga L., rhizome of Curcuma domestica Val., leaves of Cinamomum burmanii, leaves of Cymbopogon nardus, leaves of Eclipta alba, leaves of Piper betle L., leaves of Cassia alata L., rhizome of Curcuma zedoaria Christin., rhizome of Curcuma xanthorrhiza Roxb, rhizome of Zingiber officinale Rosc., flower and leaves of Syzygium aromaticum, peel of Garcinia mangostana, herbs of Ageratum conyzoides, and leaves of Piper crocatum against fungi growth Fusarium oxysporum Schlecht. Antifungal activity was tested using agar diffusion method by calculating the percentage inhibition of fungal mycelium radial growth on the seventh day of incubation. Concentrations of the methanol extracts used were 2.5%, 5%, and 10% w/v. Methanol extract of Piper betle leaf, flower and leaf of clove, had a high antifungal activity 76-100%. Methanol extract of turmeric, dringo, ginger, had activity <50%. Methanol extract of babadotan, garlic, galangal, candle bush, white turmeric, citronella grass, red betel, mangosteen, cinnamon, and bhringraj did not have antifungal fusarium activity.Keyword : Antifungal activity, Fusarium oxysporium , medicinal plants.
Uji Aktivitas Antitukak Ekstrak Etanol Daun Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi L.) dan Daun Dewa (Gynura pseudochina (L.) DC.) pada Tikus Wistar Betina yang Diinduksi Etanol Sukandar, Elin Yulinah; Safitri, Dewi; Pamungkas, Aryo Dimas
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol 39, No 3 & 4 (2014)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1492.528 KB)

Abstract

Daun belimbing wuluh dan daun dewa merupakan bagian dari tanaman obat Indonesia dan telah banyak digunakan dalam pengobatan tukak secara tradisional. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi aktivitas ekstrak daun belimbing wuluh dan daun dewa pada model hewan yang diinduksi tukak peptik. Parameter Indeks Tukak (IT) ditentukan setelah kelompok uji diberikan ekstrak 96% tanaman uji dengan dosis 50 mg/kg bb, 100 mg/kg bb, dan 150 mg/kg bb secara oral. Omeprazol 20 mg/kg bb diberikan secara oral sebagai obat pembanding. Etanol 96% dengan dosis 5 mL/kg bb diberikan secara oral 1 jam setelah pemberian ekstrak/pembanding. Ekstrak etanol kedua tumbuhan uji memiliki aktivitas antitukak yang ditunjukkan dengan adanya penurunan nilai IT dan diantara kedua tanaman uji, ekstrak etanol daun dewa dengan dosis 150 mg/kg bb menunjukkan aktivitas antitukak yang lebih baik, ditunjukkan dengan nilai IT sebesar 4,50. Pemberian ekstrak etanol daun belimbing wuluh dan ekstrak daun dewa memiliki potensi menghambat pembentukan tukak, seiring dengan peningkatan dosis yang diberikan.Kata Kunci: tukak lambung, antitukak, Indeks Tukak, belimbing wuluh, daun dewaAbstractAverrhoa bilimbi L. and Gynura pseudochina (L.) DC. leaves are parts of Indonesian medicinal plants which have been used traditionaly. This study was carried out to evaluate anti-ulcer activity of ethanol extract of belimbing wuluh and daun dewa on peptic ulcer model. Anti-ulcer activity was assessed by measuring Ulcer Index (UI). It was determined after oral administration of each leaves extract, at the doses of 50, 100 and 150 mg/kg bw. Omeprazole 20 mg/kg bw was used as reference drug. 95% ethanol at 5 mL/kg bw was given orally 1 hour after the administration of the extracts/reference drug.The ethanol extract of both plants had an anti-ulcer activity as known by their potency to decrease UI. Gynura pseudochina extract at 150 mg/kg bw showed better anti-ulcer activity than the other test doses. Administration of belimbing wuluh and daun dewa extract were potential to prevent gastric ulcer in dose-dependent manner.Keywords: gastric ulcer, anti-ulcer, Ulcer Index, Averrhoa bilimbi, Gynura pseudochina
Penetapan Kadar Genistein Biji Kedelai (Soya max Piper) Lokal dan Impor Secara Densitometri Lapis Tipis dan KCKT Kusmardiyani, Siti; Dwijayanti, Asri; Wirasutisna, Komar Ruslan
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol 37, No 1 (2012)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.147 KB)

Abstract

Biji kedelai (Soya max Piper) impor sangat banyak digunakan di Indonesia terutama sebagai bahan baku utama makanan olahan seperti tahu dan tempe. Genistein, senyawa isoflavon dalam biji kedelai, dilaporkan memiliki aktivitas estrogenik dan antioksidan kuat. Penelitian ini bertujuan menetapkan kadar genistein biji kedelai lokal dan impor serta menemukan metode penetapan kadar tanpa preparasi sampel yang dapat dikerjakan dalam waktu singkat. Simplisia biji kedelai diekstraksi dengan cara panas menggunakan metanol. Sebagian simplisia didelipidasi terlebih dahulu dengan n-heksana sebelum diekstraksi. Kadar genistein ditetapkan secara densitometri lapis tipis dan kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT). Secara berurutan, kadar genistein biji kedelai lokal dan impor ditetapkan secara densitometri lapis tipis adalah 19,51±4,59 μg/g dan 21,69±3,98 μg/g. Sedangkan secara KCKT adalah 19,99±3,79 μg/g dan 21,12±3,19 μg/g. Kadar genistein biji kedelai lokal dan impor secara densitometri lapis tipis dan KCKT tidak berbeda bermakna pada aras keberartian 0,05.Kata kunci : Soya max, kedelai, genistein.Imported soybean seed is widely used in Indonesia especially as the main ingredient for tofu and soybean cake (tempe). Genistein, an isoflavone in soybean seed, has an estrogenic activity and act as a strong antioxidant. Besides quantifying genistein in the local and imported soybean seeds, this research was also aimed to find a fast and simple quantitative method. Soybean seed crude drugs were extracted by reflux using methanol. Some parts of the crude drug were delipidated using n-hexane before extracted. Genistein was determined using thin layer densitometry and high performance liquid chromatography (HPLC). Quantity of genistein in local and imported soybean seeds determined by thin layer densitometer were 19.51±4.59 μg/g and 21.69±3.98 μg/g, respectively. While the quantity obtained by HPLC were 19.99±3.79 μg/g and 21.12±3.19 μg/g, respectively. Both methods showed no significant difference in probability of 0.05.Keywords: Soya max, soybean, genistein.
Formulasi Natrium Ascorbyl Phosphate dalam Mikroemulsi A/M VCO Suciati, Tri; Patricia, Lisa
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol 37, No 3 (2012)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (277.876 KB)

Abstract

Dilakukan pengembangan formulasi mikroemulsi A/M untuk menghasikan permeasi tertinggi dari Natrium Ascorbyl Phosphate (NAP) sebagai turunan vitamin C yang stabil. Mikroemulsi dibuat dengan menggunakan VCO sebagai basis minyak, gliserin sebagai kosurfaktan, dan kombinasi Tween 80 – Span 80 sebagai surfaktan. Hasil mikroemulsi diperoleh pada konsentrasi surfaktan 27,5% dengan rasio Tween 80-Span 80 3:1, konsentrasi kosurfaktan gliserin 30%, dan fasa dalam 15%. Pada pengamatan organoleptik, sediaan mikroemulsi memiliki penampilan jernih kuning tanpa pemisahan fasa setelah dilakukan uji sentrifuga, freeze-thaw, danpenyimpanan 28 hari di suhu ruang dan 40°C. Sediaan memiliki viskositas rata-rata 375 cps dan pH rata-rata 6,80±0,21dengan jumlah rata-rata NAP terdifusi 850,56 μg/cm2 atau sebanyak 75,75% selama 8 jam penentuan in vitro dengan membran kulit ular. Mikroemulsi A/M berpotensi untuk dikembangkan sebagai pembawa NAP dalam kosmetik antikerut.Kata kunci: mikroemulsi, NAP, vitamin C, VCO. Optimization of formulation was done to develop a W/O microemulsion formulation to yield highest diffusion of Natrium Ascorbyl Phosphate (NAP) as the stable form of vitamin C. Microemulsions were made using using VCO as the oil phase, options of ethanol or glycerin as cosurfactant, and combination of Tween 80 and Span 80 as surfactants. Microemulsion was obtained at surfactant concentration of 27.5% with a 3:1 ratio of Tween80-Span80, 30% of glycerin as cosurfactant, and 15% of the inner phase. The organoleptic of preparations had a clear, transparent yellowish appearance without phase separation after centrifugation test, freeze-thaw test, and 28 days of storage at room temperature and 40°C. Preparations had 375 cps of average viscosity and 6.80±0.2 pH with 850.56μg/cm2 or 75.75% of NAP diffused after 8 hoursin vitro testing using snake’s skin as the membrane. Microemulsion W/O is potential to be developed as a carrier for NAP in anti-wrinkle cosmetics.Keywords: microemulsion, NAP, vitamin C, VCO.
Formulasi Sampo Anti Ketombe yang Mengandung Tea Tree Oil dan Pengujian Aktivitas Sediaan Terhadap Malassezia furfur Pamudji, Jessie S.; Wibowo, Marlia Singgih; Angelia, Angelia
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol 39, No 1 & 2 (2014)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (420.339 KB)

Abstract

Ketombe adalah salah satu masalah kulit kepala yang umum ditemukan yang disebabkan oleh jamur seperti Malassezia furfur. Tea tree oil telah diketahui memiliki aktivitas anti jamur terhadap M. furfur. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan tea tree oil sebagai zat aktif dalam sampo anti ketombe. Penentuan konsentrasi hambat minimum (KHM) tea tree oil dilakukan dengan metode pengenceran agar terhadap M. furfur. Optimasi sediaan dilakukan dengan berbagai konsentrasi natrium lauril sulfat dan setosteril alkohol sebagai surfaktan serta propilen glikol dan gliserin sebagai humektan. Evaluasi sediaan meliputi uji tinggi dan kestabilan busa; uji tegangan permukaan; pemeriksaan organoleptik; viskositas; pH. Sedangkan pengujian stabilitas fisik sampo dilakukan dengan metode freeze-thaw, sentrifugasi, dan uji dipercepat menggunakan climatic chamber pada 40°C, 75% RH. Uji aktivitas anti jamur sampo terhadap M. furfur juga dilakukan. Nilai KHM untuk tea tree oil adalah 3,5% b/v terhadap 2 x 103 CFU/mL M. furfur. Sediaan yang dihasilkan memiliki tinggi busa 206,67 ± 5,51 mm dalam air suling dan 150,00±7,33 mm dalam air sadah 600 ppm, viskositas 66,7 ± 11,95 cPs, serta pH 8,18 ± 0,36. Sediaan tidak mengalami pemisahan fasa selama uji stabilitas fisik namun terjadi perubahan warna menjadi kuning, mulai siklus kedua pada freeze-thaw dan setelah tujuh hari penyimpanan pada climatic chamber. Warna ini semakin pekat sejalan dengan waktu evaluasi, namun tidak mempengaruhi aktivitas anti jamur dari sediaan sampo. Sampo anti ketombe yang dikembangkan dengan formula yang terdiri dari 15% tea tree oil, 15% natrium lauril sulfat, 2% setostearil alkohol, dan 10% propilen glikol, terbukti memiliki aktivitas terhadap M. furfur.Kata kunci:sampo anti ketombe, tee tree oil, Malassezia furfurAbstractDandruff is a common scalp disorder caused by fungi such as Malassezia furfur. Tea tree oilis well known for its antifungal activity against M. furfur. This study aimed to formulate tea tree oil as an active ingredient for anti-dandruff shampoo. Determination of minimum inhibition concentration (MIC) of tea tree oil was performed using agar dilution method againts M. furfur. Optimation of formula was conducted using various combinations of sodium lauryl sulphate and cetoctearyl alcohol as surfactant, and propilene glycol and glycerin as humectant. The shampoo was evaluated for its foam height and foam stability; surface tension; organoleptic appearance; viscosity; pH. While the physical stability of shampoo was evaluated using freezethaw and centrifugation methods, and also accelerated stability test method using climatic chamber at 40°C, 75% RH .The activity of anti-dandruff againts M. furfur was also conducted. The MIC of tea tree oil was 3.5% b/v againts 2 x 103 CFU/mL of M. furfur. The product had 206.67±5.51 mm of foam in distilled water and 150.00±7.33 mm of foam in 600 ppm of hard water, viscosity about 66.7±11.95 cPs and pH 8.18±0.36. There was no phase separation occured on the product during evaluation of physical stability, but yellow colour appeared after second cycle at freeze-thaw and after one week storage at climatic chamber. This colour became darker during evaluation time, but it did not affect the antifungal activity of shampoo.Anti-dandruff shampoo that was formulated by 15% of tea tree oil, 15% of sodium lauryl sulphate, 2% of cetoctearyl alcohol, and 10% of propylene glycol, was proved to be effective against M. furfur.Keywords:anti dandruftshampoo, tea tree oil, Malassezia furfur
Isolation of Flavonoid from Jackfruit Leaves (Artocarpus heterophyllus Lamk.) and its Antioxidant Activity Riyanti, Soraya; Sunardi, Clara; Falah, Sana Nurul
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol 38, No 2 (2013)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (151.247 KB)

Abstract

The flavonoid compound was successfully isolated from jackfruit leaves (Artocarpus heterophyllus Lamk.). Extraction was done by maceration with methanol-water (9:1), followed by methanol-water (1:1) as a solvent. Hydrolyzed extract was obtained by adding of 2NHCl, then extracted with ethyl acetate and monitored by thin layer chromatography (TLC) with nhexane-ethyl acetate (3:5) as a mobile phase. Separation was performed by column chromatography, followed by preparativethin layer chromatography. Purity of isolates was determined by 2-dimensional thin layer chromatography. Characterization of isolate were carried out by ultraviolet-visible spectrophotometry and infrared spectrophotometry. The result showed a maximum absorbance of bands I at 328.4 nm and 271 nm for bands II. Characterization of isolate by infrared spectrophotometry showed the presence of functional groups OH, CH, C = C, C = O, CC, and CO. Based on the data, the isolate identified as a flavonoid compound. Antioxidant activity of ethyl acetate fraction and column fraction by 1,1-diphenyl-2-picryl-hydrazyl (DPPH) assay showed EC50 at 60.53 mg/mL and 35.27 μg/mL respectively.Key words: Artocarpus heterophyllus Lamk., flavonoid, 1,1-diphenyl-2-picryl-hydrazyl (DPPH), EC50. AbstrakSenyawa flavonoid berhasil diisolasi dari daun belimbing (Artocarpus heterophyllus Lamk.). Ekstraksi dilakukan dengan cara maserasi menggunakan metanol-air (9:1), diikuti dengan metanol-air (1:1) sebagai pelarut. Hasi dari ekstrak yang terhidrolisis didapatkan dengan menambahkan 2NHCl, kemudian diekstraksi dengan etil asetat dan diamati menggunakan kromatografi lapis tipis (KLT) dengan campuran n-heksana-etil asetat (3:5) sebagai fase gerak. Pemisahan dilakukan menggunakan kromatografi kolom yang dilanjutkan dengan kromatografi lapis tipis preparative. Kemurnian dari isolat ditentukan dengan cara kromatografi lapis tipis 2-dimensi. Karakterisasi isolat ditunjukkan dengan spektrofotometer UV-Vis dan inframerah. Hasil spektrum menujukkan adanya absorbansi maksimum dari pita I pada 328,4 nm dan 271 nm untuk pita II. Karakterisasi dari isolat menggunakan spektrofotometer inframerah menunjukkan adanya gugus fungsional OH, CH, C=C, C=O, CC, dan CO. Berdasarkan data tersebut, isolat teridentifikasi sebagai senyawa flavonoid. Aktivitas antioksidan dari fraksi etil asetat dan fraksi kolom menggunakan pengujian 1,1-difenil-2-pikril-hidrazil (DPPH) menunjukkan EC50 pada 60,53 mg/ml dan 35,27 μg/mL.Kata kunci : Artocarpus heterophyllus Lamk., flavonoid, 1,1-difenil-2-pikril-hidrazil (DPPH), EC50
Hubungan Kuantitatif Struktur dan Aktivitas Senyawa Turunan 5,5’-Indirubin-3’-oxime yang Menghambat Cyclin-Dependent Kinase (CDK) 2 Pangestoe, Ferlianti Oktaviani; Tjahjono, Daryono Hadi
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol 38, No 4 (2013)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Senyawa turunan 5,5-indirubin-3’-oxime memiliki potensi sebagai antikanker dengan menghambat aktivitas cyclin-dependent kinase (CDK), yaitu sekelompok protein kinase yang terlibat dalam proses kontrol siklus sel, regulasi transisi dari satu fase ke fase lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh persamaan HKSA terbaik, mendisain senyawa turunan baru yang memiliki potensi aktivitas antikanker lebih tinggi, energi bebas dan afinitas lebih baik terhadap reseptor CDK-2 dibandingkan senyawa induk. Pemodelan dan optimasi geometri struktur dilakukan dengan perangkat lunak HyperChemR Release 8.0. Perhitungan nilai prediktor dan analisis statistik multilinear masing-masing menggunakan MOE 2007.09 dan SPSS Statistics 17.0. Persamaan HKSA dengan nilai q2 tertinggi diperoleh melalui uji validitas dengan metode LOO (Leave One Out). Desain senyawa baru dikembangkan dari senyawa induk menurut skema Topliss. Tahap terakhir, senyawa baru didocking pada reseptor protein CDK-2 untuk mengetahui afinitasnya terhadap reseptor dengan Arguslab 4.0.1 dan Autodock Vina. Persamaan HKSA terbaik untuk senyawa turunan 5,5-indirubin-3-oxime adalah log IC50 = 4,023 (±1,169) + 33,408 (±20,609) glob + 0,00004301 AM1_E + 0,324 (±0,085) logPow – 0,005 (±0,002) AM1_HF. Terdapat 78 senyawa turunan baru yang memiliki IC50 lebih rendah daripada senyawa induk, dan dua senyawa diantaranya memiliki aktivitas biologi yang lebih tinggi dengan energi afinitas yang lebih tinggi sebagai inhibitor CDK 2 daripada senyawa induk.Kata kunci: HKSA, antikanker, indirubin, CDKAbstract5,5-Indirubin-3-oxime derivatives have anticancer activity by acting as inhibitor of cyclin-dependent kinase (CDK), a kinase protein which involved in controlling cell cycle, regulating transitions of one phase to another. The aim of the present research is to obtain the QSAR equation, new derivatives that have higher anticancer activity with higher energy and higher affinity for CDK 2 receptors than that of the parent compound. Modelling and optimization of the geometry of the structure was done by HyperChem R Release 8.0. Calculation of the predictor values and multilinear statistical analysis were performed by MOE 2007.09 and SPSS Statistics 17.0 respectively, QSAR equation with the highest q2 value were obtained by validity test using LOO (Leave One Out) method. The design of new compounds were developed using the parent compound according to Topliss scheme. The designed compounds were docked to the CDK 2 receptor to observed the affinity using Arguslab 4.0.1 and AutoDock Vina. The best QSAR equation for 5,5-indirubin-3-oxime derivatives is log IC50 = 4.023 (±1.169) + 33.408 (±20.609) glob + 0.00004301 AM1_E + 0.324 (±0.085) logPow - 0005 (±0.002) AM1_HF. There are 78 new derivatives which have IC50 lower than the parent compound. Moreover, two new compounds showed a higher biological activity and higher affinity to CDK 2 inhibitor than that of the parent compound.Keywords: QSAR, anticancer, indirubin, CDK.
ISOLATION AND ANTIBACTERIAL ACTIVITY OF SOIL-DERIVED FUNGI FROM TAMAN BOTANI NEGARA, SHAH ALAM, MALAYSIA Singgih, Marlia; Julianti, Elin; Radzali, Muhammad Daniaal
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol 42, No 1 (2017)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (623.493 KB)

Abstract

ABSTRACTFungi are eukaryotic organisms that consist of unicellular organisms, namely molds and yeasts, and multicellular organism known as mushrooms. In the medical field, fungi have a significant contribution as they are widely used as sources for discovering a lot of novel antibiotics. As the preliminary study, this paper presents the isolation of soil-derived fungi from Malaysian forest as resources for finding the new antibiotics and their test of antibacterial activity against Bacillus subtilis and Escherichia coli. The fungi their selves were isolated by using Sabouraud dextrose agar (SDA) medium. The pure fungi isolates were screened for their antibacterial activity by using disk diffusion method. The active fungi were fermented in Sabouraoud dextrose broth (SDB) medium for 21 days. Culture media and mycelium were separated by filtration method. The culture broth was extracted by liquid-liquid extraction and mycelium was extracted by maceration method using ethyl acetate. The antibacterial activity of the dried extracts was determined by using the microdilution method. The isolation step resulted in five fungal strains coded S1-S5. The antibacterial assay showed that the extract of fungal broth medium of S3 had the highest antibacterial activity against B. subtilis with MIC value of 64 μg/mL and S1 against E. coli with MIC value of 32 μg/mL. Based on these MIC values, these can be classified as significant antibacterial activities as well. Thus, these extracts could be potentially useful for the development a new therapeutic agent bacterial infections.Keywords: antibacterial activity, Bacillus subtilis, Escherichia coli, fungi, isolation.ISOLASI DAN AKTIVITAS ANTIBAKTERI DARI JAMUR ASAL TANAH TAMAN BOTANI NEGARA, SHAH ALAM, MALAYSIAABSTRAKJamur merupakan organisme eukariotik yang terdiri dari organisme uniseluler yaitu kapang dan ragi, dan organisme multiseluler yang dikenal sebagai jamur. Jamur memiliki kontribusi yang besar terhadap bidang kesehatan karena merupakan sumber yang banyak digunakan dalam pencarian kandidat antibiotik baru. Tujuan dari penelitian ini adalah mengisolasi jamur yang berasal dari tanah hutan Malaysia sebagai sumber pencarian antibiotik baru dan menentukan aktivitas antibakterinya terhadap Bacillus subtilis dan Escherichia coli. Isolasi jamur dari sampel menggunakan media agar Sabouraud dextrose (SD). Skrining aktivitas antibakteri dilakukan terhadap isolat jamur murni dengan metode difusi agar. Isolat jamur yang aktif selanjutnya di fermentasi dengan medium cair SD selama 21 hari. Kultur media dan miselia dipisahkan dengan menggunakan metode filtrasi. Bagian kultur media di ekstraksi dengan ekstraksi cair-cair (ECC) sedangkan bagian miselium diekstraksi dengan cara maserasi menggunakan pelarut etil asetat. Ekstrak kering diuji aktivitas antimikrobanya terhadap bakteri uji dengan metode mikrodilusi. Hasil dari penelitian ini diperoleh lima strain jamur yang diberi kode S1-S5. Hasil uji aktivitas antibakteri menunjukkan bahwa ekstrak kultur media jamur S3 mempunyai aktivitas antibakteri yang paling tinggi terhadap B. subtilis dengan konsentrasi hambat minimum (KHM) sebesar 64 μg/mL dan jamur S1 terhadap E. coli dengan KHM sebesar of 32 μg/mL. Berdasarkan nilai KHMnya kedua jamur tersebut diklasifikan mempunyai aktivitas antibakteri yang signifikan. Ekstrak jamur tersebut berpotensi berguna untuk pengembangan senyawa terapetik yang baru untuk melawan infeksi bakteri.Kata kunci: aktivitas antibakteri, Bacillus subtilis, Escherichia coli, isolasi, jamur
Aktivitas Ekstrak Ethanol Daun, Ranting, dan Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana l.) sebagai Tabir Surya secara in vitro Liandhajani, -; Iwo, Maria Immaculata; Sukrasno, -; Soemardji, Andreanus A.; Adnyana, I Ketut
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol 36, No 1 & 2 (2011)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (545.558 KB)

Abstract

Telah banyak penelitian yang dilakukan pada buah Manggis (Garcinia mangostana L.) , kayu maupun kulit buahnya sebagai pengobatan, antara lain diare, antiinflamasi, HIV. Hal ini sehubungan dengan kandungan manggis yang beragam. Zat aktif yang terkandung dalam manggis sangat banyak antara lain tanin, xanthone dan bensofenon glukosida yaitu garmacimangasone D. Kandungan turunan bensofenone diduga mempunyai aktivitas sebagai tabir surya. Dari penelitian sebelumnya telah diketemukan turunan bensofenone dalam kulit buah manggis dan kayunya. Turunan bensofenone telah dimanfaatkan sebagai tabir surya pada sediaan kosmetika, dengan demikian diharapkan turunan bensofenon yang ada dalam manggis (Garcinia mangostana L.) mempunyai juga aktivitas sebagai tabir surya. Pada penelitian ini dilakukan uji aktivitas tabir surya pada daun, ranting, dan kulit buah manggis. Mula-mula dilakukan ekstraksi maserasi dengan menggunakan etanol pada simplisia daun, ranting, dan kulit buah manggis. Penetapan ekstrak aktifitas tabir surya yaitu dengan menggunakan spektrofotometer pada panjang gelombang 290 hingga 400 nm menggunakan pelarut etanol. Dari peneltian yang telah dilakukan nilai sun protection factor (SPF) ekstrak kulit buah, ranting, dan daun manggis pada konsentrasi 50 μg/ ml adalah 1,967 (pada panjang gelombang 290-382,5 nm); 1,356 (290-332,5 nm) ; 1,286 (290-327.5 nm). Dengan demikian ekstrak kulit buah manggis mempunyai SPF yang relatif lebih tinggi dibanding ranting maupun daunnya.
Pengaruh Pengolahan Bahan Terhadap Kadar Dan Komponen Minyak Atsiri Rimpang Zingiber cassumunar Roxb. Wirasutisna, Komar Ruslan; Sukrasno, Sukrasno; Nawawi, As’ari; Marliani, Lia
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol 37, No 2 (2012)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (367.161 KB)

Abstract

Minyak atsiri merupakan salah satu komponen Zingiber cassumunar Roxb. yang memiliki aktivitas farmakologi. Sehubungan dengan potensi pemanfaatan minyak atsiri Zingiber cassumunar Roxb. dalam pengembangan obat, diperlukan jaminan terhadap kualitas bahan yang meliputi kontrol terhadap kualitas bahan baku yang digunakan, termasuk kandungan minyak atsirinya. Penghalusan, pengeringan, dan penyimpanan adalah proses penyiapan bahan yang dapat mempengaruhi kadar minyak atsirinya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pengolahan bahan terhadap kandungan minyak atsiri. Metode penghalusan rimpang segar yang digunakan dalam penelitian ini adalah perajangan (SR) dan penggilingan menggunakan blender (SB). Metode pengeringan yang digunakan adalah pengeringan menggunakan oven 40°C (PO) dan sinar matahari (PM). Sedangkan proses penyimpanan dilakukan dalam tiga tempat berbeda yaitu besek (SSb), karung (SSk), dan keranjang plastik (SSp) selama 14 (A) dan 90 (B) hari. Kadar minyak atsiri setiap sampel ditentukan dan komponennya dianalisa menggunakan kromatografigas-spektrometri massa (KG-SM). Uji t-test (α=0,05) terhadap kadar minyak atsiri menunjukkan perbedaan signifikan antara SR dengan PO, PM, SSb B, SSk B, dan SSp B. Hal ini berarti bahwa proses pengeringan dan penyimpanan selama 90 hari mempengaruhi kadar minyak atsiri. Hasil GC-MS menunjukkan komponen utama untuk setiap sampel adalah 4-terpeniol (41,52% - 53,15%), beta-pinene (27,63% - 40,48%), gamma-terpinene (3,97% - 6,02%), alpha-terpinene (1,8% - 2,57%), cissabinene hidrate (0,91% - 1,98%), trans-sabinene hidrate (0,85% - 2,08%).Kata kunci: Zingiber cassumunar Roxb., Minyak atsiri, Pengolahan bahan, Metode pengeringan, Penyimpanan, 4-terpeniol. The rhizome of Zingiber cassumunar Roxb contains essential oil which has pharmacological activity. By considering the potential benefits of essential oil from Zingiber cassumunar Roxb. in drug development, it is necessary to guarantee the quality of the raw materials used, including the content of the essential. Comminuting, drying, and storage are processes which can affect the content of volatile oil in the crude drug. The purpose of this research were to observe the influence of rhizome processing on the essential oil content. Fresh rhizome comminuting methods used in this research were chopping (SR) and grinding using a blender (SB). Drying methods used in this research were oven drying at 40°C (PO) and sun drying (PM), while storage process in three different storage: bamboo container (SSb), sack (SSk), and plastic container (SSp) for 14 (A) and 90 (B) days. Oil content was determined and its composition were analyzed by GC-MS. T-test results (α=0.05) showed significant differences between SR with PO, PM, SSb B, SSk B, and SSp B. It means that drying and storage process influenced essential oil content. GC-MS results showed that major compound were 4-terpeniol (41,52% - 53,15%), beta-pinene (27,63% - 40,48%), gamma-terpinene (3,97% - 6,02%), alpha-terpinene (1,8% - 2,57%), cis-sabinene hidrate (0,91% - 1,98%), trans-sabinene hidrate(0,85% - 2,08%).Keywords: Zingiber cassumunar Roxb., Essential oil, Material processing, Drying methode, Storage, 4-terpeniol.

Page 7 of 27 | Total Record : 261