Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Identifikasi Drug Therapy Problems (DTPs) Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Rawat Jalan di Salah Satu RS Swasta di Bandung Yuniar, Cindra Tri; Sukandar, Elin Yulinah; Lisni, Ida
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol 37, No 2 (2012)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.564 KB)

Abstract

Menurut data WHO tahun 2000, Indonesia menempati urutan ke-4 terbesar dalam jumlah pasien diabetes melitus di dunia. Data angka kematian dan resiko komplikasi diabetes melitus menunjukkan pentingnya pemberian terapi dan pencapaian keberhasilan dari terapi diabetes melitus. Dalam hal ini peran farmasis sangat dibutuhkan untuk menjamin bahwa pengobatan yang diterima pasien adalah pengobatan yang rasional, dengan cara mengidentifikasi dan mencegah terjadinya masalah-masalah yang berkaitan dengan terapi obat (Drug Therapy Problems). Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi dan mengelompokkan kejadian Drug Therapy Problems (DTPs) dalam rangka meningkatkan therapeutic outcome pasien. Data resep pasien dan rekam medik dikumpulkan pada periode September-November 2009 secara retrospektif. Dari penelitian terhadap 63 pasien diabetes melitus tipe 2 rawat jalan, terdapat 41 pasien (65,08%) mengalami DTPs, dengan rincian 2 pasien (4,88%) membutuhkan terapi obat tambahan, 6 pasien (16,63%) menerima terapi obat yang tidak diperlukan, 5 pasien (12,20%) menerima dosis terlalu rendah, 16 pasien (39,02%) mengalami reaksi obat merugikan, 1 pasien (2,44%) menerima dosis terlalu tinggi, dan 11 pasien (26,83%) dengan interaksi obat. Reaksi obat merugikan merupakan DTPs yang paling sering muncul pada kedua kelompok pasien; 38,71% kejadian pada pasien dewasa dan 40% pada pasien geriatri. Analisis DTPs ini menunjukkan bahwa peran farmasis penting dalam mencapai keberhasilan terapi dan mencegah terjadinya reaksi obat merugikan.Kata kunci: drug therapy problems, diabetes melitusAccording to the WHO in 2000, Indonesia is in fourth position based on numbers of peoples suffer from diabetes mellitus. Numbers of death and complication risk shows how important therapy and progressing achievement from the diabetes therapy. Therefore, pharmacist is definitely needed to guarantee that the medication on the patient is rational, by identifying and avoiding DTPs. The aim of this research was to identify and classify DTPs incidences in order to increase patient’s therapeutic outcome. This retrospective study was conducted by collection of the patient’s prescription and medical record within September-November 2009 period. The result to 63 patients of diabetes mellitus type 2, showed that 41 patients (65.08%) had DTPs, 2 patients (4.88%) need additional drug therapy, 6 patients (16.63%) showed unnecessary drug therapy, 5 patients (12.20%) received too low dose, 16 patients (39.02%) showed adverse drug reactions, 1 patient (2.44%) received too high dose, and 11 patients (26.83%) with drug interactions. Adverse drug reaction is the most occasional DTPs event in both group of patients;38.71% in adults and 40% in geriatric patients.Keywords: drug therapy problems, diabetes mellitus
Aktivitas Antihiperurisemia Ekstrak Etanol Daun Afrika (Vernonia amygdalina Delile.) pada Mencit Putih Galur Swiss Webster yang Diinduksi Melinjo dan Hati Ayam Doni Anshar Nuari; Hesti Renggana; Cindra Tri Yuniar; Mentari Novitasari; Asholeha Lulu
Pharmacon: Jurnal Farmasi Indonesia Vol 18, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/pharmacon.v18i01.12318

Abstract

Hyperuricemic is a condition in which uric acid level in blood exceeds its normal level. Empirically, African leaves (Vernonia amygdalina Delile.) were used to treat diabetic, hypercholesterolemic, fever, hypertension and hyperuricemic by drinking boiled water of African leaves. This in vivo study was performed to determine antihyperuricemic activity of ethanolic extract of African leaves on male mice using the POCT (Point of Care Testing) method. Suspension combination of melinjo and chicken liver juice were used as hyperuricemic inductor. It is given orally for consecutive 9 days and the uric acid level were tested on day 1, 3, 6, and 9. The results showed that the ethanolic extract of African leaves (Vernonia amygdalina Delile.) at dosage 100, 200, and 400 mg/KgBW had a significantly different antihyperuricemic activity against negative control.
Identifikasi Drug Therapy Problems (DTPs) Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Rawat Jalan di Salah Satu RS Swasta di Bandung Cindra Tri Yuniar; Elin Yulinah Sukandar; Ida Lisni
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol. 37 No. 2 (2012)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Menurut data WHO tahun 2000, Indonesia menempati urutan ke-4 terbesar dalam jumlah pasien diabetes melitus di dunia. Data angka kematian dan resiko komplikasi diabetes melitus menunjukkan pentingnya pemberian terapi dan pencapaian keberhasilan dari terapi diabetes melitus. Dalam hal ini peran farmasis sangat dibutuhkan untuk menjamin bahwa pengobatan yang diterima pasien adalah pengobatan yang rasional, dengan cara mengidentifikasi dan mencegah terjadinya masalah-masalah yang berkaitan dengan terapi obat (Drug Therapy Problems). Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi dan mengelompokkan kejadian Drug Therapy Problems (DTPs) dalam rangka meningkatkan therapeutic outcome pasien. Data resep pasien dan rekam medik dikumpulkan pada periode September-November 2009 secara retrospektif. Dari penelitian terhadap 63 pasien diabetes melitus tipe 2 rawat jalan, terdapat 41 pasien (65,08%) mengalami DTPs, dengan rincian 2 pasien (4,88%) membutuhkan terapi obat tambahan, 6 pasien (16,63%) menerima terapi obat yang tidak diperlukan, 5 pasien (12,20%) menerima dosis terlalu rendah, 16 pasien (39,02%) mengalami reaksi obat merugikan, 1 pasien (2,44%) menerima dosis terlalu tinggi, dan 11 pasien (26,83%) dengan interaksi obat. Reaksi obat merugikan merupakan DTPs yang paling sering muncul pada kedua kelompok pasien; 38,71% kejadian pada pasien dewasa dan 40% pada pasien geriatri. Analisis DTPs ini menunjukkan bahwa peran farmasis penting dalam mencapai keberhasilan terapi dan mencegah terjadinya reaksi obat merugikan.Kata kunci: drug therapy problems, diabetes melitusAccording to the WHO in 2000, Indonesia is in fourth position based on numbers of peoples suffer from diabetes mellitus. Numbers of death and complication risk shows how important therapy and progressing achievement from the diabetes therapy. Therefore, pharmacist is definitely needed to guarantee that the medication on the patient is rational, by identifying and avoiding DTPs. The aim of this research was to identify and classify DTPs incidences in order to increase patient's therapeutic outcome. This retrospective study was conducted by collection of the patient's prescription and medical record within September-November 2009 period. The result to 63 patients of diabetes mellitus type 2, showed that 41 patients (65.08%) had DTPs, 2 patients (4.88%) need additional drug therapy, 6 patients (16.63%) showed unnecessary drug therapy, 5 patients (12.20%) received too low dose, 16 patients (39.02%) showed adverse drug reactions, 1 patient (2.44%) received too high dose, and 11 patients (26.83%) with drug interactions. Adverse drug reaction is the most occasional DTPs event in both group of patients;38.71% in adults and 40% in geriatric patients.Keywords: drug therapy problems, diabetes mellitus
The relationship of smoking duration, sleep disorders, and nutritional status of Indonesian adult men: data analysis of the 2014 Indonesian Family Life Surve Relawantria Harlianti; Trias Mahmudiono; Dominikus Raditya Atmaka; Siti Helmyati; Mira Dewi; Cindra Tri Yuniar
Health Science Journal of Indonesia Vol 12 No 2 (2021)
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/hsji.v12i2.5243

Abstract

Background: In Indonesia, the prevalence of smoking is increasing from year to year and can cause various health problems, such as sleep disorders and affect a person's nutritional status. So, in this study, the relationship between smoking duration, sleep disturbances, and nutritional status in men aged 26–45 years will be investigated using secondary data from the 2014 Indonesia Family Live Survey (IFLS). Methods: The 2014 secondary data from the fifth waves of the IFLS were used for analysis. All 5,379 data of men aged 26–45 years who provided anthropometric, smoking duration, and sleep disorders were included in the study. The Chi-Square test was used to examine the relationship between smoking duration, sleep disorders, and nutritional status in men aged 26 – 45 years. Furthermore, the Multinomial Logistics Regression test is carried out to determine the variables that have the strongest influence. Results: Based on the results of statistical tests conducted, it was found that the majority of respondents had a smoking duration of 11-20 years, of which 27.2% of respondents did not experience sleep disorders and 25.4% had sleep disorders. The nutritional status of respondents with a smoking duration of 11-20 years is normal as many as 35% of respondents and at least 0.5% of respondents have underweight nutritional status with smoking duration <5 years. Furthermore, the test results of the relationship between smoking duration and sleep disturbances obtained p-value = 0.03 and the relationship between smoking duration and nutritional status obtained p-value <0.01. Conclusion: Smoking duration was associated with sleep disorder and overweight nutritional status in men aged 26 – 45 years. Keywords: smoking duration, sleep disorder, nutritional status, tobacco use, sleeping sickness Abstrak Latar belakang: Di Indonesia, prevalensi merokok semakin meningkat dari tahun ke tahun dan dapat menyebabkan berbagai permasalahan kesehatan, seperti gangguan tidur serta mempengaruhi status gizi seseorang. Sehingga pada penelitian ini akan diteliti hubungan antara durasi merokok, gangguan tidur, dan status gizi pada pria berusia 26–45 tahun menggunakan data sekunder dari Indonesia Family Live Survey (IFLS) tahun 2014. Metode: Analisis dari data sekunder gelombang kelima IFLS tahun 2014. Semua 5.379 data pria berusia 26–45 tahun yang memiliki kelengkapan data antropometri, kebiasaan merokok, dan gangguan tidur diikutkan dalam penelitian. Uji Chi-Square digunakan untuk menguji hubungan antara durasi merokok, gangguan tidur, dan status gizi pada pria berusia 26 – 45 tahun. Selanjutnya uji Regresi Logistik Multinomial dilakukan untuk mengetahui variabel yang memiliki pengaruh paling kuat. Hasil: Berdasarkan hasil dari uji statistik yang dilakukan, didapatkan bahwa mayoritas responden memiliki durasi merokok selama 11-20 tahun, dimana sebanyak 27.2% responden tidak mengalami gangguan tidur dan 25.4% mengalami gangguan tidur. Status gizi paling banyak yang dimiliki oleh responden dengan durasi merokok selama 11-20 tahun adalah normal sebanyak 35% responden dan yang paling sedikit sebanyak 0.5% responden memiliki status gizi underweight dengan durasi merokok <5 tahun. Selanjutnya hasil uji hubungan antara durasi merokok dengan gangguan tidur didapatkan nilai p-value=0.03 dan hubungan antara durasi merokok dengan status gizi didapatkan nilai p-value<0.01. Kesimpulan: Durasi merokok berhubungan dengan gangguan tidur dan status gizi overweight pada laki-laki usia 26 – 45 tahun. Kata kunci: durasi merokok, gangguan tidur, status gizi, penggunaan tembakau, penyakit tidur
AKTIVITAS ANTITUKAK LAMBUNG EKSTRAK ETANOL DAUN GEDI (Abelmuschus manihot (L) medik) TERHADAP TIKUS JANTAN GALUR WISTAR Doni Anshar Nuari; Cindra Tri Yuniar; Syifa Salsabila
Jurnal Ilmiah Farmako Bahari Vol 10, No 1 (2019): Jurnal Ilmiah Farmako Bahari
Publisher : Fakultas MIPA Universitas Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (400.665 KB) | DOI: 10.52434/jfb.v10i1.520

Abstract

Salah satu masalah kesehatan yang terjadi adalah gangguan pencernaan berupa ulkus peptikum. Ulkus peptikum terjadi karena adanya ketidakseimbangan antara faktor pertahanan mukosa dan faktor agresif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek daun gedi sebagai anti tukak lambung. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada masyarakat mengenai salah satu khasiat dari daun gedi ( Abelmuschus manihot (L) medik ) untuk pengobatan tukak lambung. Penelitian diawali dengan proses ekstrasi daun gedi dengan cara maserasi menggunakan etanol 96%, pengujian efek antitukak lambung hewan diinduksi menggunakan aspirin dosis 500mg/KgBB, dengan dosis uji ekstrak 250, 300, 500mg/kgBB pembanding yang digunakan ranitidine dosis 13,5mg/KgBB. Parameter uji yang diamati adalah jumlah tukak, keparahan tukak dan rasio protektif. Hasil menunjukan ekstrak etanol daun gedi dosis 250, 300 dan 500mg/kgBb memiliki aktivitas antitukak berbeda bermakna terhadap kontrol positif (p,0,05) terhadap tikus yang diinduksi oleh aspirin dengan rasio protektif tertinggi ditunjukan oleh dosis 500mg/KgBB Kata Kunci : Abelmuschus manihot (L) medik, Aspirin, Ulkus peptic, rasio protektif
INHIBITION OF SELECTIVE AND NON-SELECTIVE SICLOOXYIGENASE ON ANSIOLITIC EFFECTS INDUCED DIAZEPAM IN MICE Doni Anshar Nuari; Cindra Tri Yuniar; Ahmad Jaidi; Siva Hamdani; Genialita Fadhila
Jurnal Ilmiah Farmako Bahari Vol 13, No 2 (2022): Jurnal Ilmiah Farmako Bahari
Publisher : Fakultas MIPA Universitas Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52434/jfb.v13i2.1910

Abstract

Stress is the source of many sociological, medical, and economic problems. Moreover, stresses are known as the etiology of several diseases. Prostaglandins and all four receptors affect the brain, even thought to affect behavior. Hence, the inactivation of cyclooxygenase (COX) causes a decrease in levels of prostaglandins that contribute to stress development, thus decreasing the anxiolytic effect of diazepam. This study aims to see the effect of selective and non-selective COX inhibitors decreasing the Anxiolytic effect of diazepam using the EPM (Elevated Plus Maze) method in male white mice; animals were grouped to use Tragakan 2%, Diazepam 0.065 mg/kg BB and Tragakan 2% after an hour, Diazepam 0.065 mg/kg BB and then an hour later gives Ketoprofen 0.65 mg/kg BB for non-selective COX Inhibitor effect group, Diazepam 0.065 mg/kg BW, and then an hour later gives Celecoxib 0.65 mg/kg BB for group use of selective Cox-2 Inhibitor, test parameter in this study is the duration in open arm. Results showing decreased duration on open arm group has given diazepam combination ketoprofen or celecoxib are different P value <0.05 than diazepam only. Decline duration was highest shown by animals given celecoxib, so that could be stated gift selective COX-2 inhibitors bring down the effect of anxiolytic diazepam bigger.
Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap Minimum Acceptable Diet pada anak usia 6-23 bulan di Indonesia Muh. Guntur Sunarjono Putra; Mira Dewi; Lilik Kustiyah; Trias Mahmudiono; Cindra Tri Yuniar; Siti Helmyati
AcTion: Aceh Nutrition Journal Vol 7, No 2 (2022): November
Publisher : Department of Nutrition at the Health Polytechnic of Aceh, Ministry of Health

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30867/action.v7i2.766

Abstract

Indonesia is one of the countries with high nutritional problems caused by inadequate feeding practices. A minimum acceptable diet (MAD) is used to assess feeding practices in children with low achievement (53,6%) aged 6-23 months. This study aimed to determine the factors influencing MAD in children aged 6-23 months in Indonesia. This study uses a cross-sectional study design to use secondary data from the 2017 IDHS. The subjects in this study were 4.783 children aged 6-23 months. Data were collected using the 2017 IDHS and WHO UNICEF 2010 questionnaires in assessing feeding practices. Statistical tests used were Chi-square, Spearman, and Multiple logistic regression. This study showed that the prevalence of MAD was 53.7%. Factors influencing MAD were the location of residence (p= 0,001), wealth index (p<0,001), mother's occupation (p= 0,007), father's education level (p= 0,022), mother's education (p= 0,003), media exposure (p= 0,012), geographic area (p<0,05), child's age (p<0,001), and birth order (p<0,05). The dominant factor influencing MAD is the education level of mothers who do not attend school. In conclusion, there is an influence between socio-demographic and economic characteristics and the characteristics of children with MAD in Indonesia.
IMPACT OF ADVERTISEMENT TOWARDS FERTILE AGED WOMEN PERCEPTION AND BEHAVIOR IN DYSMENORRHEA TREATMENT Bhekti Pratiwi; Gabriella Yovanda; Cindra Tri Yuniar
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol. 47 No. 2 (2022)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/api.v47i2.19803

Abstract

Dismenorea adalah nyeri menstruasi yang kerap dialami oleh wanita dalam usia subur sehingga informasi mengenai terapinya menjadi penting untuk diketahui. Iklan sebagai salah satu cara penyampaian informasi terapi dismenorea. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh iklan terhadap persepsi dan perilaku wanita usia subur dalam mengatasi dismenorea. Selain itu, dilihat juga pengaruh profil dismenorea, karakteristik demografi terhadap persepsi dan perilaku responden, serta potensi peran tenaga kesehatan dalam menjamin ketepatan informasi dalam iklan. Desain penelitian berupa cross-sectional dengan teknis pengambilan sampel purposive sampling. Penelitian dilakukan pada bulan Januari-April 2022. Penelitian dilakukan secara daring dengan menyebarkan kuesioner yang diisi oleh 342 responden. Metode analisis statistik yang digunakan adalah non parametrik yaitu Kruskal-Wallis pada semua analisis pengaruh variabel independen pendidikan terakhir, umur, dan penghasilan perbulan) terhadap variabel dependen (persepsi dan perilaku) dan korelasi Spearman Rank pada pengaruh sumber iklan terhadap variabel dependen. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh iklan terhadap persepsi responden (p<0,05, r=0,156) tetapi tidak ada pengaruh terhadap perilaku (p>0,05, r=0,097). Karakteristik demografi seperti pendidikan terakhir dan umur (p<0,05) berpengaruh terhadap perilaku sedangkan penghasilan per bulan tidak berpengaruh terhadap persepsi maupun perilaku.  
PENGARUH EDUKASI GIZI PRESENTASI ORAL TERHADAP PENINGKATAN PENGETAHUAN KADER MENGENAI PEMBERIAN MAKANAN TAMBAHAN (PMT) UNTUK BALITA STUNTING Farah Mumtaz Suwandiman; Trias Mahmudiono; Ira Suarilah; Abdullah Al Mamun; Nining Tyas Triatmaja; Cindra Tri Yuniar; Diah Indriani; Wadi'ah Hasna Nurramadhani; Nur Sahila; Martina Puspa Wangi; Eka Anisah Yusryana; Amanda Fharadita Olivia Rakhmad; Sasha Anggita Ramadhan; Nur Alifia Hera; Erwanda Anugrah Permatasari; Chrysoprase Thasya Abihail; Callista Naurah Azzahra; Ernadila Diasmarani Hargiyanto
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 4 No. 3 (2023): SEPTEMBER 2023
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v4i3.17516

Abstract

Stunting pada balita sangat rentan untuk terjadi akibat asupan nutrisi yang tidak adekuat selama 1000 HPK. Kader posyandu memiliki peran penting dalam melakukan pemantauan tumbuh kembang balita serta memberikan edukasi kepada masyarakat. Oleh karena itu, pengetahuan yang dimiliki oleh kader posyandu harus mumpuni dalam mengatasi stunting pada balita. Pemberian Makanan Tambahan (PMT) berbahan dasar pangan lokal menjadi salah satu alternatif para ibu dalam mengatasi stunting pada balita. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh edukasi gizi menggunakan metode presentasi oral terhadap peningkatan pengetahuan kader posyandu terkait PMT untuk balita stunting. Penelitian ini dilakukan di Pulau Kangean pada 22 Juni 2023. Penelitian ini menggunakan pre-experimental design dengan one group pretest dan posttest. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 163 orang kader posyandu yang berada di bawah naungan Puskesmas Arjasa, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Sehingga sampel penelitian dipilih berdasarkan accidental sampling yang mencakup kriteria inklusi yaitu hadir dalam kegiatan edukasi gizi, mengisi kuesioner, serta termasuk kader yang berada di bawah arahan Puskesmas Arjasa sebanyak 33 sampel. Analisis data dilakukan dengan uji normalitas menggunakan Kolmogorov Smirnov. Akibat data tidak berdistribusi normal maka selanjutnya dilakukan uji Wilcoxon Signed Rank Test untuk melihat ada atau tidak pengaruh edukasi gizi berbasis presentasi oral terhadap peningkatan pengetahuan kader posyandu untuk balita stunting. Hasil penelitian menunjukan terdapat pengaruh pengetahuan kader posyandu sebelum dan sesudah diberikan edukasi gizi dengan metode presentasi oral. Hal tersebut disebabkan oleh terjadinya komunikasi dua arah selama sesi berlangsung dan kegiatan dilakukan secara tatap muka. Maka terdapat pengaruh edukasi gizi presentasi oral terhadap peningkatan pengetahuan kader.
EDUKASI BERBASIS BUKU SAKU BAGI PASIEN PROLANIS Hendrayana, Tomi; Yuniar, Cindra Tri; Arif, Auliya Rusyda Hisyam
E-Jurnal Medika Udayana Vol 13 No 3 (2024): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2024.V13.i03.P05

Abstract

Penyakit hipertensi dan diabetes melitus tipe 2 merupakan penyakit kronis dengan prevalensi kematian tinggi di Indonesia. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia telah membuat sistem layanan terintegrasi pada tingkat Puskesmas untuk memaksimalkan upaya serta sumber daya kesehatan secara efisien dan efektif, yakni melalui program pengelolaan penyakit kronis (PROLANIS). Program ini mendukung pasien penyakit kronis dalam mencapai keberhasilan terapi dan pencegahan komplikasi, namun seringkali kepatuhan yang rendah membuat tujuan tersebut tidak tercapai. Oleh karena itu, pada penelitian ini dirancang edukasi melalui pembuatan buku saku tentang penyakit dan terapinya untuk hipertensi serta diabetes melitus tipe 2 sebagai upaya meningkatkan kepatuhan pasien terhadap regimen terapi serta mengukur tingkat kepuasan pasien terhadap media edukasi. Studi ini dilakukan secara observasional potong-lintang yang dilakukan bulan Januari-Mei 2023, merekrut 88 pasien di dua Puskesmas di Bandung untuk dianalisis kepatuhannya terhadap regimen terapi menggunakan kuesioner MMAS-8 dan dibandingkan hasilnya sebelum dan sesudah pemberian buku saku. Dilakukan juga evaluasi kepuasan pasien terhadap media edukasi menggunakan kuesioner tervalidasi berbasis SERVQUAL. Hasil penelitian menunjukkan terjadi peningkatan level kepatuhan pasien terhadap regimen terapi di kedua Puskesmas yaitu 5,48 ± 1,96 (sebelum diberikan edukasi) menjadi 6,94 ± 1,70 (pasca pemberian edukasi) yang berbeda bermakna secara statistik (p<0,001). Nilai indeks kepuasan responden terhadap buku saku sebesar 88,38% yang menunjukkan bahwa responden sangat puas. Usulan perbaikan buku saku terletak pada informasi yang diuraikan sebaiknya menggunakan bahwa yang mudah dimengerti masyarakat awam serta memperbesar ukuran huruf. Penelitian ini mendukung bukti buku saku sebagai alat peningkat kepatuhan.