cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Teknik Sipil
ISSN : 08532982     EISSN : 25492659     DOI : 10.5614/jts
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik Sipil merupakan jurnal ilmiah yang diterbitkan berkala setiap tiga bulan, yaitu April, Agustus dan Desember. Jurnal Teknik Sipil diterbitkan untuk pertama kalinya pada tahun 1990 dengan membawa misi sebagai pelopor dalam penerbitan media informasi perkembangan ilmu Teknik Sipil di Indonesia. Sebagai media nasional, Jurnal Teknik Sipil diharapkan mampu mengakomodir kebutuhan akan sebuah media untuk menyebarluaskan informasi dan perkembangan terbaru bagi para peneliti dan praktisi Teknik Sipil di Indonesia. Dalam perkembangannya, Jurnal Teknik Sipil telah terakreditasi sebagai jurnal ilmiah nasional sejak tahun 1996 dan saat ini telah terakreditasi kembali (2012-2017). Dengan pencapaian ini maka Jurnal Teknik Sipil telah mengukuhkan diri sebagai media yang telah diakui kualitasnya. Hingga saat ini Jurnal Teknik Sipil tetap berusaha mempertahankan kualitasnya dengan menerbitkan hanya makalah-makalah terbaik dan hasil penelitian terbaru.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 24 No 3 (2017)" : 10 Documents clear
Karakteristik Kekuatan Leleh Lentur Baut Besi dengan Beberapa Variasi Diameter Baut Evalina Herawati; Sucahyo Sadiyo; Naresworo Nugroho; Lina Karlinasari; Fengky Satria Yoresta
Jurnal Teknik Sipil Vol 24 No 3 (2017)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2017.24.3.4

Abstract

AbstrakBaut merupakan salah satu jenis alat sambung mekanis atau pengencang yang banyak digunakan dalam sambungan kayu. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kekuatan leleh lentur (Fyb) dari tiga ukuran diameter baut besi yang umum digunakan untuk sambungan kayu dan satu ukuran diameter baut baja sebagai pembanding. Spesifikasi baut yang digunakan dilihat dari dimensi dan komposisi penyusunnya. Nilai Fyb baut diperoleh dari pengujian momen leleh lentur dengan mengacu pada standar ASTM F1575. Hasil pengujian menunjukkan baut besi yang digunakan berasal dari bahan baja karbon rendah sedangkan baut baja berasal dari bahan baja karbon sedang. Nilai Fyb baut baja lebih tinggi dibandingkan baut besi. Nilai Fyb baut besi diameter 1/2 inci berbeda nyata dengan nilai baut diameter 5/8 dan 3/4 inci. Nilai Fyb ketiga diamater baut berada di atas nilai Fyb baut yang tercantum dalam SNI 7973:2013 tentang Spesifikasi desain untuk konstruksi kayu.AbstractBolt is one of the mechanical fasteners that are widely used in wood connections. This study aims to determine the bending yield strength (Fyb) of three measures of bolt diameter made from iron which commonly used for the connection of wood and one measure of bolt diameter made from steel as a comparison. Specifications of bolts used can be seen from the dimensions and composition of the constituent. Testing of the bending yield strength was conducted according to ASTM F1575. The results showed that iron bolts used comes from low carbon steel, while steel bolts derived from medium carbon steel materials. Fyb value of steel bolts was higher than iron bolt. Fyb value of 1/2 inch diameter iron bolts was significantly different from the value of the bolts 5/8 and 3/4 inch in diameter. The Fyb value of three bolt diameter were above the Fyb value listed in SNI 7973:2013 concerning design specification for wood constructions.
Maturitas Enterprise Risk Management Kontraktor Besar di Indonesia dan Faktor-Faktor yang Memengaruhinya Andreas Kurniawan; Andreas Wibowo
Jurnal Teknik Sipil Vol 24 No 3 (2017)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2017.24.3.9

Abstract

AbstrakEnterprise Risk Management (ERM) adalah salah satu pendekatan holistik dalam mengidentifikasi risiko perusahaan yang mungkin dihadapi dan menentukan respon yang tepat dan sesuai dengan risk appetite perusahaan tersebut. Penelitian terkait ERM sudah banyak dilakukan di banyak bidang di berbagai negara, namun penelitian terkait ERM kontraktor besar di Indonesia belum pernah dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur tingkat maturitas ERM kontraktor besar di Indonesia dan mengidentifikasi faktor faktor yang memengaruhi tingkat maturitas ERM. Penelitian ini melibatkan 31 kontraktor besar Indonesia dengan klasifikasi B1 dan B2. Metode perhitungan tingkat maturitas adalah fuzzy set theory karena memiliki keunggulan dalam menangani ambiguitas data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat maturitas ERM kontraktor Indonesia berada pada "mediumhigh". Analisis lebih lanjut menemukan adanya hubungan positif antara tingkat maturitas ERM terhadap pengalaman perusahaan, klasifikasi perusahaan, dan adopsi SNI ISO 31000:2011. Analisis juga menemukan tidak ada korelasi antara kepemilikan badan usaha dan adopsi edisi ISO 9000 yang berbeda dengan maturitas ERM.AbstractEnterprise Risk Management (ERM) is a holistic approach in identifying risks of an enterprise that may face and determines appropriate responses aligned with its risk appetite. There have been abundant research efforts focusing on ERM for many areas in many countries but none of them were specifically dedicated to measuring the ERM maturity of large Indonesian construction firms. This research aims at measuring ERM level of Indonesian large construction firms and identifying its influencing factors. This research was based on a survey involving a total of 31 construction firms of B1 and B2 class. The fuzzy set theory was used for the maturity assessment because of its merits in dealing with ambiguity. This research demonstrates that the ERM maturity of the sampled firms is "medium-high." A further correlational analysis suggests that the maturity tends to go higher for firms of longer experiences, larger size, and adopting SNI ISO 31000: 2011. The analysis also founds that there are no correlations between ownership types of enteprises and adoption of different editions of ISO 9000 and ERM maturity.
Substitusi Material Pozolan Terhadap Semen pada Kinerja Campuran Semen Joice Elfrida Waani; Lintong Elisabeth
Jurnal Teknik Sipil Vol 24 No 3 (2017)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2017.24.3.7

Abstract

AbstrakPenggunaan material semen dalam industri konstruksi terus meningkat dari tahun ke tahun dan peningkatan ini berakibat pada meningkatnya produksi gas buangan, co2 dialam yang berakibat pada pembentukan efek rumah kaca. Dalam rangka mengeliminasi pengaruh buruk terhadap lingkungan yang diakibatkan oleh teknologi maupun penggunaan material yang tidak ramah lingkungan, para ahli dibidang rekayasa konstruksi terus berupaya untuk menemukan teknologi dan material alternatif yang dapat menghasilkan material konstruksi yang ramah lingkungan tanpa mengurangi kinerja strukturalnya. Penggunaan teknologi daur ulang perkerasan jalan dengan penambahan material alternatif pengganti semen pada konstruksi perkerasan jalan, merupakan upaya positif dalam rangka mendorong penggunaan teknologi dan material yang ramah lingkungan dibidang konstruksi bangunan teknik sipil. Material pozolan yang berupa material hasil buangan industri batu bara maupun bahan pertanian atau material pozolan alam adalah material yang dapat digunakan sebagai bahan pengganti semen karena sifatnya yang menyerupai semen jika ditambahkan pada campuran semen. Penggunaan material ini sebagai material pengganti atau substitusi semen dalam campuran beton menunjukkan peningkatan workabilitas dan kinerja campuran baik pada campuran beton mutu tinggi maupun pada campuran semen dengan kekuatan rendah (low strength materials). Artikel ini membahas tentang beberapa hasil penelitian terhadap campuran beton/semen yang sebagian semennya disubstitusi dengan material pozolan yang menunjukkan berbagai keunggulan dari campuran tersebut untuk dapat diaplikasikan sebagai material konstruksi, baik pada campuran beton bermutu tinggi maupun campuran semen dengan kekuatan rendah.AbstractThe use of cement material in the construction industry increase continuously from year to year and this increase results in increased production of exhaust gases, co2 in nature which resulted in the formation of the greenhouse effect. In order to eliminate the adverse influence on the environment caused by technology and the use of environmentally unfriendly materials, experts in the field of construction engineering continues the efforts to find technologies and alternative materials that can produce environmentally friendly construction material without reducing its structural performance. The use of recycled technology in pavement contruction with alternative materials as cement replacement is a positive effort in order to encourage the use of technologies and environmentally friendly materials in engineering construction. Pozzolanic material in the form of material waste product of the coal industry and agricultural materials or natural pozzolan material is a material that can be used as a cement replacement material because it is resembles a cement when added to the cement mixture. The use of this material as a material replacement or substitution of cement in the concrete mixture showed increased workability and performance either of high quality concrete or low strength materials. This article discusses some of the results of research on the cement mixture with the cement partially substituted by means of pozzolanic material showing the superiority of the mixture to be applied as a construction material, either in a mixture of highquality concrete or cement mixture with a low strength.
Analisis Konsumsi Energi dan Emisi Gas Rumah Kaca pada Tahap Konstruksi Studi Kasus : Konstruksi Jalan Cisumdawu Agung Mulyana; Reini D. Wirahadikusumah
Jurnal Teknik Sipil Vol 24 No 3 (2017)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2017.24.3.10

Abstract

AbstrakPertumbuhan sektor konstruksi akan mampu menarik pertumbuhan sektor pendukung serta mendorong pertumbuhan sektor pembangunan yang lain, namun sektor konstruksi turut berkontribusi dalam konsumsi energi serta menghasilkan emisi gas rumah kaca (GRK), salah satu kegiatan konstruksi yang diperkirakan mengkonsumsi energi dan menghasilkan emisi gas rumah kaca cukup besar adalah konstruksi jalan, dalam hal ini dilaksanakan suatu analisis konsumsi energi dan emisi gas rumah kaca pada pekerjaan konstruksi jalan Cisumdawu dengan perkerasan kaku pada STA 10+700 hingga STA 11+500 meliputi pekerjaan subgrade (galian dan timbunan), pekerjaan lapisan subbase, serta pekerjaan perkerasan kaku dengan menggunakan pendekatan life cycle assessment. Dari hasil analisis diperoleh pekerjaan perkerasan kaku berkontribusi 78.78%, sedangkan pekerjaan subbase berkontribusi 17.04% dan pekerjaan subgrade berkontribusi 4.18%. Sementara itu secara keseluruhan material berkontribusi sebesar 92.80%, kegiatan transportasi berkontribusi 1.97% dan kegiatan Konstruksi berkontribusi 5.23% dari total besaran dampak lingkungan yang dihasilkan dari konstruksi jalan tersebut.AbstractThe growth of the construction sector will be able to attract growth in the supporting sectors and encourage the growth of other development sectors, but the construction sector also contributes to energy consumption and produces greenhouse gas (GHG) emissions, one of the construction activities that are estimated to consume energy and produce greenhouse gas emissions is a road construction, in which case an analysis of energy consumption and greenhouse gas emissions at Cisumdawu road construction with rigid pavements at STA 10 + 700 to STA 11 + 500 includes subgrade (excavation and piling) using life cycle assessment approach. From the analysis results obtained rigid pavement contributed 78.78%, while subbase work contributed 17.04% and subgrade contributed 4.18%. Meanwhile, overall materials contributed 92.80%, while transportation activities contributed 1.97% and Construction activities contributed 5.23% of the total environmental impacts resulting from the road construction.
Sudut Kontak dan Keterbasahan Dinamis Kayu Samama pada Berbagai Pengerjaan Kayu Tekat Dwi Cahyono; Imam Wahyudi; Trisna Priadi; Fauzi Febrianto; Syarif Ohorella
Jurnal Teknik Sipil Vol 24 No 3 (2017)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2017.24.3.3

Abstract

AbstrakSudut kontak dan keterbasahan dinamis penting diketahui untuk menganalisis keteguhan rekat. Penelitian ini bertujuan mengetahui sudut kontak dan keterbasahan dinamis kayu samama pada berbagai pengerjaan kayu. Metode yang digunakan adalah meneteskan air destilata, perekat UF dan isosianat dengan ukuran tertentu pada permukaan kayu hasil gergaji dan hasil mesin kupas. Permukaan kayu gergajian yang ditetesi oleh cairan adalah permukaan radial, tangensial dan permukaan yang membentuk sudut 45° antara radial dan tangensial. Sementara itu permukaan finir hasil pengupasan adalah permukaan tight dan loose. Kayu gergajian maupun finir yang dianalisis pada penelitian ini, keduanya diambil dari bagian juvenil dan dewasa. Keterbasahan dinamis dianalisis menggunakan model SD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa porositas permukaan bahan berpengaruh terhadap keterbasahan kayu samama oleh cairan. Permukaan tangensial memiliki sifat yang lebih mudah mengalami keterbasahan dibandingkan dengan permukaan radial maupun TR (permukaan antara radial dan tangensial) sementara bagian juvenil memiliki tingkat keterbasahan lebih baik dibandingkan dewasanya. Finir samama memiliki tingkat keterbasahan setara dengan permukaan TR kayu samama dimana bagian juvenil finir memiliki laju keterbasahan yang lebih baik dibandingkan dengan finir dewasa. Disamping itu, bagian loose finir lebih cepat terbasahi oleh cairan dibandingkan bagian tight.AbstractContact angle and dynamic wettability is important in determining bonding strength, therefore, this study addressed contact angle and dynamic wettability of samama wood in various woodworking. Method used in the study was by dripping distill water, UF and isocyanate adhesives in particular size on the surface of wood processed by circular saw and peeling machine. The surfaces of sawn wood which dripped by those liquids were radial, tangential, and surface which made a 45° angle between radial and tangential. Meanwhile the tested surfaces of peeled-veneer were tight and loose surfaces. Both sawn wood and veneer in this study were taken from juvenile and mature part of the samama wood. Dynamic wettability was analyzed using SD model. The results showed that porosity of the surface significantly affected the wettability of samama wood by liquid. The profile of tangential surface made it had a better wettability than radial and TR (i.e. surface between radial and tangential) surfaces. Meanwhile, juvenile part showed better wettability than the mature one. The samama veneer had equal wettability with TR surface of sawn wood in which the juvenile one showed better wettability than the mature veneer. Further, it was noticed that loose surface of the veneer was wetted faster than the tight one.
Perbandingan Karakteristik Campuran Cold Paving Hot Mix Asbuton (CPHMA) yang Dipadatkan Secara Dingin dan Panas I Nyoman Arya Thanaya; I Wayan Suweda; A.A. Adi Sparsa
Jurnal Teknik Sipil Vol 24 No 3 (2017)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2017.24.3.8

Abstract

AbstrakCold Paving Hot Mix Asbuton (CPHMA) adalah campuran yang terdiri dari agregat, asbuton butir, bahan peremaja dan bahan tambah lain yang dicampur panas dipadatkan dingin (pada temperatur ruang 30°C). Karakteristik campuran dipengaruhi temperatur pemadatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh: kadar aspal residu optimum, temperatur pemadatan ideal dan perbandingan karakteristik CPHMA yang dipadatkan secara dingin dan panas. Pemadatan dilakukan pada suhu 30°C, 60°C, 90°C, 120°C, dan 150°C. Diperoleh hasil, kadar aspal residu optimum 7 %; suhu pemadatan ideal 90°C. Pemadatan dibawah suhu 90°C memberikan porositas lebih tinggi berkisar antara (4,86-5,53)% namun masih memenuhi spesifikasi (4-10%). Pemadatan diatas suhu 90°C memberikan porositas antara (2,04-3.0)%, yang lebih rendah dari spesifikasi. CPHMA yang dipadatkan pada suhu ideal 90°C memberikan karakteristik Marshall, cantabro, kekakuan (stiffness), rangkak (creep), dan kelelahan (fatigue) lebih baik dibandingkan dengan CPHMA yang dipadatkan dingin.AbstractCold Paving Hot Mix Asbuton (CPHMA) is a mixture that consists of aggregates, asbuton particles, rejuvenating materials and other added materials, which were hot mixed and compacted cold (at ambient temperature 30°C). The characteristics of the mixture were affected by compaction temperatures. The objectives of this study were to obtain: residual optimum asphalt content; ideal compaction temperature and characteristics comparison of CPHMA compacted cold and hot. Compaction were carried out at 30°C, 60°C, 90°C, 120°C and 150°C. It was obtained that the optimum residual asphalt content for CPHMA mixture was 7% and the ideal compaction temperature was 90°C. Compaction at temperature lower than 90°C gave higher porosity, i.e between (4.86-5.53)%, nonetheless still met specification (4-10)%. Compaction at higher than 90°C gave porosity between (2.04-3.0)% which were lower than the specification. CPHMA compacted at ideal 90°C gave better Marshall characteristics, cantabro, stiffness, creep, and fatigue, compared to the cold compacted CPHMA.
Numerical Simulation of Bed Level Changes Around Structure Due to Waves and Current Susanna Nurdjaman; Prayoga Aryandi Putra
Jurnal Teknik Sipil Vol 24 No 3 (2017)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2017.24.3.2

Abstract

AbstractInteractions between sediments in the marine environment with the dynamics of the ocean can generate sediment movement. Sedimentation and erosion is the result of these interactions, which often have a negative impact on the harbor waters or coastal environment. The purpose of this research is to understand the process of sediment transport caused by the dynamics of currents and waves on the basis of morphological changes and the potential that can lead to scour for coastal protection structures (groin).Coupled model of hydrodynamic model, spectral wave and sediment transport were conducted to study the pattern of sediment movement. Simulations carried out by varying the waveform specification that propagates to the domain model. Verification of maximum velocity magnitude due to Van Rijn (1987), Nurdjaman and Ningsih (2003), and Adilantip (2012) shows good agreement with the differences value below 5%. While verification of wave height and wave stress radiation with analytical calculation shows good comparison with the mean of differences value 15%. The results of the study indicate that scour depth of 0,955 m was formed at the end of the simulation by the discharge input only. When the discharge combined with the various wave height and periods, scour depth increases by about 3 - 14%. Location of the scour depth coincides with the location of the maximum velocity at the tip of the groin structures to the left side.AbstrakInteraksi antara sedimen di lingkungan laut dengan dinamika laut dapat menghasilkan pergerakan sedimen. Proses sedimentasi dan erosi merupakan hasil dari interaksi tersebut yang tak jarang berdampak negatif terhadap perairan pelabuhan ataupun lingkungan pesisir. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk memahami proses transpor sedimen yang diakibatkan oleh dinamika arus dan gelombang terhadap perubahan morfologi dasar dan potensinya yang dapat mengakibatkan gerusan terhadap struktur pelindung pantai (groin). Dilakukan model kopel hidrodinamika, gelombang spektral, dan transpor sedimen untuk mempelajari pola pergerakan sedimen. Simulasi dilakukan dengan memvariasikan perbedaan spesifikasi gelombang yang menjalar terhadap domain model. Simulasi dilakukan dengan memvariasikan spesifikasi waveform yang merambat ke model domain. Verifikasi besarnya kecepatan aliran maksimum dari hasil model oleh Van Rijn (1987), Nurdjaman dan Ningsih (2003), dan Adilantip (2012) menunjukkan kesesuaian yang baik dengan perbedaan nilai di bawah 5%. Sedangkan verifikasi tinggi gelombang dan radiasi tegangan gelombang dengan perhitungan analitik menunjukkan perbandingan yang baik dengan rata-rata perbedaan nilai 15%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedalaman gerusan 0,955 m terbentuk pada akhir simulasi dengan input debit sungai saja. Bila ddebit sungai dikombinasikan dengan berbagai tinggi dan perioda gelombang, kedalaman gerusan meningkat sekitar 3 - 14%. Lokasi kedalaman gerusan bertepatan dengan lokasi kecepatan aliran maksimum pada ujung struktur groin sisi kiri.
Analisis Spasial Risiko Banjir Bandang Akibat Keruntuhan Bendungan Alami pada DAS Krueng Teungku, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh Azmeri Azmeri; Eldina Fatimah; Henny Herawati; Devi Sundary; Amir Hamzah Isa
Jurnal Teknik Sipil Vol 24 No 3 (2017)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2017.24.3.6

Abstract

AbstrakPenelitian ini menyajikan hasil analisis spasial risiko bencana banjir bandang akibat keruntuhan bendungan alam pada Daerah Aliran Sungai Krueng Teungku Kecamatan Seulimeum, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh. Parameter kerentanan merupakan gabungan komponen kerentanan sosial dan kerentanan fisik. Selanjutnya dari parameter ancaman dan kerentanan tersebut, dilakukan analisis risiko melalui penentuan klasifikasi risiko bencana banjir bandang untuk daerah hilir bendungan. Secara keseluruhan daerah berisiko seluas 32,02 hektar berdasarkan pembentukan 15 grid (100 meter horisontal x 100 meter sejajar tebing sungai). Klasifikasi tingkat risiko untuk daerah hilir bendungan alam Krueng Teungku 5 wilayah termasuk dalam Tingkat Risiko Tinggi, 8 wilayah Tingkat Risiko Sedang dan 2 wilayah Tingkat Risiko Ringan. Kelas risiko sedang mendominasi seluas 23,33 hektar atau 72,85% dari luas total daerah yang berisiko. Kemudian diikuti oleh kelas risiko tinggi seluas 6,29 hektar atau 19,64% dari luas total daerah yang berisiko. Kelas risiko rendah seluas 2,41 hektar atau 7,51% dari luas total daerah yang berisiko. Klasifikasi tingkat risiko bencana banjir bandang ini berguna untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat di hilir bendungan alam untuk meminimalisir risiko bencana banjir bandang yang merupakan bencana berulang pada Desa Beureunut.AbstractThis research presents the results of spatial analysis of flash flood disaster risk due to the collapse of natural dam at the watershed Krueng Teungku, Seulimeum sub-district, Aceh Besar Regency, Aceh Province. The vulnerability parameter is a combination of components of social vulnerability and physical vulnerability. Furthermore, based on the parameters of these hazard and vulnerabilities, risk analysis was done through the determination of flash flood risk classification for downstream area of the dam. In general, the risk area covered 32.02 hectares based on the formation of 15 grids (100 meters horizontal x 100 meters parallel river cliff). Based on risk level classification of the natural downstream of Krueng Teungku, there were 5 areas included in the High Risk Level, 8 areas in Medium Risk areas, and 2 areas in Risk Level Light. The medium level was the most dominant category which covers 23.33 hectares or 72.85% of the total area. The high risk areas comprises of 6.29 hectares or 19.64% of total area area followed by low risk class covering an area of 2.41 hectares or 7.51% of total area. The classification of flash flood disaster risk level is useful to improve community preparedness in downstream of a natural dam to minimize the risk of flash flood disaster which is a recurrent disaster in Beureunut Village.
Probabilistic Modeling of Updating Epistemic Uncertainty In Pile Capacity Prediction With a Single Failure Test Result Indra Djati Sidi
Jurnal Teknik Sipil Vol 24 No 3 (2017)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2017.24.3.1

Abstract

AbstractThe model error N has been introduced to denote the discrepancy between measured and predicted capacity of pile foundation. This model error is recognized as epistemic uncertainty in pile capacity prediction. The statistics of N have been evaluated based on data gathered from various sites and may be considered only as a general-error trend in capacity prediction, providing crude estimates of the model error in the absence of more specific data from the site. The results of even a single load test to failure, should provide direct evidence of the pile capacity at a given site. Bayes theorem has been used as a rational basis for combining new data with previous data to revise assessment of uncertainty and reliability. This study is devoted to the development of procedures for updating model error (N), and subsequently the predicted pile capacity with a results of single failure test.AbstrakRasio antara kapasitas aksial pondasi tiang yang diukur melalui percobaan uji beban dengan kapasitas yang dihitung melalui formula dapat dianggap sebagai model error N yang menggambarkan kesalahan epistemic dalam perhitungan pondasi tiang. Data statistik N yang diperoleh dari berbagai lokasi dapat dianggap sebagai kecendrungan umum kesalahan (general error trend) yang melekat pada formula yang digunakan. Hasil percobaaan beban pada lokasi tertentu dimana bangunan terletak harus menjadi indikator langsung akan variasi kapasitas aksial tiang pada lokasi tertentu. Pada studi ini model error awal sebagai nilai kecendrungan umum dapat di update melalui kerangka teorema Bayes. Pengaruh kesalahan akibat friksi dalam alat tekan hidrolik disertakan dalam formulasi. Statistik nilai N yang baru dapat digunakan untuk menentukan kapasitas tiang ataupun angka keamanan yang dipakai dalam perencanaan untuk mencapai target keandalan tertentu.
Keandalan Menara Televisi Rangka Baja Akibat Beban Gempa Indra Djati Sidi; Akhmad Ridhwan Ma’sum
Jurnal Teknik Sipil Vol 24 No 3 (2017)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2017.24.3.5

Abstract

AbstrakPerencanaan struktur menara telah bergeser dari konsep equal hazard menjadi konsep equal risk, dimana semua bangunan dirancang untuk mempunyai tingkat kegagalan atau risiko yang sama nilainya, dalam hal ini 1% dalam masa layan 50 tahun. Berkembangnya konsep ini disebabkan bahwa struktur menara televisi yang dirancang dengan konsep equal hazard ternyata mempunyai tingkat risiko yg tidak sama yang disebabkan oleh variabilitas dari tahanan menara terhadap gempa. Variabilitas kapasitas menara terhadap gaya gempa dipengaruhi oleh variasi gaya gempa yang bekerja yang dikenal sebagai record to record variation. Dalam makalah ini disampaikan model probabilitas untuk menghitung tingkat keandalan menara terhadap gaya gempa, dengan mengkombinasikan kurva hazard dan kurva fragilitas struktur menara. Kapasitas menara atau kurva fragilitas didapatkan dengan mencari peak ground acceleration (PGA) collapse dari menara dengan menggunakan incremental nonlinear time history analysis dari 40 pasang data time history. Reliability atau keandalan menara diperoleh dengan memanfaatkan total probability theorem yaitu dengan melakukan proses risk integral antara kurva hazard dan kurva fragilitas.AbstractThe new earthquake design code emphasizes on uniform risk concept at every structure and every location which is 1% probability of collapse in 50 years, as stated in SNI 1726-2012. Indonesian television tower design, until this research is conducted, still uses the concept of uniform hazard ground motion, sample tower that is assessed in this research included. This research will assess probability of collapse of the sample tower as well as it's performance. Probability of collapse is calculated by risk integrating fragility curve from two different loading direction and hazard curve at the site. The result will then be summarized with the probability of each loading direction included to get the total probability of collapse in 50 years. Fragility curve is generated by Incremental Dynamic Analysis process of 40 different earthquake records. The measured intensity is determined as PGA. The fragility curve is calculated with lognormal distribution parameters of median ( ) and standard deviation (β) which are obtained from the PGA data set of IDA result.

Page 1 of 1 | Total Record : 10


Filter by Year

2017 2017


Filter By Issues
All Issue Vol 32 No 3 (2025): Jurnal Teknik Sipil - Edisi Desember Vol 32 No 2 (2025): Jurnal Teknik Sipil - Edisi Agustus Vol 32 No 1 (2025): Jurnal Teknik Sipil - Edisi April Vol 31 No 3 (2024): Jurnal Teknik Sipil - Edisi Desember Vol 31 No 2 (2024): Jurnal Teknik Sipil - Edisi Agustus Vol 31 No 1 (2024): Jurnal Teknik Sipil - Edisi April Vol 30 No 3 (2023): Jurnal Teknik Sipil Vol 30 No 2 (2023): Jurnal Teknik Sipil Vol 30 No 1 (2023): Jurnal Teknik Sipil Vol 29 No 3 (2022): Jurnal Teknik Sipil Vol 29 No 2 (2022): Jurnal Teknik Sipil Vol 29 No 1 (2022): Jurnal Teknik Sipil Vol 28 No 3 (2021): Jurnal Teknik Sipil Vol 28 No 2 (2021): Jurnal Teknik Sipil Vol 28 No 1 (2021): Jurnal Teknik Sipil Vol 27 No 3 (2020) Vol 27 No 2 (2020) Vol 27 No 1 (2020) Vol 27, No 1 (2020) Vol 26, No 3 (2019) Vol 26 No 3 (2019) Vol 26, No 2 (2019) Vol 26 No 2 (2019) Vol 26, No 1 (2019) Vol 26, No 1 (2019) Vol 26 No 1 (2019) Vol 25 No 3 (2018) Vol 25, No 3 (2018) Vol 25, No 3 (2018) Vol 25, No 2 (2018) Vol 25 No 2 (2018) Vol 25 No 1 (2018) Vol 25, No 1 (2018) Vol 24, No 3 (2017) Vol 24 No 3 (2017) Vol 24, No 2 (2017) Vol 24 No 2 (2017) Vol 24, No 2 (2017) Vol 24, No 1 (2017) Vol 24 No 1 (2017) Vol 23, No 3 (2016) Vol 23 No 3 (2016) Vol 23 No 2 (2016) Vol 23, No 2 (2016) Vol 23, No 1 (2016) Vol 23 No 1 (2016) Vol 22 No 3 (2015) Vol 22, No 3 (2015) Vol 22, No 2 (2015) Vol 22 No 2 (2015) Vol 22, No 1 (2015) Vol 22 No 1 (2015) Vol 21 No 3 (2014) Vol 21, No 3 (2014) Vol 21, No 2 (2014) Vol 21 No 2 (2014) Vol 21 No 1 (2014) Vol 21, No 1 (2014) Vol 20 No 3 (2013) Vol 20, No 3 (2013) Vol 20, No 2 (2013) Vol 20 No 2 (2013) Vol 20 No 1 (2013) Vol 20, No 1 (2013) Vol 19, No 3 (2012) Vol 19 No 3 (2012) Vol 19, No 2 (2012) Vol 19 No 2 (2012) Vol 19 No 1 (2012) Vol 19, No 1 (2012) Vol 18, No 3 (2011) Vol 18 No 3 (2011) Vol 18 No 2 (2011) Vol 18, No 2 (2011) Vol 18 No 1 (2011) Vol 18, No 1 (2011) Vol 17, No 3 (2010) Vol 17 No 3 (2010) Vol 17 No 2 (2010) Vol 17, No 2 (2010) Vol 17, No 1 (2010) Vol 17 No 1 (2010) Vol 16, No 3 (2009) Vol 16 No 3 (2009) Vol 16 No 2 (2009) Vol 16, No 2 (2009) Vol 16 No 1 (2009) Vol 16, No 1 (2009) Vol 15 No 3 (2008) Vol 15, No 3 (2008) Vol 15, No 2 (2008) Vol 15 No 2 (2008) Vol 15, No 1 (2008) Vol 15 No 1 (2008) Vol 14 No 4 (2007) Vol 14, No 4 (2007) Vol 14, No 3 (2007) Vol 14 No 3 (2007) Vol 14, No 2 (2007) Vol 14 No 2 (2007) Vol 14, No 1 (2007) Vol 14 No 1 (2007) Vol 13, No 4 (2006) Vol 13 No 4 (2006) Vol 13 No 3 (2006) Vol 13, No 3 (2006) Vol 13 No 2 (2006) Vol 13, No 2 (2006) Vol 13, No 1 (2006) Vol 13 No 1 (2006) Vol 12 No 4 (2005) Vol 12, No 4 (2005) Vol 12, No 3 (2005) Vol 12 No 3 (2005) Vol 12, No 2 (2005) Vol 12 No 2 (2005) Vol 12 No 1 (2005) Vol 12, No 1 (2005) Vol 11, No 4 (2004) Vol 11 No 4 (2004) Vol 11 No 3 (2004) Vol 11, No 3 (2004) Vol 11, No 3 (2004) Vol 11, No 2 (2004) Vol 11 No 2 (2004) Vol 11, No 1 (2004) Vol 11 No 1 (2004) Vol 10, No 4 (2003) Vol 10 No 4 (2003) Vol 10 No 3 (2003) Vol 10, No 3 (2003) Vol 10, No 2 (2003) Vol 10 No 2 (2003) Vol 10 No 1 (2003) Vol 10, No 1 (2003) More Issue