cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Teknik Sipil
ISSN : 08532982     EISSN : 25492659     DOI : 10.5614/jts
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik Sipil merupakan jurnal ilmiah yang diterbitkan berkala setiap tiga bulan, yaitu April, Agustus dan Desember. Jurnal Teknik Sipil diterbitkan untuk pertama kalinya pada tahun 1990 dengan membawa misi sebagai pelopor dalam penerbitan media informasi perkembangan ilmu Teknik Sipil di Indonesia. Sebagai media nasional, Jurnal Teknik Sipil diharapkan mampu mengakomodir kebutuhan akan sebuah media untuk menyebarluaskan informasi dan perkembangan terbaru bagi para peneliti dan praktisi Teknik Sipil di Indonesia. Dalam perkembangannya, Jurnal Teknik Sipil telah terakreditasi sebagai jurnal ilmiah nasional sejak tahun 1996 dan saat ini telah terakreditasi kembali (2012-2017). Dengan pencapaian ini maka Jurnal Teknik Sipil telah mengukuhkan diri sebagai media yang telah diakui kualitasnya. Hingga saat ini Jurnal Teknik Sipil tetap berusaha mempertahankan kualitasnya dengan menerbitkan hanya makalah-makalah terbaik dan hasil penelitian terbaru.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 26 No 1 (2019)" : 10 Documents clear
Parameters Optimization of Tuned Mass Damper Using Fast Multi Swarm Optimization Richard Frans; Yoyong Arfiadi
Jurnal Teknik Sipil Vol 26 No 1 (2019)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2019.26.1.6

Abstract

Tuned mass damper (TMD) has been used for vibration controller of building, especially for high rise building. TMD is one of passive device for reducing response of the structure which subjected to dynamic external disturbance such as wind, or earthquake load. TMD used its weight for reducing the vibration, TMD's frequency has been set with structure's frequency so that the frequency can resonate each other for reducing the response of the structure during the dynamic load. Therefore, three variables have significant effect for TMD performance which are mass ratio of TMD (m), frequency ratio of TMD (a), and damping ratio of TMD (z) which lead to two important variables of TMD properties which are stiffness and damping of TMD. This paper developed an empirical equation for obtaining the optimum parameters of tuned mass damper based on H2 norm control system and fast multi swarm optimization (FMSO). The objective function was to minimize the acceleration and displacement response of the structure. Accelerogram of El-Centro 1940 NS was chosen to be ground motion acceleration for simulating the response of the structure with and without TMD. The result shows a strong correlation both mass ratio of TMD to frequency ratio of TMD and mass ratio of TMD to damping ratio of TMD.Penggunaan peredam massa selaras (PMS) telah banyak digunakan sebagai alat kontrol getaran pada bangunan, khususnya bangunan-bangunan tinggi. PMS adalah salah satu kontrol pasif yang digunakan untuk mengurangi respon getaran dari struktur akibat beban-beban dinamik seperti angin, atau gempa. PMS menggunakan berat sendiri untuk mengurangi getaran, frekuensi dari PMS disesuaikan dengan frekuensi dari struktur sehingga beresonansi satu sama lain untuk mengurangi respon dari struktur selama berlangsungnya beban dinamik. Berdasarkan hal tersebut, ada tiga variabel yang mempunyai efek yang signifikan terhadap performa dari PMS, antara lain: rasio massa PMS (), rasio frekuensi PMS (), dan rasio redaman PMS () yang akan berhubungan langsung dengan dua parameter penting dari PMS yaitu kekakuan dan redaman dari PMS. Tulisan ini mengusulkan persamaan empirik untuk mendapatkan properti optimum dari PMS dengan menggunakan fungsi kontrol H2 dan algoritma fast multi swarm optimization. Fungsi objektif yang digunakan adalah untuk meminimumkan respon percepatan dan perpindahan dari struktur. Data rekaman El-Centro 1940 NS dipilih sebagai data percepatan tanah dasar untuk mensimulasikan respon dari struktur dengan dan tanpa menggunakan PMS. Hasil menunjukkan terdapat korelasi yang kuat antara rasio massa dari PMS terhadap rasio frekuensi dari PMS serta rasio massa dari PMS terhadap rasio redaman dari PMS.
Value Estimation Of California Bearing Ratio From Hand Cone Penetrometer Test For Pekanbaru Soils Soewignjo Agus Nugroho; Muhammad Yusa; Syawal Satibi
Jurnal Teknik Sipil Vol 26 No 1 (2019)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2019.26.1.4

Abstract

In practice, the design of pavement is commonly based on the California Bearing Ratio (CBR) test. This research was performed to study local correlation between Hand Cone Penetrometer (HCP) tests to the field CBR value. The local correlation is determined based on comparisons of HCP and CBR test results for the same density of soil taken from several locations in Pekanbaru City, Indonesia. It was found that there is an approximate linear relation in log scale between HCP test results to CBR values for a certain density of soil. Correlation for HCP and density to CBR has been put forward for the local correlation between the two values. Verification of the formula shows that the correlation can be used relatively accurately for predicting the field CBR values from the HCP test for inorganic soils. For organic soil, the formula need to be further researched.Pada praktiknya, perancangan perkerasan jalan didasarkan pada tes California Bearing Ratio (CBR). Studi ini dilakukan untuk mengetahui korelasi lokal antara tes Hand Cone Penetrometer (HCP) dan tes CBR untuk tanah dengan berat jenis yang sama, yang diambil pada beberapa titik di kota Pekanbaru, Indonesia. Berdasarkan analisis, diketahui bahwa terdapat hubungan linear, dalam skala log, antara nilai tes HCP dan CBR untuk tanah dengan berat jenis tertentu. Studi ini kemudian mendefinisikan persamaan korelasi dari HCP dan berat jenis terhadap CBR untuk korelasi lokal antara nilai HCP dan CBR. Dari hasil verifikasi persamaan, diketahui bahwa persamaan korelasi tersebut cukup akurat dan dapat digunakan untuk memprediksi nilai CBR lapangan dengan menggunakan nilai tes HCP untuk tanah inorganik. Penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk mendefinisikan formula korelasi untuk tanah organic. 
Dinamika Seas dan Swell dari Laut China Selatan ke Teluk Jakarta: Studi Kasus Kejadian Badai Hagibis, November 2007 Nining Sari Ningsih; Arief Rachman; Safwan Hadi; Farrah Hanifah
Jurnal Teknik Sipil Vol 26 No 1 (2019)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2019.26.1.8

Abstract

Karakteristik dinamika seas dan swell di sepanjang perairan Laut China Selatan-Teluk Jakarta pada waktu terjadi Badai Hagibis (18"“27 November 2007) dikaji dengan menggunakan metode pemodelan spektrum gelombang untuk mengetahui kontribusi gelombang yang dibangkitkan angin (gelombang angin) terhadap kejadian rob tanggal 25 November 2007 di pantai utara Jakarta. Pada penelitian ini, dilakukan pula uji coba simulasi model spektrum gelombang yang mengacu pada kedalaman tetap (batimetri) dan pada kedalaman total (jumlah batimetri dan pasang surut astronomis) untuk mengetahui pengaruh pasang surut astronomis terhadap hasil simulasi model gelombang yang dibangkitkan angin. Hasil simulasi menunjukkan bahwa gelombang angin di Teluk Jakarta pada tanggal 25 November 2007 didominasi oleh swell dengan tinggi gelombang ~11 cm yang diduga berasal dari Laut China Selatan sebagai daerah pembangkitan badai.Characteristics of seas and swell dynamics along South China Sea-Jakarta Bay waters during Cyclone Hagibis passage (18"“27 November 2007) have been studied using a spectral wave model to understand the magnitude of wind wave contribution to flooding event on November 25, 2007 along the northern coast of Jakarta. In this study, the model simulation was conducted using two kinds of water depth input, namely fixed water depth and timevarying water depths resulting from tides in order to obtain a better understanding of tidal influence on wind wave simulations. The simulated result shows that wind wave in the Jakarta Bay was dominated by swell with significant wave height of ~11 cm. It was expected that the swell propagated from the South China Sea as a storm generating area.
Model Partisipasi Aktivitas oleh Pekerja Berdasarkan Durasi Aktivitas di Kota Banda Aceh Hera Miralda
Jurnal Teknik Sipil Vol 26 No 1 (2019)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2019.26.1.10

Abstract

Basis dari pemodelan permintaan aktivitas adalah keputusan perjalanan yang merupakan bagian dari proses penjadwalan aktivitas. Permintaan perjalanan terjadi akibat adanya partisipasi aktivitas rumah tangga oleh pekerja dan non pekerja di luar rumah dan waktu yang dihabiskan untuk melakukan aktivitas tersebut hingga kembali ke rumah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan model partisipasi aktivitas oleh pekerja berdasarkan durasi aktivitas, mengetahui hubungan antar variabel eksogen dan variabel endogen serta hubungan antar variabel endogen akibat adanya variabel eksogen. Penelitian ini terdiri dari 16 variabel eksogen dan 6 variabel endogen untuk pekerja. Daerah penelitian meliputi seluruh kecamatan di Kota Banda Aceh. Survey yang dilakukan adalah membagikan kuisioner dengan home interview, metode survey yang digunakan adalah Stratified Random Sampling. Untuk memperoleh hasil dipakai metode Structural Equation Modelling (SEM) model exploratory factor analysis (EFA) dengan menggunakan software statistic AMOS. Hasil dari EFA untuk pekerja pada aktivitas mandatory, aktivitas maintenance dan aktivitas discretionary, menunjukkan bahwa variabel eksogen yang dominan berpengaruh adalah tujuan perjalanan, mempengaruhi secara langsung, positif, dan signifikan terhadap variabel endogen. Hal ini berarti bahwa lamanya durasi aktivitas individu tergantung pada tujuan perjalanannya. Sedangkan hubungan antar variabel endogen pekerja untuk setiap jenis aktivitas berpengaruh secara langsung, negatif dan signifikan. The basis of activity based modeling is a travel decision that part of the activity scheduling process. Travel requests occur due to the participation of household activities by workers and non-workers outside the home and the time spent while doing these activities until returning home. The purpose of this study is to obtain a model of participatory activity by workers based on the duration of activities, knowing the relationship between exogenous variables and endogenous variables and the relationship between endogenous variables due to the presence of exogenous variables. This study consisted of 16 exogenous variables and 6 endogenous variables for workers. The research area covers all sub-districts in Banda Aceh City. The survey was conducted by distributing questionnaires with home interviews, known as Stratified Random Sampling survey method. To obtain the results, the authors use the Structural Equation Modeling (SEM) model exploratory factor analysis (EFA) using AMOS statistical software. The results of EFA for workers in mandatory, maintenance, and discretionary activities indicate that the exogenous variable that is dominantly influential is the purpose of the trip, affecting directly, positively, and significantly towards endogenous variables. This means that the duration of individual activities depends on the purpose of the trip. While the relationship between endogenous variables has a direct, negative and significant effect.
Tantangan Penerapan Alokasi Anggaran Biaya SMK3 pada Kontrak Konstruksi Proyek Berisiko Tinggi Reini D Wirahadikusumah; Felix - Adhiwira; Putra Ramadhana Catri; Rani Gayatri Kusumawardhani Pradoto; Meifrinaldi -
Jurnal Teknik Sipil Vol 26 No 1 (2019)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2019.26.1.9

Abstract

Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) diamanatkan melalui PP 50/2012. Dalam konteks pekerjaan konstruksi, KemenPUPR telah menerbitkan PerMenPUPR 5/2014 yang kemudian diperbarui menjadi PerMenPUPR 2/2018. Pedoman ini mengatur pengalokasian biaya penerapan SMK3 oleh Penyedia Jasa dan Pengguna Jasa. Pedoman ini telah mengatur komponen-komponen biaya SMK3 yang harus diperhitungkan dan dilaksanakan di proyek-proyek berisiko tinggi. Namun penerapannya belum berdampak pada peningkatan kinerja K3 konstruksi, dengan demikian digali potensi penerapan pangalokasian anggaran SMK3 dalam kontrak konstruksi secara terpisah dari biaya umum/overhead, yaitu sebagai suatu "line-item" yang khusus dalam kontrak konstruksi. Studi dilakukan pada lima belas proyek konstruksi gedung bertingkat tinggi di wilayah Jakarta dan Bandung. Data diambil berdasarkan wawancara, kuesioner, serta dokumen pendukung. Biaya aktual SMK3 yang dikeluarkan berkisar antara 0,3-2,0%. Sedangkan anggaran yang dihitung berdasarkan pedoman adalah 1,37-3,84% dari total nilai kontrak. Komponen biaya yang paling signifikan adalah premi untuk asuransi, perizinan, serta gaji pengawas K3. Responden sebagai pihak kontraktor juga memberi masukan dari sudut pandang penyedia jasa terkait pendetilan perhitungan komponen biaya SMK3 yang tertuang dalam pedoman. Responden setuju pemisahan perhitungan biaya SMK3 dalam kontrak, namun pedoman dapat digunakan di luar lingkungan KemenPUPR apabila disusun penajaman perhitungannya sehingga terdapat kesamaan persepsi perhitungan antara Penyedia Jasa dan Pengguna Jasa. Occupational Safety and Health Management (OSHM) is compulsary stated in Government Regulation 50/2012. For construction sector, OSHM has been regulated by Ministry of Public Works and Housing Regulation 5/2014 and later updated in 2/2018. This serves as guidelines for construction projects within the ministry and includes guidelines on cost allocation for OSHM. The objective of this study was to explore the possibility of separating OSHM related costs as a "line-item" in the bill of quantity, in order to be assigned specifically for OSHM purposes, not to be compromised with other indirect costs. First the actual costs allocated for OSHM were investigated in fifteen high-rise building projects in the vicinity of Jakarta and Bandung areas. These actual allocations were then compared to the "ideal" costs simulated based on the guidelines. The actual costs were 0,3- 2,0%, while the simulated costs were 1,37-3,84% of the contract values. The most significant components of OSHM costs were for insurance, licenses, and safety supervisors/officers. Respondents agreed with the benefits of separating OSHM costs as a "line-item" in the BoQ. The existing guidelines which were developed by the government could be used in the private sector, however, more detailed estimating procedure is needed. Both contractors and owners should give inputs to the revised standard guidelines. 
Effect of Slag and Recycled Materials on the Performance of Hot Mix Asphalt (AC-BC) Rindu Twidi Bethary; Bambang Sugeng Subagio; Harmein Rahman; Nyoman Suaryana
Jurnal Teknik Sipil Vol 26 No 1 (2019)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2019.26.1.1

Abstract

The limitations of road construction materials require alternative materials such as asphalt recycling and utilization of waste potential such as steel slag for aggregate substitutes. In this study, there were tests for slag characteristics and reclaimed asphalt pavement (RAP) then continued with a marshall test to determine the optimum asphalt content (OAC). The nine mixtures planned in this study consist of 10-30% Slag combined with 10-30% RAP with Reclamite as a rejuvenating material. Using a combination of RAP, there is a decrease in the mixing and compaction temperature of 20°C compared to the conventional hot mix. Test results on hot mix asphalt using a combination of RAP and slag generate an increase of 10-30% each using a combined gradation and volume correction. Test result in heat asphalt mixture by using RAP and slag combination with additional of 10-30% each using correction of volume and combined gradation. For the hot mix asphalt with RAP10 and SLAG 10-30 (HMAR10S10-30), the OAC value is 5.83%, 5.95%, and 5.38%, and for the hot mix asphalt with RAP20 and SLAG 10-30 (HMAR20S10- 30), the OAC value obtained is 5.90%, 5.60%, and 5.95%, and for the hot mix asphalt with RAP30 and SLAG 10-30 (HMAR30S10-30), the OAC value is 5.55%, 5.60 %, and 5.33%. Keterbatasan material konstruksi jalan membutuhkan adanya material alternatif seperti daur ulang aspal dan pemanfaatan potensi limbah seperti slag baja untuk pengganti agregat, pada penelitian ini terdapat pengujian karakteristik slag dan daur ulang aspal (RAP) kemudian dilanjutkan dengan pengujian marshall untuk menentukkan kadar aspal optimum (KAO). Sembilan campuran direncanakan dalam penelitian ini yang terdiri dari 10-30% Slag dikombinasikan dengan 10-30% RAP dengan bahan peremaja Reclamite. Dengan menggunakan kombinasi RAP terjadi penurunan temperatur pencampuran dan pemadatan lebih rendah 20°C dibandingkan campuran panas konvensional. Hasil pengujian pada campuran beraspal panas dengan menggunakan kombinasi RAP dan slag dengan penambahan masing-masing sebesar 10-30% menggunakan koreksi volume dan gradasi gabungan, untuk campuran beraspal panas dengan RAP10 dan SLAG 10-30 (HMAR10S10-30) didapatkan nilai KAO sebesar 5,83%, 5,95%, dan 5,38%, sedangkan campuran beraspal panas dengan RAP20 dan SLAG 10-30 (HMAR20S10-30) didapatkan nilai KAO sebesar 5,90%, 5,60%, dan 5,95% dan untuk campuran beraspal panas dengan RAP30 dan SLAG 10-30 (HMAR30S10-30) didapatkan nilai KAO sebesar 5,55%, 5,60%, dan 5,33%.
The Performance of Warm Mix for the Asphalt Concrete - Wearing Course (AC-WC) Using the Asphalt Pen 60/70 and the Sasobit® Additives Serli Carlina; Bambang Sugeng Subagio; Aine Kusumawati
Jurnal Teknik Sipil Vol 26 No 1 (2019)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2019.26.1.2

Abstract

Hot Mix Asphalt (HMA) is a type of asphalt mixture commonly used as flexible pavement material. However, HMA has weaknesses in terms of high mixing and compaction temperature, resulting in high CO2 and Greenhouse Gas (GHG) emissions which have a negative impact on the environment. Therefore, a type of asphalt with lower mixing and compaction temperatures is needed. One alternative that can be done is to add Sasobit® additives to the asphalt. This study looks for the best contents of Sasobit® additives that can be added into the asphalt so that resulting the lowest mixing and compaction temperatures. The content of Sasobit® additives studied was 1%, 2% and 3% of the asphalt weight, sasobit contents higher than 3% are not recommended because it will cause the asphalt to be more liquid. The results show that the addition of Sasobit® by 3% may reduce the mixing temperature and the compaction temperature of about 70C lower compared to the mixture without Sasobit® additives. Further, this study compares the performance of asphalt mixtures using Sasobit® additives (mixture of Warm Mix Asphalt / WMA) with asphalt mixtures without Sasobit® additives (Asphalt / HMA Hot Mix mixture). The performance studied includes Marshall Stability, UMATTA Resilient Modulus and Fatigue. As a result, the WMA mixture that uses Sasobit® additives of 3% has a stability value of 1160 kg marshall; this value is higher than the Marshall stability obtained for the HMA mixture 1075 kg. However, the UMATTA testing at temperatures of 250C and 450C resulted in the highest resilient modulus in the mixture of WMA (3080 Mpa and 315 Mpa). The fatigue testing shows that WMA mixture is more flexible because it has an elastic modulus value of 4854 MPa and flexural stiffness 4551 MPa in a tensile 500µԐ strain compared to HMA mixture. Hot Mix Asphalt (HMA) merupakan jenis campuran beraspal yang umum digunakan sebagai material perkerasan lentur. Namun, HMA memiliki kelemahan dari sisi temperatur pencampuran dan pemadatan yang tinggi, sehingga menghasilkan gas CO2 dan Gas Rumah Kaca (GRK) yang berdampak buruk terhadap lingkungan. Dengan demikian, dibutuhkan suatu jenis campuran beraspal dengan temperatur pencampuran dan pemadatan yang lebih rendah. Salah satu alternatif yang dapat dilakukan adalah dengan menambahkan zat aditif Sasobit® ke dalam aspal. Penelitian ini mencari kadar zat aditif Sasobit® terbaik yang dapat ditambahkan ke dalam aspal sehingga diperoleh temperatur pencampuran dan pemadatan yang terendah. Kadar zat aditif Sasobit® yang diteliti sebesar 1%, 2% dan 3% terhadap berat aspal, kadar sasobit yang lebih tinggi dari 3% tidak direkomendasikan karena akan mengakibatkan aspal semakin cair. Hasil penelitian menunjukan penambahan kadar zat aditif Sasobit® sebesar 3% dapat menurunkan temperatur pencampuran dan temperatur pemadatan sekitar 70C lebih rendah dibandingkan dengan campuran tanpa zat aditif Sasobit® . Selanjutnya penelitian ini membandingkan kinerja campuran beraspal yang menggunakan zat aditif Sasobit® (campuran Warm Mix Asphalt/WMA) dengan campuran beraspal yang tidak mengggunakan zat aditif Sasobit® (campuran Hot Mix Asphalt/HMA). Kinerja campuran yang diteliti antar lain Stabilitas Marshall, Modulus Resilien UMATTA dan Fatigue. Hasilnya, campuran WMA yang mengggunakan zat aditif Sasobit® sebesar 3% memiliki nilai stabilitas marshall 1160 kg dimana nilai ini lebih tinggi dibandingkan dengan stabilitas marshall yang diperoleh untuk campuran HMA yaitu 1075 kg. Akan tetapi, hasil pengujian UMATTA pada suhu 250C dan 450C menghasilkan nilai modulus resilien tertinggi pada campuran WMA (3080 Mpa dan 315 Mpa). Hasil pengujian kelelahan Campuran WMA lebih lentur dikarenakan memiliki nilai modulus elastisitas 4854 MPa dan flexural stiffness 4551 MPa pada regangan Tarik 500µԐ dibandingkan dengan HMA.
Overlay Thickness of Flexible Pavement Analysis Using the Austroad 2010 Method and the Kenapave Program Case Study: CIPALI (Cikopo—Palimanan) Toll Road Yansen Stevenson Lau; Bambang Sugeng Subagio; Sri Hendarto
Jurnal Teknik Sipil Vol 26 No 1 (2019)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2019.26.1.3

Abstract

Toll roads have an important role on the economic development, therefore it is necessary to make road improvements to increase the road serviceability or minimum service standards (standar pelayanan minimal / SPM), as described in the Indonesian Government Regulation No. 34 of 2006 on roads. The CIPALI toll road has operated since 2015 and it connects Cikampek and Palimanan. Therefore, it is important to carry out a structural maintenance, in this case is by adding an overlay so that the pavement structure remains stable in supporting the repetition load which always increases over time. This study aims to analyze the overlay thickness using the AUSTROAD 2010 mechanistic procedure with the help of the CIRCLY and KENPAVE program, with a study area on the CIPALI toll road between kilometer 110 + 000 to kilometer 115 + 000. Referring to the results of the analysis, the overlay thickness calculated using the CIRCLY program requires a minimum thickness of 170 mm for the 2-layer model and 3-layer model in the direction towards Subang, and 160 mm for the 2-layer model and 150 mm for the 3-layer model in the direction toward Palimanan. The overlay thickness needed with an analysis using the linear-elastic KENLAYER program in the direction towards Palimanan is 140 mm for the 2-layer model and 100 mm for the 3-layer model, while the thickness of the overlay in the direction towards Subang is 160 mm for the 2-layer model and 130 mm for the 3-layer model. The overlay thickness needed with an analysis using the nonlinear KENLAYER program in the direction towards is 120 mm for the 2-layer model and 80 mm for the 3-layer model, and for the direction toward Subang is 140 mm for the 2-layer model and 100 mm for the 3-layer model. Jalan Tol memiliki peran penting terhadap perkembangan ekonomi sehingga memerlukan standar pelayanan minimal (SPM) yang mantap, sebagaimana tertulis dalam PP No.34 tahun 2006 tentang jalan. Jalan tol Cipali beroperasi di tahun 2015 yang menghubungkan Cikampek ke Palimanan. Oleh karenanya penting untuk dilakukan pemeliharaan struktural dengan lapis tambah agar struktur perkerasan tetap mantap dalam menopang beban repetisi yang terus bertambah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tebal lapis tambah menggunakan prosedur mekanistik AUSTROAD 2010 dengan program CIRCLY dan program KENLAYER untuk wilayah studi tol Cipali antara KM110+000 hingga KM115+000. Analisis yang dilakukan menghasilkan tebal lapis tambah yang menggunakan program CIRCLY membutuhkan tebal minimum 170 mm untuk model 2 lapisan dan 3 lapisan (arah menuju Subang) dan 160 mm untuk model 2 lapisan dan 150 mm untuk model 3 lapisan (arah menuju Palimanan). Kebutuhan tebal lapis tambah menggunakan program KENLAYER (elastik linier) arah Subang 160 mm untuk model 2 lapisan dan 130 mm untuk model 3 lapisan, sedangkan arah Palimanan adalah 140 mm untuk model 2 lapisan dan 100 mm untuk model 3 lapisan. Apabila menggunakan program KENLAYER elastik non-linier arah Palimanan adalah 120 mm untuk model 2 lapisan dan 80 mm untuk model 3 lapisan. Untuk arah Subang adalah 140 mm untuk model 2 lapisan dan 100 mm untuk model 3 lapisan.
Experimental Study of Energy Dissipation at Baffled Chute Spillway Joko Nugroho; Indratmo Soekarno; Agung Wiyono Hadi Soeharno
Jurnal Teknik Sipil Vol 26 No 1 (2019)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2019.26.1.5

Abstract

Experimental observation on a model of free over flow spillway is used in this study.  Three configurations of baffle placement are used in the experiment.  The energy along the flow over the spillway were calculated based on measured flow depth and discharge during the experiment. Variations of flow depth and discharge were determined based on baffle height as a reference.  The experiments were done in a 7 meters long flume of 0.078 m wide.  The spillway model has a dimension of 17.2 cm high, with rounded crest and 1:1 downstream slope.  There is no structures placed at the downstream of spillway.  The discharge applied to the spillway model is in the range of 0.6 to 1.8 l/s.  The experimental results shows that optimum results of energy dissipation were obtained when the flow depth is equal to the height of the baffle.  Observed energy dissipations in this is in the range of 30% to 50% upon the incoming energy of the spilled flow.  It was also observed that the length of the hydraulic jumped is reduced due to the application of baffled chute.Pengamatan eksperimental pada model pelimpah digunakan dalam penelitian ini. Tiga konfigurasi penempatan baffle digunakan dalam percobaan. Energi sepanjang aliran di atas spillway dihitung berdasarkan kedalaman aliran dan debit yang diukur selama percobaan. Variasi kedalaman aliran dan debit ditentukan berdasarkan tinggi baffle sebagai referensi. Percobaan dilakukan dalam flume 7 meter panjang lebar 0,078 m. Model spillway memiliki dimensi tinggi 17,2 cm, mercu bulat dan kemiringan hilir 1: 1. Tidak ada struktur yang ditempatkan di hilir spillway. Debit yang diterapkan pada model pelimpah berada dalam kisaran 0,6 hingga 1,8 l/s. Hasil eksperimen menunjukkan bahwa hasil optimal disipasi energi diperoleh ketika kedalaman aliran sama dengan ketinggian baffle. Disipasi energi yang diamati dalam penelitian ini adalah sekitar 30% sampai 50% pada energi yang masuk dari aliran yang melalui pelimpah. Dalam eksperimen diamati bahwa panjang loncatan hidrolik berkurang karena penerapan baffle pada saluran peluncur. 
Penilaian Kerentanan Seismik pada Jembatan Box Girder Beton Prategang Menerus Bentang Majemuk Eksisting melalui Pengembangan Kurva Fragilitas Analitik Daony Roha Silitonga; Iswandi Imran
Jurnal Teknik Sipil Vol 26 No 1 (2019)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2019.26.1.7

Abstract

Pengembangan kurva fragilitas merupakan salah satu metode penilaian kerentanan jembatan terhadap beban gempa yang dilakukan untuk memastikan keamanan dan kemampuan layan jembatan selama dan pasca gempa. Kurva fragilitas menunjukkan nilai probabilitas terjadinya suatu tingkat kerusakan pada struktur jembatan akibat suatu intensitas gempa, sehingga dapat digunakan untuk mengidentifikasi potensi kerusakan dan menentukan level kinerja jembatan. Studi ini mengembangkan kurva fragilitas untuk Jembatan Box Girder-Beton Prategang-Menerus-Bentang Majemuk eksisting yang berlokasi di Jakarta, dengan studi kasus pada Jembatan JLNT Tendean. Pengembangan kurva fragilitas mengacu kepada standar HAZUS. Kurva fragilitas dikembangkan dengan melakukan Non-Linear Time History Analysis (NLTHA) pada Model Analisis 3D Jembatan menggunakan program MIDAS CIVIL 2011. Input beban gempa pada NLTHA berupa serangkaian ground motion spesifik situs Jakarta, yang telah diskalakan terhadap Respon Spektra Target baik pada kondisi Beban Gempa Rencana Jakarta maupun pada berbagai level intensitas gempa. Tingkat kerusakan struktur jembatan akibat suatu intensitas gempa ditentukan dari respon seismik hasil NLTHA, berdasarkan nilai parameter kinerja jembatan - NCHRP 440 (2013). Kurva fragilitas yang dihasilkan menunjukkan bahwa Jembatan JLNT Tendean berpotensi mengalami tingkat kerusakan menengah akibat Beban Gempa Rencana, dengan kategori level kinerja "Life Safety". Tingkat kerusakan runtuh dengan probabilitas terlampaui 50%, akan terjadi pada kejadian gempa dengan PGA sebesar 1.18g. Dengan demikian, dari studi ini dapat disimpulkan bahwa Jembatan JLNT Tendean memiliki fragilitas seismik yang rendah. The development of fragility curve is one of method to assess the bridge vulnerability to seismic loading in order to ensure bridge"Ÿs safety and serviceability during and after an earthquake. Fragility curve describes the probability of a bridge reaching or exceeding a particular damage state for a given ground motion Intensity Measure (IM). Therefore, it can be used to identify bridge"Ÿs potential damage and performance level at certain level of seismic intensity. This study presents the fragility curve development of an existing Multi Span Continuous-Prestressed Concrete-Box Girder-Highway Bridge, namely JLNT Tendean, which is located in Jakarta. The development of fragility curve refers to HAZUS standard. The fragility curve is developed by performing Non-Linear Time History Analysis (NLTHA) on 3D analytical bridge model using MIDAS CIVIL 2011 program. A suite of Jakarta"Ÿs site-specific ground motion, which has been scaled both to Seismic Design Load and various level of seimic intensity Target Response Spectrums, will be used as seismic load input. Based on bridge performance parameters refer to NCHRP 440 (2013), the bridge"Ÿs structural Damage States due to various earthquake loadings, are defined from the seismic responses resulted from NLTHA. The developed fragility curve shows that moderate damage state can occur at JLNT Tendean due to Seismic Design Load, and the performance level is categorized as "Life Safety". The complete damage state with 50% probability of exceedance can occur on seismic event with PGA of 1.18g. Based on this study, it is concluded that the JLNT Tendean has low seismic vulnerability.

Page 1 of 1 | Total Record : 10


Filter by Year

2019 2019


Filter By Issues
All Issue Vol 32 No 3 (2025): Jurnal Teknik Sipil - Edisi Desember Vol 32 No 2 (2025): Jurnal Teknik Sipil - Edisi Agustus Vol 32 No 1 (2025): Jurnal Teknik Sipil - Edisi April Vol 31 No 3 (2024): Jurnal Teknik Sipil - Edisi Desember Vol 31 No 2 (2024): Jurnal Teknik Sipil - Edisi Agustus Vol 31 No 1 (2024): Jurnal Teknik Sipil - Edisi April Vol 30 No 3 (2023): Jurnal Teknik Sipil Vol 30 No 2 (2023): Jurnal Teknik Sipil Vol 30 No 1 (2023): Jurnal Teknik Sipil Vol 29 No 3 (2022): Jurnal Teknik Sipil Vol 29 No 2 (2022): Jurnal Teknik Sipil Vol 29 No 1 (2022): Jurnal Teknik Sipil Vol 28 No 3 (2021): Jurnal Teknik Sipil Vol 28 No 2 (2021): Jurnal Teknik Sipil Vol 28 No 1 (2021): Jurnal Teknik Sipil Vol 27 No 3 (2020) Vol 27 No 2 (2020) Vol 27 No 1 (2020) Vol 27, No 1 (2020) Vol 26, No 3 (2019) Vol 26 No 3 (2019) Vol 26, No 2 (2019) Vol 26 No 2 (2019) Vol 26, No 1 (2019) Vol 26, No 1 (2019) Vol 26 No 1 (2019) Vol 25 No 3 (2018) Vol 25, No 3 (2018) Vol 25, No 3 (2018) Vol 25 No 2 (2018) Vol 25, No 2 (2018) Vol 25 No 1 (2018) Vol 25, No 1 (2018) Vol 24, No 3 (2017) Vol 24 No 3 (2017) Vol 24, No 2 (2017) Vol 24 No 2 (2017) Vol 24, No 2 (2017) Vol 24, No 1 (2017) Vol 24 No 1 (2017) Vol 23, No 3 (2016) Vol 23 No 3 (2016) Vol 23 No 2 (2016) Vol 23, No 2 (2016) Vol 23, No 1 (2016) Vol 23 No 1 (2016) Vol 22 No 3 (2015) Vol 22, No 3 (2015) Vol 22, No 2 (2015) Vol 22 No 2 (2015) Vol 22 No 1 (2015) Vol 22, No 1 (2015) Vol 21 No 3 (2014) Vol 21, No 3 (2014) Vol 21, No 2 (2014) Vol 21 No 2 (2014) Vol 21 No 1 (2014) Vol 21, No 1 (2014) Vol 20 No 3 (2013) Vol 20, No 3 (2013) Vol 20, No 2 (2013) Vol 20 No 2 (2013) Vol 20 No 1 (2013) Vol 20, No 1 (2013) Vol 19, No 3 (2012) Vol 19 No 3 (2012) Vol 19 No 2 (2012) Vol 19, No 2 (2012) Vol 19, No 1 (2012) Vol 19 No 1 (2012) Vol 18, No 3 (2011) Vol 18 No 3 (2011) Vol 18 No 2 (2011) Vol 18, No 2 (2011) Vol 18 No 1 (2011) Vol 18, No 1 (2011) Vol 17, No 3 (2010) Vol 17 No 3 (2010) Vol 17 No 2 (2010) Vol 17, No 2 (2010) Vol 17, No 1 (2010) Vol 17 No 1 (2010) Vol 16 No 3 (2009) Vol 16, No 3 (2009) Vol 16, No 2 (2009) Vol 16 No 2 (2009) Vol 16 No 1 (2009) Vol 16, No 1 (2009) Vol 15, No 3 (2008) Vol 15 No 3 (2008) Vol 15, No 2 (2008) Vol 15 No 2 (2008) Vol 15, No 1 (2008) Vol 15 No 1 (2008) Vol 14 No 4 (2007) Vol 14, No 4 (2007) Vol 14, No 3 (2007) Vol 14 No 3 (2007) Vol 14 No 2 (2007) Vol 14, No 2 (2007) Vol 14, No 1 (2007) Vol 14 No 1 (2007) Vol 13 No 4 (2006) Vol 13, No 4 (2006) Vol 13 No 3 (2006) Vol 13, No 3 (2006) Vol 13, No 2 (2006) Vol 13 No 2 (2006) Vol 13, No 1 (2006) Vol 13 No 1 (2006) Vol 12 No 4 (2005) Vol 12, No 4 (2005) Vol 12, No 3 (2005) Vol 12 No 3 (2005) Vol 12 No 2 (2005) Vol 12, No 2 (2005) Vol 12 No 1 (2005) Vol 12, No 1 (2005) Vol 11, No 4 (2004) Vol 11 No 4 (2004) Vol 11, No 3 (2004) Vol 11 No 3 (2004) Vol 11, No 3 (2004) Vol 11 No 2 (2004) Vol 11, No 2 (2004) Vol 11 No 1 (2004) Vol 11, No 1 (2004) Vol 10, No 4 (2003) Vol 10 No 4 (2003) Vol 10, No 3 (2003) Vol 10 No 3 (2003) Vol 10 No 2 (2003) Vol 10, No 2 (2003) Vol 10 No 1 (2003) Vol 10, No 1 (2003) More Issue