cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Medicina
Published by Universitas Udayana
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 13 Documents
Search results for , issue "Vol 47 No 1 (2016): Januari 2016" : 13 Documents clear
Anestesi epidural pada pasien modified radical mastectomy dengan gagal jantung kongestif Anthonio, Jim; Krisna, IB; Widnyana, IMG
Medicina Vol 47 No 1 (2016): Januari 2016
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (419.857 KB)

Abstract

Pasien gagal jantung kongestif (GJK) yang membutuhkan tindakan bedah sering timbul penyulit dengan prognosis yang buruk karena GJK dapat meningkatkan risiko mortalitas pasca-operasi. Penggunaan anestesi regional dengan blok epidural neuroaksial pada pasien GJK dengan memperhatikan efek blok simpatis dan risiko penurunan systemic vascular resistance atau risiko yang bisa terjadi dapat kita lakukan dengan menggunakan dosis rendah serta menjaga kecukupan volume intravaskular. Perempuan berumur 56 tahun yang terdiagnosis localized advance breast cancer kiri direncanakan modified radical mastectomy. Pasien juga menderita GJK fungsional klas III ec hipertensi kronis dan diabetes melitus dengan hipokinetik global. Penderita diberi premedikasi midazolam 1 mg, ketamin 20 mg dan fentanil 25 mcg kemudian dilakukan pemasangan alat monitoring, arteri line, kateter vena sentral, serta dilakukan anestesi epidural dengan kateter epidural di vertebra torakal IV-V menggunakan jarum touhy 18G dengan panjang kateter di ruang epidural 5 cm. Regimen anestesi epidural yang digunakan adalah levobupivacain 0,5% volume 8 mL. Operasi selama 2 jam 50 menit, posisi head up 45 derajat, hemodinamik selama operasi stabil dengan topangan norepinefrin 0,05-0,1 mcg/KgBB/menit dan dobutamin 5 mcg/KgBB/menit. Anestesi epidural merupakan tehnik anestesi yang dapat dilakukan pada pasien GJK dengan hipokinetik global, penurunan fungsi ventrikel kiri berat (fraksi ejeksi 32%) dan fungsional klas III Patient with congestive heart failure (CHF) that need surgery has a possibility of complication that can increase mortality rate after surgery. The use of regional anesthesia with neuroaxial epidural block in CHF patient is considered safe, decreases the risk of systemic vascular resistance, we can use low dose and maintain adequate intravascular volume. Female, 56 years old, with diagnose of left localized advance breast cancer, scheduled for modified radical mastectomy. She had CHF functional class III caused by chronic hypertension accompanied by diabetes mellitus and global hypokinetic. Midazolam 1 mg, ketamin 20 mg, and fentanyl 25 mcg was given as premedication patient, followed by inplace monitoring tools, insertion arterial line, and central venous catheter. Epidural catheter was placed between thoracal vertebrae IV and V, with epidural anesthesia regimen of levobupivacain 0.5% 8 mL. Duration of surgery was 2 hours and 50 minutes, with 45 degree head up position. The intraoperative hemodynamic parameters was stable and supported by norepinephrine 0.05-0.1 mcg/KgBW/minute and dobutamine 5 mcg/KgBW/minute. This case report proved that epidural anesthesia technique could be used for patient with CHF with global hypokinetic, severe decreased of left ventricle function (EF 32%) and functional class III.
Terapi insulin menurunkan kejadian nyeri neuropati diabetik dibandingkan dengan oral anti-diabetes pada penderita diabetes melitus tipe 2 Lestari, Luh Kadek Trisna; Purwata, Thomas Eko; Putra, IGN Purna
Medicina Vol 47 No 1 (2016): Januari 2016
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (376.431 KB)

Abstract

Nyeri neuropati diabetik (NND) merupakan salah satu komplikasi yang sering terjadi pada penderita diabetes melitus (DM) tipe 2. Insulin merupakan salah satu terapi DM tipe 2. Insulin memperbaiki status metabolik dengan cepat terutama kadar glukosa darah sehingga kerusakan sel saraf dapat dicegah termasuk kejadian NND. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terapi insulin dapat menurunkan kejadian NND pada pasien DM tipe II dibandingkan dengan oral anti-diabetes (OAD). Subjek penelitian adalah 80 orang penderita DM tipe 2 yang menjalani pengobatan ke Poliklinik Endokrin dan Poliklinik Saraf RSUP Sanglah selama bulan Januari-Maret 2015. Subjek terdiri dari kelompok kasus 40 orang DM dengan NND dan kelompok kontrol 40 orang DM tanpa NND. Adanya NND ditentukan dengan alat bantu douleur neuropathique en 4 questions (DN4). Uji hipotesis menggunakan Chi-square, dan regresi logistik dengan tingkat kemaknaan P<0,05. Hasil penelitian mendapatkan bahwa terapi insulin pada penderita DM tipe 2 menurunkan risiko NND dibanding terapi OAD dengan RO=0,07 (IK95% 0,02 sampai 0,26), P<0,0001. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terapi insulin pada penderita DM tipe 2 dapat menurunkan kejadian NND. Painful diabetic neuropathy (PDN) is one of the most common complications that often occur in diabetes mellitus (DM) patient. Insulin is one of the DM treatment can quickly improve metabolic status, especially blood glucose levels, so prevent damage to nerve cells include NND. The purpose of this study was to determine whether insulin therapy can reduce the risk of NND in patients with type II DM compared to oral anti-diabetic (OAD). Subject of study was 80 samples with type 2-DM underwent treatment to Endocrine and Neurology Outpatient Clinic at Sanglah Hospital from January until March 2015. Subjects consist of 40 subjects in case group with PDN and 40 subjects in control group without PDN. The existence of PDN was determined by douleur neuropathique en 4 questions (DN4) tools. This study found that insulin therapy reduce incidence of PDN on type 2-DM patients compared to OAD therapy with OR=0.07 (95%CI 0.02 to 0.26), P<0.0001. It was concluded that insulin therapy can reduce incidence of PDN in type 2-DM patient.
Hubungan antarparameter klinikopatologis pada karsinoma kolorektal post-reseksi: analisis 227 kasus periode tahun 2010-2014 Novitasari, Novitasari; Mulyadi, I Ketut
Medicina Vol 47 No 1 (2016): Januari 2016
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (537.293 KB)

Abstract

Karsinoma kolorektal (KKR) merupakan suatu tumor ganas epitelial yang berasal dari usus besar. Karsinoma kolorektal telah menjadi masalah kesehatan yang serius di Indonesia dan di Bali pada khususnya. Penelitian ini merupakan penelitian retrospektif dengan tujuan untuk mengetahui hubungan antarparameter klinikopatologis KKR. Data dikumpulkan dari buku registrasi di RSUP Sanglah dan laboratorium swasta sejak 1 Januari 2010 hingga 31 Desember 2014. Klasifikasi tumor-tumor kolorektal mempergunakan sistem klasifikasi oleh World Health Organization, 2010. Klasifikasi faktor prognosis mempergunakan konsensus oleh The American Joint Committee’s tahun 1999 yang dipublikasi ulang tahun 2011. Hubungan antarparameter klinikopatologis dianalisis dengan uji Chi-square. Terdapat 227 kasus KKR post-reseksi selama kurun waktu 5 tahun (2010-2014). Lokasi tumor berhubungan bermakna dengan umur (P=0,001) dan ukuran tumor (P=0,015). Derajat diferensiasi berhubungan bermakna dengan tingkat kedalaman invasi (pT) (P=0,000) dan tipe histologis (P=0,000). Disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara lokasi tumor dengan umur dan ukuran tumor, serta derajat diferensiasi dengan tingkat kedalaman invasi dan tipe histologis. Colorectal carcinoma is a malignant epithelial tumor originating in the large bowel. This malignancy has been burdened serious health problem in Indonesia, including Bali. This retrospective study aimed to evaluate the association between clinico-pathological interparameters of colorectal carcinoma. Data were collected from registration in Sanglah hospital and a private laboratory, since January 1st, 2010 until December 31st, 2014. Classification of colorectal tumors used classification system by World Health Organization, 2010. Classification of prognostic factors used the American Joint Committee’s consensus, 1999, republished in 2011. Inter-relationship between clinicopathological parameters were analyzed their significancies using Chi-square test. There were total 227 cases of post-resection colorectal carcinoma between 2010-2014 (5 years). Tumor location was significantly associated with age (P=0.001) and tumor size (P=0.015). Grading was significantly associated with the local extent (pT) (P=0.000) and histological type (P=0.000). It was concluded that there are association between tumor location and age and tumor size, and between grading and the local extent and histological type.
Sebuah kasus dengan komplikasi penggunaan lattissimus dorsi myocutaneous flap pada pembedahan rekontruksi payudara Christian, Dewi Prima; Adiputra, Putu Anda Tusta; Chr, W Steven
Medicina Vol 47 No 1 (2016): Januari 2016
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (197.258 KB)

Abstract

Berdasarkan pengalaman klinis, rekonstruksi payudara dengan menggunakan lattissimus dorsi myocutaneous flap (LDMF) merupakan prosedur yang aman dikerjakan untuk menutup defek mastektomi. Nekrosis pada flap sangat jarang terjadi, dan biasanya terjadi akibat trauma vaskular seperti terikatnya arteri thoracodorsalis saat dilakukan mastektomi. Wanita usia 53 tahun datang dengan tumor di payudara kiri. Dari pemeriksaan klinis dan biopsi didapatkan hasil phyloides jinak payudara. Pada pasien telah dilakukan mastektomi dan rekonstruksi payudara dengan LDMF untuk menutup defek pada luka operasi. Pengamatan hari kedua pascaoperasi, flap mengalami nekrosis parsial dan cenderung menjadi nekrosis total. Lattissimus dorsi myocutaneous flap adalah prosedur umum untuk rekonstruksi payudara pada pembedahan mastektomi untuk menutup defek luka operasi. Nekrosis dapat disebabkan oleh kesalahan prosedur dan trauma vaskular. Cedera pembuluh darah dan trombosis selama dan setelah operasi dapat juga menjadi penyebab terjadinya nekrosis pada flap. Extensive clinical experience with the latissimus dorsi myocutaneus flap (LDMF) has documented the safety of this procedure on breast reconstruction surgery. Significant flap necrosis is very rare, and usually associated with either recognized of unrecognized injury to the vascular pedicle, such as when the thoracodorsalis artery has been ligated during the original mastectomy. A 53-year old woman suffered from a huge tumor on her left breast. Clinical investigations and biopsy examination showed benign phyloides of the breast. Mastectomy was done and immediate LDMF was performed to reconstruct the defect from the surgery. On the day 2 after surgery, LDMF was partially necrotic and seemed to head towards total necrosis. Latissimus dorsi myocutaneus flap is a common procedure to reconstruct the defect after mastectomy. The cause of necrosis maybe due to technical error and impact to vascular compromise. The vascular injury and thrombosis during and after surgery may be responsible for the event of flap necrosis.
Lesi talamus sebagai faktor risiko perburukan neurologis pada stroke perdarahan intraserebral supratentorial akut Suryawati, Ni Nyoman Ayu; Nuartha, AABN; P, Thomas Eko
Medicina Vol 47 No 1 (2016): Januari 2016
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (391.457 KB)

Abstract

Stroke merupakan salah satu kegawatdaruratan di bidang neurologi. Insidens stroke di Indonesia adalah 12,1 per 1000 penduduk tahun 2013, sama banyak antara wanita dan lelaki dengan mortalitas di Indonesia sebesar 22%, (21,2% untuk stroke iskemik dan 28,2% untuk stroke perdarahan). Perdarahan talamus sering menimbulkan penurunan kesadaran akibat kerusakan sistem ascending reticular activating system bagian rostral. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bahwa lesi talamus merupakan faktor risiko perburukan neurologis pada penderita stroke perdarahan intraserebral supratentorial akut. Rancangan penelitian ini adalah kohort prospektif pada 60 orang penderita stroke perdarahan intraserebral supratentorial akut dari Maret-Oktober 2015. Subjek dibagi 2 kelompok, masing-masing 30 subjek dengan lesi di daerah talamus dan lesi bukan talamus berdasarkan hasil CT scan kepala. Hubungan antar-variabel dinyatakan dengan risiko relatif (RR) (IK95%) dengan tingkat kemaknaan (P)<0,05. Pada analisis data didapatkan hubungan bermakna antara lesi talamus dengan perburukan klinis neurologis [RR=7,98 (IK95% 2,23 sampai 28,52), P=0,001]. Kami menyimpulkan bahwa lesi talamus secara bermakna merupakan faktor risiko terjadinya perburukan klinis neurologis pada penderita stroke perdarahan intraserebral akut. Stroke is one of the emergency case in neurology. Incidence of stroke in Indonesia was 12.1 per 1000 population in 2013, and women were equally affected as men; mortality among stroke patients in Indonesia was 22% (21.2% for ischemic stroke and 28.2% for haemorrhagic stroke). Thalamic hemorrhage often cause decrease of consciuosness due to damage of rostral ascending reticular activating system. The purpose of this study was to know whether thalamic lesion is a risk factor of worsening neurology in acute supratentorial intracerebral stroke patients. This study was prospective cohort design involving 60 acute supratentorial intracerebral stroke patients from March until October 2015. Subjects were divided into 2 groups consist of 30 subjects for each group (thalamic lesion and another location in head) based on head CT scan. Association between variable was expressed in relative risk (RR) (95%CI) with level of significance P<0.05. Data analysis revealed that there were association between thalamic lesion and worsening of clinical neurology [RR=7.98 (95%CI 2.23 to 28.52), P=0.001]. We conclude that thalamic lesion is a a risk factor of worsening of clinical neurology in acute haemorrhagic stroke patient.
Gula darah tidak terkontrol sebagai faktor risiko gangguan fungsi kognitif pada penderita diabetes melitus tipe 2 usia dewasa menengah Nugroho, Bhaskoro Adi Widie; Adnyana, I Made Oka; Samatra, Dewa Putu Gede Purwa
Medicina Vol 47 No 1 (2016): Januari 2016
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (373.048 KB)

Abstract

Diabetes melitus (DM) telah dihubungkan dengan kejadian gangguan fungsi kognitif (GFK). Kontrol gula darah yang diukur dengan menggunakan kadar HbA1c telah dikaitkan dengan perkembangan dan progresivitas dari komplikasi DM. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kadar gula darah tidak terkontrol (HbA1c >7%) merupakan faktor risiko GFK pada penderita DM tipe 2 usia dewasa menengah. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kasus kontrol. Sampel direkrut secara consecutive. Data dianalisis dengan uji Kai-kuadrat dan regeresi logistik, dinyatakan dalam rasio odds (RO)(IK95%) dengan tingkat kemaknaan (P)<0,05. Didapat jumlah penderita DM usia dewasa menengah yang memenuhi kriteria penelitian untuk dilakukan pemeriksaan sebanyak 86 orang. Hasil analisis statistik mendapatkan bahwa kadar gula darah tidak terkontrol berhubungan dengan kejadian GFK pada penderita DM tipe 2 usia dewasa menengah [RO=3,69 (IK95% 1,416 sampai 9,622), P=0,008]. Disimpulkan bahwa kadar gula darah yang tidak terkontrol merupakan faktor risiko terjadinya GFK pada penderita DM tipe 2 usia dewasa menengah. Diabetes mellitus has been associated with the incidence of impaired cognitive function. Blood sugar control measured using HbA1c levels have been associated with the development and progression of diabetes complications. The objective of this study was to determine if uncontrolled blood sugar (HbA1c >7%) was a risk factor for cognitive impairment in middle-aged adult patients with type 2-diabetes mellitus. This was a case-control study. Sample selected by consecutive sampling. Data was analyzed by Chi-square and logisitic regression test and expressed in odds ratio (OR)(95%CI), with significant level of P <0.05. The studi found 86 subject met the eligibility criteria. Statistical analysis showed that poorly controlled blood sugar levels associated with impaired cognitive function events in middle-aged adult patients with type 2-diabetes mellitus [OR=3.69 (95%CI 1.416 to 9.622), P= 0.008]. It was concluded that poorly controlled blood sugar levels is a risk factor for the occurrence of impaired cognitive function events in middle-aged adult patients with type 2-diabetes mellitus.
Seroprevalens serta faktor-faktor risiko toksoplasmosis pada penduduk di Desa Kubu Kabupaten Karangasem Bali Laksmi, Dewa Ayu; Sudarmaja, I Made; Swastika, I Kadek; Damayanti, Putu Ayu Asri; Diarthini, Ni Luh Putu Eka
Medicina Vol 47 No 1 (2016): Januari 2016
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (382.586 KB)

Abstract

Toksoplasmosis menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat di seluruh dunia karena dapat menyebabkan kelainan kongenital pada neonatus. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan prevalens dan mengidentifikasi faktor-faktor risiko toksoplasmosis pada penduduk di Desa Kubu Karangasem. Sampel serum dikumpulkan dari penduduk di beberapa banjar secara consecutive. Kuesioner diberikan untuk memperoleh data tentang demografi dan faktor risiko toksoplasmosis. Faktor risiko yang diteliti adalah kontak dengan tanah, kebiasaan pola makan termasuk konsumsi daging mentah atau setengah matang, sayuran yang tidak dicuci, dan sumber air minum. Besar sampel dalam penelitian ini adalah 106 orang dengan usia rerata 45,20 (SB 17,03) tahun. Prevalens IgG anti-Toksoplasma gondii di Kabupaten Kubu adalah 13,2%. Seroprevalens tertinggi toksoplasmosis dalam penelitian ini adalah 20%, ditemukan pada usia 50-59 tahun. Prevalens kelompok usia reproduksi (20-49 tahun) pada populasi penelitian adalah 15%. Faktor risiko yang signifikan terkait dengan toksoplasmosis adalah sumber air minum. Disimpulkan bahwa seroprevalens toksoplasmosis pada penduduk di Desa Kubu Kabupaten Karangasem Bali sebesar 13,3%, dan sumber air minum merupakan faktor risiko yang terkait. Toxoplasmosis has become one of public health problem worldwide because it can cause congenital malformation in newborn. The objective of this study was to determine the seroprevalence and to identify risk factors of toxoplasmosis in population of Kubu district Karangasem. We collected serum samples consecutively from resident of several banjar in Kubu. A questionnaire was administered to elicit data on demographics and practices considered to be risk factors for toxoplasmosis. Risk factor that had been evaluated in this study were contact with soil, food pattern habits including consumption of rare/ improperly cooked meat and unwashed vegetables, drinking water sources. The total sample in this study were 106 people with an average age of 45.20 (SD 17,03) years. Seroprevalence of IgG anti- Toksoplasma gondii in Kubu district was 13.2%. The highest seroprevalence of toxoplasmosis in this study was 20%, found in the age 50-59 years. The prevalence of reproductive age group (20-49 years ) in the study population was 15%. Risk factors significant associated with toxoplasmosis was source of drinking water. We conclude that seroprevalence of toxoplasmosis in population of Kubu district Karangasem was 13.2%, and source of drinking water was a significant risk factor.
Gangguan mental organik pada multipel sklerosis Dewi, NN Trisna; Susilawathi, NM; Westa, W
Medicina Vol 47 No 1 (2016): Januari 2016
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Multipel sklerosis (MS) adalah penyakit demielinasi autoimun polifasik/multifokal menyerang substansia alba akibat autoreaktif limfosit. Perempuan lebih dominan dibanding lelaki. Manifestasi klinis berupa neuritis optik akut, gejala traktus piramidal dan ekstrapiramidal, sindrom lesi batang otak akut dan medula spinalis, serta gangguan mental organik relapsing remitting. Kasus seorang lelaki 22 tahun dengan riwayat neuritis optik akut mata kiri kemudian disusul mata kanan, selanjutnya kelemahan separuh tubuh kiri, perlahan-lahan memberat, lalu mengalami perbaikan dengan gejala sisa. Pada pemeriksaan fisis didapat hemiparesis spastik sinistra grade 4+, refleks Babinski dan Hoffmann-Tromner sinistra positif, serta gejala psikologis. Pemeriksaan penunjang MRI kepala dengan kontras tampak hiperintens T2 di paraventrikel lateral kanan kornu anterior dan posterior. Penderita didiagnosis MS dan gangguan mental organik, kemudian diterapi dengan citicoline 2x500 mg PO, mecobalamin 1x500 mcg PO, risperidone 1x2 mg PO, dan psikoedukasi keluarga. Respon terapi baik tetapi prognosis buruk. Multiple sclerosis (MS) is a polyphasic/multifocal autoimmune demyelination disease which affect the substantia alba caused by autoreactive of lymphocyte. Women are more dominant than men. The clinical manifestation are acute optic neuritis, pyramidal and extrapyramidal tracts lesion, acute brain stem and spinal cord lesion syndrome, organic mental disorders which cause relapsing remitting. Case was a 22 years old male with history of acute optic neuritis on the left eye which slowly moves to the right eye, followed by weakness of the left part of the body, happens slowly and progressively worse and becomes better with squelle. On the physical examination, it was found spastic hemiparesis sinistra grade 4+, positive sinistra Babinski and Hoffmann-Trommner reflexes, and psychological manifestation. Head MRI scan with contrast showed hyperintense T2 at right lateral paraventricle of cornu anterior posterior. The diagnosis were MS and organic mental disorders, and treated with oral citicoline 2x500 mg, mecobalamin 1x500 mcg, risperidone 1x2 mg, and psychological education for the family. Response to therapy was good but the prognosis was poor.
Tethered cord syndrome Sukarini, Ni Putu; Budiarsa, IGN; Widyadharma, I Putu Eka
Medicina Vol 47 No 1 (2016): Januari 2016
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tethered cord syndrome adalah kelainan neurologis yang disebabkan oleh perlengketan jaringan yang membatasi pergerakan medula spinalis. Kasus ini jarang ditemukan di RSUP Sanglah Denpasar. Seorang anak perempuan, 15 tahun, dengan keluhan tidak dapat menahan kencing dan cenderung keluar tanpa disadari (inkontinensia uri) sejak ± 10 tahun yang lalu yang disertai dengan rasa tebal pada daerah pantat. Hasil MRI torakal didapatkan simpulan mengarah pada tethered cord sampai setinggi S1 dengan adanya dilatasi kanal spinal setinggi L2 s/d S1, observasi hidromielia medula spinalis setinggi Th 11 s/d L3, dan observasi adanya lipomielokel/lipomielomeningokel dd/intradural lipoma setinggi S1-S2. Pada kasus dilakukan release terhadap medula spinalis dan pengangkatan jaringan yang diduga suatu massa lipomeningokel. Hasil patologi anatomi berupa jaringan lemak matur yang di antaranya terdapat berkas saraf perifer yang mendukung suatu lipomielomeningokel. Tethered cord syndrome is a neurological disorder caused by tissue attachments that limit the movement of the spinal cord. This cause was seldom found in Sanglah hospital, Denpasar. We have a case of 15-years old child with chief complain of urine incontinence for about 10 years and numbness around her buttock. The result of her thoracal MRI has shown tethered cord until level of S1 with spinal canal dilatation from L1 until S1, hydromyelia spinal cord from T11 until L3, and there was also lipomyelocele/lipomyelomeningocele. The result of patology anatomy examination was mature fat tissue, include also some of periphery nerve tissue, wisch supported for lipomyelomeningocele.
Shift worker sleep disorder Suliani, Ni Made Oka; Utami, Desak Ketut Indrasari
Medicina Vol 47 No 1 (2016): Januari 2016
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (524.648 KB)

Abstract

Shift worker sleep disorder (SWSD) adalah gangguan tidur irama sirkadian yang ditandai dengan insomnia dan kantuk berlebihan yang terjadi pada mereka yang bekerja diluar periode tidur yang tipikal atau disebut juga jam-jam yang non-tradisional yaitu pukul 22.00-06.00. Pekerja shift berisiko lebih tinggi untuk mengalami tekanan darah tinggi, berat badan berlebih dan diabetes bahkan meningkatkan risiko kanker. Gangguan tidur mengakibatkan disregulasi sumbu hipotalamus hipofise adrenal. Pekerja shift harus memperhatikan tidurnya bukan hanya untuk kesehatannya sendiri namun juga untuk mencegah kecelakaan kerja yang dapat merugikan banyak orang. Terapi SWSD meliputi terapi farmakologis dan non-farmakologis. Terapi non-farmakologis mencakup pengaturan jadwal kerja, modifikasi lingkungan, dan menghindari konsumsi kafein, alkohol, serta nikotin. Terapi farmakologis meliputi konsumsi hormon melatonin dan obat-obatan yang dapat memodifikasi tidur. Shift worker sleep disorder (SWSD) is a circadian rhythm sleep disorder characterized by insomnia and excessive sleepiness that occurs in those who work outside of typical hours of sleep period, also called the nontraditional hours at 22:00 until 06:00. Shift workers are at higher risk for developing high blood pressure, excess weight and diabetes, even increase the risk of cancer. Sleep disorders cause dysregulation of the hypopituitary hypophysis adrenal axis. Shift workers must sleep properly not only to preserve their own health, but also to prevent accidents that can harm many people. Therapies SWSD include pharmacological and nonpharmacological therapy. Nonpharmacological therapy include improving work schedules, environmental modifications and also avoiding caffeine, alcohol, and nicotine. Pharmacologic therapy includes the consumption of the melatonin hormone and drugs that can modify sleep.

Page 1 of 2 | Total Record : 13