cover
Contact Name
Rangga Saptya Mohamad Permana
Contact Email
rangga.saptya@unpad.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalprotvfunpad@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
ProTVF
ISSN : 2548687X     EISSN : 25490087     DOI : -
ProTVF is published twice a year (March and September) published by the Faculty of Communication Science, Universitas Padjadjaran. ProTVF provides open access to the public to read abstract and complete papers. ProTVF focuses on Television and Film studies.
Arjuna Subject : -
Articles 127 Documents
SIARAN TELEVISI PAGI HARI (BREAKFAST TELEVISION) DI TELEVISI INDONESIA Aceng Abdullah; Evi Rosfiantika; Rangga Saptya Mohamad Permana
ProTVF Vol 1, No 2 (2017): September 2017
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (145.594 KB) | DOI: 10.24198/ptvf.v1i2.19875

Abstract

Perkembangan televisi siaran di Indonesia cukup pesat. Media massa yang satu ini di Indonesia jauh lebih disukai dibanding media massa cetak atau pun media radio. Para pengusaha media massa ini melihat kue iklan di Indonesia yang pada tahun 2016 saja mencapai angka sekitar Rp 150 trilyun. Dari jumlah itu sekitar 80% diraup oleh stasiun televisi besar di Jakarta yang jumlahnya hanya beberapa buah. Siaran televisi yang melayani para pemirsanya di pagi hari acaranya disebut sebagai Breakfast Television, yakni acara televisi yang dikhususkan bagi mereka yang akan mempersiapkan diri untuk berangkat kerja, sekolah, kuliah, atau aktivitas lainnya. Tujuan studi atau pengkajian ini adalah untuk mengetahui tentang bagaimana ragam siaran televisi pagi hari di Indonesia. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif-kualitatif. Hasil menunjukkan bahwa hampir setiap stasiun TV menayangkan acara Film kecuali MetroTV, tvOne dan Kompas TV. Ternyata hampir semua program TV yang biasa ditayangkan pada jam di luar pagi ditayangkan di pagi hari.
ANALISIS NARASI TZVETAN TODOROV PADA FILM SOKOLA RIMBA Siti Shadrina Azizaty; Idola Perdini Putri
ProTVF Vol 2, No 1 (2018): March 2018
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (278.452 KB) | DOI: 10.24198/ptvf.v2i1.12873

Abstract

Film merupakan media penyampaian informasi yang mudah dan cepat untuk diterima oleh masyarakat. Di Indonesia, banyak film yang mengangkat permasalahan kehidupan sosial yang ada pada masyarakat Indonesia ke layar lebar untuk memberikan informasi, hiburan, dan edukasi. Film tidak hanya berasal dari hasil karya penulis skenario atau sutradara, namun juga dapat berasal dari buku ataupun kisah nyata yang pernah terjadi sehingga dapat divisualisasikan ke dalam film yang berisikan skenario adaptasi. Film yang diangkat berdasarkan kisah nyata dan diadaptasi untuk diceritakan kembali memiliki penyesuaian yang akan mempengaruhi unsur naratif sebagai unsur pembentuk film yang berkaitan dengan aspek cerita, tokoh, masalah, waktu, lokasi dan lainnya. Salah satunya film Sokola Rimba yang berdasarkan kisah nyata Butet Manurung yang memberikan pendidikan untuk orang rimba di hutan Bukit Dua Belas, Jambi yang sebelumnya telah ditulis dalam buku. Penelitian ini membahas struktur narasi pada film untuk mengetahui bagaimana struktur naratif dari tahap awal hingga akhir film meliputi equilibrium, disruption, recognition disruption, attempt to repair the disruption, dan reinstatement of the equilibrium dengan menggunakan metode penelitian kualitatif dan analisis naratif Tzvetan Todorov dengan pendekatan Nick Lacey dan Gillespie. Hasil penelitian yang diperoleh, film Sokola Rimba ini menggunakan alur yang lebih modern dan tidak terpaku dengan alur tradisional yang dijabarkan oleh Tzvetan Todorov karena terdapat pengulangan disruption, recognition disruption, dan attempt to repair the disruption. Selain itu, unsur mise en scene mendukung naratif dalam membangun suasana pada film.
BUNYI DAN MANUSIA Rusli Kustaman
ProTVF Vol 1, No 2 (2017): September 2017
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5320.509 KB) | DOI: 10.24198/ptvf.v1i2.19871

Abstract

Pada hakikatnya manusia hidup ditengah bunyi yang mengelilingi sekitarnya. Bunyi terjadi karena adanya gerak gravitasi bumi yang menyebabkan gesekan antara medium penghantar bunyi itu sendiri, sehingga bila disimpulkan bahwa bunyi tidak akan berhenti selama gravitasi terus mengikuti titik porosnya. Pada ilmu fisika, bunyi merupakan gelombang yang terus berulang melalui medium penghantar gelombang bunyi melewati masa yang telah berlalu.
PUBLISITAS DAN PROMOSI FILM ADA APA DENGAN CINTA? 2 Lilis Puspitasari; Jimi Narotama Mahameruaji; Sri Seti Indriani
ProTVF Vol 1, No 2 (2017): September 2017
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (182.648 KB) | DOI: 10.24198/ptvf.v1i2.19876

Abstract

Publisitas bagi sebuah film merupakan suatu alat  untuk menyebarkan  pesan yang direncanakan dan dilakukan untuk mencapai tujuan pemasaran lewat media tertentu untuk kepentingan dari sebuah production house tanpa pembayaran tertentu pada media. Dalam film orang yang bergerak  untuk mempublikasikan film dikenal dengan  istilah publisis. Kegiatan publisitas dalam bidang pemasaran direncanakan dalam rangka mendukung tujuan pemasaran suatu produk atau jasa perusahaan. Salah satu area bidang publisitas ini adalah entertainment publicity, dimana salah satu produknya  adalah film. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan publisitas dan promosi sebagai alat  komunikasi pemasaran pada film Ada Apa Dengan Cinta 2. Berdasarkan hasil penelitian, terdapat 3 tahapan yang diterapkan dalam mengembangkan strategi  publisitas film AADC 2. Tahap Pertama adalah Menentukan tujuan publisitas; Tahap kedua, Mengidentifikasi Target Sasaran; Tahap Ketiga, Mendefinisikan Pesan dari Film; Tahap keempat Menentukan strategi publisitas,  dan Tahap Terakhir adalah Monitoring dan evaluasi.
ANALISIS CUSTOMER PATH 5A PADA SPONSOR FILM AADC 2 SEBAGAI PROGRAM ENTERTAINMENT BRANDING Elizabeth Natasha Hernilasari Tampi; Indra Pamungkas
ProTVF Vol 2, No 1 (2018): March 2018
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1536.167 KB) | DOI: 10.24198/ptvf.v2i1.10630

Abstract

Customer Path merupakan hal yang sering dilupakan oleh pelaku marcomm ketika akan menentukan tools yang tepat untuk memasarkan produk atau jasa. Jika jenis industrinya berbeda, tentu customer path yang terbentuk akan berbeda. Sebelum hadirnya era konektivitas seperti sekarang ini, customer path yang hadir adalah Aware, Attitude, Act dan Act Again. Konsumen dianggap akan melakukan pembelian ulang jika sebelumnya sudah melakukan pembelian. Namun, di era konektivitas seperti sekarang ini, tolak ukur keberhasilan ternyata bukan hanya diukur dari pembelian berkala. Tidak semua industri akan mengalami pembelian berkala dalam kurun waktu singkat. Salah satu hal yang menjadi tolak ukur baru adalah Advocate atau tahap merekomendasikan kepada orang lain. Sehingga customer path yang terbentuk menjadi customer path 5A yang terdiri dari Aware, Appeal, Ask, Act dan Advocate. Peneliti mencoba untuk menganalisis customer path 5A yang terbentuk dari kehadiran program entertainment branding film Ada Apa Dengan Cinta 2. Pada penelitian ini, peneliti menggunakan paradigma konstruktivisme dengan metode penelitian kualitatif. Sebelumnya, peneliti juga melakukan pra-riset untuk menyaring informan yang tidak menonton Ada Apa Dengan Cinta 1. Selanjutnya peneliti mengolah hasil wawancara dari 3 informan utama dan 2 informan pendukung. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa program entertainment branding ini kurang berhasil mengingat 3 informan utama kurang tertarik pada 9 merek sponsor, terlebih lagi tidak ada identical product yang menjadi khas. Hasil lain menunjukkan bahwa informan utama lebih sadar dengan adanya destination branding yang terjadi secara sengaja ataupun tidak sengaja.
SEMANGAT NASIONALISME DALAM FILM (ANALISIS ISI KUANTITATIF DALAM FILM MERAH PUTIH) Kharis Maulana Akbar; Lalita Hanief; Muhammad Alif
ProTVF Vol 1, No 2 (2017): September 2017
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1904.059 KB) | DOI: 10.24198/ptvf.v1i2.19872

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana isi pesan Nasionalisme dalam film Merah Putih dengan menggunakan enam Indikator Nasionalisme dari Iskandar (2010) yang meliputi, Rasa Kebanggaan, Rasa Bhineka Tunggal Ika, Rasa Semangat Perjuangan, Rasa Semangat Persatuan, Diplomasi, Rasa Cinta Tanah Air. Penelitian ini menggunakan analisis isi dengan pendekatan kuantitatif tipe deskriptif. Objek penelitian adalah film Merah Putih dengan populasi 84 scene. Teknik pengumpulan data menggunakan observsi non partisipan, dokumentasi, wawancara dan pengkodingan. Pengukuran menggunakan Uji reabilitas dengan menggunakan dua orang pengkoder denagn sampel yang sudah ditentukan sebanyak 33 scene. Hasil penelitian yang diperoleh dalam penelitian ini adalah sebanyak 21 scene dari hasil pengkoderan menunjukan Indikator yang paling banyak muncul adalah Rasa Semangat Perjuangan sebanyak 8 kali (38%) dengan rata-rata 0,38 dan nilai tengah (median) 94,5, Rasa Semangat Persatuan sebanyak 7 kali (33,4%) dengan rata-rata 0,33 dan nilai tengah (median) 84, Rasa Bhineka Tunggal Ika sebanyak 3 kali (14,3%) dengan rata-rata 0,14 dan nilai tengah (median) 42, Rasa Cinta Tanah Air sebanyak 2 kali (9,5%) dengan rata-rata 0,09 dan nilai tengah (median) 26,25, Rasa Kebanggaan sebanyak 1 kali (4,8%) dengan rata-rata 0,04 dan nilai tengah (median) 21, semantara Diplomasi tidak muncul sama sekali. Film ini di dominasi oleh Indikator Semangat Perjuangan sebanyak 8 scene Hal ini berkaitan dengan teori Kultivasi dimana Media menentukan persepsi bagi penontoya.
MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA DI STASIUN TELEVISI LOKAL RADAR TASIKMALAYA TV Rangga Saptya Mohamad Permana; Jimi Narotama Mahameruaji
ProTVF Vol 2, No 1 (2018): March 2018
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (217.842 KB) | DOI: 10.24198/ptvf.v2i1.19878

Abstract

Ketika kita berbicara dalam konteks media, maka sebuah manajemen media yang baik adalah manajemen media yang dapat memanfaatkan unsur-unsur manajemen yang dimilikinya secara efektif dan efisien. Adapun unsur-unsur manajemen itu terdiri dari Material (Produk), Market (Pasar), Method (Manajemen), Man (Manusia), Machine (Sarana), dan Money (Modal), yang biasa disingkat dengan 6M. Dari keenam unsur tersebut, salah satu unsur yang dapat membuat sebuah stasiun televisi bertahan adalah manajemen sumber daya manusia (SDM) yang baik. Dengan manajemen SDM yang baik, stasiun televisi dapat meiliki SDM yang berkualitas sehingga stasiun televisi tersebut dapat bersaing dengan performa maksimal, baik itu dengan sesama stasiun televisi atau dengan media platform lainnya. Metode penelitian yang digunakan dalam riset ini adalah metode penelitian kualitatif dengan menggunakan desain deskriptif-kualitatif. Dalam artikel ini, penulis berusaha untuk memaparkan dan memusatkan perhatian pada bagaimana manajemen SDM di Radar Tasikmalaya TV dilaksanakan, dengan metode pengumpulan data menggunakan metode wawancara, observasi, dan telaah dokumen. Berdasarkan hasil riset, manajemen SDM yang dilaksanakan di Radar Tasikmalaya TV meliputi tahapan rekrutmen pegawai, penilaian produktivitas pegawai, kepemimpinan dan cara memotivasi dari atasan, serta jenjang karier.
PESAN RASISME DALAM EPISODE THE VINYARDS PADA FILM AMERICAN HISTORY X Sri Seti Indriani; Evi Rosfiantika
ProTVF Vol 2, No 1 (2018): March 2018
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (237.389 KB) | DOI: 10.24198/ptvf.v2i1.19879

Abstract

Film berlatarbelakang rasisme yang menekankan anti-rasisme sepertinya menjadi tren di perfilman Hollywood. Film-film tersebut sebagai media informasi ini mendemonstrasikan perubahan masyarakat yang rasisme menjadi ‘post-rasisme’ American History X merupakan salah satu film yang berupaya menekankan anti-rasis. Film tersebut menceritakan bagaimana kebencian seseorang terhadap perbedaan ras dapat menjadi suatu masalah besar bahkan menghancurkan sebuah keluarga. Fokus penelitian ini bertujuan untuk melihat penanda sebagai petanda pesan rasisme pada salah satu episode dalam film American History X. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan semiotika dalam menemukan penanda dan petanda pesan rasisme yang ada pada episode “The Vinyards” pada film American History X.  Subjek analisis dalam penelitian ini merupakan komunikasi verbal dan nonverbal yang berupa dialog dan narasi gambar pada episode tersebut. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa penanda sebagai petanda pesan rasisme pada episode ”The Vinyards” dalam film American History X dilihat dari penggunaan komunikasi verbal dan nonverba yang meniputi (1) bahasa tubuh, (2) bahasa verbal, (3) bahasa non-verbal yang dilakukan berupa kekerasan yang terjadi, (4) intonasi suara, (5) teknik pengambilan gambar, dan (6) sudut pandang pengambilan gambar.
REPRESENTASI FEMINISME DALAM FILM MALEFICENT Amanda Diani; Martha Tri Lestari; Syarif Maulana
ProTVF Vol 1, No 2 (2017): September 2017
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (302.035 KB) | DOI: 10.24198/ptvf.v1i2.19873

Abstract

Film selalu mempengaruhi dan membentuk masyarakat berdasarkan isi pesan di baliknya. Pesan-pesan atau nilai-nilai yang terkandung dalam film dapat mempengaruhi penonton baik secara kognitif, afektif dan konatif. Film Maleficent merupakan film adaptasi dongeng Sleeping Beauty yang menceritakan kehidupan seorang peri bernama Maleficent. Melalui film ini, karakter perempuan digambarkan sebagai subjek narasi yang aktif dan membawa pesan feminisme. Topik feminisme menarik perhatian peneliti karena selama ini perempuan sering digambarkan hanya sebagai objek narasi yang pasif bahkan objek erotis utama dalam film. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui makna kode semiotika mengenai feminisme dalam level realitas, level representasi dan level ideologi. Untuk mencapai tujuan penelitian, peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis semiotika John Fiske berdasarkan kode-kode televisi yang terbagi ke dalam tiga level yaitu level realitas, level representasi dan level ideologi. Hasil penelitian menunjukkan nilai-nilai feminisme pada level realitas melalui kode penampilan, tata rias, kostum, cara bicara, lingkungan dan perilaku. Pada level representasi nilai-nilai feminisme ditunjukkan melalui kode kamera, karakter, aksi, konflik dan dialog. Pada level ideologi nilai feminisme yang terepresentasikan mewakili aliran ekofeminisme di mana perempuan dan alam memiliki hubungan yang erat dan tidak dapat dipisahkan.
PORNOGRAFI DALAM FILM : ANALISIS RESEPSI FILM “MEN, WOMEN & CHILDREN” Agistian Fathurizki; Ruth Mei Ulina Malau
ProTVF Vol 2, No 1 (2018): March 2018
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (490.439 KB) | DOI: 10.24198/ptvf.v2i1.11347

Abstract

Film sebagai media komunikasi massa memiliki jangkauan yang luas. Film Men, Women & Children arahan sutradara Jason Rietman bercerita tentang bagaimana perkembangan teknologi internet dapat berdampak bagi kehidupan manusia saat ini. Salah satu dampak internet yang diperlihatkan dalam film ini adalah pornografi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dengan menggunakan analisis resepsi (reception analysis) Stuart Hall. Analisis resepsi akan memfokuskan pada pertemuan antara teks dan pembaca atau dengan kata lain media dan audiens. Analisis resepsi memandang audiens sebagai producer of meaning yang aktif menciptakan makna, bukan hanya sebagai konsumen dari isi media. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui posisi audiens menurut tiga posisi pembacaan milik Stuart Hall terhadap konten pornografi dalam film “Men, Women & Children”. Ketiga posisi tersebut yaitu dominant reading, negotiated reading dan oppositional reading.  Hasil penelitian menunjukan dari sepuluh scene unit analisis yang diteliti, delapan di antaranya informan berada dalam posisi oppositional reading mutlak dan dalam dua scene lainya masing-masing satu informan berada dalam posisi negotiated reading dan dua infroman lain berada dalam posisi oppositional reading. Dimana di dalam setiap scene tersebut memiliki materi seksualitas yang berbeda-beda dimulai dari gerak tubuh, percakapan, suara, tulisan, dan gambar bergeran/video sesuai dengan definisi pornografi menurut UU Republik Indonesia No. 44 tahun 2008. Tidak adanya informan yang berada dalam posisi dominant reading dikarenakan seluruh informan menolak adanya adegan pornografi dalam film tersebut.

Page 2 of 13 | Total Record : 127