cover
Contact Name
Rangga Saptya Mohamad Permana
Contact Email
rangga.saptya@unpad.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalprotvfunpad@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
ProTVF
ISSN : 2548687X     EISSN : 25490087     DOI : -
ProTVF is published twice a year (March and September) published by the Faculty of Communication Science, Universitas Padjadjaran. ProTVF provides open access to the public to read abstract and complete papers. ProTVF focuses on Television and Film studies.
Arjuna Subject : -
Articles 127 Documents
STRATEGI PROMOSI PADA TAHAPAN PRA-PRODUKSI FILM ‘HAJI ASRAMA’ (HAS) Rangga Saptya Mohamad Permana; Lilis Puspitasari; Sri Seti Indriani
ProTVF Vol 2, No 2 (2018): September 2018
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2727.693 KB) | DOI: 10.24198/ptvf.v2i2.20818

Abstract

Kini, kegiatan promosi sebuah film sama pentingnya dengan produksi film itu sendiri. Masyarakat sepertinya lebih melihat bahwa kesuksesan sebuah film itu berdasarkan bagaimana film itu dibuat, bukan dari cara mempromosikannya. Mempromosikan film sejalan dengan pembuatan film, dimulai dari tahap pra-produksi hingga pasca-produksi. Strategi promosi film harus terencana sedemikian rupa sehingga mendapatkan target pasar yang baik juga. Namun, mempromosikan sebuah film memang tidak mudah; tim produksi film harus kreatif dan aktif dalam mempromosikan film tersebut. Film non-komersial seperti film-film independen (indie) terutama film-film lokal di luar Pulau Jawa memiliki beberapa hambatan dalam mempromosikan filmnya karena harus bergelut dengan film-film komersil lainnya. Komunitas Film Sumatera Utara (KOFI Sumut) merupakan salah satu komunitas film yang ada di luar Jawa yang juga tergolong aktif membuat film-film indie berbasis budaya lokal. Penelitian ini dilakukan di Medan, Sumatera Utara. Beberapa anggota yang tergabung dalam KOFI Sumut menjadi narasumber melalui teknik pengambilan sampel purposif. Wawancara dilakukan ketika para anggota tersebut sedang dalam proses produksi film ‘Haji Asrama’ (HAS). Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan metode deskriptif. Teknik pengambilan data menggunakan wawancara mendalam, FGD, studi dokumentasi dan observasi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan strategi promosi yang dilakukan pada tahapan pra-produksi dalam film ‘HAS’. Hasil penelitian mengungkap bahwa terdapat setidaknya empat strategi promosi film yang dilakukan kru film ‘HAS’, yang mengutamakan penayangan video klip sebagai salah satu strategi promosi utama mereka yang kemudian diikuti oleh pembuatan teaser film, promosi lewat media sosial, dilanjutkan dengan pembagian merchandiser.
MAKNA GAMBAR 3 BIRI-BIRI DAN KOTAK PADA FILM ‘THE LITTLE PRINCE’ Sri Seti Indriani; Ditha Prasanti
ProTVF Vol 1, No 1 (2017): March 2017
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (410.248 KB) | DOI: 10.24198/ptvf.v1i1.13335

Abstract

Film mempengaruhi dan membentuk masyarakat berdasarkan muatan pesan (message) di baliknya, muatan pesan tersebut dibangun dengan banyak tanda Maka dengan anggapan tersebut film dapat memberi pengaruh yang banyak terhadap kehidupan masyarakat melalui tanda-tanda.Film ‘The Little Prince’ adalah film animas yang mengugah pemikiran orang dewasa yang menontonnya. Menggambarkan bagaimana kehidupan yang sedang terjadi masa kini, dimana banyaknya manusia yang hanya fokus pada masa depan, sehingga bersaing untuk mendapatkan prestasi nilai yang tinggi dan pekerjaan yang bagus, dan melupakan cara menikmati hidup pada masa sekarang, hal-hal yang esensial dalam hidup. Penelitian ini bermaksud untuk melihat makna simbol visual Biri-biri dan Kotak dari film tersebut yang berkaitan dengan hal yang esensial dalam hidup yang bermakna. Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan metode semiotika analisis Roland Barthes. Metode semiotika ini menganalisis fenomena dari segi tanda dan makna. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa  makna tanda dan penanda dalam film ‘The Little Prince’ dapat dikaji dari makna denotasi, makna konotasi, dan makna mitos. Makna yang tersirat dalam tiga Biri-biri dan Kotak menggambarkan bahwa apa yang tampak tidak dapat dipahami tanpa melihat makna konotasi dan mitos didalamnya, kotak yang berlubang, tidak hanya sekedar kotak berlubang namun adanya sebuah imajinasi sang pangeran yaitu seekor biri-biri yang hidup di dalamnya dengan rupa biri-biri sesuai dengan keinginannya.Hal ini menyimpulkan bahwa apa yang terpenting biasanya tidak terlihat kasat mata.
KAJIAN KRITIS TAYANGAN TELEVISI FAVORIT KELAS MENENGAH PERKOTAAN Ilham Gemiharto; Aceng Abdullah; Lilis Puspitasari
ProTVF Vol 1, No 1 (2017): March 2017
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (196.405 KB) | DOI: 10.24198/ptvf.v1i1.13329

Abstract

Salah satu ciri masyarakat kelas menengah adalah memiliki disposable income, yaitu dana sisa di luar untuk kebutuhan sandang, pangan, papan dasar yang cukup besar, yaitu sekitar 30 persen dari total pendapatan. Dengan disposable income yang memadai mereka memiliki keleluasaan untuk memenuhi kebutuhan di luar kebutuhan dasar (basic needs) termasuk dalam memilih tayangan televisi favorit. Sebagai penonton televisi, kelas menengah memiliki posisi penting dalam proses komunikasi bermedia (mediated communication). Penelitian mengenai tayangan televisi dilakukan untuk melengkapi kajian tentang televisi, karena bagaimanapun juga pesan yang disampaikan  televisi, baru akan bermakna ketika sampai ke mata penonton, dalam hal ini kelas menengah perkotaan. Rumusan masalah penelitian ini adalah bagaimana kelas menengah perkotaan memaknai tayangan favorit mereka di televisi nasional. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan studi dokumen serta teknik analisis data deskriptif, dengan informan penelitian adalah kelas menengah perkotaan dengan rentang usia 26 – 50 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwapemaknaan yang dilakukan masing-masing responden satu sama lain berbeda.Kelas menengah tidak sepenuhnya tidak berdaya dalam interaksinya dengan televisi dan menerima begitu saja apa yang ditawarkan oleh televisi. Kelas menengah perkotaan bukanlah audiens yang pasif dalam menonton televisi, melainkan para pribadi yang bebas dan otonom dengan potensi kesadaran kritis terhadap media televisi melalui sikap ingin tahu dan komentar-komentar yang terlontar dari padanya. Tayangan favorit kelas menengah perkotaan kini mulai bergeser dari tayangan sinetron drama dengan ratusan episode kepada tayangan talkshow yang lebih informatif namun tetap menghibur.Kata-kata Kunci: Kajian Kritis, Tayangan Televisi Favorit, Kelas Menengah Perkotaan, Kota Bandung
ANALISIS SEMIOTIKA JOHN FISKE MENGENAI REALITAS BIAS GENDER PADA IKLAN KISAH RAMADHAN LINE VERSI ADZAN AYAH Della Fauziah Ratna Puspita; Iis Kurnia Nurhayati
ProTVF Vol 2, No 2 (2018): September 2018
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1252.183 KB) | DOI: 10.24198/ptvf.v2i2.20820

Abstract

Pemahaman antara jenis kelamin dan gender pada masyarakat Indonesia, membuat sebuah perbedaan yang merujuk kepada fenomena bias gender. Fenomena bias gender yang masih kental di Indonesia turut di konstruk melalui media, salah satunya melalui iklan televisi. Bias gender ini tampak pada iklan Ramadhan Line versi Adzan Ayah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui makna bias gender pada iklan Ramadhan Line versi Adzan Ayah melalui level realitas. Untuk mencapai tujuan penelitian, peneliti menggunakan paradigma kritis, dengan pendekatan kualitatif dan analisis semiotika John Fiske berdasarkan level realitas dengan kode tampilan, kostum, ekspresi, gesture, percakapan, suara, dan teks. Hasil penelitian menunjukkan bias gender diperlihatkan dengan menampilkan laki-laki dan perempuan secara bersamaan. Dalam aspek tempat diperlihatkan dari pekerjaan yang dilakukan perempuan di wilayah domestik dan laki – laki berada pada wilayah publik.
Simbol Illuminati dalam Video Klip Winda Yunita Lestari; Freddy Yusanto
ProTVF Vol 3, No 1 (2019): March 2019
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1037.858 KB) | DOI: 10.24198/ptvf.v3i1.20939

Abstract

Illuminati merupakan kelompok elit yang memiliki pertalian darah dan memiliki tujuan untuk mengalihkan manusia dari jalan Tuhan dan menaklukkan manusia dengan cara-cara yang canggih untuk mengendalikan pikiran (yaitu media massa, pendidikan, kebebasan seksual, migrasi, keberagaman, dll). Salah satu strateginya adalah penghancuran agama-agama besar diseluruh dunia, peruntuhan monarki dan pemerintahan yang teratur, penghilangan patriotisme bangsa, penghapusan dan penguasaan terhadap ikatan keluarga. Salah satu penyanyi berkebangsaan Amerika Serikat bernama Kesha Rose Sebert atau dikenal dengan nama panggung Ke$ha sengaja memasukkan unsur simbol-simbol Illuminati di dalam video klip-nya yang berjudul Die Young. Video klip ini mendapat perhatian lebih dari 138 juta viewers dan 3,4 Juta subscribe di seluruh dunia. Penelitian kualitatif ini menggunakan pendekatan semiotika John Fiske. Teknik analisis data dilakukan berdasarkan teori yang dikemukakan oleh John Fiske melalui kode-kode televisi yang terbagi ke dalam tiga level, yaitu level realitas, level representasi dan level ideologi. Penelitian ini bertujuan untuk membongkar pemaknaan simbol-simbol Illuminati dalam video klip “Die Young”. Hasil penelitian pada level realitas, menunjukkan bahwa Ke$ha mencoba untuk mendekatkan diri pada penonton dengan memperlihatkan bentuk-bentuk simbol tersebut, ia mencoba untuk mengagungkan dan meninggikan simbol-simbol iluminati yang ada di video klip ini. Pada level representasi, simbol Illuminati digambarkan melalui penonjolan-penonjolan pada simbol iluminati agar lebih eye catchy, sehingga penonton bias merasakan kedekatan, dengan cara memunculkan simbol Illuminati sebagai bagian dari kekuatan, misteri dan keseriusan dalam kehidupan manusia. Sedangkan pada level ideologi, dapat disimpulkan bahwa kebebasan gaya hidup, sensualitas, anti kemapanan menjadi hak dari setiap individu dan mereka berhak untuk melakukan apapun yang mereka inginkan
Kajian Teori Strategi Programming Sydney W. Head pada Program Acara Dakwah ADiTV Ahmad Fahruddin; Nur Aini Shofiya Asy'ari
ProTVF Vol 3, No 1 (2019): March 2019
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1516.651 KB) | DOI: 10.24198/ptvf.v3i1.21207

Abstract

Televisi memiliki kelebihan dalam memengaruhi khalayak karena keunggulannya sebagai media audio visual. Sebagian besar masyarakat Indonesia menjadikan televisi sebagai sarana hiburan dan sumber informasi utama. Sebagai media yang jangkauannya luas, dakwah islam akan sangat efektif dilakukan dengan media televisi. Euforia pertumbuhan stasiun lokal sejak diberlakukannya UU No.32 Tahun 2002 tentang Penyiaran rupanya menyisakan beberapa permasalahan. Popularitas televisi lokal masih rendah daripada televisi nasional yang pada akhirnya memaksa stasiun televisi lokal lebih kreatif dalam pengelolannya. Tujuan penyiaran televisi adalah memengaruhi khalayak, maka sangat penting untuk mengetahui bagaimana selera dan kemauan khalayak. Terkait dengan hal tersebut, Sydney W Head mengemukakan lima elemen penting dalam strategi programming, yaitu compatibility, habit formation, control audience flow, conservation of program resource dan breadth appeal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana teori strategi programming Sydney W. Head diterapkan pada program acara dakwah ADiTV. Dengan menggunakan metode kualitatif penelitian ini melakukan analisa terhadap data-data yang dikumpulkan melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi programming ADiTV sejalan dengan teori lima elemen strategi programming Sidney W. Head. Namun yang perlu diperhatikan ADiTV adalah perlunya dilakukan riset terhadap perilaku khalayak yang cenderung berubah pola akses informasinya. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap praktik pengelolaan program siaran televisi khusunya program acara dakwah.
Semiotika Gender dalam Film Brave Maulia Putri Sutorini; Muhammad Alif; Sarwani Sarwani
ProTVF Vol 3, No 1 (2019): March 2019
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (787.688 KB) | DOI: 10.24198/ptvf.v3i1.21246

Abstract

Film Brave merupakan sebuah film yang memiliki unsur gender di dalamnya. Film merupakan salah satu bentuk komunikasi massa. Pesan yang dimiliki film dapat sampai ke belahan dunia lain dengan cepat. Termasuk juga dengan unsur gender dalam film Brave. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana makna gender yang terdapat dalam film Brave. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan tipe penelitian deskriptif, dengan teknik pengumpulan data observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan metoda Miles dan Huberman yang membagi tahap analisis data kualitatif menjadi tiga, yaitu reduksi, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Data kemudian dianalisa dengan menggunakan model analisis semiotika Roland Barthes yang membagi tahapan makna menjadi denotasi, konotasi dan juga mitos. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa gender dalam film Brave memiliki makna denotasi perempuan dituntut untuk bertindak sempurna oleh lingkungannya, makna konotasi penolakan terhadap perjodohan yang dilakukan sang wanita adalah sebagai bentuk ketidakpatuhan terhadap tradisi dan lingkungan, dan mitos bahwa akan adanya bencana yang terjadi apabila ada tradisi atau kebiasaan adat yang dilanggar.
Aktivitas Riset CNN Indonesia dalam Penyelenggaraan Special Event Meet Up “Positive Generation” Ayu Puspa Yurita; Hanny Hafiar; Heru Ryanto Budiana
ProTVF Vol 3, No 1 (2019): March 2019
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (838.728 KB) | DOI: 10.24198/ptvf.v3i1.21213

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan riset dalam kegiatan special event yang dilakukan oleh CNN Indonesia dalam menyelenggarakan Meet Up “Positive Generation” untuk menghasilkan revenue perusahaan, serta untuk meningkatkan kesadaran generasi milenials terhadap CNN Indonesia. Penelitian ini menggunakan tahapan riset pada Event Management Process Joe Goldblatt sebagai landasan konsep. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi deskriptif. Teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan wawancara mendalam, observasi partisipan pasif, dan studi kepustakaan, dengan teknik pengumpulan key informan purposive sampling. Teknik analisis data menggunakan tiga tahap yaitu reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan.Hasil penelitian ini mengemukakan bahwa proses riset yang dilakukan CNN Indonesia diperoleh berdasarkan data lapangan yang didapat melalui observasi langsung saat event berlangsung, maupun wawancara mendalam dengan pihak-pihak yang terlibat langsung dalam proses riset event Meet Up “Positive Generation” yang diselenggarakan oleh CNN Indonesia. Sebagai penyelenggara Meet Up “Positive Generation”, CNN Indonesia melakukan riset terlebih dahulu untuk mengetahui kebutuhan dan keinginan target sasaran. Bentuk riset yang dilakukan penyelanggara Meet Up “Positive Generation” adalah menentukan pembicara-pembicara yang akan mengisi event Meet Up “Positive Generation” berdasarkan online riset melalui akun Instagram ataupun You Tube. Selain itu juga menentukan kampus-kampus mana saja yang dapat dijadikan tempat pelaksanaan untuk diadakannya event Meet Up “Positive Generation”.
Analisis Interaksi Simbolik pada Konten Ofensif Iklan Grab #pilihaman Sri Seti Indriani; Lilis Puspitasari; Evi Rosfiantika
ProTVF Vol 3, No 1 (2019): March 2019
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1049.591 KB) | DOI: 10.24198/ptvf.v3i1.21245

Abstract

Iklan memiliki sifat yang menyerap dan terkadang berlebihan. Iklan dapat ditemukan di setiap platform area lingkungan kita, baik secara cetak maupun online, sehingga menyerap perhatian kita. Pertumbuhan belanja iklan sepanjang Januari-September 2018 menunjukkan tren positif di angka 5 persen, dengan total belanja iklan baik di media televisi dan cetak mencapai Rp 114,4 Triliun. Pordusen iklan berlomba-lomba bersaing merebut perhatian publik agar supaya iklan produk mereka terjual dan terbeli. Banyak cara yang dilakukan pengiklan agar menarik perhatian publik. Perhatian tersebut bisa bersifat positif maupun negatif dan bahkan tidak etis untuk ditayangkan. Salah satu iklan yang ditarik kembali oleh produsennya adalah iklan video kampanye Grab #PilihAman karena menuai berbagai reaksi dari masyarakat. Iklan tersebut diunduh oleh Grab di YouTube pada tahun 2016. Penelitian ini berupaya untuk menjelaskan bagaimana iklan tersebut menggunakan taktik pujian dalam menekankan sebuah kebenaran dan bagaimana penonton melihat iklan video kampanye Grab#PilihAman tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif-kualitatif. Teknik pengambilan data menggunakan wawancara, studi dokumentasi dan observasi. Beberapa informan yang merupakan pemerhati iklan ditarik sebagai subjek penelitian. Hasil penelitian mengungkap bahwa adanya empat cara iklan tersebut menarik perhatian publik: (1) Pseudo_claims, (2) Comparison with an unidentified other, (3) Irrelevant Comparisons dan (4) juxtaposition. Penonton melihat iklan konten Grab tersebut sebagai hal yang: (1) ofensif (penyerang), (2) berlebihan (overclaim), (3) ektsrim dan (4) tidak etis.
K-Drama dan Penyebaran Korean Wave di Indonesia Idola Perdini Putri; Farah Dhiba Putri Liany; Reni Nuraeni
ProTVF Vol 3, No 1 (2019): March 2019
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (781.217 KB) | DOI: 10.24198/ptvf.v3i1.20940

Abstract

Korean wave adalah istilah yang diberikan untuk penyebaran budaya populer Korea melalui produk-produk hiburan seperti drama, musik, style. Keberadaan Korean wave di Indonesia menjadi fenomena yang menarik untuk diteliti. Penelitian ini membahas tentang peranan kebudayaan populer Korea, Korean Drama (K-Drama) dalam fenomena Korean wave yang terjadi di Indonesia. Drama Korea atau K-Drama menjadi awal kemunculan dari Korean wave di Indonesia. Penggunaan metode kualitatif dengan pendekatan historis pada penelitian ini, bertujuan untuk dapat merekonstruksi K-Drama yang muncul di Indonesia, khususnya di Stasiun TV Indosiar dari tahun 2002 hingga tahun 2013. Melalui analisis data-data serial TV Korea yang tayang di Indonesia, penelitian ini menjelaskan tentang perkembangan K-Drama sebagai pemicu dari munculnya Korean wave, perkembangan K-Drama di Indonesia, hingga dampak yang ditimbulkan dari K-Drama seperti kemunculan eksistensi produk budaya pop Korea lainnya, yaitu K-Pop dan K-Style di Indonesia. K-Drama memiliki peranan yang cukup penting atas Korean wave di Indonesia. Di mana hal-hal tersebut dapat terlihat pada dampak K-Drama di Indonesia, seperti kemunculan komunitas-komunitas pecinta K-Drama, hadirnya situs dari Indonesia yang menyajikan informasi seputar Korea, bahkan hingga maraknya acara-acara yang mengundang aktor, penyanyi, idola-idola Korea ke Indonesia. Korean Wave sendiri menjadi soft power Korea Selatan melalui budaya populernya yang diekspor ke berbagai negara dalam bentuk K-Drama, K-Pop, K-Style, kuliner dan teknologi. Melalui nilai-nilai yang terdapat dalam pembuatan budaya populer, terutama drama, Korea memadukan unsur modern dalam hal ini teknologi dengan tradisi dan nilai-nilai kekeluargaan. Korean wave di Indonesia sendiri ditandai dengan maraknya kemunculan kuliner khas Korea, sinetron adaptasi cerita K-Drama, fashion khas Korea, hingga tujuan wisata tempat pembuatan K-Drama.

Page 4 of 13 | Total Record : 127