cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Penelitian Kehutanan Sumatrana
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 18 Documents
Keanekaragaman Genetik Scorodocarpus borneensis di Riau Berdasarkan Penanda Molekuler RAPD Frianto, Dodi; Rasyad, Aslim; Roslim, Dewi Indriyani
Jurnal Penelitian Kehutanan Sumatrana Vol 2, No 1 (2018): Jurnal Penelitian Kehutanan Sumatrana
Publisher : Jurnal Penelitian Kehutanan Sumatrana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jpks.2018.2.1.27-38

Abstract

Kulim (Scorodocarpus borneensis) merupakan tumbuhan yang hidup di dataran rendah, termasuk dalam kelompok famili Olacaceae dan Ordo Santalale Penelitian ini bertujuan untuk menentukan keanekaragaman genetik di dalam dan antar populasi kulim berdasarkan penanda RAPD di Provinsi Riau dengan menggunakan sampel yang berasal dari  3  populasi  yaitu  populasi  Bengkalis, Kampar dan Indragiri Hulu. Ekstraksi  kambium dilakukan  dengan  modifikasi  metode  cetyl  trimethyl  ammonium bromida (CTAB).  Amplifikasi  DNA  dilakukan  dengan metode  Random  Amlified  Polymorphic  DNA (RAPD)  pada   mesin  PCR System 9700 Applied Biosystems.   Primer  yang  digunakan  adalah  6  primer  hasil  optimasi  keluaran Operon Technology yaitu OPC-6, OPY-6, OPY-13, OPY-14, OPO-6,dan OPW-4.  Dari  total  51  lokus  yang  terdeteksi,  47 (92,16%)  merupakan  lokus polimorfik. Persentase lokus polimorfik memiliki nilai rata-rata 76,50%±0,04, dengan kisaran 71,79% - 79,49%. Rata-rata jumlah alel efektif per lokus adalah 1.359±0,08. Keragaman genetik dalam populasi (He) tergolong tinggi dengan nilai 0,226±0,04 dan indeks  Shanon  memiliki  nilai  0,351±0,06.   Dari  ketiga  populasi  yang  dianalisis, populasi Kampar (He= 0,265±0,18) memperlihatkan tingkat variabilitas yang  jauh lebih tinggi dibanding populasi lainnya. Diferensiasi genetik antar populasi (Gst)  tergolong rendah  dengan  nilai  0.1191.   Sedangkan  besarnya  jarak  genetik Nei  (do)  antar  populasi  berkisar  dari  0,0112 –  0,0825 dengan  nilai  rata-rata 0,0481.  Hubungan kekerabatan genetik antar populasi S. borneensis di Provinsi Riau membentuk dua kelompok. Kelompok pertama, terdiri atas populasi Duri dan Inhu dan kelompok kedua yakni populasi Kampar.
ARAHAN KONSERVASI TANAH BERDASARKAN TINGKAT BAHAYA EROSI DI SUB DAS PERAPAU, SUMATERA SELATAN Kunarso, Adi; Angga, Tubagus
Jurnal Penelitian Kehutanan Sumatrana Vol 2, No 1 (2018): Jurnal Penelitian Kehutanan Sumatrana
Publisher : Jurnal Penelitian Kehutanan Sumatrana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jpks.2018.2.1.39-46

Abstract

Sub DAS Perapau merupakan salah satu Sub DAS yang berada di hulu sungai Musi. Sumber mata air Sub-DAS Perapau berasal dari dua kawasan lindung yang berada di hulu sub DAS. Tata guna lahan yang sebagian besar merupakan kebun masyarakat dengan kelerengan yang curam memungkinkan terjadinya erosi. Penelitian ini bertujuan untuk memperkirakan tingkat bahaya erosi agar dapat dipilih tindakan konservasi tanah yang tepat dan bersifat spesifik lokasi.Tingkat bahaya erosi dihitung berdasarkan rumus USLE (Universal Soil Loss Equation) menggunakan analisis SIG (Sistem Informasi Geografis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat bahaya erosi di wilayah penelitian berkisar dari ringan hingga sedang dengan luas 2.719,82 ha (69,61%) dan berat hingga sangat berat dengan luas 1.187,22 ha (30,39%). Lahan dengan tingkat bahaya erosi berat hingga sangat berat umumnya terdapat di bagian hulu Sub DAS. Erosi ini terutama disebabkan oleh konversi hutan menjadi kebun kopi dan tidak adanya tindakan konservasi tanah pada lahan-lahan tersebut. Pencegahan erosi dapat dilakukan dengan tindakan konservasi tanah baik secara vegetatif maupun mekanik, terutama pada lahan-lahan dengan kelerengan curam.
Karakteristik Buah, Benih dan Penyemaian Macadamia integrifolia di Persemaian Aek Nauli, Sumatera Utara Aswandi, Aswandi; Kholibrina, Cut Rizlani; Lumbantobing, Selamat
Jurnal Penelitian Kehutanan Sumatrana Vol 2, No 1 (2018): Jurnal Penelitian Kehutanan Sumatrana
Publisher : Jurnal Penelitian Kehutanan Sumatrana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jpks.2018.2.1.47-56

Abstract

Salah satu jenis potensial untuk rehabilitasi hutan dan lahan di DTA Danau Toba adalah Macadamia integrifolia. Selain adaptif pada lahan kritis, pohon ini menghasilkan buah yang dapat dimakan dan bernilai ekonomi. Sehingga diperlukan upaya pembangunan sumber benihnya di kawasan ini. Tujuan kegiatan ini adalah untuk pengetahui karakteristik buah, benih dan penyemaian Macadamia (Macadamia integrifolia) yang berasal dari Hutan Penelitian Sipisopiso, Danau Toba Sumatera Utara. Penelitian yang dilakukan meliputi penanganan buah; penangan benih/biji dan penyemaian benih. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata berat buah basah adalah 7,51 g atau terdapat 141 buah per 1 kg. Berat rata-rata benih adalah 5,83 atau 181 biji dalam satu kilogramnya. Benih mulai berkecambah pada hari ke 26 dengan masa kecambah benih selama 70 hari. Daya kecambah tertinggi terdapat pada benih yang tidak mendapat perlakuan perendaman (kontrol). Perlakuan peretakan benih mampu mempercepat perkecambahan benih. Benih yang direndam dengan air dingin selama 24 jam mampu meningkatkaan daya kecambah hingga 78%. Berdasarkan pertumbuhan awal selama 6 bulan di persemaian, kecambah memiliki tinggi rata-rata 13,7 cm dengan  diameter 3,2 mm.
MONITORING TINGKAT KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN DENGAN METODE KEETCH BYRAM DROUGHT INDEX SELAMA PERIODE EL-NIŇO DI PROVINSI SUMATERA SELATAN Agdialta, Rezfiko
Jurnal Penelitian Kehutanan Sumatrana Vol 2, No 1 (2021): Jurnal Penelitian Kehutanan Sumatrana
Publisher : Jurnal Penelitian Kehutanan Sumatrana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jpks.2021.2.1.11-24

Abstract

Selain aktivitas manusia, penyebab utama terjadinya kebakaran hutan dan lahan yaitu adanya faktor pendorong dari kondisi cuaca dan iklim ekstrim seperti El-Nino. Untuk mengetahui potensi kebakaran hutan di wilayah Sumatera Selatan dalam hal ini menggunakan metode KBDI (Keetch Byram drought Index) yaitu berupaindex kekeringan yang dapat mengetahui potensi kebakaran suatu wilayah dengan menggunakan skala sifat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi kebakaran hutan dan lahan setiap bulan disuatu wilayah dengan menggunakan nilai KBDI selama periode kejadian El Niño pada tahun 2006 – 2015. Adapun data yang digunakan yaitu data curah hujan harian, data suhu maksimum harian yang diperoleh dari beberapa pos pengamatan di Kabupaten/Kota Sumatera Selatan, data titik panas dari Satelit MODIS Aqua-Terra selama periode 2006 – 2015. Analisis dilakukan dengan mencari nilai KBDI harian kemudian di rata-rata tiap bulan. Dari hasil pengeolahan tersebut menunjukkan bahwa rata-rata potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan paling tinggi selama tahun 2006, 2009dan 2015 terjadi pada bulan Juli, Agustus, September, dan Oktober. Puncaknya terjadi pada bulan September dan Oktober,dan pada bulan tersebut rata-rata KBDI berada pada tingkat ekstrim serta memiliki banyak titik panas.
PEMETAAN PERMASALAHAN KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN : KASUS DI PROPINSI RIAU yunianto, andhika silva
Jurnal Penelitian Kehutanan Sumatrana Vol 2, No 1 (2021): Jurnal Penelitian Kehutanan Sumatrana
Publisher : Jurnal Penelitian Kehutanan Sumatrana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jpks.2021.2.1.25-37

Abstract

Kebakaran hutan dan lahan di Riau selalu berulang setiap memasuki musim kemarau. Kejadian kebakaran hutan dan lahan memiliki hubungan yang sangat erat dengan konflik pemanfaatan sumberdaya hutan, baik legal maupun ilegal, antara masyarakat, perusahaan dan pemerintah. Bila dihubungkan dengan kondisi hutan, kejadian kebakaran hutan dan lahan memiliki hubungan yang erat dengan konversi hutan menjadi perkebunan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memetakan kejadian kebakaran hutan dan lahan tahun 2010-2015 berdasarkan fungsi kawasan, kondisi sosial-ekonomi masyarakat, pembangunan wilayah dan politik lokal, serta menganalisis faktor pemicu yang menjadi penyebab kebakaran hutan dan lahan di Riau. Analisis dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif verifikatif berdasarkan hasil wawancara mendalam untuk mengetahui aktivitas/perilaku masyarakat yang mempengaruhi terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Untuk menghasilkan peta dan mengetahui persebaran kebakaran hutan dan lahan dilakukan dengan menggunakan  GIS  (Geographic  Information  System).  Analisis  peta  menunjukkan  titik  panas  (hotspot)  banyak ditemukan pada kawasan konsesi IUPHHK-HTI (Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu – Hutan Tanaman Industri) dan Areal Penggunaan Lain (APL) Temuan tersebut menunjukkan adanya keterkaitan antara kebakaran hutan dan lahan dengan  konflik  antara  masyarakat  dengan  perusahaan  dilihat  dari  fungsi  kawasan,  kondisi  sosial  ekonomi, pembangunan  wilayah  dan  politik  lokal.  Pada  akhirnya,  pemerintah  perlu  meningkatkan  kewaspadaan  tinggi terulangnya kejadian kebakaran hutan dan lahan ketika musim kemarau terutama di areal yang berpotensi terjadi konflik pemanfaatan kawasan hutan antara masyarakat dengan perusahaan seperti di areal izin konsesi IUPHHK-HTI dan areal penggunaan lain (APL). Kewaspadaan perlu dilakukan dengan memperjelas status kawasan di areal konflik serta memberikan penyuluhan dan sosialisasi ke masyarakat secara intensif
Skarifikasi Benih Aren (Arenga pinnata Merr.) Asal Bengkulu dengan Beberapa Perlakuan yang Mudah Diterapkan Kurniawan, Hery
Jurnal Penelitian Kehutanan Sumatrana Vol 2, No 1 (2021): Jurnal Penelitian Kehutanan Sumatrana
Publisher : Jurnal Penelitian Kehutanan Sumatrana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jpks.2021.2.1.39-47

Abstract

Aren (Arenga pinnata Merr.) merupakan tanaman penting yang memiliki banyak nilai manfaat dan nilai ekonomi. Masyarakat Indonesia secara umum telah mengenal kegunaan tanaman ini karena manfaatnya yang banyak, hampir seluruh bagian tanaman aren dapat dimanfaatkan. Saat ini pemanfaatannya masih banyak mengandalkan dari tanaman liar yang tumbuh di hutan. Salah satu kendala yang menyebabkan budidaya aren kurang diminati adalah adanya permasalahan dalam pengecambahan benih aren yang memiliki masa dormansi panjang bisa mencapai hingga 1 tahun. Penelitian ini bertujuan untuk mencari cara skarifikasi yang mudah dan murah dalam mematahkan dormansi aren agar mudah diterapkan oleh masyarakat umum di pedesaan. Penelitian dilakukan menggunakan rancangan acak lengkap dengan tiga ulangan dan 4 perlakuan berupa pelukaan bagian tengah benih+perendaman (LT), pelukaan bagian pinggir+perendaman (LP), pembakaran+perendaman (B), perendaman dalam larutan vixal (V), dan kontrol (K). Hasil penelitian menunjukkan cara skarifikasi terbaik adalah dengan metode LT+perendaman, diikuti oleh metode V dan B. Kecepatan awal berkecambah untuk perlakuan LT, LP, dan B adalah sama
PERTUMBUHAN SEMAI Shorea balangeran (Korth.) Burck PADA BERBAGAI INTENSITAS CAHAYA Atmoko, S.Hut., M.Si., Tri
Jurnal Penelitian Kehutanan Sumatrana Vol 2, No 1 (2021): Jurnal Penelitian Kehutanan Sumatrana
Publisher : Jurnal Penelitian Kehutanan Sumatrana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jpks.2021.2.1.49-57

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan semai Shorea balangeran (Korth.) Burck pada berbagai tingkat intensitas cahaya.  Penelitian dilakukan di persemaian. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan tiga kali ulangan.  Perlakukan dilakukan dengan menutup bagian atas semai dengan sarlon berwarna hitam sebanyak satu lapis, dua lapis dan tiga lapis.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan intensitas cahaya berpengaruh nyata terhadap tinggi, diameter, luas daun dan berat kering total, namun tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah daun.  Pertumbuhan semai S. balangeran tertinggi terjadi pada perlakuan naungan alami. Penyimpanan semai S. balangeran dengan mengurangi intensitas cahaya matahari dapat dilakukan dan kualitas bibit yang dihasilkan tetap terjaga.
IDENTIFIKASI WILAYAH DENGAN DAMPAK KARHUTLA TERTINGGI DI PROVINSI SUMATERA SELATAN MENGGUNAKAN SATELIT LANDSAT-8 (Identification Area With The Highest Forest Fire Impact In South Sumatra By Using LANDSAT-8 Satellite) Agdialta, Rezfiko
Jurnal Penelitian Kehutanan Sumatrana Vol 2, No 1 (2021): Jurnal Penelitian Kehutanan Sumatrana
Publisher : Jurnal Penelitian Kehutanan Sumatrana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jpks.2021.2.1.1-10

Abstract

Informasi wilayah yang terindikasi memiliki dampak terparah selama periode kebakaran hutan dan lahan sangat diperlukan untuk proses mitigasi dan adaptasi bencana pada kemudian hari. Proses Identikasi wilayah yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode Keetch-Byram Drought Index untuk mengetahui seberapa tinggi tingkat kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten dan Kota di wilayah Sumatera Selatan. Data titik panas digunakan untuk melihat adanya indikasi terjadi kebakaran hutan dan lahan. Pada penelitian ini digunakan data titik panas dari satelit NASA yaitu TERRA dan AQUA dengan menggunakan sensor MODIS (Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer). Satelit ini dapat mendeteksi perubahan suhu pada luas area 1.1 km2 dimana perubahan suhu yang terjadi dengan ekstrem dapat mengindikasikan adanya kebakaran hutan dan lahan. Satelit Landsat-8 adalah satelit yang umumnya digunakan untuk memetakan area dan luas wilayah yang hilang akibat kebakaran hutan dan lahan. Satelit Landsat-8 digunakan untuk melihat sejauh mana lahan yang semula hutan berubah menjadi lahan yang kosong dan bebatuan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan wilayah di Sumatera Selatan yang memiliki dampak terparah yang diakibatkan oleh bencana kebakaran hutan dan lahan pada tahun 2015. Penelitian ini menggunakan analisis verifikasi lahan bekas terbakar yang diperoleh dari satelit Landsat-8 sebelum dan setelah terjadinya kebakaran hutan dan lahan pada wilayah yang memiliki dampak terparah yang diverifikasi berdasarkan tingkat kekeringan dengan metode Keetch-Byram Drought Index dan jumlah titik panas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa wilayah dengan dampak yang paling parah selama periode tersebut adalah wilayah Kabupaten Ogan Komering Ilir.

Page 2 of 2 | Total Record : 18