cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Extension Course Filsafat ( ECF )
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
ECF adalah singkatan dari Extension Course Filsafat. ECF merupakan kegiatan non-profit yang mengejawantahkan salah satu bentuk Tri Darma Perguruan tinggi, yakni pengabdian kepada masyarakat. ECF diselenggarakan oleh Fakultas Filsafat Unpar Bandung sejak tahun 2004. Program ECF ini dilandasi oleh kebutuhan sebagian masyarakat yang ingin mencicipi studi filsafat tetapi karena keterbatasan waktu mereka tidak bisa mengikutinya secara formal. Selain itu, adanya kebutuhan juga akan pendekatan yang lebih mendasar dan kritis untuk menelaah fenomena kultural dan kemanusiaan kontemporer, yang bukan hanya dalam konteks Indonesia saja, tetapi konteks peradaban yang lebih luas.
Arjuna Subject : -
Articles 172 Documents
Kapitalisme Mutakhir: Mesin Hasrat yang Tak Terkalahkan Purwadi, Yohanes Slamet
Extension Course Filsafat ( ECF ) 2017: Phylosophy of Mind
Publisher : Extension Course Filsafat ( ECF )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kapitalisme Mutakhir: Mesin Hasrat yang Tak Terkalahkan
Kematian Sugiharto, Ignatius Bambang
Extension Course Filsafat ( ECF ) No 2 (2015): ECF Filsafat Kematian
Publisher : Extension Course Filsafat ( ECF )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Manusia tidak hidup dengan fakta saja (natural environment) melainkan, terutama dengan makna (environment of the mind).MASALAH : cerita ttg kematian berubah-ubah bersama sejarah, perubahan sosial, dan perkembangan iptek.
Fashion, Art dan Industri Situmorang, Sabar
Extension Course Filsafat ( ECF ) No 1 (2016): ECF Fashion, Sex & Culinary
Publisher : Extension Course Filsafat ( ECF )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fashion, Art dan Industri
MENCARI DAN TIDAK MENEMUKAN SYLADO, REMY
Extension Course Filsafat ( ECF ) No 1 (2015): ECF Filsafat Uang
Publisher : Extension Course Filsafat ( ECF )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

"No onewould have remembered the Good Samaritan if hed only had good intentions. He hadmoney as well.” (Margaret Thatcher)
ETIKA PROTESTANTISME DAN REVOLUSI MENTAL DI BIDANG EKONOMI Rachmat, Agus
Extension Course Filsafat ( ECF ) No 1 (2015): ECF Filsafat Uang
Publisher : Extension Course Filsafat ( ECF )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

1. Sekularisasi: Weber mengantisipasi bahwa spiritual capital itu perlahan-lahan makinmenyusut berkat terjadinya sekularisasi. Fondasi kapitalisme modern bukan lagi EPmelainkan kemajuan dan terobosan di bidang Iptek. Akibatnya profit dan wealthmenjadi tujuan mutlak yang terlepas dari panduan etis religious. Ringkasnya, bahayamunculnya materialism dan hedonism: motif kenikmatan duaniawi menggesermotiuf Protestant tentang keselamatan surgawi.2. Kapitalisme global dewasa ini bertumpu pada prinsip maksimalisasi produksi &maksimalisasi konsumsi. Akibatnya terjadilah krisis ekologis yang paarah.3. EP menandaskan bahwa sukses financial seseorang itu tergantung dari watak dankebajikan moral masing-masing individu ybs. Akibatnya cenderung ada pandanganyang negative terhadap orang-orang yang dianggap tak produktif (khususnyamiskin & menganggur): Mereka sering dianggap sebagai orang yang kurangmempunyai mental dan moral yang baik. Padahal mungkin mereka adalah korbanstructural.
Humor dan Homo Ludens Rahmat, Agus
Extension Course Filsafat ( ECF ) No 2 (2014): ECF Filsafat Humor
Publisher : Extension Course Filsafat ( ECF )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Humor adalah fenomena aneh dan penuh paradoks: sesuatu yang sebenarnya tidak serius -bahkan pernah dianggap jahat – namun di sisi lain ternyata juga dianggap sangat penting. Plato sempat menganggap humor dan tertawa sebagai kejahatan, sejajar dengan penghinaan. Kaum Stoa, biarawan-biarawan Kristiani purba, hingga beberapa filsuf abad 17, melihat tertawa sebagai kekurangan pengendalian diri. Psikoanalisis Freudian menganggap humor sebagai bentuk terselubung kedengkian dan naluri liar libido. Namun kini orang cenderung melihat sebaliknya: kini humor dilihat justru sebagai kecerdasan kritis, secara psikologis mencerminkan fleksibilitas mental, secara fisik menurunkan tegangan dan memacu imunitas, secara sosial merupakan lubrikan yang memperlancar hubungan interpersonal.  Sempat pula ada anggapan bahwa humor merupakan indikator adanya ketertekanan masif. Sementara di sisi lain konon humor juga menunjukkan kematangan psikologis dan religius.   Extension Course Filsafat kali ini bermaksud hendak memahami kompleksitas dari gejala yang disebut ‘humor’ itu, dengan mencoba melihatnya dari bermacam perspektif, antara lain : dari sudut filsafat, neuroscience, psikologi, bahasa, budaya, agama, dll.
Pikiran dan Filsafat Buddhisme Djunatan, Stephanus
Extension Course Filsafat ( ECF ) 2017: Phylosophy of Mind
Publisher : Extension Course Filsafat ( ECF )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pikiran dan Filsafat Buddhisme
Konsep Filosofis Reinkarnasi dan Argumentasinya Suddmasilo, Bikshu
Extension Course Filsafat ( ECF ) No 2 (2015): ECF Filsafat Kematian
Publisher : Extension Course Filsafat ( ECF )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam kehidupan manusia ini sering kali timbul pertanyaan, “setelah kehidupan ini berakhir, kemanakah kita akan pergi?” Pertanyaan ini tentunya menjadi salah satu misteri terbesar dalam kehidupan umat manusia. Kematian adalah pasti, apa yang terjadi sesudah kematian masih merupakan tanda tanya besar karena mereka yang sudah mendahului kita tidak lagi “mengupdate” status facebook atau tweet di tweeter  dimanakah mereka berada setelah kematian datang menjemput. Kita tentunya memiliki banyak “jawaban” terhadap pertanyaan tersebut, dimana setiap “jawaban” itu berasal dari berbagai tulisan (kitab, situs, ukiran, artifak, dan sebagainya) atau secara lisan dari seorang guru ke murid dan diteruskan turun temurun. Semua jawaban tersebut adalah berbeda beda, walaupun ada yang memiliki kemiripan.
Musik dan Industri : Sound Art Edrian, Bob
Extension Course Filsafat ( ECF ) No 2 (2016): ECF Musik
Publisher : Extension Course Filsafat ( ECF )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Musik dan Industri : Sound Art
Seni, Budaya dan Peradaban Sugiharto, Bambang
Extension Course Filsafat ( ECF ) No 1 (2014): ECF Filsafat Seni
Publisher : Extension Course Filsafat ( ECF )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada millenium ketiga ini, seni mengalami situasi paradoksal : di satu sisi konon ia ‘telah berakhir’ (‘The end of art’ kata Arthur Danto dll), di sisi lain seni melebur ke dalam kehidupan sehari-hari, menjadi apa pun juga. Di satu sisi, dalam konstelasi teknokultur hari ini seni selalu dianggap sekedar hal sekunder –seperti tampak dalam kurikulum pendidikan umum-, di sisi lain pada strata masyarakat papan atas seni justru diapresiasi sebagai simbol kemewahan dan keberadaban. Situasi ini menarik, memaksa kita meninjau kembali keterkaitan antara seni dan kehidupan.  Barangkali sebenarnya yang berakhir hanyalah pemisahan ketat antara  ‘seni tinggi’ dan ‘seni populer’ yang semakin lama semakin dirasa artifisial dan tendensius, yang juga tidak sesuai dengan kenyataan perkembangan ‘seni tinggi’ itu sendiri. Barangkali juga yang sebenarnya menghilang hanyalah pretensi ‘eksklusif’ dari dunia seni itu, sebab dalam kenyataannya kini seni justru dianggap sebagai paradigma utama yang lebih tepat untuk memahami berbagai fenomena kreatif pokok dalam dunia manusia, sejak fenomena kreatif dalam sains, teknologi, industri, ekonomi, hingga politik, gaya hidup dan agama. Dunia manusia tetaplah dunia yang diciptakan dan‘dibuat-buat’nya sendiri alias dunia yang di’seni’kannya. Barangkali akhirnya seni memang bukan hanya soal ‘keindahan’, melainkan lebih perkara ‘kebenaran’, kebenaran tentang bagaimana hidup ini ditafsirkan dan dimaknai secara khas oleh manusia. Extension Course Filsafat kali ini hendak merenungi dan mengkaji lebih jauh posisi seni yang paradoksal itu, untuk memperjelas seberapa penting sesungguhnya seni itu dalam kehidupan kita kini.

Page 3 of 18 | Total Record : 172