cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
TATANAN
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 90 Documents
EFISIENSI ENERGI AC PADA RUMAH INDUSTRI DENGAN METODA KESEIMBANGAN TERMAL Tantri Oktavia; Philip A. S.
TATANAN Vol. 2 No. 2 (2008)
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Bandung is one of the city that is crowded with visitors; they come to have a vacation or to trade. Thus it is balanced with the growth of industrial and trading area within the city Therefore Home Office and Industrial Home appeared within the city. Industrial Home mostly grows in Southern Bandung and Eastern Bandung, which is a dense-populated area with an uncomfortable atmosphere. Based on the first survey done by the team, those areas are troubled by sound pollution, engine vibration and fluctuated temperature change inside the room. Based on those problems, industrial area and housing area needs to be separated with the tendency of an air-conditioned room is installed to the ground floor of the houses in the housing area. Those installations could create a thermal comfort but it's a common fact that the usage of air-conditioner will add an operational cost due to the big energy usage. Based on the literature, decreasing the power of the air-conditioner couldn't increase the energy efficiency of the air-conditioner itself but it creates an unwanted condition followed by a decrease in the human productivity. Therefore to increase the energy efficiency of the air-conditioner, we should have the space and building engineered, which could be calculated with the thermal equilibrium method.By doing some efforts to decrease the air-conditioning energy usage (internal or external efforts), we could save a quite numerable amount of money while fulfilling the human comfort standard. The most effective way to decrease the energy usage of the air-conditioner is to isolate the heat source which is comes from within the room. These conditions should be fulfilled because the engines in the room produced about 1500 Watts of heat. Therefore an ideal building with a tropical building type will be doubted to be comfortable if it is used as an industrial home; especially those with a western or eastern orientation, in addition to the condition above applying the sun-shading to all of the walls in the building could increase the effective.  Key Words: air-conditioner energy efficiency, Industrial Home, thermal equilibrium method  Abstrak Kota Bandung termasuk kota yang banyak didatangi oleh pendatang, baik untuk berwisata maupun untuk berdagang. Hal ini diimbangi dengan bertambahnya kawasan industri dan perdagangan di kota Bandung. Oleh karena itu, muncul banyak Ruko (rumah toko) dan Rutri (rumah industri). Perkembangan Rutri di kota Bandung sebagian beşar di daerah Bandung Selatan dan di Bandung Timur. Yang mana di kedua daerah tersebut merupakan daerah yang padat penduduk dan tidak nyaman dari segi udaranya.Berdasarkan hasil survei awal yang dilakukan, permasalahan yang timbul terutama pada kebisingan, getaran mesin dan suhu udara yang panas dalam ruangan. Oleh karena itu dilakukan pemisahan antara industri dan hunian secara vertikal dengan kecenderungannya menggunakan AC pada lantai huniannya. Keuntungan yang didapat dari penggunaan AC tersebut adalah kenyamanan termal, namun kerugiannya adalah bertambahnya biaya operasional yang dikarenakan oleh penggunaan AC yang terbukti (rahasia umum) memakan banyak energi.  Dari literatur dikatakan bahwa pengefisienan energi AC bukan berarti merekayasa dari AC-nya sendiri (misalnya dengan mengecilkan AC atau mengurangi tingkat penyejukan dari AC, yang akan menimbulkan ketidaknyamanan, sehingga dapat memberikan konsekuensi lebih lanjut dengan berkurangnya produktifitas penghuninya). Akan tetapi perlu dilakukan rekayasa ruang dan bangunannya sendiri, yang dapat diperhitungkan secara eksak dengan metoda keseimbangan termal.  Dengan dilakukannya beberapa upaya untuk mengurangi beban penyejukan AC baik penanggulangan panas eksternal maupun internal, dapat dilakukan penghematan yang cukup besar namun tetap memenuhi standar kenyamanan manusia. Upaya yang paling efektif melakukan pengurangan daya AC yaitu dengan mengisolasi sumber panas yang berasal dari dalam ruangan, karena mesin-mesin memberikan panas yang cukup besar yaitu sebesar 1500W. Bangunan yang ideal dengan tipikal bangunan tropis belum tentu sesuai atau nyaman, jika fungsinya RUTRI terutama pada bangunan yang memiliki arah hadap Barat-Timur. Selain itu dengan adanya sun-shading pada setiap dinding bangunan akan menambah efektifitasnya.   Kata Kunci : efisiensi energi AC, Rumah Industri (Rutri), keseimbangan termal.  
EVALUASI PRASARANA DAN SARANA PADA RUMAH SUSUN SARIJADI BANDUNG Inta Catur Putrie; Ersen Sidik
TATANAN Vol. 1 No. 1 (2007)
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract                Housing has a very important role for human life; it is the one of three primary human needs which are food, clothes and shelter. For fulfill the human needs of houses, the government made a policy to build low cost housing for the lower income community. Flat was the one option of low cost housing that government built. To build a low cost public housing there is a standard and regulation that must be followed ro make the housing environment better. Unfortunately, the big concern only on economical aspect in design process seems like that the potential dwellers’ needs and wants has been ignored. As well as the standard and the regulation. Utilities and facilities are the things that must be provided in a housing environment and must follow the regulation to make the people or community living much better and give them satisfaction in daily life. The purpose of this study is to know whether the facilities in Sarijadi flat are fit with the standard that given or not, and to know whether the community of Sarijadi flat are satisfied with the facilities that there were or not. The method that is used in this study is quantitative method. The data are from literature, observation and questionnaire also interview to community. The conclusion is not all the facilities in Sarijadi flat followed the standard and regulation. Although not all the facilities followed the standard and regulation, the people mentioned that the utilities and the facilities are complete enough and can meet their needs. Key Words: evaluation, utility and facility, low cost public housing, Sarijadi Bandung Abstrak                Perumahan mempunyai fungsi dan peranan yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Perumahan dan permukiman merupakan salah satu dari tiga kebutuhan dasar manusia (sandang, pangan dan papan). Pembangunan perumahan dan permukiman merupakan upaya yang dilakukan pemerintah untuk memenuhi salah satu kebutuhan dasar manusia akan tempat tinggal terutama bagi golongan masyarakat menengah ke bawah. Upaya pemerintah untuk memenuhi kebutuhan manusia akan tempat tinggal adalah dengan pembangunan rumah murah yang salah satunya adalah rumah susun. Dalam pembangunan rumah susun terdapat standar dan ketentuan yang harus diikuti agar lingkungan perumahan menjadi lebih baik. Namun perhatian yang lebih ditekankan pada aspek ekonomi, menyebabkan seolah-olah dalam proses perancangan, kebutuhan dan keinginan calon penghuni terabaikan, demikian pula dengan standar dan peraturan. Prasarana dan sarana meruapakan hal yang harus disediakan pada suatu lingkungan perumahan dan harus memenuhi standar dan peratuan untuk membuat kehidupan masyarakat rusun Sarijadi menjadi lebih baik dan memberi kepuasan dalam kehidupan mereka sehari-hari. Maksud studi ini adalah untuk mengetahui apakah prasarana dan sarana yang ada pada rumah susun Sarijadi telah memenuhi standar yang telah ditetapkan dan apakan prasarana dan sarana yang ada telah memenuhi kebutuhan para penghuni. Metode yang digunakan adalah metode kuantitatif, data diperoleh dari studi literatur, pengamatan langsung ke lapangan, serta dari angket dan wawancara terhadap penghuni rumah susun Sarijadi. Diperoleh kesimpulan bahwa walaupun prasarana dan sarana yang ada pada rumah susun Sarijadi belum sepenuhnya memenuhi standar, namun para penghuni menyatakan bahwa prasarana dan sarana sudah cukup lengkap dan dapat memenuhi kebutuhan mereka. Kata Kunci: evaluasi, prasarana dan sarana, rumah susun, Sarijadi Bandung
EVALUASI BANGUNAN HUMAN DITINJAU DARI KONSEP BERWAWASAN LINGKUNGAN Herbie Kusjayanto; Bianca Baverina
TATANAN Vol. 1 No. 2 (2007)
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Residence is the one of human basic needs. In line with the increasing of the number of people, the needs of residence will increase too. Right now, the city area has a high level of density, so if there is no proper attention to the built environment development, it can intrude the balance of ecology that we have. More over the city situation has changed and there are some issues such as global warming and the ozone layer decreasing. The implementation of the green architecture becomes one of the options in decreasing the damage environment effect. This concept prioritizes the mutual relation between environment and to create buildings; by using sunlight, wind, and vegetations. A residence with green architecture supports the sustainable environment. This study compares the three buildings in Jalan Pager Gunung, Bandung, those are the old 1939's residential buildings; the new 1990's; and the new-form-old renovated one. The comparison is based on the concept of green architecture perspective. Key words: green architecture, residence, Bandung Abstrak Tempat tinggal merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia. Seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk maka kebutuhan akan tempat tinggal juga meningkat. Sekarang ini daerah perkotaan memiliki tingkat kepadatan cukup tinggi, bila tidak ada perhatian yang layak dalam pembangunan lingkungan terbangun maka keseimbangan ekologi akan terganggu. Ditambah lagi keadaan kota telah berubah dengan cepat dan adanya berbagai isu seperti pemanasan global serta penipisan lapisan ozon. Penerapan arsitektur berwawasan lingkungan menjadi salah satu pilihan dalam upaya mengurangi dampak kerusakan lingkungan. Konsep ini mengutamakan adanya hubungan timbal balik antara lingkungan dan bangunannya; misalnya dengan memanfaatkan cahaya matahari, angin, dan vegetasi. Suatu hunian berwawasan lingkungan mendukung terciptanya suatu lingkungan yang berkelanjutan (sustainable). Studi ini membandingkan tiga bangunan di Jalan Pager Gunung, Bandung, yaitu bangunan hunian lama yang dibangun tahun 1939; bangunan baru yang dibangun tahun 1990; dan bangunan hasil renovasi dari bangunan lama. Perbandingannya didasarkan pada tinjauan konsep berwawasan lingkungan. Kata kunci: arsitektur berwawasan lingkungan, residensial, Bandung 
ANALISA PENGARUH ORIENTASI BUKAAN TIMUR TERHADAP KENYAMANAN VISUAL RUANG KELAS SEKOLAH TALENTA COLLEGE BANDUNG Andre Roy
TATANAN Vol. 3 No. 1 (2009)
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Energy crisis nowadays requires the efficient use of energy, especially towards the use of natural resources which is not maximum and efficient enough. The use of natural lighting has been one of the wise solutions although the use of artificial lighting can not be fully ignored because this lighting is required when the weather does not support. The latter is because natural lighting depends on the weather. In education buildings like schools, lighting quality influences the school process. Bad quality of lighting will interfere the process. Natural lighting is very important, especially in classroom. This is because of the operational hours that can make the use of natural lighting possible. Based on the consideration, the modern style Talenta College is chosen as the object. This school is hoped to have an optimal natural lighting through the design, especially in the classroom. This study aims to gain knowledge about the influence of opening design towards the natural lighting distribution in classrooms in each floor, regarding the east orientation, and also the influence of opening orientation towards the natural lighting in classrooms. Last but not least, this study also aims to find the influence of artificial lighting towards the visual comfort in the classroom. The method is started with the observation and measurement to know the light intensity in the classrooms. The next step is to analyzed the lighting based on the sky factor. The study also analyze the direct light which go into the classrooms. This helps to analyze the qualitative aspect of lighting which influence the visual comfort. The conclusions of this study are the glare which disturbs the visual comforts in classrooms is not only influenced by the light intensity but also because of the direct light which comes into the rooms. The light intensity produces visual comfort if the lighting comes from the sky light. Sky factor also becomes one of potentials which influences the visual comfort in the classrooms.  Key Words: opening design, classroom, natural lighting  Abstrak Krisis energi saat ini menuntut pemanfaatan energi yang lebih efektif, khususnya pada pemanfaatan sumber daya alam yang sampai saat ini pemanfaatannya masih kurang maksimal dan efektif. Pemanfaatan pencahayaan alami menjadi salah satu solusi yang bijaksana walaupun pemanfaatan pencahayaan buatan tidak dapat dihilangkan sama sekali karena sifatnya mendukung pencahayaan alami ketika kondisi cuaca kurangbaik. Hal ini dikarenakan pemanfaatan pencahayaan alami yang sangat bergantung pada kondisi cuaca. Pada bangunan pendidikan seperti sekolah, pemanfaatan cahaya sangat menentukan keberlangsungan kegiatan belajar dan mengajar sehubungan dengan kualitas pencahayaan. Kualitas pencahayaan yang buruk akan mengganggu proses belajar dan mengajar. Khususnya pada ruang kelas, pencahayaan alami sangat dibutuhkan. Hal ini dikarenakan jam operasional yang memungkinkan pemanfaatan pencahayaan alami. Dari pertimbangan tersebut objek studi yang dipilih adalah 'Talenta College' yang memiliki gaya modern/kontemporer, sehingga diharapkan telah memperhatikan optimalisasi pencahayaan alami dengan desain yang memanfaatkan aspek pencahayaan alami dalam bangunan, khususnya pada ruang kelas. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh desain bukaan terhadap distribusi pencahayaan alami di ruang kelas pada tiap lantai bangunan pada orientasi timur dan besar pengaruh orientasi bukaan terhadap pencahayaan alami pada ruang kelas serta sejauh mana pengaruh pencahayaan buatan dapat mendukung kenyamanan visual di ruang kelas. Metode penelitian diawali dengan pengamatan dan pengukuran langsung yang dilakukan untuk mengetahui bagaimana kuat pencahayaan pada ruang kelas yang ditentukan sebagai objek penelitian. Kemudian tahap berikutnya yaitu dengan menganalisa pencahayaan berdasarkan faktor langit. Hal ini membantu menganalisa pencahayaan dari sudut besarnya faktor langit yang dimiliki ruang kelas. Selain itu, dilakukan pula analisa sinar langsung yang masuk ke dalam ruang kelas. Hal ini dilakukan untuk melakukan analisa yang berhubungan dengan aspek kualitatif pencahayaan terhadap kenyamanan visual pada ruang kelas. Berdasarkan penelitian diperoleh kesimpulan yaitu silau yang mengganggu kenyamanan visual pada ruang kelas tidak hanya dipengaruhi oleh kuat intensitas cahaya melainkan lebih dikarenakan sinar langsung yang diterima ruang kelas. Kuat intensitas justru memberikan kenyamanan visual bila pencahayaan yang diperoleh berupa terang langit. Faktor langit juga menjadi salah satu potensi yang mempengaruhi kenyamanan visual pada ruang kelas.  Kata Kunci: desain bukaan, ruang kelas, pencahayaan alami 
KAJIAN RUANG TERBUKA DAN MASSA BANGUNAN APARTEMEN MARINA SEBAGAI BANGUNAN DI KAWASAN TEPI LAUT Fransisca Gunawan; Alvin Alvin
TATANAN Vol. 2 No. 1 (2008)
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractThe demand of housing supply in North Jakarta increases in each years, therefore made BPL Pluit must do the reclamation of North Jakarta shore area to be prepared as housing area. Through the vertical housing concept to respond the housing demand, the developer tries to speculate with the condition of north Jakarta area and built Marina apartment in seashore.As an apartment in seashore, the developer tries to use waterfront concept for building design that so far has been used in advanced country such as Japan and America. This article made to analyze wheter or not the Marina apartment is an waterfront building as its concept. The study enclose the open space ordering and also building mass concept that next will be compared with the literature about some design criterias and elements that must be watched in apartment planning and waterfront concept.A building can be said as a waterfront building not only from the location in seashore but also the optimal using from the sea area and orientation of the sea around it. After the analysis progress, we can say that Marina apartment is not a building with waterfront concept because there is no optimal using of the sea around it that represent an important element in waterfront concept building.AbstrakTuntutan penyediaan permukiman di kawasan Jakarta Utara semakin meningkat setiap tahunnya sehingga menyebabkan pihak BPL Pluit harus melakukan reklamasi wilayah pantai Utara Jakarta untuk dikembangkan menjadi area permukiman. Dengan menerapkan konsep hunian vertikal untuk menjawab kebutuhan akan permukiman, maka pihak pengembang mencoba berspekulasi dengan kondisi yang ada di Jakarta Utara dengan mendirikan sebuah apartemen di tepi laut, yaitu apartemen Marina.Sebagai apartemen yang berlokasi di tepi laut, pihak pengembang mencoba menerapkan konsep desain bangunan waterfront yang selama ini sudah banyak digunakan di berbagai negara maju seperti Jepang dan Amerika. Tulisan ini dibuat untuk mengkaji apakah apartemen Marina sesuai dengan konsep desain bangunan waterfront. Pengkajian meliputi tatanan ruang terbuka serta desain massa bangunan yang kemudian dibandingkan dengan literatur mengenai berbagai kriteria desain dan elemen-elemen yang pertu diperhatikan dalam perencanaan apartemen serta konsep waterfront. Sebuah bangunan dapat dinyatakan sebagai bangunan waterfront bukan hanya berdasarkan lokasinya yang berada di tepi laut, tetapi adanya pemanfaatan optimal dan orientasi dari perairan itu sendiri. Setelah melalui proses analisa, dapat disimpulkan bahwa apartemen Marina temyata bukan merupakan bangunan yang menggunakan konsep waterfront dikarenakan tidak mengoptimalkan pemanfaatan laut di sekitamya dimana hal tersebut merupakan elemen utama dalam sebuah konsep bangunan waterfront.
KAJIAN EKOLOGIS DALAM DESAIN ARSITEKTUR Objek studi : Rumah Tinggal di Jalan Metro Alam 11/17 Jakarta Cloudia Treisye; Gina Perris
TATANAN Vol. 2 No. 1 (2008)
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractThis study examines architecture design by ecological view. At the beginning of architecture history, Vitruvius wrote about relation between built environment and natural environment. Vitruvius' approach focused on human while nature only be seen as sources to accomplish human needs. This approach has not much change for two millennium. The appearance of Ecological Architecture begins with the observation about renewable natural resources, oil crisis, and World Environmental Summit at Rio de Janeiro. Then the nature has been seen as an important thing for human life and the natural environment concerns arise.In Ecological Architecture, architecture has been seen by ecosystem concept where architecture not only be seen by a abiotic components, but also biotic components which related in one defined system. Architecture has been seen as a solution to environmental problems which causes by human intervention and activities. To preserve natural environmental and ecosystem does not mean that human intervention to it is not allowed, but how to put human's activities in the environment with minimal effects. Ecological Architecture does not tend to determine what should be happened in architecture because there is no specific condition as standard or certain rules. Instead of that, ecological architecture will influence architecture form. Ecological architecture is about balancing between human and natural environment.Keywords: ecology, architecture, house's design.AbstrakStudi ini mengkaji tentang desain arsitektur dari sudut pandang ekologis. Pada awal sejarah arsitektur, Vitruvius menulis mengenai hubungan antara lingkungan binaan dan lingkungan alam. Pendekatan Vitruvius ini berpusat pada manusia dimana alam hanya dilihat sebagai sumber-sumber yang harus atau dapat memenuhi kebutuhan manusia. Pendekatan ini tidak berubah banyak selama dua milenia ini. Awal abad ke-19 ada usaha menghijaukan lingkungan binaan namun secara fundamental alam tetap dilihat sebagai objek pemenuhan kebutuhan manusia. Munculnya konsep arsitektur-ekologis diawali oleh penelitian akan sumber daya alam yang dapat diperbaharui, krisis minyak, dan pertemuan isu lingkungan di Rio de Janeiro. Setelah itu alam mulai dipandang sebagai sesuatu yang penting bagi kelangsungan hidup manusia dan muncul kesadaran akan lingkungan alam.Dalam arsitektur-ekologis, arsitektur dilihat dari konsep ekosistem dimana arsitektur tidak hanya dilihat dari komponen abiotiknya melainkan juga komponen biotiknya yang bekerjasama sebagai suatu sistem yang utuh. Arsitektur dianggap sebagai pemecahan terhadap masalah-masalah lingkungan yang disebabkan campur tangan dan aktivitas manusia dan mengakibatkan multiple effects. Menjaga lingkungan dan ekosistem tidak berarti tanpa campur tangan manusia sama sekali, tetapi bagaimana menghubungkan aktivitas manusia dan lingkungan dengan dampak negatif seminimal mungkin. Arsitektur-ekologis tidak menentukan apa yang seharusnya terjadi dalam arsitektur karena tidak ada sifat khas yang mengikat sebagai standar atau aturan baku. Walau demikian, prinsip-prinsip arsitektur-ekologis pada akhimya akan mempengaruhi bentuk arsitektur. Arsitektur-ekologis mencakup keselarasan antara manusia dengan lingkungan alamnya.Kata kunci: ekologi, arsitektur, perancangan rumah tinggal.
EVALUASI KENYAMANAN TERMAL PADA UNIT HUNIAN APARTEMEN MAJESTY Vina Agustina Royana
TATANAN Vol. 3 No. 1 (2009)
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Comfort, especially thermal comfort, is one of many aspects that should be available in a housing building. Others are security, accessibility, and health, so the inhabitants will feel at home. In humid tropical climate, high sun radiation and humidity become the major problems. The problems need certain solutions to create thermal comfort. Vertical housing (apartment) should have a design that responds to the climate, especially the facade design. Building facade will influence the thermal comfort quality in the building. Moreover, the housing units orientation and the different units height will affect the thermal comfort inside it. The Majesty Residence represents the facade problem which doesn't respond to the climate. This apartment’s shape is letter T, which make various unit orientations. To respond to the problems, analysis about the thermal comfort linked to the design principles of vertical housing is done. These principles are orientation, building form, unit orientation, construction, material, color, opening, and respond to the sun radiation. From the analysis, the right material, color, construction, and orientation for humid tropical climate can reduce the climatic problems. Therefore, the comfort zone can be created inside and outside the building.  Key Words: thermal comfort, housing units, Majesty Apartment Abstrak Kenyamanan khususnya kenyamanan termal merupakan salah satu aspek yang perlu dihadirkan dalam bangunan hunian, selain aspek keamanan, kemudahan, dan kesehatan, agar penghuni merasa betah. Di daerah tropis hangat lembab, radiasi matahari dan kelembaban udara yang tinggi menjadi masalah iklim utama. Masalah tersebut memerlukan pengendalian khusus untuk menciptakan kenyamanan termal. Bangunan hunian vertikal (apartemen) sudah selayaknya memiliki desain yang merespon iklim, terutama bagian fasad. Fasad bangunan akan mempengaruhi kualitas kenyamanan termal ruang di dalamnya. Selain itu orientasi unit hunian dan ketinggian unit yang berbeda akan mempengaruhi kenyamanan unit hunian yang berbeda juga. Apartemen "The Majesty Residence" mewakili permasalahan tentang fasad yang kurang merespon iklim. Selain itu Apartemen "The Majesty Residence" berbentuk letter-T memungkinkan orientasi unit hunian yang berbeda. Untuk menjawab masalah tersebut, dilakukan analisa mengenai kenyamanan termal yang dikaitkan dengan prinsip merancang bangunan vertikal (orientasi dan bentuk bangunan, orientasi ruang dalam bangunan, konstruksi, material, warna, bukaan, pengendalian terhadap radiasi matahari) terhadap kenyamanan termal ruang dalam. Dari hasil analisa, pemakaian material, warna,konstruksi dan orientasi yang tepat untuk daerah tropis hangat lembab, dapat mengendalikan masalah-masalah iklim. Dengan demikian, kondisi nyaman dapat tercipta baik di dalam maupun luar bangunan. Kata Kunci : kenyamanan termal, unit hunian, Apartemen Majesty 
KORELASI PERMENPERA NO.7/PERMEN/M/2007 TERHADAP KRTERIA PEMBANGUNAN RUSUNAMI GADING NIAS DAN RUSUNAMI PULO GEBANG Arline Permana
TATANAN Vol. 2 No. 2 (2008)
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract The government regulation concerning the development of the high-rise flat building was the important factor that must be paid attention to in designing a high-rise flat building. However the factor that must be paid attention to in designed not only was based on the government regulation but also from the flat (apartment) development criteria. This study analyzed the correlation between Permenpera No.7/FERMEN/M/2007 towards the development criteria of the high-rise flat that were divided into three parts, which are the standard of planning apartment, the public's criteria and the specific criteria of designing apartment. The aim of the implementation of this analysis was to know the correlation that emerged between both of them, also the consequences of this correlation. So as to be able to show the condition that could support the achievement of the stipulation of Permenpera No.7/PERMEN/M/2007 in the development of the high-rise flat. The approach that was carried out to analyze this correlation was with did cross-check between Permenpera and the development criteria of the high-rise flat which is connected towards the application to the building. Based on the analysis to the object of the study which are Rusunami Gading Nias and Rusunami Pulo Gebang, it was found that most development criteria rusun was fulfilled. However the selling price stipulation that was dismissed by Permenpera that is Rp 4 million per square metre of floor area was still not fulfilled. And the conclusion is that there is a correlation between Permenpera No. 7/PERMEN/M/2007 and the development criterion of the high-rise flat, but for several cases, it still has a discontinuity around both of them. This result the unfulfilment of the provisions of the selling price that was dismissed by Permenpera No. 7/PERMEN/M/2007.  Key Words: government regulation, development criteria, high-rise flat    AbstrakPeraturan pemerintah mengenai pembangunan rumah susun merupakan faktor penting yang harus diperhatikan dalam mendesain sebuah bangunan rumah susun. Namun faktor yang harus diperhatikan dalam mendesain bukan hanya berdasarkan peraturan pemerintah saja tetapi juga dari kriteria pembangunan rusun yang ada. Studi ini menganalisa korelasi antara Permenpera No.7/PERMEN/M/2007 terhadap kriteria pembangunan rumah susun pada Rusunami Gading Nias dan Rusunami Pulo Gebang yang terbagi atas standar perencanaan rusun, kriteria umum dan kriteria khusus pembangunan rusun.Tujuan dilakukannya analisa ini adalah untuk mengetahui korelasi yang timbul antara keduanya, juga konsekuensi atas korelasi tersebut. Sehingga dapat memunculkan persyaratan kondisi yang dapat menunjang tercapainya ketetapan Permenpera No.7/PERMEN/M/2007 dalam pembangunan rumah susun. Pendekatan yang dilakukan untuk menganalisa korelasi tersebut adalah dengan melakukan cross-check antara Permenpera dengan kriteria pembangunan rumah susun dikaitkan terhadap penerapannya pada bangunan rusunami. Berdasarkan analisa pada obyek studi Rusunami Gading Nias dan Rusunami Pulo Gebang, ditemukan bahwa sebagian besar kriteria pembangunan rusun telah terpenuhi. Namun ketetapan harga jual yang dikeluarkan oleh Permenpera yaitu Rp 4 juta per meter persegi lantai masih belum terpenuhi. Dan dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat korelasi antara Permenpera No.7/PERMEN/M/2007 dengan kriteria pembangunan rumah susun, namun untuk beberapa kasus, masih terdapat ketidaksinambungan diantara keduanya. Hal ini mengakibatkan tidak dapat terpenuhinya ketentuan harga jual yang dikeluarkan oleh Permenpera No.7/PERMEN/M/2007.  Kata kunci: peraturan pemerintah, kriteria pembangunan, rusunami
LOMBA MAL DI BANDUNG MENUJU KEMAJUAN ATAU KEHANCURAN? Budianastas Prastyatama
TATANAN Vol. 4 No. 1 (2015)
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract            Bandung, like many other major cities in Indonesia, aspires to be a vibrant, progressive city and a pride to its citizens. Stakeholders’ efforts to materialize that aspiration manifests physically in urban spaces as witnessed in Bandung. Admittedly, interpretations of that novel aspiration more than often are amissedly executed.            Shopping centres (malls) as one of the types of built environment frequently revered as one of key investment items in a city are many times considered as symbol of progress and modernization. Along with that, ownership of motorized vehicles, residences, and other consumption materials strengthened the symbol. The rate of presence of malls in Bandung, increasing frequency and quality of traffic jams are some of the tangible indicators to underline the phenomenon. This, to some extent, increases the burden unto the city itself.            This paper aim is to study critically what such burden occurred. Specifically, this paper studies the change(s) of architectural and public space(s), occurred through the presence of malls in the spirit of capitalism, “modernity”, “progress”, in their relationship with their human citizens/users.            The method that used in this study is qualitative method, observation and reference study. It concluded that the current mall growth shifts the meaning of architectural space(s) into commodity, and public space(s) into quasi public space(s) which is private (essentially).  Key Words: malls, capitalism, car culture, spatial meaning, man–space relation AbstrakBandung, sebagaimana kota besar lain di Indonesia, memiliki aspirasi menjadi kota yang hidup, maju, dan menjadi kebanggaan warganya. Upaya berbagai pemangku kepentingan untuk mewujudkan aspirasi tersebut tertuang ke dalam manifestasi fisik pada ruang kota seperti yang dapat disaksikan langsung di Bandung. Patut diakui bahwa interpretasi atas aspirasi yang baik tersebut seringkali tidak tepat dalam eksekusinya.Pusat perbelanjaan (mal) sebagai salah satu jenis lingkungan binaan yang sering dijadikan salah satu butir investasi utama di sebuah kota, sering dianggap pula sebagai simbol kemajuan dan modernisasi. Bersamaan dengan itu, kepemilikan kendaraan bermotor, rumah, dan benda-benda konsumsi lainnya hadir memperkuat simbol tersebut. Laju kehadiran mal di Bandung, peningkatan frekuensi dan kualitas kemacetan lalu lintas, menjadi beberapa indikasi kasat mata yang menegaskan fenomena tersebut. Sedikit banyak hal ini memberi beban kepada kota itu sendiri.Tulisan ini bertujuan meninjau secara kritis beban seperti apakah yang timbul. Secara khusus, studi ini membahas perubahan yang ditimbulkan kehadiran mal dalam nafas kapitalisme, “modernitas”, “kemajuan” terhadap makna ruang arsitektur dan ruang publik dalam hubungannya dengan manusia warga/penggunanya.Metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah metode kualitatif, pengamatan langsung, dan studi literatur. Dapat disimpulkan bahwa gerak pertumbuhan mal yang terjadi sekarang ini menggeser pemaknaan ruang arsitektur ke arah komoditas, dan pengalihan ruang publik menjadi ruang quasi publik yang berhakekat privat.  Kata Kunci: mal, kapitalisme, budaya mobil, pemaknaan ruang, hubungan manusia-ruang
EFEKTIVITAS SIRKULASI PEJALAN KAKI TERHADAP PENCAPAIAN APARTEMEN BRAGA CITY WALK Willy Atmaja; Vina Agustina Royana
TATANAN Vol. 2 No. 1 (2008)
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractThese days the needs of housings and dwellings grow very high. Every year many housings and dwellings are planned and built in downtown area, urban area and even in villages. For unfolding time, human never felt satisfied with their ordinary places for living and tried new ideas for their houses that can fill all of their needs.The idea is a new concept for human space in one area with mixed use function. In this area human can get their needs daily, even for relaxing time, They can get all of this need just near their housing/ dwellings.There are differences of need from each functions in one building can be caused new problems. Problems that can be infected each function especially for circulation where as any functions have their needs on their own with many ways.The effectivity of the circulation for this research is measured from length, duration for walking from one function to the entrance of apartment, activities, capacity and density on the path that the circulation might have.The conclusion for the circulation research is telling us ineffectively in entrance positions every function caused intervention for each functions.Keywords: effectivity, pedestrian circulation, Braga City WalkAbstrakDewasa ini tuntutan akan perumahan dan permukiman di Indonesia meningkat sangat pesat. Perumahan dan permukíman baru didirikan setiap tahunnya baik di daerah perkotaan maupun di pedesaan guna memenuhi kebutuhan tersebut. Dalam perkembangannya manusia merasa tidak cukup hanya dengan tempat tinggalnya saja dan mereka mencoba suatu bentukan permukiman baru yang dapat mengakomodir semua kebutuhan tersebut.Pada masa kini telah hadir sebuah konsep baru dalam hal membangun suatu kawasan, yakni bangunan dengan fungsi mixed-use, dimana kebutuhan manusia akan tempat tinggal, kebutuhan sehari-hari, dan kebutuhan akan rekreasi dapat diperoleh dengan mudah tanpa harus pergi jauh.Adanya perbedaan kepentingan dari masing-masing fungsi dalam satu bangunan sangat berpotensi untuk melahirkan masalah yang akan saling mempengaruhi satu fungsi dengan fungsi lainnya. Khususnya dalam hal sirkulasi, dimana tiap fungsi memiliki tuntutan yang berbeda-beda.Efektivitas pada penelitian ini dinilai dari jarak, waktu tempuh yang diperlukan untuk mencapai entrance satu fungsi menuju apartemen. Aktivitas yang dapat ditampung jalur sirkulasí yang digunakan untuk mencapai apartemen, kapasitas dan densitas yan dimiliki oleh satu jalur sirkulasi.Pada kesimpulannya didapatkan bahwa jalur sirkulasi yang digunakan untuk mencapai apartemen pada kawasan Braga City Walk ini masih kurang efektif. Perletakkan entrance masing-masing fungsi masih kurang baik, sehingga masih sering terjadi intervensi antara satu fungsi dan fungsi yang lainnya.Kata kunci: efektivitas, sirkulasi pejalan kaki, Braga City Walk