cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
TATANAN
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 90 Documents
PENGARUH PENCAHAYAAN ALAMI TERHADAP KENYAMANAN PANDANG DAN KONSERVASI BENDA SENI PADA GALERI I MUSEUM AFFANDI, YOGYAKARTA Aditya Susanto
TATANAN Vol. 3 No. 2 (2009)
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Museum is a place to collect things with art value. Museum should be able to give information to public and also have a rule as a conservatory. To fulfill the function, museum should have exact light intensity to support visual activity and its artifact conservation. Galeri I Museum Affandi has a unique building design. The building which is built by the late Affandi, explores natural light for prime lighting source inside the gallery. The use of stretched skylight at the center of the roof make the natural light come out inside the gallery. Lighting with exact intensity which come out inside gallery will give visual comfort for appreciator Whereas from the conservation side, it is important for the artifact to not be gaze by the light. Daylighting is very good for visual activity inside the gallery because it has better color rendering and the most complete color spectrum.ln the other side, daylighting bring us UV ray which has bad effect for artifact conservation. Method used in this observation is descriptive-qualitative. That is measurement of the light intensity, dimension height of the artifact, simulation of the light come off inside gallery. Than, the report is compared with the visual comfort and conservation standard and theory from other sources. Generally, Galeri I Museum Affandy has over light intensity for visual activity. Ray come off from the skylight makes the gallery's intensity become unbalanced. It will brings bad influence for visual comfort and artifact conservation in this gallery.  Key Words: day lighting, visual comfort, artifact conservation  Abstrak  Museum merupakan tempat yang digunakan untuk menyimpan benda yang memiliki nilai seni. Museum diharapkan selain sejelas-jelasnya memberikan informasi kepada khalayak umum, juga harus menjalankan peran sebagai media konservasi dari benda seni yang ada pada museum tersebut. Dalam memenuhi fungsinya tersebut, museum memerlukan intensitas cahaya yang cukup untuk kegiatan visual yang terjadi dan tidak berlebih agar mendukung kelestarian benda seni. Galeri I di kompleks Museum Affandi memiliki bentuk dan desain bangunan yang unik. Bangunan yang diarsiteki oleh almarhum Affandi sendiri ini memanfaatkan cahaya alami sebagai sumber pencahayaan utama dalam ruang pamernya. Penggunaan skylight yang memanjang di tengah area atap ini memungkinkan cahaya alami masuk ke dalam ruang pamer di dalam galeri. Pencahayaan yang masuk ke dalam galeri dengan intensitas yang cukup, akan memberikan kenyamanan pandang bagi pengamat dalam mengapresiasi suatu benda seni. Sebaliknya dalam segi konservasi, benda seni diharapkan sesedikit mungkin mendapat cahaya untuk menjaga kelestarian benda seni. Cahaya alami, sangat baik jika digunakan untuk kegiatan visual dalam ruang pamer karena memiliki color rendering yang lebih baik dan spektrum warna yang paling lengkap. Namun cahaya alami membawa sinar UV yang akan berdampak buruk bagi suatu konservasi benda seni.  Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif, yaitu dengan pengukuran intensitas kuat cahaya, pengukuran ketinggian benda seni dua dimensi, dan simulasi sinar yang masuk dalam galeri. Kemudian hasilnya dibandingkan dengan teori dan standar untuk kenyamanan pandang dan konservasi yang didapat dari berbagai sumber.  Secara umum, Galeri I Museum Affandi mendapat intensitas yang berlebih untuk kegiatan visual, sinar yang masuk melalui skylight menyebabkan kurang meratanya intensitas dalam ruang, hal ini akan berakibat buruk pada kenyamanan pandang pengamat dan konservasi pada benda seni dalam galeri ini.   Kata Kunci: pencahayaan alami, kenyamanan pandang, konservasi benda seni   
TINGKAT KENYAMANAN THERMAL DAN PENCAHAYAAN PADA UNIT RUSUN SARIJADI, BANDUNG DAN RUSUNAWA CIGUGUR TENGAH, CIMAHI (TERHADAP BUKAAN, BENTUK, DAN KONFIGURASI MASSA) Fransisca Sugiarto
TATANAN Vol. 2 No. 2 (2008)
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract The practice of low cost multi-storey housings for the middle-to-low-income society is, in reality, much more preoccupied by the budget/economical concerns rather than its health aspects, amenities conditions, and the occupants' health and safety. Yet the amenities condition is actually linked closely to the visual comfort (lighting) and thermal provisions (heating/cooling). As a popular low cost multi-storey housing, Sarijadi Bandung and Cigugur Tengah, Cimahi, is actually have good credits in visual and thermal comfort. These were obtained through geometric, mass configuration and opening plans. The geometric and mass configuration as were in Cigugur Tengah Multi-storey Housing, Cimahi, creates comfort conditions (visual and thermal) in this building. The geometric and mass configuration creates positive and negative pressure areas that support the opening plans (windows). Besides, geometric and mass configuration could also create units which position creates natural ventilation and natural lighting into all building corners anytime of the day. Opening plan will also define the visual and thermal comfort of a room. It is related to its orientation, dimension, and window types. Windows have to be designed in order to gain maximum natural lighting and natural ventilation, whilst considering the comfort of the building occupants. Besides opening plans, geometric and mass configuration, the behaviour and the habits of the occupants, site conditions, and amount of the occupants also influence the level of occupational comforts in the low cost multi-storey housing.  Key Words: visual and thermal comfort, geometric, mass configuration  Abstrak Pemenuhan kebutuhan perumahan bagi MBR lebih difokuskan pada persyaratan ekonomis tanpa mengedepankan persyaratan kesehatan, kenyamanan, keselamatan dan kemudahan. Persyaratan kenyamanan rumah susun sangat terkait dengan kenyamanan visual (pencahayaan) dan thermal (penghawaan) dari unit Rusun itu sendiri. Sebagai rusun yang cukup diminati, Rusun Sarijadi, Bandung dan  Rusunawa Cigugur Tengah, tentunya memiliki tingkat kenyamanan visual (pencahayaan) dan kenyamanan thermal (penghawaan) yang cukup baik. Kenyamanan tersebut dapat dicapai melalui bentuk dan konfigurasi massa serta rancangan bukaan. Bentuk dan konfigurasi massa seperti pada Rusunawa Cigugur, Tengah akan lebih menunjang untuk kenyamanan unit rusun (visual dan thermal). Karena bentuk dan konfigurasi tersebut, akan menciptakan daerah bertekanan positif dan negatif yang cukup menunjang desain bukaan. Selain itu, bentuk dan konfigurasi tersebut juga akan menciptakan unit-unit dengan letak/posisi yang dapat memasukkan angin dan cahaya alami ke seluruh sudut bangunan setiap saat.  Rancangan bukaan juga akan sangat menentukan kenyamanan thermal serta visual suatu ruangan. Rancangan bukaan yang dimaksud, terkait dengan letak/posisi bukaan, dimensi bukaan dan jenis bukaan. Desain bukaan harus dibuat sedemikian rupa untuk dapat memanfaatkan pencahayaan dan penghawaan alami dengan tetap mempertimbangkan kenyamanan pengguna ruangan tersebut.  Selain desain bukaan dan bentuk massa, perilaku dan kebiasaan penghuni, keadaan lingkungan sekitar serta jumlah penghuni unit rusun, juga akan mempengaruhi tingkat kenyamanan suatu unit hunian rumah susun.   Kata Kunci: kenyamanan termal dan pencahayaan, bentuk, konfigurasi massa  
POLA PENYELARASAN RUANG PADA UNIT HUNIAN DI RUMAH SUSUN SARIJADI BANDUNG Amirani Ritva Santoso; Gina Perris
TATANAN Vol. 1 No. 1 (2007)
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract                This study examines adjustment pattern done by the occupants of low cost multi-storey housing – Sarijadi Bandung to their dwelling units that have been occupied for more than ten years. The main interest of this study was ignited by the significant degradation in Bandung’s environmental quality due to the lack of planning in horizontal urbal expansion. The vertical city development needs to be considered such as developing low cost multi-storey housing to avoid environmental degradation and improve the wealth grade of middle-low income society which is dominating the population in Indonesian big cities. Every family wants to have a home which could accomplish their basic needs and needs of self-actualization. It is not a simple task to live in small dwellings unit at a low cost multi-storey housing and neighboring with others and also sharing common space. That is why the occupants have to adapt simultaneously due to the changing of their daily activities as their lifecycle’s changing. Observation has been done by direct observation and interview with the occupants, five units each from long-type and short-type blocks. Observation focused in occupants’ change of living space pattern and daily activities rhythm, which concluded daily needs and self-actualization accomplishment. It is important to find the problem cause and its effect for daily activities rhythm and will be use for further improvement in dwelling unit’s design for a low cost multi storey housing in the future. Key words: adjustment pattern, low cost multi storey housing, Sarijadi Bandung Abstrak                Studi ini membahas tentang pola penyelarasan ruang yang dilakukan oleh penghuni Rumah Susun Sarijadi Bandung pada unit hunian yang telah dihuni selama lebih dari sepuluh tahun. Studi dilakukan karena pengembangan kota Bandung secara horisontal. Pengembangan vertikal kota perlu dipertimbangkan dan salah satu cara efektif adalah pembangunan rumah susun untuk menghindari dampak lingkungan yang lebih buruk sekaligus berguna bagi kesejahteraan masyarakat yang mayoritas menengah ke bawah. Setiap keluarga pasti mendambakan hunian yang dapat memenuhi seluruh kebutuhan dasar dan aktualisasi diri. Tidak mudah menghuni unit hunian di rumah susun sederhana dengan unit hunian lain disekelilingnya dan luas terbatas serta harus berbagi ruang bersama. Sejalan masa huni yang panjang, ritme aktivitas keseharian masing-masing anggota keluarga berkembang dan berubah sesuai siklus kehidupannya. Untuk itu penghuni perlu terus menerus melakukan penyelarasan ruang pada unit hunian. Pengamatan dilakukan melalui pengamatan langsung dan wawancara dengan penghuni, masing-masing pada lima unit hunian di blok tipe panjang dan pendek. Fokus pengamatan pada perubahan tatanan ruang dan ritme aktivitas keseharian penghuni, meliputi aktivitas pemenuhan kebutuhan dasar hingga aktualisasi diri. Hal ini akan dibahas untuk menemukan penyebab masalah dan akibatnya pada ritme keseharian penghuni dan akan dijadikan landasan pembuatan saran bagi bentuk dan tatanan unit hunian bagi rumah susun sederhana di masa mendatang. Kata Kunci:  pola penyelarasan, rumah susun, Sarijadi Bandung
PENGARUH PLAZA TERHADAP KENYAMANAN TERMAL RUANG KELAS PADA BANGUNAN SMP WARINGIN N. Frangky A. M.; Elfan Kedmon
TATANAN Vol. 1 No. 2 (2007)
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract                Thermal comfort is the one of important factors which influences teaching-learning process in a classroom. Nowadays, almost all school in Bandung use AC (mechanical air condition equipment) in order to reach indoor thermal comfort. Actually, by using the potential of local climate, the thermal comfort can be obtained in any building like a school building without using the mechanical appliance aid which requires and expends more of energy. This study explored the thermal comfort condition in the classroom of school building that has a plaza. The finding of this study is that the heat radiation into the classroom from the heat of plaza is influenced on it’s thermal comfort.Keywords: thermal comfort, school’s plaza, BandungAbstrak                Kenyamanan termal merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi proses belajar-mengajar di dalam sebuah kelas. Pada saat ini sekolah-sekolah di Bandung sudah mulai menggunakan peralatan mekanis untuk mencapai kenyamanan termal di dalam ruangan. Sebenarnya, dengan memanfaatkan kondisi iklim setempat (Bandung), sebuah sekolah dapat menjadi nyaman tanpa memerlukan bantuan alat mekanis yang membutuhkan biaya dan energi lebih banyak. Studi ini mengupas tentang kenyamanan termal di ruang kelas pada bangunan sekolah yang memiliki plaza. Temuan dari studi ini adalah bahwa radiasi panas yang masuk ke ruang kelas dari pemanasan plaza berpengaruh terhadap kenyamanan termalnya.Kata kunci:  kenyamanan termal, plaza sekolah, Bandung
PENGALAMAN INDERA SEBAGAI PENDEKATAN PERANCANGAN Caecilia S. Wijayaputri
TATANAN Vol. 4 No. 1 (2015)
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract            The architecture which surrounds us influences our thought, and subsequently our behavior. The understanding of the relationship between the environment and our mind is important, particularly for designers of built-environments. Our brain is not only hard-wired to interpret certain spatial characteristics in certain ways, but also plays a role in how we make environmental decisions. By designing with greater insight into how the human mind processes architecture, professional designers might be able to help occupants to live healthier, more meaningful and happier, as architectural qualities of an environment do trigger a wide variety of human response. The main idea is that our brain interprets architecture through our mind and plays a role in influencing our thoughts and subsequent behavior.             As architects, we should try to harness this understanding. The beautiful thing about architecture is that it can “tap into” an occupant’s past meaningful experiences through their senses and their emotion. Architecture also has the power set the stage for occupants to create new meaningful experiences -and memory plays a key role in helping to make all of this possible. Within architectural space it is important to establish a sense of place. This is true not only for the architecture to be good but also for our experience within that space to be memorable. In addition, architecture can be defined as a highly refined cultural statement.             Thus, this paper outlines a design thinking and design methods whose objectives are to develop a heightened understanding of the complex dialogue between behavior and architecture, and foster the type of analytical, critical, and creative abilities that are essential to addressing cultural diversity and change.  Key Words: sense of place, environmental behavior, design methods Abstrak            Arsitektur dalam kehidupan sehari-hari memberi pengaruh pada pikiran, dan secara tidak sadar kemudian mempengaruhi perilaku. Pemahaman akan hubungan antara lingkungan binaan dan pikiran manusia kemudian menjadi penting, terutama bagi perancang lingkungan binaan. Otak manusia tidak saja dapat menginterpretasi karakter spatial tertentu dengan cara tertentu, namun juga memiliki peran penting dalam cara manusia membuat keputusan desain. Melalui pemahaman yang lebih mendalam akan cara pikiran manusia memproses bentukan arsitektur, para perancang profesional dapat lebih mempengaruhi pengguna untuk hidup lebih sehat, lebih bermakna, dan lebih bahagia, karena kualitas arsitektur dalam lingkungan binaan secara nyata memicu keberagaman persepsi manusia. Ide utamanya adalah otak manusia menginterpretasi arsitektur melalui pikiran yang kemudian mempengaruhi perilaku.            Sebagai arsitek kita memiliki kewajiban untuk memahami hubungan ini, di mana arsitektur dapat masuk ke dalam pikiran manusia sebagai bagian dari memori yang memiliki makna tertentu, melalui indera dan emosi. Arsitektur juga dapat berperan sebagai panggung untuk mendapatkan pengalaman ruang yang bermakna dengan bantuan dari memori. Oleh sebab itu diperlukan adanya sebuah rasa kepekaan akan ruang tidak hanya untuk keindahan sebuah bentukan arsitektur namun juga sebagai pengkayaan pengalaman ruang. Arsitektur dapat juga disebut sebagai sebuah pernyataan budaya.            Penelitian ini kemudian membahas pemikiran desain dengan tujuan mengembangkan pemahaman akan hubungan perilaku dan arsitektur, secara analitis, kritis, dan kreatif untuk membawa kesadaran akan keragaman perseptual dan akhirnya perubahan pada metode perancangan. Kata Kunci: kepekaan ruang, perilaku lingkungan, metode perancangan
TINJAUAN PRINSIP DESAIN BIOKLIMATIK PADA APARTEMEN GALERI CIUMBULEUIT BANDUNG Laura Annabella Paramon; Yuli Yuli
TATANAN Vol. 1 No. 1 (2007)
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract                Bioclimatic design is expected to be able to create a high rise building which is not only functional, integrated with the site, but also concerns the climate, which is using the principles of building physical optimally so that it can produce saving-energy high rise building. Bioclimatic high rise building is a step forward to sustainable architecture. This paper discusses the seven principles of bioclimatic design and how to apply it on the Galeri Apartment Ciumbuleuit, Bandung. Key words: saving energy, bioclimatic design, apartment, Galeri Ciumbuleuit Bandung Abstrak                Desain bioklimatik merupakan desain yang diharapkan mampu menciptakan bangunan tinggi yang tidak hanya fungsional, selaras dengan tapaknya, namun juga memperhatikan kondisi iklim lingkungannya, dengan cara mengoptimalkan penerapan kaidah-kaidah fisika bangunan, sehingga dihasilkan bangunan tinggi hemat energi. Bangunan tinggi bioklimatik merupakan salah satu langkah menuju ke arah sustanable architecture. Tulisan ini bertujuan memaparkan tujuh kunci desain bioklimatik serta mengevaluasi penerapannya pada salah satu bangunan tinggi di Bandung yakni Apartemen Galeri Ciumbuleuit. Kata kunci: hemat energi, desain bioklimatik, apartemen, Galeri Ciumbuleuit Bandung
EVALUASI PROTEKSI TERHADAP KEBAKARAN PADA DAGO BUTIK CONDOTEL Rufina Pragono
TATANAN Vol. 3 No. 2 (2009)
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract The rising number of residents in Bandung causes lots of housing projects, for landed housing and collective housing. As we know, the land is very limited. That's why there are lots of vertical houses built, especially apartments and low cost vertical housings. The building of this vertical housing sometimes neglects the importance of fire protection that actually has the important role of tenants' safety. This study evaluates the fire protection in Dago Butik Condotel, one of apartments in northern Bandung. The analysis especially done for the tools used in fire protection, for instance fire exit, fire system, and the apparatus for fire protection. The purpose of this evaluation is to know whether the fire protection is safe enough for the tenants. Therefore, the result of this study is also for the owner’s evaluation. The analysis is done by comparing between the Technical Standard for Safety in Fire Protection in Buildings and Environment and the reality. Interviews and direct survey are done for collecting the data. After the research about the fire protection system is done, it turned out that the fire protection tools has already agreed with the standard. However, the tenants have never done any simulation for any fire situation. In conclusion, the safety of the tenants regarding the fire protection is not guaranteed. Key Words: evaluation, fire protection, Dago Butik Condotel  Abstrak Semakin bertambahnya jumlah penduduk di kota Bandung menimbulkan banyaknya pembangunan hunian, baik landed housing maupun collective housing. Karena lahan yang semakin terbatas, maka banyak didirikan hunian vertikal berupa apartemen dan rumah susun. Namun pembangunan hunian tinggi tersebut kerap kali melupakan aspek proteksi terhadap kebakaran yang berhubungan erat dengan keselamatan penghuni. Studi ini mengevaluasi mengenai proteksi terhadap kebakaran pada Dago Butik Condotel, salah satu apartemen di wilayah utara kota Bandung, dengan mengacu kepada Ketentuan Teknis Pengamanan Terhadap Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Gedung dan Lingkungan. Analisis khususnya dilakukan pada sarana proteksi terhadap kebakaran yang meliputi tangga kebakaran, sirkulasi kebakaran, dan peralatan sistem kebakaran. Tujuan dilakukannya kajian ini adalah untuk mengetahui apakah keselamatan penghuni Dago Butik Condotel dalam hal proteksi terhadap kebakaran sudah terjamin. Selain itu, hendaknya hasil evaluasi ini juga menjadi evaluasi untuk pengelola gedung Dago Butik Condotel. Analisis dilakukan dengan membandingkan antara Ketentuan Teknis Pengamanan Terhadap Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Gedung dan Lingkungan dengan kenyataan yang ada di lapangan. Data kenyataan yang ada di lapangan ini dikumpulkan dengan melakukan wawancara dan survey langsung ke lapangan.Setelah dilakukan analisis terhadap sarana dan proteksi terhadap kebakaran yang ada di Dago Butik Condotel, ditemukan bahwa sarana proteksi terhadap kebakaran yang ada sesuai dengan standar. Namun belum pernah dilakukan simulasi kebakaran oleh seluruh penghuni, sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa keselamatan penghuni kurang terjamin dari segi proteksi terhadap kebakaran. Kata Kunci: evaluasi, proteksi terhadap kebakaran, Dago Butik Condotel
PENGARUH PEMILIHAN MATERIAL DINDING BANGUNAN HUNIAN ANTARA KAYU DAN TEMBOK SECARA EKOLOGIS Antya Jahani Sopannata; Alvin Alvin
TATANAN Vol. 1 No. 2 (2007)
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract                  In this development era, the housing prosperity is growing fast referring to resident prosperity that growing fast too. The more fast and advanced development, made the peoples need fulfilled fast. It can end in nature exploitation and nature ecosistem structure/progress is starting to move and change. Nature in the beginning can help human life, will be the human enemy because it human careless                  In this case, the holistic thought is begin to need, or in other word it can be said there was a relationship between nature as a place that human can live in and human made environment. This relationship is ecology.                  The ecological consideration for a built environment plan and design must be comprehensive. One of the ecological aspects is suitable material choosing for housing. Particularly in order to the material life-cycle and the material suitability with the local climate to fulfill the physical comfortness of housing. One of the aspect that caught in ecology is suitable material choosing for housing. The ecology is particularly caught with material holdness and material suitable against the local climate as a physical fitness for housing.                  To get a complete comprehension of the housing ecology, this study takes an object a house with brick material an a rarely house with wooden material almost as traditional house to compare.                  From the study result, we can said that the wooden house is ecologicaly better than the brick house, because the wood material is a regenerating material, different from the anorganic brick material. A wood house also can give us a physical comfortness for the human that lives in order to humidity, and also of solar radiation.  Keywords: building material, ecology, Bandung  Abstrak                  Pada masa pembangunan saat ini, pertumbuhan perumahan sangat pesat sejalan dengan semakin pesatnya populasi penduduk. Semakin cepat dan canggih pembangunan maka semakin cepat terpenuhi kebutuhan orang banyak. Hal ini dapat mengakibatkan pengeksploitasian alam dan bahkan struktur/proses ekosistem alam mulai bergeser dan berubah. Alam yang pada awalnya dapat menunjang kehidupan manusia bisa menjadi musuh manusia akibat keteledoran manusia sendiri.                 Dalam hal ini, mulai dibutuhkan pernikiran dengan penuh pertimbangan yang menyeluruh, atau dengan kata lain adanya hubungan timbal balik antara alam sebagai tempat hidup dan berkembangnya manusia dengan lingkungan buatan manusia. Hubungan inilah yang disebut dengan ekologi.                 Pertimbangan ekologis dalam suatu perencanaan lingkungan binaan haruslah bersifat menyeluruh. Dalam tulisan ini, salah satu aspek yang terkait dengan ekologi adalah pemilihan material yang layak untuk hunian. Segi ekologi yang dimaksud khususnya berkaitan dengan siklus hidup bahan dan kecocokan bahan terhadap iklim lokal dan kaitannya dengan pemenuhan kenyamanan fisik suatu hunian.                 Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih jelas tentang hunian ekologis, maka studi banding yang diambil adalah hunian tembok yang lazim digunakan dengan hunian kayu yang jarang dijumpai dan lebih mendekati hunian tradisional.                 Dari hasil studi, ternyata hunian kayu lebih mendekati pertimbangan ekologi dikarenakan siklus bahannya yang tertutup dan dapat dikembalikan serta diperbarui kembali oleh alam, berbeda dengan bahan anorganik hunian tembok. Hunian kayu juga dapat memenuhi tuntutan kenyamanan fisik baik terhadap kelembaban yang tinggi dan radiasi panas matahari yang tinggi. Kata Kunci: bahan bangunan, ekologis, Bandung 
PENGARUH SELUBUNG BANGUNAN TERHADAP PENGHEMATAN ENERGI PADA APARTEMEN BRAGA CITYWALK Feny Asikin
TATANAN Vol. 3 No. 1 (2009)
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Efforts to conserve the energy are very necessary nowadays. Until now, Indonesia is the most wasteful country in South East Asia in conserving energy. Moreover, the growing issue of global warming needs real actions, not just promises. This study analyzes the influence of the building covers towards the energy conservation in Braga CityWalk Apartment and also the factors that determine the energy conservation efforts. This paper also explains the steps to reduce heat received from radiation through building cover.The objective of this study is to identify and searching for possibility to conserve the energy through building cover. From the result, we will obtain a building design which can reduce sun heat and reduce the use of air conditioner. The method is measuring the OTTV (Overall Thermal Transfer Value) in the building cover which is linked to the facade. The details that will be observed are Window to Wall Ratio (WWR), the type, width, and color of the outer wall, shade, glass conductivity, roof and wall insulation, and building orientation. From the analysis, it is concluded that Braga CityWalk Apartment does not fill the criteria of energy efficient design based on the numbers of heat transferring that go through the building cover. But there are some efforts done by the owners and the tenants to reduce the heat. The conclusion is that the building cover, being the outer structure of the building, has a big influence towards the energy conservation. That's why we need to acknowledge the factors inside the building cover which can reduce the heat, and also the efforts to reduce the heat absorption, and that is by reducing the OTTV of the building cover. Key Words: Braga CityWalk, building cover, energy conservation  Abstrak Tindakan untuk penghematan energi, tampaknya tidak bisa ditawar-tawar lagi. Hingga kini, Indonesia berpredikat sebagai negara paling boros energi se-Asia Tenggara. Selain itu, munculnya isu mengenai pemanasan global yang perlu adanya tanggapan dalam bentuk nyata bukan hanya pernyataan. Studi ini menganalisa mengenai pengaruh selubung bangunan terhadap penghematan energi pada bangunan apartemen Braga CityWalk. Studi ini juga menganalisa mengenai faktor-faktor yang menentukan dalam usaha penghematan energi pada selubung bangunan serta upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk membatasi perolehan panas akibat radiasi matahari lewat selubung bangunan. Tujuan dilakukan analisa ini adalah untuk mengidentifikasi dan mencari peluang penghematan energi dari selubung bangunan, sehingga diperoleh desain selubungbangunan yang dapat mengurangi masuknya panas matahari ke dalam bangunan dan menurunkan beban pendingin ruangan. Metode yang digunakan adalah perhitungan nilai OTTV (Overall Thermal Transfer Value) pada selubung bangunan yang dikaitkan dengan fasad bangunan hunian. Kajian yang menyangkut selubung bangunan tersebut antara lain, rasio jendela kaca terhadap dinding atau Window to Wall Ratio (WWR), jenis, tebal dan warna dinding luar, alat peneduh, konduktansi kaca, insulasi atap dan dinding, dan arah hadap/orientasi bangunan. Berdasarkan analisa, apartemen Braga CityWalk ini tidak memenuhi kriteria rancangan hemat energi ditinjau dari hasil angka perpindahan panas yang melewati selubung ke dalam bangunan. Namun adanya upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi masuknya panas ke dalam bangunan, baik oleh pemilik bangunan maupun oleh masing-masing pengguna unit hunian. Sehingga kesimpulan yang muncul adalah selubung bangunan, sebagai bagian dari struktur bangunan terluar, memiliki pengaruh cukup besar terhadap usaha penghematan energi sebuah bangunan. Hal ini mengakibatkan perlunya mengetahui faktor-faktor pada selubung yang dapat mengurangi penyerapan panas melalui selubung serta upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk memperkecil penyerapan tersebut, yaitu dengan memperkecil nilai OTTV pada selubung bangunan.  Kata Kunci: Braga CityWalk, selubung bangunan, penghematan energi 
KENYAMANAN TERMAL PADA BANGUNAN BERATRIUM TKK BPK PENABUR SINGGASANA PRADANA BANDUNG Menthdy Wartiono
TATANAN Vol. 3 No. 2 (2009)
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract TKK BPK Penabur Singgasana Pradana building is a place for kindergarten's activity The building has a circle shaped plan which consists of 3 floors and inside the building there is an atrium covered by skylight. The atrium becomes an orientation for the spaces around it, therefore the thermal comfort in this atrium is very significant. The atrium is the focus of this study because this area doesn't interact directly with the outer space and thus, a good ventilation system is needed. Moreover, the skylight used as a natural lighting gives a raising temperature inside the building. The early study started with a survey to observe the condition of the space and an interview with the building users. The design concept of this building linked to the thermal aspect is to create double ventilations for the space around the atrium, ventilation for the skylight, and also to use the horizontal and vertical sun shadings. It was guessed that the thermal comfort in the atrium, especially in the third floor, was bad. It turned out that the estimation was right, according to the measurement. The factors that influenced the thermal comfort, especially in this atrium, came from the site and the design, including the physical element of the building, such as vegetation, material, building orientation, building shape, sun shading, skylight. etc. The analysis was done towards the observation datas and Psychrometric Chart and ET Nomogram results. The analysis was done according to the literature. In this process, the actual data was compared to the theories. Overall, the design concept, physical element, and the site design of TKK BPK Penabur Singgasana Pradana in order to create thermal comfort, are not optimal. This is because of the ventilations that were not used as maximum as possible that resulted the whole atrium didn't have thermal comfort, especially in the afternoon. That's why, the optimalization of the ventilations is needed in order to let the air flow naturally in the atrium.  Key Words: thermal comfort, building with atrium, TKK BPK Penabur Singgasana Pradana  Abstrak Bangunan TKK BPK Penabur Singgasana Pradana berfungsi untuk mewadahi aktivitas beiajar bagi anak-anak TK dan Playgroup. Bangunan ini berdenah lingkaran, terdiri dari 3 lantai, dan di dalamnya terdapat atrium yang ditutupi oleh atap skylight. Atrium menjadi orientasi ruang-ruang disekitarnya, sehingga aspek kenyamanan termal pada bagian atrium sangat diperlukan. Bagian atrium dijadikan fokus penelitian, diakibatkan area ini tidak bersentuhan langsung dengan udara luar, sehingga diperlukan sistem ventilasi yang dapat mengalirkan udara sampai ke bagian atrium tersebut Di sisi lain, penggunaan skylight yang berfungsi sebagai penerangan alami memberi dampak terhadap peningkatan suhu di dalam bangunan. Penelitian awal dimulai dengan melakukan survei lapangan untuk mengalami kondisi ruang-ruang secara langsung dan wawancara kepada para pengguna bangunan. Konsep desain bangunan TKK BPK Penabur Singgasana Pradana yang terkait dengan aspek termal adalah dengan menciptakan ventilasi ganda bagi ruang-ruang yang mengelilingi atrium, membuat ventilasi pada atap skylight, serta penggunaan sirip horizontal dan vertikal. Pengalaman ruang secara langsung memberikan dugaan bahwa kondisi termal pada bagian atrium, terutama pada lantai 3 tidak tercapai, dan hal ini terbukti dari hasil pengukuran. Faktor yang mempengaruhi kenyamanan termal terutama pada bagian atrium ini berasal dari pengaruh tapak dan desain beserta elemen fisik bangunan, seperti penggunaan vegetasi, material pada tapak, orientasi bangunan, bentuk bangunan, sirip penangkal sinar matahari, skylight, dan sebagainya.  Proses analisa dilakukan terhadap data hasil pengamatan langsung dan pengolahan data pengukuran dengan Psychrometric Chart dan ET Nomogram. Proses analisa yang dilakukan mengacu pada bab literatur sebagai dasar pertimbangan. Pada proses ini dilakukan perbandingan antara kondisi aktual dengan literatur yang terkait dengan kenyamanan termal terutama bagi atrium.  Secara keseluruhan, konsep desain, elemen fisik, dan pengolahan tapak TKK BPK Penabur Singgasana Pradana dalam rangka menciptakan kenyamanan termal kurang berjalan optimal, akibat ventilasi yang ada tidak digunakan secara maksimal, sehingga hampir seluruhnya berada pada zona tidak nyaman khususnya siang hari. Oleh sebab itu perlu adanya optimalisasi pemanfaatan ventilasi agar udara dalam atrium dapat bergerak secara horizontal maupun vertikal.   Kata Kunci: kenyamanan termal, bangunan beratrium, TKK BPK Penabur Singgasana Pradana