cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
TATANAN
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 90 Documents
PENERAPAN SISTEM MODULAR PADA PERANCANGAN BANGUNAN MULTI-FUNGSI BERTINGKAT Anastasia Maurina
TATANAN Vol. 4 No. 1 (2015)
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractVertical Multi-Use Building (called BMFB) is a single building with multiple functions therein are arranged vertically. BMFB has a high level of function complexity and the demands of change and development of each of these functions, so that it is necessary to have the design of functional space system with high flexibility. To obtain the building design with high flexibility, the functional space and the building structure system can not be seen separately, but must be designed in an integrated way. Modular building system can be a media to integrate the functional space and structure system to meet the demands of flexibility in the building. The building function on BMFB of this research is the function of parking, office functions and functions of residential and also the structure system is limited to the conventional structure system (rigid frame system and wall bearing system).Research is done in stages, starting from the analysis of basic grid module which integrating the dimensions of human activity module and the dimensions of building materials. Followed by the analysis of functional space planning grid module and analysis of structural grid module, it will be integrated into the design grid of BMFB. The result of the analysis is concluded in the form of the design guidelines of BMFB.Implementation of the modular system will facilitate and accelerate the design process to integrate the functional space system between function and to integrate the functional space system and structure system, so that it can produce a suitable design for each function in it so the design can fulfill the demands of change, development and integration of these functions. In addition, the implementation of this modular system has a positive impact on the construction process which can minimize the use of materials and can be integrated effectively with prefabrication system. Key Words: modular, grid, structure, spatial system, mixed used building                                                                                                  AbstrakBangunan Multi Fungsi Bertingkat (BMFB) adalah bangunan tunggal dengan beberapa fungsi di dalamnya yang disusun secara vertikal. BMFB memiliki tingkat kompleksitas fungsi yang tinggi serta tuntutan untuk dapat mengakomodasi perubahan dan perkembangan dari setiap fungsi tersebut, sehingga memerlukan rancangan sistem ruang dengan fleksibilitas tinggi. Untuk memperoleh rancangan bangunan dengan fleksibilitas tinggi, sistem ruang dan struktur bangunan tidak dapat dipandang secara terpisah, melainkan harus secara terpadu. Sistem bangunan modular dapat menjadi media untuk mengintegrasikan sistem ruang dan struktur dalam memenuhi tuntutan fleksibilitas pada BMFB. Fungsi yang diakomodasi BMFB pada penelitian ini adalah parkir, kantor, serta hunian. Sistem struktur dibatasi pada sistem struktur konvensional (rangka/dinding pemikul).Penelitian ini dilakukan secara bertahap, dimulai dari analisis modul grid dasar yang mengintegrasikan modul dimensi aktivitas manusia dan dimensi material bangunan, dilanjutkan dengan analisis modul grid perencanaan fungsi ruang dan analisis modul grid struktural, kemudian diintegrasikan menjadi grid perancangan BMFB. Hasil analisis disimpulkan dalam bentuk pedoman perancangan BMFB.Penerapan sistem modular dalam perancangan akan mempermudah dan mempercepat proses perancangan dalam mengintegrasikan sistem ruang antar fungsi, serta sistem ruang dan sistem struktur sehingga dapat dihasilkan rancangan yang cocok untuk setiap fungsi (parkir, kantor dan hunian) dan dapat memenuhi tuntutan perubahan, pengembangan serta penggabungan dari fungsi-fungsi tersebut. Penerapan sistem modular berdampak positif terhadap proses pelaksanaan konstruksi, karena dapat mengefisienkan penggunaan material serta memungkinkan penerapan sistem prefabrikasi yang lebih efektif. Kata Kunci: sistem modular, grid, sistem struktur, sistem ruang, bangunan multi fungsi
PERMODELAN SIRIP PENANGKAL SINAR MATAHARI DENGAN SUN STUDY ARCHICAD Veronica Sandra Sachiko; Monica Aryani
TATANAN Vol. 2 No. 2 (2008)
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Many apartment buildings which develop in big cities are designed without sun protector that uses to reduce the sun's rays radiation entered to the building. Planning the sun protector uses traditional ways like using solar chart-protractor or heliodon, aren't efficient and difficult In other way, there are many new technology softwares that can help us to design sun protector easily, fastly, and accurately. ArchiCAD is one of softwares which has sun study facility, so the characteristic of sun's rays that shine to the building can be learned. This writing is using simulation method. Analysis result is the value of simulations that were done to facades Setiabudi Apartment Bandung in different orientation (eight point of the compass direction as poles). The simulation result prove that using sun study from ArchiCAD facility is more accurate, easier, faster, and more efficient than using solar chart-protractor or heliodon way.  Keywords: sun protector, sun study ArchiCAD, Setiabudhi Apartment  Abstrak Bangunan apartemen yang berkembang di kota-kota besar di Indonesia kebanyakan dirancang tanpa Sirip Penangkal Sinar Matahari (SPSM), padahal SPSM berguna untuk mengurangi radiasi sinar matahari yang masuk ke dalam bangunan. Merancang SPSM menggunakan cara tradisional seperti solar chart dan protractor, serta heliodon dirasakan sulit dan tidak praktis, sementara itu muncul berbagai teknologi komputer yang dapat membantu proses perancangan SPSM agar lebih mudah, cepat, dan akurat. Salah satu software konstruksi bangunan yang mempunyai fasilitas sun study adalah ArchiCAD, dimana karakteristik sinar matahari yang jatuh ke permukaan bangunan dapat dipelajari. Metode yang digunakan adalah metode simulasi. Hasil analisa yang diperoleh berupa nilai 'kebocoran' dari simulasi-simulasi yang dilakukan terhadap fasad-fasad pada orientasi yang berbeda-beda (delapan arah mata angin sebagai arah-arah patokan). Dalam hal ini, penelitian dilakukan pada fasad Apartemen Setiabudi, Bandung. Hasil dari penelitian membuktikan bahwa penggunaan fasilitas sun study dari ArchiCAD terbukti akurat dan mampu melakukan simulasi secara mudah, cepat, dan praktis, dibandingkan dengan penggunaan sistem/alat lainnya seperti solar chart-protractor dan heliodon.  Kata Kunci: Sirip Penangkal Sinar Matahari, Sun Study ArchiCAD, Apartemen Setiabudhi. 
APLIKASI GREEN ROOF PADA BANGUNAN SANTOSA BANDUNG INTERNASIONAL HOSPITAL Christian Hadi S
TATANAN Vol. 3 No. 2 (2009)
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract As growth the number of building especially in urban cause some effect to the environmental. Green roof technology has arise as a one concept that sustainable design in produce some building to be more friendly to environment. Function of green roof useable at some building have some variety, as a open room for interaction, aesthetic element at building or just to be cap for upside. Green roof function can cause effect to the landscape design, green roof type, technical, and appliance aspect design. Otherwise application of green roof technology at the building have to be seriously accomplish from technical aspect because this factor will be effect to the successful of green roof usage. This research try to analyze some aspect about how the function, technical application, and the usable that can be receive and effect to the green roof design. This research using Santosa Bandung Internasional Hospital building as an object. This building appliance green roof technology that to be function as a healing garden this method of the research has be done using qualitative source by interview, direct research, scaling at the green roof area even spreading questioner. From the research, SBIH green roof design landscape was infected to the function persecution as a healing garden. that can be configure some aspect start from species plantation usage, circulation path, to the some supporting element usage. The fact that receive from technical aspect, green roof usage can affected to the building design, including pressure some space for green roof layers, drainage system to the irrigation for the plants for the appliance, green roof has give some benefits e.g. aesthetic element to the building roof, reducing medium from the sunshine radiation, and as an air stabilitator. Key Words: green roof, healing garden, Santosa Bandung International Hospital  Abstrak Meningkatnya pembangunan gedung-gedung, khususnya pada daerah perkotaan, telah menimbulkan masalah terhadap lingkungan di sekitarnya. Teknologi green roof muncul sebagai salah satu konsep sustainable design dalam upaya untuk mewujudkan suatu bangunan yang lebih ramah terhadap lingkungannya. Fungsi penggunaan green roof pada suatu bangunan cukup beragam, antara lain sebagai ruang terbuka untuk interaksi, elemen estetis pada bangunan, ataupun hanya sebagai media penutup atap saja. Penetapan fungsi green roof tersebut selanjutnya akan berpengaruh pada berbagai hal lainnya mulai dari wujud desain lansekap, tipe green roof yang akan digunakan, sampai pada aspek pelaksanaan dan keteknisannya. Selain itu, pertimbangan dari aspek teknis dan pengaplikasian teknologi green roof pada sebuah bangunan perlu dipahami secara maksimal karena faktor ini akan berpengaruh pada keberhasilan penggunaan green roofPenelitian ini berusaha untuk menganalisa beberapa hal mengenai bagaimana aspek fungsi mempengaruhi desain green roof, bagaimana aplikasi teknis penerapan green roof serta pengaruhnya terhadap desain bangunan, serta manfaat apa saja yang dapat diperoleh dari penggunaan green roof di bangunan.  Penelitian menggunakan objek bangunan Santosa Bandung Internasional Hospital. Bangunan ini menerapkan teknologi green roof yang difungsikan sebagai healing garden.  Metode penelitian dilakukan dengan cara kualitatif melalui wawancara, pengamatan fangsung, pengukuran pada area green roof maupun menyebarkan kuesioner.  Berdasarkan penelitian didapatkan hasil bahwa wujud desain lansekap green roof di SBIH terbentuk dari tuntutan fungsinya sebagai healing garden. Hal tersebut dapat dilihat dari beberapa aspek mulai dari penggunaan jenis tanaman, wujud akses/jalur sirkufasi hingga penggunaan elemen pendukung lainnya. Dalam segi teknis diperoleh fakta bahwa penggunaan green roof dapat memberikan pengaruh terhadap desain bangunan dalam beberapa hal meliputi pembebanan, penyediaan ruang untuk penempatan lapisan green roof, sistem drainase, hingga masalah pengairan pada tanaman. Dalam penggunaannya, green roof telah memberikan manfaat yang cukup beragam antara lain sebagai elemen estetis pada atap bangunan, media penurun radiasi panas sinar matahari, hingga sebagai stabilitator udara di sekitarnya.  Kata Kunci: green roof, healing garden, Santosa Bandung International Hospital 
TINJAUAN RUANG TERBUKA HIJAU RUMAH SUSUN DARI ASPEK PENATAAN DAN PENYEDIAAN Has Fredrick T.H. Gultom; Monica Aryani
TATANAN Vol. 1 No. 2 (2007)
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract                The green open space has a little bit attention in Jakarta, which has very dense of population and high temperature, especially in the high rise building environment; but actually the main function of that spaces is for cooling the environment and as the buffer of noise.                This study explored the ideal ordering and supplying green open spaces for the settlement especially for the low-cost apartment. The case study is about the green open space in the ten floors Bendungan Hilir low cost apartment, Jakarta. This analysis is to discovered the ideal condition of green open space in this apartment in order to the quantity of floors. The analysis based on the standards of the ordering and supplying green open space according to the literatures and the local regulations, so that the result can be used as determinant for improving the quality of ecological space in every area development effort.Keywords: green open space, low cost apartment, Bendungan Hilir JakartaAbstrak                Ruang terbuka hijau kurang mendapat perhatian di kota Jakarta yang sangat padat penduduk dan bertemperatur tinggi, terutama di lingkungan bangunan yang berlantai banyak; padahal fungsi utama ruang hijau tersebut adalah sebagai penghawaan lingkungan dan juga buffer terhadap bising.                Studi ini membahas tentang penataan dan penyediaan ruang terbuka hijau yang ideal untuk permukiman terutama untuk rumah susun. Kasus studi ini adalah tentang penataan dan penyediaan ruang terbuka hijau di rumah susun sepuluh lantai Bendungan Hilir, Jakarta. Analisis ini ditujukan untuk mengungkap kondisi ideal ruang terbuka hijau di rumah susun tersebut, apakah sehubungan dengan jumlah lantainya.                Analisis berdasarkan teori dari literatur dan peraturan-peraturan daerah setempat, sehingga hasilnya dapat dijadikan pertimbangan untuk meningkatkan kualitas ekologi ruang dalam setiap upaya pembangunan kawasan.Kata kunci: ruang terbuka hijau, rumah susun, Bendungan Hilir Jakarta
POLA PELETAKAN GRID KOLOM STRUKTUR PADA PERANCANGAN BANGUNAN APARTEMEN (Studi Kasus: Apartemen Pinewood dan Metro Suite) Laurentia Carissa
TATANAN Vol. 4 No. 1 (2015)
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractApartment has a primary function as a dwelling and has function support also. The most common function can be found in apartment include: parking function (usually located on basement floor), retail function (usually located on first floor), and dwelling function (usually located on top floor) with its circulation space. Each of it needs different space requirement and different demand space also.Each function having different demand of space are arranged vertically in one structure system. To acquire apartment buildings with optimal space design, division of space must be integrated with structure. All function in apartment need to be analyzed functionally to get optimization in space allocation integrated with pattern of column structure layout.Pattern of column layout in apartment building design is the integration between activity pattern and structure system. This study will asses the functions that typically found in an apartment: parking function, retail function, and dwelling function.Research was done in five steps; there are literature study, observation, analysis, conclusion, and design recommendations. Literatur study used data and case study. Observation was done with direct observation. Analysis by qualitative and quantitative method was divided into three parts; there are analysis of basic grid planning, analysis of grid planning dimmension, analysis of structural grid. At the end the effective grid was found for apartement design as an effort to integrate planning pattern with structural pattern.The research result shows: at parking function optimization grid is 6 m x 4,5 m, at retail function optimization grid is A m which is A ≥ 4 m, and at dwelling function optimization grid is 6 m x 4.5 m. So the effective grid in apartment building design is 6 m x 4.5 m. Key Words: column grid, structure, design, apartement AbstrakApartemen memiliki fungsi utama sebagai hunian dan memiliki fungsi-fungsi pendukung untuk menunjang fungsi huniannya. Fungsi yang paling umum dijumpai di apartemen  antara lain: fungsi parkir (biasanya berada pada lantai basement, fungsi retail (biasanya berada pada lantai 1), dan fungsi hunian  (biasanya berada pada lantai atas atau tower apartemen) beserta ruang sirkulasinya. Masing-masing fungsi tersebut memiliki kebutuhan ruang yang berbeda dan menuntut luasan yang berbeda pula.Masing-masing fungsi memiliki tuntutan ruang yang berbeda disusun secara vertikal dan berada dalam satu sistem struktur. Untuk memperoleh bangunan apartemen dengan pembagian ruang yang optimal pada perancangan, pembagian ruang dengan struktur harus dirancang secara terpadu. Seluruh fungsi di dalam apartemen perlu untuk dianalisis secara fungsional sehingga mendapatkan optimalisasi dalam pembagian ruang yang terintegrasi dengan pola peletakan grid kolom strukturnya.Pola peletakan grid kolom struktur pada perancangan bangunan apartemen merupakan integrasi antara pola ruang aktivitas dan sistem struktur. Pengkajian akan dilakukan pada masing-masing fungsi ruang di apartemen, seperti: ruang parkir, ruang retail, dan ruang hunian. Tujuan dari penelitian ini adalah melakukan komparasi terhadap dua bangunan untuk menemukan besaran grid perancangan yang efektif untuk perancangan bangunan apartemen, sebagai upaya mengintegrasikan grid efektif berdasarkan pola ruang aktivitas dengan grid struktural untuk digunakan dalam gagasan desain.Penelitian dilakukan dalam beberapa tahap, yaitu: tahap studi literatur, tahap observasi, tahap analisa, tahap kesimpulan dan rekomendasi desain. Studi literatur yang digunakan adalah data literatur dan data studi kasus. Tahap observasi dilakukan dengan pengamatan langsung di lapangan. Tahap analisis menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif. Analisis akan dibagi dalam tiga bagian, yaitu: analisi grid dasar perencanaan, analisis besaran grid perencanaan fungsi ruang, analisis besaran grid struktur. Pada bagian akhir akan didapatkan besaran grid perancangan yang efektif untuk perancangan bangunan apartemen sebagai upaya mengintegrasikan pola perencanaan dengan pola struktural.Hasil pengkajian menunjukkan: pada ruang fungsi parkir didapatkan optimalisasi grid yaitu  6 m x 4,5 m, pada fungsi retail didapat optimalisasi di A m dimana A ≥ 4 m, dan pada fungsi hunian didapatkan optimalisasi di 6 m x 4,5 m. Maka didapatkan grid yang efektif untuk apartemen kelas menengah adalah 6 m x 4,5 m Kata Kunci: grid kolom, struktur, perancangan, apartemen
PERUBAHAN BENTUK RUANG TERBUKA PUBLIK PADA BANGUNAN RUMAH SUSUN SARIJADI BANDUNG Doddy Friestya; Shiulyana Shiulyana
TATANAN Vol. 1 No. 1 (2007)
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract                Inadequacy and high price of urban land became so phenomenal lately. It caused the change of open public space into built area, so that the optimalization of open public space turns into maximalization. Open public space became one of the choices in building extension, caused by the need of space. This kind of phenomenon can be seen in flat complexes (Sarijadi Flat, Bandung, in particular), where there has been addition or alteration of the open public space function that differs from what it was originally constructed for. The density in flat which is affected by its inhabitant’s way of life along with their habits may lead to functioning adjacent spaces of their units as additional features. It also influenced to the physical form order of the flats to be ther irregular one. The pattern of open space utilization and function in the flat complex is also influenced by the condition, characteristic, society and inhabitant lifestyle and also horizontally social lifestyle which are dragged into vertical social lifestyle. The using of this kind of open public space has the tendency of inadvertent empty space filling, one that even the inhabitants are unaware of. It caused the transformation of the open public spaces into multifunctional built area such as the trading place, religious place, sport field, and gazebo. Key words: transformation, open space, multi storey public housing, Sarijadi Bandung Abstrak                Keterbatasan dan mahalnya harga lahan perkotaan yang sangat fenomenal saat ini mendorong teralihfungsikannya ruang terbuka publik menjadi area terbangun sehingga pengoptimalan berubah menjadi pemaksimalan ruang terbuka publik. Ruang terbuka publik menjadi salah satu pilihan dalam perluasan bangunan atas dasar kebutuhan akan ruang. Fenomena ini dapat ditemui pada komplek rumah susun (khususnya Rumah Susun Sarijadi, Bandung), dimana ada penambahan ataupun pengalihfungsian ruang terbuka publik sehingga bergeser dari fungsi awalnya. Kepadatan pada rumah susun terkait dengan pola kehidupan penghuni dengan kebiasaan-kebiasaannya mendorong pemanfaatan ruang yang berdekatan dengan unit hunian mereka sebagai fungsi tambahan unit hunian. Hal ini pada akhirnya juga mempengaruhi tatanan bentuk fisik rumah susun menjadi tidak beraturan. Pola penggunaan dan pemanfaatan ruang-ruang terbuka pada komplek rumah susun tidak terlepas dari kondisi, ciri khas,  pola hidup masyarakat dan penghuni rumah susun serta pola kehidupan sosial yang bersifat horisontal terbawa pada kehidupan sosial vertikal. Penggunaan ruang terbuka publik ini cenderung mengarah pada pengisian lahan-lahan kosong yang kurang terencana dan yang tidak diperhatikan oleh penghuni rumah susun itu sendiri (no man’s lands). Hal ini mengakibatkan berubahnya ruang terbuka publik menjadi lahan terbangun dengan berbagai fungsi, antara lain sebagai fungsi tempat berjualan, lapangann olahraga, dan gasebo. Kata Kunci: perubahan bentuk, ruang terbuka, rumah susun, Sarijadi Bandung
KUALITAS ARSITEKTURAL UNIT HUNIAN DENGAN LUAS MINIMAL DI RUMAH SUSUN PASAR JUMAT Bertha Antono
TATANAN Vol. 2 No. 2 (2008)
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Low Cost Apartment is one of the solutions in solving the city's problem as the limited space also the increasing of the residence's needs. But the low cost apartment is usually made for the middle-low class community, oftentimes they ignores the quality of the architecture sector itself in order to compress the expense. While in every residence, the occupants always try to find the residence's place which has qualities with the reasonable price. By having this research, can be seen how far some simple low cost apartment can the architecture's qualities which is adequate even though the space is limited. The case which is chosen is the Pasar Jumat Low Cost Apartment. Pasar Jumat Low Cost Apartment is held on the Jakarta city and have one type unit which is type 21. The understanding of this architecture's quality contains of some important aspects. Those aspects are the space's qualities, lightings, circulations, utilities and also the esthetics. The most important aspects based on the minimal space in some residence are the space's qualities, lightings, and circulations. But all those aspects are still influence how some residence is graded as the qualities one or not, by making the combination from some other factor as the occupants and also the rules of those developers themselves.  Key words: architecture's qualities, low cost apartment's unit, minimal space  Abstrak Rumah susun merupakan salah satu solusi dalam menangani masalah perkotaan atas keterbatasan lahan maupun peningkatan kebutuhan hunian. Namun rumah susun sederhana yang pada umumnya ditujukan untuk kalangan menengah ke bawah, seringkali mengabaikan segi kualitas arsitektural sendiri guna menekan biaya. Sedangkan untuk setiap tempat tinggal, penghuni senantiasa mencari hunian berkualitas dengan harga terjangkau. Melalui penelitian ini dilihat sejauh mana suatu rumah susun sederhana mampu menghadirkan kualitas arsitektural yang memadai walaupun dengan luas yang cukup terbatas. Studi kasus yang dipilih adalah Rumah Susun Pasar Jumat. Rumah Susun Pasar Jumat ini berada di kota Jakarta dan memiliki satu jenis unit yaitu type 21. Pengertian kualitas arsitektural di sini mencakup beberapa aspek penting. Aspek-aspek tersebut adalah kualitas ruang, pencahayaan, sirkulasi, utilitas dan juga estetika. Aspek yang paling berperan penting sehubungan dengan luas minimal suatu hunian adalah kualitas ruang, pencahayaan dan sirkulasi. Namun keseluruhan aspek tersebut tetap mempengaruhi bagaimana suatu hunian dinilai berkualitas atau tidak, dengan mengkombinasikan beberapa faktor penentu lain seperti penghuni maupun peraturan pengelola sendiri.  Kata kunci: kualitas arsitektural, unit hunian rumah susun, luas minimal
PENGARUH KENYAMANAN PSIKO-VISUAL DARI PENCAHAYAAN BUATAN PADA ERHACLINIC MEDICAL CENTER FOR DERMATOLOGY DI JAKARTA Mira Dewi Pangestu; Intan Irani Puspita Santi
TATANAN Vol. 3 No. 1 (2009)
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Basically, artificial lighting only has lighting function, i.e. fulfilling quantitative visual requirement according to task being carried. In design of artificial lighting, though, qualitative aspects also need to be considered especially in commercial building in order to accentuate, to express its character, to define form, to provide certain effects, to build the building's image, to provide visual comfort for its users, etc. These all can affect its occupants' 'deeper feeling': emotion, psychology, and intellect so that architectural creation can 'speak' louder through its artificial lighting design. This research is carried out in response to the vast spread of dermatology clinic in Indonesia's large cities. Another aim is to learn how artificial lighting design can contribute to add value to creating environment that promote its users' emotional and psychological condition. erhaclinic as one of frontline dermatology clinics in Indonesia is chosen due to its large network of branches in Indonesia. One of erhaclinic's Jakarta-branch buildings is studied of its use of exterior and interior artificial lighting. This qualitative research departs from theory-based observation, especially visual and psycho-visual comfort. Then questionnaire method is employed to support above observation, and its conclusion is the final analysis of the observation. From several findings it is concluded that artificial lighting design of this particular erhaclinic building is a fundamental factor of visual perception of its users, successfully creating warm, comfortable, and calm mood, and giving luxurious impression that they feel they are not in a medical center. The creation of this perception is deemed important in attracting more visitors who have dermatological needs.  Key Words: artificial lighting, psycho-visual comfort, medical center for dermatology, Jakarta  Abstrak Mulanya pencahayaan buatan hanya berperan sebagai lighting function, yaitu untuk memenuhi kebutuhan visual akan kuantitas yang disesuaikan dengan fungsi ruang dan jenis aktivitas yang dilakukan. Namun dalam perencanaan pencahayaan buatan, terutama pada bangunan komersial juga mempertimbangkan masalah kualitas untuk dapat menimbulkan aksentuasi, mengekspresikan karakter, mendefinisikan bentuk, memberikan efek tertentu, membangun eksistensi, memberikan pengalaman estetis, membangun image/kesan, memberi kenyamanan visual bagi pengamatnya, membangun harmoni serta membangun suasana, yang dapat mempengaruhi ‘deeper feeling’ yaitu emosi, psikologis, dan intelektual dari penggunanya sehingga karya arsitektur dapat lebih 'berbicara' melalui desain pencahayaan buatannya. Pelaksanaan penelitian dilakukan berdasarkan pengamatan terhadap pesatnya perkembangan keberadaan clinic for dermatology di kota-kota besar di Indonesia. Pertimbangan selanjutnya adalah keinginan untuk lebih mendalami tentang bagaimana melalui perancangan yang optimal dari pencahayaan buatan, khususnya pada bangunan medical center dapat memberikan nilai tambah dalam menciptakan suasana yang membentuk emosi dan psikologis bagi penggunanya. erhaclinic sebagai klinik spesialis kulit yang terdepan di Indonesia dipilih sebagai obyek studi, karena klinik ini akan terus dikembangkan dengan menambah lagi jaringannya di kota-kota besar di Indonesia. Dari bangunan erhaclinic ini akan ditinjau mengenai pemanfaatan pencahayaan buatan dalam membentuk atmosfir yang dapat memberikan efek positif dalam desain baik pada interior maupun eksterior bangunannya. Penelitian kualitatif ini berangkat dari pengamatan yang didasarkan pada teori, khususnya mengenai kenyamanan visual dan psiko-visual. Kemudian dibuat kuesioner untuk memperkuat hasil pengamatan dan kesimpulan merupakan analisa akhir dari hasil pengamatan. Dari beberapa temuan sebagai hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa desain pencahayaan buatan pada bangunan erhaclinic merupakan faktor fundamental dalam pembentukan persepsi visual yang telah berhasil menciptakan suasana hangat, nyaman, dan tenang, serta menciptakan kesan mewah dan merasa seperti tidak berada di sebuah medical center. Namun demikian, pencahayaan buatan bukanlah satu-satunya faktor penentu dalam pembentukan suasana ruangan. Pencahayaan tidak dapat terlepas dari desain interiornya. Pembentukan suasana tersebut dapat menjadi salah satu daya tarik bagi pengunjung dalam memilih klinik untuk memenuhi kebutuhannya dalam hal dermatology.  Kata Kunci: pencahayaan buatan, kenyamanan psiko-visual, medical center for dermatology, Jakarta 
EFEKTIFITAS ELEMEN-ELEMEN PENEDUH BANGUNAN DARI SINAR MATAHARI OBJEK STUDI: KANTOR POS INDONESIA BANDUNG Poetro Pralabda
TATANAN Vol. 3 No. 2 (2009)
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Sun is one of the factors that influence the building comfort. Uncontrolled sunlight will result bad effect on building comfort. A building is potential in getting direct sunlight. This light will enter a building through the openings. The biggest possibility is through the window, whereas the surface usually coveted with glass. The direct sunlight can result glare and heat inside the building. That's why, there should be some protection for the openings such as sun shade. The heat can also affect the building even though there is no direct sunlight but it will not be discussed in this study. There are various kinds of building shades that can be used to protect the windows from direct sunlight. In reality, the application sometimes doesn't fit the situation. The shade needs to be effective and should fit the needs. This study proved the misuse of the shade will cause an ineffectiveness and therefore it needs a design. To know the effectivity of the shade, there will be some measurement towards the shades, using some datas collected from the ecotect observation. The object of this study is Kantor Pos Indonesia Bandung which uses various kinds of shades, such as sun shade, glass, and mass configuration. The analysis resulted a misuse of the shade element that made the shade ineffective.  Key Words: effectivity, building shade, sunlight  Abstrak Matahari merupakan salah satu faktor yang menentukan dalam menciptakan kenyamanan bangunan. Sinar matahari yang tidak terkendali dapat mengakibatkan gangguan terhadap kenyamanan bangunan. Bangunan berpotensi terkena sinar matahari langsung. Sinar matahari akan masuk ke dalam bangunan melalui bukaan selubungnya. Kemungkinan paling besar sinar matahari masuk adalah melalui jendela, dimana pada bagian ini permukaannya biasa ditutup dengan material kaca. Sinar matahari yang masuk secara langsung mengakibatkan silau dan juga panas didalam ruangan menjadi terakumulasi, sehingga perlu diberikan perlindungan terhadap bukaan yang ada, berupa peneduhan terhadap bukaan tersebut. Gangguan panas juga dapat merambat masuk meskipun sinar matahari tidak masuk kedalam ruangan, tetapi hal tersebut tidak masuk dalam pembahasan ini. Terdapat jenis-jenis elemen peneduh yang dapat dimanfaatkan untuk memberikan perlindungan jendela dari sinar matahari langsung. Namun dalam penerapannya banyak yang tidak tepat. Ketidaktepatan ini menjadikan elemen peneduh yang digunakan tidak efektif karena tidak dapat berfungsi sebab elemen ini perlu disesuaikan dengan kebutuhan.  Penelitian ini membuktikan penggunaan yang tidak tepat akan mempengaruhi efektifitas penggunaan elemen peneduh pada bangunan untuk melindungi bangunan dari masuknya sinar matahari langsung kedalam bangunan, sehingga diperlukan perencanaan untuk penggunaannya. Untuk mengetahui keefektifan penggunaan elemen peneduh tersebut dilakukan perhitungan terhadap peneduhan yang terjadi dari masing-masing elemen peneduh, dengan menggunakan data-data menyangkut informasi matahari dari program ecotect.  Objek yang diteliti adalah Kantor Pos Indonesia Bandung, bangunan ini menggunakan beberapa jenis elemen peneduh, yaitu SPSM, kaca dan massa melalui konfigurasinya. Dari hasil penelitian didapat ketidaktepatan dalam penggunaan elemen peneduh tersebut, menjadikan elemen peneduh yang digunakan menjadi tidak efektif.  Kata Kunci: efektifitas, peneduh bangunan, sinar matahari  
EKSPRESI PANORAMA PADA KORIDOR JALAN TERKAIT EKSISTENSI JEMBATAN AMPERA KOTA PALEMBANG (STUDI KASUS: JALAN SUDIRMAN DAN JALAN RYACUDU) Roni Sugiarto; Rachman Muliawan
TATANAN Vol. 4 No. 1 (2015)
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractCorridor is a space in a city that serves as a regional connection between one area with other areas. Sudirman Street and Ryacudu Street are corridors in the city of Palembang. Both of these streets are separated by Musi River and the corridors connected by Ampera Bridge. Panoramic sequences consisting of rhythm, proportion, and visual perception in this corridor should provide a good existence of the Ampera Bridge as a landmark of Palembang City. This research used a qualitative descriptive method to describes how the panoramic Sudirman Street and Ryacudu Street corridor associated with the existence of Ampera Bridge.The analysis of segment distribution of each corridor based on a sample section draw and sketching with the data processing method of the survey in the field. Based on observation, rhythm, proportion, and visual perception contained in the both of corridors are already giving panoramic related to the existence of Ampera Bridge. However, with the not orderly construction of fly-over and billboards, it is disturbing the exsistence of Ampera Bridge. Moreover, the panorama related to the existence of Ampera Bridge which initially be viewed from each corridor, began to fade.  Key Words: panoramic, rhythm, proportion, visual perception, corridor, Ampera Bridge                                                                                                 AbstrakKoridor merupakan salah satu ruang dalam sebuah kota yang berfungsi sebagai penghubung sebuah kawasan dengan kawasan lain. Jalan Sudirman dan Jalan Ryacudu merupakan koridor yang berada di kota Palembang. Kedua jalan ini dipisahkan oleh Sungai Musi dan sebagai koridor jalan dihubungkan oleh Jembatan Ampera. Rangkaian panorama yang terdiri dari irama, proporsi, dan persepsi visual pada koridor ini diharapkan memberikan tingkat eksistensi yang tinggi Jembatan Ampera sebagai landmark Kota Palembang.            Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif yang berusaha menggambarkan bagaimana panorama koridor Jalan Sudirman dan Jalan Ryacudu terkait dengan eksistensi Jembatan Ampera. Pembagian segmen setiap koridor dianalisis berdasarkan sampel potongan gambar dan sketsa dengan metode pengolahan data dari hasil survey di lapangan. Berdasarkan hasil pengamatan: irama, proporsi, dan persepsi visual yang terdapat pada kondisi kedua koridor ini sudah memberikan panorama terkait eksistensi Jembatan Ampera. Namun, dengan adanya pembangunan jalan layang dan peletakan papan reklame yang tidak tertib, mengakibatkan eksistensi Jembatan Ampera terganggu. Selain itu panorama terkait keberadaan Jembatan Ampera yang pada awalnya terlihat dari setiap koridor, mulai memudar. Kata Kunci: panorama, irama, proporsi, persepsi visual, koridor, Jembatan Ampera