INDONESIAN JOURNAL OF LEGAL AND FORENSIC SCIENCES
AIFI berdiri sejak Februari 2010 di Jakarta didirikan oleh tokoh-tokoh Ilmuan Forensik Indonesia yang berkumpul di Jakarta dalam dua periode pertemuan. Semua ilmuan forensik yang hadir pada saat itu dinyatakan sebagai pendiri asosiasi ini. Pendiri sepakat dengan mufakat memilih Prof. Dr. Oetarjo Diran sebagai Ketua Asosiasi dengan SekJen. Ferryal Basbeth, dr., SpF., DFM. Alamat Sekretariat AIFI di Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal FK Universitas YARSI. Menara YARSI Jl Letjen Suprapto Cempaka Putih Jakarta Putih 10510, Telp: 0214213065 Fax: 0214213065. Alamat situs AIFI dapat diakses di: http://www.aifi.or.id Ilmu-ilmu forensik didefinisikan sebagai ilmu-ilmu terapan yang fungsi utamanya adalah melakukan penyelidikan, termasuk pemeriksaan bukti, dan/atau memberikan pendapat ahli, untuk mencari kebenaran, keadilan atau peningkatan keselamatan, yang dapat dipakai di peradilan atau forum lain. AIFI adalah organisasi nirlaba dengan asas organisasi meliputi: kebenaran, keadilan, keselamatan, profesionalitas, dan akuntabilitas. Tujuan dibentuknya AIFI adalah: a) membentuk dan menyelenggarakan forum komunikasi antar ilmuwan forensic, b) meningkatkan komunikasi, menyelenggarakan pelatihan, dan tukar menukar informasi, metodologi, memberdayakan keahlian di antara ilmuwan dan praktisi forensik di Indonesia dengan standard profesi dan etika, c) meningkatkan mutu pelayanan dan keahlian, metode manajemen, dan pemanfaatan efektif dalam ilmu forensic, dan d) menilai dan mengusulkan segala bentuk kebijakan peraturan yang terkait penerapan ilmu forensik. JURUSAN FARMASI UDAYANA berdiri sejak 25 Mei 2005. Jurusan Farmasi Udayana beralamatkan di Kampus Bukit Jimbaran, telp/Fax 0361-703837. Jurusan Farmasi dalam menjalankan visi-misinya mengembangkan kurikulum dengan kompetensi: Farmasi Klinik / Farmasi Rumah Sakit, Kimia Farmasi/Farmasi Forensik, dan Farmasi Bahan Alam yang mengedepankan kearifan lokal “USADA BALI” sebagai kajian utama. Secara umum ilmu forensik dapat diartikan sebagai aplikasi atau pemanfaatan ilmu pengetahuan tertentu untuk kepentingan penegakan hukum dan peradilan. Farmasi adalah ilmu tentang obat. Pekerjaan kefarmasian adalah pembuatan termasuk pengendalian mutu sediaan farmasi, pengamanan, pengadaan, penyimpanan dan pendistribusi atau penyaluranan obat, pengelolaan obat, pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan informasi obat, serta pengembangan obat, bahan obat dan obat tradisional. Farmasi Forensik dapat dipahami sebagai penerapan ilmu farmasi untuk kepentingan penegakan hukum atau peradilan. Farmasi forensik sangat erat hubungannya dengan dengan proses peradilan, proses regulasi, atau pada lembaga penegakan hukum (criminal justice system). Dalam pengembangan bidang farmasi forensik, Jurusan Farmasi Udayana berusaha untuk meningkatkan kerjasama dengan semua stakeholders terkait, seperti AIFI, BPOM-RI, BNN, POLRI, dan DirJen Bina Pelayanan Penunjang Medik-KemenKes RI.
Articles
128 Documents
Cover & TOC
I M A Gelgel Wirasuta
Indonesian Journal of Legal and Forensic Sciences (IJLFS) Vol 13 No 1 (2023): Indonesian Journal of Legal and Forensic Sciences
Publisher : Penerbit, sejak 2012 : Asosiasi Ilmu Forensik Indonesia dan UPT Lab. Forensik Sain dan Kriminilogi - Universitas Udayana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Gambaran Karakteristik Jenazah Terkonfirmasi Positif COVID-19 di RSUD dr. Doris Sylvanus
Darmawan, Muhammad Riza
Indonesian Journal of Legal and Forensic Sciences (IJLFS) Vol 13 No 2 (2023): Indonesian Journal of Legal and Forensic Sciences
Publisher : Penerbit, sejak 2012 : Asosiasi Ilmu Forensik Indonesia dan UPT Lab. Forensik Sain dan Kriminilogi - Universitas Udayana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24843/IJLFS.2023.v13.i02.p01
CoronaVirus Disease-2019 (COVID-19) is an infectious disease caused by Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2). SARS-CoV-2 is a novel coronavirus that has been never identified in humans. dr. Doris Sylvanus Hospital is one of the COVID-19 referral hospitals, especially in Central Borneo. Objectives of this study is aim to determine the characteristics of confirmed COVID-19 corpses based on age, gender, and comorbid diseases in confirmed COVID-19 corpses at dr. Doris Sylvanus Hospital. Method used in this study is descriptive observational with a retrospective approach, data was obtained through medical records of corpses who died confirmed with COVID-19. The result from this study is 338 corpses were confirmed with COVID-19, dominated by group age 55-64 years (33%), men (59%), and diabetes mellitus as the highest comorbid disease (19.71%). This research concluded that the corpses confirmed with COVID-19 at dr. Doris Sylvanus Hospital were dominated by group age of 55-64 years, men, with diabetes mellitus as comorbid disease. Keywords: COVID-19; Corpses; Characteristics; dr. Doris Sylvanus Hospital
Cover & TOC
Wirasuta, I M A Gelgel
Indonesian Journal of Legal and Forensic Sciences (IJLFS) Vol 13 No 2 (2023): Indonesian Journal of Legal and Forensic Sciences
Publisher : Penerbit, sejak 2012 : Asosiasi Ilmu Forensik Indonesia dan UPT Lab. Forensik Sain dan Kriminilogi - Universitas Udayana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Evaluasi Rekaman Video Pengakuan Dugaan Kasus Kekerasan Seksual Mahasiswi Universitas Riau: Sebuah Analisis Linguistik Forensik
Vidhiasi, Dhion Meitreya;
Saifullah, Aceng Ruhendi;
Bachari, Andika Dutha
Indonesian Journal of Legal and Forensic Sciences (IJLFS) Vol 13 No 2 (2023): Indonesian Journal of Legal and Forensic Sciences
Publisher : Penerbit, sejak 2012 : Asosiasi Ilmu Forensik Indonesia dan UPT Lab. Forensik Sain dan Kriminilogi - Universitas Udayana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24843/IJLFS.2023.v13.i02.p06
Penelitian ini dilakukan untuk melakukan analisis terhadap rekaman video seorang mahasiswi yang mengaku mendapatkan kekerasan seksual yang dilakukan oleh seorang dosen di Universitas Riau. Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif kualitatif yang fokus pada kata maupun frasa yang digunakan dalam tuturan mahasiswi tersebut. Data kemudian dianalisis menggunakan teori praanggapan milik Yule yang kemudian dibantu dengan teori Appraisal System milik Martin dan White. Rekaman video yang diunduh melalui lama YouTube, ditranskripsikan, kemudian dianalisis untuk melihat keenam jenis praanggapan yang dikemukakan oleh Yule, yaitu praanggapan eksistensial, faktual, leksikal, struktural, nonfaktual, dan kontrafaktual. Analisis praanggapan tersebut dalam kacamata linguistik forensik kemudian didapatkan hasil bahwa SH memang melanggar Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 30 tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Lingkungan Perguruan Tinggi dan Bab XIV KUHP tentang Kejahatan terhadap Kesusilaan khususnya Pasal 289. Peneliti juga menemukan bahwa korban menggunakan sistem graduation (force-intensification) untuk menunjukkan kejadian yang dialami oleh korban. Dengan sistem ini, korban juga mengajak setiap orang yang melihat video tersebut untuk mengetahui terlebih dahulu bahwa memang ada peristiwa kekerasan seksual yang dialami oleh korban.
Desain Mini Primer STR Lokus TH01 dan D21S11 untuk Amplifikasi DNA Darah Terpapar Suhu Tinggi
Nur Handayani, Niken Satuti;
Pertiwi, Ivory Martha;
Nugraheni, Kireida Asta
Indonesian Journal of Legal and Forensic Sciences (IJLFS) Vol 13 No 2 (2023): Indonesian Journal of Legal and Forensic Sciences
Publisher : Penerbit, sejak 2012 : Asosiasi Ilmu Forensik Indonesia dan UPT Lab. Forensik Sain dan Kriminilogi - Universitas Udayana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24843/IJLFS.2023.v13.i02.p05
DNA identification has an important role in forensics to investigate a case. However, the problem that is often encountered is that the DNA found is difficult to analyze because the amount is relatively small and degraded. An alternative used in DNA examination is to design mini primers for amplification. Mini primers can produce DNA profiles even in samples that have very low quantity and quality. Therefore, this study aims to determine the effectiveness of mini primers for amplification of TH01 and D21S11 loci in DNA exposed to high temperatures. In addition, to determine the effect of high temperature exposure on DNA quality and quantity. The samples used were 3 ml of human blood treated with 100, 150, and 200ºC for 10, 20, and 30 minutes. The method used was PCR amplification using mini primers TH01 and D21S11 loci. Quantity data were analyzed by a parametric test using the Two Way Anova method. Meanwhile, DNA quality was tested by agarose gel electrophoresis. The results showed that temperature treatment affected the quantity and quality of DNA. The TH01 locus in DNA samples treated with high temperature can be amplified using primer pairs MP1FTH01 and MP1RTH01. At the D21S11 locus, the use of primers 1 and 2 can be combined to identify DNA samples with high temperature treatment
Otonomi VS Paternalisme: Pengambilan Keputusan Medis pada Pasien dengan Skizofrenia
Yen, Liauw Djai;
Simanjuntak, Vionita;
Yantoro, Felicia Cynthiadewi;
Junus, Kezia Adelize Aurelia;
Wijaya, Richard;
Allo, Kezia Nathania Limbong;
Lukito, Patricia Michelle;
Dananjaya, Anna Sakurai;
Wijaya, Yurike;
Sugiarto, James;
Mahardika, Danadipa Yoga;
Gani, Alicia
Indonesian Journal of Legal and Forensic Sciences (IJLFS) Vol 13 No 2 (2023): Indonesian Journal of Legal and Forensic Sciences
Publisher : Penerbit, sejak 2012 : Asosiasi Ilmu Forensik Indonesia dan UPT Lab. Forensik Sain dan Kriminilogi - Universitas Udayana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24843/IJLFS.2023.v13.i02.p02
Background: Balance between autonomy and paternalism in the context of decision making of individuals with schizophrenia is a complicated and ethical problem. Collaboration between healthcare workers, family members, and individuals with schizophrenia is crucial to ensure decision made is for the individual’s best interest whilst upholding their dignity and rights. Methods: This is a literature review study. References used are literature from journal articles, law texts, and other textbooks in Indonesian and English. Results and Discussion: In clinical practice, doctors and patients both have autonomy to make the best decision. In patients with schizophrenia, autonomy conflicts with paternalism due to errors in cognitive function and decision making. Some studies have shown that schizophrenia patients can increase their understanding through information repetition, or by using improved information delivery procedures. Loss of capacity of decision making in patients with schizophrenia is temporary and can recover with time. Conclusion: It is important to find balance between autonomy and paternalism in medical practice. Doctors need to give clear information to patients, discussing benefits, downfalls, and risks from a certain procedure, respecting patient preference. However, doctors also have the responsibility to use their clinical judgement to give the best medical outcomes for patients.
Metode Fotogrametri: Efektivitasnya terhadap Identifikasi Antropologi Forensik secara Virtual
Wibowo, Rizka Leonita
Indonesian Journal of Legal and Forensic Sciences (IJLFS) Vol 13 No 2 (2023): Indonesian Journal of Legal and Forensic Sciences
Publisher : Penerbit, sejak 2012 : Asosiasi Ilmu Forensik Indonesia dan UPT Lab. Forensik Sain dan Kriminilogi - Universitas Udayana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24843/IJLFS.2023.v13.i02.p04
Dengan perkembangan zaman, berkembang pula cara untuk mengidentifikasi penemuan kerangka. Cara alternatif untuk melakukan identifikasi kerangka adalah identifikasi secara virtual yang dapat dilakukan dengan metode fotogrametri. Fotogrametri memiliki keunggulan dimana biaya peralatan yang murah, waktu identifikasi yang singkat, dan hasil model 3D yang akurat. Penelitian menunjukkan bahwa fotogrametri adalah alat yang reliabel digunakan untuk identifikasi kerangka secara virtual dengan hasil yang kualitasnya tinggi. Tingkat kesalahan dari metode fotogrametri sangat kecil (berkisar 1-1,5 mm) sehingga dapat merepresentasikan ukuran dan bentuk kerangka yang asli. Sehingga dapat disimpulkan bahwa fotogrametri efektif untuk identifikasi antropologi forensik secara virtual.
Penggunaan Metode Overlay Manual dan Metode Overlay Berbasis Komputer dalam Menganalisis Bitemark
Salsabila, Irna
Indonesian Journal of Legal and Forensic Sciences (IJLFS) Vol 13 No 2 (2023): Indonesian Journal of Legal and Forensic Sciences
Publisher : Penerbit, sejak 2012 : Asosiasi Ilmu Forensik Indonesia dan UPT Lab. Forensik Sain dan Kriminilogi - Universitas Udayana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24843/IJLFS.2023.v13.i02.p03
Latar belakang: Odontologi forensik bermanfaat dalam bidang penegakan hukum. Odontologi forensik dapat melakukan identifikasi individu melalui gigi geligi, salah satunya dengan menganalisis jejas gigit (bitemark). Terdapat berbagai metode yang kerap digunakan dalam melakukan analisis bitemark, antara lain adalah metode direct dan indirect. Salah satu contoh metode indirect adalah dengan menggunakan metode overlay. Metode overlay dapat dilakukan secara manual atau dapat menggunakan bantuan alat dan teknologi modern seperti perangkat komputer atau yang disebut sebagai metode overlay berbasis komputer. Tujuan: Untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan hasil interpretasi antara metode overlay manual dengan metode overlay berbasis komputer dalam menganalisis bitemark. Metode: Penelitian observasional analitik dengan menggunakan 90 subjek yang terdiri dari 45 model gigi rahang atas dan 45 model gigi rahang bawah. Pembuatan bitemark pada apel oleh subjek dengan cara menggigit apel. Dilanjutkan dengan pencetakan gigi geligi subjek dan dibuatkan model studinya, lalu dilakukan tracing pola gigi geligi subjek secara manual pada kertas mika transparan dan melalui perangkat komputer pada aplikasi Adobe photoshop. Dilakukan perbandingan antara hasil tracing gigi subjek dengan bukti bitemark dengan metode overlay manual dan komputer kemudian dilakukan scoring. Analisis data menggunakan uji Mann Whitney. Hasil: Hasil penelitian mendapatkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan (p < 0,05) antara hasil interpretasi analisis bitemark metode overlay manual dengan metode overlay berbasis komputer pada rahang atas dan rahang bawah. Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada hasil interpretasi antara metode overlay manual dengan metode overlay berbasis komputer dalam menganalisis bitemark.