cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Studi Jender SRIKANDI
Published by Universitas Udayana
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol. 3, No. 2 Juli 2003" : 5 Documents clear
KETIMPANGAN GENDER DI BIDANG PENDIDIKAN Sudarta, Wayan
Jurnal Studi Jender SRIKANDI Vol. 3, No. 2 Juli 2003
Publisher : Jurnal Studi Jender SRIKANDI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mengungkapkan ketimpangan gender di bidang pendidikan (pendidikan formal), yang ditelaah berdasarkan empat indikator yaitu angka buta huruf, angka partisipasi sekolah, pilihan bidang studi dan komposisi staf pengajar/kepala sekolah. Hasil telaahan menunjukkan bahwa akses anak perempuan untuk mengikuti pendidikan formal lebih terbatas daripada anak laki-laki, yang disebabkan oleh berbagai faktor. Untuk menanggulangi masalah itu, diperlukan terobosan khusus, yang merupakan hasil kerja sama antar pihak terkait. Kata kunci : ketimpangan, gender, pendidikan.
PEREMPUAN HINDU DI PANGGUNG SARASAMUCCAYA ANALISIS GENDER ATAS PERAN DAN EKSISTENSI PEREMPUAN BALI HINDU DALAM KITAB SARASAMUSCCAYA Crosita Octaria, Yessi
Jurnal Studi Jender SRIKANDI Vol. 3, No. 2 Juli 2003
Publisher : Jurnal Studi Jender SRIKANDI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perbedaan peran laki-laki dan perempuan yang didasarkan atas perbedaan jenis kelamin dengan mengekpose asumsi kelemahan biologis dan rasio adalah semata untuk menguatkan posisi status quo kekuasaan laki-laki atas perempuan.Konstruksi peran perempuan dengan landasan yang patriarkhis adalah menindas perempuan.Penindasan ini dalam bentuk praktis lahir sebagai subordinasi,kekerasan terhadap perempuan, beban kerja ganda serta marginalisasi dalam setiap ruang kehidupan. Sebagai sebuah konsep yang mengingkari kemanusiaan dengan mengijinkan penindasan atas manusia yang lain maka perlu adanya usaha untuk mengembalikan konsep gender sebagai konsep peran yang tidak terikat pada jenis kelamin-pun memberikan penghargaan yang sama terhadap kedua peran gender. Perempuan harus dapat memilih perannya sendiri, tidak dalam batasan yang patriarkhis tetapi dalam keluasan nilai kemanusiaan.Sikap diskriminatif terhadap perempuan dan feminitas harus diganti dengan sikap yang apresiatif sehingga kesetaraan gender dapat terwujud secara holistik. Pertanyaan selanjutnya adalah lewat mana sosialisasi kesadaran gender ini akan dilakukan. Kita sudah sampai ditepi jurang ketidak sadaran gender yang kronis(Chronic gender inconciousnes) karena ideologi patriarkhy telah menempuh semua jalan yang tersedia untuk mengukuhkan posisinya, budaya, negara, agama maka lewat semuanya juga kita membangun wacana baru yang lebih memanusiakan. Tulisan ini menawarkan sebuah dekonstruksi wacana atas peran perempuan dan eksistensi perempuan Hindu dalam kitab Sarasamuccaya, dengan menempatkan perempuan dengan perspektif kemanusiaan sebagai pengamat dari sebuah teks yang patriarkhis
WANITA PEKERJA PADA INDUSTRI KERAJINAN UKIRAN KAYU DI DESA BATANNYUH, MARGA, TABANAN -, Kebayantini
Jurnal Studi Jender SRIKANDI Vol. 3, No. 2 Juli 2003
Publisher : Jurnal Studi Jender SRIKANDI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Industri kerajinan ukiran kayu di desa Batannyuh mengalami perkembangan yang cukup pesat sejak 1997. Industri kerajinan ukiran kayu yang semula hanya ditekuni oleh kaum laki-laki, kemudian juga menarik perhatian dan minat kaum wanita di desa Batannyuh. Ini terbukti dari semakin banyaknya wanita yang terlibat dalam industri kerajinan ukiran kayu. Mereka tidak hanya sebagai tukang ampelas, tukang pernis, atau tukang yang tidak mempunyai keterampilan, melainkan sudah ikut dan mampu bersaing dengan pekerja laki-laki sebagai tukang ukir. Ini ditunjukkan oleh pekerja wanita yang sudah mampu mengukir hampir semua jenis barang ukiran seperti ring-ring, simbar, penempel kolong, kincut, bahkan juga pintu khas bali. Hampir 75% penduduk desa Batannyuh baik laki-laki maupun wanita bekerja sebagai tukang ukir. Para pengusaha tidak membedakan para pekerjanya karena jenis kelamin atau karena tingkat pendidikan mereka. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa wanita pekerja berada pada dunia kerja yang menguntungkan dirinya, karena kondisi-kondisi sosial budaya yang masih kuat.
POTENSI DAN HAMBATAN SOSIAL BUDAYA PEREMPUAN BALI DALAM ERA TRANSFORMASI Arjani, Ni Luh
Jurnal Studi Jender SRIKANDI Vol. 3, No. 2 Juli 2003
Publisher : Jurnal Studi Jender SRIKANDI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perempuan merupakan potensi sumberdaya manusia yang memegang peranan penting dalam pembangunan karena jumlah penduduk perempuan separuh dari total penduduk Bali. Namun demikian potensi ini masih belum bermanfaat secara maksimal karena kualitas sumberdaya perempuan secara umum masih belum sepadan dengan kualitas sumberdaya kaum laki-laki. Hal ini terutama dilihat dari indikator pendidikannya. Di era transpormasi ini, keterlibatan perempuan di dunia publik sudah menunjukkan peningkatan, hal ini didorong oleh dua faktor penting yakni faktor internal dan ekternal. Dalam mengaktualisasikan dirinya ke dunia publik, perempuan juga menghadapi berbagai kendala dan tantangan antara lain adalah sosial budaya terutama stereotipe gender.
PARTISIPASI PEREMPUAN DALAM PENGELOLAAN SISTEM IRIGASI SUBAK DI BALI Sri Astiti, Ni Wayan
Jurnal Studi Jender SRIKANDI Vol. 3, No. 2 Juli 2003
Publisher : Jurnal Studi Jender SRIKANDI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hampir sebagian (49,24%) penduduk Bali adalah perempuan, dan 31,94% adalah petani yang tinggal di pedesaan. Perempuan selain aktif dalam kegiatan rumah tangganya, perempuan juga aktif dalam bidang pertanian maupun dalam pengelolaan sistem irigasi subak. Kiranya perlu dikaji bagaimankah partisipasi perempuan dalam pengelolaan sistem irigasi subak di Bali?. Partisipasi perempuan dalam pengelolaan sistem irigasi subak (Kasus di Subak Lodtuduh Gianyar) masih tergolong rendah, karena hanya berpartisipasi sebesar 33,32% dari seluruh aktivitas dalam pengelolaan sistem irigasi subak, terutama untuk kegiatan upacara keagamaan subak atau aktivitas ritual yang diselenggrakan oleh subak. Aktivitas fisik lainnya seperti sangkep (dalam pengambilan keputusan subak), pemeliharaan jaringan irigasi sepenuhnya didominasi oleh krama laki-laki (krama subak muani). Kondisi ini menggambarkan masih terjadi bias jender yang sangat menonjol dalam kegiatan pengelolaan sistem irigasi subak.

Page 1 of 1 | Total Record : 5