cover
Contact Name
Chairil Faif Pasani
Contact Email
chfaifp@ulm.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
edu.mat@ulm.ac.id
Editorial Address
Ruang Prodi Pendidikan Matematika Gedung FKIP ULM Banjarmasin Jalan Brigjen H. Hasan Basri, Kayu Tangi, Banjarmasin, Kalimantan Selatan
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
EDU-MAT: Jurnal Pendidikan Matematika
ISSN : 23382759     EISSN : 25979051     DOI : http://dx.doi.org/10.20527
Core Subject : Education,
EDU-MAT adalah jurnal yang didirikan pada tahun 2013 di Program Studi Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lambung Mangkurat. EDU-MAT merupakan kumpulan artikel hasil penelitian maupun kajian dosen, peneliti, guru, maupun mahasiswa di bidang pendidikan matematika yang belum pernah dimuat/diterbitkan di media lain. EDU-MAT diterbitkan oleh Program Studi Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lambung Mangkurat yang terbit 2 kali dalam setahun, yaitu pada bulan April dan Oktober
Arjuna Subject : -
Articles 15 Documents
Search results for , issue "Vol 10, No 1 (2022)" : 15 Documents clear
Keterampilan Berpikir Kritis Mahasiswa dalam Menyelesaikan Soal Higher Order Thinking Skills Dwi Susanti; Cici Hernawati
EDU-MAT: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 10, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/edumat.v10i1.12190

Abstract

Keterampilan berpikir kritis merupakan salah satu Keterampilan yang digunakan untuk menyelesaikan soal HOTS. Hal tersebut disebabkan karena berpikir kritis merupakan Keterampilan menganalisis, menciptakan dan menggunakan kriteria secara obyektif, serta mengevaluasi data. Sehingga dapat dikatakan bahwa Keterampilan berpikir kritis sangat penting dalam mendukung pembelajaran. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan ketrampilan berpikir kritis mahasiswa dalam menyelesaikan soal bertipe HOTS pada materi bilangan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan menggunakan instrument tes dan wawancara terhadap beberapa sampel penelitian. Pengambilan sampel penelitian dengan menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data menggunakan langkah, mereduksi data,menyajikan data dan menarik kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan presentase rata-rata ketrampilan berpikir kritis mahasiswa berdasarkan 5 indikator sebesar 67 atau berada pada kategori sedang. Pada indikator memberikan penjelasan sederhana telah dikuasai dengan baik. Indikator membangun keterampilan dasar sebagian mahasiswa telah mampu menyesuaikan dengan sumber, akan tetapi masih dengan keterbatasan dalam mempertimbangkan hasil observasi. Indikator menyimpulkan beberapa mahasiswa telah mampu mendeduksi dan menginduksi dengan baik, akan tetapi masih kurang dalam membuat dan mempertimbangkan nilai keputusan. Indikator memberikan penjelasan lebih lanjut mahasiswa belum mampu mengidentifikasi berbagai asumsi. Indikator menyusun strategi dan taktik mahasiswa mampu melakukan prosedur penyelesaian dengan baik akan tetapi masih belum mampu menyusun taktik dengan baik. Kata kunci: High Order Thinking Skills (HOTS), Keterampilan Berpikir Kritis. Abstract: Critical thinking ability is the only ability used to solve HOTS questions. Critical thinking is the ability to analyze, create and use criteria objectively, and develop data. So critical thinking skills are useful in supporting learning. The purpose of this study was to describe students' critical thinking skills to solve problems with HOTS equations. A quantitative descriptive study was used in this research with instruments test and interviews with several research samples. The research sample was taken using the purposive sampling technique. Data analysis was used steps, reducing data, presenting data, and drawing conclusions. The results showed that the average percentage of students' critical thinking skills based on 5 indicators was 67 or was in the medium category. The indicators provided simple explanations had been mastered well. The Indicators of students' basic skills had been able to adapt to the source but were limitations in considering the results of observations. The indicators conclude that some students have been able to deduce and conclude, but are still lacking in making and considering the value of decisions. The indicators provide further explanation students had not been able to identify various assumptions. The indicators of students' developing strategi and tactics had been able to carry out settlement procedures but not able to develop tactics. Keywords: High Order Thinking Skills (HOTS), Critical Thinking Skills.
Validitas Bahan Ajar Materi Esensi Geometri untuk Mahasiswa Pendidikan Matematika FKIP Universitas Lambung Mangkurat Hidayah Ansori; Juhairiah Juhairiah; Rizki Amalia; Mardiana Mardiana; Intan Melinda Utari; Akhmad Syukur Ramadhan
EDU-MAT: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 10, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/edumat.v10i1.12063

Abstract

Belum adanya sumber belajar berupa bahan ajar mata kuliah Geometri yang khusus dikembangkan untuk mahasiswa program Studi Pendidikan Matematika FKIP ULM menjadi alasan dilakukannya penelitian ini. Berdasarkan hal ini perlu dilakukan pengembangan bahan ajar untuk mendukung perkuliahan mata kuliah geometri khusunya yang sesuai dengan karakter mahasiswa dan kompentensi lulusan prodi pendidikan matematika FKIP ULM. Salah satu materi yang dikembangkan bahan ajarnya adalah materi Esensi Geometri. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian pengembangan, dimana dalam pelaksanaannya menggunakan model pengembangan perangkat pembelajaran yang dikemukakan oleh Thiagarajan, Semmel, & Semmel yaitu model 4-D, terdiri dari tahap define, design, develop, dan disseminate. Salah satu tahapan pengembangan bahan ajar yang dilakukan adalah uji ahli. Uji Ahli bertujuan untuk mengetahui validitas isi bahan ajar yang dikembangkan. Instrumen yang digunakan adalah instrument non-tes yaitu angket.  Ahli atau validator dalam penelitian ini adalah Dosen Pendidikan Matematika FKIP ULM. Validitas bahan ajar yang dikembangkan dinilai oleh validator melalui instrumen non-tes berupa angket. Data yang diperoleh adalah data kuantitatif yaitu persentase dari skor validator terhadap skor maksimal. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah bahan ajar Esensi Geometri cukup valid atau dapat digunakan namun perlu revisi kecil sehingga  bahan ajar dapat digunakan dengan revisi. Kata kunci: Bahan Ajar, Geometri, Validitas Abstract: The absence of learning resources in the form of teaching materials for Geometry courses specifically developed for students of the Mathematics Education Study Program FKIP ULM is the reason for conducting this research. Based on this, it is necessary to develop teaching materials to support geometry course lectures, especially those that are in accordance with the character of students and the competence of graduates of the Mathematics Education Study Program, FKIP ULM. One of the materials developed by the teaching materials is Geometry Essence material. The research method used is development research, which in its implementation uses the learning device development model proposed by Thiagarajan, Semmel, & Semmel, namely the 4-D model, consisting of define, design, develop, and disseminate stages. One of the stages of developing teaching materials carried out is the expert test. The Expert Test aims to determine the validity of the content of the teaching materials developed. The instrument used is a non-test instrument, namely a questionnaire. The expert or validator in this research is the Mathematics Education Lecturer of FKIP ULM. The validity of the teaching materials developed was assessed by the validator through a non-test instrument in the form of a questionnaire. The data obtained is quantitative data, namely the percentage of the validator score to the maximum score. The results obtained in this study are that the Geometry Essence teaching materials are quite valid or can be used but need minor revisions so that the teaching materials can be used with revisions. Keywords: Teaching material, Geometry, validity
Pengembangan Tes Formatif Aritmatika Sosial Berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS) dengan Konteks Lingkungan Lahan Basah Rinda Sari; Chairil Faif Pasani; Taufiq Hidayanto
EDU-MAT: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 10, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/edumat.v10i1.12927

Abstract

Salah satu materi SMP kelas VII adalah aritmatika sosial. Materi ini sangat penting dijadikan sebagai bekal menjalani kehidupan di masyarakat dan melatih siswa untuk berpikir kreatif serta kritis dalam melaksanakan kegiatan jual-beli. Sejalan dengan kurikulum 2013, dimana kurikulum ini mendorong adanya keterampilan Higher Order Thinking Skills (HOTS). Pada pelaksanaannya tidak semua kemampuan HOTS dapat tersaji, dikarenakan kendala waktu pengerjaan dan kemampuan siswa. Selain itu, soal masih berkonteks lingkungan sekolah sehingga belum memuat konteks lahan basah. Untuk mengatasi permasalahan tersebut diperlukan tes formatif yang dapat mengasah kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa dan kontekstual. Menghasilkan perangkat tes formatif berbasis HOTS materi aritmatika sosial dengan konteks lingkungan lahan basah yang valid menjadi tujuan dalam penelitian ini. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian pengembangan dengan model formative research yang diadaptasi dari Tessmer. Tahapan penelitian hanya dilakukan sampai tahap expert reviews dikarenakan kondisi pandemi Covid-19. Validasi dilakukan oleh tiga orang ahli. Hasil penelitian berupa 30 butir soal tes formatif pilihan ganda berbasis HOTS. Berdasarkan kevalidan tes formatif diperoleh skor rata -rata sebesar 3,49 dari segi materi, konstruksi, dan bahasa. Dengan demikian kriteria kevalidan tes formatif matematika pada materi aritmatika sosial berbasis HOTS untuk siswa SMP kelas VII dengan konteks lingkungan lahan basah dikatakan sangat valid. Kata kunci: tes formatif, aritmatika sosial, HOTS, konteks lingkungan lahan basah Abstract: One of the material for SMP class VII is social arithmetic. This material is very important as a provision to live life in society and train students to think creatively and critically in carrying out buying and selling activities. In line with the 2013 curriculum, this curriculum encourages Higher Order Thinking Skills (HOTS). In practice, not all HOTS abilities can be presented, due to time constraints and student abilities. In addition, the question is still in the context of the school environment so that it does not include the context of wetlands. To overcome these problems, formative tests are needed that can hone students' higher-order and contextual thinking skills. Generating a formative test kit based on HOTS social arithmetic material with a valid wetland environmental context is the goal of this research. The research method used is development research with a formative research model adapted from Tessmer. The research stage was only carried out until the expert reviews stage due to the Covid-19 pandemic. Validation was carried out by three experts. The results of the study were 30 items of the HOTS-based multiple choice formative test. Based on the validity of the formative test, an average score of 3.49 was obtained in terms of material, construction, and language. Thus, the criteria for the validity of the mathematical formative test on HOTS-based social arithmetic material for seventh grade junior high school students with the context of a wetland environment are said to be very valid. Keyword: formative tests, social arithmetic, HOTS, wetland environmental context
Eksplorasi Etnomatematika Kain Tenun pada Mayarakat Oeolo NTT untuk Mengungkapkan Konsep Matematis Stefania Banase; Hermina Disnawati; Selestina Nahak
EDU-MAT: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 10, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/edumat.v10i1.10698

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bentuk etnomatematika pada kain tenun masyarakat Desa Oeolo yang terletak di Kabupaten Timor Tengah Utara, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi. Berdasarkan hasil penelitian eksplorasi etnomatematika kain tenun pada masyarakat Desa Oeolo menunjukan bahwa terdapat beberapa konsep matematika dalam proses pembuatan motif kain tenun nap molo yaitu: 1) konsep membilang yang dilakukan pada proses awal penenun menentukan jumlah pintalan benang yang dibutuhkan, sesuai dengan pola motif yang diinginkan. 2) aktivitas mengukur, penenun mengukur  menggunakan satuan tradisional jengkalan jari orang dewasa untuk mengukur panjang dan lebar tenunan. 3) konsep perbandingan yang berkaitan dengan banyaknya jumlah pintalan benang untuk pola induk lebih banyak dari pola apit. 4) konsep titik, pada corak benang warna. 5)  konsep garis lurus pada benang warna yang digunakan penenun pada motif pola apit. 6) Konsep garis lengkung pada motif bagian tengah yang dihasilkan. 7)  konsep bangun datar belah ketupat pada motif yag dihasilkan. Kata kunci: Aktivitas menenun, Etnomatematika, Konsep Matematis, Nap Molo Abstract: The purpose of this study was to describe the ethnomathematical form of the woven fabric of the Oeolo Village community located in North Central Timor Regency, East Nusa Tenggara Province. The type of research used is qualitative research with an ethnographic approach. Based on the results of ethnomathematical research on woven fabrics in the Oeolo Village community, it shows that there are several mathematical concepts in the process of making nap molo woven fabric motifs, namely: 1) the concept of counting which is carried out at the beginning of the weaver determines the number of spun yarns needed, according to the desired pattern of motifs. 2) measuring activity, weavers measure using the traditional unit of adult finger span to measure the length and width of the weave. 3) the comparison concept related to the number of yarn spun for the main pattern is more than the sandwich pattern. 4) point concept, on color thread pattern. 5) the concept of a straight line on the color thread used in the flanking pattern motif. 6) The concept of curved lines in the resulting middle motif. 7) the concept of a flat rhombus on the resulting motif. Keywords: Weaving activity, Ethnomatematics, Mathematical Concepts, Nap Molo
Membuat Soal Matematika Open Ended dengan Teknik Memodifikasi Soal Tertutup: Konteks Lahan Basah Karim Karim; Chairil Faif Pasani; Andriyani Andriyani
EDU-MAT: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 10, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/edumat.v10i1.13417

Abstract

Soal matematika open ended merupakan soal yang menuntut banyak cara penyelesaian atau banyak jawaban benar yang mungkin. Untuk membuat soal matematika open ended, bukanlah pekerjaan yang mudah. Sehingga soal open ended ini sangat jarang ditemukan pada buku matematika siswa. Padahal, soal matematika open ended sangat diperlukan untuk menumbuhkan berpikir kreatif siswa, khususnya kemampuan fleksibilitas. Untuk membantu siswa dalam memahami soal matematika, maka penggunaan konteks sangat diperlukan. Salah satu konteks yang dapat digunakan adalah lahan basah. Untuk membuat soal open ended, teknik yang paling mudah adalah dengan memodifikasi soal tertutup. Artikel ini akan memberikan petunjuk dalam membuat soal matematika open ended dengan teknik memodifikasi soal tertutup dengan memuat konteks lahan basah. Metode yang digunakan dalam membuat soal open ended ini adalah metode pengembangan dengan model 4D (four D models). Konten soal adalah materi matematika SMA kelas X. Untuk uji keterbacaan, dilibatkan 6 orang siswa kelas X SMA Negeri 5 Banjarmasin. Ada 3 buah soal matematika open ended yang dihasilkan, yaitu soal dengan konteks (1) Berangkat ke sekolah menyeberang Sungai Kuin naik jukung, (2) Keramba ikan di Sungai Martapura, dan (3) Objek wisata Pulau Pinus-Waduk riam Kanan. Kata kunci : soal open ended, lahan basah Abstract: Open-ended math problems are questions that have several solutions or correct answers. It is not a simple task to create open-ended math questions. As a result, open-ended questions are uncommon in students' math textbooks. Open-ended questions, in reality, are required to enhance student's creative thinking, particularly their flexibility abilities. The use of context is required to help children grasp issues. Wetlands are one example of a context that might be employed. The simplest way to generate open-ended questions is to change closed questions. This post will walk you through producing open-ended math problems by changing closed questions with the context of wetlands. This open-ended question was created using a development process using a 4D model (four D models). The questions' substance is coursework for class X SMA. Six students from State High School 5 Banjarmasin’s class X participated in the reading exam. There were three open-ended math problems: (1) go to school across the Kuin River by jukung, (2) Fish cages on the Martapura River, and (3) Attractions in Pulau Pinus-Riam Kanan reservoir. Keywords: Open-ended problems, wetlands

Page 2 of 2 | Total Record : 15