cover
Contact Name
Eko Suhartono
Contact Email
esuhartono@ulm.ac.id
Phone
+6281251126368
Journal Mail Official
jbk@ulm.ac.id
Editorial Address
Jalan Veteran No.128 Banjarmasin
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Berkala Kedokteran
ISSN : 14120550     EISSN : 25485660     DOI : http://dx.doi.org/10.20527
Core Subject : Health, Science,
Berkala Kedokteran is a journal contains scientific articles from original research and literature review in medical and health scope. It is published twice in a year, on February and September.
Articles 32 Documents
Search results for , issue "Vol 10, No 1 (2014)" : 32 Documents clear
Perbedaan Efektivitas antara Cilostazol dan Aspirin terhadap Peningkatan Suhu Sela Jari: Tinjauan terhadap Kaki Diabetik Wagner Derajat II dan III Noor, Zairin; Al Audhah, Nelly
Jurnal Berkala Kedokteran Vol 10, No 1 (2014): Februari 2014
Publisher : Pendidikan Dokter Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v10i1.932

Abstract

ABSTRACT: Diabetes mellitus is a multisystem disease characterized by hyperglycemia due to abnormalities in insulin secretion, insulin mechanism, or both. Hyperglycemia in diabetes will lead to long-term complications, such as, several organs failure or disfunction, especially the eyes, kidneys, nerves, heart and blood vessels. One of the diabetic complications is diabetic foot. The appearance of diabetic foot mainly occurs due to repetitive trauma to the foot. After the appearance of ulcers, diabetic foot was compounded with decreased vascular in the patients, making it more difficult to recover. The poor vascularization for diabetic foot patients implicates falling temperatures of the toes. Cilostazol and aspirin are antithrombotic medicines that cause inhibition activation and aggregation trombosit, and vasodilatation. This study aimed to examine the effect of cilostazol and aspirin on toes temperature of the feet of diabetic patients. This research is an experimental research by calculating the average temperature of the toes of diabetic foot patients before and after the administration of cilostazol and aspirin . The results showed the average temperature of the subject toes before giving cilostazol and aspirin is 33.340C and 33.970C, and after administration is 33.540C and 34.720C. From this research it can be concluded that there is an increase in the temperature of the toes after administration of cilostazol and aspirin on the toes of diabetic foot patients. Keywords : Aspirin, Cilostazol, Diabetes Mellitus, Diabetic Foot ABSTRAK: Diabetes mellitus merupakan suatu penyakit multisistem dengan ciri hiperglikemia akibat kelainan sekresi insulin, kerja insulin, atau kedua-duanya. Hiperglikemia pada diabetes akan mengakibatkan komplikasi jangka panjang seperti, disfungsi atau kegagalan beberapa organ tubuh, terutama mata, ginjal, saraf, jantung dan pembuluh darah. Salah satu komplikasinya adalah kaki diabetik. Kemunculan kaki diabetik terutama terjadi karena adanya trauma berulang pada kaki. Setelah munculnya ulkus, kaki diabetik diperparah dengan daya vaskuler pasien yang menurun, sehingga sulit untuk sembuh. Buruknya vaskularisasi pasien kaki diabetik berimplikasi pada turunnya suhu sela jari kaki. Cilostazol dan aspirin adalah obat antitrombotik yang menyebabkan terjadinya inhibisi aktivasi dan agregasi trombosit, serta vasodilatasi. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh cilostazol dan aspirin terhadap suhu sela jari kaki pada pasien kaki diabetik. Penelitian ini bersifat eksperimental dengan menghitung rata-rata suhu sela jari kaki pasien kaki diabetik sebelum dan setelah pemberian cilostazol dan aspirin. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata suhu sela jari kaki subyek sebelum pemberian cilostazol dan aspirin adalah 33,340C dan 33,970C, dan setelah pemberian adalah 33,540C dan 34,720C. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat peningkatan suhu sela jari kaki setelah pemberian cilostazol dan aspirin pada sela jari kaki pasien kaki diabetik. Kata-kata Kunci : Aspirin, Cilostazol, Diabetes Mellitus, Kaki Diabetik.
PERBANDINGAN TINGKAT REPRESENTATIF PEMERIKSAAN PAP SMEAR METODE KOMBINASI SPATULA AYRE–CYTOBRUSH DENGAN METODE CERVEX BRUSH Kusumawati, Erika; Rahardja, Suka Dwi; Armanza, Ferry
Jurnal Berkala Kedokteran Vol 10, No 1 (2014): Februari 2014
Publisher : Pendidikan Dokter Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v10i1.395

Abstract

ABSTRACT: One way of early detection for cervix cancer is the Pap smear. This study aim is to compare the level of representative Pap smear method using combiation Ayre spatula-cytobrush with cervex brush method. This study is a descriptive analytic study with cross sectional approach. 47 pieces of preparat were selected according to inclusion criteria over the period of January-September 2013. Representative results of Pap smear using the combination of Ayre spatula-cytobrush and the used of brush cervex were 36 (76.60%) and 40 (85.10%). The results of data analysis using the Wilcoxon test with 95% confidence level indicates no statistically significant difference between the use of a combination of Ayre spatula-cytobrush methods with cervex brush method, the value of p = 0.157 (p> 0.05). It can be concluded that the representative rate of Pap smear using a combination of Ayre spatula-cytobrush method is not better than cervex brush method. Keywords: Pap smear, ayre spatula, cytobrush, cervex brush  ABSTRAK: Salah satu cara deteksi dini kanker servik adalah pemeriksaan Pap smear. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan tingkat representatif pemeriksaan Pap smear metode kombinasi spatula ayre-cytobrush dengan metode cervex brush. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Preparat penelitian sebanyak 47 buah dipilih sesuai kriteria inklusi pada periode bulan Januari – September 2013. Hasil representatif Pap smear menggunakan kombinasi spatula ayre-cytobrush yakni 36 (76,60%) dan yang menggunakan cervex brush sebanyak 40 (85,10%). Hasil analisis data menggunakan uji wilcoxon dengan tingkat kepercayaan 95% , didapatkan hasil bahwa tidak terdapat perbedaan yang bermakna secara statistik antara penggunaan metode kombinasi spatula ayre-cytobrush dengan metode cervex brush yaitu dengan nilai  p = 0,157 (p > 0,05). Dapat disimpulkan bahwa tingkat representatif pemeriksaan Pap smear menggunakan metode kombinasi spatula ayre-cytobrush tidak lebih baik dibandingkan metode cervex brush. Kata-kata kunci: Pap smear, spatula ayre, cytobrush, cervex brush
Indeks Stres Oksidatif (ISO) Plasma pada Model Tikus Putih (Rattus norvegicus) Hiperglikemia Adenan, Adenan
Jurnal Berkala Kedokteran Vol 10, No 1 (2014): Februari 2014
Publisher : Pendidikan Dokter Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v10i1.937

Abstract

ABSTRACT: Hyperglycemia can lead to increased formation of reactive oxygen compounds (ROC). One is through the glycosylation reaction. These reactions lead to increased formation oxidants: superoxide radicals and H2O2. This situation stimulates the enzymatic antioxidant responses such as SOD, peroxidase and catalase to prevent the negative effects of the ROC. An imbalance between oxidants and antioxidants trigger  some oxidative stress. This study aims to determine the relationship of the long duration hyperglycemia to the magnitude of oxidative stress assessed risk of changes in oxidative stress indices (OSI) in rats (Rattus norvegicus). The research method is a purely experimental post-test only with control group design, consisting of 9 treatment groups which were induced streptozotocin (STZ) (50 mg / kg) and one control group was given 0.1 M citrate buffer pH 4.5. OSI values obtained from the comparison between the levels of H2O2 and the activity of SOD, peroxidase and catalase which were measured in blood plasma of mice. The control group was measured at day 0 and treatment groups at 3, 6, 9, 12, 15, 18, 21, 24 and 27 days after STZ induction. Data were analyzed by non-linear regression. The results show OSI plasma changing type to the duration of hyperglycemia that follows the cubic equation y = 9E-05x3 – 0,0035x2 + 0,0358x + 0,3069 with correlation coefficient r2 equal to 0,822 and signf. 0,025 (p < 0,05). This shows that there is a significant correlation between the duration of hyperglycemia and OSI plasma that is non-linear. Keywords: hyperglycemia, duration of hyperglycemia, oxidative stress index (OSI) ABSTRAK: Hiperglikemia dapat menyebabkan peningkatan pembentukan senyawa oksigen reaktif (SOR). Salah satunya adalah melalui reaksi glikosilasi. Reaksi tersebut menyebabkan peningkatan pembentukan oksidan yaitu radikal superoksid dan H2O2. Keadaan ini merangsang respon antioksidan enzimatik seperti SOD, peroksidase dan katalase untuk mencegah efek negatif dari SOR tersebut. Adanya ketidakseimbangan antara oksidan dan antioksidan memicu terjadinya stres oksidatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan lamanya durasi hiperglikemia dengan besarnya risiko stres oksidatif yang dinilai dari perubahan indeks stres oksidatif (ISO) pada tikus putih (Rattus norvegicus). Metode penelitian adalah eksperimental murni dengan post-test only with control group design, terdiri dari 9 kelompok perlakuan yang diinduksi streptozotocin (STZ) dosis 50 mg/kgBB dan 1 kelompok kontrol yang diberi 0,1 M buffer sitrat pH 4,5. Nilai ISO diperoleh dari perbandingan antara kadar H2O2 dan aktivitas SOD, peroksidase dan katalase yang diukur pada plasma darah tikus putih. Kelompok kontrol diukur pada hari ke 0 dan kelompok perlakuan pada 3, 6, 9, 12, 15, 18, 21, 24 dan 27 hari pasca induksi STZ. Data yang diperoleh dianalisis dengan uji regresi non linier. Hasilnya menunjukkan model perubahan ISO plasma terhadap durasi hiperglikemia yang mengikuti persamaan kubik y = 9E-05x3 – 0,0035x2 + 0,0358x + 0,3069 dengan nilai korelasi r2 sebesar 0,822 dan signf. 0,025 (p < 0,05). Ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara durasi hiperglikemia dan ISO plasma yang bersifat non linier. Kata-kata kunci: hiperglikemia, durasi hiperglikemia, indeks stres oksidatif (ISO)
Efektifitas Pyriproxyfen terhadap Larva Aedes aegypti yang Diambil dari Wilayah Banjarmasin Timur Akbar, Ali; Istiana, Istiana; Al Audhah, Nelly
Jurnal Berkala Kedokteran Vol 10, No 1 (2014): Februari 2014
Publisher : Pendidikan Dokter Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v10i1.928

Abstract

ABSTRACT: Dengue Haemorraghic Fever disease (DHF) is dangerous contagious disease which is caused by dengue virus which is brought by Aedes aegypti mosquito. Controling DHF depends on the control of the mosquito and its larvae. One of alternative larvacide that can control Aedes aegypti larvae is larvacide with active ingredient pyriproxyfen as Insecth Growth Regulator (IGR) which does not influece the hygiene of water, safety and does not increase the resistancy. The purpose of the study is to study and calculate efficacy of an IGR pyriproxyfen against Aedes aegypti larvae which was only collected from East Banjarmasin. The research is an experimental research that used seven kind dozes of IGR: follows 0,1 ppm, 0,05 ppm, 0,01 ppm, 0,008 ppm, 0,005 ppm, 0,003 ppm, and control. Each doze used four replications. The research results showed that IGR was effective to kill more than 70% larvae after seven days. The results of probit analysis were 0,001 ppm ana 0,065 ppm to kill 50% and 90% larvae. Keywords: Dengue Haemorraghic Fever, pyriproxyfen, Aedes aegypti ABSTRAK: Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit menular berbahaya yang disebabkan oleh virus dengue yang dibawa oleh nyamuk Aedes aegypti. Pengendalian DBD bergantung pada pengendalian nyamuk dan larvanya. Salah satu larvasida alternatif yang dapat digunakan untuk mengendalikan larva nyamuk Aedes aegypti adalah larvasida yang berbahan aktif pyriproxyfen dan berasal dari golongan Insect Growth Regulator (IGR) yang tidak mempengaruhi kebersihan air, aman, dan tidak meningkatkan resistensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menghitung efikasi IGR berbahan aktif pyriproxyfen terhadap larva Aedes aegypti yang berasal dari Kecamatan Banjarmasin Timur. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yang menggunakan tujuh macam dosis 0,1 ppm, 0,05 ppm, 0,01 ppm, 0,008 ppm, 0,005 ppm, 0,003 ppm, dan kontrol. Setiap dosis menggunakan empat kali pengulangan. Hasil penelitian menunjukan bahwa IGR efektif untuk membunuh 70% larva uji setelah tujuh hari pemaparan. Berdasarkan analisis probit dosis yang diperlukan untuk membunuh 50% (LC50) dan 90%(LC90) larva uji adalah berturut-turut sebesar 0,001 ppm dan 0,065 ppm. Kata kunci : Demam Berdarah Dengue,  pyriproxyfen, Aedes aegypti
Hubungan Kejadian Premenstrual Syndrome (PMS) dengan Kejadian Insomnia pada Mahasiswi Fakultas Kedokteran Unlam Banjarmasin: Kajian pada Mahasiswi Program Studi Pendidikan Dokter (PSPD) Angkatan 2010-2012 Kusumawarddhani, Dyah Ayu; Husein, Achyar Nawi; Bakhriansyah, Mohammad
Jurnal Berkala Kedokteran Vol 10, No 1 (2014): Februari 2014
Publisher : Pendidikan Dokter Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v10i1.933

Abstract

ABSTRACT: Pre Menstrual Syndrome (PMS) is a set of physical, psychological and emotional symptoms within, 7-10 days prior to menstruation. Some epidemiological studies showed that PMS are common in women of reproductive women, including university student. A variety of symptoms such as anxiety, fatigue, concentrating difficulty, lack of energy, headaches, abdominal pain, and other symptoms, including insomnia can be found in women who suffered from PMS. This research was aimed to analyze the association between PMS and insomnia within school of medicine students. It was an observational analytic study with cross - sectional approach. The population was 58 female students who met the inclusion criteria. Insomnia was assessed by Insomnia Rating Scale questionnaire. The result showed that 7 students with PMS having insomnia (29.16 %), 17 students with PMS having no insomnia (70.84 %), 5 students without PMS having insomnia (14.70 %), and 29 students with no PMS having no insomnia (85.30 %). The data were analyzed statistically by using chi-square test with 95% confidence interval. The p value was 0.184. It could be concluded that there is no significant association between PMS and insomnia in School of Medicine students of Lambung Mangkurat University. Key words : PMS, insomnia, students, School of Medicine ABSTRAK: Pre Menstrual Syndrome (PMS) merupakan kumpulan gejala fisik, psikologis dan emosi yang biasanya terjadi 7-10 hari sebelum menstruasi. Studi epidemiologi menunjukkan bahwa gejala PMS banyak ditemukan pada wanita usia reproduksi, termasuk salah satunya adalah mahasiswi. Berbagai gejala seperti cemas, lelah, susah konsentrasi, hilang energi, sakit kepala, sakit perut, dan gejala lainnya, termasuk insomnia dapat ditemui pada wanita yang mengalami PMS. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kejadian PMS dengan kejadian insomnia pada mahasiswi PSPD FK UNLAM. Penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian adalah 58 mahasiswi PSPD FK UNLAM yang memenuhi kriteria inklusi. Kejadian insomnia ditentukan dengan menggunakan kuesioner Insomnia Rating Scale. Dari kuesioner didapatkan data mahasiswi PMS dengan insomnia sebanyak 7 orang (29,16%), mahasiswa PMS tanpa insomnia sebanyak 17 orang (70,84%), mahasiswa non PMS dengan insomnia sebanyak 5 orang (14,70%), dan mahasiswa non PMS tanpa insomnia sebanyak 29 orang (85,30%). Hasil  analisis statistik menggunakan uji chi-square dengan tingkat kepercayaan 95% menunjukkan nilai p = 0,184. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara kejadian PMS dengan kejadian insomnia pada mahasiswi penderita PMS PSPD FK UNLAM. Kata kunci: PMS, insomnia, mahasiswi, PSPD FK UNLAM
HUBUNGAN TIPE KEPRIBADIAN INTROVERT DENGAN KECANDUAN INTERNET PADA SISWA KELAS X DI SMAN 1 BANJARMASIN Anggraeni, Muthia; Husain, Achyar Nawi; Arifin, Syamsul
Jurnal Berkala Kedokteran Vol 10, No 1 (2014): Februari 2014
Publisher : Pendidikan Dokter Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v10i1.392

Abstract

ABSTRACT: Internet addiction disorder is an impulse-control disorder that is caused by excessive internet usage who spent 19 hours everyweek. The internet addictive behavior can be caused by a variety of factors, one of which is personality type (introvert-ekstrovert). The aim of this research was to determine the relationship between introvert personality type and internet addiction disorder. The research used analytical observasional methods with cross sectional approach. Respondents were selected by using proportional random sampling based on the criteria samples of Fraenkel and Wallen. Fifty respondents were asked to fill the Personality Types questionnaires and Young Internet Addiction Scale. The results then analyzed with Fisher test. The results showed, respondents who had introvert personality type were 40 (80%), respondents who had extrovert personality type were 10 (20%), respondents who had internet addiction behavior were 38 (76%), and respondents who did not have internet addiction behavior were 12 (24%). Statistical analysis using Fisher test showed the value of P=0,046 with Odds Ratio 4,714. It was concluded that introvert personality type was 40 respondents (80%), internet addiction was 38 respondents (76%), and there is a significant relationship between introvert personality type and internet addiction disorder at X grade of SMAN 1 Banjarmasin’s Students. Keywords: introvert personality type, internet addiction, SMAN 1 Banjarmasin. ABSTRAK: Kecanduan internet adalah suatu impulse-control disorder yang disebabkan oleh pemakaian internet berlebihan yang menghabiskan waktu 19 jam perminggu. Perilaku kecanduan internet dapat disebabkan oleh berbagai faktor, salah satunya adalah tipe kepribadian (introvert-ekstrovert). Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hubungan tipe kepribadian introvert dengan kecanduan internet. Metode penelitian menggunakan metode observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Responden dipilih menggunakan teknik proporsional random sampling dengan jumlah sampel berdasarkan kriteria Fraenkel dan Wallen. Sebanyak 50 responden kemudian diminta untuk mengisi kuesioner tipe kepribadian dan kuesioner Young Internet Addiction Scale, hasilnya kemudian dianalisis menggunakan uji Fisher. Hasil penelitian menunjukkan, responden yang memiliki tipe kepribadian introvert sebanyak 40 orang (80%), sedangkan yang memiliki tipe kepribadian ekstrovert sebanyak 10 orang (20%). Responden yang memiliki kecanduan internet sebanyak 38 orang (76%), sedangkan yang tidak memiliki kecanduan internet sebanyak 12 orang (24%). Uji Fisher menunjukkan nilai p=0,046 dengan Odds Ratio 4,714. Dapat disimpulkan, tipe kepribadian introvert adalah sebanyak 40 responden (80%) dan kecanduan internet sebanyak 38 responden (76%) serta terdapat hubungan yang bermakna antara tipe kepribadian introvert dan kecanduan internet pada siswa kelas X di SMAN 1 Banjarmasin. Kata-kata kunci: tipe kepribadian introvert, kecanduan internet, SMAN 1 Banjarmasin.
Studi Interaksi Farmakodinamik Efek Analgesik Kombinasi Perasan Buah Mengkudu (Morinda citrifolia) dengan Parasetamol: Kajian terhadap waktu reaksi nyeri menggunakan metode hot plate pada mencit (Mus musculus) Firda Wirasari; Mohammad Bakhriansyah; Istiana Istiana
Berkala Kedokteran Vol 10, No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v10i1.927

Abstract

ABSTRACT: Mengkudu (Morinda citrifolia) has been proven in  possessing the analgesic effect. The similarity of analgesic activity of mengkudu and paracetamol enable the existence of analgesic effect interaction synergistically when they are both combined. The objective of this research is to find out the pharmacodynamic interaction between the juice of mengkudu and paracetamol. The research was an experimental research with posttest-only with control group design. The control group consists of 6 groups, and each group had 5 mice. The 1st group was given aquadest 0.5 ml; the 2nd group was given the juice of mengkudu 0.042 mg/g BB; the 3rd group was given paracetamol 0.065 mg/g BB; while the 4th , 5th, 6th groups were given the combination of mengkudu juice 0.042 mg/g BB and paracetamol with the dosages 0.01625 mg/g BB; 0.0325 mg/g BB; 0.065 mg/g BB, respectively. Treatments were given 10 minutes before mice were painly induced by using hot plate. The average of onset of pain for group I, II, III, IV, V, VI were 5.36; 8.28; 8.02; 9.67; 10.5 and 11.74 seconds, respectively. Statistical anaysis using Kruskal Wallis showed that there was significance difference among groups (p = 0.000) while the very potential effect was in group with paracetamol dosage on 0,065 mg/g BB. Based on this research, it can be concluded that there is sinergycal interaction between the combination of mengkudu juice with paracetamol on mice. Keywords : analgesic effect, mengkudu, paracetamol, onset of pain, synergycal interaction ABSTRAK: Mengkudu (Morinda citrifolia) telah terbukti memiliki efek analgesik. Kesamaan aktivitas analgesik buah mengkudu dan parasetamol memungkinkan adanya interaksi efek analgesik yang sinergis ketika keduanya dikombinasikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui interaksi farmakodinamik efek analgesik kombinasi perasan buah mengkudu dengan parasetamol. Penelitian ini bersifat eksperimental dengan pendekatan posttest-only with control group design, terdiri dari 6 kelompok. Setiap kelompok memiliki 5 ekor mencit. Kelompok I diberikan aquadest 0,5ml, kelompok II diberikan perasan buah mengkudu dengan dosis 0,042 mg/g BB, kelompok III diberikan parasetamol 0,065 mg/g BB sedangkan, kelompok IV, V, VI diberikan kombinasi perasan buah mengkudu 0,042 mg/g BB dan parasetamol dengan dosis masing-masing: 0,01625 mg/g BB; 0,0325 mg/g BB; 0,065 mg/g BB, diberikan 10 menit sebelum dilakukan induksi nyeri di atas hot plate. Rerata waktu reaksi nyeri mencit pada kelompok  I, II, III, IV, V, dan VI berturut-turut adalah 5,36; 8,28; 8,02; 9,67; 10,5 dan 11,74 detik. Hasil analisis statistik Kruskal-Wallis menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna antara berbagai kelompok dengan nilai p = 0,000, dengan dosis kelompok kombinasi yang paling potensial memberikan efek analgesik adalah kelompok dengan dosis parasetamol 0,065 mg/g BB. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat interaksi yang sinergis pada kombinasi perasan buah mengkudu dengan parasetamol pada mencit. Kata-kata kunci: efek analgesik, buah mengkudu, parasetamol, waktu reaksi, interaksi.
Penerapan Kaidah Fiqih dalam Penetapan Hukum Islam Bedah Mayat Kedokteran Husairi, Ahmad
Berkala Kedokteran Vol 10, No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v10i1.938

Abstract

Abstract: The medical autopsy is a post-mortem that is performed for the benefit of the medical world. On the one hand, the corpse is the body that must be respected. On the other hand, the medical profession can not be separated from the implementation of the post-mortem. Therefore, the Islamic jurisprudence of post-mortem should be determined by careful consideration in order to obtain the best benefit. Since the Islamic jurisprudence of medical autopsy was not stated in the Qur'an and hadith, ijtihad method should be performed. The rules of Islamic jurisprudence is the rule that is reliable in addressing different issues of Islamic jurisprudence, including the issues of Islamic jurisprudence of medical autopsy. Thus, the rules of Islamic jurisprudence can be applied in consideration of determination of Islamic jurisprudence of medical autopsy. Keywords: autopsy, Islamic jurisprudence of autopsy, the rules of Islamic jurisprudence Abstrak: Bedah mayat kedokteran merupakan bedah mayat yang dilakukan untuk kepentingan dunia kedokteran. Di satu sisi, mayat merupakan jasad yang harus dihormati. Di sisi lain, profesi kedokteran tidak dapat terlepas dari pelaksanaan bedah mayat. Oleh karena itu, hukum Islam bedah mayat perlu ditetapkan dengan pertimbangan yang mendalam agar dapat diperoleh kemaslahatan yang terbaik. Berhubung hukum bedah mayat kedokteran tidak ada disebutkan dalam Al-qur’an dan hadits, metode ijtihad harus dilakukan. Kaidah fiqih merupakan kaidah yang cukup andal dalam menjawab berbagai masalah hukum Islam, termasuk masalah hukum bedah mayat kedokteran. Dengan demikian, kaidah fiqih dapat diterapkan dalam pertimbangan penetapan hukum Islam bedah mayat kedokteran. Kata kunci: Bedah mayat, hukum Islam bedah mayat, kaidah fiqih
Hubungan Kejadian Premenstrual Syndrome (PMS) dengan Kejadian Insomnia pada Mahasiswi Fakultas Kedokteran Unlam Banjarmasin: Kajian pada Mahasiswi Program Studi Pendidikan Dokter (PSPD) Angkatan 2010-2012 Dyah Ayu Kusumawarddhani; Achyar Nawi Husein; Mohammad Bakhriansyah
Berkala Kedokteran Vol 10, No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v10i1.933

Abstract

ABSTRACT: Pre Menstrual Syndrome (PMS) is a set of physical, psychological and emotional symptoms within, 7-10 days prior to menstruation. Some epidemiological studies showed that PMS are common in women of reproductive women, including university student. A variety of symptoms such as anxiety, fatigue, concentrating difficulty, lack of energy, headaches, abdominal pain, and other symptoms, including insomnia can be found in women who suffered from PMS. This research was aimed to analyze the association between PMS and insomnia within school of medicine students. It was an observational analytic study with cross - sectional approach. The population was 58 female students who met the inclusion criteria. Insomnia was assessed by Insomnia Rating Scale questionnaire. The result showed that 7 students with PMS having insomnia (29.16 %), 17 students with PMS having no insomnia (70.84 %), 5 students without PMS having insomnia (14.70 %), and 29 students with no PMS having no insomnia (85.30 %). The data were analyzed statistically by using chi-square test with 95% confidence interval. The p value was 0.184. It could be concluded that there is no significant association between PMS and insomnia in School of Medicine students of Lambung Mangkurat University. Key words : PMS, insomnia, students, School of Medicine ABSTRAK: Pre Menstrual Syndrome (PMS) merupakan kumpulan gejala fisik, psikologis dan emosi yang biasanya terjadi 7-10 hari sebelum menstruasi. Studi epidemiologi menunjukkan bahwa gejala PMS banyak ditemukan pada wanita usia reproduksi, termasuk salah satunya adalah mahasiswi. Berbagai gejala seperti cemas, lelah, susah konsentrasi, hilang energi, sakit kepala, sakit perut, dan gejala lainnya, termasuk insomnia dapat ditemui pada wanita yang mengalami PMS. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kejadian PMS dengan kejadian insomnia pada mahasiswi PSPD FK UNLAM. Penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian adalah 58 mahasiswi PSPD FK UNLAM yang memenuhi kriteria inklusi. Kejadian insomnia ditentukan dengan menggunakan kuesioner Insomnia Rating Scale. Dari kuesioner didapatkan data mahasiswi PMS dengan insomnia sebanyak 7 orang (29,16%), mahasiswa PMS tanpa insomnia sebanyak 17 orang (70,84%), mahasiswa non PMS dengan insomnia sebanyak 5 orang (14,70%), dan mahasiswa non PMS tanpa insomnia sebanyak 29 orang (85,30%). Hasil  analisis statistik menggunakan uji chi-square dengan tingkat kepercayaan 95% menunjukkan nilai p = 0,184. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara kejadian PMS dengan kejadian insomnia pada mahasiswi penderita PMS PSPD FK UNLAM. Kata kunci: PMS, insomnia, mahasiswi, PSPD FK UNLAM
Efektifitas Pyriproxyfen terhadap Larva Aedes aegypti yang Diambil dari Wilayah Banjarmasin Timur Ali Akbar; Istiana Istiana; Nelly Al Audhah
Berkala Kedokteran Vol 10, No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v10i1.928

Abstract

ABSTRACT: Dengue Haemorraghic Fever disease (DHF) is dangerous contagious disease which is caused by dengue virus which is brought by Aedes aegypti mosquito. Controling DHF depends on the control of the mosquito and its larvae. One of alternative larvacide that can control Aedes aegypti larvae is larvacide with active ingredient pyriproxyfen as Insecth Growth Regulator (IGR) which does not influece the hygiene of water, safety and does not increase the resistancy. The purpose of the study is to study and calculate efficacy of an IGR pyriproxyfen against Aedes aegypti larvae which was only collected from East Banjarmasin. The research is an experimental research that used seven kind dozes of IGR: follows 0,1 ppm, 0,05 ppm, 0,01 ppm, 0,008 ppm, 0,005 ppm, 0,003 ppm, and control. Each doze used four replications. The research results showed that IGR was effective to kill more than 70% larvae after seven days. The results of probit analysis were 0,001 ppm ana 0,065 ppm to kill 50% and 90% larvae. Keywords: Dengue Haemorraghic Fever, pyriproxyfen, Aedes aegypti ABSTRAK: Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit menular berbahaya yang disebabkan oleh virus dengue yang dibawa oleh nyamuk Aedes aegypti. Pengendalian DBD bergantung pada pengendalian nyamuk dan larvanya. Salah satu larvasida alternatif yang dapat digunakan untuk mengendalikan larva nyamuk Aedes aegypti adalah larvasida yang berbahan aktif pyriproxyfen dan berasal dari golongan Insect Growth Regulator (IGR) yang tidak mempengaruhi kebersihan air, aman, dan tidak meningkatkan resistensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menghitung efikasi IGR berbahan aktif pyriproxyfen terhadap larva Aedes aegypti yang berasal dari Kecamatan Banjarmasin Timur. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yang menggunakan tujuh macam dosis 0,1 ppm, 0,05 ppm, 0,01 ppm, 0,008 ppm, 0,005 ppm, 0,003 ppm, dan kontrol. Setiap dosis menggunakan empat kali pengulangan. Hasil penelitian menunjukan bahwa IGR efektif untuk membunuh 70% larva uji setelah tujuh hari pemaparan. Berdasarkan analisis probit dosis yang diperlukan untuk membunuh 50% (LC50) dan 90%(LC90) larva uji adalah berturut-turut sebesar 0,001 ppm dan 0,065 ppm. Kata kunci : Demam Berdarah Dengue,  pyriproxyfen, Aedes aegypti

Page 2 of 4 | Total Record : 32