cover
Contact Name
Eko Suhartono
Contact Email
esuhartono@ulm.ac.id
Phone
+6281251126368
Journal Mail Official
jbk@ulm.ac.id
Editorial Address
Jalan Veteran No.128 Banjarmasin
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Berkala Kedokteran
ISSN : 14120550     EISSN : 25485660     DOI : http://dx.doi.org/10.20527
Core Subject : Health, Science,
Berkala Kedokteran is a journal contains scientific articles from original research and literature review in medical and health scope. It is published twice in a year, on February and September.
Articles 34 Documents
Search results for , issue "Vol 10, No 2 (2014)" : 34 Documents clear
Perbedaan Kadar Methylglyoxal (MG) Ovarium Tikus Putih (Rattus Norvegicus) Terpajan Kadmium dan Tidak Terpajan Kadmium Husna, Annisa Halida; Suhartono, Eko; Noor, Meitria Syahadatina
Berkala Kedokteran Vol 10, No 2 (2014): September 2014
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v10i12.956

Abstract

ABSTRACT: Cadmium (Cd) is a heavy metal nonessensial that can pollute the environment and if it is included into the food chain and fish or plant indirectly also tainted Cd. If fish or plant that is contaminated with Cd consumed persistently by human beings in a long time will accumulate in the body and be chronic toxic by changing structural also functional an organ of the ovary. Determine the level Cd toxic in the ovary with measures level of methylglyoxal (MG). This research using the ovaries of white rats age of 2-3 months. This research to know the difference in the levels of MG of rat ovaries exposed and unexposed Cd. This study is experimental laboratory on the two groups, the control group P(0) that are aquadest as much as 2 ml per day for 4 weeks an exposure group P(1) who is given a Cd with a concentration of 6 mg/L are given as much as 2 ml for 4 weeks. The research results obtained average in the control group P(0) of 0,005 and treatment group P(1) by 0,016. Then to test normality Shapiro-wilk, after a normal, then do a non parametric tests Mann-whitney and meaningful differences between the results obtained by the control group p<0,005. There is a meaningful difference between the control group MG level of P(0) with the treatment group P(1) where the presence of increased levels of MG on Cd exposure groups. Keywords: cadmium, methylglyoxal, ovarium, stress oksidatif ABSTRAK: Kadmium (Cd) adalah logam berat nonessensial yang dapat mencemari lingkungan dan jika masuk ke dalam rantai makanan maka ikan ataupun tanaman secara tidak langsung juga tercemar Cd. Jika ikan atau tanaman yang tercemar Cd dikonsumsi terus-menerus oleh manusia dalam jangka waktu lama akan terakumulasi di tubuh dan berakibat toksiksitas kronis dengan mengubah struktural juga fungsional dari organ ovarium. Untuk mengetahui tingkat toksiksitas Cd di dalam ovarium dengan mengukur kadar methylglyoxal (MG). Penelitian ini menggunakan ovarium tikus putih yang berumur 2-3 bulan. Tujuan penelitian untuk mengetahui perbedaan kadar MG ovarium tikus putih yang terpajan Cd dan tidak terpajan Cd. Penelitian laboratorik eksperimental dilakukan dengan 2 kelompok, yaitu kelompok kontrol P(0) yang diberi akuadest 2 ml setiap hari selama 4 minggu dan kelompok perlakuan P(1) yang diberi Cd konsentrasi 6 mg/L sebanyak 2 ml selama 4 minggu. Hasil penelitian didapatkan rerata kelompok kontrol 0.005 dan kelompok perlakuan P(1) 0.016. Data kemudian di uji normalitas Shapiro-Wilk menunjukan p=0,000 (p<0,005). Kemudian dilakukan uji non-parametrik Mann-Whitney p=0,000 (p<0,005). Dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan bermakna kadar MG antara kelompok kontrol P(0) yang tidak terpajan Cd dengan kelompok perlakuan P(1) yang terpajan Cd. Kata-kata kunci: kadmium, methylglyoxal, ovarium, stress oksidatif
DESCRIPTION OF EFFECTIVENESS OF CILOSTAZOL AND ASPIRIN AS ADJUVANT OF DIABETIC FOOT WAGNER GRADE II AND III Nurikhwan, Pandji Winata; Noor, Zairin; Al Audhah, Nelly
Berkala Kedokteran Vol 10, No 2 (2014): September 2014
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v10i12.961

Abstract

Abstract: Inflammation in patients with diabetic foot will activate platelets and cause aggregation and lead to stasis of blood flow. This inflammation is caused by infection of the diabetic foot. Management of diabetic foot infections in patients is the use of antibiotics. However, the presence of vascularization disorders causing antibiotic delivery to the site of infection to be disrupted so that the process of eradication of infection would be inhibited. One of inflamation markers on patient with diabetic foot is increasing of ESRs.The general objective of this study was to determine the efficacy difference between cilostazol and aspirin as an adjuvant to accelerate tissue healing of diabetic foot care Wagner Grade II – III based on erythrocyte sedimentation rate. This study is a descriptive study using the double-blind and randomized pretest-posttest design. A total of 14 samples is obtained by consecutive sampling. The results showed that four patients given cilostazol showed a 35% reduction in ESR and ten patients were given aspirin showed a 35% reduction in ESR. It can be concluded giving cilostazol and aspirin as adjuvant diabetic foot Wagner II and III showed a decrease in ESR. Key words: erythrocyte sedimentation rate, diabetic foot, cilostazol, aspirin. Listen 
Gambaran Kejadian Insomnia pada Wanita Menopause di Kelurahan Teluk Dalam Tahun 2013: Kajian Berdasarkan Usia Responden dan Lama Menopause Wijayanti, Devita; Husein, Achyar Nawi; Arifin, Syamsul
Berkala Kedokteran Vol 10, No 2 (2014): September 2014
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v10i12.966

Abstract

ABSTRACT: Insomnia is a sleep disorder which manifest as difficulty to start sleep, difficulty to maintain sleep or wake up with feeling of dissatisfied sleep. Women showed the higher prevalence of insomnia than men due to the occurrence of menopause is associated with declining of estrogen levels in postmenopausal women. The aim of this study was to describe the incidence of insomnia in menopausal women based on menopausal age and menopausal periode in Teluk Dalam Area in Banjarmasin 2013 . The research method was descriptive with  cross - sectional approach . The number of samples according to Fraenkel and Wallen were 100 people with cluster random sampling technique. The results between menopausal women showed 60 % had insomnia and 40 % did not have insomnia . Based on the menopausal age, the incidence of insomnia in menopausal women aged 45-46 years old were 6.7 % , 47-48 years old were 8.3 % , 49-50 years old were 13.3 % , 51-52 years old were 8.3 % , 53-54 years old were 15 % and the most common age were 55 years as 48.4%. Based on the menopausal periode, 58.3%  women who experienced insomnia were less than five years and 41.7% were more than five years. It can be concluded that the most common age of woman who experienced insomnia was 55 years old and the most common menopausal periode of woman who experienced insomnia was less than 5 years.Key words: menopause, insomnia, usia, periode menopause. ABSTRAK: Insomnia merupakan gangguan tidur yang dapat berupa kesulitan untuk memulai tidur, kesulitan mempertahankan tidur atau bangun pagi dengan perasaan tidak puas tidur. Wanita menunjukkan prevalensi insomnia lebih sering dibanding pria disebabkan terjadinya menopause yang berhubungan dengan menurunnya kadar estrogen pada wanita menopause. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran kejadian insomnia pada wanita menopause berdasarkan usia menopause dan lama menopause di Kelurahan Teluk Dalam Banjarmasin Tahun 2013. Metode penelitian adalah deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Jumlah sampel menurut Fraenkel dan Wallen sebanyak 100 orang dengan teknik pengambilan sampel cluster random sampling. Hasil penelitian menunjukkan 60% mengalami insomnia dan 40% tidak mengalami insomnia. Berdasarkan usia menopause yang dialami, kejadian insomnia pada wanita menopause usia 45-46 tahun sebanyak 6,7%, usia 47-48 tahun sebanyak 8,3%, usia 49-50 tahun sebanyak 13,3%, usia 51-52 tahun sebanyak 8,3%, usia 53-54 tahun sebanyak 15% dan paling banyak terjadi pada usia 55 tahun sebanyak 48,4%. Jumlah responden yang mengalami insomnia berdasarkan lama menopause, maka pada wanita yang mengalami menopause kurang dari lima tahun sebanyak 58,3% dan pada wanita menopause lebih dari lima tahun sebanyak 41,7%. Kesimpulan penelitian ini yaitu jumlah wanita menopause yang paling banyak mengalami insomnia adalah pada usia 55 tahun dan pada wanita yang mengalami menopause  kurang dari 5 tahun. Kata-kata kunci: menopause, insomnia, age, menopausal periode
Perbedaan Kadar Ureum Serum Pasien yang Menderita Diabetes Melitus Tipe 2 kurang dari 5 Tahun dan lebih dari sama dengan 5 Tahun: Studi Kasus di RSUD Ulin Banjarmasin Periode Juni-Agustus 2013 Kharismawati, Lucky Bintang; Arifin, Miftahul; Noor, Meitria Syahadatina
Berkala Kedokteran Vol 10, No 2 (2014): September 2014
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v10i12.957

Abstract

ABSTRACT: Diabetes mellitus (DM) is uncontaminated diseases which has chronic progressive characteristic. Type 2 diabetes patients with a long duration can lead to microvascular complication, one of which is diabetic nephropathy. Serum urea levels are significant parameters for kidney function tests. Kidney damage caused by type 2 DM can lead to elevated levels of serum urea. This study aimed to determine differences between serum urea levels of patients who suffered type 2 DM for < 5 years and ≥ 5 years in RSUD Ulin Banjarmasin period June-August 2013. The research used observational analytic with cross sectional approach. Method of sampling used by purposive sampling. A total of 72 subjects based on inclusion and exclusion criteria, consisting of 33 people who suffered type 2 DM < 5 years and 39 people who suffered type 2 DM ≥ 5 tahun. Research showed that  the mean serum urea levels who suffered type 2 DM was 44,67 mg/dL and the mean serum urea levels who suffered type 2 DM was 58,05 mg/dL.  Data were analyzed by unpaired T-test with 95 % confidence level showed that there was difference serum urea levels of patients who suffered type 2 DM for < 5 years and ≥ 5 years in RSUD Ulin Banjarmasin period June-August 2013. Key words: serum urea, diabetes mellitus type 2 ABSTRAK: Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit tidak menular yang bersifat kronik progresif. Pasien DM tipe 2 dengan durasi yang lama dapat menyebabkan terjadinya kompilkasi mikrovaskular, salah satunya adalah nefropati diabetik. Kadar ureum serum adalah parameter yang signifikan untuk tes fungsi ginjal. Kerusakan ginjal yang disebabkan oleh DM tipe 2 dapat menyebabkan terjadinya peningkatan kadar ureum serum. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kadar ureum serum pasien yang menderita DM tipe 2 < 5 tahun dan ≥ 5 tahun di RSUD Ulin Banjarmasin Periode Juni-Agustus 2013. Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Cara pengambilan sampel dengan menggunakan purposive sampling. Sebanyak 72 subjek penelitian sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi yang terdiri dari pasien yang menderita DM tipe 2 < 5 tahun sebanyak 33 orang dan pasien yang menderita DM tipe 2 ≥ 5 tahun sebanyak 39 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata kadar ureum serum pada pasien yang menderita DM tipe 2 < 5 tahun sebesar 44,67 mg/dL dan rerata kadar ureum serum pada pasien yang menderita DM tipe 2 ≥ 5 tahun sebesar 58,05 mg/dL. Hasil analisis data menggunakan uji T tidak berpasangan dengan tingkat kepercayaan 95% menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kadar ureum serum pasien yang menderita DM tipe 2 < 5 tahun dan ≥ 5 tahun di RSUD Ulin Banjarmasin Periode Juni-Agustus 2013. Kata-kata kunci: ureum serum, diabetes melitus tipe 2
Tingkat Pengetahuan Tentang Penyaki Menular Seksual pada Siswa SMA Negeri di Banjarmasin Panenga, Dwiputra Tesan; Noor, Robiana M.; Triawanti, Triawanti
Berkala Kedokteran Vol 10, No 2 (2014): September 2014
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v10i12.962

Abstract

ABSTRACT:Sexually transmitted disease is a disease transmitted primarily through sexual intercours. Sexually transmitted diseases have become a serious problem for teenagers around the world. In 2012 obtained the age of 15-24 years 37 cases of STDs in hospitals Ulin Banjarmasin. Knowledge of sexually transmitted diseases is regarded as one of the methods that can be used to reduce the prevalence of this disease. The purpose of this study was to determine the level of knowledge about sexually transmitted diseases in high school students in the country Banjarmasin. This study is a descriptive study with cross sectional approach. A total of 380 high school students selected as a sample country using cluster random sampling technique. The data was collected using a questionnaire. The results of this study indicate that as many as 213 people (56.05%) students had a sufficient level of knowledge, 114 people (37.89%) less knowledgeable, and only 23 people (6.05%) were both knowledgeable about sexually transmitted diseases. Education and outreach are needed to increase students knowledge about STDs. Key words: sexually transmitted diseases, knowledge, teens, high school students ABSTRAK: Penyakit menular seksual  (PMS) adalah penyakit yang ditularkan terutama melalui hubungan seksual. Penyakit menular seksual telah menjadi masalah serius bagi remaja di seluruh dunia. Pada tahun 2012 didapatkan pada usia 15-24 tahun sebanyak 37 kasus PMS di RSUD Ulin Banjarmasin. Pengetahuan tentang penyakit menular seksual dianggap sebagai salah satu metode yang dapat digunakan untuk mereduksi prevalensi penyakit ini. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat pengetahuan tentang penyakit menular seksual pada siswa SMA negeri di Banjarmasin. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Sebanyak 380 orang siswa SMA negeri dipilih sebagai sampel dengan menggunakan teknik cluster random sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa sebanyak 213 orang (56,05%) siswa memiliki tingkat pengetahuan yang cukup, 114 orang (37,89%) berpengetahuan kurang, dan hanya 23 orang (6,05%) yang berpengetahuan baik tentang penyakit menular seksual. Pendidikan dan sosialisasi dibutuhkan untuk meningkatkan pengetahuan siswa tentang PMS. Kata-kata kunci: penyakitmenularseksual, pengetahuan, remaja, siswa SMA
Efek Pajanan Kadmium (Cd) terhadap Kadar Malondialdehyde (MDA) pada Ovarium Tikus Putih (Rattus norvegicus) Bakhriansyah, Mohammad; Arizal, Muhammad Hendy; Suhartono, Eko
Berkala Kedokteran Vol 10, No 2 (2014): September 2014
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v10i12.953

Abstract

ABSTRACT: Cadmium (Cd) is heavy metal that pollutant in the environment. Chronic intake of Cd induces toxicity on liver, kidney, and ovary. Cd could damage the tissue with stress oxidative damage mechanism. Malondyaldehyde (MDA) is the product of lipid peroxidation used as a measure of lipid peroxidation and stress oxidative damage. This was an experimental laboratoric using two groups. The control group P(0) was given aquadest 2 ml per day for 4 weeks and the exposure group P(1) was given a solution of Cd with a concentration of 1.2 x 10-2 mg for 4 weeks. The results showed the mean of MDA level in the P(0) and the P(1) were 214.80 μM and 232.00 μM, respectively. Statistical analysis using Unpaired Test-T obtained the result p = 0.016 (p<0.05). It can be concluded that Cd causes increased MDA levels in rats ovary. Keywords: Cadmium, malondialdehyde, ovarium, oxidative stress, rats. ABSTRAK : Kadmium (Cd) merupakan logam berat bersifat polutan yang mencemari lingkungan. Paparan kronik Cd berefek toksik terhadap hati, ginjal, dan ovarium. Cd merusak jaringan melalui mekanisme stres oksidatif. Malondialdehyde (MDA) merupakan produk akhir dari peroksidasi lipid  yang menjadi parameter dalam mengukur kerusakan oksidatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek pajanan Cd terhadap kadar MDA ovarium tikus putih. Penelitian ini bersifat eksperimental laboratorik yang dilakukan pada 2 kelompok, yakni kelompok kontrol P(0) yang diberi aquadest sebanyak 2 ml selama 4 minggu dan kelompok perlakuan P(1) yang diberi Cd dengan konsentrasi 1,2 x 10-2 mg dalam 2 ml aquadest setiap hari selama 4 minggu. Hasil penelitian didapatkan rerata pada kelompok kontrol P(0) sebesar 214,80 ± 22,90 μM dan pada kelompok perlakuan P(1) sebesar 232,00 ± 20,40 μM dengan nilai p = 0,016 (p<0,05). Dapat disimpulkan bahwa Cd menyebabkan peningkatan kadar MDA pada ovarium tikus putih. Kata-kata kunci: Kadmium, malondialdehyde, ovarium, stres oksidatif, tikus putih. 
Hubungan Karakteristik Pengguna Jalan Korban Kecelakaan Lalu Lintas Darat dengan Derajat Keparahan Cedera Kepala: Tinjauan Terhadap Pasien Cedera Kepala di RSUD Ulin Banjarmasin Periode Juni - September 2013 Wilianto, Bagas; Lahdimawan, Ardik; Al Audhah, Nelly
Berkala Kedokteran Vol 10, No 2 (2014): September 2014
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v10i12.967

Abstract

ABSTRACT: Head injury is the leading cause of death and long-term disability. Head injuries can occur due to various reasons one of which is traffic accidents. Accidents can happen in a variety of road users such as pedestrians, cyclists, passenger vehicles, motorcyclists and car drivers. The purpose of this study was to determine the relationship of road users characteristics with the severity of head injuries in emergency room of Ulin Hospital. The study design was an analytic descriptive with cross sectional approach. The number of samples in this study were 121 people who were taken in accordance with the inclusion and exclusion criteria using consecutive sampling method. Most of road users who suffered head injury were  97 persons motorcyclists (80.1%), followed by 15 pedestrians  (12.4%), 4 cyclists and car drivers (3.3%) as well as 1 passenger vehicle (0.8%). Most of patients had  mild head injury (59.5%) followed by moderate head injury (24.8%) and severe head injury (15.7%). Based on the results, pedestrians had the most severe head injuries, while the vehicle  passenger and the car driver had the mildest head injuries. Based on statistical tests, there were no significant relationship between the characteristics of the traffic aaccident victim with head injury severity, p = 0.070 (p <0.05). It can be concluded that all road users are at risk for severe head injury so that all road users are required to be careful on the highway. Key words: road traffic accident, road users, head injury, GCS ABSTRAK: Cedera kepala merupakan penyebab utama kematian dan kecacatan jangka panjang. Cedera kepala dapat terjadi akibat berbagai sebab salah satunya Kecelakaan Lalu Lintas Darat (KLLD). Kecelakaan dapat terjadi pada berbagai pengguna jalan seperti pejalan kaki, pengguna sepeda, penumpang mobil, pengendara sepeda motor dan pengendara mobil. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan karakteristik pengguna jalan KLLD dengan derajat keparahan cedera kepala di IGD RSUD Ulin. Rancangan penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel pada penelitian ini adalah 121 orang yang diambil sesuai kriteria inklusi eksklusi dengan metode consecutive sampling. Pengendara sepeda motor merupakan pengguna jalan terbanyak yang mengalami cedera kepala yaitu 97 orang (80,1%) disusul oleh pejalan kaki 15 orang (12,4 %), pengguna sepeda dan pengendara mobil 4 orang (3,3%) serta penumpang mobil 1 orang (0,8 %). Derajat  cedera kepala yang terbanyak adalah cedera kepala ringan (59,5%) disusul cedera kepala sedang (24,8 %) dan cedera kepala berat (15,7 %). Berdasarkan hasil penelitian kelompok pejalan kaki mengalami cedera kepala paling berat, sedangkan penumpang dan pengendara mobil merupakan kelompok dengan cedera kepala teringan. Berdasarkan uji statistik,  tidak terdapat hubungan yang bermakna antara karakteristik korban KLLD dengan derajat keparahan cedera kepala, p = 0,070 (p < 0,05). Dapat disimpulkan bahwa semua pengguna jalan memiliki risiko untuk mengalami cedera kepala yang berat sehingga seluruh pengguna jalan wajib berhati-hati di jalan raya. Kata-kata kunci: kecelakaan lalu lintas darat, pengguna jalan, cedera kepala, GCS
DESCRIPTION OF EFFECTIVENESS OF CILOSTAZOL AND ASPIRIN AS ADJUVANT OF DIABETIC FOOT WAGNER GRADE II AND III Pandji Winata Nurikhwan; Zairin Noor; Nelly Al Audhah
Berkala Kedokteran Vol 10, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (470.685 KB) | DOI: 10.20527/jbk.v10i12.961

Abstract

Abstract: Inflammation in patients with diabetic foot will activate platelets and cause aggregation and lead to stasis of blood flow. This inflammation is caused by infection of the diabetic foot. Management of diabetic foot infections in patients is the use of antibiotics. However, the presence of vascularization disorders causing antibiotic delivery to the site of infection to be disrupted so that the process of eradication of infection would be inhibited. One of inflamation markers on patient with diabetic foot is increasing of ESRs.The general objective of this study was to determine the efficacy difference between cilostazol and aspirin as an adjuvant to accelerate tissue healing of diabetic foot care Wagner Grade II – III based on erythrocyte sedimentation rate. This study is a descriptive study using the double-blind and randomized pretest-posttest design. A total of 14 samples is obtained by consecutive sampling. The results showed that four patients given cilostazol showed a 35% reduction in ESR and ten patients were given aspirin showed a 35% reduction in ESR. It can be concluded giving cilostazol and aspirin as adjuvant diabetic foot Wagner II and III showed a decrease in ESR. Key words: erythrocyte sedimentation rate, diabetic foot, cilostazol, aspirin. Listen 
Perbedaan Kadar Methylglyoxal (MG) Ovarium Tikus Putih (Rattus Norvegicus) Terpajan Kadmium dan Tidak Terpajan Kadmium Annisa Halida Husna; Eko Suhartono; Meitria Syahadatina Noor
Berkala Kedokteran Vol 10, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v10i12.956

Abstract

ABSTRACT: Cadmium (Cd) is a heavy metal nonessensial that can pollute the environment and if it is included into the food chain and fish or plant indirectly also tainted Cd. If fish or plant that is contaminated with Cd consumed persistently by human beings in a long time will accumulate in the body and be chronic toxic by changing structural also functional an organ of the ovary. Determine the level Cd toxic in the ovary with measures level of methylglyoxal (MG). This research using the ovaries of white rats age of 2-3 months. This research to know the difference in the levels of MG of rat ovaries exposed and unexposed Cd. This study is experimental laboratory on the two groups, the control group P(0) that are aquadest as much as 2 ml per day for 4 weeks an exposure group P(1) who is given a Cd with a concentration of 6 mg/L are given as much as 2 ml for 4 weeks. The research results obtained average in the control group P(0) of 0,005 and treatment group P(1) by 0,016. Then to test normality Shapiro-wilk, after a normal, then do a non parametric tests Mann-whitney and meaningful differences between the results obtained by the control group p<0,005. There is a meaningful difference between the control group MG level of P(0) with the treatment group P(1) where the presence of increased levels of MG on Cd exposure groups. Keywords: cadmium, methylglyoxal, ovarium, stress oksidatif ABSTRAK: Kadmium (Cd) adalah logam berat nonessensial yang dapat mencemari lingkungan dan jika masuk ke dalam rantai makanan maka ikan ataupun tanaman secara tidak langsung juga tercemar Cd. Jika ikan atau tanaman yang tercemar Cd dikonsumsi terus-menerus oleh manusia dalam jangka waktu lama akan terakumulasi di tubuh dan berakibat toksiksitas kronis dengan mengubah struktural juga fungsional dari organ ovarium. Untuk mengetahui tingkat toksiksitas Cd di dalam ovarium dengan mengukur kadar methylglyoxal (MG). Penelitian ini menggunakan ovarium tikus putih yang berumur 2-3 bulan. Tujuan penelitian untuk mengetahui perbedaan kadar MG ovarium tikus putih yang terpajan Cd dan tidak terpajan Cd. Penelitian laboratorik eksperimental dilakukan dengan 2 kelompok, yaitu kelompok kontrol P(0) yang diberi akuadest 2 ml setiap hari selama 4 minggu dan kelompok perlakuan P(1) yang diberi Cd konsentrasi 6 mg/L sebanyak 2 ml selama 4 minggu. Hasil penelitian didapatkan rerata kelompok kontrol 0.005 dan kelompok perlakuan P(1) 0.016. Data kemudian di uji normalitas Shapiro-Wilk menunjukan p=0,000 (p<0,005). Kemudian dilakukan uji non-parametrik Mann-Whitney p=0,000 (p<0,005). Dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan bermakna kadar MG antara kelompok kontrol P(0) yang tidak terpajan Cd dengan kelompok perlakuan P(1) yang terpajan Cd. Kata-kata kunci: kadmium, methylglyoxal, ovarium, stress oksidatif
Hubungan Karakteristik Pengguna Jalan Korban Kecelakaan Lalu Lintas Darat dengan Derajat Keparahan Cedera Kepala: Tinjauan Terhadap Pasien Cedera Kepala di RSUD Ulin Banjarmasin Periode Juni - September 2013 Bagas Wilianto; Ardik Lahdimawan; Nelly Al Audhah
Berkala Kedokteran Vol 10, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v10i12.967

Abstract

ABSTRACT: Head injury is the leading cause of death and long-term disability. Head injuries can occur due to various reasons one of which is traffic accidents. Accidents can happen in a variety of road users such as pedestrians, cyclists, passenger vehicles, motorcyclists and car drivers. The purpose of this study was to determine the relationship of road users characteristics with the severity of head injuries in emergency room of Ulin Hospital. The study design was an analytic descriptive with cross sectional approach. The number of samples in this study were 121 people who were taken in accordance with the inclusion and exclusion criteria using consecutive sampling method. Most of road users who suffered head injury were  97 persons motorcyclists (80.1%), followed by 15 pedestrians  (12.4%), 4 cyclists and car drivers (3.3%) as well as 1 passenger vehicle (0.8%). Most of patients had  mild head injury (59.5%) followed by moderate head injury (24.8%) and severe head injury (15.7%). Based on the results, pedestrians had the most severe head injuries, while the vehicle  passenger and the car driver had the mildest head injuries. Based on statistical tests, there were no significant relationship between the characteristics of the traffic aaccident victim with head injury severity, p = 0.070 (p <0.05). It can be concluded that all road users are at risk for severe head injury so that all road users are required to be careful on the highway. Key words: road traffic accident, road users, head injury, GCS ABSTRAK: Cedera kepala merupakan penyebab utama kematian dan kecacatan jangka panjang. Cedera kepala dapat terjadi akibat berbagai sebab salah satunya Kecelakaan Lalu Lintas Darat (KLLD). Kecelakaan dapat terjadi pada berbagai pengguna jalan seperti pejalan kaki, pengguna sepeda, penumpang mobil, pengendara sepeda motor dan pengendara mobil. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan karakteristik pengguna jalan KLLD dengan derajat keparahan cedera kepala di IGD RSUD Ulin. Rancangan penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel pada penelitian ini adalah 121 orang yang diambil sesuai kriteria inklusi eksklusi dengan metode consecutive sampling. Pengendara sepeda motor merupakan pengguna jalan terbanyak yang mengalami cedera kepala yaitu 97 orang (80,1%) disusul oleh pejalan kaki 15 orang (12,4 %), pengguna sepeda dan pengendara mobil 4 orang (3,3%) serta penumpang mobil 1 orang (0,8 %). Derajat  cedera kepala yang terbanyak adalah cedera kepala ringan (59,5%) disusul cedera kepala sedang (24,8 %) dan cedera kepala berat (15,7 %). Berdasarkan hasil penelitian kelompok pejalan kaki mengalami cedera kepala paling berat, sedangkan penumpang dan pengendara mobil merupakan kelompok dengan cedera kepala teringan. Berdasarkan uji statistik,  tidak terdapat hubungan yang bermakna antara karakteristik korban KLLD dengan derajat keparahan cedera kepala, p = 0,070 (p < 0,05). Dapat disimpulkan bahwa semua pengguna jalan memiliki risiko untuk mengalami cedera kepala yang berat sehingga seluruh pengguna jalan wajib berhati-hati di jalan raya. Kata-kata kunci: kecelakaan lalu lintas darat, pengguna jalan, cedera kepala, GCS

Page 2 of 4 | Total Record : 34