cover
Contact Name
Astrid Veranita Indah
Contact Email
astrid.veranita@uin-alauddin.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
darmawati.h@uin-alauddin.ac.id
Editorial Address
Fakultas Ushuluddin & Filsafat UIN Alauddin Makassar, Jl. Sultan Alauddin No. 63, Jl. St alauddin no.36 Gowa-Samata
Location
Kab. gowa,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Sulesana
Core Subject : Religion,
studi-studi keIslaman yang erat dengan issu sosial, teologi, hukum, Pendidikan dan filsafat. Studi ini dimulai dengan tema Kajian Kritis Akulturasi Islam dengan Budaya Local, Metode Memahami Maksud Syariah , Maulid Dan Natal (Studi Perbandingan Antara Islam Dan Kristen), Akal dalam Al-Quran, Pendidikan Agama Dan Moral Dalam Perspektif Global, Sinergitas Filsafat Dan Teologi Murthadha Muthahhari, Perspektif Perilaku Menyimpang Anak Remaja : Studi berbagai masalah social.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 14 No 1 (2020)" : 6 Documents clear
KEBIJAKAN BUPATI TERHADAP PENGELOLAAN TAMBANG MATERIAL DESA BALONG KECAMATAN UJUNG LOE KABUPATEN BULUKUMBA (Studi Terhadap Perda Nomor 7 Tahun 2016) Anggriani Alamsyah
Sulesana Vol 14 No 1 (2020)
Publisher : Sulesana: Jurnal Wawasan Keislaman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/sulesana.v14i1.15616

Abstract

Pemeritah, masyarakat, pengusaha adalah entitas yang saling berhubungan, ketiganya secara ideal bekerja sama untuk menghasilkan kebijakan public, yang memberikan manfaat bagi masing-masing pihak. Namun pada kenyataannya tidak selalu demikian, untuk kasus penyelenggaraan penambangan pasir di Kabupaten Bulukumba, ada hal yang tidak berjalan dengan maksimal. Munculnya penambang illegal mengisyaratkan kurangnya pengawasan pemerintah, dan lemahnya posisi tawar masyarakat dalam mempertahankan lingkungannya. Pemerintah Kabupaten Bulukumba sudah melakukan berbagai usaha baik sosialisasi, pencegahan dan penindakan namun tidak membawa perubahan yang berarti. Pemerintah Kabupaten Bulukumba hendaknya mampu menjadi regulator yang mengedepankan kepentingan dan kesejahteraan masyarakat, sesuai amanat UUD 1945 terutaman pasal 33.
BAHASA LOKAL VERSUS BAHASA INDONESIA; NASIONALISME ATAU ASHABIYAH Kamaruddin Mustamin
Sulesana Vol 14 No 1 (2020)
Publisher : Sulesana: Jurnal Wawasan Keislaman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/sulesana.v14i1.16723

Abstract

Bahasa telah menjadi alat bantu yang berperan penting dalam kehidupan, tidak hanya bagi manusia, tapi bahkan bagi seluruh makhluk hidup. Bahasa menjadi jembatan komunikasi antara manusia guna menyampaikan keinginan, pikiran, emosi dan lain-lainnya. Bagi agama, bahasa menjadi sarana penting bagi dakwah, dan secara komunal, bahasa telah menjadi ekspresi budaya bagi menegaskan eksistensi kesukuan, dan secara nasional menjadi alat bagi pemersatu bangsa yang memiliki keragaman suku seperti halnya Indonesia.Namun ternyata tidak dapat dipungkiri bahwa bahasa yang seharusnya menjadi penegas identitas kesukuan tersebut malah menjadi media ashabiyah yang dibingkai oleh arogansi dan dominasi kesukuan jika pribadi-pribadi penuturnya tidak memiliki kepekaaan sosial dan semangat nasionalisme. Tidak jarang ditemukan person-person yang masih tetap menggunakan bahasa daerah masing-masing jika berdialog di tempat-tempat umum yang tentunya hanya dipahami oleh sesama suku saja. Meskipun hal itu dengan maksud yang baik dalam rangka merekatkan kembali emosi kesukuan, namun bagi suku lain yang ikut mendengar dan tidak paham maka bisa jadi memicu ketersinggungan dan kesalahpahaman.Pada sisi lain, upaya menjaga eksistensi bahasa lokal (daerah) yang sarat dengan kearifan lokal tetap penting dipertahankan seiring dengan upaya menumbuhkan kearifan lokal dalam rangka menjaga dan melestarikan kebudayaan nasional. Pada sisi yang lain pula, bahasa indonesia tetap dibutuhkan guna menjadi kohesi sosial di tengah kebudayaan yang heterogen di Indonesia. Oleh karena itu, dibutuhkan upaya serius untuk tetap menjaga eksistensi keduanya tanpa harus membangun sekat-sekat sosial baru yang memicu disintegrasi bangsa.
FALSAFAH HUKUM PERBANKAN SYARIAH DI INDONESIA Husain Husain
Sulesana Vol 14 No 1 (2020)
Publisher : Sulesana: Jurnal Wawasan Keislaman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/sulesana.v14i1.16816

Abstract

Wujud sebuah konsep mesti dapat menjawab pertanyaan secara filosofis. Sebagai bangsa yang mayoritas beragama Islam, eksistensi perbankan syariah merupakan wujud cita-cita yang sudah lama dipendam. Eksistensi hukum perbankan syariah di Indonesia tidak hanya menyuguhkan legalitas implementasinya tetapi juga linealitas dengan nilai sumber utama hukum Islam yaitu Al-qur’an dan hadis. Tulisan ini selain menarasikan aspek ontologisnya, juga menyajikan sudut epistemologis dan aksiologisnya sehingga tulisan ini menjadi sangat penting sebagai pintu masuk menyelami dinamika hukum perbankan syariah di Indonesia. AbstractThe form of a concept must be able to answer questions philosophically. As a nation that is predominantly Muslim, the existence of Islamic banking is a manifestation of long-buried ideals. The existence of sharia banking law in Indonesia not only presents the legality of its implementation but also the lineality with the main source values of Islamic law, namely the Al-quran and hadith. In addition to narrating the ontological aspects of this paper, this paper also presents its epistemological and axiological angles so that this paper becomes very important as an entry point to explore the dynamics of Islamic banking law in Indonesia.
PERAN PEREMPUAN DALAM PERSPEKTIF JAMAAH AN-NADZIR DI ROMANG LOMPOA KECAMATAN BONTOMARANNU KAB. GOWA SULAWESI SELATAN Marwah Marwah; Darmawati H; Andi Nurbaethy
Sulesana Vol 14 No 1 (2020)
Publisher : Sulesana: Jurnal Wawasan Keislaman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/sulesana.v14i1.16817

Abstract

Penelitian ini berjudul “Peran Perempuan dalam Perspektif Jamaah An-Nadzir di Romang Lompoa Kec. Bontomarannu Kab. Gowa Sulawesi Selatan”. Penelitian ini dilatrabelakangi oleh permasalahan adanya perbedaan jamaah An-Nadzir dengan masyarakat dari segi tempat tinggal, perilaku  keagamaan dan perbedaan-perbedaan lain yang mempengaruhi peran perempuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Pandangan teologis dalam Jamaah An-Nadzir, (2) Peran dan posisi perempuan dalam Jamaah An-Nadzir. Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan dengan jenis pengolahan data deskriptif kualitatif yang menggunakan pendekatan teologis dan fenomenologis. Adapun sumber data penelitian ini adalah anggota jamaah An-Nadzir khususnya kaum perempuan. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dokumentasi dan studi kepustakaan, sedangkan teknik pengolahan data melalui empat tahap yaitu reduksi data, penyajian data, teknik perbandingan dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 1) pandangan teologis pada Jamaah An-Nadzir cukup berbeda jika dibandingkan dengan kelompok keagamaan lainnya, yakni praktek keagamaan yang cenderung berbeda dengan praktek mayoritas umat Islam di Indonesia. Hal yang paling menonjol pada jamaah An-Nadzir terletak pada tampilan fisiknya yang memiliki ciri khas tersendiri, dan juga terkait waktu penentuan masuknya ramadan dan lebaran yang selalu lebih awal dibanding jadwal yang telah ditentukan oleh pemerintah. 2) Bagi Jamaah An-Nadzir peran dan posisi perempuan juga cukup berbeda, yakni perempuan ditempatkan di rumah. Perempuan bagi Jamaah An-Nadzir dibatasi ke ranah publik. Bagi perempuan jamaah An-Nadzir mereka tidak pernah merasa bekerja sebagai tujuan hidup atau sesuatu yang mereka inginkan  setelah  menikah. Karena kehidupan perempuan setelah menikah sepenuhnya adalah seputar mengurus suami dan anak, atau terbatas pada peran domestik. Selain itu dalam penentuan jodoh bagi perempuan Jamaah An-Nadzir tidak diberi kebebasan dalam memilih namun dipilihkan oleh orang tua atau orang yang telah dipercayakan akan hal itu. AbstractThis study is entitled “The Role of Women in the Perspective of Jamaah An-Nadzir in Romang Lompo - Bontomarannu, in Gowa Regency of South Sulawesi ”. This research is motivated by the apparent difference between the An-Nadzir congregation and the general Muslim community in terms of place of residence, religious behavior and other differences that affect the role of women. This study aims to discover: (1) The theological views in Jamaah An-Nadzir, (2) The role and position of women in Jamaah An-Nadzir. This study is a field research that employs descriptive and qualitative data processing mode with theological and phenomenological approaches. Data sources for this study comprise members of the An-Nadzir congregation, especially the women. Data collection methods used involves observation, interviews, documentation and literature study; while the data processing techniques comprise data reduction, data presentation, comparison techniques and drawing conclusions. The results of this study indicate that 1) the theological view of Jamaah An-Nadzir is quite different when compared to other religious groups, namely religious practices that tend to be different from those of the majority of Muslims in Indonesia. The most distinctive aspect about the An-Nadzir congregation lies in its physical appearance which has its own characteristics, and also in relation to the determination of the beginning of Ramadan and the Eid, which is always earlier than the schedule set by the government. 2) For Jamaah An-Nadzir, the roles and positions of women are also quite different, as their main domain is around the household and their space in public sphere is restricted. The women of the An-Nadzir congregation never consider work as a life goal or an ambition after marriage, since a woman’s life after marriage is entirely about taking care of her husband and children, or is limited to domestic roles. In addition, the women of Jamaah An-Nadzir are not given freedom to choose their husbands. It is their parents or certain people who have been entrusted for it that make the decision.
KECERDASAN INTELEKTUAL NABI MUHAMMAD SAW. DALAM PERSPEKTIF HADIS Fadhlina Arief Wangsa
Sulesana Vol 14 No 1 (2020)
Publisher : Sulesana: Jurnal Wawasan Keislaman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/sulesana.v14i1.15587

Abstract

Daniel Goleman (pakar psikolog ternama) yang menyatakan bahwa Intelligence Quotient / IQ (kecerdasan intelektual), adalah salah satu yang ikut menentukan kesuksesan seseorang, walaupun bukan yang dominan, karena di luar sana, masih ada kecerdasan-kecerdasan lainnya. Di sisi lain, penulis Michael H Hart dalam bukunya ‘The 100, A Ranking of the Most Influential Persons In History, menjadikan Nabi Muhammad SAW. sebagai rangking pertama orang yang paling berpengaruh di dunia. Kesuksesan ini menjadi tanda tanya besar, mengingat Nabi Muhammad SAW. lahir kondisi sosial, politik, ekonomi di negara Arab yang buruk, kacau dan memprihatinkan. Bahkan, Nabi Muhammad dikenal sebagai seorang yang ummi, sebagaimana masyarakat Arab Quraish pada masa itu. Kata “ummi”, ditafsirkan oleh mayoritas mufassir, yaitu tidak bisa membaca dan menulis. Oleh sebab itu, penelitian ini bertujuan membuktikan Intelligence Quotient (kecerdasan intelektual) Nabi Muhammad berdasarkan Hadis-hadis.Intelligence Quotient menurut Kecerdasan intelektual menurut Robbins adalah kemampuan yang diperlukan untuk menjalankan kegiatan mental, berpikir, menalar dan memecahkan masalah.Sementara menurut Ree, Earles, & Teachout mengacu pada kemampuan individu untuk bertindak secara mental, seperti berpikir dan merenungkan. Kecerdasan intelektual diklasifikasikan ke dalam dua kategori: kemampuan kognitif umum dan kemampuan khusus. Umumnya, G-faktor yang dikenal sebagai kemampuan kognitif berarti, misalnya, kemampuan individu untuk berpikir dan ingat, sedangkan S-faktor adalah kemampuan khusus dari seorang individu.Jenis penelitian ini adalah librarly research, dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif analisis, menggunakan pendekatan ilmu Hadis, psikologi, dan sejarah. Peneliti dalam hal ini, telah membuktikan beberapa Hadisyang menjelaskan kecerdasan intelektual yang dimiliki oleh Nabi SAW., seperti bagaimana Nabi SAW. menghafal ayat-ayat Allah dengan cara menghafalnya di dada, tidak dengan tulisan, yang membuktikan kekuatan hafalan dan ingatannya; bagaimana Nabi mempersaudarakan suku Aus dan Khazraj yang telah lama bermusuhan dan berperang satu sama lain, juga mempersaudarakan kaum muhajirin dan kaum Anshar di Medinah. Menunjukkan kecerdasan berfikir Nabi dalam menyelesaikan masalah-masalah besar; bagaimana Nabi berbicara kepada orang dengan menyesuaikan kemampuan akalnya, bagaimana Nabi berkomunikasi dengan jelas dan analogi-analogi yang logis dan sangat mudah  difahami, bagaimana Nabi menalar, dan berhitung dengan cepat dan tepat, kesemuanya menunjukkan indikator-indikator kecerdasan intelektual yang dimiliki oleh Nabi.
GENEOLOGI DAN EPISTEMOLOGI PEMIKIRAN IBNU KHALDUN Abdullah Thalib
Sulesana Vol 14 No 1 (2020)
Publisher : Sulesana: Jurnal Wawasan Keislaman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/sulesana.v14i1.16818

Abstract

Kawasan Maghrib yang menjadi tempat transit yang menghubungkan Eropa (Andalusia) dan Afrika Utara (kawasan Islam) telah berkembang menjadi transformasi keilmuan. Kondisi dan dinamika politik yang turut mempengaruhi peran kawasan Maghrib menjadi tempat tujuan ulama dan intelektual Islam dari Andalusia mencari tempat perlindungan. Ibnu Khaldun sosok intektual yang terlahir dari kawasan Maghrib memberikan pijakan secara teoritis terhadap keilmuan sosial kemasyarakatan dengan menganalisis data-data sejarah. Analisis Ibnu Khaldun telah melahirkan kerangka secara fundamental yang mampu menjelaskan dibalik data-data sejarah yang terlihat. Kesadaran bersama menjadi hasil pengkajian yang dilakukan Ibnu Khaldun terhadap tumbuh, berkembang dan kejatuhan kekuasaan. Kehidupan Ibnu Khaldun yang terlibat dalam dunia politik praktis telah membuka ruang kekhasan dalam pemikirannya. Konteks pemikiran Ibnu Khaldun yang melibatkan pengalaman pribadi, analisis data-data sejarah dan teori yang dihasilkan memiliki pijakan empirik. Analisis Ibnu Khaldun terhadap kesadaran bersama bertumpuh pada badawah (nomaden) dan hadarah (menetap). Kesadaran bersama akan menguat bila kelompok masyarakat masih mementingkan kepentingan publik dibandingkan kepentingan privat. Kesadaran bermasa akan luntur apabila kepentingan individualistik yang berorientasi materi yang lebih dominan dalam lapisan masyarakat. Dialog pemikiran Ibnu Khaldun dengan fakta-fakta kekinian masih sangat memungkinkan dalam menghadirkan pemikiran Ibnu Khaldun yang berkelanjutan.

Page 1 of 1 | Total Record : 6