cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Veteriner
ISSN : 25409492     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Veteriner merupakan media elektronik yang digunakan sebagai wadah penyebaran hasil-hasil penelitian dari skripsi/tugas akhir mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala yang ditulis bersama dengan dosen pembimbingnya. Naskah/artikel yang diterbitkan telah melewati proses review oleh 2 orang reviewer dan penyunting JIMVET. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Veteriner untuk saat ini menerbitkan naskah ilmiah mahasiswa dari Program Studi Pendidikan Dokter Hewan. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Veteriner terbit dengan satu volume dan empat nomor dalam setahun (Fabruari, Mei, Agustus, dan November).
Arjuna Subject : -
Articles 22 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 2 (2017): FEBRUARI - APRIL" : 22 Documents clear
GAMBARAN HISTOLOGI SALURAN PENCERNAAN IKAN GABUS (Channa striata) (Histological of Alimentary Canal in Snakehead Fish (Channa striata)) Muhammad Nafis; Zainuddin zainuddin; Dian Masyitha
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 1, No 2 (2017): FEBRUARI - APRIL
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (770.909 KB) | DOI: 10.21157/jim vet..v1i2.3141

Abstract

ABSTRAK            Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari struktur histologi saluran pencernaan ikan gabus (Channa striata). Saluran pencernaan yang diambil adalah esofagus, lambung, dan usus depan berasal dari dua ekor ikan gabus. Sampel kemudian dibuat menjadi preparat histologi dengan pewarnaan hematoksilin-eosin (HE) dan diamati menggunakan metode histologi eksplorasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa saluran pencernaan tersusun atas empat lapisan, yaitu tunika mukosa, submukosa, muskularis, dan serosa. Tunika mukosa terdiri dari lamina epitelia, lamina propria, dan lamina muskularis mukosa. Tunika submukosa terdiri dari jaringan ikat dengan pembuluh darah, limfe dan saraf. Tunika muskularis tersusun atas otot melingkar dan otot memanjang. Tunika serosa terdiri dari lapisan tipis jaringan ikat yang dilapisi oleh epitel pipih selapis (mesotelium) dengan pembuluh darah dan jaringan lemak. Mukosa esofagus membentuk lipatan seperti vili-vili dengan epitel pipih berlapis dan banyak sel-sel mukosit, tunika muskularis tersusun atas otot lurik. Mukosa lambung terdiri dari epitel silindris selapis, terdapat kelenjar lambung pada lamina propria, tunika muskularis terdiri dari otot melingkar dan memanjang. Mukosa usus yang membentuk vili tersusun atas epitel silindris selapis dengan mikrovili dan sel goblet, tidak ditemukannya kelenjar Brunner maupun Liberkhun.ABSTRACTThis research aims to study the histological structure of the alimentary canal in snakehead fish (Channa striata). The alimentary tract taken were oesophagus, gastric, and anterior intestines which were derived from two snakehead fish. Histological samples stained with haematoxylin-eosin (HE) then observed using explorative histological method. The results showed that the alimentary canal is composed of four layers, that is tunica mucosa, submucosa, muscularis, and serosa. The tunica mucosa consists of lamina epithelia, propria, and muscularis mucosa. The tunica submucosa consists of connective tissue with blood vessels, lymph vessels, and nerves. The tunica muscularis were composed of circular and longitudinal muscles. The tunica serosa consist of a thin layer of connective tissue that is coated by simplex squamous epithelium (mesothelium) with blood vessels and adipose tissue. Oesophagus mucosa then folds forming villi which is coated by stratified squamous epithelium and many mucosit cells, skeletal muscle in tunica muscularis. Gastric mucosa consists of simplex columnar epithelium, glands of gastric on the lamina propria, tunica muscularis consists of circular and longitudinal muscle. Intestinal mucosa which forming villi is composed of simplex columnar epithelium with microvilli and goblet cells, Brunner and Liberkhun glands were not found.
PERBANDINGAN LUAS RONGGA PELVIS SAPI ACEH INDUKAN DAN SAPI BALI INDUKAN DI ACEH BESAR (Comparison of pelvic sizes of Aceh and Bali Cows in Aceh Besar Regency) dara aftika nasution; ginta riady; razali daud; muhammad hasan; yudha fahrimal; teuku zahrial helmi
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 1, No 2 (2017): FEBRUARI - APRIL
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (373.676 KB) | DOI: 10.21157/jim vet..v1i2.2637

Abstract

ABSTRAKTujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan luas rongga pelvis sapi aceh betina indukan dan sapi bali betina indukan di Aceh Besar. Pengukuran luas rongga pelvis sapi dilakukan dengan menggunakan alat rice pelvimeter. Sampel yang digunakan meliputi 10 ekor sapi aceh betina indukan dan 8 ekor sapi bali betina indukan dengan umur 2,9 - 4,4 tahun. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji t. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rata-rata rongga pelvis sapi bali betina indukan dan sapi aceh betina indukan, yaitu (218,25 ± 27,47) dan (149,60 ± 16,70) cm2. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa rongga pelvis sapi bali indukan lebih besar (p0,01) dari pada rongga pelvis sapi aceh indukan. Luas rongga pelvis pada kedua sampel diklasifikasikan “besar”.Kata kunci : sapi aceh, sapi bali, rongga pelvis, rice pelvimeter ABSTRACTK This study aims to compare the pelvic sizes of aceh and bali cows in Aceh Besar regency. The measurement of the pelvic sizes of the sampled cows were carried out using rice pelvimeter tool. Sampled cows consisted of  ten Aceh cows and  eight Bali cows, with ages ranging from 2.9 - 4.4 years. Data collected were analysed using t-test. The result of this study showed that the pelvic sizes of bali cows and aceh cows were;(218.25 ± 27.47) and (149.60 ± 16.70) cm2, respectively. Statistical analysis showed that pelvic size of bali cows are highly significantly larger (p0,01) than of aceh cows. The pelvic sizes of both sampled cows are classified as "large".Keyword : aceh cow, bali cow, pelvic area, rice pelvimeter
ANGKA CEMARAN MIKROBA DAN IDENTIFIKASI FAKTOR RISIKO PADA TAHAP PEMBERSIHAN DAN PEREBUSAN PRODUKSI IKAN KAYU DI KECAMATAN KUTA ALAM, KOTA BANDA ACEH (Study of Microbial Contamination Count and Risk Factor Identification at Cleaning and Steaming Stages of Wooden Fish Production in Kuta Alam, Banda Aceh) Astri Wulandari
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 1, No 2 (2017): FEBRUARI - APRIL
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.309 KB) | DOI: 10.21157/jim vet..v1i2.2575

Abstract

ABSTRAKTujuan penelitian ini adalah mengetahui angka kontaminasi mikroba dan mengidentifikasi faktor-faktor risiko pada tahap pembersihan dan perebusan selama proses produksi ikan kayu. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan wawancara menggunakan kuesioner dan pengambilan sampel untuk pemeriksaan angka kontaminasi mikroba. Sampel yang digunakan meliputi 3 ekor ikan segar (sebelum diolah), 3 ekor ikan yang sudah dibersihkan (tahap pembersihan), dan 3 ekor ikan yang sudah direbus (tahap perebusan). Sampel diperoleh dari 2 produsen ikan kayu di Kecamatan Kuta Alam Kota Banda Aceh yang sekaligus bertindak sebagai responden kuesioner. Pemeriksaan sampel menggunakan metode Total Plate Count (TPC). Analisis data menggunakan uji ANAVA yang dilanjutkan dengan uji Duncan. Dari analisis statistik diperoleh hasil bahwa terdapat perbedaan angka kontaminasi mikroba yang nyata antar tahapan proses produksi (P0,01). Angka kontaminasi tertinggi ditemukan pada tahap pembersihan sebesar 4,3 x 106 CFU/g yang melebihi standar SNI 7288:2009 tentang Batas Maksimum Cemaran Mikroba dalam pangan (5,0 x 105 CFU/g). Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa angka kontaminasi mikroba tertinggi ada pada tahap pembersihan dan angka tersebut melebihi nilai standar. Kurangnya kesadaran dan buruknya penerapan higiene dan sanitasi dalam proses produksi ikan kayu menjadi faktor risiko yang mempengaruhi tingginya angka kontaminasi mikroba pada ikan kayu.Kata kunci: angka cemaran mikroba, ikan kayu (keumamah), sanitasi, TPC ABSTRACT  The aims of this research were to determine the microbial contamination count and risk factor identification at cleaning and steaming stages of wooden fish production. This research applied survey method with interview by using questionnaire and sampling. The samples were 3 fresh fishes (material for producing), 3 cleaned fishes (cleaning stage), and 3 steamed fishes (steaming stage) from 2 wooden fish producers in Kuta Alam, Kota Banda Aceh were also as the respondents. The examination of microbial contamination count used Total Plate Count (TPC) method. The statistical analysis used ANOVA test followed by Duncan. From the statistical analysis, obtained result that there was a real difference of microbial contaminant count between every production process stages (P0.01). The highest microbial contaminant count was on celaning stage up to 4.3 x 106 CFU/g that exceeded SNI 7288: 2009 about the Maximum Limit of Microbial Contamination in Food (5.0 x 105 CFU/g). From this research it can be concluded that the highest microbial contamination count was on celaning stage and that count was exceeded standards. The lack of awareness and poor implementation of hygiene and sanitation in the production process of wooden fish were risk factors affected the high number of microbial contamination in wooden fish.Key Word: microbial contamination count, wooden fish (keumamah), sanitation, TPC
SURVEI PENGETAHUAN DAN SIKAP PEMILIK RUMAH MAKAN TERHADAP RANTAI PENGOLAHAN DAGING AYAM DI BANDA ACEH (Survey of Knowledge and Attitude of Restaurant Owners on Chicken Processing Chain in Banda Aceh) laras berlian xarolin; razali razali; ismail ismail; rastina rastina; Muhammad jalaluddin; darmawi darmawi
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 1, No 2 (2017): FEBRUARI - APRIL
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (564.767 KB) | DOI: 10.21157/jim vet..v1i2.2893

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan mengetahui pengetahuan dan sikap pemilik rumah makan terhadap rantai pengolahan daging ayam di Banda Aceh. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari 2017 di beberapa rumah makan di Banda Aceh. Penelitian dilakukan dalam bentuk survei lapangan dengan mewawancarai responden menggunakan kuesioner terstruktur. Responden dipilih secara proporsional terhadap pemilik rumah makan di Banda Aceh. Kriteria responden meliputi berumur ≥ 20 tahun, pemilik rumah makan yang menjual olahan daging ayam, rumah makan dengan kebutuhan daging ayamnya ≥ 20 ekor/hari dan pemilik rumah makan di lokasi penelitian. Data hasil penelitian dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian terhadap 45 responden menunjukkan bahwa pengetahuan pemilik rumah makan terhadap rantai pengolahan daging ayam tergolong baik, namun sikap pemilik rumah makan terhadap rantai pengolahan daging ayam tergolong kurang baik, karena 22,22% responden menggunakan alat potong (pisau) yang sama dengan sayuran, serta 48,89% responden tidak mencuci tangan sebelum mengolah daging ayam.Kata kunci : pengetahuan, sikap, pemilik rumah makan, daging ayam, rantai pengolahan.ABSTRACT This study was aims to determine the knowledge and attitude of restaurant owners on chicken meat processing chain in Banda Aceh. This study was conducted in January 2017 in several restaurants in Banda Aceh. This research was conducted in the form of a field survey by interviewing respondents using a structured questionnaire. Respondents were selected proportionally which is restaurant owners in Banda Aceh. The criteria of respondents were aged ≥ 20 years, restaurant owners who sell chicken, restaurants that needs ≥ 20 chicken / day and restaurant owners in the study site. Data were analyzed descriptively. The results of 45 respondent shows that the knowledge of restaurant owners on chicken meat processing chain is quite good, but the majority of owners attitude towards chicken meat processing chain relatively poor because 22,22% of respondents using the same knife with vegetables and 48,89% of respondents do not wash their hands before treating chicken meat.Keyword : knowledge, attitude, restaurant owners, chicken meat, processing chain.
TOTAL BAKTERI Escherichia coli PADA SUSU KAMBING PERANAKAN ETAWAH DI KELURAHAN IBUH KECAMATAN PAYAKUMBUH BARAT PROVINSI SUMATERA BARAT (The Total of Escherichia coli Count in Fresh Milk of Etawah Cross Breed in Ibuh Village West Payakumbuh Subdistrict West Sumatera Province) intan paramitha putri
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 1, No 2 (2017): FEBRUARI - APRIL
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (304.159 KB) | DOI: 10.21157/jim vet..v1i2.2694

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui total bakteri Escherichia coli pada susu kambing Peranakan Etawah (PE) di Kelurahan Ibuh, Kecamatan Payakumbuh Barat, Provinsi Sumatera Barat. Sampel pada penelitian ini adalah dua belas sampel susu segar, yang diambil di peternakan kambing Peranakan Etawah di Kelurahan Ibuh, Kecamatan Payakumbuh Barat, Provinsi Sumatera Barat. Sampel diambil tiga kali dengan selang waktu satu minggu. Penghitungan bakteri dilakukan dengan metode Total Plate Count (TPC) berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) dengan cara membuat satu seri pengenceran desimal (10-1-10-5). Hasil penelitian menunjukkan tidak ditemukannya bakteri Escherichia coli pada susu kambing Peranakan Etawah di Kelurahan Ibuh, Kecamatan Payakumbuh Barat, Provinsi Sumatera Barat. Dapat disimpulkan bahwa susu kambing Peranakan Etawah (PE) di peternakan kambing Peranakan Etawah (PE) di Kelurahan Ibuh, Kecamatan Payakumbuh Barat, Provinsi Sumatera Barat tidak tercemar bakteri Escherichia coli.Kata kunci: Esherichia coli, kambing peranakan etawah, susu, total plate count (tpc). ABSTRACT This research was done to count the total of Escherichia coli in fresh milk of etawah cross breed in Ibuh Village, West Payakumbuh Subdistrict, West Sumatera Province. Samples were twelve of fresh milk that taken from dairy farm in the Ibuh Village, West Payakumbuh Subdistrict, West Sumatera Province. Samples were taken three times with an interval of one week. Bacteria was counted using total plate count (TPC) method based on Standar Nasional Indonesia (SNI) by serial dilution (10-1-10-5). The result of this research shows that no Escherichia coli detected in fresh milk from Ibuh Village, West Payakumbuh, West Sumatera Province. It can be concluded that the fresh milk in the dairy farm in Ibuh Village, West Payakumbuh Subdistrict, West Sumatra province, not contaminated with Escherichia coli.Keywords: Esherichia coli, PE goat, milk, total plate count (TPC). 
PENURUNAN JUMLAH SEL LEYDIG DAN SEL SERTOLI TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) STRAIN WISTAR SETELAH PEMBERIAN FORMALIN (Decrease on the Number of Leydig and Sertoli cells in Rats (Rattus norvegicus) Wistar Strain after Formaldehyde Administration) Melia Sesva Dina; Dasrul Dasrul
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 1, No 2 (2017): FEBRUARI - APRIL
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (907.704 KB) | DOI: 10.21157/jim vet..v1i2.3145

Abstract

ABSTRAK                Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh formalin terhadap penurunan jumlah sel Leydig dan sel Sertoli tikus putih (Rattus norvegicus) strain Wistar. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 24 ekor tikus putih jantan berumur 4-5 bulan dengan berat badan 180-200 gram. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 kelompok perlakuan dan 6 ulangan. Kelompok pertama merupakan kontrol (K0) tikus tidak diinjeksi formalin. Kelompok kedua (K1) tikus diinjeksi formalin dosis 1,0 mg/kg BB. Kelompok ketiga (K2) tikus diinjeksi formalin dosis 2,5 mg/kg BB. Kelompok keempat (K3) tikus diinjeksi formalin dosis 5,0 mg/kg BB. Pemberian formalin untuk kelompok perlakuan dilakukan selama 14 hari. Tikus dikorbankan kemudian diambil organ testis sebelah kiri. Selanjutnya dilakukan pembuatan preparat histologis menggunakan pewarnaan H-E lalu dilakukan penghitungan jumlah sel Leydig dan sel Sertoli. Data dianalisis menggunakan analisis varian (ANAVA) pola satu arah dan dilanjutkan dengan uji berganda Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian formalin berpengaruh sangat nyata (p0,01) terhadap jumlah sel Leydig dan sel Sertoli testis tikus putih strain Wistar. Jumlah sel Leydig dan sel Sertoli pada K1 berbeda nyata dengan K2 dan K3 (p0,01). Disimpulkan bahwa pemberian formalin dosis 1,0; 2,5; dan 5,0 mg/kg BB secara intraperitoneal selama 14 hari menyebabkan penurunan jumlah sel Leydig dan sel Sertoli tikus putih (Rattus norvegicus) strain Wistar.Kata kunci: sel Leydig, sel Sertoli, Rattus norvegicus, formalin ABSTRACTThe aim of this research was investigate the effect of formaldehyde administration decrese on the number of leydig and sertoli cells in rat (rattus norvegicus) wistar strain. The sample used in this research was 20 male rats, aged 4-5 month-old with weight 180-200 gram. The design used was completely randomized design (CRD) with 4 group treatment and 5 replications. The first group (K0) as a control, rat was not injected formaldehyde. The second group (K1) rat was injected formaldehyde 1,0 mg/kg bw. The third group (K2) rat was injected formaldehyde 2,5 mg/kg bw. The four group (K3) rat was injected formaldehyde 5,0 mg/kg bw. Formaldehyde administrarion to group treatment for 14 days. Rats was sacrificed then taken left testicular organ. Next preparations for histological staining H-E and than calculating the number of Leydig and Sertoli cells. Date were analyzed using analysis of varians (ANAVA) one-way pattern and Duncan multiple test. Result showed that administration of formaldehyde significant effect (p0,01) on the number of Leydig dan Sertoli cells testicular rat Wistar strain. The number of Leydig and Sertoli cells treatment K1 significant different with K2 and K3 (p0,01). The conclusion of formaldehyde administration dose 1,0; 2,5; and 5,0 mg/kg bw intraperitoneally for 14 days can decrease the number of Leydig and Sertoli cells rat (Rattus norvegicus) Wistar strain.Key word: Leydig cell, Sertoli cell, Rattus norvegicus, formaldehyde
ISOLASI DAN IDENTIFIKASI Pseudomonas aeruginosa PADA KASUS Ear mites KUCING DOMESTIK (Felis domesticus) DI KECAMATAN SYIAH KUALA, BANDA ACEH (Isolation and Identification Pseudomonas aeruginosa in the Case of Ear mites of Domestic cat (Felis domesticus) in the Sub district of Syiah Kuala, Banda Aceh) Windian Tajuk Masmah Bengi; Erina Erina; Darniati Darniati
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 1, No 2 (2017): FEBRUARI - APRIL
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (580.086 KB) | DOI: 10.21157/jim vet..v1i2.2712

Abstract

ABSTRAK            Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan mengidentifikasi Pseudomonas aeruginosa pada kasus Ear mites kucing domestik di Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh. Sampel yang digunakan berasal dari 10 ekor kucing domestik yang positif menderita Ear mites. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode Cluster Random Sampling terhadap lima desa dari sepuluh desa yang terdapat di Kecamatan Syiah Kuala. Hasil swab liang telinga kucing dimasukan ke media Nutrient Broth (NB) dan diinkubasikan pada suhu 37◦C selama 24 jam, selanjutnya dilakukan penanaman pada media Tryptic Soy Agar (TSA) lalu diinkubasikan kembali pada suhu 37◦C selama 24 jam. Koloni bakteri yang tumbuh terpisah pada TSA dilakukan pengamatan ukuran, warna, elavasi dan pinggiran dari koloni. Pewarnaan Gram dilakukan untuk memastikan bakteri yang terdapat adalah kelompok Gram negatif. Terakhir dilakukan uji IMViC (Indol, Methyl Red, Voges Prokauer, Sulfid Indol Motility, Simmon’s Citrate Agar), uji biokimia Triple Sugar Iron Agar dan uji gula gula (Glukosa, Sukrosa, Maltosa, Laktosa, Manitol). Hasil penelitian ini di analisis secara deskriptif. Hasil pemeriksaan dari 10 sampel ternyata tidak ditemukan adanya infeksi sekunder oleh Pseudomonas aeruginosa pada kasus Ear mites. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa Pseudomonas aeruginosa bukan merupakan salah satu penyebab infeksi sekunder pada kasus Ear mites kucing domestik (Felis domesticus) di Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh. Kata kunci: kucing domestik, Ear mites, Pseudomonas aeruginosa, Banda Aceh ABSTRACT          This study aims to isolate and identify Pseudomonas aeruginosa in the case of Ear mites of domestic cats in the sub district of Syiah Kuala, Banda Aceh. The samples were used 10 domestic cats that are positive suffer from ear mites. The samples were carried out by using the method of cluster random sampling from five out of ten villages in the sub district of Syiah Kuala. The results of cat ear canal swab inserted into media of Nutrient Broth (NB) incubated at 37◦C for 24 hours. Next, using sterile osse the bacteria are modulated in the media of Tryptic Soy Agar (TSA) and incubated at of 37◦C for 24 hours. The morphology colony of bacteria that grew separated in the TSA was observed for size, colour, elevation and margin of those colonies. Gram staining procedure were done to make sure if the bacteria is belongs to Gram negative group. Finally, IMViC test (Indol, Methyl Red, Voges Proskauer, Sulfit Indol Motility, Simmon’s Citrate Agar), biochemical test Triple Sugar Iron Agar and sugars test (Glucose, Maltose, Sucrose, Lactose, Manitol) were conducted. The results of this study were analyzed descriptively. The examination shows none out of 10 samples were found Pseudomonas aeruginosa in the case of Ear mites. Therefore this can be concluded that Pseudomonas aeruginosa were not one of the reason that caused a secondary infection in the case of Ear mites of domestic cats (Felis domesticus) in sub district Syiah Kuala, Banda Aceh.    Keywords: domestic cat, Ear mites, Pseudomonas aeruginosa, Banda Aceh  
JUMLAH CEMARAN MIKROB PADA TELUR AYAM RAS YANG DIJUAL DI SWALAYAN DAERAH DARUSSALAM KECAMATAN SYIAH KUALA KOTA BANDA ACEH nurhapni pasaribu
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 1, No 2 (2017): FEBRUARI - APRIL
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (414.251 KB) | DOI: 10.21157/jim vet..v1i2.2612

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui jumlah cemaran mikrob pada telur ayam ras yang dijual di swalayan daerah Darussalam Kecamatan Syiah Kuala Kota Banda Aceh. Penelitian ini menggunakan 40 butir telur ayam ras yang diperoleh dari 4 swalayan daerah Darussalam. Jumlah cemaran mikrob dilakukan dengan pour plate method (Total Plate Count) dengan pengenceran berseri 10-1 – 10-4untuk kerabang dan isi telur. Data hasil penelitian ini disajikan secara deskriptif dan di uji lanjut dengan uji korelasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata jumlah cemaran mikrob di swalayan A pada kerabang telur adalah 1,2x105 cfu/g dan pada isi telur adalah 1,1x105 cfu/g, di swalayan B pada kerabang telur adalah 1,1x105 cfu/g dan pada isi telur adalah 1,1x105 cfu/g, di swalayan C pada kerabang telur adalah 1,0x105 cfu/g dan pada isi telur adalah 9,1x104 cfu/g, dan di swalayan D pada kerabang telur adalah 1,0 x 105 cfu/g dan pada isi telur adalah 8,9x104 cfu/g. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ditemukan telur ayam ras yang dijual di swalayan daerah Darussalam Kecamatan Syiah Kuala Kota Banda Aceh tercemar mikrob melebihi batas Standar Nasional Indonesia (SNI) yaitu 1 x 105 cfu/g adalah pada swalayan A dan B, dan setelah di uji lanjut dengan uji korelasi hasilnya menunjukkan korelasi negatif, yaitu jumlah cemaran mikrob dengan lama waktu penjualan telur tidak signifikan.
PENILAIAN PEMOTONGAN AYAM DITINJAU DARI ASPEK FISIK DAN ESTETIKA DI RPU PEUNAYONG KOTA BANDA ACEH Otri Yana
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 1, No 2 (2017): FEBRUARI - APRIL
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (504.691 KB) | DOI: 10.21157/jim vet..v1i2.3088

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan menilai hasil pemotongan ayam dirumah potong unggas (RPU) Peunayong Kota Banda Aceh. Aspek fisik yang diamati putus tidaknya tiga saluran yaitu esofagus, trakea, dan pembuluh darah (vena jugularis dan arteri karotis), sedangkan aspek estetika pemotongan ayam dinilai dengan metode kuesioner dari petugas pemotongan, penilaian kebersihan tempat pemotongan, cara penanganan pemotongan, wadah setelah ayam dipotong serta ketajaman pisau. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian terlihat bahwa pemotongan ayam di RPU Peunayong Kota Banda Aceh telah memenuhi aspek fisik namun belum memenuhi aspek estetika.   Assesment of physical and aesthetic aspect of the poultry slaughter house in Peunayong Banda Aceh This study was done to assess the slaughtering procedures of chicken in Peunayong Banda Aceh. Based on the in the chicken slaughter House of Peunayong physical and aesthetical aspect. Physical aspect were analyzed based on visual observation whereas those on aesthetical were done according to questioneran evaluation on the hygiene of process. Data obtained was analyzed descriptively. Result showed chicken slaughtering procedures the chicken slaughtering, House of Peunayong Banda Aceh has fulfilled the physical standard, but not aesthetical regment.
IDENTIFIKASI DAN DISTRIBUSI NYAMUK Aedes VEKTOR PENYEBAB DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) DI DALAM KAMPUS UNIVERSITAS SYIAH KUALA (Identification and Distribution of Aedes Mosquito Vector of Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) in Syiah Kuala University) siti prawitasari hasibuan
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 1, No 2 (2017): FEBRUARI - APRIL
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (557.422 KB) | DOI: 10.21157/jim vet..v1i2.2696

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dan mengetahui distribusi dan kelimpahan nyamuk Aedes sebagai vektor penyebab Demam Berdarah Dengue (DBD) di dalam ruangan (indoor) dan di luar ruangan (outdoor)  di dalam Kampus Universitas Syiah Kuala. Penelitian dilakukan pada 5 lokasi yaitu Fakultas Kedokteran Hewan; Sektor Timur; Fakultas Hukum; Sektor Selatan dan Fakultas Kedokteran berdasarkan peletakan ovitrap pada tiap-tiap lokasi. Data diperoleh melalui koleksi telur dan larva nyamuk Aedes menggunakan perangkap telur nyamuk (ovitrap). Hasil pengamatan terhadap total rata-rata telur nyamuk Aedes di lima lokasi baik indoor maupun outdoor, tidak memperlihatkan perbedaan yang nyata (P0,05). Demikian juga pada pengamatan terhadap rata-rata larva Ae. aegypti indoor dan outdoor (P0,05) serta rata-rata larva Ae. albopictus indoor dan outdoor (P0,05). Tetapi pada pengamatan terhadap rata-rata larva Ae. aegypti dibandingkan dengan rata-rata larva Ae. albopictus di dalam ruangan (indoor) sangat berbeda nyata (P0,05) dimana Ae. aegypti lebih banyak ditemukan dibandingkan dengan larva Ae. albopictus. Sebaliknya di luar ruangan larva Ae. albopictus sangat dominan dan berbeda nyata dibandingkan dengan Ae. aegypti (P0,05). Kata kunci       : ovitrap, indoor, outdoor, Ae. aegypti, Ae. albopictus, DengueABSTRACT This study aims to identify and to understand the distribution and abundance of Aedes mosquitoes as vectors  that caused dengue indoor and outdoor at the Syiah Kuala University. The study was conducted in five locations: Faculty of Veterinary Medicine, Eastern Sector, Faculty of Law, South Sector and the Faculty of Medicine by laying ovitrap at each location. The data obtained through the collection of eggs and larvae of Aedes mosquitoes using mosquito egg’s trap (ovitrap). The observation of the average of Aedes’ eggs in five locations both indoors and outdoors, did not show significant differences (P0,05). Likewise, in observation of the average of Ae. aegypti larvae indoor and outdoor (P0,05) and the average of larvae of Ae. albopictus indoor and outdoor (P0,05). But, the observation of the average of Ae. aegypti larvae in comparison to the average of Ae. albopictus indoor were significantly different (P0,05), where Ae. aegypti more common than the larvae of Ae. albopictus. Otherwise in the outdoors, larvae of Ae. albopictus was dominant and significantly different with larvae of Ae. aegypti (P0,05). Keywords : ovitrap, indoor, outdoor, Ae. aegypti, Ae. albopictus, Dengue

Page 1 of 3 | Total Record : 22