cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik
ISSN : 26202964     EISSN : -     DOI : -
Jurnal Ilmiah Mahasiswa program studi pendidikan Sendratasik FKIP Unsyiah terbit 4 kali dalam satu tahun, yaitu pada bulan Februari, Mei, Agustus dan Novembe.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 3 (2018): AGUSTUS" : 10 Documents clear
BERINAI DALAM KONTEKS BUDAYA ACEH Emilia Yusnita; Cut Zuriana; Lindawati Lindawati
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik Vol 3, No 3 (2018): AGUSTUS
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini berjudul “Berinai dalam Konteks Budaya Aceh”, dengan rumusan masalah bagaimanakah fungsi berinai dalam konteks budaya Aceh dan bagaimanakah bentuk-bentuk motif inai pada masyarakat Aceh (Teunom). Tujuan penelitian adalah untuk mendeskripsikan fungsi berinai dalam konteks budaya Aceh (Teunom) dan mendeskripsikan bentuk-bentuk motif inai pada masyarakat Aceh (Teunom). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis deskriptif dan teknik pengumpulan data berupa wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan secara kualitatif yaitu berupa reduksi data, display data, dan verifikasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fungsi berinai dalam konteks budaya Aceh (Teunom) yaitu berinai pada upacara perkawinan, berinai pada upacara khitanan dan berinai sebagai trend pada kehidupan masyarakat Aceh, prosesi disetiap upacara berbeda-beda, pada upacara perkawinan berinai dilakukan 3 hari sebelum acara puncak sedangkan pada upacara khitanan dilakukan pada malam acara puncak sedangkan untuk trend dalam sehari-hari berinai dilakukan kapanpun diperlukan. Adapun bentuk-bentuk motif yang digunakan pada inai masyarakat Aceh yaitu motif Hindia, Arab dan Aceh (motif pintoe aceh, pucok reubong, puta taloe, awan meucanek, gigoe darut, pucok paku, bungoeng meulu dan bungoeng seulanga), masyarakat Aceh (Teunom) lebih sering menggunakan motif Hindia dan Arab apalagi untuk upacara perkawinan karna dianggap lebih modern dan kekinian.Kata Kunci: Berinai, Budaya Aceh
DINAMIKA PEMBELAJARAN PADUAN SUARA PADA KEGIATAN EKSTRAKURIKULER DI SMAN 1 KOTA SABANG Nurhasanah Nurhasanah; Ahmad Syai; Aida Fitri
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik Vol 3, No 3 (2018): AGUSTUS
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian tentang “Dinamika Pembelajaran Paduan Suara pada Kegiatan Ekstrakurikuler di SMAN 1 Kota Sabang ” ini mengangkat masalah bagaimana dinamika pembelajaran paduan suara pada kegiatan ekstrakurikuler di SMAN 1 Kota Sabang, yang bertujuan untuk mendeskripsikan dinamika pembelajaran paduan suara pada kegiatan ekstrakurikuler di SMAN 1 Kota Sabang. Penelitian ini menggunakan pendekatan Kualitatif dengan jenis deskriptif yang bertujuan untuk mendapat gambaran secara mendalam tentang Dinamika Pembelajaran Paduan Suara Pada Kegiatan Ekstrakurikuler di SMAN 1 Kota Sabang. Subjek penelitian adalah guru pengasuh/pembimbing paduan suara SMAN 1 Kota Sabang serta siswa yang tergabung dalam tim paduan suara di SMAN 1 Kota Sabang, sedangkan yang menjadi objek penelitian adalah pembelajaran paduan suara. Data diperoleh dengan teknik observasi, dokumentasi dan wawancara. Analisis yang digunakan adalah dengan mereduksi data terlebih dahulu kemudian menyajikannya dalam bentuk uraian singkat dan akhirnya dilakukan penarikan kesimpulan..Hasil penelitian menunjukkan bahwa Berdasarkan hasil temuan di lapangan, pelaksanaan pembelajaran paduan suara pada kegiatan ekstrakurikuler di SMAN 1 Kota Sabang secara umum mengalami dinamika perkembangan mulai tahun 2017 hingga saat ini tahun 2018. Pada tahun 2014 sampai dengan tahun 2016, pembelajaran paduan suara pada kegiatan ekstrakurikuler  di SMAN 1 Kota Sabang ini masih dilaksanakan seadanya saja. Hal tersebut terlihat pada beberapa segi, seperti: (1) pelaksanaan pembelajaran dan (2) prestasi yang pernah diraih oleh peserta paduan suara pada kegiatan ekstrakurikuler di SMAN 1 Kota Sabang. Kata Kunci: dinamika, pembelajaran, paduan suara, ekstrakurikuler
PERGESERAN PERAN PELAKU PONGOT DALAM ADAT PERNIKAHAN DI KABUPATEN GAYO LUES Fitri Handayani; Tri Supadmi; Aida Fitri
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik Vol 3, No 3 (2018): AGUSTUS
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini berjudul Pergeseran Peran Pongot dalam Adat Pernikahan di Kabupaten Gayo Lues, mengangkat masalah bagaimana pergeseran peran Pongot dalam adat pernikahan dan faktor yang mempengaruhi pergeseran peran Pongot dalam adat pernikahan di Kabupaten Gayo Lues. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dan jenis peneltian deskriftif. Penelitian dilaksanakan di kampung Panglime Linting Kecamatan Dabun Gelang Kabupaten Gayo Lues. Subjek penelitian ini yaitu tokoh adat, tokoh masyarakat dan pemeran pengganti (Ceh Pongot), dan subjek penelitian ini adalah pergeseran peran pongot dalam adat pernikahan di Kabupaten Gayo Lues. Teknik pengumpulan data yaitu wawancara dan teknik dokumentasi. Teknik analisis data dalam penelitian ini yaitu mereduksi data, display, dan verifikasi. Hasil penelitian mengungkapkan pergeseran peran ini terjadi pada tahun 90-an. Penyebab awal terjadinya pergeseran peran pongot ini  karena pada awalnya ada seorang anak dari sebuah keluarga yang hendak menikah dan hal ini memberi kesan yang sangat sedih dalam hati orang tuanya, namun orang tua tidak mampu menyalurkan rasa sedihnya dalam pongot tersebut, sehingga orang tua membayar pemeran pengganti untuk menggantikan posisinya dalam menyalurkan kesedihannya. Bayaran atau upah yang diberikan kepada peran pengganti pada saat ini sudah di tentukan oleh pemeran pengganti, yaitu berupa uang senilai 200 sampai 300 ribu sebagai bentuk terimakasih dari pihak keluarga. Faktor penyebab bergesernya peran pongot ini dipengaruhi banyak hal diantaranya perkembangan zaman, kurangnya dukungan bakat dan minat dari masyarakat setempat, lingkungan atau masyarakat, media, gaya hidup, timbulnya rasa malu dari diri seseorang. pongot yang dilakukan oleh pihak keluarga atau pemeran asli tempat nya tidak menentu namun pongot yang dilakukan oleh peran pengganti ditentukan oleh pihak keluarga dan sudah menjadi sebuah hiburan dalam acara pesta pernikahan Di Kabupaten Gayo Lues. Bergesernya peran pongot di lingkungan masyarakat memberi dampak terhadap sistem sosialnya seperti tidak stabilnya sebuah penjiwaan dan pencapaian hal yang diinginkan tentang pencapaian pongot tersebut karena ia sudah tidak berprilaku sesuai apa yang diharapkan.Kata kunci: pergeseran, peran, Pongot, adat pernikahan
PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP IMPLEMENTASI ADAT SEUMANOE PUCOK DI MASYARAKAT MEUKEK ACEH SELATAN Okta Viola; Tengku Hartati; Aida Fitri
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik Vol 3, No 3 (2018): AGUSTUS
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian yang berjudul “Persepsi Masyarakat Terhadap Implementasi Adat Seumanoe Pucok di Masyarakat Meukek Aceh Selatan”. Adapun yang menjadi masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana persepsi masyarakat Kecamatan Meukek terhadap implementasi adat Seumanoe Pucok dan makna yang terkandung dalam unsur-unsur penyajian Seumanoe Pucok. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan persepsi masyarakat Kecamatan Meukek terhadap implementasi adat Seumanoe Pucok dan makna yang terkandung dalam unsur-unsur penyajian Seumanoe Pucok. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Subjek dalam penelitian ini adalah tokoh masyarakat, tuha peut serta seniman. Objek dalam penelitian ini adalah implementasi adat Seumanoe Pucok di masyarakat Meukek Aceh Selatan. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik kuesioner (angket), wawancara dan dokumentasi. Analisis data menggunakan data reduction (reduksi data), data display (penyajian data), conclusion drawing/verification (penarikan kesimpulan), dan menggunakan rumus skala likert. Hasil analisis data dari hasil persentase jawaban angket menunjukan bahwa 98% pelaksanaan adat di Kecamatan Meukek sudah berjalan dengan baik, Seumanoe Pucok bukanlah termasuk salah satu adat melainkan resam dalam acara perkawinan maupun sunat rasul, dan Seumanoe Pucok memiliki makna perbuatan terakhir yang dilakukan oleh kedua orang tua kepada anaknya dan juga memiliki makna  pensucian, adapun makna yang terkandung dalam unsur-unsur penyajiannya ada 4 yaitu memayungi, syair, peusijuk dan siraman terakhir.Kata kunci: persepsi, implementasi, adat, Seumanoe Pucok
PANDANGAN MASYARAKAT TERHADAP TARI LANG NGELEKAK DI KABUPATEN ACEH TAMIANG KECAMATAN SEURUWAY DESA IE MASEN Alfi Akmalia; Tengku Hartati; Lindawati Lindawati
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik Vol 3, No 3 (2018): AGUSTUS
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini berjudul “Pandangan Masyarakat Terhadap Tari Lang Ngelekak di Kabupaten Aceh Tamiang desa Ie Masen” mengangkat masalah bagaimana pandangan masyarakat terhadap tari Lang Ngelekak”, Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pandangan masyarakat terhadap tari Lang Ngelekak di Kabupaten Aceh Tamiang desa Ie Masen. Penelitian dilakukan di desa Ie Masen Kecamatan Seuruway Kabupaten Aceh Tamiang. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Sumber data dalam penelitian adalah masyarakat yang berada di desa Ie Masen.Teknik pengumpulan data digunakan dengan teknik observasi, wawancara, dan angket. Teknik analisis data dengan mereduksi data, display data, dan menarik kesimpulan.Hasil penelitian dapat diketahui bahwa tari Lang Ngelekak menceritakan tentang kisah sang raja yang kurang beruntung yang mana kisah ini dijadikan sebuah tari guna mengenang masa-masa kerajaan raja tersebut. Pandangan masyarakat terhadap tari Lang Ngelekak berbeda-beda, baik itu dalam segi mengetahui, mendengarkan maupun melihat secara langsung tari Lang Ngelekak sudah hampir tidak diketahui lagi oleh masyarakat dikarenakan sudah jarang ditampilkan. Tari Lang Ngelekak harus segera dilestarikan dan dijaga agar tidak punah. Kata kunci: Pandangan, Masyarakat, Tari Lang Ngelekak
TRADISI BERKESENIAN ADOK DALAM MASYARAKAT HALOBAN KEPULAUAN BANYAK, SUMATERA Hasan Ali Gayo; Ari Palawi; Tengku Hartati
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik Vol 3, No 3 (2018): AGUSTUS
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini berjudul “Tradisi Berkesenian Adok dalam Masyarakat Haloban Kepulauan Banyak, Sumatera” mengangkat masalah bagaimana Tradisi Berkesenian Adok dalam Masyarakat Haloban Kepulauan Banyak, Sumatera. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan Tradisi Berkesenian Adok dalam Masyarakat Haloban Kepulauan Banyak, Sumatera. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Sumber data dalam penelitian adalah Anhar Sitanggang sebagai Syeh dalam tari Adok, mantan penari, dan penari Adok. Penelitian dilakukan di desa Haloban Pulau Banyak Barat Aceh Singkil. Pengumpulan data digunakan dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data dengan mereduksi data, penyajian data, dan verifikasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tari Adok memiliki lima ragam gerak yaitu Cabik-cabik, Ayun Kumbang, Erang-erang, Datang-datang, dan Mak Tuan Panjang. Pada tari Adok terdapat bentuk pola lantai lingkaran yang terlihat berulang-ulang, dan tata rias yang sederhana. Dalam berkesenian Adok masyarakat Haloban mempunyai dua prosesi yaitu secara adat dan hukum. Kata kunci: Tradisi, Tari Adok
PERBEDAN MUSIK IRINGAN TARI GUEL DI KABUPATEN ACEH TENGAH Arizki Arifkan; Ari Palawi; Ismawan Ismawan
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik Vol 3, No 3 (2018): AGUSTUS
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian berjudul “Perbedaan musik iringan tari Guel di kabupaten Aceh Tengah”. mengangkat  masalah bagaimana unsur-unsur musik iringan tari Guel  di sanggar Renggali dan sanggar Senug Etnik Kabupaten Aceh Tengah dan faktor-faktor yang mempengaruhi iringan musik tari Guel Kabupaten Aceh Tengah. Tujuan penelitian untuk mendeskripsikan perbedaan unsur-unsur musik iringan tari Guel sanggar Renggali dan sanggar Senug Etnik di Kabupaten Aceh Tengah dan mendeskripsikan faktor-faktor yang mempengaruhi iringan musik tari Guel Kabupaten Aceh Tengah  Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif, dengan jenis penelitian deskriptif. Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Subjek dalam penelitian ini adalah Teuku Aga ketua sanggar Renggali dan Dian ketua sanggar Senug Etnik di desa Paya Tumpi Kecamatan Kebayakan Kabupaten Aceh Tengah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan iringan musik tari Guel terdiri dari pola ritme perkusi (Rapa’i dan Gong), irama (melodi) dan dinamik dalam setiap bagian tari. Perbedaan unsur-unsur musik di ke-dua sanggar tersebut dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal yaitu kreatifitas, kebutuhan estetik para pemain dan penonton (masyarakat) serta jenis acara. Perbedaan musik iringan tari Guel terdapat pada bagian pola ritme Munatap jika pada sanggar Renggali bagian Munatap terbagi menjadi 3, sedangkan pada sanggar Senug Etnik terbagi menjadi 4 bagian Munatap, pada bagian Cincang Nangka dan Ketibung mempunyai perbedaan pola ritme serta dinamik, perbedaan bagian tersebut tidak mengubah keaslianya dan masih dalam batas sewajarnya (tidak mencolok jauh) terkait dengan tradisi budaya Aceh dan tidak mengakibatkan terjadinya pergeseran nilai budaya dan masih dapat diterima oleh mayoritas masyarakat Aceh secara luas. Kata Kunci: Perbedan Musik Iringan Tari Guel
ANALISIS STRUKTUR TARI GUEL Nadia Ulfa; Tri Supadmi; Tengku Hartati
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik Vol 3, No 3 (2018): AGUSTUS
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian tentang Analisis Struktur Tari Guel ini mengangkat masalah tentang bagaimana analisis gerak tari Guel. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan tentang analisis gerak tari Guel. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Subjek penelitian adalah pemimpin sanggar dan penari sanggar Mapesga Banda Aceh sedangkan yang menjadi objek penelitian adalah tari Guel. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, dokumentasi, dan wawancara. Teknik analisisi data menggunakan reduksi data, penyajian data dan verivikasi data. Hasil penelitian menunjukan bahwa analisis struktur Tari Guel dapat ditinjau dari dari 2 aspek yaitu tari Guel berdasarkan gerak kepala, gerak badan, gerak tangan, gerak kaki dan tari Guel berdasarkan unsur gerak meliputi motif gerak, frase gerak, kalimat gerak dan gugus gerak. Tari Guel terdiri dari empat babak yaitu babak munatap, babak redep-dep, babak ketibung dan cincang nangka. Sedangkan tata hubungan yang terdapat di dalamnya yaitu tata hubungan Hierarkis Gramatikal dimana di dalamnya terdapat tata hubunngan Sintagmatis dan tata hubungan Paradigmatis.Kata Kunci: tari Guel, analisis struktur, kesenian Gayo.
PENYAJIAN RAPA’I SAMAN Dl SANGGAR TANGLOENG DONYA DESA IE BEUDOH KECAMATAN SEUNAGAN TIMUR KABUPATEN NAGAN RAYA Cut Masyitah; Ari Palawi; Aida Fitri
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik Vol 3, No 3 (2018): AGUSTUS
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini berjudul “Penyajian Rapa’i Saman di Sanggar Tangloeng Donya Desa Ie Beudoh Kecamatan Seunagan Timur Kabupaten Nagan Raya”. Masalah penelitian bagaimana bentuk penyajian Rapa’i Saman di Sanggar Tangloeng Donya Desa Ie Beudoh Kecamatan Seunagan Timur Kabupaten Nagan Raya. Tujuan penelitian mendeskripsikan bentuk penyajian Rapa’i Saman di Sanggar Tangloeng Donya Desa Ie Beudoh Kecamatan Seunagan Timur Kabupaten Nagan Raya. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif dan jenis penelitian deskriptif. Sumber data penelitian yaitu, Saiful Anwar (Syeh Teh), Syeh Ramli, dan Cut Julinda selaku pelatih dan pengelola sanggar Rapa’i Saman serta seniman di Nagan Raya. Teknik pengumpulan data dalam penelitian: observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data dalam penelitian: mereduksi data, penyajian data, dan verifikasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Rapa’i Saman berasal dari Rapa’i Tuha yang sudah ada sejak tahun 1946, setelah beberapa kali dikombinasi pada tahun 1981 menjadi Rapa’i Saman yang seluruh rangkaian geraknya diciptakan oleh almarhum Syeh Sabirin dengan ciri khas permainkan Rapa’i dengan gerakan Saman dengan sebelas orang penari dan satu orang Syeh. Gerakan Saman pada penyajian Rapa’i Saman bukan gerakan Saman Gayo karena gerakan dan Syairnya berdeda. Bentuk penyajian Rapa’i Saman di Sanggar Tangloeng Donya memiliki dua sesi permainan dan sebelas sesi permainan yaitu: Seulawet Nabi, Saleum, Jaroe Ayem, Peh demo, Syair Kisah, lambang Garuda, Jak Adek jak keuno ku ayon, Meu’cae, Kisah Aceh, Dibabah Kila (gerakan Saman), dan Boeh Gadong Paya. Tarian ini diiringi dengan syair bahasa Aceh dan alat musik Rapa’i. Pola lantai duduk atau berdiri sejajar dan berbentuk letter V. Busana baju kurung Aceh, songket Aceh, celana hitam, tali pinggang, dan celemek. Tata rias yang digunakan rias sederhana. Tarian ini ditampil pada acara-acara sakral seperti perkawinan, upacara adat, Sunat Rasul, aqiqahan, dan lomba-lomba seni yang biasanya dipentaskan di luar atau di dalam gedung.Kata Kunci: bentuk, penyajian, Rapa’I Saman.
SINING DALAM KONTEKS KEBUDAYAAN GAYO Nur Fajriah; Rida Safuan Selian; Tengku Hartati
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik Vol 3, No 3 (2018): AGUSTUS
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini berjudul Sining dalam Konteks Kebudayaan Gayo, mengangkat masalah bagaimana Sining dalam Konteks Kebudayaan Gayo, Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan Sining dalam Konteks Kebudayaan Gayo. Sumber data dalam penelitian adalah Seniman Gayo, Masyarakat, Petua adat Kampung Nosar. Penelitian dilakukan di Kampung Nosar Aceh Tengah. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Pengumpulan data digunakan dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data dengan mereduksi data ,display data, verifikasi data. Hasil penelitian dapat diketahui bahwa tari Sining adalah sebuah ritual adat masyarakat Gayo yang kini menjadi seni pertunjukan bagi khalayak ramai. Tari Sining yang ditarikan diatas sembilah papan dan dulang ini mempunyai 2 prosesi yaitu prosesi adat dalam membangun rumah dan sebagai tari iringan memandikan dan mengesahlan pemimpin baru, yang dilakukan dengan cara membaca syair dan ritual. Proses tersebut didahului dengan memilih kayu hutan yang dianggap terbaik, menebang kayu hutan, serta menjadikan kayu tersebut sebagai pondasi rumah. Alat musik yang digunakan dalam tari Sining ini yaitu gegedem, gerantung, tak tok, suling, teganing serta canang yang dimainkan oleh wanita dan laki-laki. Busana yang dikenakan pada ritual ini adalah busana sehari-hari, hingga saat tari Sining telah menjadi seni pertunjukan dan memakai baju kerawang khas Gayo Aceh Tengah. Kata kunci: Tari Sining, kebudayaan Gayo

Page 1 of 1 | Total Record : 10