cover
Contact Name
Indrya Mulyaningsih
Contact Email
indrya@syekhnurjati.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
indrya@syekhnurjati.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota cirebon,
Jawa barat
INDONESIA
Indonesian Language Education and Literature
ISSN : -     EISSN : 25022261     DOI : -
Indonesian Language Education and Literature is a journal of research publication. The scopes of this research are Indonesian language and literature teaching, either as the first, second, or foreign language. The research can be conducted in elementary schools, junior high schools, senior high schools, and / or university. The journal is regularly published on July and December in collaboration with the cooperation Asosiasi Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia (ADOBSI) or The Association of Indonesian Language and Literature Lecturers and Ikatan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (IKAPROBSI) or The association of Indonesian Language and Literature Study Program.
Arjuna Subject : -
Articles 15 Documents
Search results for , issue "Vol 11, No 1 (2025)" : 15 Documents clear
Istilah Politik Populer pada Pemilu Presiden Indonesia di Media Berita Online Rahim, Abd.; Ambarita, Jenri; Nursalam, Nursalam; Efendy, Agik Nur; Sinamo, Callista Buena; Sari, Nurindah Purnama
Indonesian Language Education and Literature Vol 11, No 1 (2025)
Publisher : Jurusan Tadris Bahasa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/ileal.v11i1.19990

Abstract

Istilah politik populer digunakan sebagai strategi retorika untuk membangun citra politik positif. Penelitian ini bertujuan mengungkap makna istilah politik yang populer digunakan pada pemilihan Presiden Indonesia dan bagaimana istilah politik tersebut dikonstruksi  untuk memengaruhi opini publik. Sumber data penelitian ialah media berita online yang dianalisis melalui aplikasi Nvivo 12 Pro. Penelitian ini menggunakan pendekatan Analisis Wacana Kritis dengan mengadopsi teori Nourman Fairclough, teori semiotika sosial Van Leeuwen, dan teori Framing Goffman untuk menjelaskan makna istilah politik dan bagaimana istilah politik tersebut dikonstruksi sebagai wacana politik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada 5 istilah politik populer pada pemilihan Presiden Indonesia, seperti gemoy, cawe-cawe, politik identitas, king maker, dan endorsement. Istilah politik tersebut secara umum bermakna sebagai alat narasi politik untuk mendapatkan dukungan publik dalam kontestasi pemilihan Presiden Indonesia. Istilah politik tersebut dikonstruksi  sebagai wacana politik berdasarkan aspek situasional, aspek institusional, dan aspek sosial. Penelitian ini memberikan kontribusi signifikan bagi perkembangan ilmu wacana dan diharapkan dapat meningkatkan literasi politik masyarakat dengan memahami peran bahasa dalam membentuk opini politik.Popular Political Terms in the Indonesian Presidential Election in Online News Media Popular political terms are used as a rhetorical strategy to build a positive political image. This study aims to uncover the meanings of political terms commonly used in the Indonesian Presidential Election and how these terms are constructed to influence public opinion. The data sources for this research are online news media, analyzed using the Nvivo 12 Pro application. This study employs a Critical Discourse Analysis approach, adopting the theories of Norman Fairclough, Van Leeuwen's social semiotics, and Goffman's framing theory to explain the meaning of political terms and how they are constructed as political discourse. The findings of this study show that there are five popular political terms in the Indonesian Presidential Election, such as "gemoy," "cawe-cawe," "political identity," "kingmaker," and "endorsement." These political terms generally function as tools for political narratives to gain public support in the presidential election contest. The political terms are constructed as political discourse based on situational, institutional, and social aspects. This research contributes significantly to the development of discourse studies and is expected to enhance political literacy among the public by understanding the role of language in shaping political opinions.
Strategi Kesantunan dalam Ekspresi Doa Digital: Analisis Pragmatik di Instagram Atikoh, Iklilah; Ma`nawi, Arief
Indonesian Language Education and Literature Vol 11, No 1 (2025)
Publisher : Jurusan Tadris Bahasa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/ileal.v11i1.20402

Abstract

Instagram menjadi salah satu platform untuk individu dalam menyampaikan doa secara publik melalui teks, gambar, maupun video. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji ekspresi doa di Instagram dengan pendekatan pragmatik, berdasarkan teori permohonan dan kesantunan oleh Brown dan Levinson (1987). Fokusnya adalah mengidentifikasi bentuk permohonan langsung dan tidak langsung dalam doa berbahasa Indonesia dan Jawa. Data diambil dari 100 postingan Instagram, termasuk caption pada reels dan feeds, serta komentar. Komentar yang dipilih berkriteria: (1) ditulis dalam bahasa Indonesia atau Jawa; (2) mengandung ekspresi permohonan kepada Tuhan (doa); (3) bersifat publik dan dapat diakses tanpa batasan akun pribadi; serta (4) tidak mengandung unsur iklan, promosi, atau spam. Data dianalisis dari segi struktur kebahasaan dan strategi kesantunan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa permohonan langsung lebih dominan. Dalam bahasa Indonesia, kedua bentuk muncul seimbang dan sering disertai ungkapan santun, seperti semoga atau mohon doanya. Adapun dalam bahasa Jawa cenderung menggunakan permohonan tidak langsung sebagai bentuk kesantunan. Ekspresi doa di Instagram menunjukkan variasi strategi komunikasi yang dipengaruhi oleh bahasa, budaya, dan konteks sosial pengguna. Strategi direct request lebih sering digunakan dalam situasi yang mendesak atau personal. Strategi indirect request cenderung muncul dalam konteks yang lebih reflektif, sopan, dan berbasis budaya. Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun media sosial bersifat cepat dan informal, ekspresi doa tetap mencerminkan nilai-nilai kesantunan, norma budaya, serta kedekatan relasi spiritual dengan Tuhan. Temuan ini dapat dimanfaatkan oleh para pendakwah digital, content creator religius, serta pengelola akun keislaman dalam merancang konten dakwah. Politeness Strategy in Digital Prayer Expression: Pragmatic Analysis on InstagramInstagram has become a platform for individuals to publicly express their prayers through text, images, and videos. This study aims to examine prayer expressions on Instagram using a pragmatic approach, based on the theory of requests and politeness by Brown and Levinson (1987). The focus is to identify direct and indirect forms of requests in Indonesian and Javanese prayers. Data were taken from 100 Instagram posts, including captions on reels and feeds, as well as comments. Comments were selected based on the following criteria: (1) written in Indonesian or Javanese; (2) containing expressions of requests to God (prayer); (3) public and accessible without personal account restrictions; and (4) not containing elements of advertising, promotion, or spam. The data were analyzed in terms of linguistic structure and politeness strategies. The results show that direct requests are more dominant. In Indonesian, both forms appear equally and are often accompanied by polite expressions, such as "harap" (hopefully) or "mohon doanya" (please pray). Javanese, on the other hand, tend to use indirect requests as a form of politeness. Prayer expressions on Instagram show a variety of communication strategies influenced by the user's language, culture, and social context. The direct request strategy is more often used in urgent or personal situations. Indirect request strategies tend to emerge in more reflective, polite, and culturally informed contexts. These findings suggest that despite the fast-paced and informal nature of social media, expressions of prayer still reflect values of politeness, cultural norms, and a close spiritual relationship with God. These findings can be utilized by digital preachers, religious content creators, and Islamic account managers in designing preaching content.
Pembelajaran Berdiferensiasi pada Keterampilan Menulis Puisi di Sekolah Menengah Atas Frananda, Muhamad; Alfajry, Bintang; Septian, Fajar; Komarudin, Komarudin; Romansyah, Khalimi
Indonesian Language Education and Literature Vol 11, No 1 (2025)
Publisher : Jurusan Tadris Bahasa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/ileal.v11i1.20589

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh pembelajaran berdiferensiasi terhadap keterampilan menulis puisi siswa. Penelitian dilaksanakan pada bulan April 2025 di SMA Negeri 5 Cirebon selama dua minggu dengan dua kali pertemuan di kelas. Metode yang digunakan adalah mixed methods dengan desain convergent parallel. Sampel ditentukan secara acak, terdiri dari 33 siswa kelas XI.11 (kelas eksperimen) dan 26 siswa kelas XI.9 (kelas kontrol). Instrumen yang digunakan meliputi tes menulis puisi untuk memperoleh data kuantitatif. Lembar observasi, pedoman wawancara, serta angket untuk memperoleh data kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikan keterampilan menulis puisi antara kelas eksperimen dan kontrol (p < 0,05), dengan hasil lebih tinggi pada kelas eksperimen. Pembelajaran berdiferensiasi berpengaruh positif terhadap keterampilan menulis puisi siswa SMA. Siswa yang berpartisipasi dalam pembelajaran berdiferensiasi memperlihatkan peningkatan kualitas dalam penulisan puisi dibandingkan dengan yang belajar secara konvensional. Selama pembelajaran, siswa menunjukkan keterlibatan aktif dan beragam sesuai dengan kebutuhan serta gaya belajar masing-masing. Persepsi siswa terhadap model ini cenderung positif karena mampu meningkatkan motivasi, kreativitas, dan pemahaman dalam menulis puisi. Implikasi praktis dari temuan ini, guru disarankan mengimplementasikan pembelajaran berdiferensiasi supaya responsif terhadap kebutuhan, minat, dan gaya belajar siswa.Differentiated Learning in Poetry Writing Skills in High SchoolThe purpose of this study was to analyze the effect of differentiated learning on students' poetry writing skills. The study was conducted in April 2025 at SMA Negeri 5 Cirebon for two weeks with two class meetings. The method used was mixed methods with a convergent parallel design. The sample was randomly determined, consisting of 33 students of grade XI.11 (experimental class) and 26 students of grade XI.9 (control class). The instruments used included a poetry writing test to obtain quantitative data. Observation sheets, interview guidelines, and questionnaires to obtain qualitative data. The results showed that there was a significant difference in poetry writing skills between the experimental and control classes (p < 0.05), with higher results in the experimental class. Differentiated learning had a positive effect on high school students' poetry writing skills. Students who participated in differentiated learning showed an increase in the quality of their poetry writing compared to those who learned conventionally. During learning, students showed active and varied involvement according to their individual needs and learning styles. Students' perceptions of this model tended to be positive because it was able to increase motivation, creativity, and understanding in writing poetry. The practical implication of this finding is that teachers are advised to implement differentiated learning to be responsive to students' needs, interests, and learning styles.
Utilization of Beliefs and Food Taboos in The ’Horse-Man’ Myth as BIPA Learning Content in East-Timor Bera, Elisabeth Merniana; Idris, Nuny Sulistiany; Sundusiah, Suci
Indonesian Language Education and Literature Vol 11, No 1 (2025)
Publisher : Jurusan Tadris Bahasa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/ileal.v11i1.21838

Abstract

This research analyzes the "Horse-Human" myth from Uma Lisan Bihahi, Timor-Leste as a potential study for Indonesian Language for Foreign Speakers (BIPA) instructional materials through Todorov's structural narrative approach, analyzed with Content-Based Instruction theory and Actor-Network Theory. Employing qualitative methods with an exploratory case study design, this research involved six informants from three different Uma Lisan in Timor-Leste through in-depth interviews and participant observation. Structural analysis revealed 36 narrative functions that form hierarchical transformation patterns from initial famine situations to human-to-horse metamorphosis, creating a food taboo system that functions as a mechanism for social control and cultural identity preservation. The findings demonstrate that this myth possesses a complex narrative structure in which each element can be identified as having potential for BIPA learning content through the exploration of four language skills (listening, speaking, reading, writing) with authentic local cultural content. The belief system and food taboos within the myth function as vehicles for transmitting local wisdom values encompassing respect for nature, family sacrifice, and animal sacredness in traditional Timorese cosmology. The potential utilization of myths as BIPA learning content has the potential to enhance learners' linguistic competence as well as intercultural communicative competence through a deep understanding of Timorese worldviews. This research contributes methodologically through narrative structural analysis that supports the exploration of cultural content as BIPA learning materials based on local wisdom that can be adapted for utilizing other oral traditions, while simultaneously supporting intangible cultural heritage preservation efforts through the exploration of contextual and culturally meaningful language education.Pemanfaatan Kepercayaan dan Tabu Pangan pada Mite “Manusia Kuda” sebagai Konten Belajar BIPA di Timor LestePenelitian ini menganalisis mite "Manusia Kuda" dari Uma Lisan Bihahi, Timor-Leste sebagai kajian potensi bahan ajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) melalui pendekatan struktural naratif Todorov yang dianalisis dengan teori Content-Based Instruction dan Actor-Network Theory. Menggunakan metode kualitatif dengan desain studi kasus eksploratif, penelitian ini melibatkan enam informan dari tiga Uma Lisan berbeda di Timor-Leste melalui wawancara mendalam dan observasi partisipan. Analisis struktural mengungkapkan 36 fungsi naratif yang membentuk pola transformasi berjenjang dari situasi awal kelaparan hingga metamorfosis manusia menjadi kuda, menciptakan sistem tabu pangan yang berfungsi sebagai mekanisme kontrol sosial dan preservasi identitas budaya. Temuan menunjukkan bahwa mite ini memiliki struktur naratif kompleks yang dapat diidentifikasi pada setiap elemen yang potensial untuk konten pembelajaran BIPA melalui eksplorasi empat keterampilan berbahasa (menyimak, berbicara, membaca, menulis) dengan konten budaya lokal yang autentik. Sistem kepercayaan dan tabu pangan dalam mite berfungsi sebagai wahana transmisi nilai-nilai kearifan lokal yang mencakup penghormatan terhadap alam, pengorbanan keluarga, dan kesakralan hewan dalam kosmologi tradisional Timor-Leste. Potensi pemanfaatan mite sebagai konten pembelajaran BIPA berpotensi meningkatkan kompetensi linguistik pembelajaran tetapi juga kompetensi komunikatif interkultural melalui pemahaman mendalam tentang pandangan dunia masyarakat Timor-Leste. Penelitian ini berkontribusi metodologis berupa analisis struktur naratif yang mendukung eksplorasi konten budaya sebagai bahan pembelajaran BIPA berbasis kearifan lokal yang dapat diadaptasi untuk pemanfaatan tradisi lisan lainnya, sekaligus mendukung upaya pelestarian warisan budaya takbenda melalui eksplorasi pendidikan bahasa yang kontekstual dan bermakna budaya.
Pengaruh Buku Cerita Bergambar pada Keterampilan Menulis Karangan Narasi Siswa Sekolah Dasar Ariviana, Yuzevira Nova; Cahyaningtyas, Andarini Permata
Indonesian Language Education and Literature Vol 11, No 1 (2025)
Publisher : Jurusan Tadris Bahasa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/ileal.v11i1.20691

Abstract

Siswa masih menghadapi kesulitan dalam mengikuti aturan bahasa dan struktur yang tepat untuk penulisan karangan narasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi akar permasalahan tersebut dan berupaya mencari solusi dengan penggunaan buku cerita bergambar. Penelitian menggunakan desain nonequivalent control group design dengan pretes dan postes pada siswa kelas 5 SDN Purwoyoso 03 Kota Semarang. Pengumpulan data dilakukan pada semester genap tahun ajaran 2024/2025 melalui wawancara dan tes. Pertanyaan wawancara terkait kendala dalam penulisan karangan narasi siswa. Adapun instrumen tes yang digunakan berupa unjuk kerja, yakni menulis karangan narasi. Tes ini untuk mengukur keterampilan siswa dalam menulis teks narasi dengan memperhatikan struktur, kesesuaian isi, kaidah bahasa, penggunaan kosakata, serta gaya penulisan. Kebenaran instrumen melalui triangulasi teori, metode, dan sumber serta penilaian oleh ahli. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelas kontrol mengalami peningkatan rerata sebesar 25 poin (dari 44,23 menjadi 69,23) sedangkan kelas eksperimen meningkat lebih besar, yaitu 30,58 poin (dari 50,96 menjadi 81,54). Hal ini menunjukkan bahwa perlakuan yang diberikan pada kelas eksperimen lebih efektif dalam meningkatkan hasil belajar dibandingkan dengan metode diskusi yang digunakan di kelas kontrol. Berdasarkan hasil analisis data, penelitian ini menyimpulkan bahwa buku cerita bergambar berpengaruh positif terhadap peningkatan keterampilan menulis narasi siswa sekolah dasar. Hal ini dibuktikan melalui beberapa temuan kunci: (1) siswa yang menggunakan buku cerita bergambar menunjukkan peningkatan lebih tinggi dalam menulis narasi dibandingkan kelas kontrol; (2) gambar dalam buku cerita berfungsi sebagai stimulus visual yang memudahkan siswa dalam mengorganisasi alur cerita secara sistematis, mengekspresikan ide dan imajinasi, dan meningkatkan motivasi dan keterlibatan emosional. Oleh karena itu, guru dapat mengembangkan buku cerita bergambar dengan tema beragam dan konteka lokal dalam pembelajaran menulis. The Influence of Picture Story Books on Elementary School Students' Narrative Writing SkillsStudents still face difficulties in following the correct language and structure rules for writing narrative essays. This study aims to identify the root of this problem and seek solutions through the use of picture storybooks. The study used a nonequivalent control group design with a pretest and posttest on fifth-grade students of SDN Purwoyoso 03, Semarang City. Data collection was conducted in the even semester of the 2024/2025 academic year through interviews and tests. Interview questions related to obstacles in writing narrative essays. The test instrument used was a performance test, namely writing narrative essays. This test measures students' skills in writing narrative texts by paying attention to structure, content appropriateness, language rules, vocabulary use, and writing style. The validity of the instrument was through triangulation of theories, methods, and sources as well as expert assessment. The results showed that the control class experienced an average increase of 25 points (from 44.23 to 69.23) while the experimental class increased more, namely 30.58 points (from 50.96 to 81.54). This shows that the treatment given to the experimental class is more effective in improving learning outcomes compared to the discussion method used in the control class. Based on the results of data analysis, this study concludes that picture story books have a positive effect on improving elementary school students' narrative writing skills. This is proven through several key findings: (1) students who use picture story books show higher improvements in narrative writing than the control class; (2) pictures in story books function as visual stimuli that make it easier for students to organize the storyline systematically, express ideas and imagination, and increase motivation and emotional involvement. Therefore, teachers can develop picture story books with diverse themes and local contexts in writing learning.
The Perceptions and Attitudes of Students on the Intersectionality of Languages in Higher Education Pitsoane, Enid M; Nyamakazi, K; Phora, M M; Sephula, G; Lala, D; Chauke, A
Indonesian Language Education and Literature Vol 11, No 1 (2025)
Publisher : Jurusan Tadris Bahasa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/ileal.v11i1.20062

Abstract

This research investigates students’ perceptions and attitudes towards the intersectionality of language in the context of higher education in South Africa. Through a qualitative approach, the study collected data using semi-structured interviews involving fifteen participants from diverse linguistic and cultural backgrounds. The results of the thematic analysis revealed four key findings. First, the ongoing language barriers in the academic environment remain pronounced. Second, socio-cultural norms within communities have a significant influence on how individuals use language. Third, the implementation of multilingual policies advocated by institutions is still very limited and not optimal. Fourth, there is an urgency to build a stronger and more comprehensive support system for speakers from minority linguistic groups. Based on the theory of intersectionality, linguistic capital, and language ideology, this research shows how the enduring dominance of English continues to marginalize the role of indigenous languages and their speakers. These findings further underscore the significant gap between formally established language policies and the actual practices that occur on the ground. Therefore, systemic interventions are necessary to affirm and promote linguistic diversity. The conclusion of this study states that advancing multilingualism in higher education requires more than just written regulations. It demands the implementation of culturally responsive pedagogy, the availability of learning resources in various languages, and a genuine institutional commitment to achieving language equality. Without those supporting elements, multilingual policies will only be discourse without having any substantial impact.Persepsi dan Sikap Mahasiswa terhadap Interseksionalitas Bahasa di Pendidikan TinggiPenelitian ini menyelidiki persepsi dan sikap mahasiswa terhadap interseksionalitas bahasa dalam konteks pendidikan tinggi di Afrika Selatan. Melalui pendekatan kualitatif, studi ini mengumpulkan data menggunakan wawancara semi-terstruktur yang melibatkan lima belas orang peserta dari beragam latar belakang linguistik dan budaya. Hasil analisis tematik mengungkapkan empat temuan kunci. Pertama, hambatan bahasa yang terus-menerus terjadi di lingkungan akademik masih sangat terasa. Kedua, norma-norma sosial budaya dalam komunitas memiliki pengaruh yang signifikan terhadap cara seseorang menggunakan bahasa. Ketiga, implementasi kebijakan multilingual yang dicanangkan oleh institusi masih sangat terbatas dan belum optimal. Keempat, terdapat urgensi untuk membangun sistem pendukung yang lebih kuat dan komprehensif bagi para penutur dari kelompok linguistik minoritas. Dengan berlandaskan pada teori interseksionalitas, modal linguistik, dan ideologi bahasa, penelitian ini menunjukkan bagaimana dominasi bahasa Inggris yang masih sangat kental justru terus meminggirkan peran bahasa-bahasa pribumi serta para penuturnya. Temuan ini semakin menegaskan adanya kesenjangan yang lebar antara kebijakan bahasa yang ditetapkan secara formal dengan praktik nyata yang terjadi di lapangan. Oleh karena itu, diperlukan intervensi sistematis yang dapat mengafirmasi dan mempromosikan keanekaragaman bahasa. Simpulan dari studi ini menyatakan bahwa memajukan multilingualisme di perguruan tinggi memerlukan lebih dari sekadar peraturan tertulis. Hal ini menuntut diimplementasikannya pedagogi yang responsif secara budaya, ketersediaan sumber daya pembelajaran dalam berbagai bahasa, serta komitmen kelembagaan yang sungguh-sungguh untuk mewujudkan kesetaraan bahasa. Tanpa elemen-elemen pendukung tersebut, kebijakan multilingual hanya akan menjadi wacana tanpa memiliki dampak yang substansial.
Exploring Religious Moderation through Student-Written Flash Fiction Aflahah, Aflahah; Azizah, Siti; Rabbianty, Eva Nikmatul; Syafik, Moh.; Zain, Aemy Elyani Mat
Indonesian Language Education and Literature Vol 11, No 1 (2025)
Publisher : Jurusan Tadris Bahasa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/ileal.v11i1.20236

Abstract

This study examines the integration of religious moderation values through flash fiction written by students. The research design used mixed methods involving 25 students. The data collected consisted of quantitative and qualitative data. Data were collected through a questionnaire related to students' understanding of religious moderation. The results of the initial questionnaire became the basis for teachers in delivering the material to students. After being given the material, students were asked to create a short story containing religious moderation. After completing the story, students were asked to complete a questionnaire containing three questions related to their understanding of religious moderation, its application in the story, and its application in everyday life. Quantitative data were analyzed using descriptive statistics, while qualitative data were analyzed using thematic analysis. The results showed a strong understanding of religious moderation and creative application of it in narratives. Quantitative findings showed an average increase of 20%. These results indicate that flash fiction is a promising educational tool for promoting religious moderation. The initial survey results showed that most students had experienced incidents of intolerance. Data from student-generated stories indicate that the majority of students understand religious moderation as "accepting and respecting the beliefs of others," practicing tolerance through fictional stories, and applying it in daily life. Religious moderation can be effectively implemented through learning models, such as writing flash fiction. Practically, this study offers a replicable framework for educators to integrate moral education into literacy development. These findings suggest that implementing student-centered activities, such as flash fiction, into the curriculum can foster empathy, tolerance, and social harmony in diverse classroom environments. The results of this study are expected to provide alternatives for teachers when teaching the same or other materials.Menggali Moderasi Beragama melalui Karya Flash Fiction SiswaPenelitian ini mengkaji integrasi nilai-nilai moderasi beragama melalui flash fiction yang ditulis oleh siswa. Desain penelitian menggunakan mixed methods yang melibatkan 25 siswa. Data yang dikumpulkan terdiri dari data kuantitatif dan kualitatif. Data dikumpulkan melalui angket terkait pemahaman siswa tentang moderasi beragama. Hasil angket awal menjadi dasar bagi guru dalam menyampaikan materi kepada siswa. Setelah diberi materi, siswa diminta untuk membuat cerita pendek yang memuat moderasi beragama. Selesai membuat cerita, siswa diminta mengisi angket yang memuat tiga pertanyaan terkait pemahaman moderasi beragma, penerapannya dalam cerita, dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Data kuantitatif dianalisis menggunakan statistik deskriptif, sedangkan data kualitatif dianalisis menggunakan analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan pemahaman yang kuat tentang moderasi beragama dan secara kreatif menerapkannya dalam narasi. Temuan kuantitatif menunjukkan peningkatan rerata sebesar 20%. Hasil ini menunjukkan bahwa flash fiction merupakan alat edukatif yang menjanjikan untuk mempromosikan moderasi beragama. Hasil survei awal menunjukkan bahwa Sebagian besar siswa pernah mengalami peristiwa intoleransi. Data dari cerita yang dibuat oleh siswa menunjukkan bahwa mayoritas siswa memahami moderasi beragama sebagai "menerima dan menghormati keyakinan orang lain", menerapkan toleransi melalui cerita fiksi, dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Moderasi beragama dapat diterapkan secara efektif melalui model pembelajaran, seperti penulisan fiksi kilat. Secara praktis, studi ini menawarkan kerangka kerja yang dapat direplikasi bagi para pendidik untuk mengintegrasikan pendidikan moral ke dalam pengembangan literasi. Temuan ini menunjukkan bahwa penerapan kegiatan yang berpusat pada siswa, seperti fiksi kilat, ke dalam kurikulum dapat mendorong empati, toleransi, dan harmoni sosial dalam beragam lingkungan kelas. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi alternatif bagi guru ketika mengajar materi yang sama atau materi lain.
The Construction of Masculinity in the “Typing Ganteng” Phenomenon on TikTok Hidir, Achmad; Malik, Rahman; Marnelly, Tengku Romi; Ferdo, Ferdo; Habibi, Abdillah
Indonesian Language Education and Literature Vol 11, No 1 (2025)
Publisher : Jurusan Tadris Bahasa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/ileal.v11i1.21736

Abstract

The phenomenon of ”typing ganteng” on social media, particularly TikTok, demonstrates that constructions of masculinity can be shaped through digital language styles. This study aims to explore how the ”typing ganteng” style, popularized by influencers and content creators on TikTok, shapes representations of masculinity. The method used was descriptive qualitative content analysis, utilizing purposive data from TikTok accounts producing content related to this phenomenon. The results show that through ”typing ganteng” content, influencers can establish standards of digital masculinity, as evidenced by stylistic characteristics such as the use of lowercase letters at the beginning of sentences, prolonged vowels, concise typing, and controlled humor. This style of language is considered attractive and masculine by women on social media, encouraging other users to imitate and conform to established norms. Findings indicate that the concept of masculinity in the digital age has shifted from traditional norms to new forms displayed through written interactions on social media. This study demonstrates that language functions as a cultural product that continues to evolve according to social expectations, enabling young men to display and negotiate masculine identities online. The study also highlights that perceptions of masculinity are relative; some male users adopt “typing ganteng” styles to gain social recognition, while others view masculinity as more flexible and individual. This research is expected to enrich sociolinguistic research and provide deeper insights into the relationship between language, gender, and social media culture.Konstruksi Maskulinitas dalam Fenomena “Typing Ganteng” di TikTokFenomena “typing ganteng” di media sosial, khususnya TikTok menunjukkan bahwa konstruksi maskulinitas dapat dibentuk melalui gaya bahasa digital. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi gaya “typing ganteng” yang dipopulerkan oleh influencer dan pencipta konten di TikTok dalam merepresentasikan maskulinitas. Metode penelitian menggunakan kualitatif deskriptif dengan memanfaatkan data purposif dari akun TikTok yang menghasilkan konten terkait fenomena ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui konten “typing ganteng”, influencer dapat menetapkan standar maskulinitas secara digital, melalui penggunaan huruf kecil di awal kalimat, vocal yang diperpanjang, pengetikan yang ringkas, dan humor. Gaya bahasa ini dianggap menarik dan maskulin oleh Wanita di media sosial sehingga mendorong pengguna lain untuk meniru dan mematuhi norma tersebut. Temuan penelitian menunjukkan bahwa konsep maskulinitas di era digital telah bergeser dari norma tradisional ke bentuk baru yang ditampilkan melalui interaksi tertulis di media sosial. Penelitian ini menunjukkan bahwa bahasa berfungsi sebagai produk budaya yang terus berkembang sesuai dengan harapan sosial sehingga memungkinkan laki-laki menampilkan dan menegosiasikan identitas maskulin secara daring. Studi ini juga menyoroti bahwa persepsi maskulinitas bersifat relatif. Beberapa pengguna laki-laki mengadopsi gaya “typing ganteng” untuk mendapatkan pengakuan sosial sementara yang lain memandang maskulinitas sebagai sesuatu yang fleksibel dan individual. Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya penelitian sosiolinguistik dan memberi wawasan yang lebih dalam tentang hubungan antara bahasa, gender, dan budaya di media sosial.
Eksplorasi Fonemik terhadap Bahasa Kerinci: Studi pada Isolek Koto Renah Rahmi, Lailatul; Marnita, Rina; Nadra, Nadra
Indonesian Language Education and Literature Vol 11, No 1 (2025)
Publisher : Jurusan Tadris Bahasa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/ileal.v11i1.18729

Abstract

Bahasa Kerinci sebagai salah satu bahasa daerah di Sumatra memiliki variasi dialektal yang beragam, termasuk isolek Koto Renah. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mendeskripsikan jenis bunyi, bentuk fonem dan distribusinya, serta pola silabel dalam isolek. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode simak dan cakap yang didukung oleh teknik rekam dan catat. Data lisan yang diperoleh kemudian ditranskripsikan secara fonetis dengan merujuk pada International Phonetic Alphabet (IPA). Selanjutnya, data dianalisis melalui uji pasangan minimal, uji distribusi komplementer, serta metode padan fonetis artikulatoris dengan alat ucap sebagai penentu pembentukan bunyi bahasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolek Koto Renah memiliki 37 bunyi yang mencakup vokoid, kontoid, dan diftong. Sistem fonemnya terdiri atas 31 fonem, meliputi enam fonem vokal, yaitu /i/, /e/ /ə/, /a/, /u/, dan /o/ dengan alofon [o~ɔ]; enam fonem diftong, yaitu /əa/ dengan alofon [əa~ea], /ay/, /aw/, /oa/, /ɔa/, dan /ow/ dengan alofon [ow~ou]; serta sembilan belas fonem konsonan, yaitu /p/, /b/, /t/, /d/, /c/, /j/, /k/, /g/, /m/, /n/, /ɲ/, /ŋ/, /l/, /r/, /s/, /w/, /y/, /h/, dan /ʔ/. Pola suku kata yang ditemukan dalam isolek Koto Renah terdiri atas tujuh pola, yaitu V, VK, KV, KD, KDK, KVK, dan KKDK. Penelitian ini berimplikasi pada penguatan kajian fonologi bahasa Kerinci serta mendukung pelestarian bahasa daerah melalui dokumentasi ilmiah.Phonemic Exploration of Kerinci Language: A Study on Koto Renah Isolect Kerinci language as one of the regional languages in Sumatra has diverse dialectal variations, including the Koto Renah isolect. This study aims to identify and describe sound types, phoneme forms and their distribution, as well as syllable patterns in the isolect. Data collection was conducted using listening and conversational methods supported by recording and note taking techniques. The obtained oral data were then transcribed phonetically with reference to the International Phonetic Alphabet (IPA). Subsequently, the data were analyzed through minimal pair tests, complementary distribution tests, and articulatory phonetic matching methods with speech organs as determinants of language sound formation. The results show that the Koto Renah isolect has 37 sounds encompassing vocoids, contoids, and diphthongs. Its phonemic system consists of 31 phonemes, comprising six vocal phonemes: /i/, /e/, /ə/, /a/, /u/, and /o/ with allophone [o~ɔ], /ay/, /aw/, /oa/, /ɔa/, and /ow/ with allophone[əa~ea]; and nineteen consonant phonemes: /p/, /b/, /t/, /d/, /c/, /j/, /k/, /g/, /m/, /n/, /ɲ/, /ŋ/, /l/, /r/, /s/, /w/, /y/, /h/, and /ʔ/. The syllable patterns found in the Koto Renah isolect consist of seven patterns: V, VK, KV, KD, KDK, KVK, and KKDK. This research has implications for strengthening Kerinci language phonological studies and supports the preservation of regional languages through scientific documentation.
Strategi Wacana Diplomatik Tiongkok dalam Perang Dagang dengan Amerika Serikat: Sebuah Perspektif Pragmatik Sugiyo, Sugiyo; Mubarok, Yasir
Indonesian Language Education and Literature Vol 11, No 1 (2025)
Publisher : Jurusan Tadris Bahasa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/ileal.v11i1.20226

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi wacana diplomatik Tiongkok dalam menyikapi perang dagang dengan Amerika Serikat (AS) melalui analisis tindak tutur yang didasarkan pada teori Searle. Fokus analisis adalah pernyataan juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Lin Jian, pada konferensi pers 8, 10, dan 14 April 2025. Dengan pendekatan kualitatif deskriptif, data dikumpulkan dari transkrip resmi dan dianalisis melalui model interaktif Miles dkk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tindak tutur asertif paling dominan, diikuti direktif, komisif, ekspresif, dan deklaratif. Fungsi dan makna tindak tutur asertif digunakan untuk membentuk persepsi global yang menggambarkan AS sebagai pihak irasional. Tindak tutur direktif berfungsi dan bermakna menunjukkan dorongan agar AS menghentikan kebijakan tarif dan memilih dialog. Fungi dan makna tindak tutur komisif untuk menegaskan komitmen Tiongkok dalam membela kepentingan nasional. Tindak tutur ekspresif berfungsi dan bermakna mengungkapkan emosi dan sikap Tiongkok. Fungsi dan makna tindak tutur deklaratif sebagai wujud tindakan langsung yang dilakukan pemerintah Tiongkok, misalnya dengan memberi sanksi berupa pembatasan visa bagi tentara AS. Temuan ini menunjukkan upaya Tiongkok dalam menyampaikan pandangan, membentuk opini global, dan menunjukkan sikap diplomatik melalui tindak tutur. Semua itu berperan penting dalam membangun status dan otoritas dalam wacana politik internasional. Studi ini menekankan bahwa bahasa diplomatik bersifat ideologis dan performatif. Studi ini memperkuat pemahaman bahwa bahasa diplomatik bukanlah cara komunikasi yang netral, tetapi alat yang digunakan oleh negara-negara untuk mengekspresikan sikap ideologis, membangun identitas, dan memengaruhi persepsi publik global. Penelitian selanjutnya disarankan membandingkan wacana dari kedua negara dan mempertimbangkan aspek non-verbal yang dapat memengaruhi pesan diplomatik.China's Diplomatic Discourse Strategy in the Trade War with the United States: A Pragmatic PerspectiveThis study aims to analyze China's diplomatic discourse strategy in responding to the trade war with the United States (US) through speech act analysis based on Searle's theory. The focus of the analysis is the statements of the Chinese Ministry of Foreign Affairs spokesperson, Lin Jian, at press conferences on April 8, 10, and 14, 2025. Using a descriptive qualitative approach, data were collected from official transcripts and analyzed through Miles et al.'s interactive model. The results show that assertive speech acts are the most dominant, followed by directives, commissives, expressives, and declaratives. The function and meaning of assertive speech acts are used to shape global perceptions that portray the US as irrational. Directive speech acts function and meaning to show encouragement for the US to stop tariff policies and choose dialogue. The function and meaning of commissive speech acts are to emphasize China's commitment to defending national interests. Expressive speech acts function and meaning to reveal China's emotions and attitudes. The function and meaning of declarative speech acts are a form of direct action taken by the Chinese government, for example, by imposing sanctions in the form of visa restrictions for US soldiers. These findings demonstrate China's efforts to convey views, shape global opinion, and demonstrate diplomatic attitudes through speech acts. All of these play a crucial role in constructing status and authority in international political discourse. This study emphasizes the ideological and performative nature of diplomatic language. This study reinforces the understanding that diplomatic language is not a neutral means of communication, but rather a tool used by states to express ideological stances, construct identities, and influence global public perception. Future research is recommended to compare the discourses of both countries and consider non-verbal aspects that may influence diplomatic messages.

Page 1 of 2 | Total Record : 15