cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota cirebon,
Jawa barat
INDONESIA
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis
ISSN : 23030453     EISSN : 24429872     DOI : -
Core Subject : Education,
Diya al-Afkar adalah jurnal ilmiah yang memfokuskan studi al-Quran dan al-Hadis. Jurnal ini menyajikan karangan ilmiah berupa kajian ilmu-ilmu al-Quran dan al-Hadis, penafsiran/pemahaman al-Quran dan al-Hadis, hasil penelitian baik penelitian pustaka maupun penelitian lapangan yang terkait tentang al-Quran atau al-Hadis, dan/atau tinjauan buku. Jurnal ini diterbitkan secara berkala dua kali dalam setahun.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol. 11, No. 01 (2023): Juni" : 10 Documents clear
STUDI HADIS TENTANG POSISI KENCING BERDIRI DAN RESEPSINYA PADA KELAS MENENGAH MUSLIM PERKOTAAN Zaenuri, Ahmad; Askar, Romlah Abubakar; Pakaya, Nurul Aini
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol. 11, No. 01 (2023): Juni
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v11i1.14947

Abstract

At least two forms of Hadith narrations show how to urinate (bawl) as practiced by the Prophet. On the one hand, prophetic practice shows that it is permissible to urinate in a standing position (bala qaiman), as in many Hadiths narrated by Hudhayfah. However, on the other hand, there was a prohibition against this practice, as narrated by Jabir bin ‘Abdullah and 'Aisyah. This discussion attempts to analyze hadith criticism (naqd al-hadith) both in terms of sand and matan and examines the reception process of these Hadiths in the modern era, especially among the urban Muslim middle class, with the increasing number of urinals in public facilities and worship. The results of this study concluded that based on an analysis of the sanad Hadith, which explained that the Prophet had urinated in a standing position was sahih. While the Hadith narrated by Jabir bin ‘Abdullah in the book of Sunan Ibn Majah, explains that the Prophet urinated in a sitting position was very weak (syadid al-daif). This Hadith is then corroborated in another Hadith narrated by 'Aishah. However, based on the results of a compromise in the meaning of the Hadith, this history has a different meaning. The Prophet urinated, standing up in a situation that did not allow the Prophet to sit because he was in a garbage dump, while in general, the Prophet's daily life was to urinate in a sitting position. Thus, there is no conflict between the narrations of Jabir bin Abdullah and 'Aishah and Hudhayfah. The reception of the Hadith of urinating in a sitting position is excellent. Most urban Muslim communities accept this Hadith and say prophetic practice recommends urinating and sitting down. On the other hand, the public does not understand many Hadiths regarding standing urination positions. This seems to be formed more by the construction of fiqh, which emphasizes the importance of urinating in a sitting position. Sedikitnya terdapat dua bentuk riwayat hadis yang menunjukkan cara dalam melakukan kencing (bawl) sebagaimana dipraktikkan Nabi. Pada satu sisi, praktik kenabian menunjukkan kebolehan kencing dilakukan dengan posisi berdiri (bala qa‘iman), sebagaimana banyak hadis yang diriwayatkan oleh Hudhayfah. Namun demikian juga sebaliknya, ditemukan pelarangan akan praktik tersebut sebagaimana diriwayatkan oleh Jabir bin ‘Abdullah dan‘Aishah ra. Bahasan ini berusaha melakukan analisis kritik hadis (naqdu al-hadits) baik dari segi sanad maupun matan serta menelaah proses resepsi hadis tersebut pada era modern, khususnya pada kelas menengah muslim perkotaan, dengan semakin banyaknya urinoir pada fasilitas publik dan ibadah. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa berdasarkan analisis terhadap sanad hadis yang menerangkan bahwa Nabi pernah kencing dalam posisi berdiri adalah sahih. Sementara hadis yang diriwayatkan Jabir bin Abdullah dalam kitab Sunan Ibn Majah, yang menerangkan bahwa nabi kencing dalam posisi duduk adalah sangat lemah (shadid al-da’if). Hadis tersebut kemudian dikuatkan dalam hadis yang lain yang diriwayatkan dari Aishah. Namun berdasarkan hasil kompromi dalam pemaknaan hadis, riwayat ini memiliki maksud makna yang berbeda. Nabi melakukan kencing berdiri dalam keadaan yang tidak memungkinkan nabi duduk, karena berada pada tempat pembuangan sampah, sementara secara umum keseharian Nabi adalah kencing dalam posisi duduk. Dengan demikian maka antara riwayat Jabir bin Abdullah dan ‘Aishah serta Hudhayfah tidak terdapat pertentangan di dalamnya. Resepsi terhadap hadis kencing dalam posisi duduk sangat baik. Sebagian besar masyarakat muslim perkotaan menerima hadis tersebut dan menyebut bahwa praktik kenabian menganjurkan untuk kencing secara duduk. Namun sebaliknya, hadis tentang posisi kencing berdiri banyak tidak difahami oleh masyarakat. Hal demikian sepertinya lebih banyak dibentuk oleh konstruksi fikih yang banyak menekankan pentingnya kencing dalam posisi duduk.  
STUDI METODOLOGIS KITAB MISBAH AL-ZULAM KARYA K.H. MUHAJIRIN AMSAR Fuadi, Moh. Ashif
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol. 11, No. 01 (2023): Juni
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v11i1.13607

Abstract

This study discusses the character of K.H. Muhajirin Amsar and a methodological study of his work, namely the book Misbah al-Zulam. This research uses the library research method (literature study) by studying the book Misbah al-Zulam, reinforced by secondary data sourced from books, articles, and online news relevant to the theme raised. This research concluded that, first, K.H. Muhajirin Amsar is an influential contemporary scholar from Bekasi who is quite productive in producing works in the form of typical pesantren books, including 34 books from 8 Islamic religious disciplines reflecting the depth and breadth of his knowledge. Of his works, the most popular is the book Misbah al-Zulam which consists of 8 volumes which is a sharh or follow-up explanation of the book Bulugh al-Maram by Ibn Hajar al-Asqalani. Second, there are three methods of writing the book of Misbah al-Zulam: tanqil (quoting), tabyid (sorting), and tahqiq (strengthening). The tanqil method means quoting from the literature used as a reference, while the tabyid method means sorting out manuscripts more relevant to the theme. The tahqiq method is to strengthen the work written as a whole to be given reinforcement. Third, the application of the method includes linguistic explanations, asbabul wurud, discussion of fiqh and its ushul, hadith in general, discussion from the sanad side, and differences of opinion of scholars.Penelitian ini membahas tentang ketokohan K.H. Muhajirin Amsar dan telaah metodologis karyanya yaitu kitab Misbah al-Zulam. Penelitian ini menggunakan metode library reseacrh (studi pustaka), dengan menelaah kitab Misbah al-Zulam, diperkuat dengan data sekunder yang bersumber dari buku, artikel, dan berita online yang relevan dengan tema yang diangkat. Penelitian ini menghasilkan kesimpulan bahwa, pertama, K.H. Muhajirin Amsar merupakan ulama kontemporer berpengaruh dari Bekasi yang cukup produktif dalam menghasilkan karya berupa kitab khas pesantren meliputi 34 kitab dari 8 disiplin ilmu agama Islam mencerminkan kedalaman dan keluasan ilmunya. Dari karya-karyanya yang paling populer adalah kitab Misbah al-Zulam yang terdiri dari 8 jilid yang merupakan sharh atau penjelasan lanjutan dari kitab Bulugh al-Maram karya Ibn Hajar al-Asqalani. Kedua, terdapat tiga metode penulisan kitab Misbah al-Zulam yakni tanqil (mengutip), tabyid (pemilahan) dan tahqiq (penguatan). Metode tanqil bebarti menukil dari literatur yang dipakai sebagai referensi, sedangkan metode tabyid berarti melakukan pemilahan naskah yang lebih relevan dengan tema. Adapun metode tahqiq adalah melakukan penguatan dari karya yang telah ditulis secara keseluruhan untuk diberikan penguatan. Ketiga, penerapan dalam metode tersebut meliputi penjelasan kebahasaan, asbab al-wurud, bahasan fiqh dan usul-nya, hadis secara umum, pembahasan dari sisi sanad, dan berbagai perbedaan pendapat ulama.
SISTEMATIKA PENYUSUNAN AL-QUR’AN: Telaah Terhadap Susunan Ayat pada Surat Al-Fatihah Perspektif Muhammad Mahmud Hijazi Riyanto, Riyanto; Mutmainnah, Aini; Ride, Ahmad Rozy; Despalena, Despalena
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol. 11, No. 01 (2023): Juni
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v11i1.12735

Abstract

This study describes a discussion of how Ulama and Al-Qur'an scholars respond to accusations directed at Islam, especially against the Al-Qur'an by orientalists and/or Western scholars. One of the Mufassir who responded to these accusations is Mohammed Mahmud Hijazi with a work entitled al-Wihdah al-Mawdhu’iyyah fi al-Qur'an. Among their doubts is the statement that the arrangement of the Qur’an is not systematic, which is not in accordance with the systematic arrangement that is developing today. So in an effort to answer this the author focuses on the composition of the verses in surah al-Fatihah, because the surah is known as Umm al-Kitab and Fatih al-Kitab which are considered as the faces of all the contents contained in the Qur’an. The library method and a descriptive-qualitative approach is used in this research to facilitate the research process from data related to the research topic. From the Hijazi interpretation of sura al-Fatihah, it can be concluded that in the first verse it is considered as the preamble, then praise to the One who gives favors (ie) the Most Compassionate and Most Merciful, then an explanation of His oneness which as a servant must worship Him, and He also explained how to ask for these instructions and then finally closed with an explanation of the rewards for previous people who did not follow the instructions He had given, namely those who were on a path that He did not want (a misguided path). From this explanation, isn't the arrangement of the verses in accordance with the systematic arrangement that can be found today, namely the arrangement that is systematic and neatly arranged. Penelitian ini memaparkan pembahasan tentang bagaimana ulama dan para pengkaji Al-Qur’an menjawab tuduhan yang diarahkan kepada Islam khususnya terhadap Al-Qur’an oleh para orientalis dan atau sarjana Barat. Salah satu ulama tafsir yang menjawab tuduhan tersebut ialah Muhammad Mahmud Hijazi dengan karya yang berjudul al-Wihdah al-Mawdhu’iyyah fi al-Qur'an. Di antara keraguan mereka ialah pernyataan akan tidak sistematisnya penyusunan al-Qur’an, yang mana sistematika tersebut tidak sesuai dengan sistematika penyusunan yang berkembang pada zaman ini. Sehingga dalam upaya menjawab hal tersebut penulis memfokuskan pada susunan ayat dalam surat al-Fatihah, karena surat tersebut dikenal dengan Umm al-Kitab dan Fatih al-Kitab yang di dalamnya dianggap sebagai wajah dari seluruh isi yang terkandung dalam al-Qur’an. Metode kepustakaan dan pendekatan deskriptif-kualitatif digunakan penulis dalam penelitian ini guna mempermudah proses penelitian dari data-data yang berkaitan dengan topik penelitian. Dari penafsiran Hijazi atas surat Al-Fatihah dapat didapatkan simpulan bahwa pada ayat pertama dianggap sebagai mukadimah, selanjutnya pujian kepada Dzat pemberi nikmat (yaitu) yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, lalu penjelasan akan sifat keesaan-Nya yang mana sebagai seorang hamba haruslah menyembah kepada-Nya, dan Dia juga menjelaskan bagaimana cara untuk meminta petunjuk tersebut kemudian pada akhirnya ditutup dengan pemaparan akan ganjaran bagi umat sebelumnya yang tidak mengikuti petunjuk yang telah Allah berikan, yaitu orang-orang yang berada di jalan yang tidak dikehendaki (jalan yang sesat). Dari penjelasan tersebut bukankah susunan ayat tersebut sesuai dengan sistematika penyusunan yang dapat ditemukan pada zaman sekarang, yaitu penyusunan yang sistematis dan tersusun rapi. 
MENGUNGKAP MISTERI AL-RAJA ‘ DAN AL-AMAL DALAM AL-QUR’AN: Eksplorasi Makna dalam Dimensi Semantik Adi Anggara, Deki Ridho; Asnawi, Aqdi Rofiq; Noor, Sabiq
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol. 11, No. 01 (2023): Juni
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v11i1.12593

Abstract

This study aims to explain and answer in more detail related to the semantics of the meaning of the words Al-Raja' and Al-Amal in the Qur'an. This type of research is a type of literature research using descriptive methods and semantic analysis methods to solve the problems studied. With the conclusion that the words Al-Raja' and Al-Amal have linguistic differences and synonymous sides. In terms of synonymity, the two words mean to expect goodness, while the linguistic differences between those that are in accordance with the context of the word Al-Raja' tend to hope accompanied by fear, can also be attributed as hope with full greed, ideals, the end of all directions and undone or ended, while the word Al-Amal has the meaning of expecting good with a long enough time. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan dan menjawab secara terperinci terkait semantik  dari makna kata Al-Raja’ dan Al-Amal dalam Al-Qur’an. Jenis penelitian ini merupakan jenis penelitian kepustakaan dengan menggunakan metode deskriptif dan metode analisis semantik untuk memecahkan permasalahan yang dikaji. Dengan kesimpulan bahwa kata Al-Raja’ dan Al-Amal memiliki perbedaan linguistik dan sisi sinonimitas. Dari Sisi sinonimitas kedua kata tersebut berarti mengharapkan kebaikan, sedangkan perbedaan linguistik antaranya yang sesuai dengan kontekstual katanya yaitu kata Al-Raja’ cenderung kepada harapan yang disertai ketakutan, juga bisa dinisbatkan sebagai harapan dengan penuh ketamakan, cita-cita, bagian ujung dari segala arah dan diurungkan atau diakhirkan, Sedangkan kata Al-Amal memiliki arti mengharapkan kebaikan dengan waktu yang cukup panjang. 
KAJIAN LIVING QUR’AN TRADISI PEMBACAAN AYAT KURSI SEBAGAI TOLAK BALA DI PPTQ AL-HIDAYAH PLOSOKANDANG TULUNGAGUNG Rahmawati, Nur Widad; al Laily, Rifqi As'adah
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol. 11, No. 01 (2023): Juni
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v11i1.13108

Abstract

Living Qur'an is a study that discusses various forms of public response or reception to the Qur'an. One of these phenomena is the tradition of reciting Ayat Kursi that occurred at the Tahfidzul Qur'an Islamic Boarding School Al-Hidayah Plosokandang Tulungagung. This study aims to describe the meaning of the tradition of reading Ayat Kursi at PPTQ Al-Hidayah. This research is a field research with a qualitative descriptive method. This research uses analysis of social knowledge of Karl Manheim which divides into three kinds of meaning. First, the objective meaning of reading Ayat Kursi here is to train students to be istiqamah in practicing this practice and a form of students' obedience to their caregivers. Second, the expressive meaning of reading the Ayat Kursi has the same benefits and goals but with a different explanation, namely as self-protection. Third, the documentary meaning of this tradition is that the students are not aware that this includes reading the Qur'an which has become a culture. This study also discusses the transmission and transformation of the reading of Ayat Kursi. Living Qur’an merupakan sebuah kajian yang membahas mengenai berbagai bentuk respon atau resepsi masyarakat terhadap al-Qur’an. Salah satu bentuk resepsi tersebut adalah tradisi pembacaan Ayat Kursi yang terjadi di Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Al-Hidayah Plosokandang Tulungagung. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan praktik dan pemaknaan tradisi pembacaan Ayat Kursi di PPTQ Al-Hidayah. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research) dengan metode deskriptif-kualitatif. Penelitian ini menggunakan analisis pengetahuan sosial Karl Manheim yang membagi menjadi tiga macam makna. Pertama, makna objektif dari pembacaan Ayat Kursi di sini adalah untuk melatih diri santri agar  istiqamah dalam mengamalkan amalan ini dan wujud kepatuhan santri terhadap pengasuh. Kedua, makna ekspresif dari pembacaan Ayat Kursi ini memilliki manfaat dan tujuan yang sama tetapi dengan penjelasan yang berbeda yaitu sebagai pelindung diri. Ketiga, makna dokumenter dari tradisi ini bahwa para santri tidak sadar bahwa ini termasuk pembacaan al-Qur’an yang sudah menjadi budaya. 
HUBUNGAN SUAMI ISTRI DALAM AL-QUR’AN PERSPEKTIF MUHAMMAD ‘ALI AL-SABUNI: Analisis Mubadalalah terhadap Tafsir Rawai’ al-Bayan Tafsir Ayat al-Ahkam min al-Qur’an Ningrum, Rida Amalia; Nurkholidah, Nurkholidah
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol. 11, No. 01 (2023): Juni
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v11i1.14945

Abstract

This article aims to show Muhammad 'Ali al-Sabuni's interpretation of the verses on husband and wife relations in one of his works entitled "Tafsir Rawai' al-Bayan Tafsir Ayat al- Ahkam min al-Qur'an.” To increase insight and achieve this goal, the author uses mubadalah analysis which wants to show mu'asyarah bi al-ma'ruf between husband and wife in the household. In interpreting the verses on husband-wife relations, al-Sabuni stated social facts that occurred in society. The conclusion of this article shows that al-Sabuni tries to present an understanding of the Qur'an based on the social needs of mankind. So, the benefits of its interpretation can be felt throughout the ages. Tulisan ini bertujuan untuk memperlihatkan penafsiran Muhammad ‘Ali  al-Sabuni  atas  ayat-ayat  hubungan  suami  istri  dalam  salah  satu karyanya  yang  berjudul  “Tafsir  Rawai’u  al-Bayan Tafsir  Ayat al- Ahkam Min al-Qur’an.” Untuk menambah wawasan dan mencapai tujuan tersebut, penulis menggunakan analisis mubadalah yang ingin memperlihatkan  mu’asyarah  bi  al-ma’ruf  antara  suami  dan  istri  di dalam berumah tangga. Dalam menafsirkan ayat-ayat hubungan suami-istri,   al-Sabuni  mengemukakan   fakta-fakta   sosial   yang   terjadi   di Masyarakat. Kesimpulan dari tulisan ini menunjukkan bahwa al-Sabuni berusaha   menampilkan   pemahaman   terhadap   al-Qur’an   berdasakan kebutuhan sosial umat Manusia. Sehingga, penafsirannya bisa dirasakan manfaatnya di sepanjang zaman.. 
STUDI STILISTIKA AYAT KISAH NABI ADAM Q.S. AL-BAQARAH DAN Q.S. AL-A’RAF Rahman, Syahrul; Pamil, Jon
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol. 11, No. 01 (2023): Juni
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v11i1.13326

Abstract

This article examines the editorial differences between Adam's story verses, which are spread across two surahs, al-Baqarah and al A'raf. The academic discussion in this study begins with the assumption of some Western scholars who think that the language of the Quran is not systematic, there is no coherence between sentences, and language styles that jump up and down confuse the reader. The negatif stigma built by Western scholars is contrary to the theory of miracles in the Qur'an promoted by commentators. The Muslim scholars (mufassir) had emphasized the importance of the Quran's language as part of its miracles. This article traces the form of editorial similarity in the verses of the Quran contained in the two surahs above and is analyzed using a descriptive analysis approach. The object of this library research is the verses of the stories of Prophet Adam in surah al-Baqarah and al A'raf. The stylistic approach of the Quran is considered capable of testing the validity of the research’s result by Western scholars who negatifly judge the language style of the Quran. The findings of this research confirm the miraculous inimitability of Quranic expressions. It also refutes some Western theories regarding the unsystematic language of the Quran. Artikel ini fokus mengkaji perbedaan redaksi ayat kisah Nabi Adam yang tersebar di dua surah, surah al-Baqarah dan surah al-A’raf. Diskusi akademis pada penelitian ini berawal dari asumsi sebagian sarjana Barat yang beranggapan bahwa bahasa al-Qur’an tidak sistematis, tidak adanya koherensi antar kalimat dan gaya bahasa yang loncat-loncat membuat pembaca bingung. Stigma negatif yang dibangun Sarjana Barat ini bertolak belakang dengan teori kemukjizatan bahasa al-Qur’an yang diusung oleh para sarjana tafsir. Jauh sebelumnya, para ulama tafsir al-Qur’an sudah menyuarakan adanya keistimewaan bahasa al-Qur’an dan ia bahagian dari kemukjizatan al-Quran.  Artikel ini melacak bentuk kemiripan redaksi ayat al-Qur’an yang termuat di dua surah di atas dan dianalisa dengan menggunakan pendekatan analisis eksplanatori, yaitu menjelaskan bagaimana tingginya sastra bahasa al-Qur’an dalam ber-ta’bir. Penelitian ini murni penelitian kepustakaan dengan menjadikan ayat kisah Nabi Adam yang tercantum dalam surah al-Baqarah dan surah al-A’raf sebagai objek penelitian. Pendekatan stilistika al-Qur’an dianggap mampu untuk menguji kevalidan hasil penelitian sarjana Barat yang menilai negatif terhadap gaya bahasa al-Quran. Temuan penelitan ini adalah mengkonfirmasi adanya miraculous inimitability of Quranic expressions, keindahan bahasa al-Qur’an tiada tandingan. Sekaligus membantah sebagian teori Barat terkait ketidaksistematikan bahasa al-Qur’an.
DIMENSI LOKALITAS PENAFSIRAN: Bentuk dan Karakter Lokal dalam Kitab Tafsir Resmi Pemerintah Orde Baru Republik Indonesia Lutfi, Achmad
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol. 11, No. 01 (2023): Juni
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v11i1.15006

Abstract

The process of Qur’anic interpretation carried out by mufassir could not be separated from historical context. Every space and time as an integrated element of history, produces typical interpretation’s discourse, pattern, movement and reformation, where every single emphasis criticizes the previous interpretations while at the same time constructs a new theory of interpretation. Likewise, the existence of The Book of Al-Qur’an and its Interpretation are proposed and published by Ministry of Religious Affairs of Indonesia Republic, certainly in interpreting activities to its verses of Qur’an gave rise locality elements and endeavored an effortless to be arriving at the goal of word meaning being interpreted. Proses penafsiran Alquran yang dilakukan oleh mufassir tidak lepas dari konteks sejarah yang melekat dalam dirinya. Setiap ruang dan waktu sebagai elemen sejarah yang terintegrasi, menghasilkan wacana, pola, gerakan, dan reformasi interpretasi yang khas, di mana setiap penekanan mengkritisi interpretasi sebelumnya sekaligus membangun interpretasi baru. Demikian pula dengan keberadaan Kitab Al-Qur'an dan Tafsirnya yang dibuat dan diterbitkan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia, tentunya dalam kegiatan penafsiran terhadap ayat-ayat Al-Qur'annya memunculkan unsur lokalitas dan diupayakan dengan cara yang mudah. sampai pada tujuan makna kata yang ditafsirkan. Melalui pendekatan hermeneutika dan resepsi, artikel ini mengupas bentuk lokalitas yang terdapat dalam kitab Al-Qur’an dan Tafsirnya.  
POLEMIK AL-SAHABAH KULLUHUM ‘UDUL DALAM PERIWAYATAN HADIS Darussamin, Zikri
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol. 11, No. 01 (2023): Juni
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v11i1.13563

Abstract

This article aims to investigate the rules of al-sahabah kulluhum 'udl. The rule of al-sahabah kulluhum 'udl is a concept that considers all of the Prophet's companions to be fair. According to Sunni scholars, a shahabah or companion is a "conveyor of shari'a". Doubting a companion's justice means doubting the "building" of shari'a. According to them, companionship justice is not built based on their daily activities but through self-affirmation. Companions are fair because they are Prophet’s companions and nothing can erase their status as his companions. On the other hand, some contemporary thinkers say the opposite and consider that not all his companions are fair. Being a friend and being fair are two separate concepts. Friends are said to be fair determined by their activities and not through self-affirmation. This research is library research with a theological-historical approach. The findings revealed that friends were involved in causing a schism in Islam, and some companions acted in ways that were inconsistent with the character of people with a just status. Apart from that, the descriptions in the Qur'an and Hadith about friends are different, there are so-called groups of believers, hypocrites, and wicked. Thus, generalizing all friends is wrong. Therefore, the doctrine of al-shahabah kulluhum 'udl needs to be reformulated to become al-sahabah kulluhum 'udl fi al-riwayah. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji kaidah al-sahabah kulluhum ‘udul. Kaidah al-sahabah kulluhum ‘udul adalah sebuah konsep yang memandang semua sahabat Nabi bersifat adil. Menurut ulama sunni, sahabat adalah "penyampai syari'at", meragukan keadilan sahabat berarti meragukan "bangunan" syari'at Islam” secara total. Menurut mereka, keadilan sahabat tidak dibangun atas dasar aktivitas mereka sehari-hari, namun melalui afirmasi diri. Sahabat itu adil karena memang mereka itu sahabat dan tidak ada perbuatan apapun yang dapat menghapus status mereka sebagai sahabat dan sekaligus adil. Di sisi lain, sebagian pemikir kontemporer mengatakan yang sebaliknya dan menganggap tidak semua sahabat adil. Menjadi sahabat dan menjadi adil adalah dua konsep yang terpisah. Sahabat dikatakan adil ditentukan oleh aktifitas mereka dan bukan melalui afirmasi diri.  Penelitian ini merupakan penelitian library research dengan pendekatan teologis-historis. Hasil penelitian menunjukkan adanya keterlibatan sahabat dalam memunculkan skisma dalam Islam serta terdapatnya sejumlah sahabat yang berprilaku tidak sesuai dengan karakter orang yang berstatus adil. Kecuali itu, gambaran al-Qur’an dan hadis tentang sahabat berbeda-beda, ada yang disebut kelompok orang mukmin, munafik dan fasik. Dengan demikian, menggeneralisir semua sahabat adil adalah keliru. Oleh karena itu, doktrin al-shahabah kulluhum ‘udul perlu direformulasi menjadi al-sahabah kulluhum ‘udul fi al-riwayah.
MADU SEBAGAI ALTERNATIF PENGOBATAN JASMANI: Tadabbur Al-Quran Surah Al-Nahl ayat 69 Perspektif ‘Abdurrahman Habannakah Maula, Minnatul; Kawiriyan, Ma'ruf Wahyu; Huda, Ade Naelul
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol. 11, No. 01 (2023): Juni
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v11i1.12358

Abstract

Based on the results of basic health research on the population of Indonesia conducted by the Ministry of Health, there were 48% of people using herbal alternative medicine and 31% of people using their own concoctions for treatment. Indonesia as a country rich in medicinal plants and the majority of the population is Muslim, this has the potential to develop alternative medicine in accordance with the instructions of the Qur'an. This research is a library research that examines honey which can be used as an alternative to physical medicine as Allah says in QS. Al-Nahl. This research was conducted by analyzing the tadabbur of the Koran using ‘Abdurrahman Habannakah theory. The systematic discussion was written using the Tafsir Mawḍu’i principle initiated by al-Farmawi. The results of the study show that one of the themes discussed in the Qur'an in the verses of Shifa‘ is related to the efficacy of honey as an alternative in treating disease. Honey, which actually comes from flower essences processed by bees, produces various variants of honey that can be consumed according to their respective properties. The benefits of honey are also proven by scientific research that honey contains substances that are very beneficial to the human body. The use of honey as an alternative treatment can also minimize the use of drugs that can damage human organs. This illustrates that the Qur'an does not only contain religious insights, but also contains all the solutions to all the problems of human life. Berdasarkan hasil riset kesehatan dasar penduduk Indonesia yang dilakukan kementrian kesehatan terdapat 48 % masyarakat menggunakan pengobatan alternatif ramuan jadi dan 31 % masyarakat menggunakan ramuan racikan sendiri untuk pengobatan. Indonesia sebagai negara yang kaya akan tanaman obat dan sebagian besar penduduk merupakan umat muslim hal ini berpotensi untuk dikembangkan pengobatan alternatif yang sesuai dengan petunjuk al-Qur’an. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan yang mengkaji madu yang dapat digunakan sebagai alternative pengobatan jasmani sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Nahl. Penelitian ini dilakukan dengan analisis tadabbur al-Qur’an menggunakan teori ‘Abdurrahman Habannakah, Adapun sistematika pembahasan ditulis dengan kaedah Tafsir Mawḍu’i yang digagas al-Farmawi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa salah satu tema yang dibahas al-Qur’an pada ayat-ayat Shifa‘ adalah terkait khasiat madu sebagai alternatif dalam mengobati penyakit. Madu yang sejatinya berasal dari sari bunga yang diproses melalui lebah, menghasilkan beragam varian madu yang dapat dikonsumsi sesuai khasiatnya masing-masing. Khasiat madu juga dibuktikan dengan penelitian ilmiah bahwa madu mengandung zat-zat yang sangat bermanfaat bagi tubuh manusia. Penggunaan madu sebagai alternatif pengobatan juga dapat meminimalisir penggunaan obat yang dapat merusak organ tubuh manusia. Hal ini menggambarkan bahwa al-Qur’an tidak hanya sekedar memuat wawasan keagamaan, namun juga memuat seluruh solusi dari segala problematika kehidupan manusia. 

Page 1 of 1 | Total Record : 10