cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota cirebon,
Jawa barat
INDONESIA
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis
ISSN : 23030453     EISSN : 24429872     DOI : -
Core Subject : Education,
Diya al-Afkar adalah jurnal ilmiah yang memfokuskan studi al-Quran dan al-Hadis. Jurnal ini menyajikan karangan ilmiah berupa kajian ilmu-ilmu al-Quran dan al-Hadis, penafsiran/pemahaman al-Quran dan al-Hadis, hasil penelitian baik penelitian pustaka maupun penelitian lapangan yang terkait tentang al-Quran atau al-Hadis, dan/atau tinjauan buku. Jurnal ini diterbitkan secara berkala dua kali dalam setahun.
Arjuna Subject : -
Articles 233 Documents
MODEST FASHION SEBAGAI FENOMENA SOSIAL-RELIGIUS: Respons Tafsir al-Munīr dan al-Misbah terhadap Tren Busana Muslimah Mujiburohman, Mujiburohman; Farah Nurfadhilah, Farah
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 13, No 2 (2025): Desember
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v13i2.22713

Abstract

Modest fashion, as a modern trend in Muslim women’s clothing, raises new questions about how Qur’anic values are interpreted and expressed within contemporary dressing practices. This study addresses a research gap in examining the relationship between classical–contemporary Qur’anic exegesis and the phenomenon of modest fashion as both a religious and cultural expression. The research aims to analyze the interpretations of Wahbah al-Zuḥaylī in Tafsīr al-Munīr and M. Quraish Shihab in Tafsir al-Misbah on Qur’anic verses QS al-A‘rāf [7]:26 and QS al-Aḥzāb [33]:59, as well as to compare their hermeneutical implications for the development of modest fashion. This study employs a qualitative library research method using Wilhelm Dilthey’s hermeneutical approach. The analysis is conducted through reconstructing the historical context of the verses and mapping the interpretive arguments developed by each exegete. The findings show that al-Zuḥailī interprets the verses textually, emphasizing the function of clothing as a cover for the body and a marker of piety, whereas Quraish Shihab offers a contextual reading that links the meaning of clothing to social identity, public ethics, and modern cultural dynamics. This study contributes to contemporary Qur’anic exegesis by demonstrating that the hermeneutical frameworks of both exegetes provide distinct conceptual bases for understanding modest fashion—either as a continuation of Islamic norms of dress or as a cultural mode of expression within modern Muslim society.Modest fashion sebagai tren busana muslimah modern memunculkan pertanyaan baru mengenai bagaimana nilai-nilai al-Qur’an dipahami dan diartikulasikan dalam praktik berpakaian kontemporer. Studi ini mengisi kekosongan riset yang belum banyak mengkaji hubungan antara konstruksi tafsir klasik–kontemporer dengan fenomena modest fashion sebagai ekspresi keagamaan dan kultural. Penelitian ini bertujuan menganalisis penafsiran Wahbah al-Zuḥaylī dalam Tafsīr al-Munīr dan M. Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah atas Q.S. al-A‘rāf [7]:26 dan Q.S. al-Aḥzāb [33]:59, sekaligus membandingkan implikasi hermeneutisnya terhadap perkembangan modest fashion. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang berbentuk library research dengan pendekatan hermeneutika Wilhelm Dilthey. Analisis dilakukan melalui rekonstruksi konteks historis ayat serta pemetaan argumen penafsiran yang dikembangkan masing-masing mufasir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa al-Zuḥaylī menafsirkan kedua ayat tersebut secara tekstual dengan menekankan fungsi pakaian sebagai penutup aurat dan penanda kesalehan. Sedangkan Quraish Shihab menawarkan pembacaan kontekstual yang mengaitkan makna pakaian dengan identitas sosial, etika publik, dan dinamika budaya modern. Studi ini berkontribusi pada kajian tafsir kontemporer dengan menunjukkan bahwa kerangka hermeneutik kedua mufasir menyediakan basis konseptual yang berbeda dalam memahami modest fashion—baik sebagai kelanjutan norma berpakaian Islam maupun sebagai ruang artikulasi budaya dalam masyarakat muslim modern.    
MAPPING THE PARADIGM OF CONTEMPORARY MAQĀṢIDĪ EXEGESIS: A Philosophical Inquiry Into The Works of Abū Zayd, Raḥmānī, and As’ad Maimun, Muhammad; Mubarok, Muhamad Sofi; Yahya, Mohamad
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 13, No 2 (2025): Desember
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v13i2.23816

Abstract

Contemporary tafsir studies are experiencing a paradigm shift from textuality toward maqāṣid-based contextuality. However, the methodological diversity among contemporary scholars remains philosophically unmapped. This research aims to analyze the paradigmatic construction of tafsir maqāṣidī (maqāṣid-based exegesis) through the thoughts of three key figures: Waṣfī ’Ashūr Abū Zayd, Ibrahim Raḥmānī, and ‘Alī Muḥammad As’ad. Employing a qualitative library research method with a philosophy of science approach, this study examines the ontological, epistemological, and axiological aspects of their works. The findings indicate that ontologically, the three scholars concur in positioning the Qur'an as a text embodying a dynamic intentio dei (Divine intent). Epistemologically, significant differences exist; Abū Zayd emphasizes linguistic aspects and thematic induction, whereas Raḥmānī focuses on strict legal rationale ('illat) verification. Axiologically, tafsir maqāṣidī is oriented toward grounding universal Qur'anic values that offer solutions to humanitarian problems. This study concludes that tafsir maqāṣidī offers an integrative methodology that bridges the gap between the text of revelation and contemporary reality. Studi tafsir kontemporer mengalami pergeseran paradigma dari tekstualitas menuju kontekstualitas berbasis tujuan (maqāṣid). Namun, keragaman metodologi di kalangan sarjana kontemporer seringkali belum terpetakan secara filosofis. Penelitian ini bertujuan membedah konstruksi paradigmatik tafsir maqāṣidī melalui pemikiran tiga tokoh kunci: Waṣfī ’Ashūr Abū Zayd, Ibrahim Raḥmānī, dan ‘Alī Muḥammad As’ad. Menggunakan metode kualitatif-pustaka dengan pendekatan filsafat ilmu, penelitian ini menganalisis aspek ontologi, epistemologi, dan aksiologi dari karya-karya tafsir mereka. Temuan penelitian menunjukkan bahwa secara ontologis, ketiga tokoh sepakat menempatkan Al-Qur'an sebagai teks yang memuat intentio dei (maksud Tuhan) yang dinamis. Secara epistemologis, terdapat perbedaan signifikan bahwa Abū Zayd lebih menekankan aspek linguistik, sementara Raḥmānī pada illat hukum]. Secara aksiologis, tafsir maqāṣidī berorientasi pada pembumian nilai universal Al-Qur'an yang solutif bagi problem kemanusiaan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa tafsir maqāṣidī menawarkan metodologi integratif yang menjembatani teks wahyu dan realitas kekinian.  
ORTODOKSI PESANTREN DALAM TAFSIR AL-BAYĀN KARYA KH. SHODIQ HAMZAH SEMARANG Nur Ngaisah, Zulaikhah Fitri
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 13, No 2 (2025): Desember
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v13i2.22719

Abstract

Tafsir al-Bayān is a Qur’anic exegesis that emerged and was written by a pesantren (Islamic boarding school) scholar, Shodiq Hamzah. It is acknowledged that this work extensively refers to Qur’anic commentaries authored by earlier scholars. At this point, it is possible that he integrates, to some extent, the teachings of classical scholars, which indirectly positions his work as a Qur’anic exegesis with an orthodox paradigm. Orthodoxy itself refers to the preservation of religious understanding inherited from previous generations through interconnected scholarly transmission. This research aims to uncover the pesantren orthodoxy paradigm in Tafsir al-Bayān, as it was written by a productive pesantren figure and has been followed by the local community. The method employed is descriptive-analytical, using a content analysis approach directed at Tafsir al-Bayān, particularly focusing on its sources of reference and theological thought. To identify orthodoxy, this study applies five concepts of doctrinal orthodoxy proposed by John B. Henderson. The findings of this research affirm that Shodiq Hamzah’s Tafsir al-Bayān demonstrates an orthodox tendency due to its commitment to the works of earlier scholars (al-kutub al-muʿtabarah) and the opinions of the salaf as primary sources of reference. His scholarly background and Sunni scholarly networks also contribute to constructing this orthodox framework of thought. Furthermore, the orthodoxy of Shodiq Hamzah’s interpretation reinforces pesantren traditions, particularly in matters of theology (kalām) affiliated with Ahl al-Sunnah wa al-Jamāʿah. Nevertheless, his interpretation has not yet elaborated on contemporary discourses, resulting in an impression of conservatism and indicating the need for a more comprehensive interpretation to address contemporary problems. Tafsir al-Bayān adalah sebuah tafsir al-Qur’an yang ditulis oleh tokoh pesantren, Shodiq Hamzah. Karya ini diketahui banyak merujuk pada tafsir al-Qur’an karya ulama terdahulu, sehingga memungkinkan adanya integrasi ajaran dari generasi sebelumnya yang menjadikannya sebagai tafsir yang berparadigma ortodoks. Ortodoksi di sini merujuk pada upaya mempertahankan pemahaman agama yang diturunkan secara berkesinambungan melalui tradisi keilmuan yang saling terkait. Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri paradigma ortodoksi pesantren dalam Tafsir al-Bayān, mengingat penulisnya adalah tokoh pesantren yang produktif dan karyanya banyak diikuti masyarakat setempat. Metode yang digunakan adalah deskriptif-analisis dengan pendekatan content analysis, berfokus pada sumber rujukan dan pemikiran teologis dalam tafsir tersebut. Untuk mengidentifikasi ortodoksi, penelitian ini menggunakan lima konsep ortodoksi menurut John B. Henderson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tafsir al-Bayān memiliki kecenderungan ortodoks yang ditandai dengan komitmen penulisnya pada karya ulama terdahulu (al-kutub al-mu’tabarah) dan pendapat ulama salaf sebagai sumber utama. Latar belakang keilmuan dan jaringan keulamaan Sunni turut membentuk kerangka pemikiran ortodoks tersebut. Selain itu, ortodoksi tafsir Shodiq Hamzah memperkuat tradisi pesantren, khususnya dalam ranah teologi atau kalam yang berafiliasi dengan Ahl al-Sunnah wa al-Jamā‘ah. Meski demikian, tafsir ini belum banyak menanggapi diskursus kontemporer, sehingga menimbulkan kesan konservatif dan memerlukan interpretasi lebih komprehensif untuk menjawab persoalan kekinian.