cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota cirebon,
Jawa barat
INDONESIA
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis
ISSN : 23030453     EISSN : 24429872     DOI : -
Core Subject : Education,
Diya al-Afkar adalah jurnal ilmiah yang memfokuskan studi al-Quran dan al-Hadis. Jurnal ini menyajikan karangan ilmiah berupa kajian ilmu-ilmu al-Quran dan al-Hadis, penafsiran/pemahaman al-Quran dan al-Hadis, hasil penelitian baik penelitian pustaka maupun penelitian lapangan yang terkait tentang al-Quran atau al-Hadis, dan/atau tinjauan buku. Jurnal ini diterbitkan secara berkala dua kali dalam setahun.
Arjuna Subject : -
Articles 233 Documents
DIMENSI LOKALITAS PENAFSIRAN: Bentuk dan Karakter Lokal dalam Kitab Tafsir Resmi Pemerintah Orde Baru Republik Indonesia Lutfi, Achmad
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol. 11, No. 01 (2023): Juni
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v11i1.15006

Abstract

The process of Qur’anic interpretation carried out by mufassir could not be separated from historical context. Every space and time as an integrated element of history, produces typical interpretation’s discourse, pattern, movement and reformation, where every single emphasis criticizes the previous interpretations while at the same time constructs a new theory of interpretation. Likewise, the existence of The Book of Al-Qur’an and its Interpretation are proposed and published by Ministry of Religious Affairs of Indonesia Republic, certainly in interpreting activities to its verses of Qur’an gave rise locality elements and endeavored an effortless to be arriving at the goal of word meaning being interpreted. Proses penafsiran Alquran yang dilakukan oleh mufassir tidak lepas dari konteks sejarah yang melekat dalam dirinya. Setiap ruang dan waktu sebagai elemen sejarah yang terintegrasi, menghasilkan wacana, pola, gerakan, dan reformasi interpretasi yang khas, di mana setiap penekanan mengkritisi interpretasi sebelumnya sekaligus membangun interpretasi baru. Demikian pula dengan keberadaan Kitab Al-Qur'an dan Tafsirnya yang dibuat dan diterbitkan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia, tentunya dalam kegiatan penafsiran terhadap ayat-ayat Al-Qur'annya memunculkan unsur lokalitas dan diupayakan dengan cara yang mudah. sampai pada tujuan makna kata yang ditafsirkan. Melalui pendekatan hermeneutika dan resepsi, artikel ini mengupas bentuk lokalitas yang terdapat dalam kitab Al-Qur’an dan Tafsirnya.  
POLEMIK AL-SAHABAH KULLUHUM ‘UDUL DALAM PERIWAYATAN HADIS Darussamin, Zikri
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol. 11, No. 01 (2023): Juni
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v11i1.13563

Abstract

This article aims to investigate the rules of al-sahabah kulluhum 'udl. The rule of al-sahabah kulluhum 'udl is a concept that considers all of the Prophet's companions to be fair. According to Sunni scholars, a shahabah or companion is a "conveyor of shari'a". Doubting a companion's justice means doubting the "building" of shari'a. According to them, companionship justice is not built based on their daily activities but through self-affirmation. Companions are fair because they are Prophet’s companions and nothing can erase their status as his companions. On the other hand, some contemporary thinkers say the opposite and consider that not all his companions are fair. Being a friend and being fair are two separate concepts. Friends are said to be fair determined by their activities and not through self-affirmation. This research is library research with a theological-historical approach. The findings revealed that friends were involved in causing a schism in Islam, and some companions acted in ways that were inconsistent with the character of people with a just status. Apart from that, the descriptions in the Qur'an and Hadith about friends are different, there are so-called groups of believers, hypocrites, and wicked. Thus, generalizing all friends is wrong. Therefore, the doctrine of al-shahabah kulluhum 'udl needs to be reformulated to become al-sahabah kulluhum 'udl fi al-riwayah. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji kaidah al-sahabah kulluhum ‘udul. Kaidah al-sahabah kulluhum ‘udul adalah sebuah konsep yang memandang semua sahabat Nabi bersifat adil. Menurut ulama sunni, sahabat adalah "penyampai syari'at", meragukan keadilan sahabat berarti meragukan "bangunan" syari'at Islam” secara total. Menurut mereka, keadilan sahabat tidak dibangun atas dasar aktivitas mereka sehari-hari, namun melalui afirmasi diri. Sahabat itu adil karena memang mereka itu sahabat dan tidak ada perbuatan apapun yang dapat menghapus status mereka sebagai sahabat dan sekaligus adil. Di sisi lain, sebagian pemikir kontemporer mengatakan yang sebaliknya dan menganggap tidak semua sahabat adil. Menjadi sahabat dan menjadi adil adalah dua konsep yang terpisah. Sahabat dikatakan adil ditentukan oleh aktifitas mereka dan bukan melalui afirmasi diri.  Penelitian ini merupakan penelitian library research dengan pendekatan teologis-historis. Hasil penelitian menunjukkan adanya keterlibatan sahabat dalam memunculkan skisma dalam Islam serta terdapatnya sejumlah sahabat yang berprilaku tidak sesuai dengan karakter orang yang berstatus adil. Kecuali itu, gambaran al-Qur’an dan hadis tentang sahabat berbeda-beda, ada yang disebut kelompok orang mukmin, munafik dan fasik. Dengan demikian, menggeneralisir semua sahabat adil adalah keliru. Oleh karena itu, doktrin al-shahabah kulluhum ‘udul perlu direformulasi menjadi al-sahabah kulluhum ‘udul fi al-riwayah.
MADU SEBAGAI ALTERNATIF PENGOBATAN JASMANI: Tadabbur Al-Quran Surah Al-Nahl ayat 69 Perspektif ‘Abdurrahman Habannakah Maula, Minnatul; Kawiriyan, Ma'ruf Wahyu; Huda, Ade Naelul
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol. 11, No. 01 (2023): Juni
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v11i1.12358

Abstract

Based on the results of basic health research on the population of Indonesia conducted by the Ministry of Health, there were 48% of people using herbal alternative medicine and 31% of people using their own concoctions for treatment. Indonesia as a country rich in medicinal plants and the majority of the population is Muslim, this has the potential to develop alternative medicine in accordance with the instructions of the Qur'an. This research is a library research that examines honey which can be used as an alternative to physical medicine as Allah says in QS. Al-Nahl. This research was conducted by analyzing the tadabbur of the Koran using ‘Abdurrahman Habannakah theory. The systematic discussion was written using the Tafsir Mawḍu’i principle initiated by al-Farmawi. The results of the study show that one of the themes discussed in the Qur'an in the verses of Shifa‘ is related to the efficacy of honey as an alternative in treating disease. Honey, which actually comes from flower essences processed by bees, produces various variants of honey that can be consumed according to their respective properties. The benefits of honey are also proven by scientific research that honey contains substances that are very beneficial to the human body. The use of honey as an alternative treatment can also minimize the use of drugs that can damage human organs. This illustrates that the Qur'an does not only contain religious insights, but also contains all the solutions to all the problems of human life. Berdasarkan hasil riset kesehatan dasar penduduk Indonesia yang dilakukan kementrian kesehatan terdapat 48 % masyarakat menggunakan pengobatan alternatif ramuan jadi dan 31 % masyarakat menggunakan ramuan racikan sendiri untuk pengobatan. Indonesia sebagai negara yang kaya akan tanaman obat dan sebagian besar penduduk merupakan umat muslim hal ini berpotensi untuk dikembangkan pengobatan alternatif yang sesuai dengan petunjuk al-Qur’an. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan yang mengkaji madu yang dapat digunakan sebagai alternative pengobatan jasmani sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Nahl. Penelitian ini dilakukan dengan analisis tadabbur al-Qur’an menggunakan teori ‘Abdurrahman Habannakah, Adapun sistematika pembahasan ditulis dengan kaedah Tafsir Mawḍu’i yang digagas al-Farmawi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa salah satu tema yang dibahas al-Qur’an pada ayat-ayat Shifa‘ adalah terkait khasiat madu sebagai alternatif dalam mengobati penyakit. Madu yang sejatinya berasal dari sari bunga yang diproses melalui lebah, menghasilkan beragam varian madu yang dapat dikonsumsi sesuai khasiatnya masing-masing. Khasiat madu juga dibuktikan dengan penelitian ilmiah bahwa madu mengandung zat-zat yang sangat bermanfaat bagi tubuh manusia. Penggunaan madu sebagai alternatif pengobatan juga dapat meminimalisir penggunaan obat yang dapat merusak organ tubuh manusia. Hal ini menggambarkan bahwa al-Qur’an tidak hanya sekedar memuat wawasan keagamaan, namun juga memuat seluruh solusi dari segala problematika kehidupan manusia. 
KONTEKSTUALISASI PENAFSIRAN QS. AL-ḤUJURĀT [49]: 11 SEBAGAI RESPON TERHADAP FENOMENA CYBERBULLYING DI ERA DIGITAL Zakiah, Ade Rosi Siti; Nisa’, Luthfi Karimatun; Fitriani, Laily
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 11, No 02 (2023): Desember
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v11i02.15609

Abstract

The high number of cyberbullying in Indonesia is strongly influenced by the use of the internet which is increasing every year, especially among teenagers. In general, this action is carried out in various forms, whether on social media, online games, or platforms that provide columns for chatting. At the same time, the Koran records a number of incidents related to this phenomenon. The Qur'an does not explicitly mention the word cyberbullying, but in Surat al-Ḥujurāt verse 11 there is a word like yaskhar which means to make fun of and make fun of, then act arbitrarily or trouble other people. In particular, the main objective of this study is to explain how the contextual interpretation of QS. al-Ḥujurāt [49]: 11 and its relation to the phenomenon of cyberbullying in the digitalization era. This research is included in the category of library research with a normative-historical approach. The analysis theory used is Abdullah Saeed's contextual hermeneutics. As a result of this study, it was found that the text and context of QS. al-Ḥujurāt [49]: 11 shows that bullying behavior during the time of the Prophet saw was the same as bullying. This verse was revealed as an order in the form of a prohibition or categorized as an instructional value verse. There are fundamental values contained in this verse, including: the value of justice, the value of humanity and the value of responsibility. Tingginya angka cyberbullying di Indonesia sangat dipengaruhi oleh penggunaan internet yang meningkat setiap tahunnya terutama dikalangan remaja. Secara umum, tindakan ini dilakukan dalam berbagai bentuk, baik di media sosial, game online, maupun platform yang menyediakan kolom untuk chatting. Bersamaan dengan itu, al-Qur’an merekam sejumlah kejadian tentang fenomena tersebut. Al-Qur’an memang tidak menyebutkan secara eksplisit kata cyberbullying, namun dalam surat al-Ḥujurāt ayat 11 terdapat kata-kata seperti yaskhar yang berarti mengejek dan mengolok-olok, kemudian berlaku sewenang-wenang atau menyusahkan orang lain. Secara spesifik, tujuan utama penelitian ini untuk menjelaskan bagaimana penafsiran kontekstual QS. al-Ḥujurāt [49]: 11 dan kaitannya dengan fenomena cyberbullying di era digitalisasi. Kajian ini termasuk pada kategori penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan normatif-historis. Teori analisis yang digunakan ialah hermeneutika kontekstual Abdullah Saeed. Sebagai hasil dari kajian ini, ditemukan bahwa teks dan konteks QS. al-Ḥujurāt [49]: 11 menunjukkan perilaku intimidasi pada masa Nabi Saw sama hal nya dengan tindakan bullying. Turunnya ayat ini sebagai perintah dalam bentuk larangan atau dikategorikan sebagai ayat instructional value. Terdapat nilai fundamental yang terkandung dalam ayat ini, antara lain: nilai keadilan, nilai kemanusiaan dan nilai tanggung jawab. 
REVALUASI KONSEPSI TAKWA DALAM AL-QUR’AN: Pembentukan Tindakan Melalui Penekanan atas Ancaman Ghozali, Mahbub
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 11, No 02 (2023): Desember
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v11i02.15547

Abstract

          AbstractThe concept of piety as portrayed in the Qur'an, centered around the fear of divine consequences, lacks relevance within the context of da'wah. This study seeks to reevaluate the understanding of piety's significance. Employing a qualitative approach with content analysis, the research discerns that the term ittaqū, used in Qur'anic verses, addresses ethical, legal, and theological dimensions. This term serves as a directive for behavior to shield against divine retribution. The variation in themes mirrors the stages of the Prophet's da'wah, with discernible shifts between the periods of Makkah and Medina. This suggests an evolution in how protective measures and threats are articulated, underscoring the necessity of actions safeguarding humanity. Konsepsi takwa yang menjadi pusat pembahasan dalam al-Qur’an dengan identitas ketakutan terhadap ancaman tidak menemukan relevansinya dalam konteks dakwah. Penelitian ini bertujuan untuk melihat kembali konsepsi makna takwa. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan content analysis sebagai teknik analisisnya. Penelitian ini berkesimpulan bahwa diksi ittaqū digunakan pada ayat-ayat yang menjelaskan persoalan etika, hukum, dan teologis. Keberadaan tema berfungsi sebagai identitas tindakan yang digunakan untuk melindungi diri dari beragam ancaman Tuhan. Keragaman tema berkorelasi dengan tahapan dakwah Nabi. Klaim ini dibuktukan dengan perubahan tema terklasifikasi berbeda di masa dakwah Makkah dan Madinah. Hal ini menunjukkan pergeseran makna takwa tidak berlangsung dalam aspek terminologinya, akan tetapi berlangsung pada cara perlindungan dan ancaman yang dihadirkan untuk menekankan pelaksanaan tindakan yang menjadi pelindung manusia. 
HADIS TENTANG PENCIPTAAN PEREMPUAN (TINJAUAN HADIS TAḤLĪLĪ) Nurkholidah, Nurkholidah; Rahayu, Tami Dewi Puspa
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 11, No 02 (2023): Desember
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v11i02.18173

Abstract

This study is a contextual understanding of the hadith of the creation of women from ribs leading to the understanding that women are under the domination of men. This position causes women's movement and rights to be narrow and limited. This study aims to determine the understanding of the hadith with the questions: 1). What is the quality of the hadith of women created from men's ribs? 2). How should we understand the hadith of women created from men's ribs? This study is a descriptive literature study. This study found that the hadith of women created from men's ribs is a valid hadith both in terms of sanad and matan. The correct understanding of the hadith of women created from men's ribs is a contextual approach to language. The figurative meaning "like a rib" is a metaphor for someone who is stiff and stubborn, who if forced will break, but if left alone will be hard like bone. So it is not a matter of the factual creation of women from men's ribs. But rather a metaphorical allusion about the character of women/wives and their relationships with men/husbands in household life, often stiff, impatient, and easily angered. The hadith says that women were created from crooked ribs. If a man wants to straighten them, they will break.Penelitian ini adalah Pemahaman secara kontekstual terhadap hadis penciptaan perempuan dari tulang rusuk mengarah pada pemahaman bahwa perempuan berada di bawah dominasi lelaki. Posisi ini menyebabkan gerak dan hak-hak perempuan menjadi sempit dan terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemahaman hadis tersebut dengan pertanyaan:1).Bagaimana kualitas hadis wanita tercipta dari tulang rusuk laki-laki? 2). Bagaimana sebaiknya memahami hadis wanita tercipta dari tulang rusuk laki-laki?. Penelitian ini merupakan penelitian pustaka yang bersifat deskriftif. Penelitian ini menemukan bahwa hadis wanita tercipta dari tulang rusuk laki-laki merupakan hadis shahih baik secara sanad maupun matan. Pemahaman yang tepat terhadap hadist wanita tercipta dari tulang rusuk laki-laki adalah kontekstual pendektan bahasa Makna kiasan seperti tulang rusuk‖ adalah kiasan tentang seseorang yang kaku dan keras kepala,yang jika dipaksakan akan patah,tetapi jika dibiarkan akan keras seperti tulang. Jadi bukan soal penciptaan yang faktual perempuan dari tulang rusuk laki-laki. Melainkan kiasan metaforis tentang karakter perempuan/ istri dan relasinya lelaki /suami dalam kehidupan rumah tangga,seringkali kaku,tidak sabar,dan mudah marah. sabda hadis tersebut wanita tercipta dari tulang rusuk yang bengkok jika lelaki ingin meluruskan nya maka patah. 
SISTEM SANAD DALAM TRADISI YAHUDI DAN ISLAM: Studi Perbandingan antara Sanad Mishnah dan Sanad Hadis Ghifari, Muhammad
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 11, No 02 (2023): Desember
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v11i02.14052

Abstract

This article aims to examine the system of isnad in Jewish and Islamic traditions, specifically focusing on the isnad of Mishnah and the isnad of Hadith. The author employs a literature review approach with a comparative analysis to explore the similarities and differences between these two traditions in terms of the definition, significance, authority, and historical development of isnad. The author finds that the system of isnad in Mishnah and Hadith shares a common historical foundation, which is to preserve the authenticity and authority of religious teachings passed down orally from generation to generation. However, the isnad system in Hadith is more complex and methodological compared to the isnad system in Mishnah, as it involves various classifications, criticisms, and evaluations of the isnad and the content of the Hadith. The author also highlights that the isnad system in Mishnah and Hadith plays a significant role in shaping the identity, law, and teachings of Judaism and Islam. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji sistem sanad dalam tradisi Yahudi dan Islam, khususnya pada sanad Mishnah dan sanad Hadis. Penulis menggunakan jenis penelitian kepustakaan (library research) dengan analisis perbandingan untuk meneliti kesamaan dan perbedaan antara kedua tradisi tersebut dalam hal definisi, urgensi, otoritas, dan sejarah perkembangan sanad. Penulis menemukan bahwa sistem sanad dalam Mishnah dan Hadis memiliki akar sejarah yang sama, yaitu sebagai sarana untuk menjaga keaslian dan otoritas ajaran agama yang diturunkan secara lisan dari generasi ke generasi. Namun, sistem sanad dalam Hadis lebih kompleks dan metodologis daripada sistem sanad dalam Mishnah, karena adanya berbagai macam klasifikasi, kritik, dan evaluasi terhadap sanad dan matan hadis. Penulis juga menunjukkan bahwa sistem sanad dalam Mishnah dan Hadis memiliki peran penting dalam pembentukan identitas, hukum, dan ajaran Yahudi dan Islam.
HUTANG PIUTANG DALAM PENAFSIRAN ABŪ ḤAYYĀN: Studi Terhadap Ayat-Ayat Hukum dengan Analisis Qirā`āt Shādhdhah Widayati, Romlah; Saepullah, Saepullah
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 11, No 02 (2023): Desember
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v11i02.18482

Abstract

This study aims to analyse the Quranic text related to debt and credit in Islam, namely Surah Al-Baqarah verse 280. Debt and credit, according to Abū Ḥayyan, through the approach of various qirā`at, offers a detailed linguistic analysis that underlines the differences in interpretation and application in Islamic law. This research uses the descriptive-analytic method. The primary data source is Abū Ḥayyan's tafsir, which discusses the variations of qira'āt in verses related to debt and credit. Secondary data sources include Tafsir literature, journal articles, books, and previous studies. The results show that scholars' opinions regarding the interpretation and application of the law of debt and credit vary; some fuqaha emphasise the obligation to provide leeway, while others see it as a sunnah recommendation. This study concludes that the variation of qirā`āt in Surah al-Baqarah verse 280 adds depth and richness to the meaning of the verse, as well as provides flexibility in applying the law of debt and credit in Islam. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis teks Quran terkait dengan utang piutang dalam Islam, yaitu Surah Al-Baqarah ayat 280. Utang piutang menurut Abū Ḥayyan melalui pendekatan berbagai qirā`at, menawarkan analisis linguistik terperinci yang menggarisbawahi perbedaan interpretasi dan penerapan dalam hukum Islam. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-analitik. Sumber data primer yaitu tafsir Abū Ḥayyan yang membahas variasi qirā'at pada ayat-ayat terkait utang piutang. Sumber data sekunder mencakup literatur tafsir, artikel jurnal, buku, dan studi sebelumnya. Hasil penelitian menunjukkan pendapat ulama mengenai interpretasi dan aplikasi hukum hutang piutang bervariasi, sebagian fuqaha menekankan kewajiban memberikan kelonggaran sementara yang lain melihatnya sebagai anjuran sunnah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa variasi qirā`āt dalam Surat Al-Baqarah ayat 280 menambah kedalaman dan kekayaan makna ayat, serta memberikan fleksibilitas dalam penerapan hukum hutang piutang dalam Islam. 
PEMAKNAAN INTERTEKSTUAL PADA HADIS TENTANG LARANGAN GHULUW Iskandar, Amin; Soleh, Komarudin
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 11, No 02 (2023): Desember
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v11i02.15243

Abstract

This article aims to discuss the Hadith regarding the prohibition of ghuluw with an intertextual approach, namely an approach to understanding texts by finding meaningful relationships between two or more texts. This research is library research. The method used in this research is a qualitative approach. The results of this research conclude that the hadith regarding the prohibition of ghuluw is an original hadith, its existence can be traced in famous hadith books, and has authentic quality. Through intertextual interpretation, it can be concluded that the Hadith regarding the prohibition of ghuluw is meaningful and at the same time functions as bayan at-ta'kid (reinforcement) for the verses in the Koran regarding the prohibition of excesses in religion and the verses regarding the recommendation to be moderate. This meaning is also strengthened by the Prophet's correction of the excessive attitudes carried out by several companions mentioned in other hadiths.  Artikel ini bertujuan untuk membahas Hadis tentang larangan ghuluw dengan pendekatan intertekstual, yaitu suatu pendekatan dalam memahami teks dengan cara menemukan hubungan-hubungan bermakna diantara dua teks atau lebih. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan. Adapun metode yang digunakan pada penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa Hadis tentang larangan ghuluw merupakan Hadis yang orisinil, keberadaannya dapat ditelusuri di dalam kitab-kitab Hadis yang masyhur, serta memiliki kualitas yang shahih. Melalui pemaknaan intertekstual dapat disimpulkan bahwa Hadis tentang larangan ghuluw semakna dan sekaligus berfungsi sebagai bayan at-ta’kid (penguat) terhadap ayat-ayat di dalam Al-Qur’an tentang larangan bersikap berlebih-lebihan dalam beragama dan ayat tentang anjuran untuk bersikap moderat. Pemaknaan ini diperkuat pula dengan koreksi Nabi atas sikap berlebihan yang dilakukan oleh beberapa sahabat yang disebutkan di dalam Hadis-Hadis yang lain.  
TRADISI SEMA’AN AL-QUR’AN JAM’IYYAH HAFIDH DI PESANTREN TARBIYYATUL QUR’AN AL-FALAH TULUNGAGUNG Syahrul Munir, Mohamad; Abdur Rohman, Ali
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 11, No 02 (2023): Desember
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v11i02.14046

Abstract

This research seeks to explain the tradition of the al-Qur'an sema'an which has long been practiced in the Tarbiyyah Al-Qur'an Al-Falah Islamic boarding school Doroampel, Sumbergempol sub-district, Tulungagung, which includes the history of the tradition or routines to the meanings contained in the tradition. The method used in this study is a qualitative research method that is field research using a triangular technique in obtaining field data and approaches to sociology and the living Qur'an. In this study, the authors get the findings; First, the al-Qur'an sema'an tradition which is carried out at the Tarbiyyah Al-Qur'an Al-Falah Islamic boarding school in Doroampel, Sumbergempol sub-district, Tulungagung, which has been going on since 2010 until now with the initial aim of only preserving the culture that is inherent in Doroampel village. Sumbergempol district, Tulungagung. Second, based on Karl Mennheim's theory, it was found that this Qur'anic sema'an tradition has three meanings, namely objective meaning, expressive meaning, and documentary meaning  Penelitihan ini membuka tabir dan menumbuhkan spirit dalam menghafalkan al-Qur’an. Peneliti berusaha menjelaskan tradisi sema’an al-Qur’an yang sudah lama dipraktikkan di Pondok Pesantren Tarbiyyah al-Qur’an Al-Falah Doroampel, Sumbergempol, Tulungagung, yang meliputi sejarah tradisi atau rutinan hingga makna-makna yang terkandung dalam tradisi tersebut. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif yang bersifat riset lapangan (field research) dengan menggunakan teknik tringualis dalam memperoleh data lapangan dan pendekatan sosiologi dan living Qur’an. Dalam penelitian ini, penulis mendapatkan hasil temuan; pertama, tradisi sema’an al-Qur’an yang dilaksanankan di Pondok Pesantren Tarbiyyah Al-Qur’an Al-Falah Doroampel kecamatan Sumbergempol, Tulungagung yang sudah berlangsung sejak tahun 2010 hingga sekarang dengan tujuan awalnya hanya melestarikan budaya yang sudah melekat di desa Doroampel, Sumbergempol, Tulungagung. Kedua, berdasarkan teori Karl Mennheim, didapatkan bahwa tradisi sema’an al-Qur’an ini mempunyai tiga makna, yaitu makna objektif, makna ekspresif, dan makna dokumenter.