cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota cirebon,
Jawa barat
INDONESIA
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis
ISSN : 23030453     EISSN : 24429872     DOI : -
Core Subject : Education,
Diya al-Afkar adalah jurnal ilmiah yang memfokuskan studi al-Quran dan al-Hadis. Jurnal ini menyajikan karangan ilmiah berupa kajian ilmu-ilmu al-Quran dan al-Hadis, penafsiran/pemahaman al-Quran dan al-Hadis, hasil penelitian baik penelitian pustaka maupun penelitian lapangan yang terkait tentang al-Quran atau al-Hadis, dan/atau tinjauan buku. Jurnal ini diterbitkan secara berkala dua kali dalam setahun.
Arjuna Subject : -
Articles 233 Documents
INFILTRASI DALAM TAFSIR SHI’AH: Analisis Penafsiran Q.S. al-Nisā’ Ayat 24 dalam Tafsir Majma’ Al-Bayān Fī Tafsīr al-Qur’ān AS, Sifa Mufidatul Akbar; Khoiroh, Muflikhatul
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 12, No 1 (2024): Juni
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v12i1.17259

Abstract

The interpretation of the Qur'an is inseparable from the influence of existing ideological schools or schools. It is not uncommon for interpretations influenced by certain schools of thought to contradict opinions in general, so that the verses they interpret appear to support and do not appear to be contrary or contradictory to their madhhab and beliefs. One of the schools known in Islam is Shi'ah. One of the famous works of interpretation in this sect is Majma' Al-Bayan fi Tafsir Al-Qur'an. This study aims to analyze the infiltration that exists in the Majma' Al-Bayan fi Tafsir Al-Qur'an tafsir with a focus on the interpretation of Q.S. Al-Nisa' Verse 24. This research uses descriptive-analytical method with bibliography research approach. The primary data source used in this research is the interpretation of Majma' Al-Bayan fi Tafsir Al-Qur'an by al-Tabarsi, while secondary data sources in this research are books, articles, and writings related to Shi'ah tafsir, tafsir al-Qur'an, and other things that support research. By using Abd al-Wahhab Fayed's al-dakhil theory, the results of research on the interpretation of Q.S. Al-Nisa' Verse 24 in al-Tabarsi’s tafsir has indications of infiltration of both the meaning of the language and the hadith used in the interpretation of the verse.  Penafsiran terhadap al-Qur’an tidak terlepas dari pengaruh aliran atau mazhab ideologi yang ada. Tidak jarang penafsiran yang dipengaruhi oleh mazhab tertentu bertentangan dengan pendapat pada umumnya, sehingga ayat yang ditafsirkannya tampak mendukung dan tidak tampak berlawanan atau bertentangan dengan madzhab serta kepercayaannya. Salah satu aliran yang dikenal dalam Islam adalah Shi’ah. Salah satu karya tafsir yang terkenal dalam aliran ini ialah tafsir Majma’ Al-Bayan fi Tafsir Al-Qur’an. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis infiltrasi yang ada dalam tafsir Majma’ Al-Bayan fi Tafsir Al-Qur’an dengan fokus pada penafsiran QS. Al-Nisa’ Ayat 24. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-analitis dengan pendekatan studi kepustakaan (bibliography research). Sumber data primer yang digunakan dalam penelitian ini adalah tafsir Majma’ Al-Bayan fi Tafsir Al-Qur’an karya al-Tabarsi, adapun sumber data sekunder dalam penelitian ini berupa buku, artikel, dan tulisan yang berkenaan dengan tafsir Shi’ah, tafsir al-Qur’an, serta hal lain yang mendukung penelitian. Dengan menggunakan teori al-dakhil milik Abd al-Wahhab Fayed,  hasil penelitian atas penafsiran QS. Al-Nisa’ Ayat 24 dalam tafsir milik al-Tabarsi ini menunjukkan adanya indikasi infiltrasi baik dari pemaknaan bahasa maupun hadis yang digunakan dalam penafsiran ayat tersebut.  
TAFSIR TEKS KEAGAMAAN OLEH PEMUDA MUSLIM DI DESA PLAJAN JEPARA UNTUK MODERASI BERAGAMA Mahmudah, Nur; Abdullah, Abdullah
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 11, No 02 (2023): Desember
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v11i02.19662

Abstract

Moderate reasoning in religion cannot be separated from the understanding of religious texts by its adherents. Youth are a strategic part of society who are expected to continue and maintain the values and traditions of religious moderation. The residents of Plajan Jepara village adhere to four religions, namely Islam, Hinduism, Christianity and Buddhism.  This article aims to describe the form of religious tolerance in Plajan village and explain the youth's understanding of religious texts that support good practices of religious moderation in Plajan village. The research was carried out in the form of field research with a qualitative approach that explored data from 10 respondents from Muhammadiyah and Nahdhatul Ulama.  This article concludes that the good practice of religious moderation in Plajan village is based on a number of things, namely a history of peace, mutual cooperation, acceptance of other parties and based on local culture. This practice of religious moderation is supported by the government and local religious leaders. These values influence youth leaders who strive to maintain the  peace  theology and mutual cooperation between religious believers. Religious texts are understood by young people as the embodiment of divine values which provide freedom of religion (lakum dinukum wa liyadin), respect for neighbors and relatives and mutual love for each other. Thus, understanding religious texts is directed at supporting the function of religion as a unifier. Membentuk nalar moderat dalam beragama tidak dapat dilepaskan dari pemahaman teks keagamaan oleh para pemeluknya. Pemuda merupakan bagian masyarakat strategis yang diharapkan menjadi pelanjut dan perawat nilai dan tradisi moderasi beragama. Penduduk desa Plajan Jepara  memeluk empat agama yaitu Islam, Hindu, Kristen dan Budha.  Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan wujud toleransi beragama di desa Plajan dan menjelaskan pemahaman para pemuda atas teks keagamaan yang mendukung praktik baik moderasi beragama di desa Plajan. Penelitian dilakukan berjenis field research dengan pendekatan kualitatif yang menggali data dari responden berjumlah 10 orang dari unsur Muhammadiyah dan Nahdhatul Ulama.  Artikel ini menyimpulkan praktik baik moderasi beragama di desa Plajan dilatarbelakangi oleh sejumlah hal yaitu sejarah damai,  kegotongroyongan,  peneriman atas pihak lain dan berbasis budaya lokal. Praktik moderasi beragama ini didukung oleh pemerintah dan pemuka agama setempat. Nilai-nilai ini mempengaruhi para tokoh pemuda yang berupaya merawat filosofi damai dan gotong rotong antar pemeluk agama. Teks keagamaan dipahami oleh para pemuda sebagai pengejawantahan nilai-nilai ke-Tuhanan yang memberikan kebebasan beragama (lakum dinukum wa liyadin), penghormatan kepada tetangga dan kerabat serta saling mengasihi sesama. Dengan demikian, pemahaman teks keagamaan diarahkan unuk mendukung fungsi agama sebagai pemersatu.
SIGNIFIKASI POTRET PEREMPUAN MULIA DALAM AL-QUR’AN SERTA KORELASINYA DENGAN PRINSIP KESETARAAN DAN KEADILAN GENDER Aisyiyyah, Lu'luatul; Taufiq, Wildan; Zulaiha, Eni
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 13, No 1 (2025): Juni
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v13i1.20424

Abstract

This study aims to examine the Qur'anic verses that contain noble female figures using Roland Barthes' signification theory approach. Signification enriches the understanding of God's word through linguistic and mythical analysis. The object of study includes seven female figures immortalized in the Qur'an, namely Maryam, the mother of Moses, Asiyah, Bilqis, two daughters of Prophet Shu'aib, Siti Sarah, and Siti Hajar. This research uses a qualitative method based on library research, with a thematic approach (dirāsat al-mawḍū'iyyah) to one main verse of each character. The results of the analysis show that the portraits of these noble women not only serve as ibrah, but also reflect the principles of gender equality and justice. The reinterpretation of these figures reveals the spiritual and social roles of women in the construction of revelation. The novelty of this research lies in the specific focus on female figures endowed with noble degrees in the Qur'an as well as the integration of Barthes' semiotic approach with the discourse of gender equality. The findings contribute to the development of gender-sensitive Qur'anic interpretation and open up space for a fairer interpretation of the role of women in religious texts. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji ayat-ayat Al-Qur’an yang memuat tokoh-tokoh perempuan mulia dengan menggunakan pendekatan teori signifikasi Roland Barthes. Signifikasi memperkaya pemahaman firman Allah melalui analisis linguistik dan mitos. Objek kajian mencakup tujuh tokoh perempuan yang diabadikan dalam Al-Qur’an, yakni Maryam, ibunda Musa, Asiyah, Bilqis, dua putri Nabi Syu’aib, Siti Sarah, dan Siti Hajar. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif berbasis studi pustaka (library research), dengan pendekatan tematik (dirāsat al-mawḍū‘iyyah) terhadap satu ayat utama dari masing-masing tokoh. Hasil analisis menunjukkan bahwa potret perempuan-perempuan mulia tersebut tidak hanya berfungsi sebagai ibrah, tetapi juga mencerminkan prinsip-prinsip kesetaraan dan keadilan gender. Pemaknaan ulang terhadap figur-figur tersebut mengungkap peran spiritual dan sosial perempuan dalam konstruksi wahyu. Kebaruan penelitian ini terletak pada fokus spesifik terhadap tokoh perempuan yang dikaruniai derajat mulia dalam Al-Qur’an serta integrasi pendekatan semiotika Barthes dengan wacana kesetaraan gender. Temuan ini berkontribusi terhadap pengembangan tafsir Al-Qur’an yang peka gender dan membuka ruang pemaknaan yang lebih adil terhadap peran perempuan dalam teks keagamaan.
HETERODOKSI DALAM KAJIAN AL-QUR’AN DAN TAFSIR DI MASA PEMBENTUKAN DAN PERTENGAHAN Basyari, Ahmad Ismatullah
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 13, No 1 (2025): Juni
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v13i1.21919

Abstract

This article investigates the dynamics of heterodoxy within Qur’anic exegesis from the formative period of Islam through the medieval era, with particular emphasis on critical themes such as interpretive authority and authenticity, the plurality of religious sources, the agency of exegetes, and the role of ijtihād and scholarly dissent in shaping diverse theological discourses. Adopting a historical-hermeneutical approach, this study seeks to demonstrate that heterodoxy is not a deviation from orthodoxy, but rather a legitimate expression of Islam’s intellectual plurality. By analyzing select Qur’anic passages—specifically Q. 4:59, Q. 24:35, and Q. 3:7—the article elucidates how various schools of thought, including Sunni, Shi‘i, Mu‘tazilite, and Sufi traditions, have formulated divergent exegetical constructs grounded in distinct epistemological frameworks and socio-political contexts. It further argues that tafsir, as an intellectual discipline, is neither homogenous nor immutable; instead, it is inherently reflective, dialogical, and receptive to multiplicity. Heterodoxy emerges as a vital component in sustaining the dynamism and epistemic richness of the classical Islamic exegetical heritage. As a result, this study offers a conceptual contribution by advancing an alternative perspective that positions heterodoxy as essential to sustaining an exegetical tradition that remains inclusive, reflective, and dialogical. Artikel ini mengkaji dinamika heterodoksi dalam tafsir al-Qur’an dari masa pembentukan Islam hingga periode pertengahan, dengan menyoroti aspek-aspek kunci seperti otoritas dan otentisitas penafsiran, pluralitas sumber agama, agensi para mufassir, serta peran ijtihad dan perbedaan pendapat dalam membentuk ragam pemahaman keagamaan. Dengan menggunakan pendekatan historis-hermeneutik, studi ini ingin menunjukkan bahwa heterodoksi bukanlah bentuk penyimpangan dari ortodoksi, melainkan ekspresi sah dari keragaman intelektual Islam. Melalui analisis terhadap beberapa ayat al-Qur’an seperti QS 4:59, QS 24:35, dan QS 3:7, ditampilkan bagaimana berbagai mazhab—Sunni, Syi’ah, Muktazilah, dan Sufi—membangun konstruksi tafsir yang berbeda-beda sesuai dengan kerangka epistemologis dan konteks sosiopolitik masing-masing. Studi ini menegaskan bahwa tafsir sebagai disiplin ilmu tidak bersifat tunggal dan statis, melainkan reflektif, responsif, dan terbuka terhadap perbedaan. Oleh sebab itu, studi ini berkontribusi secara konseptual menawarkan perspektif alternatif yang memposisikan heterodoksi sebagai unsur vital dalam menjaga kelangsungan tradisi tafsir yang inklusif, reflektif, dan dialogis.  
TANTANGAN METODE TAFSIR TAḤLĪLĪ DI ERA MILENIAL Junaedi, Didi
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 13, No 1 (2025): Juni
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v13i1.20886

Abstract

This paper discusses the challenges of using the taḥlīlī interpretation method -as one of the methods of interpreting the Quran, which is very popular and has become the method of the majority of commentators in writing their commentary books- in the millennial era. This research is a library research using descriptive-analytical method. From the results of the study, the author concluded that this method, although it has drawbacks because the scope of the discussion is very broad, partial, not thematic, but this method can also be an alternative choice for millennials in understanding the Qur'an, if packaged properly, using popular scientific language. , by presenting the moral message of each verse in the studied sura. The results of this study indicate that the taḥlīlī interpretation method, if presented with a new paradigm, is adapted to the current context, uses popular scientific language, and is presented concisely, by taking the moral message from each verse, then conclusions are drawn in the form of moral values from the sura , remains relevant to the current context and is able to answer the needs of millennials.Tulisan ini membahas tentang tantangan penggunaan metode tafsir taḥlīlī---sebagai salah satu metode tafsir al-Qur’an, yang sangat populer dan menjadi metode mayoritas ulama tafsir dalam menulis kitab tafsir mereka--- di era milenial. Penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research) dengan menggunakan metode deskriptif-analitis. Dari hasil kajian penulis disimpulkan bahwa metode ini, meskipun memiliki kekurangan karena cakupan bahasannya sangat luas, parsial, tidak tematik, tetapi metode ini juga bisa menjadi alternatif pilihan kaum milenial dalam memahami al-Qur’an, jika dikemas dengan baik, menggunakan bahasa ilmiah populer, dengan menghadirkan pesan moral dari setiap ayat dalam surat yang dikaji. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa metode tafsir taḥlīlī, jika dihadirkan dengan paradigma baru, yaitu menyesuaikan dengan konteks kekinian, menggunakan bahasa ilmiah populer, serta disajikan dengan ringkas, dengan mengambil pesan moral dari setiap ayat, kemudian ditarik kesimpulan berupa nilai-nilai moral dari surah tersebut, tetap relevan dengan konteks kekinian dan mampu menjawab kebutuhan kaum milenial. 
PERKEMBANGAN TAḤAMMUL WA AL-ADĀʼ DI PESANTREN TEBUIRENG: Studi Tradisi Pengajian Ṣaḥīḥayn Tahun 2020-2025 Niam, Muhammad Fatkhun; Ramadhan, M. Rizki Syahrul
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 13, No 1 (2025): Juni
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v13i1.21412

Abstract

The article discusses the process and development of the practice of taḥammul wa al-adā’ (transmission and delivery of hadith) at Tebuireng during the period 2020–2025 AD, as one of Indonesia’s leading centers of Islamic scholarship. The study aims to reveal how the model of hadith inheritance is applied, transformed, and recontextualized within the educational system of the Tebuireng pesantren. Utilizing a qualitative-descriptive approach through library research, anthropology, validity testing, and field observation, it was found that the Tebuireng pesantren not only implements traditional methods such as simāʿ, qirāʾah, and munāwalah, but also integrates them with modern formal education systems—including live broadcasts of Islamic lecture, which provide public access and expand the continuity of the sanad. The results of the research indicate that the taḥammul wa al-adā’ system in Tebuireng has undergone significant adaptation: in terms of the authority of the sanad, the venues (including at the Ma’had Aly Hasyim Asy’ari as a campus for training hadith specialists), and the media of delivery. These adaptations have played a crucial role in preserving the authenticity of the sanad and revitalizing the classical tradition of Islamic scholarship amidst the currents of modernization. This study contributes to a deeper understanding of the dynamics of hadith transmission in contemporary Islamic educational institutions in Indonesia.Artikel ini membahas proses dan perkembangan praktek taḥammul wa al-adā’ (transmisi dan penyampaian hadis) di Tebuireng dalam kurun waktu 2020-2025 M, sebagai salah satu pusat keilmuan Islam serta menjadi rujukan di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana model pewarisan hadis diterapkan, ditransformasikan, dan direkontekstualisasi dalam sistem pendidikan pesantren Tebuireng. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif melalui studi pustaka, antropologi, uji validitas dan observasi lapangan, ditemukan bahwa Pesantren Tebuireng tidak hanya menerapkan metode tradisional seperti simā, qirāʼatan dan munāwalah, tetapi juga mengintegrasikannya dengan sistem pendidikan formal modern termasuk siaran langsung pengajian yang membuka akses publik sekaligus memperluas keberlanjutan sanad. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem taḥammul wa al-adā’ di Tebuireng mengalami adaptasi signifikan, baik dari sisi otoritas sanad, tempat termasuk di Ma’had Aly Hasyim Asy’ari sebagai kampus pengkader ahli hadis, maupun media penyampaian, sehingga berperan penting dalam melestarikan otentisitas sanad dan menghidupkan tradisi keilmuan Islam klasik di tengah arus modernisasi. Studi ini memberikan kontribusi terhadap pemahaman dinamika transmisi hadis di lembaga pendidikan Islam kontemporer Indonesia. 
METODOLOGI KRITIK HADIS ‘Ā`IḌ AL-QARNĪ: Telaah Normatif dan Kontekstual terhadap Karya-karyanya Siregar, Ilham Ramadan; Hamid, Asrul; Ritonga, Raja; Barus, Muhammad Irsan; Nst, Andri Muda; Hsb, Zuhdi
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 13, No 1 (2025): Juni
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v13i1.20427

Abstract

This study examines ‘Ā`iḍ al-Qarnī's approach to understanding ḥadīth, focusing on matan analysis and the application of maqāṣid al-sharī‘ah in contextual interpretation. The research method used is qualitative through a literature review of ‘Ā`iḍ al-Qarnī's works and classical and contemporary ḥadīth literature. The main findings indicate that al-Qarnī criticises the literalist approach to ḥadīth matan, which often overlooks the maqāṣid dimension, and offers a thematic understanding model that integrates social context and universal Islamic values. Although he does not explicitly develop a methodology for sanad criticism, al-Qarnī emphasises the validity of meaning and the relevance of ḥadīth messages in the context of modern life. This study contributes theoretically by expanding the discourse on contemporary ḥadīth methodology through the integration of textual validity and maqāṣid al-sharī‘ah, while also providing practical implications for the renewal of a more adaptive and applicable approach to ḥadīth studies in modern Islamic education. Penelitian ini mengkaji pendekatan ‘Ā`iḍ al-Qarnī dalam memahami hadis dengan fokus pada analisis matan dan penerapan maqāṣid al-sharī‘ah dalam tafsir kontekstual. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif melalui studi kepustakaan terhadap karya-karya ‘Ā`iḍ al-Qarnī dan literatur hadis klasik serta kontemporer. Temuan utama menunjukkan bahwa al-Qarnī mengkritisi pendekatan literalistik terhadap matan hadis yang sering mengabaikan dimensi maqashid, serta menawarkan model pemahaman tematik yang mengintegrasikan konteks sosial dan nilai universal Islam. Meskipun tidak membangun metodologi kritik sanad secara eksplisit, al-Qarnī menekankan validitas makna dan relevansi pesan hadis dalam konteks kehidupan modern. Studi ini memberikan kontribusi teoritis dengan memperluas wacana metodologi hadis kontemporer melalui integrasi antara validitas tekstual dan maqāṣid al-sharī‘ah, sekaligus memberikan implikasi praktis bagi pembaruan pendekatan studi hadis yang lebih adaptif dan aplikatif dalam pendidikan Islam modern.
NILAI-NILAI EKOLOGIS DALAM AL-QUR´AN: Suatu Kajian Tafsir Tematik Rahim, Wahida; Abubakar, Achmad
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 13, No 2 (2025): Desember
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v13i2.22356

Abstract

This research aims to identify the Qur´anic verses related to the environment and to analyze the ecological values contained in the Qur´an along with their relevance to contemporary issues. It is a library research employing the thematic exegesis (tafsīr mauḍū´ī) method. The data were analyzed using content analysis by identifying Qur´anic verses concerning the environment and interpreting the opinions of classical and modern exegetes (mufassirīn). The research concludes that the Qur´an views the environment as an integral part of God´s creation that possesses spiritual, moral, and social values, and positions humans as khalīfah (stewards) responsible for maintaining the balance and sustainability of nature. These ecological values are highly relevant in addressing contemporary environmental crises such as climate change, deforestation, and pollution, by serving as ethical, policy, and educational foundations rooted in religious principles. Further research is encouraged to develop an Islamic environmental jurisprudence (fiqh al-bī´ah) that regulates the relationship between humans and nature based on the principle of public benefit (maṣlaḥah mursalah). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ayat-ayat al-Qur´an tentang lingkungan hidup. Selain itu, penelitian ini juga menganalisis nilai-nilai ekologis yang terdapat dalam al-Qur´an serta relevansinya terhadap permasalahan kontemporer. Penelitian ini merupakan penelitian pustaka (library research) dengan menggunakan metode tafsir mauḍū´i. Pendekatan yang digunakan yaitu tafsir tematik, ekologi dan studi kritis. Teknik analisis data menggunakan content analysis yaitu mengidentifikasi ayat-ayat al-Qur´an tentang lingkungan hidup dan menginterpretasikan pendapat mufassirin. Langkah-langkah identifikasi ayat-ayat tentang lingkungan hidup, seperti: amanah, khalifah dan fasad. Kemudian menyortir dan menyajikan ayat-ayat sesuai tema. Penelitian ini menyimpulkan bahwa al-Qur´an memandang lingkungan hidup sebagai bagian dari ciptaan Allah swt yang memiliki nilai spiritual, moral dan sosial, serta menempatkan manusia sebagai khalifah yang bertanggung jawab untuk menjaga keseimbangan dan kelestarian alam. Hasil dari nilai-nilai ekologis ini relevan terhadap krisis lingkungan kontemporer seperti perubahan iklim, deforestasi dan pencemaran, dengan menjadikannya landasan etika, kebijakan dan pendidikan lingkungan berbasis keagamaan. Penelitian lanjutan dapat menginspirasi pembentukan fikih lingkungan (fiqh al-bī´ah) yang mengatur hubungan manusia dengan alam berdasarkan prinsip kemaslahatan (maṣlaḥah mursalah).
MENAKAR SYARAT MUFASIR AL-QUR'AN: Menolak Otoritarianisme Perspektif Khaled Abou El-Faḍl Lutfi, Achmad
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 13, No 2 (2025): Desember
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v13i2.22523

Abstract

This article examines Khaled Abou El Faḍl’s thought regarding the qualifications of a Qur’anic interpreter (mufassir). The study aims to understand Abou El Faḍl’s perspective that rejects authoritarian attitudes in interpreting the Qur’an. Using a qualitative method and descriptive-critical analysis through a literature review of his ideas presented in Speaking in God’s Name, the study shows that Abou El-Faḍl opposes all forms of authoritarianism in Qur’anic interpretation. However, he also does not accept completely free or unrestricted interpretations. According to him, certain requirements must be fulfilled by anyone who wants to interpret and understand the meaning of the Qur’an responsibly. This research contributes to the development of Qur’anic and tafsir studies, especially in discussions about interpretive authority and the ethics of the mufassir. Artikel ini mengkaji pemikiran Khaled Abou El-Faḍl terkait syarat-syarat bagi seorang mufasir al-Qur’an. Penelitian ini bertujuan untuk memahami cara pandang Khaled Abou El-Faḍl yang menolak praktik otoritarianisme dalam penafsiran al-Qur’an. Dengan menggunakan metode kualitatif dan analisis deskriptif-kritis melalui kajian literatur (literature review) terhadap pemikirannya yang tertuang dalam karya Speaking in God’s Name, penelitian ini menunjukkan bahwa Khaled Abou El-Faḍl menolak segala bentuk otoritarianisme dalam proses penafsiran al-Qur’an. Meskipun demikian, ia juga tidak menerima penafsiran yang bersifat bebas tanpa batas. Menurutnya, diperlukan syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi oleh seseorang agar dapat menafsirkan dan memahami kandungan al-Qur’an secara bertanggung jawab. Temuan penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan studi al-Qur’an dan tafsir, khususnya dalam kajian tentang otoritas penafsiran dan etika mufasir. 
KONSEP SABAR DALAM TAFSIR ḤAQĀ’IQ AL-TAFSĪR KARYA AL-SULAMĪ: ANALISIS TAFSIR SUFISTIK ATAS KISAH NABI AYYŪB A.S. Aziz, Syu'ban; Siti Rusydati Khaerani, Izzah Faizah; Faturahman, Asep
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 13, No 2 (2025): Desember
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v13i2.22516

Abstract

This study analyzes the meaning and dimensions of patience in the story of the Prophet Ayyūb a.s. as interpreted in Ḥaqā’iq al-Tafsīr by Abū ‘Abd al-Raḥmān al-Sulamī. It seeks to reveal the meaning of patience from a Sufi perspective and analyze it through the framework of self-control theory proposed by James Averill (1973). This study employs a qualitative, library-based research approach. Content analysis is the primary analytical method used to examine Al-Sulamī's interpretation of Prophet Ayyūb a.s. The data are analyzed using Averill's three-part theory of self-control (behavioral, cognitive, and decisional). According to this study, Al-Sulamī viewed Ayyūb a.s's patience as an active spiritual practice, not just passive endurance. Its key dimensions include steadfast dhikr (remembrance of God) to manage suffering, merging the self (fanā) with the divine will and grace, and a pinnacle of patience manifested as tawakkal (complete surrender). According to Averill's psychological framework, these dimensions demonstrate behavioral control (restraining the body from complaining), cognitive control (reinterpreting hardship as divine will), and decisional control (a conscious choice to surrender to God). This analysis reveals the implicit psychological messages in the story. This study found that the story contains a sophisticated psychological model for resilience. It refutes the notion of patience as passive behavior, demonstrating that it is an active spiritual and psychological process. This study's novelty stems from its interdisciplinary approach, which bridges 10th-century classical interpretation with 20th-century psychological theory while also providing new insights into the psychological depth of Islamic spiritual concepts. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna dan dimensi kesabaran Nabi Ayyūb a.s. dalam Ḥaqā’iq al-Tafsīr  karya Abū ‘Abd al-Raḥmān al-Sulamī. Kesabaran tersebut dianalisis dengan teori self-control James Averill (1973). Penelitian ini berjenis kualitatif, menggunakan metode analisis isi dengan pendekatan studi kepustakaan (library research). Data tersebut diinterpretasi oleh teori tripartit self-control (perilaku, kognitif, dan keputusan) Averill. Studi ini menemukan bahwa Al-Sulamī menafsirkan kesabaran Ayyūb a.s. bukan sebagai ketahanan pasif, melainkan sebagai praktik spiritual yang aktif dan kompleks. Dimensi-dimensi kuncinya meliputi: keteguhan hati, menjadikan zikir (mengingat Allah) untuk mengendalikan penderitaan, meleburkan diri (fanā) dengan kehendak—anugerah-- Allah, dan puncak kesabarannya diwujudkan dengan tawakal (kepasrahan mutlak). Dimensi-dimensi dalam kerangka psikologi Averill menunjukan kontrol perilaku (menahan tubuh dari keluhan), kontrol kognitif (menafsirkan ulang kesulitan sebagai kehendak Ilahi), dan kontrol keputusan (pilihan sadar untuk berserah diri kepada Tuhan), Tiga aspek ini merupakan pesan utama dari kisah Nabi Ayyūb a.s. Penelitian berhasil bentuk psikologis yang canggih untuk resiliensi. Sekaligus menentang bahwa kesabaran sebagai perilaku pasif, namun proses psikologis yang aktif. Kebaruan penelitian ini terletak pada pendekatan interdisipliner yang menghubungkan tafsir sufistik klasik abad ke-10 dengan teori psikologi modern, sehingga memperkaya pemahaman terhadap dimensi psikologis dalam konsep spiritual Islam.