cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota cirebon,
Jawa barat
INDONESIA
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis
ISSN : 23030453     EISSN : 24429872     DOI : -
Core Subject : Education,
Diya al-Afkar adalah jurnal ilmiah yang memfokuskan studi al-Quran dan al-Hadis. Jurnal ini menyajikan karangan ilmiah berupa kajian ilmu-ilmu al-Quran dan al-Hadis, penafsiran/pemahaman al-Quran dan al-Hadis, hasil penelitian baik penelitian pustaka maupun penelitian lapangan yang terkait tentang al-Quran atau al-Hadis, dan/atau tinjauan buku. Jurnal ini diterbitkan secara berkala dua kali dalam setahun.
Arjuna Subject : -
Articles 233 Documents
SAINS GEOGRAFI DALAM AL-QUR’AN: Mengungkap Isyarat Ilmiah dalam Ayat-Ayat Kawniyah Hakim, Lukmanul; Fitri, Nurmaya; Islami, Nurdina; Wulandari, Fitriani
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 12, No 2 (2024): Desember
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v12i2.18721

Abstract

This article examines the science of geography in the Qur’an, including an understanding of the Kawniyah verses which are in line with the discussion of the science of geography. This article aims to expand insight into how the text of the Qur’an can be integrated into geographical studies by revealing the scientific signal contained in the verses of the Qur’an and the role of science in responding to this phenomenon. This research uses a qualitative approach with a focus on library research. The data obtained comes from books, journal articles and various literature related to the topic discussed. The method used in this research is descriptive analysis. The results of the analysis show that there are at least two geographical studies, namely physical geography and social (human) geography. Physical geography cues can be found in Kawniyah verses, such as Q.S. Nūḥ [71]: 19-20 about the shape of the earth in the form of an expanse and Q.S. Al-Naml [27]: 88 explains the phenomenon of walking mountains supported by the theory of plate tectonics. Furthermore, signs of social geography are found in Q.S. Āli ‘Imrān [3]: 96 regarding the first house, namely the Kaaba in Mecca, and reveals scientific facts that geographically the Kaaba reflects a building with a trapezoidal construction that never changes. Tulisan ini mengkaji tentang sains geografi dalam Al-Qur’an meliputi pemahaman terkait ayat-ayat Kawniyah yang selaras dengan pembahasan ilmu geografi. Artikel ini bertujuan untuk memperluas wawasan mengenai bagaimana teks Al-Qur’an dapat diintegrasikan dalam kajian geografi dengan mengungkap isyarat-isyarat ilmiah yang termuat dalam ayat-ayat Al-Qur’an dan peran sains dalam merespon fenomena tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan fokus pada penelitian kepustakaan. Data yang diperoleh berasal dari buku-buku, artikel jurnal dan berbagai literatur yang berkaitan dengan topik yang dibahas. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah analisis deskriptif. Hasil analisis menunjukkan bahwa kajian geografi setidaknya ada dua, yaitu geografi fisik dan geografi sosial (manusia). Isyarat geografi fisik dapat ditemukan dalam ayat-ayat Kawniyah, seperti Q.S. Nūḥ [71]: 19-20 tentang bentuk bumi yang berupa hamparan dan Q.S. Al-Naml [27]: 88 menjelaskan tentang fenomena gunung berjalan dengan didukung oleh teori lempeng tektonik. Selanjutnya, isyarat geografi sosial terdapat dalam Q.S. Āli ‘Imrān [3]: 96 mengenai rumah pertama yakni Ka’bah yang berada di Makkah serta mengungkap fakta-fakta ilmiah bahwa secara geografi Ka’bah mencerminkan bangunan dengan kontruksi trapesium yang tidak pernah berubah.
تحقيق التوازن بين الفهم النصي والسياقي: دراسة منهج التفسير للحبيب عمر ابن حفيظ Muhamad, Muhamad
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 12, No 1 (2024): Juni
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v12i1.17129

Abstract

This research investigates the exegetical analysis of Surah Muhammad verses 17-19 as articulated by Habib Umar bin Hafidz. The emphasis is placed on its methodological framework and its implications within both global and contemporary paradigms. The methodologies employed encompass documentation analysis and critical analytical strategies. The findings of the inquiry indicate that the interpretation highlights the alignment between textual interpretation and context, thereby facilitating a profound comprehension that remains steadfast amidst evolving circumstances. Additionally, the outcomes of the research reveal how Habib Omar adeptly navigated traditional doctrines and modern ideologies, thereby ensuring that his interpretations are pertinent and comprehensible to a worldwide audience. Noteworthy discoveries encompass the significance of inner purification in Islamic teachings, the societal and spiritual worth of Quranic interpretation, and its impact on contemporary perspectives regarding Islam. These findings emphasize the necessity for a conscientious and contextualized approach to comprehending Islamic doctrine and for establishing a framework that enables Muslims to implement the teachings of the faith in their everyday lives.
SOLUSI PREVENTIF HADIS TERHADAP FENOMENA PERUNDUNGAN Pulungan, Nur Hamidah; Barus, Muhammad Irsan; Nasution, Zulhija Yanti
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 11, No 02 (2023): Desember
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v11i02.18541

Abstract

Bullying has become a significant social problem due to frequent misunderstandings and has negative impacts on both the perpetrators and the victims in the form of intimidation, verbal/physical abuse or discriminatory actions. This research aims to explore the preventive solutions offered by hadith in addressing bullying. The major research includes the classification of relevant hadith literature using the HadistSoft digital application, while the minor research involves the analysis of ḥadīth that provides preventive solutions to bullying. The research locus is the general public. The purpose of this study is to identify and articulate the teachings of hadith that can be applied as preventive measures against bullying. This research adopts a qualitative approach using descriptive-analytical methods in a library research type. The results show that hadith offers various preventive solutions that can be applied to reduce and prevent bullying, such as emphasizing spiritual advice, fostering cooperation to eliminate conflicts, and removing the inferiority complex of bullying victims. These solutions are expected to be integrated into educational programs and school policies to create a safer and more harmonious environment.Perundungan telah menjadi masalah sosial yang memiliki dampak negatif bagi pelaku dan korban dalam bentuk intimidasi, pelecehan verbal/fisik ataupun tindakan diskriminatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi ajaran-ajaran hadis yang dapat diterapkan sebagai langkah preventif terhadap perundungan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif-analitis dengan pendekatan studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hadis menawarkan berbagai solusi preventif yang dapat diterapkan untuk mengurangi dan mencegah perundungan, seperti penekanan pada pemberian nasihat spiritual, menjalin kerjasama untuk menghilangkan konflik dan menghilangkan sikap inferior bagi korban perundungan. Solusi ini diharapkan dapat diintegrasikan dalam program pendidikan dan kebijakan sekolah untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman dan harmonis. 
RELASI AGAMA-BUDAYA DALAM TRADISI MASYARAKAT OSING: Studi Ritual Mocoan Lontar Hadis Dagang Suhendra, Ahmad
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 12, No 2 (2024): Desember
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v12i2.18732

Abstract

The purpose of this article is to conduct an analysis regarding the Mocoan Lontar Ḥadīth Trade tradition in Kemiren Village, Glagah, Banyuwangi, East Java. Many Osing people, who are the original Banyuwangi tribe, also live in the village. Apart from that, this article also aims to find out the construction of religious and cultural relations with the existence of trade Ḥadīth mocoan lontar in Osing society. Therefore, in this case the focus of this research was formulated on how does trading Ḥadīth affect the daily lives of the Osing people? How do the Osing people position trade Ḥadīth in relation to religion? To answer these questions, research data was collected by conducting an interview with one of the local traditional leaders. The data analysis techniques used are data reduction, data presentation and drawing conclusions. The results of the research show that there is the reading or mocoan of Lontar Trade Ḥadīth as a form of preserving local traditions. The mocoan tradition is not only limited to culture, but there are religious aspects and philosophical values contained in the reading of the Mocoan Lontar Trade Ḥadīth for the Osing people.Artikel ini bertujuan untuk melakukan analisa terkait tradisi mocoan Lontar Hadis Dagang yang ada di Desa Kemiren, Glagah, Banyuwangi Jawa Timur. Masyarakat Osing yang menjadi suku asli Banyuwangi juga banyak tinggal di desa tersebut. Selain itu, artikel ini juga bertujuan untuk untuk mengetahui konstruksi relasi agama dan budaya dengan adanya mocoan lontar hadis dagang dalam masyarakat Osing. Sebab itu, dalam hal ini dirumuskan focus penelitian ini pada bagaimana lontar hadis dagang bagi keseharian masyarakat Osing? Bagaimana masyarakat Osing memposisikan hadis dagang dalam hubungannya dengan agama? Karena penelitian ini lapangan (field research) maka untuk menjawab pertanyaan tersebut dilakukan pengambilan data penelitian dengan melakukan interview (wawancara) dengan salah satu tokoh adat setempat. Adapun teknik analisis data digunakan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan adanya pembacaan atau mocoan Lontar Hadis Dagang sebagai bentuk pelestarian tradisi local. Tradisi mocoan itu tidak hanya sebatas budaya semata, melainkan ada aspek religious dan nilai filosofis yang terkandung di dalam pembacaan mocoan Lontar Hadis Dagang bagi masyarakat Osing.
Penafsiran Kata Al-Magḍūb dan Aḍ-Ḍāllīn dalam Tafsir At-Tanwir Karya Muhammadiyah Bariqi, Sirajuddin
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 12, No 1 (2024): Juni
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v12i1.17039

Abstract

One of the factors behind the emergence of tension and conflict between religious communities is the exclusive interpretation of religious texts. Therefore, to build and maintain peaceful coexistence between religious communities, producing inclusive religious interpretations is necessary. This article aims to examine how Muhammadiyah attempts to answer these needs. This is library research using descriptive-analytical methods. The primary source used is Muhammadiyah's Tafsir At-Tanwir. The inclusiveness of Tafsir At-Tanwir is manifest in the shift in the meaning of the words al-maghḍūb and al-ḍāllīn in Q.S. alFātiḥaḥ/1: 7, which is generally understood in a theological context - which emphasizes the subject dimension - to a sociological context - which emphasizes the cause dimension. Instead of interpreting al-maghḍūb as referring to Jews, Tafsir At-Tanwir interprets it as representing those who oppose the path of knowledge, hard work, and benefit. Similarly, al-ḍāllīn is no longer interpreted as referring to Christians, but as those who follow a path that does not lead to progress, prosperity, or ultimate happiness in the hereafter. On one side, the shift in meaning can be read as an effort from Muhammadiyah to minimize the occurrence of theological debates and/or tensions, and on the other side, it can be read as Muhammadiyah's effort to grow a high culture of civilization, namely by: (a) not becoming a wrathful person for being stupid, lazy, and destructive, and; (b) not becoming a misguided person for not being able to distinguish between ḥaq and bāṭil.Salah satu faktor yang melatarbelakangi munculnya ketegangan dan konflik antarumat beragama adalah penafsiran yang eksklusif terhadap teks-teks keagamaan. Oleh karena itu, dalam rangka membangun dan menjaga koeksistensi hubungan antarumat beragama, produksi tafsir keagamaan yang inklusif mutlak dibutuhkan. Artikel ini bertujuan mengkaji bagaimana Muhammadiyah berupaya menjawab kebutuhan tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan dengan menggunakan metode deskriptif-analitis. Sumber primer yang digunakan adalah Tafsir At-Tanwir karya Muhammadiyah. Wujud inklusivitas Tafsir At-Tanwir adalah dengan menggeser makna kata al-maghḍūb dan al-ḍāllīn dalam Q.S. al-Fātiḥaḥ/1: 7 yang umumnya dipahami dalam konteks teologis --yang menekankan dimensi subjek—ke konteks sosiologis --yang menekankan dimensi sebab. Alih-alih memaknai al-maghḍūb sebagai Yahudi, Tafsir At-Tanwir memaknai kata tersebut sebagai bentuk oposisi dari jalan yang penuh ilmu, kerja keras, dan manfaat. Sementara kata al-ḍāllīn tidak lagi dimaknai sebagai Nasrani, tetapi jalan yang tidak mengarah pada kemajuan, kesejahteraan, dan kebahagiaan dunia akhirat. Di satu sisi, pergeseran makna itu dapat dibaca sebagai upaya dari Muhammadiyah untuk meminimalisir terjadinya perdebatan dan/atau ketegangan teologis, dan di sisi lain dapat dibaca sebagai upaya Muhammadiyah untuk menumbuhkan kultur peradaban yang tinggi, yakni dengan cara: (a) tidak menjadi orang yang dimurkai karena bodoh, malas, dan merusak, dan; (b) tidak menjadi orang yang sesat karena tidak mampu membedakan antara ḥaq dan bāṭil.   
LIVING QUR’AN DALAM TRADISI PEMBACAAN SURAH AL-INSHIRĀH DI LEMBAGA TAMAN PENDIDIKAN IHYAUL ULUM CANGAAN GRESIK Wahidah, Kurnia; Saddad, Ahmad
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 12, No 2 (2024): Desember
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v12i2.18850

Abstract

This research examines the tradition of reciting Surah Al-Inshirāh at the Ihyaul Ulum Education Park Institution in Cangaan, Gresik Regency, from the perspective of Living Qur'an. The study aims to reveal the "because" and "in order" motives of this tradition using Alfred Schutz's phenomenological approach. Data was collected through observation, interviews, and documentation. The findings indicate that the "because motive," or the reason motive, includes remembering Allah SWT, obtaining rewards, following OSIS regulations, and knowing the virtues of Surah Al-Inshirāh. Meanwhile, the "in order motive," or the purpose motive, includes istiqomah (consistency), a calmer heart, obtaining the virtues of the surah, increasing faith in Allah, and facilitating memorization and preventing forgetfulness. The tradition of reciting Surah Al-Inshirāh has the potential to be applied in other Islamic educational institutions, with the impact of increasing student spirituality, which can be adapted through integration into daily activities and providing understanding of its meaning and virtues. Penelitian ini mengkaji tradisi pembacaan Surah Al-Inshirāh di Lembaga Taman Pendidikan Ihyaul Ulum Cangaan Kabupaten Gresik dalam perspektif Living Qur'an. Penelitian bertujuan untuk mengungkap motif "because" dan "in order" dari tradisi ini menggunakan pendekatan fenomenologi Alfred Schutz. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Temuan menunjukkan bahwa Because motive, atau motif sebab, meliputi mengingat Allah Swt., mendapatkan pahala, mengikuti peraturan OSIS, dan mengetahui fadilah dari Surah Al-Inshirāh. Sementara itu, in order motive, atau motif tujuan, mencakup istiqomah, hati menjadi lebih tenang, mendapatkan faḍīlah dari surah tersebut, meningkatkan iman kepada Allah, serta memudahkan dalam menghafal dan tidak mudah lupa. Tradisi pembacaan Surah Al-Inshirāh memiliki potensi untuk diterapkan di lembaga pendidikan Islam lainnya, dengan dampak peningkatan spiritualitas siswa yang dapat diadaptasi melalui integrasi dalam kegiatan harian dan pemberian pemahaman tentang makna serta fadhilahnya. 
EPISTEMOLOGI AYAT MUTASHĀBIHĀT: Analisis Kaidah Nafiy pada Surah Āli ‘Imrān Ayat 7 Enjelina, Dita Erlin; Muslim, Moh. Akib
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 12, No 1 (2024): Juni
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v12i1.17538

Abstract

This study aims to analyze the mutashābihāt verse in surah Āli ‘Imrān verse 7 through the perspective of Nafiy (negation) rules in order to understand its epistemological implications. Mutashābihāt verses, which contain implied meanings and multi-interpretations, often result in challenges to the interpretation of the holy verses of the Qur'ān. In Surah Āli ‘Imrān verse 7, Allah Swt. confirms the existence of clear verses (muḥkamāt) and vague verses (mutashābihāt), and states that Allah is the only one who knows the true meaning of the mutashābihāt verses. Using the rule of Nafiy, this study seeks to describe how the rejection or negation of certain meanings helps in understanding and interpreting mutashābihāt verses. This approach also examines how the method affects the formation of knowledge and understanding in the context of Islamic scholarship. The analysis shows that the Nafiy rule plays a significant role in maintaining the integrity and consistency of interpretation, as well as in guiding Muslims towards a deeper and more accurate understanding of divine revelation. The author hopes that this research can make a meaningful contribution to the study of Qur'anic interpretation and Islamic epistemology.  Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ayat mutashābihāt melalui perspektif kaidah Nafiy (negasi) yang tercamtum dalam Q.S Āli ‘Imrān ayat 7 guna memahami implikasi epistemologisnya. Ayat mutashābihāt, yang mengandung makna tersirat dan multiinterpretasi, sering kali mengakibatkan tantangan terhadap penafsiran ayat-ayat suci Al-Qur’an. Dalam Q.S Āli ‘Imrān ayat 7, Allah SWT menegaskan adanya ayat-ayat yang jelas (muḥkamāt) dan ayat-ayat yang samar (mutashābihāt), serta menyatakan bahwa hanya Allah satu-satunya yang memahami makna yang sebenarnya dari ayat-ayat mutashābihāt tersebut. Dengan menggunakan kaidah Nafiy, penelitian ini berusaha menguraikan bagaimana penolakan atau negasi terhadap makna-makna tertentu membantu dalam memahami dan menafsirkan ayat-ayat mutashābihāt. Pendekatan ini juga mengkaji bagaimana metode tersebut mempengaruhi pembentukan pengetahuan dan pemahaman dalam konteks keilmuan Islam. Hasil analisis menunjukkan bahwa kaidah Nafiy berperan signifikan dalam menjaga integritas dan konsistensi penafsiran, serta dalam membimbing umat Muslim menuju pemahaman yang lebih mendalam dan akurat terhadap wahyu Ilahi..
RIWAYAT ISRĀ’ILIYYĀT DALAM KISAH HĀRŪT DAN MĀRŪT: Telaah Kitab Mawārid al-Bayān fī ‘Ulūm al-Qur’ān Azzalia, Safira
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 12, No 1 (2024): Juni
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v12i1.18053

Abstract

In the midst of the wealth of Quranic studies, the book Mawarid al-Bayan fi ‘Ulum al-Qur’an by Muhammad ‘Afifuddin Dimyati provides inspiration in the study of Quranic sciences. Through this work, ‘Afifuddin discusses al-dakhil fi al-tafsir. This study aims to understand the complexities and variations in the interpretation of the story of Harut and Marut. The research employs a comparative method, comparing various relevant Israiliyat narratives related to the story of Harut and Marut. The primary focus is that Mawarid al-Bayan serves as a primary source in this analysis. Data collected includes historical documents, tafsir notes, and related academic literature. Based on Mawarid al-Bayan, variations in the interpretation of Harut and Marut are found. ‘Afifuddin reviews the correct interpretations from various perspectives through Israiliyat narratives about two angels who were tested by Allah by being given desires that they ultimately failed to control, leading them to commit significant sins. This research demonstrates the importance of conducting analytical studies on Israiliyat narratives to ascertain their accuracy or validity. The findings can serve as a reference for academics and the general public in understanding the complexities of history and Quranic interpretation. This journal seeks to provide a comprehensive overview of how Mawarid al-Bayan discusses the story of Harut and Marut through the lens of Israiliyat narratives while emphasizing the importance of scientific critique in understanding these historical documents.  Di tengah khazanah studi al-Qur’an, kehadiran kitab Mawarid al-Bayan fi ‘Ulum al-Qur’an karya Muhammad ‘Afifuddin Dimyati memberikan inspiasi dalam kajian ‘ulum al-Qur’an. Melalui karyanya tersebut, ‘Afifuddin memaparkan dalam salah satu pembahasannya tentang al-dakhil fi al-tafsir. Studi ini bertujuan untuk memahami kompleksitas dan variasi dalam penafsiran kisah Harut dan Marut. Penelitian menggunakan metode komparatif, membandingkan berbagai riwayat israiliyyat yang relevan dengan kisah Harut dan Marut. Fokus utamanya adalah kitab Mawarid al-Bayan merupakan sumber primer dalam telaah ini. Data dikumpulkan meliputi dokumen historis, catatan tafsir, dan literatur akademis terkait. Berdasarkan kitab Mawarid al-Bayan ditemukan variasi interpretasi tentang Harut dan Marut. ‘Afifuddin mengulas penafsiran yang benar dari berbagai interpretasi melalui riwayat-riwayat israiliyyat mengenai dua malaikat yang diuji oleh Allah dengan memberikan nafsu kepada mereka yang kemudian gagal dalam mengontrol nafsunya dan melakukan dosa-dosa yang besar. Penelitian ini menunjukkan pentingnya melakukan telaah analitis tentang riwayat israiliyyat untuk memastikan kesalahannya atau kebenarannya. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi bagi akademisi dan masyarakat umum dalam memahami kompleksitas sejarah dan interpretasi al-Qur’an. Jurnal ini berusaha memberikan gambaran komprehensif tentang bagaimana kitab Mawarid al-Bayan membahas kisah Harut dan Marut melalui lensa riwayat israiliyyat serta menekankan pentingnya kritik ilmiah dalam memahami dokumen-dokumen historis tersebut. 
ECOLOGICAL SOLUTIONS IN THE INTERPRETATION OF MARĀḤ LABĪD: Linkage to Modern Issues Aziz, Diyaul Diyaul; Zulfa, Helmi Adam; Ichwan, Moh. Nor
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 12, No 2 (2024): Desember
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v12i2.18581

Abstract

This research examines the ecological understanding of the Tafsir Marāḥ Labīd by Imam Nawawi al-Bantani, especially related to kauniyah verses in the Qur'an. This research uses a qualitative method with a content analysis approach to Marāḥ Labīd's interpretation. It relates it to contemporary environmental issues, such as climate change and the exploitation of natural resources. The study results show that Imam Nawawi emphasized the importance of maintaining the balance of nature as part of human responsibility as a caliph on earth. This interpretation also highlights the obligation of humans not to damage the environment because such actions are a form of disobedience to Allah. In addition, the study found that the interpretation of verses related to the creation of nature and the prohibition of earth damage is very relevant to modern ecology, which emphasizes sustainability and moderation in the use of natural resources. As such, Marāḥ Labīd's interpretation provides a strong ethical guide in facing global ecological challenges, making it relevant to study environmental conservation efforts in the modern era. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pemahaman ekologi yang terkandung dalam Tafsir Marāḥ Labīd karya Imam Nawawi al-Bantani, terutama terkait ayat-ayat kauniyah dalam Al-Qur'an. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis isi (content analysis) terhadap tafsir Marāḥ Labīd, serta mengkaitkannya dengan isu-isu lingkungan kontemporer, seperti perubahan iklim dan eksploitasi sumber daya alam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Imam Nawawi menekankan pentingnya menjaga keseimbangan alam sebagai bagian dari tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi. Tafsir ini juga menyoroti kewajiban manusia untuk tidak merusak lingkungan karena tindakan tersebut merupakan bentuk ketidaktaatan kepada Allah. Selain itu, penelitian ini menemukan bahwa penafsiran ayat-ayat terkait penciptaan alam dan larangan kerusakan di bumi sangat relevan dengan konsep ekologi modern, yang menekankan keberlanjutan dan moderasi dalam penggunaan sumber daya alam, Dengan demikian tafsir Marāḥ Labīd memberikan panduan etis yang kuat dalam menghadapi tantangan ekologi global, menjadikannya relevan untuk dikaji dalam upaya pelestarian lingkungan di era modern. 
EFEKTIVITAS AJARAN AL-QUR'AN DALAM MENGATASI OVERTHINKING: Kajian di Lembaga Healing Hypnotherapy Tangerang Selatan Firdausiana, Fuadiyati; Sa'adah, Yusriyatus; Trijayanti, Nur Azizah; Huda, Ade Naelul
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 12, No 1 (2024): Juni
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v12i1.16529

Abstract

Diseases mental illness is currently a problem that is often faced in society that requires special attention, as its presence can disrupt the stability and tranquillity of life. One of the centres of mental illness is overthinking, which not only affects young people, but also from all walks of life. One of the ways found to resolve the mental illness is to use hypnotherapy method which in its implementation, hypnosis becomes the basis for the healing concept. Hypnotherapy has begun to be widespread along with the increasing attention of the community with mental illness. So that Muslims need to study hypnotherapy in treating this mental illness, especially overthinking. This research aims to explore hypnotherapy as a solution in overcoming overthinking through the Qur'an. Through the Qur'an. The method used in this research is qualitative research with library research and field research, i.e. interview to the object of research. The place of the research object is in the environment of Bayt al-Qur'an Islamic Boarding School in Southcity Raya, Pondok Cabe Udik, Pamulang, South Tangerang. This research also involved several respondents, namely one therapist and several others as the person being treated. The approach we use is a phenomenological approach by combining the theories of Craswell and Gerardus van Leeuw, to get a complete, systematic, and accurate data. complete, systematic, and accurate data. Through this research it was found that Qur'anic values can cure overthinking through hypnotherapy method. The integration of Qur'anic values is done to be incorporated into new data in human being so that they become a better person by minimising overthinking. Penyakit mental saat ini menjadi masalah yang sering dihadapi dalam masyarakat yang memerlukan perhatian khusus, karena keberadaannya dapat mengganggu stabilitas dan ketenangan dalam kehidupuan. Salah satu yang menjadi fokus dari penyakit mental tersebut adalah overthinking, yang tidak hanya menyerang anak muda, namun juga berbagai kalangan. Salah satu cara yang ditemukan untuk menyelesaikan penyakit mental adalah menggunakan metode hipnoterapi yang dalam pelaksanaannya, hipnosis menjadi dasar untuk konsep penyembuhan. Hipnoterapi sudah mulai marak seiring dengan bertambahnya perhatian masyarakat dengan penyakit mental. Sehingga umat Muslim perlu mengkaji hipnoterapi dalam mengobati penyakit mental ini, terutama overthinking. Penelitian ini bertujuan untuk mengupas hipnoterapi sebagai solusi dalam mengatasi overthinking melalui al-Qur’an. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan library research dan field research, yaitu interview terhadap objek penelitian. Tempat objek penelitian berada di lingkungan Pondok Pesantren Bayt al-Qur’an di Southcity Raya, Pondok Cabe Udik, Pamulang, Tangerang Selatan. Penelitian ini juga melibatkan beberapa responden yaitu seorang terapis dan beberapa pasien yang diterapi. Pendekatan yang penulis gunakan adalah fenomenologi dengan menggabungkan teori Craswell dan Gerardus van Leeuw, untuk mendapatkan sebuah data yang lengkap, sistematis, dan akurat. Melalui penelitian ini ditemukan bahwa nilai-nilai al-Qur’an dapat menyembuhkan overthinking melalui metode hipnoterapi. Integrasi nilai-nilai al-Qur’an dilakukan untuk dimasukkan menjadi data baru dalam diri manusia sehingga menjadi pribadi yang lebih baik dengan meminimalisir adanya overthinking.