cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota cirebon,
Jawa barat
INDONESIA
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis
ISSN : 23030453     EISSN : 24429872     DOI : -
Core Subject : Education,
Diya al-Afkar adalah jurnal ilmiah yang memfokuskan studi al-Quran dan al-Hadis. Jurnal ini menyajikan karangan ilmiah berupa kajian ilmu-ilmu al-Quran dan al-Hadis, penafsiran/pemahaman al-Quran dan al-Hadis, hasil penelitian baik penelitian pustaka maupun penelitian lapangan yang terkait tentang al-Quran atau al-Hadis, dan/atau tinjauan buku. Jurnal ini diterbitkan secara berkala dua kali dalam setahun.
Arjuna Subject : -
Articles 233 Documents
Limitasi Menghardik Anak Yatim dalam Surah Al-Maun: Implementasi Teori Hudud Muhammad Syahrur S.Ud, Muhammad Khoirul Anwar
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 12, No 2 (2024): Desember
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v12i2.18779

Abstract

AbstractAt first glance, rebuking orphans in Surah Al-Maun is a form of absolute threat to anyone who is suspected of carrying out negative actions towards them. So we are still very doubtful because on the one hand it actually has an unfavorable impact on the behavior of the orphans themselves. Responding to this case, this article attempts to explain how to re-read Surah al-Maun using Muhammad Syahrur's hudud (limitation) theory. Hudud theory itself offers a dynamic method of interpreting the Qur'an in order to continue to find the relevance of verses to the context of time and place which is divided into minimum limits and maximum limits. The method used in this research is qualitative by projecting the findings in descriptive-analytical form. This article concludes that the prohibition on rebuking orphans contained in QS Al-Maun is a maximum limit that cannot be exceeded by every Muslim so that there are certain affirmations and goals included in it. The goal to be achieved by this order is to realize benefits for the lives of orphans. This context also cannot be separated from the element of historicity at the time the verse was revealed.AbstrakMenghardik anak yatim dalam surah Al-Maun sekilas sebagai bentuk ancaman mutlak bagi siapa saja yang terindikasi melakukan tindakan negatif kepada mereka. Sehingga masih sangat sangsi karena di satu sisi justru berdampak tidak maslahat untuk perilaku anak yatim itu sendiri. Merespon kasus tersebut, artikel ini berusaha mengurai untuk membaca kembali Surah al-Maun dengan menggunakan teori hudud (limitasi) Muhammad Syahrur. Teori hudud sendiri menawarkan sebuah metode penafsiran Al-Qur’an yang dinamis agar tetap menemukan relevansi ayat dengan konteks masa dan tempat yang dibagi menjadi limit minimal dan limit maksimal. Adapun metode yang digunakan dalam riset ini adalah kualitatif dengan memproyeksikan hasil temuan dalam bentuk diskriptif-analitis. Artikel ini berkesimpulan jika larangan menghardik kepada anak yatim yang termuat dalam QS Al-Maun merupakan batasan maksimal yang tidak boleh dilampaui oleh setiap muslim sehingga ada penegasan dan tujuan tertentu yang masuk di dalamnya. Tujuan yang hendak dicapai oleh perintah tersebut ialah terwujudnya kemaslahatan untuk kehidupan anak yatim. Konteks ini juga tidak bisa terpisah dari unsur historisitas pada saat ayat tersebut turun.
ANALISIS RASM DAN QIRĀ‘ĀT MANUSKRIP TAFSĪR JALĀLAYN KARYA KIAI SAHID PATI Farida, Umma; Nuzulia, Mitatun
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 12, No 2 (2024): Desember
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v12i2.18703

Abstract

This study aims to explore information and identify the manuscript of Tafsīr Jalālayn by Kiai Sahid located in Tayu, Pati, Central Java by emphasizing the study of writing techniques (rasm) and reading (qirā’āt). This study conducted a literature study (library research) using a philological approach and analyzed using content analysis technique in a critical descriptive manner. The study results found that the manuscript copy of Tafsīr Jalālayn was written by Kiai Sahid. The interpretation of verses in the Javanese language by Kiai Sahid to the manuscript of Tafsīr Jalālayn was carried out in 1966 as a learning medium for students at Islamic boarding schools. The writing technique (rasm) used in this manuscript. The rasm used by Kiai Sahid in writing the manuscript of Tafsīr Jalālayn uses a dictation writing technique (rasm imla'i). Meanwhile, the reading technique (qirā’āt) used in this manuscript is the qirā’āt of Imam Ashim narrated by Imam Ḥafs as the qirā’āt that is popular and widely used in Indonesian society. In addition, the manuscript of Tafsīr Jalālayn by Kiai Sahid is different from the book of Tafsīr Jalālayn by Imam Jalāluddīn al-Suyūṭī and Jalāluddīn al-Maḥallī in terms of its physical condition, from the aspects of binding, sheets, and pages of the manuscript, the number of lines per page and page numbering, the size of the manuscript and writing, illumination, language, script, and type of calligraphy, the color of the writing, rasm, qirā’āt, and scholia. Penelitian ini bertujuan untuk menggali informasi dan mengidentifikasi manuskrip Tafsīr Jalālayn karya Kiai Sahid yang berada di Tayu, Pati, Jawa Tengah dengan menekankan pada kajian teknik penulisan (rasm) dan bacaannya (qirā’āt). Penelitian ini menempuh kajian kepustakaan (library research) dengan menggunakan pendekatan filologi, dan dianalisis menggunakan analisis konten (content analysis) secara deskriptif kritis.  Hasil penelitian menemukan bahwa manuskrip salinan Tafsīr Jalālayn ini ditulis oleh Kiai Sahid. Pemberian makna dalam bahasa Jawa (makna pegon) oleh Kiai Sahid terhadap manuskrip Tafsīr Jalālayn ini dilakukan pada tahun 1966 yang bertujuan untuk media pembelajaran para santri di pondok pesantren. Teknik penulisan (rasm) yang digunakan dalam manuskrip ini. Adapun rasm yang digunakan Kiai Sahid dalam penulisan manuskrip Tafsīr Jalālayn ini, yakni menggunakan rasm imlā‘ī. Sedangkan qirā’āt yang digunakan dalam manuskrip ini, yakni qirā’āt Imam ‘Āṣim riwayat Imam Ḥafs sebagaimana qirā’āt yang populer dan banyak digunakan dalam kalangan masyarakat Indonesia. Selain itu, manuskrip Tafsīr Jalālayn karya Kiai Sahid berbeda dengan kitab Tafsīr Jalālayn karya Imam Jalāluddīn al-Suyūṭī dan Jalāluddīn al-Maḥallī secara kondisi fisiknya, dari aspek penjilidan, lembar, dan halaman naskah, jumlah baris setiap halaman dan penomoran halaman, ukuran naskah dan tulisan, iluminasi, bahasa, aksara, dan jenis khat, warna tulisan, rasm dan qirā’āt, dan scholia.
TIPOLOGI RESEPSI MASYARAKAT BANJAR TERHADAP AL-QUR’AN DI DESA PANJARATAN, KECAMATAN PELAIHARI, KABUPATEN TANAH LAUT Munauwarah, Husnul Hamidatul; Mujahid, Ahmad; Irsyadi, Najib
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 12, No 1 (2024): Juni
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v12i1.16639

Abstract

The Banjar community in Panjaratan Village understands the Qur'an not only in terms of understanding the text, namely in the form of practice in reading or studying the Qur'an, more than that, the many cultures or traditions that exist in the community are the result of the development of community receptions, especially the Banjar community towards the Qur'an from time to time. This study aims to further examine how the community's reception of the Qur'an and will classify the typology of the Qur'an's reception and analyze the meaning contained in it. This research uses a qualitative approach, analyzing the typology of the Qur'an with the theory of Qur'anic reception by Ahmad Rafiq and analyzing the meaning using the theory of sociology of knowledge by Karl Mannheim. The results of the research on the typology of Al-Qur'an reception in Panjaratan Village obtained three receptions of the Al-Qur'an, namely exegesis reception implemented in recitation activities and religious assemblies, aesthetic reception manifested in decorations in people's homes and implemented from the existence of al-Qur'an learning with certain methods and tones and functionalist reception implemented in verses as certain functions in life. The meanings contained in the practice of Qur'an reception in Banjar society are first, the objective meaning is interpreted as a symbol of the high sense of religion and closeness to Allah Swt. Second, the documentary meaning is as a culture from ancestors that is preserved and acculturated with Islamic culture. Third, the expressive meaning is that the practice of Qur'anic reception is used as a wasilah in achieving certain goals, hopes and desires by the people who carry it out.Masyarakat Banjar di Desa Panjaratan terhadap Al-Qur’an, mereka memahami Al-Qur’an bukan hanya sekedar pemahaman yang berada pada teks yaitu berupa pengamalan dalam membaca atau mengkaji al-Qur’an, lebih dari itu banyaknya budaya ataupun tradisi yang terdapat di masyarakat merupakan hasil perkembangan resepsi masyarakat khususnya masyarakat Banjar terhadap al-Qur’an dari masa ke masa. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti lebih jauh bagaimana resepsi masyarakat terhadap al-Qur’an serta akan melakukan klasifikasi tipologi dari resepsi al-Qur’an dan menganalisis makna yang terkandung di dalamnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, menganalisis tipologi al-Qur’an dengan teori resepsi al-Qur’an oleh Ahmad Rafiq serta menganalisis makna menggunakan teori sosiologi pengetahuan oleh Karl Mannheim. Hasil dari penelitian mengenai tipologi resepsi al-Qur’an di Desa Panjaratan didapatkan tiga resepsi al-Qur’an yaitu resepsi eksegesis terimplementasikan dalam kegiatan pengajian dan majelis taklim keagamaan, resepsi estetis termanifestasikan dalam hiasan-hiasan dalam rumah masyarakat serta terimplementasikan dari adanya pembelajaran al-Qur’an dengan metode dan nada-nada tertentu dan resepsi fungsionalis terimplementasikan dalam ayat sebagai fungsi tertentu dalam kehidupan. Makna yang terkandung dalam praktik resepsi al-Qur’an di masyarakat Banjar adalah pertama, makna objektifnya dimaknai sebagai simbol dari tingginya rasa beragama dan kedekatan dengan Allah swt. Kedua, makna dokumenternya adalah sebagai budaya dari nenek moyang yang dilestarikan serta diakulturasikan dengan budaya Islam. Ketiga, makna ekspresifnya adalah praktik resepsi al-Qur’an digunakan sebagai wasilah dalam mencapai tujuan, harapan dan hajat tertentu oleh masyarakat yang melaksanakannya.  
MODEL TAFSIR MAQĀṢIDĪ ALA MUHAMMADIYAH: Studi Ayat-Ayat Tentang Konsep Negara dalam Tafsir At-Tanwir Zaeni, Ahmad; Hajar, Siti
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 12, No 2 (2024): Desember
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v12i2.18831

Abstract

This article examines the analytical model of Maqāṣidī interpretation of verses about the state according to Muhammadiyah. Muhammadiyah has produced institutional tafsir works, such as Tafsir At-Tanwir. One of its interpretations addresses verses about the state, which gave rise to the concept of Dār al-‘Ahd wa al-Shahādah. This concept orbits around the values of mercy and moderation while considering current and contemporary contexts. Such an interpretation represents a Maqāṣidī approach that actualizes Qur'anic values to benefit present-day realities. This study is crucial because Muhammadiyah, one of the world's largest Islamic organizations, offers a unique Maqāṣidī interpretation model that contributes significantly to the discourse on moderation. The methodology employed to construct the Muhammadiyah-style Maqāṣidī Tafsir model for state-related verses includes inductive reasoning and content analysis. The findings of this study are twofold: first, Muhammadiyah interprets state-related verses using a thematic-taḥlīlī approach combined with the Maqāṣidī method; second, the Muhammadiyah-style Maqāṣidī interpretation model consists of five procedural steps: i) collecting all verses relevant to the theme through linguistic analysis and intratextual methods; ii) examining prophetic traditions or hadiths related to the verses using intertextual methods; iii) extracting ethical values by identifying connections between relevant verses, their historical context, and contextual hadith dialectically (intertextual analysis); iv) determining dynamic Maqāṣid based on the complexity of current and contemporary contexts; and v) conceptualizing the findings. Artikel ini bertujuan untuk membahas model analisis tafsir Maqāṣidī terhadap ayat-ayat tentang negara menurut Muhammadiyah. Muhammadiyah telah menghasilkan buku tafsir kelembagaan seperti Tafsir At-Tanwir. Salah satu produk penafsirannya adalah tafsir ayat-ayat tentang negara yang telah melahirkan konsep Dār al-‘Ahd wa al-Shahādah (negara hasil konsensus dan negara kesaksian), dengan menjadikan nilai rahmah dan moderasi sebagai orbit penafsiran disertai mempertimbangkan kondisi kekinian dan kedisinian. Penafsiran semacam ini merupakan produk pendekatan Maqāṣidī yang mereaktualisasikan nilai universal al-Qur’an untuk kemaslahatan yang sesuai kondisi kekinian. Kajian ini penting karena Muhammadiyah, salah satu organisasi Islam terbesar di dunia, menawarkan model tafsir Maqāṣidī yang unik, yang memberikan kontribusi signifikan terhadap wacana moderasi. Metode yang digunakan untuk mengonstruk model Tafsir Maqāṣidī ala Muhammadiyah terkait ayat-ayat negara ini terdiri dari metode istqirā’ (induktif) dan metode analisis isi.  Hasil penelitian ini yaitu pertama,  penafsiran Muhammadiyah terkait ayat-ayat negara menggunakan metode Taḥlīlī tematik cum Maqāṣidī; kedua, secara teknis model tafsir Maqāṣidī ala Muhammadiyah terdiri dari lima langkah penafsiran yaitu; i) menghimpun seluruh ayat yang relevan dengan tema (analisis bahasa dan metode intratekstualitas); ii) penelusuran tradisi kenabian (hadis) yang relevan dengan ayat (metode intertekstualitas); iii) mengekstrak nilai-nilai etis dengan cara menentukan berbagai kaitan antara ayat yang relevan dengan konteks historisnya lalu menghubungkan secara dialektis dengan kontekstual hadis (secara intertekstual); iv) menentukan Maqāṣid yang dinamis berdasarkan kompleksitas konteks kekinian dan kedisinian; dan v), konseptualisasi.  
PENGEMBANGAN APLIKASI CMS BERBASIS MOBILE SEBAGAI KEUNGGULAN DISTINGSI PROGRAM STUDI ILMU AL-QUR’AN DAN TAFSIR Maimun, Muhammad; Bahiyah, Nurul; Muhyidin, Iid; Ramadhan S., M. Fathur; Saluky, Saluky
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 12, No 1 (2024): Juni
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v12i1.18464

Abstract

The ability of a study program to develop its uniqueness is a significant advantage. This uniqueness is a distinctive characteristic that sets it apart from study programs at other universities or campuses. In this context, the Al-Qur’an and Tafsir Studies Program at UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon has a unique focus on information and computer technology. To realize this distinctiveness, this research aims to develop an Android-based CMS application. The application is designed to host the works of the academic community within the study program, including both scientific and non-scientific works. The data collection methods used include direct observation and literature review. The method used to develop the application is the SDLC (System Development Life Cycle) method, which involves stages such as Analysis, Design, Implementation, Testing, Deployment, and Maintenance. The software utilized includes PHP and MySQL. The research resulted in the creation of the "Kalamuna" application, a content management system application used to convert scientific papers or final projects into a format that can be accessed online. This application facilitates users, especially lecturers and final-year students, in disseminating their ideas and makes it easier to search for literature as research references. Kemampuan program studi dalam mengembangkan kekhasannya merupakan suatu keunggulan. Kekhasan tersebut merupkan ciri khusus yang membedakan dengan program studi di universitas atau kampus lainnya. Dalam hal ini, Program Studi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon memiliki kekhasan yaitu teknologi informasi dan komputer. Dalam rangka mewujudkan kekhasan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengembangan aplikasi cms berbasis android. Aplikasi tersebut dibangun untuk memuat karya-karya sivitas akademika program studi, baik karya ilmiah maupun karya non ilmiah. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode observasi langsung dan metode literatur. Metode yang digunakan dalam membangun aplikasi adalah metode SDLC. SDLC (System Devolepment Life Cycle) Tahapan-tahapan yang dilakukan adalah Analisis, Desain, implementasi, pengujian dan penerapan serta pemeliharaan. Software yang digunakan yaitu PHP dan MySql. Hasil penelitian berupa aplikasi Kalamuna, aplikasi ini merupakan aplikasi content manajemen sistem yang digunakan untuk mengkonversi karya ilmiah atau tugas akhir yang dapat diakses secara daring. Aplikasi ini memudahkan pengguna khususnya dosen dan mahasiswa semester akhir dalam menyebarkan gagasan hasil karya dan memudahkan untuk melakukan pencarian literatur sebagai bahan referensi penelitian.  
PENGARUH QIRĀ’ĀT TIGA TERHADAP PENAFSIRAN AL-RAḤMĀN: Studi Pola Perbedaan Shaykh ‘Abd-Fattāḥ ‘Abd al-Ghānī al-Qāḍī Firdausiana, Fuadiyati
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 12, No 2 (2024): Desember
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v12i2.18767

Abstract

The discourse of qirā'āt is an important discussion to be studied, due to the wide scope of knowledge accompanied by its lack of dissemination in the elements of Indonesian society. The dissemination of qirā'āt should be preserved as a form of relaying Qur'ānic knowledge from the Prophet. Especially the discussion of qirā'āt three mutammimah li al-'ashr, which are three complements of qirā'āt seven to become qirā'āt ten. This study aims to broadly introduce the qirā'āt three mutammimah li al-'ashr and provide an understanding of analyzing the differences in implications associated with interpretation. This study uses the approach of tafsir and qirā'āt criticism as well as the philological approach with the study of manuscripts. As an analytical tool, it uses the pattern of differences in qirā'āt designed by Shaykh ‘Abd-Fattāḥ ‘Abd al-Ghānī al-Qāḍī (d. 1402 AH). It is concluded that there are implications in the interpretation of various patterns, but it can be concluded in general that the first pattern of ikhtilāf fī al-lafẓi wa ittifāq fī al-ma'nā (different in pronunciation but consistent in meaning) is the majority Diskursus qirā’āt menjadi pembahasan yang penting untuk dikaji, disebabkan karena luasnya lingkup ilmu yang disertai dengan kurang tersebarluasnya di elemen masyarakat Indonesia. Penyebaran qirā’āt hendaknya terus dilestarikan sebagai bentuk estafet keilmuan Al-Qur’an yang bersambung dari Rasulullah Saw. Terutama pembahasan tentang qirā’āt tiga mutammimah li al-‘ashr, yang merupakan tiga pelengkap qirā’āt tujuh untuk menjadi qirā’āt sepuluh. Dengan adanya penelitian ini, ditujukan untuk dapat mengenalkan secara luas qirā’āt tiga mutammimah li al-‘ashr dan memberikan pemahaman analisa perbedaan implikasi yang dikaitkan dengan penafsiran. Penelitian ini menggunakan pendekatan tafsir dan kritik qirā’āt serta pendekatan filologi dengan pengkajian naskah. Sebagai pisau analisa menggunakan pola perbedaan ragam qirā’āt yang dirancang Shaykh ‘Abd-Fattāḥ ‘Abd al-Ghānī al-Qāḍī (w. 1402 H) yang mengklasifikasikan perbedaan menjadi tanawwu’ dan taghayur. Dan menghasilkan kesimpulan, bahwa terdapat implikasi dalam penafsiran dengan pola yang beragam, namun dapat diambil kesimpulan secara umum bahwa pola pertama ikhtilāf fī al-lafẓi wa ittifāq fī al-ma’nā (berbeda pada lafaz namun bersesuaian makna) menjadi mayoritas. 
STUDI LITERATUR TENTANG ILM AL-TAFSĪR KARYA ‘AFIFUDDIN DIMYATI DAN OBJEKTIVITAS EKSPLANASI ARGUMEN TAFSIR SAINS Kembara, Adjie Wahyu
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 12, No 1 (2024): Juni
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v12i1.18050

Abstract

‘Ilm al-Tafsīr: Uṣūluhu wa Manāhijuhu by ‘Afīfuddīn is a book that compiles various topics in the discipline of tafsir (Quranic exegesis), one of which is the methodologies of tafsir. Regarding the topic of tafsir methodologies, an interesting fact is found in ‘Afīfuddīn's exposition of the model of scientific interpretation. ‘Afīfuddīn appears objective when presenting arguments from both pro and contra groups of scientific interpretation, and he even constructs a reconciliation argument between the two opposing groups. Based on this fact, the question arises: how does ‘Afīfuddīn explain the arguments put forward by both groups and his efforts at reconciliation in ‘Ilm al-Tafsīr? This question is important because in his tafsir book, Hidāyah al-Qur’ān, ‘Afīfuddīn seems to adhere to the model of interpreting the Qur'an with the Qur'an. Using a literary study and interpretive analysis approach, this study indicates that ‘Afīfuddīn's explanation of the pro and contra arguments of scientific interpretation is objective and tolerant but still adheres to the basic principles of interpretation. ‘Afīfuddīn's efforts in reconciling various arguments of scientific interpretation imply his wise and objective attitude as an intellectual. ‘Ilm al-Tafsīr: Usūluhu wa Manāhijuhu karya ‘Afifuddin merupakan kitab yang menghimpun topik-topik kajian dalam disiplin ilmu tafsir, salah satunya adalah manāhij al-tafsir. Mengenai topik kajian manhaj tafsir ini ditemukan fakta menarik dalam pemaparan ‘Afifuddin terhadap model penafsiran sains. ‘Afifuddin terlihat objektif saat memaparkan argumentasi dari kelompok pro maupun kontra tafsir sains, bahkan ia juga mengkonstruk argumen rekonsiliasi antara kedua kelompok yang berseberangan. Atas dasar fakta ini, timbul pertanyaan, bagaimana eksplanasi ‘Afifuddin terhadap argumen yang diusung oleh kedua kelompok serta upaya rekonsiliasinya dalam ‘Ilm al-Tafsīr? Pertanyaan ini menjadi penting karena ‘Afifuddin dalam kitab tafsirnya Hidāyah al-Qur’ān terlihat setia pada model penafsiran al-Qur’ān bi al-Qur’ān. Dengan pendekatan studi literatur dan analisis interpretasi, kajian ini mengindikasikan bahwa eksplanasi ‘Afifuddin terhadap pro-kontra argumen tafsir sains bersifat objektif dan toleran namun tetap berpegang teguh pada prinsip-prinsip dasar penafsiran. Upaya ‘Afifuddin dalam merekonsiliasi berbagai argumen tafsir sains menyiratkan sikapnya yang bijak dan objektif sebagai seorang intelektual. 
TELAAH KRITIS ATAS PERAN STRATEGIS IMAM ABŪ ḤANĪFAH DALAM PENYEBARAN DAN PENGEMBANGAN HADIS Aziz, Muhammad Abdul
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 12, No 2 (2024): Desember
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v12i2.16981

Abstract

Imam Abū Ḥanīfah is known as one of the great scholars in Islamic history who has made significant contributions to the development of jurisprudence and understanding of hadith. The relationship between fiqh and hadith is very close, because every sharia decision must refer to the revelation, the practice of the Prophet , or an analogy based on these two main sources. The works of Imam Abū Ḥanīfah consistently refer to the verses of the Qur'an and the ḥadīth of the Prophet  as the basis of law. This research aims to analyze the role and methods of Imam Abū Ḥanīfah in understanding, interpreting, and spreading hadith. Using a descriptive and analytical approach, this paper explores its contribution to narration as well as the methodology it uses in assessing hadith. In addition, this research also responds to various criticisms that have arisen against Imam Abū Ḥanīfah's understanding and approach in hadith, as well as straightening out misconceptions that have developed among scholars. Through the analysis of various sources and opinions of scholars, this paper confirms the credibility and depth of Imam Abū Ḥanīfah's knowledge in the field of hadith, which has been recognized throughout the history of Islam. Imam Abū Ḥanīfah dikenal sebagai salah satu ulama besar dalam sejarah Islam yang memiliki kontribusi signifikan dalam pengembangan ilmu fikih dan pemahaman hadis. Hubungan antara fikih dan hadis sangat erat, karena setiap keputusan syariah harus merujuk kepada wahyu, praktik Nabi Saw. atau analogi yang didasarkan pada kedua sumber utama tersebut. Karya-karya Imam Abū Ḥanīfah secara konsisten mengacu pada ayat-ayat Al-Qur'an dan hadis Nabi Saw. sebagai landasan hukum. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran dan metode Imam Abū Ḥanīfah dalam memahami, menafsirkan, serta menyebarkan hadis. Dengan menggunakan pendekatan deskriptif dan analitis, makalah ini mengeksplorasi kontribusinya dalam periwayatan serta metodologi yang digunakannya dalam menilai hadis. Selain itu, penelitian ini juga menanggapi berbagai kritik yang muncul terhadap pemahaman dan pendekatan Imam Abū Ḥanīfah dalam hadis, serta meluruskan kesalahpahaman yang berkembang di kalangan cendekiawan. Melalui analisis berbagai sumber dan pendapat ulama, tulisan ini menegaskan kredibilitas serta kedalaman ilmu Imam Abū Ḥanīfah dalam bidang hadis, yang telah diakui sepanjang sejarah Islam. 
METODE ANALISIS TEORI KUANTITAS DAN KUALITAS HADIS Umayah, Umayah; Nurkholidah, Nurkholidah; Muttaqin, Muhamad Zaenal
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 12, No 1 (2024): Juni
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v12i1.16784

Abstract

The theory of quantity and quality of hadith is a theory that is used as an analytical tool in hadith research. These theories are used as analysis of data from searching for hadiths, because in this case the assumption is to look for data to understand the theories studied in this case, namely the theory of quantity and quality of hadiths. In studying the theories of quantity and quality of hadith, it is better to accompany the practice of searching for books that help with hadith research, both manually and digitally, because if you understand it only theoretically when asked again you will usually forget, but by searching for data and analyzing it accordingly with the theory, it will be remembered forever. Therefore, on this occasion we present themes related to theories of quantity and quality of hadith accompanied by examples, with the aim of making it easier to understand. Teori kuantitas dan kualitas hadis merupakan teori yang dijadikan pisau analisis dalam peneltian hadis. Teori-teori itu digunakan sebagai analisis data hasil penelusuran hadis, karena dalam hal ini asumsinya adalah mencari data untuk memahami teori-teori yang dipelajari dalam hal ini yaitu teori kuantitas dan kualitas hadis. Dalam mempelajari teori-teori kuantitas dan kualitas hadis ada baiknya disertai dengan praktik penelusuran terhadap kitab-kitab bantu penelitian hadis, baik secara manual maupun digital, karena jika difahami hanya secara teoritis ketika ditanya kembali biasanya akan lupa, tetapi dengan melakukan pencarian data dan menganalisis sesuai dengan teorinya maka akan bisa diingat sampai kapanpun. Oleh karenanya pada kesempatan ini kami menyajikan tema terkait teori-teori kuantitas dan kualitas hadis disertai dengan contoh, dengan tujuan supaya lebih mudah difahami.  
DIMENSI KEBEBASAN DALAM AL-QUR’AN: Kajian Tafsir Maqāṣidī terhadap Nilai-Nilai Politik Rahman, Muhammad; Al-Munawar, Said Agil Husin; Hasyim, Arrazy
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 12, No 2 (2024): Desember
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v12i2.18808

Abstract

This study uses a qualitative descriptive method, and uses deductive analysis, namely explaining the political value of freedom in the Qur'an in Surah Yūnus verse 99 by combining verses that are relevant to the research and looking for correlations between verses, in order to obtain a complete and comprehensive paradigm. Then analyzed using the Maqāṣidī interpretation approach. The conclusion is that among the political values in the Qur'an that must be a reference for policy makers in national and state life is the value of freedom. When this freedom is implemented in public policy, it will have implications for the upholding of the maqashid of the Qur'an and the maqashid of sharia, namely; ḥifẓ al-dīn, ḥifẓ al-nafs, ḥifẓ al-'aql and ḥifẓ al-māl. Penelitian ini menggunakan metode jenis deskriptif yang bersifat kualitatif, dan mempergunakan analisis deduktif yaitu memaparkan nilai politik kebebasan dalam Al-Qur’an pada Surah Yūnus ayat 99 dengan cara mengkombinasikan ayat-ayat yang relevan dengan penelitian serta mencari korelasi antar ayat, guna mendapatkan paradigma yang utuh dan komprehensip. Kemudian dianalisis menggunakan pendekatan tafsir Maqāṣidī. Adapun konklusinya, bahwa di antara nilai-nilai politik dalam Al-Qur’an yang harus menjadi acuan para pemegang kebijakan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yaitu nilai kebebasan. Ketika kebebasan ini diimplementasikan dalam kebijakan publik akan berimplikasi tegaknya maqashid Al-Qur’an dan maqashid syariah yaitu; ḥifẓ al-dīn, ḥifẓ al-nafs, ḥifẓ al-’aql dan ḥifẓ al-māl.