cover
Contact Name
Fuad Mustafid
Contact Email
fuad.mustafid@uin-suka.ac.id
Phone
+6281328769779
Journal Mail Official
asy.syirah@uin-suka.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum
ISSN : 08548722     EISSN : 24430757     DOI : 10.14421/ajish
Core Subject : Religion, Social,
2nd Floor Room 205 Faculty of Sharia and Law, State Islamic University (UIN) Sunan Kalijaga, Marsda Adisucipto St., Yogyakarta 55281
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 42 No 2 (2008)" : 10 Documents clear
Epistemologi Hukum Islam dalam Pandangan Hermeneutika Fazlurrahman Supena, Ilyas
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 42 No 2 (2008)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajish.v42i2.110

Abstract

Konsep  hermeneutika  Rahman  lahir  untuk mengkritisi formulasi epistemologi hukum Islam klasik-skolastik yang dirumuskan al-Syafi’i. Dalam teori analogi (qiy?s)  al-Syafi’i, ashl  adalah sesuatu yang harus selalu dirujuk dalam memeriksa keabsahan  setiap  fenomena  yang  baru  dan  ashl  telah mengungkung  ijtih?d  dalam  batasan  teks  wahyu.  Akibatnya, dialektika  antara  dunia  teks  (world  of the  text),  dunia  pengarang (world of the author) dan dunia pembaca (world of the reader) menjadi terputus.  Dengan  hermeneutika,  Rahman  bermaksud menangkap  hukum  ideal  (ideal  law) yang  mengandung  prinsipprinsip  etika  al-Quran  dan harus  dibedakan  dari  aturan-aturan khusus (legal spesific). Secara epistemologis,  ada  beberapa  poin  yang  bisa  ditangkap dari  pemikiran hermeneutika  Rahman.  Pertama,  dalam memahami  al-Quran,  hermeneutika Rahman  lebih mendahulukan  prinsip  moral  al-Quran  ketimbang  dimensi lahiriah teks, meskipun ia tidak meninggalkan teks sama sekali. Memahami  totalitas  al-Qur’an  dapat  dilakukan  dengan memahami latar belakang historis penurunan al-Qur’an tersebut dan  kemudian  menyusun  prinsip-prinsip  moral  al-Qur’an tersebut  secara  sistematis.  Kedua,  sumber  informasi pengetahuan  dalam  konsep  hereneutika  Rahman  bukan  hanya teks,  melainkan  mencakup  tiga  horizon  sekaligus;  dunia  teks (world of the text),  dunia pengarang  (world of the author)  dan dunia pembaca (world of the reader). Ketiga, hermeneutika Rahman lebih mengembangkan  konsep  validitas  pengetahuan  yang  bersifat intersubjektif. Hermeneutika  tidak  mengenal  model  penafsiran yang  bersifat  tunggal  dan menjadi  hak  monopoli  kelompok tertentu.  Keempat,  intersubjektivitas  yang diusung hermeneutika  ini  tidak  akan  sampai  melahirkan  relativisme, sebab fleksibilitas  rumusan  hukum  Islam  Islam  tersebut  akan selalu  dapat dikembalikan  kepada  prinsip-prinsip  moral  (ideal moral).
Sejarah Pelembagaan dan Pembukuan As-Sunnah Abak, Abu Bakar
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 42 No 2 (2008)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajish.v42i2.111

Abstract

Sejarah  pembukuan  as-Sunnah  memiliki  nilai  sangat penting  dalam  kajian  sumber-sumber  Syari’at  Islam.  Peristiwa ini  ada  keterkaitan  antara  tidak  hanya  sebagai  bukti  warisan peninggalan  dalam  sejarah  Islam,  lebih  dari  itu  pelembagaan (pembukan)  as-Sunnah  merupakan  landasan  dalam  sumber penetapan  kualifikasi  as-Sunnah.  Melalui  kualifikasi  as-Sunnah menjadi Sahih, Hasan, dan Dlaif, sangat ditentukan oleh modelmodel periwayatan hadits yang sudah terbukukan dalam kitabkitab  induk  al-Hadits.  Model-model  periwayatan  dan pengajaran  Hadis  dari  masa  ke  masa  juga  menjadi  instrumen indikator “mardud” atau “maqbul” nya suatu periwayatan hadis, karena  alasan  bahwa  prinsip-prinsip  periwayatan  hadis  oleh para  perawi  setidaknya  diketahui  melalui  peristiwa  aktivitas Pembukuan atau Pelembagaan as-Sunnah. Momentum gerakan Pembukuan  as-Sunnah  memunculkan  petunjuk  model pengajaran  Syari’at  Islam  seacara  kultural,  dan  memberi penentu  tentang  periodisasi  perjalanan  format  sumber  Syari’at Islam.  Sehingga  dari  aspek  Syari’ah  bahwa  Pelembagaan  dan Pembukuan as-Sunnah ada keterkaitan dengan  penentuannilainilai  otentifikasi  sumber-sumber Syari’at Islam, setidaknya ada tujuh  fase  periode  dan  masing-masing  memiliki  format  unsur karakter sekaligus nilai penting dalam penetapan kedudukanasSunnah,  baik  berupa  Sunah  Qauliah,  Fi’liah,  dan  Taqririah bahkanQaul danAtsar Shahabat. Juga melalui Pelembagaan dan Pembukuan  menjadikan  tumbuhnya  aktivitas  keilmuan terutama  dibidang  Hadits  (Ulum  al-Hadits)  disamping mendorong timbulnya lembaga Ijtihad dari generasi ke genarasi berikut.
Fenomena "Mahram Haji" di Indonesia Najwah, Nurun
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 42 No 2 (2008)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajish.v42i2.112

Abstract

The  pilgrimage  to  Mecca  is  5th of  Islamic foundation  for  all  the  capable  Moslem  (istitha`ah) without  consideration  of  the  sex  differences  (male  or female).  It`s  a  duty  of  the  women  moslem  are accompanied by mahram. In the one hand, this concept apparently  protect  safety  of  women.  In  the  reality,  in different contect, it represses opportunity of women to act  of  maximal  devotion,  included  the pilgrimage  to Mecca.  So,  this  paper  will  describe  reinterpretation  of term  of  mahram  from  the  text  tradition  of  prophet Mohammed in Indonesian contect.
Penggantian Ahli Waris Menurut Tinjauan Hukum Islam Zubair, Asni; Lebba, Lebba
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 42 No 2 (2008)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajish.v42i2.113

Abstract

Penggantian  ahli  waris  dalam  Kompilasi Hukum Islam dimaksudkan untuk memberi jalan keluar bagi  cucu  yang  terhalang  menerima  harta  warisan. Masalahnya  adalah  tidak  ada  penjelasan  yang  memadai tentang  penggantian  ahli  waris  yang  dimaksudkan, sehingga dapat menimbulkan interpretasi yang beragam. Tulisan  ini  berupaya  hendak  menelusuri  penggantian ahli  waris  dalam  hukum  Islam.  Dalam kitab-kitab fikih juga  terdapat  istilah  penggantian  tempat  atau penggantian  ahli  waris  yang  diperuntukkan  untuk  ahli waris zaw  al-arham.  Adapun  yang  menyerupai penggantian  ahli  waris  dalam  Kompilasi  Hukum  Islam adalah lembaga  wasiat wajibahyang berlaku di Mesir dan beberapa negara muslim lainnya.
Ideologi Syi’ah: Penelusuran Sejarah Anshori, Ahmad Yani
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 42 No 2 (2008)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajish.v42i2.114

Abstract

Cita-cita  perjuangan  kalangan  Syi’ah  adalah ingin  mengambil  alih  Khilafah  dan  mengembalikannya kepada  garis  keturunan  keluarga  yang  dikenal  dengan ahl  al-bait.  Dalam  hal  ini,  persoalan  yang  paling menonjol  terletak  pada  persolan  Imamah  atau  kepemimpinan  umat  Islam  pasca  wafatnya  Nabi Muhammad. Syi’ah dalam gerakannya terpecah menjadi banyak  sekte,  tetapi  hampir  semua sekte  Syi’ah  menekankan  arti  penting  kepemimpinan  Ali  bin  Abi  Thalib sebagai  pewaris  kepemimpinan  Nabi  Muhammad  dan setelah  itu  kepemimpinan  diwariskan  kepada  Hasan  b. Ali  dan  kemudian  kepada  Husein  bin  Ali.  Selanjutnya, kalangan Syi’ah berbeda sikap dan pilihan politik ketika berbicara tentang siapa pewaris Imamah Husein. Sebagian  mengambil  pilihan  kepada  Ali  Zainal  Abidin,  putra Husein.  Sedangkan  yang  lainnya  memilih  Muhammad Hanafiah,  puta  Ali  dari  istri  selain  Fatimah.  Dalam merespon  hal  ini,  kalangan  Syiah  terpecah  menjadi banyak sekte diantaranya Zaidiyyah, Sab’iyyah dan Itsna ‘Asyariyyah.
Teori-teori Hukum Aliran Positivisme dan Perkembangan Kritik-kritiknya Halim, Abdul
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 42 No 2 (2008)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajish.v42i2.115

Abstract

Positivisme  adalah  aliran  yang  sejak  awal  abad  19 amat mempengaruhi banyak pemikiran di berbagai bidang ilmu tentang  kehidupan  manusia,  terutama  dalam  kajian  bidang hukum.  Dalam  perkembangannya  ilmu  hukum  mengklaim dirinya sebagai ilmu pengetahuan tentang kehidupan dan prilaku warga  masyarakat  (yang  semestinya  tertib  mengikuti  normanorma  kausalitas).  Maka  kaum  positivisme  ini  mencoba menuliskan  kausalitas-kausalitas  dalam  bentuk perundangundangan. Legal-positivism memandang  perlu  untuk  memisahkan  secara tegas antara hukum dan moral. Hukum. bercirikan rasionalistik, eknosentrik, dan universal. Dalam kaca mata positivisme tidak ada  hukum  kecuali  perintah  penguasa,  bahkan  aliran  positivis legalisme  menganggap  bahwa  hukum  identik dengan  undangundang.  Hukum  dipahami  dalam  perpektif  yang  rasional  dan logik. Keadilan hukum bersifat formal dan prosedural. Dalam  positivisme,  dimensi  spiritual  dengan  segala perspektifnya  seperti  agama,  etika  dan  moralistas  diletakkan sebagai  bagian  yang  terpisah  dari  satu  kesatuan  pembangunan peradaban  modern.  Hukum  modern  dalam  perkembangannya telah kehilangan unsur yang esensial, yakni nilai-nilai spiritual. Paham hukum seperti tersebut masih  membelenggu pola pikir kebanyakan  pakar  dan  praktisi  hukum  di  Indonesia.  Sebagai contoh terlihat dengan jelas pada: (1) Vonis bebas samasekali terhadap  Adlin  Lis  (pembalak  hutan)  oleh  Pengadilan  Negeri Medan  dan  (2)  Vonis  Majelis  Hakim  pada  tingkat  kasasi terhadap  Pollycarpus  yang  menyatakan  Pollycarpus  tidak terbukti  melakukan  pembunuhan  terhadap  Munir  sehingga hanya dipersalahkan memalsukan surat. Paham  hukum  seperti  tersebut  di  atas  sangat  berbeda  dengan paradigma hukum sosiologis yang berangkat dari asumsi bahwa hukum  adalah  sebuah  gejala  sosial  yang  terletak  dalam  ruang sosial dan dengan itu tidak bisa dilepaskan dari konteks sosial. Hukum  bukanlah  entitas  yang  sama  sekali  terpisah  dan  bukan merupakan  bagian  dari  elemen  sosial  yang  lain.  Hukum  tidak akan  mungkin  bekerja  dengan  mengandalkan  kemampuannya sendiri  sekalipun  ia  dilengkapi  dengan  perangkat  asas,  norma dan institusi. Berdasarkan  paradigma  hukum  seperti  itulah  Majelis  Hakim Mahkamah  Agung  dalam  kasus  Peninjauan  Kembali  (PK) terhadap  kasus  terbunuhnya  Munir,  berkeyakinan  bahwa Pollycarpuslah yang membunuh aktivis HAM Munir.
Prismatika Nilai Ekonomi dan Nilai Kepentingan Sosial sebagai Dasar Kebijakan Pembangunan Hukum Nasional Listyarini, Dyah
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 42 No 2 (2008)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajish.v42i2.116

Abstract

Hukum prismatik merupakan tata nilai hukum yang  khas,  yakni  yang  membedakan  sistem  hukum Indonesia  dengan  sistem  hukum  lainnya.  Sehingga muncul  istilah  hukum  Pancasila  yang,  jika  dikaitkan dengan literatur tentang kombinasi antara lebih dari satu pilihan nilai sosial disebut sebagai pilihan nilai prismatik yang  karenanya  dalam  konteks  hukum  dapat  disebut sebagai hukum prismatik. Konsep Prismatik merupakan kombinatif  atas  nilai  sosial  paguyuban  dan  nilai  sosial patembayan.  Dua  nilai  sosial  ini  saling  mempangaruhi warga  masyarakat,  yakni  kalau  nilai  sosial  paguyuban lebih  menekankan  pada  kepentingan  bersama  dan  nilai sosial  patembayan  lebih  menekankan  kepada kepentingan  dan  kebebasan  individu. Nilai  prismatik diletakan sebagai dasar untuk membangun hukum yang penjabarannya  dapat  disesuaikan  dengan  tahap-tahap perkembangan  sosial  ekonomi  masyarakat  yang bersangkutan. Ada  empat  hal  supaya  prismtika  hukum  dapat diwujudkan,  pertama,  Pancasila  memadukan  unsur  yang baik dari paham Individualisme dan kolektivisme. Kedua, Pancasila  mengintegrasikan  negara  hukum  yang menekankan  pada  civil  law dan  kepastian  hukum  serta konsepsi negara hukum  the rule of law  yang menekankan pada  common  law  dan  rasa  keadilan.  Ketiga,  Pancasila menerima hukum sebagai alat pembaharuan masyarakat (law  as  tool  of  social  enginering) sekaligus  hukum  sebagai cermin ras keadilan yang hidup dalam masyarakat (living law).  Keempat,  Pancasila  menganut  paham  relegious  nation state,  tidak mengendalikan agama tertentu (karena bukan negara agama), tetapi juga bukan hampa agama, Di sini negara  harus  melindungi  semua  pemeluk  agama  tanpa diskriminasi.
Upaya Penegakan Hukum terhadap Pelanggaran Berat Hak Asasi Manusia (Studi terhadap Agresi Militer Amerika Serikat Tahun 2003 di Irak) Tahir, Achmad
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 42 No 2 (2008)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajish.v42i2.117

Abstract

Gross  violation  of  human  rights  has  always  been stalking the world. Wars in Iraq and Palestine not only devastate buildings and infrastructure, but also above all that take the toll of thousands of civilians whose lives are supposed to be protected. United States, all this time claiming as the greatest democracy and champion of human rights, apparently is the one that  inflict worst injury to democracy and human rights themselves, as  apparent in the fact that until today the issues of wars in Iraq  and Palestine are yet to be settled. The United Nations, in its ideal  vision the spearhead of justice in global level, is in actuality cowering before the  United  States  and  its allies.  Sad  but  true,  Law  becomes powerless in the face of ambitions of global political power.
Manhaj al-Haj Abd al-Malik Abd al-Karim Amrullah (HAMKA) fi Tafsir al-Qur'an Abd. Wahid, Saad
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 42 No 2 (2008)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajish.v42i2.260

Abstract

فهذا بحث في بيان منهج الأستاذ الحاج عبد الملك عيدالكريم أمر الله (همكا) في تفسير القرآن العظيم، وقد ابتدأالكاتب بذكر حياة الأستاذ همكا من ولادته حتى وفاته.وقد هيأ الله ما ير ّ غبه في علم الإسلام، وذلك أنه قد حثهأبوه على العود إلى طلب العلم، ثم بين الكاتب خلاصة تفسيرالأزهر الذي ألفه همكا. لقد رسم الأستاذ همكا من القرآن تربوياللأمة الإسلامية في تتفسيره.فكافح التقليد، وأعاد للقرآن و السنة مكاما الأول منالتشريع، و دعا المسلمين إلى استخدام عقولهم و تفكيرهم حتىينهضوا بحيام و يستفيدوا من التقدم العلمي.فهذا بحث في بيان منهج الأستاذ الحاج عبد الملك عيدالكريم أمر الله (همكا) في تفسير القرآن العظيم، وقد ابتدأالكاتب بذكر حياة الأستاذ همكا من ولادته حتى وفاته.وقد هيأ الله ما ير ّ غبه في علم الإسلام، وذلك أنه قد حثهأبوه على العود إلى طلب العلم، ثم بين الكاتب خلاصة تفسيرالأزهر الذي ألفه همكا. لقد رسم الأستاذ همكا من القرآن تربوياللأمة الإسلامية في تتفسيره.فكافح التقليد، وأعاد للقرآن و السنة مكاما الأول منالتشريع، و دعا المسلمين إلى استخدام عقولهم و تفكيرهم حتىينهضوا بحيام و يستفيدوا من التقدم العلمي.
Hukum Islam dalam Bingkai Pluralisme Bangsa: Persoalan Masa Kini dan Harapan Masa Depan Manan, Abdul
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 42 No 2 (2008)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajish.v42i2.261

Abstract

Saat ini, perkembangan hukum Islam semakin baik. Dalam Undang-Undang No. 25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional Tahun 2000-2004 dikemukakan bahwa arah kebijakan hukum yaitu menata kembali sistem hukum nasional yang menyeluruh dan terpadu dengan mengakui dan menghormati hukum agama yang dianut masyarakat. Kesempatan ini belum bisa dipergunakan oleh ummat Islam secara maksimal, sebab masih ada faktor penghambat yang mesti harus diselesaikan oleh ummat Islam sendiri. Apabila faktor-faktor penghambat hukum Islam itu dapat dihilangkan, maka eksistensi hukum Islam dalam pluralisme bangsa akan tetap eksis.

Page 1 of 1 | Total Record : 10