cover
Contact Name
Gede Arda
Contact Email
ardagede@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.beta.tep@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian)
Published by Universitas Udayana
ISSN : 25023012     EISSN : 25023012     DOI : -
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) memuat hasil penelitian di bidang teknik biosistem (biosystem engineering). Cakupan dari jurnal ini merentang dari aplikasi ilmu keteknikan untuk pertanian. Diantara bidang ilmu tersebut, yang menjadi fokus adalah Bidang Manajemen Keteknikan Pertanian, Teknologi Pascapanen khususnya produk Hortikultura, Rekayasa dan Ergonomika, Konservasi Sumber Daya Alam, serta khusus tentang aplikasi Instrumentasi dan Sistem kontrol dalam bidang pertanian.
Arjuna Subject : -
Articles 344 Documents
Pengaruh Lama Fermentasi dan Lama Pengeringan terhadap Karakteristik Teh Herbal Daun Bambu Tabah (Gigantochloa nigrociliata Buse - Kurz) I Gede Angga Artha Yoga; Pande Ketut Diah Kencana; Sumiyati Sumiyati
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 10 No 1 (2022): April
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2022.v10.i01.p07

Abstract

ABSTRAK Teh herbal merupakan teh yang terbuat dari rempah-rempah atau tanaman lain yang memiliki khasiat bagi kesehatan dan dimanfaatkan sebagai minuman yang menyehatkan maupun minuman penyegar oleh sebagian besar masyarakat. Salah satunya adalah daun bambu tabah (Gigantochloa nigrociliata Buse-Kurz) yang pengolahannya bertujuan untuk memanfaatkan senyawa-senyawa yang terkandung di dalam daun tersebut, yang nantinya akan menghasilkan karakteristik tersendiri. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh lama fermentasi dan lama pengeringan yang berbeda terhadap karakteristik teh herbal daun bambu tabah. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September 2020 – Oktober 2020 di Laboraturium Teknik Pascpanen, Pengelolaan Sumber Daya Alam, Analisis Pangan, dan Pengolahan Pangan Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Udayana. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial dengan dua faktor perlakuan yaitu lama fermentasi (120, 240 dan 360 menit) dan lama pengeringan (60 menit, 120 menit). Seluruh perlakuan diulang sebanyak tiga kali sehingga diperoleh 18 unit percobaan. Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam, apabila perlakuan berpengaruh nyata dilanjutkan dengan uji Duncan’s Multiple Range Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama fermentasi 120 menit dengan waktu lama pengeringan 60 menit merupakan perlakuan terbaik dengan karakteristik sebagai berikut: kadar air 6,27%, pH 6,56 , total asam 1,35%, total fenol 11,00 mg GAE/g, total flavonoid 16,41 mg QE/g, hedonik warna (biasa), aroma (biasa), rasa (biasa dan agak pahit) dan penerimaan keseluruhan (agak suka). ABSTRACT Herbal tea is the tea made from spices or other plants that have health properties and is used as healthy drink or refreshment. One of the herbal teas is made from tabah bamboo leaf (Gigantochloa nigrociliata BUZE-Kurz). The bamboo leaves processing aims to take advantage of the compounds contained in the leaves, which will produce its own characteristics. The purpose of this study was to determine the effect of different fermentation and drying times on the characteristic of bamboo tabah leaf herbal tea. This research was conducted at September - October 2020 at the Post-Harvest Engineering Laboratory, Natural Resource Management, Food Analysis, and Food Processing Laboratory, Faculty of Agricultural Technology, Udayana University. This research used a Completely Randomized Design with two factors which were fermentation time (120, 240, and 360 minutes) and drying time (60 and 120 minutes). All treatments repeated three times to obtain 18 units of experiments. The data obtained were analyzed by analysis of variance and if the treatment had a significant effect followed by Duncan’s Multiple Range Test (DMRT). The result of this study indicates that the treatment fermentation at 120 minutes with a drying time of 60 minutes was the best treatment with moisture content 6,27%, pH 6,56, total acid 1,35%, total phenolics 11,00 mg GAE/g, total flavonoids 16,41 mg QE/g and sensory properties color (neutral), the flavor (neutral), the taste (neutral and slightly bitter) and an overall acceptance (neutral).
Pengaruh Penambahan Konsentrasi Air Garam Dapur (Nacl) Dan Lama Perendaman Terhadap Mutu Bunga Kol (Brassica Oleracea Var.Botrytis L.) Selama Penyimpanan Suhu Dingin Maria Wardiani Popi; Ida Ayu Rina Pratiwi Pudja; I Putu Surya Wirawan
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 9 No 1 (2021): April
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2021.v09.i01.p08

Abstract

Bunga kol (Brassica oleracea var.botrytis L.) merupakan salah satu hasil pertanian yang mudah rusak, guna menangani permasalahan tersebut, perlu dilakukan pengawetan untuk mempertahankan mutu bunga kol. Salah satu teknik yang dapat digunakan untuk pengawetan tersebut adalah perendaman dengan garam dapur (NaCl). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kosentrasi air garam dan lama perendaman terhadap mutu bunga kol selama penyimpanan dingin dan untuk mengetahui kosentrasi garam terbaik terhadap mutu dan lama perendaman yang terbaik pada bunga kol. Metode penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari dua faktor, yaitu perlakuan kosentrasi NaCl dan lama perendaman, pengukuran berlangsung selama 10 hari dengan 2 kali ulanganrlakuan kosentrasi garam dapur (NaCl) sebanyak 3%, 6%, 9% dan lama perendaman 10, 20 dan 30 menit. Hasil penelitian setelah proses analisis menggunakan aplikasih SPSS 16 sebagai alat bantu pengolah data dalam menentukan pengaruh variabel penelitian terhadap objek penelitian serta dilakukan uji duncan untuk menentukan perbedaan hasil dari setiap perlakuan. Hasil penelitian menunjukan bahwa perendaman menggunakan garam dapur (NaCl) 10gram dengan konsentrasi 6% dan waktu perendaman selama 20 menit menunjukan hasil terbaik setelah dilakukan pengamatan selama 10 hari. Cauliflower (Brassica oleracea var. botrytis L.) is one of the perishable agricultural products. Handling these problems, preservation is necessary in order to maintain the quality of cauliflower. One technique that can be used for preservation is soaking with salt (NaCl). The purpose of this study was to determine the effect of salt water concentration and soaking time on the quality of cauliflower during cold storage and to determine the best salt concentration on quality and the best soaking time on cauliflower. This research method uses a Completely Randomized Design (CRD) consisting of 10 treatments and 2 replications with a concentration of salt (NaCl) of 3%, 6%, 9% and soaking time of 10, 20 and 30 minutes. The results of the study after the analysis process using SPSS 16 as a data processing tool in determining the effect of research variables on the research object as well Duncan to determine the difference in the results of each treatment. The results showed that soaking using table salt (NaCl) 10 grams with a concentration of 6% and soaking time for 20 minutes showed the best results after 10 days of observation.
Optimasi Suhu Pengeringan dan Ketebalan Irisan pada Proses Pengeringan Jahe Merah (Zingiber officinale var. rubrum) dengan Response Surface Methodology (RSM) Desak Agung Hepi; Ni Luh Yulianti; Yohanes Setiyo
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 9 No 1 (2021): April
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2021.v09.i01.p07

Abstract

Suhu pengeringan dan ketebalan irisan merupakan dua hal yang mempengaruhi proses pengeringan jahe merah. Penelitian dirancang dengan tujuan untuk mendapatkan kombinasi suhu pengeringan dan ketebalan irisan optimum melalui Response Surface Methodology (RSM), serta memperoleh model matematika untuk memprediksi kadar air, aktivitas air, kadar abu dan energi panas penguapan. Pengujian dilakukan untuk mengetahui pengaruh suhu dan ketebalan irisan terhadap respon kadar air, aktivitas air, kadar abu dan energi panas penguapan. Pengolahan data menggunakan aplikasi Design Expert ® 12. Hasil penelitian menunjukkan model linier untuk memprediksi respon kadar air dan kadar abu. Model kuadratik untuk memprediksi respon aktivitas air dan energi panas penguapan. Hasil verifikasi model menunjukkan kombinasi suhu pengeringan dan ketebalan irisan optimum terpilih adalah 67,30C dan 3 mm. Proses pengeringan dengan kombinasi suhu pengeringan dan ketebalan irisan optimum menghasilkan nilai aktual aktivitas air 0,393 aw, kadar air 9,877%, kadar abu 3,513% dan energi panas penguapan sebesar 68,354 kJ/Jam. Respon dari kombinasi suhu pengeringan dan ketebalan irisan optimum terpilih dapat memenuhi keinginan sesuai kriteria dengan nilai desirability 81,3%. Drying temperature and thickness of slices are two things that affect the drying process of red ginger. The research was designed with the aim of obtaining a combination of drying temperature and optimum slice thickness through the Response Surface Methodology (RSM), as well as obtaining mathematical models to predict water content, water activity, ash content and evaporation heat energy. Testing was conducted to determine the effect of the temperature and thickness of the slices on the response of water content, water activity, ash content and evaporation heat energy. Data processing using design expert application ® 12. The results showed linear models to predict the response of water levels and ash levels. Quadratic models to predict the response of water activity and evaporation heat energy. Model verification results show the combination of drying temperature and optimum slice thickness selected is 67.30C and 3 mm. The drying process with a combination of drying temperature and optimum slice thickness resulted in an actual water activity value of 0.393 aw, water content of 9.877%, ash content of 3.513% and evaporation heat energy of 68,354 kJ/h. The response of the combination drying temperature and thickness of selected optimum slices can meet the wishes according to the criteria with a desirability value of 81.3%.
Penggunaan Beberapa Model Peramalan (Forecasting) pada Produksi Gula Kristal Putih di PT. Perkebunan Nusantara X Immanuel Damanik; Ida Bagus Putu Gunadnya; I Gusti Ngurah Apriadi Aviantara
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 10 No 1 (2022): April
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2022.v10.i01.p03

Abstract

ABSTRAK Peramalan adalah proses memperkirakan atau memprediksi apa yang akan terjadi di masa yang akan datang berdasarkan data masa lalu dan data saat ini, yang paling umum dengan analisis tren. Contoh peramalan yang sederhana adalah peramalan nilai suatu variabel pada beberapa waktu yang akan datang. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) untuk mengetahui pola historis data produksi gula, (2) untuk mengetahui model peramalan yang digunakan dan menentukan model peramalan terbaik dan validitas model, dan (3) melakukan peramalan produksi gula beberapa bulan kedepan dengan menggunakan model peramalan yang valid. Metode penelitian ini menggunakan data sekunder dari PT. Perkebunan Nusantara X dan proses pengolahan data menggunakan Microsoft Excel. Berdasarkan hasil dari analisis, exponential smoothing menggunakan ? = 0.8 merupakan model peramalan terbaik. Bila dibandingkan model peramalan moving average 2 periode dan double exponential smoothing dengan ? = 0.8. Uji keakuratan dari exponential smoothing ? = 0.8 menunjukkan nilai MAD = 1.096, MSE = 2.818.871, dan MAPE = 34%. Pada uji validitas model peramalan, model ini memiliki nilai MAD = 1,025, MSE = 2,113,927, MAPE = 22%. Hasil peramalan produksi untuk 6 periode kedepan adalah R1 = 5,106, R2 = 5,047, R3 = 5,035, R4 = 5,032, R5 = 5,032, R6 = 5,032 ABSTRACT Forecasting is the process of making a future prediction based on the present and past data using trend analysis. The purpose of this study was (1) to know the historical pattern of refined sugar production, (2) to know what are the forecasting models that be used for prediction, (3) to get the best forecasting model by using an accuracy test. This study uses secondary data from PT Perkebunan Nusantara X and processing data by using Microsoft Excel. Based on analysis results exponential smoothing by using ? = 0.8 is the best model. As comparison by using a moving average with 2 period and double exponential smoothing with ? = 0.6. The accuracy test of exponential smoothing ? = 0.8 showing with value MAD = 2, MSE = 9, and MAPE = 36%. On validity test of forecasting models, exponential smoothing had showing value MAD = 1,025, MSE = 2,113,927, MAPE = 22%. Results of forecasting production with 6 period on the future is R1 = 5,106, R2 = 5,047, R3 = 5,035, R4 = 5,032, R5 = 5,032, R6 = 5,032.
Pengaruh Emulsi Minyak Wijen dan Ekstrak Daun Kecombrang sebagai Bahan Pelapis terhadap Atribut Mutu Buah Salak Madu selama Penyimpanan I Gusti Ngurah Karisma Maheswara; I Made Supartha Utama; I Gusti Ketut Arya Arthawan
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 9 No 2 (2021): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2021.v09.i02.p09

Abstract

Buah salak madu merupakan buah perishable dan memiliki umur simpan yang singkat sehingga menyebabkan sulitnya buah dipasarkan. Penelitian ini, bertujuan untuk mencari kombinasi emulsi terbaik dari penambahan ekstrak daun kecombrang dan minyak wijen sehingga mampu untuk menjaga mutu dan memperpanjang masa simpan. %. Penelitian ini, menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan dua faktor perlakuan. Faktor pertama yaitu ekstrak daun kecombrang (K) dengan taraf konsentrasi (0%, 4% dan 8%) dan faktor kedua yaitu minyak wijen (W) dengan taraf konsentrasi (0%, 0,5% dan 1%) dengan parameter yang diuji yaitu susut bobot, warna, total asam, total padatan terlarut, tekstur dan intesitas kerusakan. Pengamatan dilakukan selama 16 hari dengan penyimpanan pada suhu ruang (28-31oC). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan tunggal minyak wijen berpengaruh terhadap total asam tertitrasi sedangkan perlakuan tunggal ekstrak daun kecombrang berpengaruh terhadap perbedaan warna. Interaksi minyak wijen dan ekstrak daun kecombrang berpengaruh terhadap susut bobot, kekerasan, total padatan terlarut dan intensitas kerusakan. Perlakuan K2W2 (ekstrak daun kecombrang 8% dan minyak wijen 1%) merupakan emulsi terbaik karena mampu menghambat laju perubahan mutu buah salak madu. Perlakuan tersebut mampu menghambat perubahan kekerasan buah, total padatan terlarut dan susut bobot buah tetapi belum mampu menghambat laju perubahan total asam dan perbedaan warna. Berdasarkan nilai intensitas kerusakan, perlakuan K2W2 mampu menghambat penurunan bobot dan kekerasan hingga hari ke 10 sedangkan menghambat pertumbuhan jamur hingga hari ke 9. Shelf life of salak madu fruit is relatively short and easily spoile during storage, it makes difficult to sell. This study aimed to find the best emulsion combination from the addition of kecombrang leaf extract and sesame oil as an edible coating so it could preserve quality and extend the shelf life of the fruit. This study used a Randomized Block Design using two factors. The first factor was kecombrang leaf extract (K) with concentrations level are (0%, 4% and 8%) while the second factor was sesame oil (W) with concentrations level are (0%, 0,5% and 1%). with the parameters tested were weight loss, color difference, total acid, total dissolved solids, texture and damage intensity. Observations were carried out for 16 days and all sample were storage at room temperature (28-31oC). The results showed that the single treatment of sesame oil has an effect on the total acid while the single treatment of kecombrang leaf extract has an effect on the color difference. The interaction of sesame oil and kecombrang leaf extract affects weight loss, hardness, total dissolved solids and damage intensity. The emulsion K2W2 (kecombrang leaves extract 8% and sesame oil 1%) was the best to inhibit the deterioration of salak madu’s fruit. This combination was able to inhibit the rate of change on texture, total dissolved solids and weight loss, but the combination has not been able to inhibit the rate of change on total acid and the color of the fruit. Based on the value of damage intensity, the treatment was able to inhibit weight loss and hardness until day 10, while inhibiting fungal growth until day 9.
Pengaruh Pemberian Aerasi Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Selada (Lactuca sativa L.) pada Sistem Hidroponik Rakit Apung (Floating Raft Hydroponic System) Ni Kadek Sri Arini Dharmayanti; Sumiyati Sumiyati; Ni Luh Yulianti
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 10 No 1 (2022): April
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2022.v10.i01.p12

Abstract

ABSTRAK Sistem hidroponik rakit apung adalah salah satu budidaya yang dapat diterapkan untuk memperoleh lingkungan pertumbuhan yang lebih terkontrol. Dalam sistem hidroponik rakit apung terdapat kendala yakni apabila sistem tersebut tidak diberi oksigen dalam waktu yang lama. Salah satu penyakit yang timbul pada sistem ini ialah busuk akar yang diakibatkan karena tidak terdapatnya oksigen terlarut didalamnya. Namun hal tersebut dapat diatasi dengan pemberian aerasi pada sistem hidroponik rakit apung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian aerasi pada budidaya selada dengan sistem hidroponik rakit apung. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 4 perlakuan yakni sistem hidroponik rakit apung yang tidak diberi aerator sebagai kontrol (P0), sistem hidroponik rakit apung yang diberi aerator dengan kapasitas debit aliran laju air 700 liter/jam merk Yamano (P1), sistem hidroponik rakit apung yang diberi aerator dengan kapasitas debit aliran laju air 1500 liter/jam merk Amara (P2) dan sistem hidroponik rakit apung yang diberi aerator dengan kapasitas debit aliran 2000 liter/jam merk Hai-Long (P3) serta masing-masing perlakuan diulang sebanyak 4 kali dengan total sampel yang diamati berjumlah 80 sampel. Hasil penelitian menunjukan bahwa (P3) berpengaruh nyata terhadap perubahan oksigen terlarut, jumlah helai daun, lebar helai daun, panjang akar, berat segar tajuk, berat kering tajuk dan warna helai daun yang mana pada perlakuan pemberian aerasi dengan debit aliran laju air 2000 liter/jam dapat memberikan hasil terbaik diantara perlakuan yang diberikan dengan nilai rata-rata oksigen terlarut sebesar 8,4 mg/L, jumlah helai daun 17.6, nilai lebar helai daun 8.10, nilai panjang akar 29.70 cm, nilai berat segar tajuk 207.12 gram, nilai berat kering tajuk 4.96 gram, dan nilai warna helai daun yaitu 48.31. ABSTRACT The floating raft hydroponic system is one of the cultivation techniques to obtain a more controlled environment for plants. However, this system has a drawback which is a lack of dissolved oxygen leading to root rot. This issue is overcome by providing aeration. This study aims to determine the effect of aeration on lettuce cultivation with a floating raft hydroponic system. The study used a randomized block design (RAK) with 4 treatments, namely a floating raft hydroponic system that was not given any aerator as a control (P0), a floating raft hydroponic system that was given an aerator with a flow rate of 700 liters/hour (P1); the floating raft hydroponic system that was given an aerator with a flow rate of 1500 liters/hour (P2), and a floating raft hydroponic system that was given an aerator with a flow rate of 2000 liters/hour P3. Each treatment was repeated 4 times. The results showed P3 had a significant effect on changes in dissolved oxygen, the number of leaves, leaf width, root length, fresh weight, dry weight, and leaf color. The P3 gave the best results among all other treatments with an average value of dissolved oxygen of 8.4 mg / L, the number of leaves 17.6, the value of leaf blade width 8.10, the value of root length 29.70 cm, the value of shoot fresh weight 207.12, the value of the dry weight of the canopy 4.96, and the value of the leaf color is 48.31.
Analisis Persentase Penghematan Air Irigasi dengan Metode Pergiliran (Magilihan) pada Subak di DAS Ho I Wayan Aditya Putra Pratama; I Wayan Tika; I Putu Gede Budisanjaya
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 9 No 1 (2021): April
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2021.v09.i01.p15

Abstract

ABSTRAK Berkurangnya ketersediaan air irigasi dapat disebabkan oleh debit air sungai yang turun pada musim kemarau, hilangnya air pada saluran irigasi, dan evaporasi. Dengan demikian, upaya-upaya penghematan perlu dilakukan seperti sistem pergiliran dalam pemberian air irigasi dan proposi dalam ditribusi air irigasi pada setiap subak. Penelitian dilakukan untuk mengetahui persentase pengehematan air irigasi yang ada pada suatu subak dan proposi pemberian air irigasi pada saat kurangnya ketersediaan air. Perolehan data primer dilakukan dengan metode wawancara, pengamatan, dan pengukuran sedangkan data sekunder diperoleh dari BMKG Wilayah III Denpasar. Data yang dikumpulkan selanjutnya akann dianalisis untuk mencari persentase pengehematan yang terjadi pada saat kekurangan air dan proposi distribusi air irigasi. Hasil penelitian menunjukan metode pergiliran dilakukan pada saat debit air tersedia tidak bisa memenuhi kebutuhan air irigasi. Metode pergiliran dilakukan pada subak bagian tengah dan subak bagian hulu pada bulan April sampai Mei. Metode pergiliran dilakukan dengan menurunkan jumlah kebutuhan air irigasi dan memberikan air irigasi sesuai dengan debit tersedia dengan rentang waktu setiap dua hari. Subak bagian hulu tidak terjadi penghematan karena proses pergiliran tidak berjalan, penghematan air irigasi pada subak bagian tengah rata-rata sebesar 28,3 persen dan subak bagian hilir sebesar 24 persen. Dengan penerapan metode pergiliran pada saat kekurangan air irigasi kebutuhan air irigasi bisa terpenuhi oleh debit air yang tersedia. Untuk mencapai proposional penghemtan air irigasi pada bulan April sampai Mei, pada subak bagian hulu air irigasi diturunkan sebesar 17,46 persen, subak tengah dinaikan 13,37 persen, dan subak hilir dinaikan 9,84 persen. ABSTRACT Availability of irrigation water can be influenced by the discharge of river water that drops in the dry season, loss of water in irrigation channels and evaporation. Thus, austerity measures need to be made such as a system of turns in irrigation water and balanced in the attribution of irrigation water on each subak. Research was conducted to determine the percentage of irrigation water storage present in a subak and the proportion of irrigation water at a time of lack of water availability. The acquisition of primary data is done by interviewing, observation, and measurement methods while secondary data is obtained from BMKG Region III Denpasar. The data collected will then be analyzed to look for the percentage of storage that occurs during water shortages and the balanced of irrigation water distribution. The results showed the method of turns was carried out when the discharge of available water could not meet the needs of irrigation water. The turns method occurs in the middle and upper subak from April to May. The method of turns is carried out by lowering the amount of irrigation water needs and providing irrigation water according to the discharge available with a time span every two days. The upstream subak does not have any savings because the rotating process is not running, irrigation water savings in the central subak averaged 28,3 percent and downstream subak by 24 percent. Water rotational method can be used when there is a shortage of irrigation water, therefor water needs can be met by the discharge of available water. To achieve the proportional irrigation water supply in April to May, the upper subak of irrigation water was lowered by 17,46 percent, the central subak was increased by 13,37 percent, and the downstream subak was increased by 9,84.
Efek Daya Lampu Sinar UV C dan Lama Penyinaran Terhadap Perubahan pH dan Total Padatan Terlarut Nira Aren Selama Penyimpanan Hary Kurniawan; Sukmawaty Sukmawaty; Murad Murad; Ansar Ansar; Rahmat Sabani; Kurniawan Yuniarto
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 8 No 2 (2020): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2020.v08.i02.p20

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek daya lampu sinar ultraviolet (UV C) dan lama penyinaran terhadap perubahan pH dan total padatan terlarut pada nira aren selama penyimpanan. Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan dua faktor yaitu perlakuan daya lampu UV C dan lama penyinaran. Parameter yang diukur yaitu pH dan brix dan pengukuran diulang sebanyak tiga kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nira aren yang diberi perlakuan sinar UV C memiliki laju perubahan pH yang lebih rendah dibandingkan kontrol. Semakin tinggi daya lampu UV C yang digunakan mampu memperlambat laju perubahan pH nira aren. Faktor kekeruhan, buih, kandungan asam organik maupun zat yang tersuspensi pada nira aren diketahui menjadi faktor lama penyinaran tidak berjalan efektif dikarenakan transmisi sinar UV yang rendah. Efek daya lampu UV C dan lama penyinaran diketahui mampu menjaga kestabilan kandungan total padatan terlarut pada nira aren.
Kajian Proses Fermentasi Limbah Sayur dan Buah dari Pasar Tradisional Kintamani I Wayan Edy Wirawan; Yohanes Setiyo; Ida Ayu Gede Bintang Madrini
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 9 No 2 (2021): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2021.v09.i02.p14

Abstract

ABSTRAK Tujuan dari penelitian ini yakni sebagai berikut: (1) mengetahui pengaruh kombinasi antara limbah sayur dan limbah buah untuk dibuat pupuk organik cair, dan (2) mengetahui perlakuan yang terbaik pada proses fermentasi limbah sayur dan buah dari pasar tradisional Penelitian ini menggunakan 4 perlakuan sebagai berikut : perlakuan A0 = sayur 100 %, A1 = sayur 90 % dan buah 10 %, perlakuan A2 = sayur 80 % dan buah 20 %, perlakuan A3 = sayur 70 dan buah 30 %. Campuran sayur dan buah dari setiap perlakuan adalah 10 kg dan dihancurkan dengan blender, hasil pengecilan ukuran kemudian di ditambahkan dengan air 20 liter dan molase masing masing 1 kg . Sayur adalah sawi putih, kobis, sayur hijau,sedangkan buah : Tomat.Parameter yang diamati yaitu : perubahan warna, derajat keasaman (pH) dan Daya hantar listrik (EC), (TDS), BOD (Biochemical Oxygen Demand), COD (Chemical Oxygen Demand), C-organik dan N-total. Secara umum, kualitas pupuk cair yang dihasilkan dari keempat perlakukan sesuai dengan Standar SNI No.70/Permentan/SR.140/10/2011. ABSTRACT The objectives of this study were to: (1) determine the effect of a combination of waste vegetables and fruit waste to make liquid organic fertilizer, and (2) find out the best treatment in the fermentation process of vegetable and fruit waste from the traditional market of Kintamani. This study uses 4 treatments as follows: A0 treatment = 100% vegetables, A1 = 90% vegetables and 10% fruit, A2 treatment = 80% vegetables and 20% fruit, A3 treatment = 70 vegetables and 30% fruit. The mixture of vegetables and fruit from each treatment is 10 kg and crushed with a blender, the size reduction results are then added with 20 liters of water and molasses 1 kg each. Vegetables are chicory, cabbage, green vegetables, whole fruit: Tomatoes. The observed parameters are changes in color, degree of acidity (pH) and electrical conductivity (DHL), (TDS), BOD (Biochemical Oxygen Demand), COD (Chemical Oxygen Demand), C-organic, and N-total. In general, the quality of liquid fertilizer produced from the four treatments is in accordance with SNI Standard No.70 / Permentan / SR.140 / 10/2011
Hubungan antara Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) dengan Keluhan Petani akibat Pestisida (Studi Kasus di Subak Sri Gumana,Desa Rejasa,Kabupaten Tabanan) I Made Galih Suwimantara; I Nyoman Sucipta; I Wayan Tika
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 10 No 1 (2022): April
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2022.v10.i01.p19

Abstract

Abstrak Penggunaan pestisida tidak sesuai aturan dapat mengakibatkan dampak negatif baik bagi lingkungan maupun kesehatan manusia. Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui terdapat atau tidaknya hubungan antara penggunaan APD dengan keluhan petani akibat pestisida di Subak Sri Gumana, Desa Rejasa, Kabupaten Tabanan. Sampel pada penelitian ini menggunakan 30 orang (16%) dari jumlah total yaitu 189 orang petani Subak Sri Gumana. Instrumen penelitian menggunakan kuisioner skala likert yang didalamnya memberi pilihan jawaban kepada responden. Berdasarkan hasil yang didapat melalui uji chi-square diketahui nilai p-value yaitu 0.002 (p <0.05), sehingga dikatakan terdapat hubungan antara penggunaan APD dengan keluhan petani akibat pestisida di Subak Sri Gumana, Desa Rejasa, Kabupaten Tabanan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan antara penggunaan APD dengan keluhan petani akibat pestisida di Subak Sri Gumana, Desa Rejasa, Kabupaten Tabanan. Keluhan yang muncul disebabkan karena dalam pemakaian pestisida, perhatian petani yang masih kurang dalam penggunaan APD dan cenderung mengabaikan dampak negatif dari pestisida. Abstract The usage of pesticides that do not by following the rules can give a negative impact on human health and the environment. This study aims to determine a relationship between usage of Personal Protective Equipment (PPE) with farmer complaints due to pesticides in Subak Sri Gumana, Rejasa Village, Tabanan Regency. This study used samples amount 30 people (16%) from 189 farmers in Subak Sri Gumana. The instrument used the questionnaire Likert scale which provides choices for respondents to answer. Based on the result of chi-square test, the p-value is 0.002 (p <0.05), so there was a relationship between usage of Personal Protective Equipment (PPE) with farmer complaints due to pesticides in Subak Sri Gumana, Rejasa Village, Tabanan Regency. The conclusion is found a relationship between the usage of personal protective equipment (PPE) with farmers complaints due to pesticides in Subak Sri Gumana, Rejasa Village, Tabanan Regency. These complaints arise because farmers haven’t used Personal Protective Equipment (PPE) and ignore the dangers of using pesticides.