cover
Contact Name
Sri Handayani Nofiyanti
Contact Email
handayaninofiyanti@unud.ac.id
Phone
+6281339409979
Journal Mail Official
jurnalbetatep@unud.ac.id
Editorial Address
Jl. Raya Kampus Unud No.2013, Jimbaran, Kec. Kuta Sel., Kabupaten Badung, Bali 80361
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian)
Published by Universitas Udayana
ISSN : -     EISSN : 25023012     DOI : https://doi.org/10.24843/JBETA.2025.v13.i02
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) memuat hasil penelitian di bidang teknik biosistem (biosystem engineering). Cakupan dari jurnal ini merentang dari aplikasi ilmu keteknikan untuk pertanian. Diantara bidang ilmu tersebut, yang menjadi fokus adalah Bidang Manajemen Keteknikan Pertanian, Teknologi Pascapanen khususnya produk Hortikultura, Rekayasa dan Ergonomika, Konservasi Sumber Daya Alam, serta khusus tentang aplikasi Instrumentasi dan Sistem kontrol dalam bidang pertanian.
Arjuna Subject : -
Articles 740 Documents
Air Teraktivasi Plasma: Mekanisme activasi dan Sifat Fisiko-kimia Shoodiqin, Dian Mart; Arda, Gede
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 12 No 1 (2024): April
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2024.v12.i01.p23

Abstract

Teknologi plasma dikembangkan akhir-akhir ini karena sifatnya yang unik dan dapat dimanfaatkan dalam berbagai tujuan di berbagai bidang. Plasma merupakan gas yang molekul-molekul penyusunnya terdisosiasi sehingga mempunya sifat reaktif. Namun karena sifatnya itu pula plasma harus digunakan saat plasma dibangkitkan. Mengaktivasi air dengan plasma ternyata mengakibatkan perubahan air menjadi lebih reaktif sehingga dapat dimanfaatkan untuk tujuan yang serupa dengan plasma dalam bentuk gas. Kajian literatur ini menyajikan tentang teknologi aktivasi air dengan plasma dari sudut pandang mekanisme pembangkitan dan reaksi-reaksi yang menyertainya. Artikel ini disajikan untuk memperkenalkan teknologi plasma yang saat ini masih minim dikaji di Indonesia.
Dampak Jangka Pendek Pengelolaan Jerami Padi terhadap Karbon Organik dan Rasio CN Tanah Kusuma Tri Handayani, Ida Ayu; Sulastri, Ni Nyoman; Arthawan, I Gusti Ketut Arya
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 13 No 1 (2025): IN PRESS
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Siklus tanam padi tahunan menghasilkan 6,73 ton jerami kering per hektar. Jerami memiliki potensi unsur hara yang bermanfaat bagi tanaman. Untuk mengurangi limbah jerami dan meningkatkan kesuburan tanah, petani sering membakar jerami padi atau membenamkannya ke dalam tanah. Karena jerami padi sulit terdekomposisi, diperlukan tambahan dekomposer seperti bakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak jangka pendek dari pengelolaan jerami padi terhadap C-organik dan C/N rasio pada tanah. Rancangan percobaan yang digunakan yaitu Nested Design. Tiga perlakuan dilakukan: pembakaran, pembenaman jerami tanpa EM4, dan pembenaman jerami dengan EM4. Analisis laboratorium dilakukan pada parameter C-organik dan C/N rasio. Perbedaan parameter tanah yang diamati antara sebelum dan sesudah perlakuan pengelolaan jerami menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil analisa menunjukkan C-organik sesudah perlakuan mengalami peningkatan, pada perlakuan pembakaran meningkat sebesar 29,7%, pada perlakuan pembenaman jerami meningkat sebesar 10,9%, dan pada perlakuan pembenaman jerami dengan EM4 meningkat sebesar 10,2%. Meningkatnya C-organik setelah perlakuan pengelolaan jerami disebabkan karena adanya mineralisasi bahan organik tanah. Mineralisasi bahan organik tanah ditunjukkan dengan nilai rata-rata C/N di bawah 20, walaupun nilai C/N rasio pada perlakuan setelah pembakaran meningkat sebesar 56% dan pada perlakuan pembenaman jerami dengan EM4 meningkat sebesar 0,35%, dimana nilai rata-rata C/N rasio yang didapat dari semua perlakuan berkisar antara 9,1 – 16,8. Dalam jangka pendek, ketiga perlakuan jerami dapat meningkatkan karbon organik dan menghasilkan nilai C/N rasio di bawah 20. The annual rice planting cycle produced 6.73 tons of dry straw per hectare. Rice straw had beneficial nutrients for plants, but to reduce waste and enhance soil fertility, farmers often burned or buried it. Because straw was hard to decompose, additional decomposers like bacteria were needed. This study aimed to investigate the short-term impact of rice straw management on soil organic carbon (C-organic) and the C/N ratio. The experimental design used was Nested Design. The study involved three straw management treatments: burning, straw incorporation without EM4 addition, and straw incorporation with EM4 addition. Laboratory analysis was conducted on the C-organic and C/N ratio parameters. Differences in soil parameters observed before and after straw management treatments were analyzed using the Wilcoxon Signed Rank Test. The analysis results showed an increase in C-organic after treatment: 29.7% for burning, 10.9% for straw incorporation, and 10.2% for straw incorporation with EM4. The increase in C-organic after straw management treatments is due to the mineralization of soil organic matter. This mineralization is indicated by average C/N values below 20, although the C/N ratio after burning increased by 56% and after straw incorporation with EM4 increased by 0.35%. The average C/N ratios from all treatments ranged from 9.1 to 16.8. In the short term, all three straw treatments can increase organic carbon and result in C/N ratios below 20.
Efisiensi Kinerja Traktor Singkal dan Rotari pada Proses Nyacahin Di Subak Tika, I Wayan; Madrini, Ida Ayu Gede Bintang; Sumiyati, Sumiyati; Sulastri, Ni Nyoman; Kinasih, Mentari
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 12 No 2 (2024): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2024.v12.i02.p17

Abstract

Abstrak Kegiatan pengolahan tanah di subak dapat mengurangi perkembangan tanaman pengganggu (gulma), dapat menggemburkan tanah, dan mengondisikan sifat biofisik tanah. Pengolahan tanah pada kedalaman tertentu mampu memberikan hasil yang cocok bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Saat ini pengolahan tanah sawah pada subak di Bali umumnya menggunakan traktor tangan baik yang berkomplemen bajak singkal maupun bajak rotari. Jika menggunakan bajak singkal tahapan pengolahan tanah meliputi makal (pembalikan tanah), nyacahin (memperkecil ukuran bongkahan tanah), dan selanjutnya ngasahan (meratakan). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efisiensi pengolahan tanah pada pengolahan tanah tahap kedua di subak dengan menggunakan traktor singkal dan traktor rotari. Penelitian ini menggunakan metode observasi dan pengukuran kapasitas keja riil (lapangan) dari traktor yang digunakan pada saat pengolahan tanah. Beberapa asumsi yang digunakan dalam penelitian ini adalah kondisi teknis dari traktor-traktor yang digunakan, komplemen-komplemen traktor yang digunakan, dan keterampilan operator diasumsikan sama. Hasil penelitian menunjukkan kinerja teoritis dan kinerja riil diperoleh efisiensi kinerja traktor rotari pada proses nyacahin (pengolahan tanah tahap kedua) pada subak sebesar 41% dan efisiensi kinerja traktor singkal sebesar 17,8%. Salah satu penyebab rendahnya efisiensi kinerja traktor singkal pada proses nyacahin adalah olahan tanah dalam sekali lintasan mendapatkan hasil yang kurang halus, sedangkan olahan tanah dengan traktor rotari menghasilkan tanah yang halus. Topografi lahan dan ketersediaan air merupakan faktor yang juga besar pengaruhnya terhadap nilai efisiensi kinerja traktor, selain faktor alat dan operator. Abstract Land processing activities in Subak can reduce the development of weeds, loosen the soil, and condition the biophysical properties of the soil. Subak in Bali is generally processed using hand tractors (either equipped with singkal plows or rotary plows). If using a singkal plow, the stages of tillage include makal (turning the soil), nyacahin (reducing the size of the chunks of soil), and then ngasahan (leveling). This research aims to determine the efficiency of land processing in the second stage of land processing in Subak using singkal tractors and rotary tractors. This research uses the observation method and measures the real (field) working capacity of the tractor used during land processing. Some of the assumptions used in this research are that the technical condition of the tractors used, the tractor accessories used, and the operator's skills are assumed to be the same. The results showed that the performance efficiency of the rotary tractor in the nyacahin process (second stage of tillage) in Subak was 41% and the performance efficiency of the singkal tractor was 17.8%. The low-performance efficiency of single tractors in the nyacahin process causes processing the soil in one pass to produce results that are less than fine, whereas processing the soil with a rotary tractor produces fine soil. Land topography and water availability are factors that also influence the efficiency value of tractor performance, apart from equipment and operator factors.
RESPON KENTANG BIBIT AKIBAT DAMPAK DEFORMASI DENGAN BEBERAPA TINGKAT BEBAN MEKANIS Semaraputri, Jessica Heidy Tiku; Pudja, Ida Ayu Rina Pratiwi; Madrini, Ida Ayu Gede Bintang
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 13 No 1 (2025): IN PRESS
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kentang adalah tanaman pangan utama keempat dunia setelah gandum, padi, dan jagung. Deformasi adalah perubahan bentuk dari suatu benda akibat menerima gaya atau pada saat benda itu bekerja. Tension and Compression Testing Machine adalah Universal Testing Machine (UTM) dikonfigurasi secara khusus untuk menentukan kekuatan bahan dan perilaku deformasi di bawah beban tekan (menekan). Secara otomatis, alat tersebut akan menghasilkan nilai kekuatan pecah dan deformasi dari produk yang diuji yang ditampilkan dalam bentuk hubungan antara kekuatan pecah dan deformasi. Dalam penelitian ini, alat tersebut akan digunakan dengan kentang sebagai bahan ujinya. Dari digunakannya alat tersebut, kentang yang diuji akan dapat dilihat kemampuannya dalam menahan variasi beban yang diberikan. Setelah diuji, kentang akan disimpan dan selanjutnya akan ditanam untuk melihat perkembangannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi beban yang diberikan terhadap kentang, menentukan mampu atau tidaknya kentang yang dideformasi untuk tumbuh tunas selama masa penyimpanan, dan menentukan mampu atau tidaknya kentang bibit untuk tumbuh setelah ditanam. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) 1 faktorial. Variasi beban yang digunakan adalah beban 0 kg, 10 kg, 20 kg, 30 kg, 40 kg, dan 50 kg yang diulang sebanyak 3 kali. Parameter yang diukur adalah luas permukaan, jumlah tunas, kerusakan kentang bibit, tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, dan berat umbi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan berat beban 0 kg mampu menghasilkan produktivitas terbaik dengan nilai rata-rata tinggi tanaman 8,06 cm, jumlah daun 28,3 cm, dan luas daun 8 cm.
Pengaruh Perendaman Air Hangat terhadap Kualitas dan Umur Simpan Buah Jeruk Siam (Citrus Nobilis Lour var. Microcarpa) Theo Fedrik Simanjuntak; Gede Arda; Sumiyati Sumiyati
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 14 No 1 (2026): Inpress
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2025.v13.i02.p13

Abstract

Jeruk siam (Citrus nobilis Lour var. Microcarpa) menjadi salah satu komoditas favorit di Indonesia, namun rentan mengalami penurunan kualitas selama penyimpanan akibat beberapa faktor seperti kehilangan air, serangan mikroorganisme, dan perubahan biokimia. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh suhu dan durasi perendaman air hangat (Hot Water Treatment) dalam mempertahankan kualitas fisiko-kimia dan memperpanjang umur simpan buah jeruk siam. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan dua faktor, yaitu suhu perendaman 45°C, 50°C, dan 60°C dan durasi perendaman 1 dan 5 menit. Buah jeruk yang telah diberi perlakuan kemudian disimpan pada suhu 5±2°C, dan selanjutnya dilakukan pengamatan parameter meliputi susut bobot, kekerasan buah, tingkat kerusakan, laju respirasi, Total Padatan Terlarut (TPT), dan nilai pH dengan interval pengamatan 3 hari selama 24 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perendaman pada suhu 50°C selama 1 menit memberikan hasil paling optimal. Perlakuan ini berhasil mengurangi susut bobot hingga 6,28% pada hari ke-24, mempertahankan kekerasan buah pada 42,54 N hingga hari ke-9, serta menunda munculnya kerusakan hingga hari ke-36. Selain itu, parameter TPT dan pH tetap stabil dengan nilai masing–masing 9,17°Brix dan 3,41. Sebaliknya, perlakuan suhu 60°C dengan durasi 5 menit justru mempercepat kerusakan akibat efek termal yang merusak jaringan buah. Simpulan penelitian mengungkapkan bahwa perendaman air hangat pada suhu 50°C selama 1 menit mampu memperpanjang umur simpan jeruk siam hingga 36 hari, lebih lama dibandingkan kontrol tanpa perlakuan yang hanya bertahan 27 hari. Siamese oranges (Citrus nobilis Lour var. Microcarpa) are one of the favorite commodities in Indonesia, but are susceptible to quality loss during storage due to several factors such as water loss, microorganism attack, and biochemical changes. This study aims to analyze the effect of temperature and duration of hot water immersion (hot water treatment) in maintaining the physico-chemical quality and extending the shelf life of siamese orange fruit. The research design used was a factorial Completely Randomized Design (CRD) with two factors, namely soaking temperatures of 45°C, 50°C, and 60°C and soaking durations of 1 and 5 minutes. The treated citrus fruits were then stored at 5±2°C, and then parameters including weight loss, fruit hardness, damage level, respiration rate, Total Dissolved Solids (TPT), and pH value were observed with a 3-day observation interval for 24 days. The results showed that soaking at 50°C for 1 minute gave the most optimal results. This treatment succeeded in reducing weight loss to 6.28% on day 24, maintaining fruit hardness at 42.54 N until day 9, and delaying the appearance of damage until day 36. In addition, TPT and pH parameters remained stable with values of 9.17°Brix and 3.41, respectively. In contrast, the 60°C temperature treatment with a duration of 5 minutes actually accelerated the damage due to thermal effects that damaged the fruit tissue. The conclusion of the study revealed that warm water immersion at 50°C for 1 minute can extend the shelf life of siam oranges up to 36 days, longer than the untreated control which only lasted 27 days.
Pengaruh Pelapisan Nanopartikel Kitosan terhadap Karakteristik Fisiko-Kimia dan Sensoris Pascapanen Buah Stroberi (Fragaria sp.): The Effect of Chitosan Nanoparticle Coating on The Physico-Chemical and Sensory Characteristics of Postharvest California Strawberry (Fragaria x Ananassa) Raka Maydia Purnama; I Made Supartha Utama; I Putu Gede Budisanjaya
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 13 No 2 (2025): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/j.beta.2025.v13.i02.p02

Abstract

Abstrak Stroberi (fragaria sp.) merupakan buah yang disukai namun memiliki umur simpan pendek karena sifatnya yang mudah rusak. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh pelapisan nanopartikel kitosan terhadap karakteristik fisiko-kimia dan sensoris stroberi selama penyimpanan. Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan lima perlakuan konsentrasi nanopartikel kitosan: 0% (E0), 0,5% (E1), 1% (E2), 1,5% (E3), dan 2% (E4), masing-masing diulang tiga kali. Buah disimpan pada suhu ruang selama 8 hari, dan dilakukan pengamatan terhadap susut bobot, kekerasan, warna, total padatan terlarut, total asam, serta uji sensoris rasa dan aroma. Hasil menunjukkan bahwa pelapisan nanopartikel kitosan memberikan pengaruh signifikan terhadap seluruh parameter yang diamati. Perlakuan 1,5% (E3) menunjukkan hasil terbaik dalam mempertahankan mutu fisik dan kimia, dengan susut bobot terendah (65,02%), kekerasan 4,27 N, total padatan terlarut 7,57 °Brix, dan total asam 1,46%. Sementara itu, perlakuan 2% (E4) menghasilkan skor tertinggi pada uji sensoris rasa dan aroma serta kestabilan warna dengan nilai color difference sebesar 48,84. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pelapisan dengan nanopartikel kitosan, khususnya pada konsentrasi 1,5–2%, efektif dalam memperpanjang masa simpan dan mempertahankan kualitas stroberi selama penyimpanan pada suhu ruang. Abstract Strawberry (Fragaria sp.) is a popular fruit but have a short shelf life due to their perishable nature. This study aimed to evaluate the effect of chitosan nanoparticle coating on the physicochemical and sensory characteristics of strawberries during storage. The research was conducted using a Completely Randomized Design (CRD) with five chitosan nanoparticle concentrations: 0% (E0), 0.5% (E1), 1% (E2), 1.5% (E3), and 2% (E4), each replicated three times. The fruits were stored at room temperature for 8 days, with observations made on weight loss, firmness, color, total soluble solids, total acidity, and sensory evaluation of taste and aroma. The results showed that the chitosan nanoparticle coating had a significant effect on all observed parameters. The 1.5% treatment (E3) yielded the best results in maintaining physical and chemical quality, with the lowest weight loss (65.02%), firmness of 4.27 N, total soluble solids of 7.57 °Brix, and total acidity of 1.46%. Meanwhile, the 2% treatment (E4) received the highest scores in sensory evaluation of taste and aroma, as well as the most stable color with a color difference value of 48.84. These findings indicate that chitosan nanoparticle coating, particularly at concentrations of 1.5–2%, is effective in extending the shelf life and preserving the quality of strawberries during storage at room temperature.
Pengaruh Lama Penyimpanan Buah Kopi Arabika (coffea arabica L.) Petik Merah terhadap Kinerja Mesin Pulper Pengupas Kulit Daging Buah secara Basah: The Effect Of Storage Duration Of Red Picked Arabica Coffee (Coffea Arabica L.) On The Performance Of Wet Fruit Skin And Flesh Pulper Machine Ni Made Tuhu Yuliani; Yohanes Setiyo; I Wayan Widia
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 13 No 2 (2025): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/j.beta.2025.v13.i02.p05

Abstract

ABSTRAK Lama penyimpanan buah kopi Arabika petik merah mempengaruhi karakteristik fisik buah sebelum pengupasan secara basah. Penyimpanan menyebabkan perubahan kadar air dan sifat reologi buah, yang mempengaruhi koefisien gesek dan efektivitas mesin pulper. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh lama penyimpanan terhadap kinerja mesin pulper dan mutu biji kopi hasil pengupasan. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan empat perlakuan yaitu, tanpa penyimpanan (P0), penyimpanan tiga hari (P1), lima hari penyimpanan (P2), dan tujuh hari penyimpanan (P3). Setiap perlakuan dilakukan ulangan 5 kali dan setiap sampel percobaan menggunakan 5 kg buah kopi Arabika petik merah. Buah kopi dengan kadar air awal 55% disimpan hingga kadar air 45–50% sebelum dikupas menggunakan mesin pulper berkapasitas 300 kg/jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kapasitas kerja mesin menurun dari 290 kg/jam (P0) menjadi 204 kg/jam (P3), dengan efisiensi 68,0–96,7%. Semakin lama disimpan, kadar air berkurang, meningkatkan gesekan dan memperlambat pengupasan. Buah kopi Arabika petik merah yang disimpan 3 hari menghasilkan karateristik hasil pengupasan yang optimal yang dicirikan oleh persentase biji terkelupas sempurna 99,16%, persentase buah kulit kopi 42,4%, biji tercampur kulit 0,77%, dan biji pecah 0,26%, memenuhi batas maksimum biji pecah 1% menurut SNI 01-2907-2008. Sementara penyimpanan tujuh hari (P3) meningkatkan persentase biji pecah menjadi 1,15%, melebihi batas standar. Semakin lama penyimpanan, kadar air menurun, kulit mengeras, dan gaya gesek meningkat, menyebabkan kinerja mesin menurun dan kualitas hasil pengupasan memburuk. Disimpulkan bahwa penyimpanan selama tiga hari merupakan perlakuan optimal untuk mempertahankan kualitas biji kopi Arabika serta efisiensi kerja mesin pulper.   ABSTRACT The storage period of red-picked Arabica coffee cherries affects the physical characteristics of the cherries before wet pulping. Storage causes changes in the moisture content and rheological properties of the cherries, which affect the friction coefficient and effectiveness of the pulper machine. This study aims to evaluate the effect of storage period on the performance of the pulper machine and the quality of the peeled coffee beans. The study used a Completely Randomized Design with four treatments: no storage (P0), three days of storage (P1), five days of storage (P2), and seven days of storage (P3). Each treatment was replicated five times, and each experimental sample used 5 kg of red-picked Arabica coffee cherries. Coffee cherries with an initial moisture content of 55% were stored until they reached 45–50% moisture content before being peeled using a pulper machine with a capacity of 300 kg/hour. The results showed that the machine's working capacity decreased from 290 kg/hour (P0) to 204 kg/hour (P3), with an efficiency of 68.0–96.7%. The longer the storage period, the lower the moisture content, increasing friction and slowing down the pulping process. Red picked Arabica coffee cherries stored for 3 days produced optimal peeling characteristics characterized by a percentage of perfectly peeled beans of 99.16%, a percentage of coffee skinned fruit of 42.4%, beans mixed with skin of 0.77%, and broken beans of 0.26%, meeting the maximum limit of broken beans of 1% according to SNI 01-2907-2008. Meanwhile, seven days of storage (P3) increased the percentage of broken beans to 1.15%, exceeding the standard limit. The longer the storage period, the water content decreased, the skin hardened, and the friction force increased, causing machine performance to decrease and the quality of the peeling results to deteriorate. It was concluded that three days of storage was the optimal treatment to maintain the quality of Arabica coffee beans and the efficiency of the pulper machine
Evaluasi Konduktivitas Listrik Tanah dan Kaitannya dengan Ph, Nitrogen Total, Karbon Total dan Bahan Organik di Lahan Sawah: Evaluation of Soil Electrical Conductivity and Its Relationship with pH, Total Nitrogen, Total Carbon, and Organic Matter in Rice Field Land Imanuel Raymond Dikmar Koyoh; Sumiyati; I Putu Gede Budisanjaya; Ni Nyoman Sulastri; I Wayan Tika; I Putu Agus Arnadi; Rizki Maftukhah
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 13 No 2 (2025): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/j.beta.2025.v13.i02.p07

Abstract

ABSTRAK Ketidakseimbangan unsur hara dan kualitas tanah yang kurang optimal merupakan permasalahan umum di lahan pertanian, namun pemantauan unsur hara memerlukan analisis laboratorium. Tujuan penelitian adalah memperoleh hubungan untuk mengestimasi pH tanah, kandungan nitrogen total, karbon total dan bahan organik tanah berdasarkan konduktivitas listrik tanah, serta mengevaluasi potensi penggunaan konduktivitas listrik tanah sebagai indikator estimasi parameter-parameter tersebut. Penelitian menggunakan machine learning berbasis Python dengan algoritma regresi linear, di mana 70% data digunakan untuk membuat persamaan pendugaan dan 30% untuk validasi kinerja model. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konduktivitas Listrik (EC) dapat digunakan untuk memprediksi nilai pH dengan persamaan pH = 0,3107 EC - 1,2 (nilai R² = 0,9707), untuk memprediksi nilai karbon total dengan persamaan TC = 0,3525 EC - 0,1 dan untuk memprediksi nilai bahan organik, dengan persamaan BOT = 0,2045 EC - 0,1 dengan nilai R² = 0,9126. Namun, nilai EC dinyatakan lemah untuk memprediksi nitrogen total dengan nilai R² = -0,0030. Validasi kinerja model menunjukkan nilai kesalahan yang sangat kecil pada persamaan untuk memprediksi pH berdasarkan nilai EC yaitu MSE = 0,0006; MAE = 0,0164), serta pada persamaan untuk memprediksi karbon total dan bahan organik tanah berdasarkan nilai EC diperoleh masing-masing nilai MSE = 0,0017 dan MAE = 0,0357). Namun nilai EC kurang efektif untuk memprediksi nilai nitrogen total karena hasil validasi kinerja model menunjukkan nilai MSE = 0,0195 dan MAE = 0,1190. Hasil ini menunjukkan bahwa konduktivitas listrik tanah dapat digunakan sebagai indikator yang baik untuk mengestimasi pH tanah, karbon total, dan bahan organik tanah.   ABSTRACT The imbalance of soil nutrients and suboptimal soil quality are common issues in agricultural land; however, monitoring soil nutrients typically requires laboratory analysis. This study aims to establish relationships for estimating soil pH, total nitrogen content, total carbon, and soil organic matter based on soil electrical conductivity (EC), as well as to evaluate the potential use of EC as an indicator for estimating these parameters. The research employed a machine learning approach using Python with a linear regression algorithm, where 70% of the data was used to develop estimation equations and the remaining 30% for model performance validation. The results indicate that EC can be used to predict pH with the equation pH = 0.3107 EC - 1.2 (R² = 0.9707), total carbon with the equation TC = 0.3525 EC - 0.1, and soil organic matter with the equation BOT = 0.2045 EC - 0.1 (R² = 0.9126). However, EC was found to be a weak predictor for total nitrogen, as indicated by an R² value of -0.0030. Model validation results showed very low error values for the pH prediction equation (MSE = 0.0006; MAE = 0.0164), as well as for the equations predicting total carbon and organic matter (MSE = 0.0017 and MAE = 0.0357, respectively). In contrast, EC was less effective in predicting total nitrogen, as reflected in higher error values (MSE = 0.0195; MAE = 0.1190). These findings suggest that soil electrical conductivity can serve as a reliable indicator for estimating soil pH, total carbon, and organic matter content.
Penambahan Filter Berbahan Arang Aktif Tempurung Kelapa Terhadap Kualitas Air Input Pada Kolam Ikan nila (Oreochromis Niloticus) I Kadek Agus Ana; I Putu Surya Wirawan; Ni Luh Yulianti; Mukhes Sri Muna
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 14 No 1 (2026): Inpress
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/jbeta.2026.v14.i01.p12

Abstract

Keterbatasan teknologi yang dimiliki oleh peternak ikan dan kondisi air untuk budidaya ikan saat ini menjadi salah satu kendala paling utama dalam keberhasilan usaha budidaya ikan. Melihat permasalahan ini, maka diperlukan usaha untuk menciptakan sistem budidaya yang mampu secara optimal menjaga kualitas air dan ramah lingkungan. Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan arang aktif tempurung kelapa untuk menjaga kualitas air kolam budidaya ikan nila. Penelitian dilakukan pada kolam budidaya ikan nila Kenderan dan pengujian kualitas air dilakukan di Laboratorium Forensik Polda Bali. Penelitian dilakukan dengan beberapa tahapan yaitu aktivasi arang tempurung kelapa yang akan digunakan untuk filter air, filterisasi air dan pengujian setiap parameter uji. Analisis data yang dilakukan yaitu perhitungan kadar air awal dan akhir setelah di filterisasi, uji water test strips dan perbandingan ukuran pertumbuhan ikan. Proses filterisasi yang dilakukan mampu meningkatkan kualitas air dengan hasil pengujian pada kandungan nitrat dengan nilai 25 mg/L, nitrit 5 mg/L, pH 7,8, klorin bebas 0,5 mg/L, kekerasan air 425 mg/L, alkalinitas 120 mg/L. Nilai pH hasil uji menunjukkan bahwa filterisasi berhasil menjaga kualitas air. Pengelolaan kualitas air yang lebih efektif dan penggunaan bahan penyerap nitrit sangat disarankan untuk menjaga kesehatan ikan nila dalam budidaya.
Perbandingan Kualitas Pengeringan Biji Kopi Arabika (Coffea arabica L.) dengan Para-Para dan Pengeringan Konvensional: Comparison of Arabica Coffee Bean (Coffea arabica L.) Drying Quality using Para-Para and Conventional Drying Methods Noviera Inggrit Kurnia; Yohanes Setiyo; Ida Ayu Gede Bintang Madrini
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 13 No 2 (2025): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/j.beta.2025.v13.i02.p04

Abstract

ABSTRAK Kopi Arabika Kintamani merupakan salah satu komoditas unggulan Indonesia yang memiliki karakteristik khas dan telah memperoleh status indikasi geografis. Namun, mutu biji kopi dari wilayah ini masih menghadapi tantangan dalam memenuhi kadar air maksimum 12,5% sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI 01-2907-2008). Pengeringan merupakan tahapan krusial dalam proses pascapanen karena secara langsung memengaruhi kadar air dan kualitas akhir biji kopi. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan pengaruh suhu, kelembaban udara, intensitas cahaya, serta kadar air pada biji kopi Arabika yang dikeringkan menggunakan metode para-para dan metode konvensional. Perlakuan yang digunakan yaitu P0 (konvensional), P1 (rak atas), P2 (rak tengah), dan P3 (rak bawah). Analisis data dilakukan dengan pendekatan statistik deskriptif dan regresi linier sederhana. Data disajikan dalam bentuk tabel dan grafik untuk mendukung interpretasi hubungan antara variabel lingkungan dan kadar air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu rata-rata pada P1 sebesar 37,5°C, kelembaban udara 49,8%, dan intensitas cahaya 136,5 lux, menghasilkan kadar air akhir sebesar 11,2%. Pada P3, suhu rata-rata tercatat 34,9°C, kelembaban udara 57,2%, dan intensitas cahaya 63,0 lux, dengan kadar air akhir 16,9%. Perlakuan P0 dan P2 masing-masing menunjukkan kadar air akhir sebesar 8,5% dan 10,0%. Analisis regresi menunjukkan adanya hubungan kuat antara waktu pengeringan dan penurunan kadar air pada semua perlakuan. Metode para-para, khususnya pada P1 (rak atas), menunjukkan pengeringan yang lebih stabil dan sesuai standar mutu, sehingga dapat direkomendasikan sebagai metode alternatif dalam menjaga kualitas kopi Arabika.   ABSTRACT Kintamani Arabica coffee is one of Indonesia’s flagship commodities, recognized with a Geographical Indication status due to its distinctive flavor and regional characteristics. However, coffee beans from this region still face challenges in meeting the maximum moisture content requirement of 12.5% as stated in the Indonesian National Standard (SNI 01-2907-2008). Drying is a critical post-harvest stage that directly affects the moisture level and final quality of coffee beans. This study aims to compare temperature, humidity, light intensity, and moisture content of Arabica coffee beans dried using two methods: the para-para drying rack system and conventional sun drying. The treatments applied were P0 (conventional method), P1 (top rack), P2 (middle rack), and P3 (bottom rack). Data analysis was carried out using descriptive statistics and simple linear regression. The results were presented in tables and graphs to support the interpretation of relationships among environmental variables and moisture content. The study found that P1 recorded an average temperature of 37.5°C, relative humidity of 49.8%, and light intensity of 136.5 lux, resulting in a final moisture content of 11.2%. In comparison, P3 recorded a temperature of 34.9°C, humidity of 57.2%, and light intensity of 63.0 lux, with a final moisture content of 16.9%. P0 and P2 had final moisture contents of 8.5% and 10.0%, respectively. Regression analysis indicated a strong correlation between drying time and moisture reduction across all treatments. Drying at P1 (upper rack) demonstrated greater stability and compliance with quality standards, thus it can be recommended as an alternative method to preserve Arabica coffee quality.