cover
Contact Name
Gede Arda
Contact Email
ardagede@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.beta.tep@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian)
Published by Universitas Udayana
ISSN : 25023012     EISSN : 25023012     DOI : -
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) memuat hasil penelitian di bidang teknik biosistem (biosystem engineering). Cakupan dari jurnal ini merentang dari aplikasi ilmu keteknikan untuk pertanian. Diantara bidang ilmu tersebut, yang menjadi fokus adalah Bidang Manajemen Keteknikan Pertanian, Teknologi Pascapanen khususnya produk Hortikultura, Rekayasa dan Ergonomika, Konservasi Sumber Daya Alam, serta khusus tentang aplikasi Instrumentasi dan Sistem kontrol dalam bidang pertanian.
Arjuna Subject : -
Articles 344 Documents
Pengaruh Konsentrasi Larutan CaCl2 dan Suhu Pengeringan terhadap Karakteristik Tepung Rebung Bambu Tabah (Gigantochloa nigrociliata Buse-Kurz) Juliana Ambarita; Pande Ketut Diah Kencana; I Putu Gede Budisanjaya
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 10 No 2 (2022): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2022.v10.i02.p09

Abstract

Abstrak Rebung bambu tabah merupakan tunas muda dari bambu yang tumbuh dari pangkal rumpun bambu yang memiliki kandungan nutrisi yang banyak sehingga membutuhkan perlakuan berkelanjutan untuk menjaga ketahanan mutu yang lebih baik. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan konsentrasi CaCl2 dan suhu pengeringan. Penggunaan konsentrasi CaCl2 memiliki banyak manfaat diantaranya mudah diaplikasikan dan dapat mencegah tekstur bahan pangan menjadi lunak akibat proses pengolahan dan efek pemanasan. Penelitian ini dilaksanakan untuk menentukan konsentrasi CaCl2 dan suhu pengeringan yang tepat pada tepung rebung bambu tabah (Gigantochloa nigrociliata Buse-Kurz). Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) factorial yang terdiri dari dua factorial, faktor pertama yang digunakan dalam penelitian adalah konsentrasi CaCl2 dan faktor kedua yang digunakan adalah suhu pengeringan. Faktor pertama terdiri dari empat taraf yaitu, konsentrasi CaCl2 0%, konsentrasi CaCl2 2%, konsentrasi CaCl2 4% dan Konsentrasi CaCl2 6%. Faktor kedua terdiri dari tiga taraf yaitu suhu pengeringan 60?, suhu pengeringan 70? dan suhu pengeringan 80?. Parameter yang diamatai dalam penelitian ini terdiri dari rendemen, kadar air, kadar abu, kadar protein, kadar serat kasar, warna dan uji organoleptik yang terdiri dari warna, aroma, tekstur dan uji hedonik penerimaan keseluruhan. Kombinasi perlakuan terbaik adalah konsentrasi CaCl2 6% dan suhu pengeringan 80? menghasilkan nilai kadar air 10,70%, kadar abu 24,23%, kadar protein 24,38%, kadar serat kasar 18,13%, aroma 2,90, warna L 86,85 dan b 8,15. Abstract Tabah bamboo shoots are young shoots of bamboo that grow from the base of a bamboo clump which has a lot of nutrition so that it requires continuous treatment to maintain the quality. One effort that can be done is to use the concentration of CaCl2 and temperature. The use of concentration CaCl2 has many benefits, of which it is easy to apply and can prevent food collation from becoming soft as a result of the processing and heating effect. The research was carried out to determine the CaCl2 concentrations and the correct drying temperature of tabah bamboo shoots flour. The study used a completely randomized design (CRD) which consisted of two factors, the first factor used in the research design is a CaCl2 concentration of worms and the second factor used is drying temperature. The first factor consists of four levels, CaCl2 concentrations 0%, CaCl2 concentrations 2%, CaCl2 concentrations 4%, CaCl2 concentrations 6%. The second factor is three degrees, drying temperature 60?, 70?, and 80?. The parameter observed in the study consist of yield, water level, ash content, protein levels, rough fibers, colors, and organoleptic test consisting of the color, aroma, texture, and overall acceptance of the hedonic test. The best treatment combination is a CaCl2 6% and drying temperature 80°C, which result in water 10,70%, ashes level 24,23%, protein level 24,38%, roughly fiber 18,13%, aroma 2,90, color L 86,85 and b 8,15.
Nilai Tambah Pada Rantai Pasok Paprika (Capsicum annuum L) di Desa Candikuning, Tabanan, Bali Ayu Cahyani; I Gusti Ngurah Apriadi Aviantara; I Made Supartha Utama
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 10 No 2 (2022): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2022.v10.i02.p04

Abstract

ABSTRAK Tujuan penelitian ini ialah untuk menentukan nilai tambah pada rantai pasokan paprika di Desa Candikuning, Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali. Pengambilan sampel ditingkat pelaku rantai pasokan dilakukan menggunakan metode snowball sampling. Sedangkan pengambilan sampel ditingkat konsumen rumah tangga dilakukan melalui metode purposive sampling dan non probability sampling. Responden dalam penelitian ini yaitu petani, pengepul, pedagang pasar induk Baturiti, pedagang pasar tradisional, pedagang pasar kota, pedagang sayur desa dan konsumen rumah tangga. Sedangkan perhitungan nilai tambah dalam penelitian ini menggunakan metode Hayami dan Kawagoe. Dalam penjualan paprika kepada pengepul diperoleh nilai tambah yaitu sebesar Rp 4.839,24/Kg, dan diperoleh keuntungan sebesar Rp 4.804,59/Kg. Penjualan paprika kepada pedagang Pasar Induk Baturiti diperoleh nilai tambah yaitu sebesar Rp 4.007,84/Kg dengan keuntungan sebesar Rp 3.967,35/Kg. Penjualan paprika pedagang Pasar Induk Baturiti diperoleh nilai tambah yaitu sebesar Rp 3.138,99/Kg perolehan keuntungan Rp 3.117,17/Kg. Penjualan paprika pedagang pasar tradisional diperoleh nilai tambah yaitu sebesar Rp 4,325.97/Kg, dan keuntungan yang diperoleh yaitu sebesar Rp 4,297.83/Kg. Dalam penjualan paprika pedagang pasar kota diperoleh nilai tambah yaitu Rp 3,596.00/Kg dengan nisba (rasio) nilai tambah produk 7,55%. Keuntungan yang diperoleh oleh pedagang pasar dari paprika yang dijual yaitu sebesar Rp 3,554.01/Kg. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa petani memiliki nilai tambah tertinggi yaitu sebesar Rp 4.839,24/Kg dengan keuntungan yaitu 13,72%, sedangkan pedagang pasar induk Baturiti memiliki nilai tambah terendah yaitu sebesar Rp 3,138.99/Kg dengan keuntungan yaitu 8,33%. ABSTRACT The purpose of this study was to determine the added value of bell pepper value chains in Candikuning village of Tabanan regency, Bali province. Sampling at the level of supply chain actors was carried out using the snowball sampling method. Meanwhile, sampling at the household consumer level was carried out using purposive sampling and non-probability sampling methods. Respondents in this study were farmers, collectors, Baturiti wholesale market traders, traditional market traders, city market traders, village vegetable traders and household consumers. In this study, the calculation of added value uses the Hayami and Kawagoe method. In selling bell pepper to collectors, the added value is Rp. 4,839.24 / kg, and a profit of Rp. 4,804.59 / kg. The sale of bell pepper to traders in the Baturiti Main Market resulted in an added value of Rp. 4,007.84 / Kg, and the profit obtained was Rp. 3,967.35 / Kg. The sales of a bell pepper at the Baturiti Main Market traders obtained an added value of Rp. 3,138.99 / Kg, and the profits obtained were Rp. 3,117.17 / Kg. The sales of bell pepper by traditional market traders added value of Rp. 4,325.97 / kg, and the profits obtained were Rp. 4,297.83 / kg. In selling paprika, the city market traders get an added value of Rp. 3,596.00 / kg with a value-added value (ratio) of 7.55%. The profit obtained by market traders from the peppers being sold is Rp. 3,554.01 / Kg. The results of this research indicate that farmers have the highest added value of Rp. 4,839.24 / Kg with a profit level of 13.72%, while Baturiti wholesale market traders have the lowest added value of Rp. 3,138.99 / Kg with a profit rate of 8.33. %.
Perlakuan Tambahan Pada Proses Pengemasan Meningkatan Nilai Jual dan Profit Margin Paprika (Capsicum annum var. Grossum) di Pasar Tradisional Ni Kadek Sri Mariana Dewi; I Gusti Ngurah Apriadi Aviantara; I Nyoman Sucipta
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 10 No 2 (2022): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2022.v10.i02.p10

Abstract

Abstrak Paprika merupakan salah satu jenis tanaman hortikultura sayuran. Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan harga per kg paprika di pasar tradisional Rp 25.000 sedangkan untuk dipasar modern harga per kg paprika Rp 65.190. Harga paprika dipasar modern lebih tinggi dibandingkan dengan harga di pasar tradisional dikarenakan adanya perlakuan tambahan yang diberikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai jual paprika apabila diberikan perlakuan tambahan di pasar tradisional dan menentukan profit margin pada perlakuan paprika di pasar tradisional. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kuantitatif. Penelitian ini dilakukan di salah satu pasar tradisional candikuning Kabupaten Tabanan dan pasar modern Tiara Dewata Denpasar. Dari hasil penelitian menunjukan pasar tradisional tidak memberikan perlakuan tambahan pada paprika sebelum dijual, berbeda dengan di pasar modern Tiara Dewata yang memberikan perlakuan tambahan sebelum paprika dijual. Perlakuan tambahan tersebut adalah dengan melakukan pengemasan pada paprika menggunakan plastik wrapping. Hasil penelitian ini juga menunjukan profit margin dari kedua pasar yaitu profit margin yang diperoleh pasar tradisional sebesar 2,93% sedangkan untuk profit margin yang diperoleh pasar modern sebesar 27%. Dari asumsi perhitungan profit margin pasar tradisional hanya dengan menambahkan pengemasan paprika dengan plastik wrapping memberikan kenaikan profit margin sebesar 18,35%. Abstract Paprika is one type of vegetable horticulture plant. Based on the results of the preliminary study conducted, the price per kg of paprika in the traditional market is Rp 25,000, while for the modern market the price per kg of paprika is Rp 65,190. The price of paprika in the modern market is higher than the price in the traditional market because of the additional treatment given. This study aims to determine the additional treatment given to paprika in traditional markets and to determine the profit margin of handling paprika in traditional markets. This research uses descriptive quantitative research methods. This research was conducted in one of the traditional markets of Candikuning, Tabanan Regency and the modern market of Tiara Dewata Denpasar. The results showed that the traditional market did not give additional treatment to the peppers before being sold, in contrast to the modern market Tiara Dewata which gave additional treatment before the pepper was sold. Additional treatment is to package chili using plastic wrap. The results of this study also show the profit margins of the two markets, namely the profit margin obtained by the traditional market of 2.93% while the profit margin of the modern market is 27%. From the assumption of traditional market profit margin calculation, only the addition of paprika packaging with plastic wrap gives an increase in the profit margin of 18.35%.
Efisiensi Penyaluran Air Pada Telabah Aya Dengan Konstruksi Lining Saluran dalam Sistem Irigasi Subak di Kabupaten Badung I Made Hendra Udayana AS; I Wayan Tika; I Gusti Ketut Arya Arthawan
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 10 No 2 (2022): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2022.v10.i02.p06

Abstract

ABSTRAK Efisiensi penyaluran menjadi dasar dalam penyaluran air irigasi pada sistem irigasi subak. Kondisi efisiesnsi penyaluran pada telabah aya dipengaruhi oleh kondisi fisik saluran, khususnya bergantung pada jenis lining saluran yang digunakan. lining saluran yang diterapkan di subak Kabupaten Badung menjadi bukti bahwa pengaplikasian lining banyak berpengaruh dalam penyaluran irigasi. Dibutuhkan informasi tentang besarnya efisiensi penyaluran pada jenis lining yang diterapkan pada telabah sebagai nilai acuan dasar dalam kegiatan pembagian air irigasi kedepannya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survei kuantitatif dengan pengamatan lining dan pengukuran langsung variabel debit pada telabah aya. Pengamatan lining yang dilakukan berdasarkan 30 objek telabah aya dengan lining saluran yang ada di subak Kabupaten Badung. Pengukuran kecepatan aliran dilakukan dengan instrumen pelampung dan ukuran penampang aliran diukur dengan rollmeter. Pengukuran variabel debit dilakukan di hulu dan hilir telabah aya untuk mendapatkan besarnya debit awal dan debit akhir sebagai dasar dalam penentuan efisiensi penyaluran. Jenis lining saluran yang digunakan pada telabah aya di Kabupaten Badung adalah tipe batu sebanyak 77% dan beton l-shape sebanyak 23%. Nilai efisiensi penyaluran untuk telabah aya dengan lining batu sebesar 75,20% dan tipe beton l-shape sebesar 93,07%. Perbedaan nilai efisiensi ini disebabkan karena keadaan kondisi lining saluran pada masing-masing telabah aya. ABSTRACT The efficiency of distribution becomes the basis in the distribution of irrigation water in subak irrigation systems. The condition of the distribution efficiency in telabah aya is influenced by the physical condition of the canal, particularly depending on the type of lining canal used. The application of lining canals in Subak, Badung Regency is proof that it has a lot of influence in irrigation distribution. The information on the distribution efficiency is required for the lining of telabah as a basic reference value in irrigation water distribution. The method used in this study is quantitative surveys and lining observations, and direct measurements of debit variables in telabah aya. Lining observations are based on 30 objects with lining canals in Badung regency. The flow speed measurement was carried out using buoy instruments. The size of the flow cross-section was measured with a roll meter. Measurement of water discharge was performed upstream and downstream of telabah aya to get the amount of initial discharge and final discharge as a basis for determining the efficiency of distribution. The lining canal used in telabah aya in Badung Regency is 77% types of stone and l-shape concrete as much as 23%. The value of distribution efficiency for telabah aya with stone lining by 75.20% and l-shape concrete type by 93.07%. This difference in efficiency value is due to the lining canal conditions in each telabah aya.
Kajian Kemampuan Media Tanam Penyimpan Air dan Produktivitas Tanaman pada Budidaya Kentang (Solanum tuberosum L.) I Made Nanda Suastika; Yohanes Setiyo; Ni Nyoman Sulastri
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 10 No 2 (2022): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2022.v10.i02.p08

Abstract

ABSTRAK Petani menanam kentang pada musim kemarau, air menjadi komponen utama agar tanaman dapat tumbuh dengan baik. Penelitian ini bertujuan menentukan kemampuan media tanam mengikat unsur hara dan untuk menentukan proporsi jenis media tanam yang menghasilkan water holding capacity (WHC) yang terbaik untuk produktivitas budidaya kentang. Parameter yang diamati pada penelitian meliputi porositas, ketersediaaan air tanaman (KAT), volume air terikat (VAT), electrical conductivity (EC), produktivitas kentang. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 8 taraf komposisi, kompos kotoran ayam 100% (P1), tanah 100% (P2), arang sekam 100% (P3), tanah 50% + kompos kotoran ayam 40% + arang sekam 10% (P4), tanah 50% + kompos kotoran ayam 30% + arang sekam 20% (P5), tanah 50% + kompos kotoran ayam 20% + arang sekam 30% (P6), tanah 50% + kompos kotoran ayam 10% + arang sekam 40% (P7), tanah 50% + kompos kotoran ayam 25% + arang sekam 25% (P8). Media tanam arang sekam 100 % (P3) menghasilkan porositas, ketersediaan air bagi tanaman dan volume air terikat yang paling tinggi, dengan nilai porositas 55,71%, nilai ketersediaan air bagi tanaman 17,22 % w.b, dan nilai volume air terikat 1.603 ml. Perlakuan media tanah 100 % (P2) menghasilkan kemampuan media tanam mengikat unsur hara paling tinggi dengan nilai 788,67 µS/cm. Proporsi tanah 50% kompos kotoran ayam 10% arang sekam 40% menghasilkan produktivitas budidaya kentang paling tinggi yaitu 571,70 g/tanaman. ABSTRACT Since farmers plant potatoes in the dry season, water becomes the main component for plants to grow well. This study aims to determine the ability to plant media to bind nutrients and the proportion of types of planting media that produce the best water holding capacity (WHC) for potato cultivation productivity. Parameters observed in this study include porosity, plant water availability (KAT), bound water volume (VAT), electrical conductivity (EC), potato productivity. This study used a completely randomized design with 8 levels of composition, 100% chicken manure compost (P1), 100% soil (P2), 100% husk charcoal (P3), 50% soil + 40% chicken manure compost + 10% husk charcoal ( P4), 50% soil + 30% chicken manure compost + 20% husk charcoal (P5), 50% soil + 20% chicken manure compost + 30% husk charcoal (P6), 50% soil + 10% chicken manure compost + charcoal husk 40% (P7), 50% soil + 25% chicken manure compost + 25% husk charcoal (P8). Rice husk charcoal planting medium 100% (P3) produces porosity, water availability for plants, and the highest volume of bound water, with a porosity value of 55.71%, a value of water availability for plants 17.22% wb, and a volume value of bound water 1.603 ml.. Treatment of 100% soil media (P2) resulted in the ability of the planting medium to bind the highest nutrients with a value of 788.67 S/cm. The proportion of soil 50% chicken manure compost 10% husk charcoal 40% produced the highest productivity of potato cultivation, namely 571.70 g/plant.
Metode Perencanaan Produksi dan Pengendalian Persediaan Bahan Baku Untuk Meminimumkan Biaya Produksi Keripik Kentang (Studi Kasus di CV. Lima Roti Dua Ikan) Nadine Nasya Riesta; I Wayan Widia; I Gusti Ketut Arya Arthawan
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 10 No 2 (2022): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2022.v10.i02.p05

Abstract

Abstrak Meminimumkan biaya dilakukan untuk mencapai biaya pengadaan bahan baku yang rendah dan harga jual produk lebih kompetitif sehingga mampu mendapatkan keuntungan yang besar. Penelitian ini bertujuan menentukan metode perencanaan produksi dan pengendalian persediaan untuk meminimumkan biaya pengeluaran pada produksi keripik kentang. Data yang digunakan merupakan data jangka pendek yang akan di perhitungkan untuk tahun selanjutnya, yang diperoleh dari perusahaan yang memproduksi keripik kentang sejak tahun 2013 yaitu CV. Lima Roti Dua Ikan. Data yang dibutuhkan ialah data bulanan selama 3 tahun terakhir, periode Januari 2018 hingga Desember 2020. Metode perencanaan produksi yang dievaluasi berdasarkan dua jenis metode yaitu SMA dan ES sedangkan metode pengendalian persediaan yang dievaluasi berdasarkan dua jenis metode yaitu EOQ dan JIT. Hasil penelitian menunjukan metode yang tepat digunakan untuk perencanaan produksi ialah ES dengan koefisien pemulusan 0,1 yang menghasilkan nilai MAPE sebesar 0,43%. Metode yang ekonomis digunakan untuk pengendalian persediaan ialah EOQ yang memiliki selisih dengan data aktual perusahaan 35,71% pada tahun 2018 yaitu sebesar Rp 19.198.507,29, selisih 31,69% pada tahun 2019 yaitu sebesar Rp 20.104.228,21, dan selisih 28,91% pada tahun 2020 yaitu sebesar Rp 18.591.797,07. Dengan hasil perhitungan biaya pengendalian persediaan menunjukkan bahwa EOQ merupakan metode yang paling ekonomis dibandingkan dengan sistem yang telah diterapkan oleh perusahaan dan dengan metode JIT. Metode perencanaan produksi berdasarkan peramalan permintaan yang memiliki nilai kesalahan paling kecil ialah ES dengan koefisien pemulusan 0,1 dan metode pengendalian persediaan yang memiliki biaya yang paling ekonomis ialah EOQ. Dikatakan paling ekonomis karena memiliki nilai biaya penghematan paling maksimal. Abstract Minimizing costs in order to achieve low procurement raw materials costs and more competitive product selling prices so obtain a high profit. This study aims to determine the method of production planning and inventory control for minimizing expenses for potato chips production. The data used are short-term data that will be calculated for the next year, were obtained from the company CV. Lima Roti Dua Ikan that produce potato chips since 2013. The required data is monthly data for the last 3 years, January 2018 to December 2020. Production planning method is evaluated based on two methods including SMA and ES, while inventory control method is evaluated based on two methods including EOQ and JIT. The results showed that a better method used for production planning is ES with a coefficient smoothing of 0.1 which results in MAPE value of 0.43%. An economical method used for inventory control is EOQ which has a difference from the company's actual data of 35.71% in 2018 amounting to Rp 19.198.507,29, of 31.69% in 2019 amounting to Rp 20.104.228,21 and of 28.91% in 2020 amounting to Rp 18.591.797,07. The results of the calculation of cost inventory control showed that EOQ is the most economical method compared to the system that has been implemented and to the JIT. Production planning method based on demand forecasting having the smallest value of error is ES with a coefficient smoothing of 0,1 and inventory control method that has the most economical value is EOQ. The most economical method is because it had the maximum savings.
Optimasi Suhu Pengeringan dan Ketebalan Irisan pada Proses Pengeringan Temulawak (Curcuma Xanthorrhiza Roxb) dengan Response Surface Methodology (RSM) I Wayan Suryanantha; Ni Luh Yulianti; Ni Nyoman Sulastri
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 10 No 2 (2022): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2022.v10.i02.p07

Abstract

ABSTRAK Proses pengeringan temulawak dipengaruhi oleh dua hal yaitu suhu pengeringan dan ketebalan irisan. Penelitian ini dilakukan untuk memperoleh kombinasi suhu pengeringan dan ketebalan irisan optimum serta mengetahui model matematika untuk memprediksi aktivitas air, kadar air, kadar abu dan nilai Q melalui Respon Surface Methodology (RSM). Data diolah menggunakan software Design Expert ® 12. Hasil pengujian dan analisis yang telah dilakukan menghasilkan model linier dan kuadratik pada respon yang diamati. Model linier dihasilkan pada respon kadar air dan kadar abu sedangkan model kuadratik dihasilkan pada respon aktivitas air dan nilai Q. Suhu pengeringan 65,867?C dan ketebalan irisan 3 mm merupakan kombinasi optimum terpilih. Hasil uji verifikasi menunjukkan nilai aktual aktivitas air 0,218 aw, kadar air 9,974%, kadar abu 3,316% dan nilai Q sebesar 31,950 kJ/Jam. Nilai desirability yang dimiliki kombinasi suhu pengeringan dan ketebalan irisan optimum sebesar 0.898 menandakan sebesar 89.8% kriteria respon yang diharapkan dapat dicapai. ABSTRACT Two main things that influence the drying process of Curcuma; are drying temperature and thickness of slices. This research was conducted to obtain the optimum combination of drying temperature and slice thickness and determine the mathematical model to predict water activity, moisture content, ash content, and Q value through Response Surface Methodology (RSM). The data were processed using the Design Expert ® 12 software. Based on the testing and analysis, the results generated linear and quadratic models on the observed responses. The linear model was generated on water and ash content, while the quadratic model was generated on water activity and Q values. The drying temperature was 65.867?C, and the slice thickness of 3 mm was the chosen optimum combination. The verification test results show that the actual value of water activity is 0.218 aw, water content is 9.974%, ash content is 3.316%, and Q value is 31.950 kJ/h. The desirability value of the combination of drying temperature and optimum slice thickness of 0.898 indicates that 89.8% of the expected response criteria can be achieved.
Estimasi Produksi Tandan Kelapa Sawit Berdasarkan Analisis Ketersediaan Air dengan Teknik Oil Palm Dissection Sukarman Sukarman; Herry Wirianata; Kadarwati Budiharjo; Septa Primananda; Susiana Purwantisari
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 9 No 2 (2021): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2021.v09.i02.p16

Abstract

Jika faktor genetik, tanah dan teknik budidaya bukan merupakan faktor pembatas, maka fluktuasi hasil panen dipengaruhi oleh faktor iklim atau lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ketersediaan air (defisit air, curah hujan dan hari hujan) terhadap sex ratio termasuk model hasil panen kelapa sawit. Penelitian telah dilakukan pada bulan November 2016 hingga Oktober 2017 di wilayah Wilmar International Plantation Kalimantan Tengah. Analisis menggunakan regresi berganda dan uji korelasi termasuk uji asumsi klasik (uji normalitas, multikolinieritas dan heteroskedastisitas) untuk analisis statistik dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa curah hujan dan hari hujan berpengaruh nyata terhadap perkembangan sex ratio selama 23 bulan sebelum panen (MBH), saat defisit air berpengaruh nyata terhadap sex ratio pada 24 MBH. Estimasi distribusi produksi bulanan, anggaran produksi dan produksi aktual menunjukkan bahwa tidak signifikan. Estimasi distribusi produksi bulanan, anggaran produksi dan realisasi produksi menunjukkan bahwa tidak signifikan, dapat digunakan keakuratan distribusi produksi bulanan kelapa sawit. Kata kunci: sex ratio, curah hujan, hari hujan, defisit hujan, bunga betina
Perencanaan Tata Letak Bangunan Penampungan Sampah Sementara di Lingkungan Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Udayana I Gede Ari Winaya; Ida Ayu Gede Bintang Madrini; I Gusti Ketut Arya Arthawan
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 10 No 2 (2022): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2022.v10.i02.p11

Abstract

Abstrak Penanganan sampah di Fakultas Teknologi Pertanian (FTP), Universitas Udayana (Unud) belum dilakukan dengan baik. FTP belum menerapkan pemilahan sampah pada sumbernya dan melakukan pembakaran sampah yang dilarang dalam UU No 18 Tahun 2008. Maka dari itu diperlukan bangunan penampungan sampah sementara untuk bisa melakukan proses penanganan dan pengolahan sampah. Penelitian ini bertujuan untuk membuat perencanaan tata letak bangunan penampungan sampah sementara dengan mempertimbangkan jenis sampah dan timbulan sampah yang ada. Penelitian ini menggunakan data primer dan data sekunder. Data primer yaitu mengukur timbulan sampah mengacu pada SNI 19-3964-1994. Data sekunder yaitu melakukan studi literatur penelitian terdahulu yang sejenis, melakukan wawancara untuk mengetahui sistem pengelolaan sampah di FTP, dan melakukan pengamatan terhadap jumlah populasi yang mengunjungi gedung GA FTP. Dilakukan estimasi terhadap data timbulan sampah yang diperoleh karena penelitian dilakukan pada saat keadaan pandemi. Data yang diperoleh yaitu 45,85 kg/hari dan volume 1,12 m3/hari. Komposisi sampah yang ditemukan yaitu sampah daun dengan persentase 55,14%, sampah plastik 5,57%, sampah kertas 4,41%, sampah sisa makanan 9,99% dan sampah residu 24,89%. Tata letak yang digunakan yaitu tipe U-Shaped. Urutan masing-masing area yaitu ruang penerimaan, ruang pemilahan, ruang pencacah sampah organik, ruang pengomposan, ruang penyimpanan, ruang sanitasi, gudang, kantor dan area parkir. Diperoleh perencanaan tata letak bangunan penampungan sampah sementara dengan total luas lahan yang dibutuhkan dari hasil perhitungan yaitu 144 m2 (14,4 m x 10,0 m). Penempatan bangunan di sebelah barat Greenhouse FTP Unud dan akses jalan direncanakan agar tidak menganggu mobilitas kampus. Abstract Waste management at the Faculty of Agricultural Technology (FTP), Udayana University (Unud) has not been carried out properly. FTP has not implemented waste segregation at the source and burning waste which is prohibited following Law No. 18 of 2008. Therefore, a temporary waste storage building was needed to be able to carry out the waste handling and processing process. The purpose of the research is to plan the layout of the temporary waste collection building by considering the type of waste and the existing waste generation. This study used primary data and secondary data. Primary data was obtained from measurement waste generation referred to national Indonesian Standard or SNI 19-3964-1994. Secondary data was conducted a literature study of similar previous research, interviewed to find out the waste management system in FTP, and observed the number of populations who visit the building. An estimation approach was made on the waste generation data obtained because the research was conducted during a pandemic. The data obtained and calculated were the weight of 45.85 kg/day and the volume of 1.12 m3/day. The composition of the waste found was leaf waste with a percentage of 55.14%, plastic waste 5.57%, paper waste 4.41%, food waste 9.99 % residual waste 24.89%. The layout used is the U-Shaped type. The sequence of each area in this waste collection building was the reception area, the sorting area, organic waste counting room, composting room, storage room, sanitary room, warehouse, office, and parking area. The layout planning of the temporary waste collection building with the total area of land required from the calculation was 144 m2 (14.4 m x 10.0 m). The placement of the building to the west of the greenhouse FTP Unud and the road access was planned not to interfere with campus mobility.
Kinerja Kotak Pendingin (Cooler Box) Berpendingin TEC1-12715 Pada Beberapa Beban Pendinginan Ivan Alexander Sormin; Ida Bagus Putu Gunadnya; I Gusti Ngurah Apriadi Aviantara
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 11 No 1 (2023): April
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2023.v11.i01.p04

Abstract

Abstrak Kotak pendingin adalah perangkat yang digunakan untuk menyimpan dan menjaga bahan tetap dingin dan segar. Salah satu upaya pengembangan sumber pendingin untuk kotak pendingin adalah dengan menggunakan modul termoelektrik TEC1-12715 yang memanfaatkan efek Peltier. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui suhu yang dicapai dalam kotak pendingin dengan menggunakan TEC1-12715 sebagai alat pendingin. Kotak pendingin dijalankan tanpa dan dengan beban pendinginan (botol berisi air dengan volume masing-masing 600 ml). Data beban pendinginan dan koefisien kinerja (coefficient of performance/COP) ditampilkan dalam bentuk grafik hasil pengamatan tiap 6 menit. Semua data yang telah dianalisis secara deskriptif ditampilkan dalam bentuk gambar dan tabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu kotak pendingin tanpa beban menurun seiring dengan bertambahnya waktu pendinginan dan suhu yang dicapai rata-rata sebesar 17,08°C. Suhu rata-rata air dalam kotak pendingin yang berisi 2, 4, dan 6 botol aqua berturut-turut adalah 21,56°C, 23,08°C, dan 24,74°C. Peningkatan beban pendinginan akan meningkatkan daya input ke dalam kotak pendingin dan menurunkan nilai COP sistem pendingin. Abstract A cooler box is a device used to store and keep ingredients cool and fresh. One of the efforts to develop a cooling source for made cooler boxes is to use a thermoelectric module TEC1-12715 that utilizes the Peltier effect. This study aims to determine the temperature reached in the cooler using TEC1-12715 as a cooling device. The cooler box load without and with a cooling load (bottles filled with water with a volume of 600 ml each). The cooling load data and the coefficient of performance (COP) are displayed in a graph of observations every 6 minutes. All the analyzed data showed in the pictures and tables. The results showed that the cooler box temperature without load decreased by the increasing cooling time. The average temperature achieved was 17.08°C. The average water temperature in the cooler containing 2, 4, and 6 bottles of aqua was 21.56°C, 23.08°C, and 24.74°C, respectively. An increase in cooling load will increase the input power into the cooler box and lower the COP value of the cooling system.