Komuniti : Jurnal Komunikasi dan Teknologi Informasi
Komuniti : Jurnal Komuniti is a scientific journal that publishes scientific research papers/articles or reviews in the field of Communication and Media. The scope of this journal includes communication as social science, mass communication, technology communication, communication and networking, media and communication.
Articles
12 Documents
Search results for
, issue
"Volume 10, No. 2, September 2018"
:
12 Documents
clear
Khalayak Twitter Aksi “Reuni 212†2018: Jaringan Virtual Community dan Digital Masquerading
Al Harkan, Ali
Komuniti: Jurnal Komunikasi dan Teknologi Informasi Volume 10, No. 2, September 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23917/komuniti.v10i2.7360
Fenomena Reuni Akbar 212 yang dilaksanakan pada 2 Desember 2018 adalah fenomena yang menarik, sebab tingginya partisipasi kelompok Islam yang berjumlah puluhan hingga ratusan ribu tersebut bermula dari aksi 212 yang semula hanya diikuti oleh ribuan anggota FPI. Salah satu faktor yang mempengaruhi signifikannya peningkatan jumlah peserta aksi dari Aksi Bela Islam I hingga kemarin melakukan reuni yang kedua, adalah adanya aktivitas komunikasi Aksi 212 melalui media sosial. Penelitian ini memiliki rumusan masalah untuk mendalami bagaimana fenomena khalayak aksi Reuni 212 di media sosial Twitter sebagai sebuah komunitas virtual (virtual community) yang membangun jaringan komunikasi. Dengan menggunnakan konsep virtual community Howard Rheingold sebagai pendekatan analisis, serta metode analisis jaringan komunikasi untuk mengetahui pola struktur jaringan komunikasi komunitas yang terjadi, penulis menemukan bahwa 1000 pengguna Twitter yang termasuk dalam jaringan tagar #ReuniAkbar212 pada 2 Desember 2018 merupakan sebuah fenomena komunitas virtual sebagaimana konsepsi Rheingold.Analisis dengan pendekatan teori virtual community menemukan bahwa komunitas virtual pengguna Twitter dalam jaringan tagar #ReuniAkbar212 mencerminkan adanya aktivitas komunikasi yang dimediasi komputer dan jaringan internet di antara para pengguna yang direpresentasikan oleh akun Twitter; aktivitas komunikasi yang terjadi tersebut dalam terminologi Twitter antara lain berupa tweeting, mentioning, replying, dan retweeting; adanya etos berbagi informasi dalam komunitas yang ditunjukkan dengan tingginya jumlah tweet; dan juga terdapat fenomena kepatuhan netiquette komunitas virtual berupa menghindari penggunaan huruf-huruf kapital agar tidak mengesankan kalimat teriakan. Analisis jaringan komunikasi juga menemukan bahwa akun Twitter @prabowo adalah pusat konsentrasi jaringan komunikasi tagar #ReuniAkbar212. Di sisi lain, analisis digital masquerading menemukan bahwa 71,2% pesan-pesan di dalam komunitas bukanlah bernada politik, sementara 28,8% yang lain adalah komunikasi politik namun tidak adanya indikasi pelaksanaan taktik digital masquerading.
PERJALANAN WACANA JOKOWI DALAM PENCALONANNYA SEBAGAI KANDIDAT PRESIDEN 2019-2024
Panuju, Redi
Komuniti: Jurnal Komunikasi dan Teknologi Informasi Volume 10, No. 2, September 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23917/komuniti.v10i2.6753
Artikel ini mengkaji penggunaan wacana komunisme yang kerapkali dijadikan issu untuk merepresentasikan keberadaan individu, kelompok maupun institusi tertentu di Indonesia. Wacana digunakan oleh pihak pihak tertentu sebagai cara mengkomunikasi maksud untuk menarik perhatian, membentuk pencitraan, membelah opini publik, dan pada akhirnya sebagai saluran membangun letimasi politik. Pada akhir bulan September 2017 wacana komunisme sebagai bahaya laten bagi Negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merebak kembali melalui instruksi Panglima TNI Jendral Gatot Nurmantyo kepada jajaran TNI untuk memutar kembali film ?G.30 S/PKI?. Instruksi Panglima TNI tersebut menimbulkan pro-kontra di masyarakat di luar internal TNI. Melalui analisis wacana model Althusser dan Faucoult akan dapat dikontruksi komunikasi politik yang terjadi di level individu maupun institusi berkaitan dengan ajang pemilu tahun 2019.Kajian ini dapat memberikan gambaran awal dan umum tentang issu issu yang digunakan sebagai instrument politik dalam kontestasi politik tahun 2019. Issu bahaya laten komunisme akan merecovery kelompok masa lalu yang dilabeling pada masa Orde Baru dan sebaliknya mereposisi kelompok Orde Baru yang dituduh mengaburkan sejarah dan akan muncul kelompok baru sebagai pendulum issu terdebut.Kata Kunci : Komunisme, Legitimasi, produksi wacana, reproduksi wacana, Pilpres 2019
Fanatisme Fans Sepakbola terkait Flaming dan Netiquette
Wirawanda, Yudha
Komuniti: Jurnal Komunikasi dan Teknologi Informasi Volume 10, No. 2, September 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23917/komuniti.v10i2.6755
Spectre adalah salah satu thread di forum daring Kaskus. Thread ini memungkinkan pengguna untuk melakukan flaming yang berkaitan dengan fanatisme pendukung sepakbola. Walaupun memperbolehkan prosumsi flaming, namun Spectre tetap memiliki netiquette. Penelitian ini menganalisis praktik fanatisme fans sepakbola terkait flaming dan netiquette. Penelti menggunakan teori habitus dan arena dari Bourdieu untuk menganalisis perilaku pengguna. Peneliti juga menggunakan konsep prosumsi dan netiquette untuk menganalisis data. Peneliti menggunakan metode etnografi virtual untuk menganalisis permasalahan. Peneliti berkesimpulan bahwa bentuk fanatisme dan flaming di ruang siber dibentuk juga oleh netiquette. Namun kebiasaan dan budaya fanatisme pengguna di Kaskus juga membentuk netiquette yang ada di Spectre.
SETYO NOVANTO SEBAGAI MEME INTERNET: ANALISIS DIMENSI MIMETIK DI YOUTUBE
Nur Rohmah, Lara Sakti;
Kusuma, Rina Sari
Komuniti: Jurnal Komunikasi dan Teknologi Informasi Volume 10, No. 2, September 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23917/komuniti.v10i2.7884
Perkembangan teknologi membuat penyebaran informasi berpindah begitu cepat. Cepatnya penyebaran informasi dari satu orang ke orang lain disebut dengan viral. Berbagai hal viral mudah ditemukan di dunia maya, misalnya gambar viral, video viral, status viral, hingga lagu viral. Sesuatu yang sedang viral di media sosial kerap dijadikan bahan meme oleh warganet. Meme menjadi fenomena hangat di dunia maya dan menjadi wahana hiburan karena sifatnya yang lucu dan menghibur. Salah satu meme yang sempat viral dan menjadi perbincangan hangat di jagat maya adalah meme kasus korupsi e-KTP Setya Novanto. Meme Setya Novanto diunggah ke Youtube oleh warganet sebagai ekspresi kesal dan marah masyarakat atas berbagai “drama†yang dilakukan Setya Novanto di kasus e-KTP. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui konstruksi pesan meme internet Setya Novanto di Youtube berdasakan model analisis tiga dimensi meme. Metode penelitian ini adalah analisis isi dengan mengikuti model analisis meme Loar Shifman, yakni dengan memecah setiap video menjadi tiga dimensi: content (konten), form (bentuk), dan stance (sudut pandang).
Sirkulasi Film dan Program Televisi di Era Digital: Studi Kasus Praktik Download dan Streaming melalui Situs Bajakan
Anshari, Irham Nur
Komuniti: Jurnal Komunikasi dan Teknologi Informasi Volume 10, No. 2, September 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23917/komuniti.v10i2.7125
Penelitian ini memaparkan bagaimana sirkulasi film dan program TV melalui situs bajakan, khususnya dari perspektif partisipan. Partisipan dalam hal ini lebih dari sekedar penonton, karena partisipan dalam media baru adalah pihak yang turut mencari, menseleksi, merespon balik, maupun merekomendasikan video digital dalam situs tersebut. Akses partisipan terhadap video digital dimungkinkan melahirkan praktik-praktik baru konsumsi film dan program TV, seperti men-download dan menonton secara streaming. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus, dengan berfokus pada praktik partisipan di wilayah Yogyakarta. Pencarian data dilakukan baik melalui observasi pada platform sirkulasi (khususnya situs-situs bajakan) serta focus group discussion pada 6 partisipan. Dari praktik partisipan atau pelaku, setidaknya dapat dicatat beberapa aspek yang melahirkan praktik ini: keintiman pelaku dengan teknologi digital baik yang legal maupun ilegal, semangat mengakses tontonan dengan efisien dan semurah mungkin, serta pertimbangan-pertimbangan teknis seperti perihal subtitle dan kualitas video.
Bingkai Berita Kemanusiaan dalam Harian Kompas dan Republika Terhadap Pengungsi Rohingnya (Analisis Framing Pada Berita Kompas dan Republika Edisi 6 – 11 September 2017 Mengenai Pengungsi Rohingnya)
Prihandini, Fadila;
Junaedi, Fajar
Komuniti: Jurnal Komunikasi dan Teknologi Informasi Volume 10, No. 2, September 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23917/komuniti.v10i2.6696
Konflik berkepanjangan yang terjadi antara militer Myanmar dengan pengungsi Rohingnya kembali terulang. Pada tahun 2017, terjadinya krisis kemanusiaan Rohingnya dipicu oleh serangan kelompok militan Arakan Rohingnya Salvation Army (ARSA) yang menyerang pos penjagaan militer Myanmar pada 25 Agustus 2017. Adanya konflik ini mengakibatkan warga sipil menjadi korban. Akibatnya, gelombang eksodus pengungsi Rohingnya terus berdatangan dari Rakhine State menuju Banglades. Pemberitaan mengenai krisis kemanusiaan Rohingnya menjadi kontroversi, pihak pemerintah Myanmar menyatakan adanya disinformasi, sementara jumlah pengungsi Rohingnya terus bertambah meninggalkan Myanmar. Ketidakberdayaan pengungsi Rohingnya dikemas secara berbeda oleh dua media, bingkai pemberitaan mengenai krisis kemanusiaan Rohingnya disajikan Kompas sebagai masalah kemanusiaan internasional Kompas banyak menyampaikan kinerja pemerintah dalam membantu menangani krisis kemanusiaan Rohingnya. Berbeda dengan Republika yang melihat permasalahan kemanusiaan Rohingnya sebagai masalah umat Islam. Republika begitu kuat dalam memperjuangkan keselamatan minoritas Muslim Rohingnya, keberpihakan Republika sudah jelas pada sejumlah berita yang ditampilkan. Sedanagkan Kompas terlihat berimbang dengan tidak terlalu memperlihatkan keberpihakannya kepada pengungsi Rohingnya. Namun, di balik itu semua, kedua media dengan latar belakang yang berbeda ini tidak bisa dilepaskan dari kepentingan organisasi. Melalui paradigma konstruksionisme, diketahui bahwa realitas dalam berita tidaklah tunggal melainkan jamak. Selain itu, adanya level organisasi dan level ekstramedia memiliki imbas yang signifikan dalam sebuah organisasi media yang mengikuti selera pasar, berita mengenai kemanusiaan memiliki nilai universal yang menjual.
SETYO NOVANTO SEBAGAI MEME INTERNET: ANALISIS DIMENSI MIMETIK DI YOUTUBE
Lara Sakti Nur Rohmah;
Rina Sari Kusuma
Komuniti: Jurnal Komunikasi dan Teknologi Informasi Volume 10, No. 2, September 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23917/komuniti.v10i2.7884
Perkembangan teknologi membuat penyebaran informasi berpindah begitu cepat. Cepatnya penyebaran informasi dari satu orang ke orang lain disebut dengan viral. Berbagai hal viral mudah ditemukan di dunia maya, misalnya gambar viral, video viral, status viral, hingga lagu viral. Sesuatu yang sedang viral di media sosial kerap dijadikan bahan meme oleh warganet. Meme menjadi fenomena hangat di dunia maya dan menjadi wahana hiburan karena sifatnya yang lucu dan menghibur. Salah satu meme yang sempat viral dan menjadi perbincangan hangat di jagat maya adalah meme kasus korupsi e-KTP Setya Novanto. Meme Setya Novanto diunggah ke Youtube oleh warganet sebagai ekspresi kesal dan marah masyarakat atas berbagai “drama” yang dilakukan Setya Novanto di kasus e-KTP. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui konstruksi pesan meme internet Setya Novanto di Youtube berdasakan model analisis tiga dimensi meme. Metode penelitian ini adalah analisis isi dengan mengikuti model analisis meme Loar Shifman, yakni dengan memecah setiap video menjadi tiga dimensi: content (konten), form (bentuk), dan stance (sudut pandang).
Sirkulasi Film dan Program Televisi di Era Digital: Studi Kasus Praktik Download dan Streaming melalui Situs Bajakan
Irham Nur Anshari
Komuniti: Jurnal Komunikasi dan Teknologi Informasi Volume 10, No. 2, September 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23917/komuniti.v10i2.7125
Penelitian ini memaparkan bagaimana sirkulasi film dan program TV melalui situs bajakan, khususnya dari perspektif partisipan. Partisipan dalam hal ini lebih dari sekedar penonton, karena partisipan dalam media baru adalah pihak yang turut mencari, menseleksi, merespon balik, maupun merekomendasikan video digital dalam situs tersebut. Akses partisipan terhadap video digital dimungkinkan melahirkan praktik-praktik baru konsumsi film dan program TV, seperti men-download dan menonton secara streaming. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus, dengan berfokus pada praktik partisipan di wilayah Yogyakarta. Pencarian data dilakukan baik melalui observasi pada platform sirkulasi (khususnya situs-situs bajakan) serta focus group discussion pada 6 partisipan. Dari praktik partisipan atau pelaku, setidaknya dapat dicatat beberapa aspek yang melahirkan praktik ini: keintiman pelaku dengan teknologi digital baik yang legal maupun ilegal, semangat mengakses tontonan dengan efisien dan semurah mungkin, serta pertimbangan-pertimbangan teknis seperti perihal subtitle dan kualitas video.
Bingkai Berita Kemanusiaan dalam Harian Kompas dan Republika Terhadap Pengungsi Rohingnya (Analisis Framing Pada Berita Kompas dan Republika Edisi 6 – 11 September 2017 Mengenai Pengungsi Rohingnya)
Fadila Prihandini;
Fajar Junaedi
Komuniti: Jurnal Komunikasi dan Teknologi Informasi Volume 10, No. 2, September 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23917/komuniti.v10i2.6696
Konflik berkepanjangan yang terjadi antara militer Myanmar dengan pengungsi Rohingnya kembali terulang. Pada tahun 2017, terjadinya krisis kemanusiaan Rohingnya dipicu oleh serangan kelompok militan Arakan Rohingnya Salvation Army (ARSA) yang menyerang pos penjagaan militer Myanmar pada 25 Agustus 2017. Adanya konflik ini mengakibatkan warga sipil menjadi korban. Akibatnya, gelombang eksodus pengungsi Rohingnya terus berdatangan dari Rakhine State menuju Banglades. Pemberitaan mengenai krisis kemanusiaan Rohingnya menjadi kontroversi, pihak pemerintah Myanmar menyatakan adanya disinformasi, sementara jumlah pengungsi Rohingnya terus bertambah meninggalkan Myanmar. Ketidakberdayaan pengungsi Rohingnya dikemas secara berbeda oleh dua media, bingkai pemberitaan mengenai krisis kemanusiaan Rohingnya disajikan Kompas sebagai masalah kemanusiaan internasional Kompas banyak menyampaikan kinerja pemerintah dalam membantu menangani krisis kemanusiaan Rohingnya. Berbeda dengan Republika yang melihat permasalahan kemanusiaan Rohingnya sebagai masalah umat Islam. Republika begitu kuat dalam memperjuangkan keselamatan minoritas Muslim Rohingnya, keberpihakan Republika sudah jelas pada sejumlah berita yang ditampilkan. Sedanagkan Kompas terlihat berimbang dengan tidak terlalu memperlihatkan keberpihakannya kepada pengungsi Rohingnya. Namun, di balik itu semua, kedua media dengan latar belakang yang berbeda ini tidak bisa dilepaskan dari kepentingan organisasi. Melalui paradigma konstruksionisme, diketahui bahwa realitas dalam berita tidaklah tunggal melainkan jamak. Selain itu, adanya level organisasi dan level ekstramedia memiliki imbas yang signifikan dalam sebuah organisasi media yang mengikuti selera pasar, berita mengenai kemanusiaan memiliki nilai universal yang menjual.
Khalayak Twitter Aksi “Reuni 212” 2018: Jaringan Virtual Community dan Digital Masquerading
Ali Al Harkan
Komuniti: Jurnal Komunikasi dan Teknologi Informasi Volume 10, No. 2, September 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23917/komuniti.v10i2.7360
Fenomena Reuni Akbar 212 yang dilaksanakan pada 2 Desember 2018 adalah fenomena yang menarik, sebab tingginya partisipasi kelompok Islam yang berjumlah puluhan hingga ratusan ribu tersebut bermula dari aksi 212 yang semula hanya diikuti oleh ribuan anggota FPI. Salah satu faktor yang mempengaruhi signifikannya peningkatan jumlah peserta aksi dari Aksi Bela Islam I hingga kemarin melakukan reuni yang kedua, adalah adanya aktivitas komunikasi Aksi 212 melalui media sosial. Penelitian ini memiliki rumusan masalah untuk mendalami bagaimana fenomena khalayak aksi Reuni 212 di media sosial Twitter sebagai sebuah komunitas virtual (virtual community) yang membangun jaringan komunikasi. Dengan menggunnakan konsep virtual community Howard Rheingold sebagai pendekatan analisis, serta metode analisis jaringan komunikasi untuk mengetahui pola struktur jaringan komunikasi komunitas yang terjadi, penulis menemukan bahwa 1000 pengguna Twitter yang termasuk dalam jaringan tagar #ReuniAkbar212 pada 2 Desember 2018 merupakan sebuah fenomena komunitas virtual sebagaimana konsepsi Rheingold.Analisis dengan pendekatan teori virtual community menemukan bahwa komunitas virtual pengguna Twitter dalam jaringan tagar #ReuniAkbar212 mencerminkan adanya aktivitas komunikasi yang dimediasi komputer dan jaringan internet di antara para pengguna yang direpresentasikan oleh akun Twitter; aktivitas komunikasi yang terjadi tersebut dalam terminologi Twitter antara lain berupa tweeting, mentioning, replying, dan retweeting; adanya etos berbagi informasi dalam komunitas yang ditunjukkan dengan tingginya jumlah tweet; dan juga terdapat fenomena kepatuhan netiquette komunitas virtual berupa menghindari penggunaan huruf-huruf kapital agar tidak mengesankan kalimat teriakan. Analisis jaringan komunikasi juga menemukan bahwa akun Twitter @prabowo adalah pusat konsentrasi jaringan komunikasi tagar #ReuniAkbar212. Di sisi lain, analisis digital masquerading menemukan bahwa 71,2% pesan-pesan di dalam komunitas bukanlah bernada politik, sementara 28,8% yang lain adalah komunikasi politik namun tidak adanya indikasi pelaksanaan taktik digital masquerading.