cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Articles 27 Documents
Search results for , issue "Vol. 15, No. 2, Desember 2014" : 27 Documents clear
PENERAPAN STRATEGI NABI IBRAHIM DALAM MENDIDIK ANAK DALAM TAFSIR SURAT ASH-SHAFFAT AYAT 99-113 (Studi Kasus di Madrasah Tsanawiyah 3 Muhammadiyah Masaran Sragen) Sahirman, Sahirman
Profetika Vol. 15, No. 2, Desember 2014
Publisher : Muhammadiyah University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study intends to examine the problems of quality and education value to the children, reviewing the events of the dream with the prophet Abraham to slayhis son Ishmael alaihimas greetings in Q.S Ash-Shaaffaat: 99-113. The problem in thisstudy are, 1) what strategies are used to educate children of Abraham in the SurahAsh-Shaaffaat: 99-113? 2) The value of what you want to be grown by the prophetIbrahim strategies in educating children contained in surah Ash-Shaaffaat: 99-113? 3) What is the relevance of the strategy developed by prophet Ibrahim in Surah Ash-Shaaffaat: 99-113 on Islamic education curriculum in MTs.3 Muhammadiyah MasaranSragen? This is qualitative study which refers to the data of scientific papers (researchlibrary), the approach used is a model of thematic tafsir (maudhu’i), the data collectiontechniques are document study, while analyzing the data used in the content analysis (content analysis). Inductive method is used to infer from the data that has been analyzed previously, are then described in words. The results of this study suggest that strategies to educate children of Abraham are: purification of the soul, are in a good environmentand controlled, has a vision, mission and goals, have excellent communication, has aspirit of sacrifice to achieve the contentment, love and help of god, has the formula “aljaza’ min jinsil charity”. The resulting values are: a lot of praying, establish the prayer, has the power embroidery, Honesty, Patience and have responsibility. Abraham and education strategy as far as the authors are very relevant to the study of Islamic educationcurriculum in MTs.3 Muhammadiyah Masaran Sragen Academic Year 2009/2010.Keywords: strategy; education; child.Penelitian ini bermaksud meneliti masalah kualitas dan nilai pendidikan padaanak, dengan mengkaji peristiwa mimpi Nabi Ibrahim untuk menyembelih anaknyaIsmail alaihimas salam dalam Q.S Ash-Shaaffaat: 99-113. Permasalahan dalampenelitian ini adalah: pertama, apa strategi yang digunakan Nabi Ibrahim dalammendidik anak dalam Q.S Ash-Shaaffaat: 99-113? Kedua, nilai apa yang inginditumbuhkan dengan strategi yang dilakukan Nabi Ibrahim dalam mendidik anak yangterdapat dalam Q.S Ash-Shaaffaat: 99-113? Ketiga, Bagaimana relevansi strategi yangdikembangkan oleh Nabi Ibrahim dalam Q.S Ash-Shaaffaat: 99-113 pada kurikulumpendidikan agama Islam di MTs.3 Muhammadiyah Masaran Sragen? Penelitianini bersifat kualitatif yang mengacu pada data-data karya ilmiah (library research),pendekatan yang digunakan adalah ilmu tafsir model tematik (maudhu’i), Teknikpengumpulan data adalah dokumentasi, sedangkan dalam menganalis datadigunakan analisis isi (conten analysis). Metode induktif digunakan untukmengambil kesimpulan dari data-data yang telah dianalisis sebelumnya, yangkemudian dijelaskan dengan kata-kata. Hasil dari penelitian ini menunjukkanbahwa strategi Nabi Ibrahim dalam mendidik anak adalah: pensucian jiwa, beradapada lingkungan yang baik dan terkontrol, memiliki visi misi dan tujuan, memilikikomunikasi yang excellent, memiliki semangat berkorban untuk meraih keridhaan, kecintaan dan pertolongan Allah, memiliki rumus “al-jaza’ min jinsil amal”.Strategi pendidikan Nabi Ibrahim sejauh penelitian penulis sangat relevan dengankurikulum pendidikan agama Islam di MTs. 3 Muhammadiyah Masaran SragenTahun Ajaran 2009/2010Kata Kunci: strategi; pendidikan; anak.
MOHAMMAD NATSIR DALAM DINAMIKA HUBUNGAN ANTARAGAMA DI INDONESIA Jinan, Mutohharun
Profetika Vol. 15, No. 2, Desember 2014
Publisher : Muhammadiyah University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This article discusses about the position of Mohammad Natsir in the dynamicof inter-religions relationship in Indonesia. Natsiris well-known as the public figure havinga great attention to the efforts for developing the life of peaceful religions in Indonesia.The efforts can be seen from his works and ideas. Natsir asks all people and leaders to usethe different religions as the potency to develop the peaceful life by having different religions.The religion Missionaries that break down the rules or government’s regulation becomesthe cause of the stress and inter-religions conflict. To create the peaceful life among thepeople with different religions, Natsir proposes the vivendimodus that consists of: thedifferent religious-people in Indonesia should live together harmonically, tolerance andappreciative each other, having priority on national development, avoiding the religionwar, and stressing on justice and religion diversity.Key Words: Mohammad Natsir; inter-religions relationship; religion diversity.Makalah ini membahas tentang posisi Mohammad Natsir dalam dinamikahubungan antaragama di Indonesia. Natsir dikenal sebagai tokoh yang memilikiperhatian besar dalam upaya membangun kehidupan keagamaan yang damai diIndonesia. Berbagai usahanya dapat dilihat dari pemikiran dan karya-karyanya. Natsirmengajak segenap pemimpin dan umat beragama memanfaatkan keragaman agamasebagai potensi untuk membangun kehidupan keagamaan yang damai. Misionarisagama-agama yang melanggar ketentuan atau peraturan pemerintah menjadi penyebabketegangan dan konflik antaragama. Untuk menciptakan kehidupan umat antaragamayang damai Natsir mengusulkan adanya modus vivendi yang meliputi: antara pemelukberagama di Indonesia supaya hidup berdampingan secara baik, saling menghargaidan toleransi, mengutamakan kepentingan pembangunan nasional, menghindariterjadinya perang agama, dan menekankan keadilan dalam keragaman beragama.Kata Kunci: Mohammad Natsir; hubungan agama-agama; Indonesia.
KISAH DZULQARNAIN DALAM AL-QUR’AN SURAT AL-KAHFI: 83-101 (Pendekatan Hermeneutik) Rukimin, Rukimin
Profetika Vol. 15, No. 2, Desember 2014
Publisher : Muhammadiyah University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This article traces and tells the story of Dzulqarnain found in the HollyQur’an, it is due to the fact that this story is still covered by a mystery and unfinishedcontroversial understanding for Moslem Scholars since from the classic to contemporary era, even in the orientalism one. This study applies a library research with the Holly Qur’an and valid hadiths are as primary sources of data while the interpretation ofMoslem Scholars toward the verses telling the story of Dzulqarnain are as the secondarydata source. This study uses empiric-normative approach and the collected data are analyzed by using hermeneutic, namely: Schleiermacher grammatical hermeneutic andtheory of Muhammad Talbi humanistic-history. The result of the research shows thatthe grammatical sequences of the verses telling Dzulqarnain story has a very beautifullanguage style, completed with language style of Majaz in which the Dzulqarnain hasgone through two long journeys; they are Western and Eastern journeys. He got thefollowers from his journeys above. Moreover, based on the humanistic-historicallyreadability; first, the sequence of verses above shows that Islam is “RahmatanLil‘Alamin”. It can be proved from the wise attitude containing full goodness without anybullying, done by Dzulqarnain. Second, the denied followers are invited to have moreawareness and to go back to the right faith by warning them dealing with the statementthat says “Allah will give a finalization to the denying followers”.Key Words: Dzhulqarnain; the Holly Qur’an; hermeneutic.Artikel ini mentelusuri dan menguak kisah Dzulqarnain di dalam al-Qur’an,karena kisah ini masih diselimuti misteri serta kontroversial berkepanjangan di tubuhulama muslim sejak zaman klasik hingga kontemporer maupun di kalangan orientalis.Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research), dengan sumber data primer adalah al-Qur’an dan hadits-hadits shahih, sedangkan sumber data sekunder adalah tafsir para ulama terhadap ayat-ayat yang menceritakan kisah Dzulqarnain.Pendekatan yang digunakan adalah normatif-empiris, analisisnya dengan hermeneutik, yakni hermeneutik gramatikal Schleiermacher dan teori historis-humanistik Muhammad Talbi. Hasil penelitian adalah rangkaian gramatikal dari ayat-ayat kisah tentang Dzulqarnain sangatlah indah gaya bahasanya disertai dengan gaya bahasa majaz, di mana Dzulqarnain telah menempuh dua perjalanan panjang yaitu perjalanan ke Barat dan ke Timur serta mendapatkan pada dua perjalanan tersebut segolongan kaum/umat.Pada perjalanan ke Barat (maghrib asy-syams). Lebih lanjut jika ditilik dari pembacaan secara historis-humanistik bahwasanya rangkaian ayat-ayat di atas menunjukkan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin. Hal ini dapat dibuktikan dari sikap bijak yang penuh kebaikan dan tanpa kekerasan yang ditonjolkan oleh Dzulqarnain, bahwasanya kepada umat yangingkar hendaknya diajak bertobat dan kembali kepada keimanan dengan diperingatkan akan kekufurannya bahwa Allah akan mengazab orang-orang yang ingkar.Kata Kunci: Dzhulqarnai; al-Qu’an; hermeneutika
TELAAH TERHADAP PROBLEM PEMBELAJARAN DI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA PADA TAHUN 2013-2014 Aly, Abdullah
Profetika Vol. 15, No. 2, Desember 2014
Publisher : Muhammadiyah University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

In the beginning of 56th anniversary, Universitas Muhammadiyah Surakarta(UMS) still needs to improve and develop the implementation of Tri Dharma PerguruanTinggi (three functions of higher education institutions in Indonesia). To improve anddevelop its functions above, this study aims at exploring more detail in line with thelearning problems conducting in UMS for the academic year of 2013-2014. Based onthe bibliographic-descriptive study through the available documents analysis, the findingof this research shows that the main learning problem in UMS is the lecturers have notapplied the Student Centered Learning (SCL) learning model totally. Most of the lecturersstill apply the learning model based on Teacher Centered Learning (TCL). Few of themwho have applied learning model based on SCL. This main problem may cause threenew next problems of learning in UMS, they are: (1) the learning tends to be behavioristicand not constructive, (2) the learning is more stressing on the pedagogical aspect andnot andragogy, finally; (3) the learning have not involved the students’ activenesscomprehensively.Key Words: constructivism; behaviorism; pedagogy and andragogy.Memasuki usianya ke-56, UMS masih harus melakukan perbaikan danpengembangan dalam pelaksanaan tri dharma perguruan tinggi. Untuk kepentinganperbaikan dan pengembangan tersebut, studi ini dilakukan dengan tujuan untukmenggali lebih jauh problem-problem pembelajaran yang berlangsung di UMS selamatahun 2013-2014. Berdasarkan studi deskriptif-bibliogratif melalui telaah dokumenyang tersedia, studi ini menemukan problem utama pembelajaran di UMS, yaitu bahwapara dosen belum sepenuhnya menerapkan model pembelajaran berbasis SCL (StudentCentered Learning). Sebagian besar dosen masih menerapkan model pembelajaranberbasis TCL (Teacher Centered Learning). Sebagian kecil dosen UMS lainnya barumulai menerapkan model pembelajaran berbasis SCL. Problem utama tersebutselanjutnya menyebabkan tiga problem turunan dalam pembelajaran di UMS, yaitu:(1) pembelajaran cenderung bersifat behavioristik dan bukan konstruktivistik, (2)pembelajaran lebih menekankan pada aspek pedagogis dan bukan andragogis, dan (3)pembelajaran belum sepenuhnya melibatkan keaktifan para mahasiswa.Kata Kunci: konstruktivisme; behaviorisme; pedagogi andragogi
EPISTEMOLOGI IDEALISTIK SYEKH AZ-ZARNUJI TELAAH NASKAH TA’LIM AL MUTA’ALIM Haroen, Hilman
Profetika Vol. 15, No. 2, Desember 2014
Publisher : Muhammadiyah University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Az-Zarnuji proposes four considerations of strengthening the right intentionin looking for science. First, looking for a science is regarded as the religion task; second, looking for a science must be intended as an effort of getting happiness of life in the future; third, in looking for a science, it is properly awaken again to the Islamic teaching and religion; fourth, looking for a science is supposed to the frame of conveying the thanksgiving to Allah. The characteristic of Az-Zarnuji epistemology says that looking for a science is the religion task. It shows that Az-Zarnuji epistemology becomes Islamic epistemology, standard and traditional with idealistic type. It is a idealism containing many things, integration between organic and thinkingcomprehensively (reality, form) or absolutism consisting of the meaning as 1) view of life, the truth must be valuable, reality, final and forever objective. 2) There is only one belief and one explanation objectively, no change and right to the reality. The religion epistemology of Az-Zarnuji stresses on the characteristics of God, society and individuality with epistemology of principality based on utility principle. The implementation of science system is for thecase of the three characteristics above. The stress goes to the quality or religion ethicvalues. The concept of Az-Zarnuji epistemology is ideological focusing on value and the Islamic religion (theology) or faith epistemology.Key Words: epistemology; Islamic education;science; religion ethic.Az-Zarnuji menawarkan empat pertimbangan yang memperteguh niat yangbenar dalam mencari ilmu pengetahuan. Pertama, menuntut ilmu dianggap sebagaitugas agama; kedua, menuntut ilmu seharusnya dimaksudkan usaha memperolehkebahagiaan hidup di kemudian hari; ketiga, dalam menututi lmu, seyogyanyamembangkitkan kembali agama dan syiar Islam; Keempat, menuntut ilmu ditujukandalam rangka menyampaikan puji syukur kepada Tuhan. Ciri khas epistemologi Az-Zarnuji, epistemologi agama, menuntut ilmu tugas agama, ini menjadikan epistemologiAz-Zarnuji merupakan epistemologi Islam, baku dan kuna (Tradisional) bertipe idealistik.Idealistik adalah pandangan ideal (idealism) atau mencakup segala sesuatu, kepaduanpikiran dan organik saling terkait bersifat sempurna (realitas, wujud) atau Absolutisme,mencakup makna sebagai 1).Pandangan bahwa kebenaran (nilai, realitas) nyata, finaldan abadi secara obyektif. 2) Keyakinan hanya ada satu penjelasan obyektif tak berubahdan benar tentang realitas. Epistemologi religious (agama) Az-Zarnuji menekankanpada ciri Ketuhanan, individualitasdan masyarakat, dengan azas epistemologi yangmendasarinya azas manfaat (utility). Pelaksanaan sistem ilmu pengetahuan dalamrangka ketiga ciri tersebut. Penekanan pada kualitas atau pada nilai etika religious.Konsep epistemologi Az-Zarnuji bersifat ideologis, bertumpu pada nilai dan ajaran(teologi) Islam atau epistemologi iman (ketauhidan).Kata Kunci: epistemology; pendidikan Islam; ilmu Pengetahuan; etika Religius.
DERADIKALISASI AGAMA MELALUI PENDIDIKAN MULTIKULTURAL-INKLUSIV (Studi pada Pesantren Imam Syuhodo Sukoharjo) Suprapto, Rohmat
Profetika Vol. 15, No. 2, Desember 2014
Publisher : Muhammadiyah University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lately religious life in Indonesia experienced a fairly loud dynamics with theemergence of many cases of religious radicalism background. This has resulted in lossof lives wasted and physical damage to the building. But more horrible is the breakdownof social relations between the nation and the erosion of social capital of trust betweenone another. Though the government has taken various measures such as theestablishment of BNPT, Detachment 88 anti-terror legislation and government regulationon the prohibition of blasphemy/desecration of religion. However, this step does notreduce the percentage of religious radicalism. Even more days of religious radicalismincreasingly fertile. Pesantren Imam Syuhodo Sukoharjo Central Java have developedand internalized models of religious education curriculum-based multicultural inclusivismin order to counteract the movement of religious radicalism. The curriculum is a set ofvalues that are as straight as implemented by students, such as living together,understand each other differentness, diversity of teaching. The students are taught to live in peace, side by side with each other, in the middle of the variance differences exist between them. In addition, the value Uswah Khasanah (good role models) from Kyai and the Ustadz/Theacer of the main pillars in the internalization efforts multiculturalinclusivism values in Ponpes Imam Syuhodo Sukoharjo.Keywords: deradicalised of religion; pesantren; multicultural-inclusiv.Akhir-akhir ini kehidupan beragama di Indonesia sangat dinamis denganmunculnya berbagai kasus yang berlatar belakang radikalisme keagamaan. Radikalismekeagamaan telah mengakibatkan ribuan nyawa melayang dan kerusakan fisik yangluarbiasa. Tetapi yang lebih mengerikan adalah jalinan hubungan dan kepercayaanantarwarga sebagai modal social mengalami erosi yang cukup dalam. Pemerintah telahmengambil berbagai langkah seperti pembentukan BNPT, Densus 88, undang-undanganti-teror dan peraturan pemerintah tentang larangan penghujatan / penodaan agama.Namun, langkah ini tidak mengurangi persentase radikalisme agama. Semakin lamaradikalisme agama semakin subur. Pesantren Imam Syuhodo Sukoharjo Jawa Tengahtelah mengembangkan dan menginternalisasikan model kurukulum agama berbasisinklusivisme multikultural untuk menangkal gerakan radikalisme agama. Kurikulummerupakan seperangkat nilai-nilai yang disusun dan diterapkan oleh siswa, sepertihidup bersama, saling memahami keperbedaan satu dengan yang lain, dan keragamanmengajar. Para siswa diajarkan untuk hidup dalam damai, berdampingan satu samalain, di tengah-tengah ragam perbedaan diantara mereka. Selain itu, nilai UswahKhasanah (teladan yang baik) dari Kyai dan Ustadz menjadi pilar utama dalam upayainternalisasi nilai-nilai multikultural-inklusivisme di Ponpes Imam Syuhodo Sukoharjo.Kata kunci: deradikalisasi agama; pesantren; multikultural-inklusif.
KONSEPSI NILAI NILAI PENDIDIKAN HUMANIS-RELIGIUS MENURUT PAKOE BOEWONO IV (1788-1820) DALAM SERAT WULANG-REH Narimo, Sabar
Profetika Vol. 15, No. 2, Desember 2014
Publisher : Muhammadiyah University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pakoe Boewana IV is the King having many literary works, one of them is theWulang-Reh letters as the result of reflection, phylosophy, view of live, and his ambitionin contextualizing to the reality of life for the periode of 1788-1820. The Wulang-Rehletters consists of Kawruh Piwulang (sugesstion) or Pitutur Luhur (direction) teaching,reflected in the form of Pituduh lan Wewaler (instructions and prohibitions) having fullof humanic-religious life values. The values conception found in the Wulang-Rehlettersare (1) morality messages/ethics, (2) education value, (3) phylosophy value, and (4) religionvalue. The teachings above are relevant to be learned, to be implemented, becoming thebehavior and Indonesian nation nationality in the context of at present time.Kata Kunci: humanic value; religious; and the Wulang-Reh letters.Pakoe Boewana IV adalah raja dan pujangga yang memiliki banyak karyasastra, salah satunya adalah Serat Wulang-Reh, yang merupakan hasil refleksi,perenungan, falsafah, dan pandangan hidup, serta cita-citanya dalam membaca realitaskehidupan pada masa 1788-1820 M. Serat Wulang-Reh berisi ajaran tentang kawruhpiwulang atau pitutur luhur (tuntunan dan nasihat), yang berupa pituduh lan wewaler(perintah dan larangan), yang sarat dengan nilai-nilai kehidupan yang humanisreligius.Konsepsi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya berupa (1) pesan moral/etika; (2) nilai pendidikan; (3) nilai filosofis; (4) nilai nilai religius. Ajaran-ajaran tersebutmasih relevan dipelajari, diamalkan, menjadi perilaku, dan kepribadian bangsa Indonesiadalam konteks kekinian.Kata Kunci: nilai humanis; religious; wulang reh.
DAFTAR ISI DAN PENGANTAR REDAKSI Profetika, Redaksi
Profetika Vol. 15, No. 2, Desember 2014
Publisher : Muhammadiyah University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

DAFTAR ISI DAN PENGANTAR REDAKSI
PENGARUH PEMIKIRAN ISLAM REVOLUSIONER ALI SYARI’ATI TERHADAP REVOLUSI IRAN Nugroho, Anjar
Profetika Vol. 15, No. 2, Desember 2014
Publisher : Muhammadiyah University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The Islamic revolution of Iran happened in 1979 shows as the most realexample of how people power could take over the tyranny era and monarchy systemlasting for 200 years in Iran. Their collective awareness is caused by the source ofreligion awareness (Shia Islam) that has been up dated. Ali Syari’ati became thebrightened intellectual actor, that is as the phenomenon of the dictator grinding thepeople in Syah Pahlevi’s Government. Syari’ati, then, acted as the pioneer of radicalideas about revolution and Islam which taken from Shia teachings as the source, thathave been mixed with the tradition of the third World Revolutionary and Marxism. AliSyari’ati succeed developing revolutionary Islam ideology in which, then, becomes thebasis of people’s collective awareness opposing the era of Syah Pahlevi’s Government.According to Ali Syari’ati’s idea, Islam is a freedom and emancipation ideology. accordingto him this idea of Islam is progressive and revolutionary, sourcing to one system offaith, that is; tauhid. If the tauhid based on Ali Syari’ati’s idea is the unity of God,Human and Environment, so the condition of community having social discrimination,injustice and the arbitrary can be classified as syirk.It is the opposing of tauhid. Theoffer of Syari’ati’s idea and Islam ideology become the bridge or the fourth way of deadlock ideology pre-revolutionary opposition movements. They are Secular-nationalist,Communist-Marxist and Islam Fundamentalism. Finally, this Syari’ati’s ideology leadsImam Khomeini to be accepted as the revolutionary leader.Key Words: iran revolution; Shia, and freedom.Revolusi Islam Iran yang terjadi pada 1979 adalah contoh paling nyata,bagaimana kekuatan massa mampu menumbangkan rezim tiranik sekaligus sistemmonarki yang sudah berumur 200 tahun di Iran. Kesadaran kolektif massa itu disebutsebutbersumber dari kesadaran agama (Islam Syi’ah) yang sudah diperbaharui. AliSyari’ati muncul menjadi sosok intelektual tercerahkan adalah fenomena kekuasaanrezim Syah Pahlevi yang otoriter dan menindas.Syari’ati lalu tampil sebagai peloporgagasan-gagasan radikal tentang Islam dan revolusi yang bersumber dari ajaran Syi’ahyang sudah dicangkokkan dengan tradisi revolusioner Dunia Ketiga dan Marxisme.Ali Syari’ati berhasil membangun ideologi Islam revolusioner yang kemudian menjadibasis kesadaran kolektif massa menentang kekuasaan rezim Syah. Dalam pemikiranSyari’ati, Islam adalah sebuah ideologi emansipasi dan pembebasan.Pandangan IslamAli Syari’ati yang progresif dan revolusioner bersumber pada satu sistem keyakinanyaitu tauhîd.Jika tauhîd dalam pandangamanusia dan alam semesta, maka kondisi masyarakat yang penuh diskriminasi sosial,ketidakadilan, dan kesewenang-wenangan dapat dikategorikan sebagai Syirk, lawandari tauhîd. Tawaran pemikiran dan ideologi Islam Syari’ati menjadi jembatan ataujalan keempat dari kebuntuan ideologi gerakan oposisi pra-revolusi, yaitu antaranasionalis-sekuler, Marxis-Komunis dan Fundamentalisme Islam.Dan ideologi Syari’atimelapangkan jalan bagi diterimanya Imam Khomeini sebagai pemimpin revolusioner.Kata Kunci: revolusi Iran; syi’ah; pembebasann Syari’ati adalah kesatuan antara Tuhan,
DAFTAR ISI DAN PENGANTAR REDAKSI Profetika, Redaksi
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol. 15, No. 2, Desember 2014
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v15i02.2159

Abstract

DAFTAR ISI DAN PENGANTAR REDAKSI

Page 1 of 3 | Total Record : 27