cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Articles 22 Documents
Search results for , issue "Vol. 17, No. 2, Desember 2016" : 22 Documents clear
MODEL PENGUATAN SEKOLAH MADRASAH UNTUK MELAYANI SISWA BERKECERDASAN TINGGI MELALUI IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN BERBASIS SISTEM KREDIT SEMESTER (SKS) supriyanto, eko
Profetika Jurnal Studi Islam Vol. 17, No. 2, Desember 2016
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v17i02.5294

Abstract

By services regular of education, so become accomplish service for gifted student ignore. It has been nesecerry streghtening the Madrasa institution for competent give of serve through diversivication of learning so that gifted student avoid the underachievement and potential of inovaton and productie them not lost. one of method of empowering to the Madrasa institution through implementation of semester credit system that have capacity to follow of character and learning style of gifted students. Methode of the research used R&D and method of gathering data with interview method. Data analysis with folw analysis. Final result of this research is conversion of packet curriculum method to SKS and application of curriculum based SKS method special for gifted SKS. Research location in Madrasa Amanatul Ummah at Pacet Mojokerto east Java. Model of pocket curriculum convertion appreciated 1.88 hours  and model of proposing of curriculum based SKS using duration time about 4 semester with long time have been instruction 4 months. SKS that taken every semester on everage as many as 40 SKS. For accomplish of curriculum applied compacting curriculum to discovery essential courses.  Dengan layanan pendidikan yang regular, maka layanan untuk siswa cerdas menjadi terabaikan. Diperlukan penguatan kelembagaan Madrasah untuk mampu melayani melalui diversifikasi layanan belajar agar siswa cerdas tidak mengalami underachievement dan potensi inovatif dan produktifnya hilang. Satu cara untuk menguatkan Madrasah melalui penerapan sistem kredit semester yang mampu mengikuti karakter dan irama belajar siswa cerdas.Metode penelitian menggunakan metode R&D dan metode pengumpulan data menggunakan metode interview. Analisis data menggunakan analisis mengalir. Hasil akhir penelitian ini adalah menemukan model konversi kurikulum paket kedalam SKS dan model penerapan kurikulum berbasis SKS khusus siswa berkecerdasan tinggi, lokasi penelitian di Madrasah Amanatul Ummah Pacet Mojokerto.Model konversi kurikulum paket dihargai 1.88 jam dan model penyusunan kurikulum berbasis SKS menggunakan durasi waktu 4 semester dengan 4 bulan kegiatan belajar. SKS yang ditempuh setiap semester rata-rata 40 SKS. Untuk keterlaksanaan kurikulum dilakukan pemampatan kurikulum untuk menemukan materi esensial.
AHLU KITAB MENURUT SAYYID QUTHB DALAM TAFSIR FI ZILAL Al-QUR’AN Mustakim, Heru
Profetika Jurnal Studi Islam Vol. 17, No. 2, Desember 2016
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v17i02.5299

Abstract

The destination that Allah created human being is to whorship to Allah as an instruction and explanation about whorship. Then Allah sent down his Qur’an and delivered his Prophet as conveyars of the role of the Allah and the lost Kitab that has been sent down to Muhammad SAW as the instruction and figure for the moslems people untill the end of time. The meeting among Islam and Christian and Jew has been running since the birth of Islam in Jazeera. The first century of Masehi, in tht meeting the holy Qur’an is a holy book for moslems took its possision as the corrector for the holy books before. Especially the holy book that has been brought by christians, it’s called Al Kitab. The problems about Ahlu Kitab (Jew and Christian) are very important to be explained, because these problems impact to our aqidah, whorship, relationship many kinds of aspect of life for moslems, beside that the meaning of Ahlu Kitab who is Ahlu Kitab is still cuarreled by ulama, especially still cuarreted by ulama, that this kitab is only for Jew and Christian or there is still group out of them that include in them. Sayyid Qutb is controversi Mufassir among moslems and far ikhwaanul Muslimin. Sayyid Qutb is a figure that was loved by Moslems and as an inspirator for them but in another way the thought of Sayyid Qutb was given comment by ulama’ because of trouble understanding the verse of Holy Qur’an, and some deviation in his aqidah, especially about takfir to the people that have different understanding. After his death Sayyid Qutb’s ideology doesn’t lose away and decrease, in other hand it develope more not only in Egypt but spread to all of countries in the world, finally fondamentalist movement appeared. So that the writter wanted to analyze about the Ahlu Kitab  depended on Sayyid Qutb’s book, called Tafsir fie dhilail Qur’an to be applied in Indonesia. The research method that used by the writter is analysist description with library research, this research about Sayyid Quthb’s thought which spreaded in many creation of writting that written became the book that written by someone or many other people. Ahlu Kitab depended on Sayyid Quthb are Jew and Christian generally, the meaning of that statement Sayyid Quthb didn’t limit only for Israel scion (Ya’kub) but all of people who have ideologist as Jew and Christian ideologist, so that they are called Jew and Christian. Depended on Sayyid Quthb, Ahlu Kitab are infiedels politheist. Including people that have religion except Ahlu Kitab and the religions except Islam was still considered as infidel untill they believed in Muhammad and Al Qur’an. The research of this thesis is still about describing generally so that it still needs analysis deeply and in detail. In order to make new knowledge that can be guide for moslem in communication among them and not moslems.  Tujuan Allah SWT menciptakan manusia adalah untuk menyembah kepada-Nya. Kemudian Allah SWT menurunkan kitab suci al-Quran dan mengutus nabi-Nya sebagai penyampai kabar tentang peran Allah SWT dan Kitab yang hilang yang telah diturunkan kepada Muhammad SAW sebagai instruksi dan gambaran untuk orang-orang muslim sampai akhir zaman. Pertemuan antara Islam, Kristen, dan Yahudi telah berjalan sejak lahirnya Islam di Jazeera pad abad pertama Masehi, al-Qur’an merupakan kitab suci umat Islam berfungsi sebagai penyempurna kitab-kitab sebelumnya. Terutama kitab yang telah dibawa oleh orang-orang Kristen (al-Kitab). Masalah Ahlu Kitab (Yahudi dan Kristen) sangat penting untuk dijelaskan, karena masalah ini berdampak pada aqidah dan berbagai aspek kehidupan umat Islam. Sayyid Qutb adalah seorang Mufassir di kalangan umat Islam, ia merupakan sosok yang sangat dicintai serta sebagai inspirator bagi umat Islam. Akan tetapi, di sisi lain, ia juga sering dikritik oleh para ulama lain, karena dianggap terlalu sulit dalam memahami tafsir-tafsirnya. Setelah kematiannya, ideologi Sayyid Qutb tidak hilang dan menurun, di sisi lain ia lebih berkembang tidak hanya di Mesir tapi menyebar ke semua negara di dunia, akhirnya gerakan fundamentalis muncul. Sehingga penulis ingin menganalisis tentang Ahlu Kitab berdasarkan pada buku Sayyid Qutb, yang disebut Tafsir fi dilalil Qur'an untuk diterapkan di Indonesia. Metode penelitian yang digunakan adalah deskripsi analitik, jenis kepustakaan. Hasil penelitian adalah, bahwa Ahlu Kitab yang berpedoman pada Sayyid Quthb adalah orang Yahudi dan Kristen pada umumnya, artinya Sayyid Quthb tidak membatasi hanya untuk bani Israel (Ya'kub), tetapi semua orang yang memiliki ideologi Yahudi dan Kristen mereka dipanggil Yahudi dan Kristen. Berdasarkan pada Sayyid Quthb, Ahlu Kitab adalah anti politisi. Termasuk orang-orang yang beragama kecuali Ahlu Kitab dan agama-agama kecuali Islam masih dianggap sebagai kafir sampai mereka percaya kepada Muhammad dan al-Qur'an. Penelitian tesis ini masih membahas secara umum sehingga masih memerlukan analisis secara mendalam dan secara rinci. Untuk mendapatkan pengetahuan baru yang bisa menjadi panduan bagi umat Islam dalam berkomunikasi di antara mereka dan dan juga dengan umat non Islam.
METODE PEMBELAJARAN TAḤFĪẒ AL-QUR’AN DI MADRASAH ALIYAH TAḤFĪẒ NURUL IMAN KARANGANYAR DAN MADRASAH ALIYAH AL-KAHFI SURAKARTA Suryono, Suryono; Anshori, Ari; Muthoifin, Muthoifin
Profetika Jurnal Studi Islam Vol. 17, No. 2, Desember 2016
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v17i02.5295

Abstract

Madrasah Aliyah (MA) is an educational institution under the ministry of religion affair that have special features to deliver next-generation learners become knowledgeable, proficient in science and morality. MA Taḥfīẓ Nurul Iman Karanganyar and MA al-Kahfi Surakarta, both these madrassas have a role in educating students, families and the nation by organizing educational programs with the national curiiculum, ministry of religion affairs and the flagship program in the form of taḥfīẓ al-Qur'an. This study was a qualitative research to describe the data collected as the scope of its research and field as a place of research (field research). The nature of this research more towards research comparative studies, since the object of research comparing the learning method taḥfīẓ al-Qur'an in MA Taḥfīẓ Nurul Iman Karanganyar and MA al-Kahfi Surakarta. Analyzed is done by way of organizing data. The data collected by using documentation, observation and interviews. All data that has been collected by a variety of techniques organized, sorted, grouped and categorized so you can find an appropriate theme taḥfīẓ method of learning the al-Qur'an at MA Taḥfīẓ Nurul Iman Karanganyar and MA al-Kahfi Surakarta. Researchers concluded that the method applied in teaching taḥfīẓ al-Qur'an in MA Taḥfīẓ Nurul Iman there are seven methods, namely: juz’i, simā’i, tasmī’, murāja’ah, jama’, linking verses with meaning and kitābah, and its implementation has been effective and efficient. Whereas in MA al-Kahfi Surakarta there are five methods, namely: juz'i, jama’, simā’i, tasmī’, and muraja'ah. The operation has been effective but not efficient. Then bring up a comparison that in target taḥfīẓ al-Qur’an  in MA Taḥfīẓ Nurul Iman are more than the target MA al-Kahfi, MA Taḥfīẓ Nurul Iman methods applied more than in MA al-Kahfi and the views of the value produced both have been equally effective, MA Nurul Iman has been efficient while MA al-Kahfi has not been efficient. Madrasah Aliyah (MA) merupakan sebuah lembaga pendidikan di bawah kementerian agama yang memiliki ciri khusus untuk mengantarkan peserta didik menjadi generasi yang berwawasan luas, cakap dalam keilmuan dan berakhlak mulia. MA Taḥfīẓ Nurul Iman Karanganyar dan MA al-Kahfi Surakarta, kedua madrasah ini memiliki peran dalam mencerdaskan peserta didik, keluarga dan kehidupan bangsa dengan menyelenggarakan program pendidikan dengan kurikulum pendidikan nasional (diknas), kementerian agama (kemenag) dan program unggulan berupa Taḥfīẓ al-Qur’an. Penelitian ini termasuk dalam penelitian kualitatif dengan menjabarkan data-data yang terkumpul sebagai ruang lingkup penelitiannya dan lapangan sebagai tempat penelitiannya (field research). Sifat dari penelitian ini lebih ke arah pada penelitian studi komparasi, karena objek penelitian membandingkan metode pembelajaran taḥfīẓ al-Qur’an di MA Taḥfīẓ Nurul Iman Karanganyar dan MA al-Kahfi Surakarta. Data-data dikumpulkan dengan menggunakan teknik dokumentasi, observasi dan wawancara. Semua data yang telah dikumpulkan dengan berbagai teknik diatur, diurutkan, dikelompokkan dan dikategorikan sehingga dapat ditemukan tema yang sesuai dengan metode pembelajaran taḥfīẓ al-Qur’an di MA Taḥfīẓ Nurul Iman Karanganyar dan MA al-Kahfi Surakarta. Peneliti menyimpulkan bahwa Metode yang diterapkan dalam pembelajaran taḥfīẓ al-Qur’an di MA Taḥfīẓ Nurul Iman terdapat tujuh metode yaitu: juz’i, simā’i, tasmī’, murāja’ah, jama’, mengaitkan ayat dengan maknanya dan kitābah, serta pelaksanaannya sudah efektif dan efisien. Sedangan di MA al-Kahfi Surakarta terdapat lima metode yaitu: juz’i, jama,’simā’i, tasmī’, dan  murāja’ah. Adapun pelaksanaannya sudah efektif akan tetapi belum efisien. Kemudian memunculkan perbandingan bahwa target hafalan al-Qur’an di MA Taḥfīẓ Nurul Iman lebih banyak dari pada target di MA al-Kahfi, metode yang diterapkan di MA Taḥfīẓ Nurul Iman lebih banyak dari pada di MA al-Kahfi dan dilihat dari nilai yang dihasilkan keduanya sudah sama-sama efektif, MA Nurul Iman sudah efisien sedangkan MA al-Kahfi belum efisien.
THE LEGALITY OF INTERRELIGIOUS MARRIAGE IN THE PERSPECTIVE OF ISLAMIC LAW AND INDONESIAN POSITIVE LAW Ichsan, Muchammad
Profetika Jurnal Studi Islam Vol. 17, No. 2, Desember 2016
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v17i02.5300

Abstract

This study aims at examining the legality of interreligious marriage according to Islamic law and Indonesian positive law. To reach the goal set by this research, a descriptive method is used in the writing while an analytical method is employed to scrutinize the relevant problems. This study finds that interreligious marriage has spread widely among Indonesians that it has now become a phenomenon. However, Islam does not recognize a Muslim woman's marriage unless she is married by a man belonging to the same religion, i.e. a Muslim. A Muslim man is not permitted to marry a mushrik (polytheist) woman. It is lawful for him to marry a woman from the Ahlul Kitaab (Jews and Christians), but Indonesian ulemas prohibit such a marriage as well because of the negative outcomes. Meanwhile, the 1974 Indonesian Marriage Law fails to address the issue of interreligious marriage in a clear manner. This brings forth at least three interpretations: firstly, the law does not regulate interreligious marriage at all; secondly, the law allows it; and thirdly, the law denies it. Through an analysis, the last interpretation is found to have stronger reasons than the others.  Penelitian ini bertujuan untuk menguji legalitas pernikahan antaragama menurut hukum Islam dan hukum positif Indonesia. Agar tercapai tujuan yang diinginkan, maka penelitian ini menggunakan metode deskriptif untuk menganalisis masalah yang sedang diteliti. Studi ini menemukan bahwa pernikahan antaragama telah menyebar luas di kalangan masyarakat Indonesia yang kini telah menjadi fenomena. Namun, Islam tidak mengenali pernikahan wanita Muslim kecuali jika dia menikah dengan pria yang memiliki agama yang sama, yaitu seorang Muslim. Seorang pria Muslim tidak diizinkan untuk menikahi wanita musyrik (politeis). Dan halal baginya untuk menikahi wanita dari Ahlul Kitaab (Yahudi dan Kristen), namun sebagian ulama Indonesia tetap melarang pernikahan semacam ini, karena beberapa alasan. Sementara itu, Undang-Undang Perkawinan Indonesia 1974 gagal menangani masalah pernikahan antaragama dengan cara yang jelas. Ini setidaknya menghasilkan tiga interpretasi: pertama, hukum sama sekali tidak mengatur pernikahan antaragama; Kedua, hukum mengizinkannya; Ketiga, undang-undang tersebut menolaknya. Melalui sebuah analisis tersebut di atas, disimpulkan bahwa jenis interpretasi yang terakhir ditemukan memiliki alasan yang lebih kuat daripada alasan yang lainnya.
TAFSIR QUR’AN INDONESIA TENTANG AGAMA-AGAMA: Telaah Kitab “Al-Quran dan Tafsirnya” dan Kitab “Tafsir al-Mishbah” Hidayat, Syamsul
Profetika Jurnal Studi Islam Vol. 17, No. 2, Desember 2016
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v17i02.5296

Abstract

This study departs from the questions of how the paradigm of the study of religions according to the Koran, which include: the vision of the Quran about the meaning and concept of religion, the Koran's vision about the meaning and scope of the study of religions, Quran vision methods and approach, and purpose in religious studies. Methodologically, this study focuses its study on the book of Tafsir al-Misbah M. Quraish Shihab's work, and al-Karim wa Quranul Tafsiruhu Ministry of Religious Affairs team works primarily related verses above problems, by using mawdû'i approach. After going through the process of data collection and analysis, some conclusions can be drawn se¬bagai the following: (1) The concept of religion in the sight of the Koran there are two meanings, as the revelation of God's religion is absolute and sacred, and aga¬ma as the process and outcome of human understanding the revelation of God, which is profane and relative, (2) Al-Quran shows that the study of religion, both in the sense and meaning ke¬dua first, the principle of plurality. The existence of truth claims, is at the basic ideas and the religious substance of the cored al-Islam or al-istislam, and tawhid. The study of religions in view of the Quran in addition to nature of science, as well as socio-ethical and theological. Kajian ini berangkat dari pertanyaan bagaimanakah paradigma studi aga­ma-agama menurut Al-Quran, yang meliputi: visi Al-Quran tentang makna dan konsep agama, visi Al-Quran tentang pengertian dan ruang lingkup studi agama-agama, visi Al-Quran tentang metode dan pendekatan, serta tujuan dalam studi agama. Secara metodologis, kajian ini memfokuskan kajiannya ke­pa­da kitab Tafsir al-Misbah karya M. Quraish Shihab, dan Al-Quranul Karim wa Tafsiruhu karya Tim Kementerian Agama RI terutama ayat-ayat yang berkaitan permasalahan di atas, dengan menggunakan pendekatan mawdû'i. Setelah melalui proses pengumpulan data dan analisis, dapat diambil beberapa kesimpulan se­bagai berikut: (1) Konsep agama dalam pandangan Al-Quran ada dua makna, agama sebagai wahyu Allah yang mutlak dan sakral,  dan aga­ma sebagai proses dan hasil pemahaman manusia terhadap wahyu Allah, yang bersifat profan dan relatif, (2) Al-Quran menunjukkan bahwa kajian ter­­­hadap agama, baik dalam arti  yang pertama maupun makna yang ke­dua, dengan prinsip pluralitas. Adanya klaim ke­benar­an, berada pada wilayah ide-ide dasar dan substansi keberagamaan yang berintikan pada al-islâm atau al-istislâm, dan tawhid. Studi aga­ma-agama dalam pandangan Al-Quran di­sam­ping bersifat keilmuan, juga sosial etis dan teologis.  
THE CHARACTER EDUCATION VALUES IN QUR’ANIC VERSES Budihardjo, Budihardjo
Profetika Jurnal Studi Islam Vol. 17, No. 2, Desember 2016
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v17i02.5301

Abstract

Character education is one of the main goals of education. Character education is important due to the common believe that there is the degeneration of ethic and moral of the learners, and also due the rise of juvenile delinquency. Then, character education comes to recover it. Character education can be integrated in various aspects, such as in study al-Qur’ān. The integration between character education and the interpretation of al-Qur’an will make new insight of character education. Moreover, it will be strengthened by the words of Allah. This particular research is intended to reveal whether studies about character education in al-Qur’an will provide a particular kind of character education based on Qur’anic verses, and whether there is any relevance between character education as presented in Qur’anic verses with those presented in curriculum 2013?. To answer these questions, the researcher used descriptive comparative approach, library research as the kind of research, and the use of documentary for collecting the data. This study shows that there are some character education as presented in Qur’anic verses and that there is a  relevance between character education values in curriculum 2013 and character education in Qur’anic verses. From the relevance, it is concluded that the character education as presented in Qur’anic verses suggest similar goals as the character education value in curriculum 2013. Pendidikan karakter merupakan salah satu tujuan utama dari pendidikan itu sendiri. Pendidikan karakter sangat penting diajarkan kepada peserta didik lantaran adanya kepercayaan di kalangan masyarakat bahwa dewasa ini telah terjadi degradasi moral dan kenakalan pada peserta didik. Sehingga hadirnya pendidikan karakter dirasa sangat penting untuk memulihkan problem di atas. Apalagi, jika pendidikan karakter itu diintegrasikan dengan nilai-nilai pendidikan yang ada dalam studi al-Qur'an. Untuk itu penelitian ini dimaksudkan untuk mengungkapkan bagaimana studi tentang pendidikan karakter jika dikaitkan dalam perspektif al-Qur'an?, dan apakah ada relevansi antara pendidikan karakter seperti yang disajikan dalam ayat-ayat al-Qur’an dengan yang disajikan dalam kurikulum 2013?. Untuk menjawab pertanyaan ini, peneliti menggunakan pendekatan komparatif deskriptif, penelitian kepustakaan sebagai jenis penelitian, dan penggunaan dokumenter untuk mengumpulkan data. Studi ini menunjukkan bahwa ada beberapa pendidikan karakter seperti yang disajikan dalam ayat-ayat al-Quran, dan ditemukan ada relevansi antara nilai pendidikan karakter dalam kurikulum 2013 dan pendidikan karakter dalam ayat-ayat al-Qur’an. Begitu juga ditemukan bahwa nilai-nilai pendidikan karakter sebagaimana yang terdapat dalam ayat-ayat al-Qur’an, ternyata selaras dengan nilai-nilai pendidikan karakter yang ada dalam kurikulum 2013.
FILSAFAT MANUSIA MENURUT MUHAMMADIYAH Sulistyono, Tabah
Profetika Jurnal Studi Islam Vol. 17, No. 2, Desember 2016
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v17i02.5297

Abstract

This thesis is aim to observe human philosophical system in Muhammadiyah thought. The object being discussed in this research are the teories which discussed the essense of human being and the possition of philosopical human-being in Muhammadiyah. The main sourses are KH. Ahmad Dahlan`s thought and Muhammadiyah ideology and steps. The other supportiy sourches are the consideration of activist in otonom organization who uses the name of Muhammadiyah or the researcher outsider of Muhammadiyah.This research uses qualitative-rasionalistic paradigma.This kind of research based on its range is religius research. Based on its type is explorative research. It uses philosophical research. The researcher observes the data by the steps of follows: first, observius the datas philosophycally,e.g. ontology, epistemology and axiology. Second, observity datas philosophically though verstehen (understanding) method such as, symbolic step, interpreting and digging step, constructive step or symbolic of life. Third, the result of verstehen is presented by expressing and explaining method.The human philosophycal ontology discussion in Muhammadiyah thought textually is only to understand one point of view of leaning personal and camera-view. Human philosophical epistemology in Muhammadiyah thingking. The are two methods to understand human-being, by purifity the heart by remembering of Allah, sholat and the thinking about heveafter purily. Third,human philosophical axsiology in Muhammadiyah which involes unity, believes, oven-minded, propetis-humanis, responsibility, and religiousity. Obviously, there are two models of human according to Muhammadiyah e.g. enlightened human (rausyan-fikr-Muhammadiyah) and monodualis or monodualist-Muhammadiyah. The concept of human philosophies in Muhammadiyah is existentialist-idealist. The Muhammadiyah is the man who are thinking for act or the man who just act in worship.   Tujuan tesis ini adalah mencari konsep filsafat manusia dalam pemikiran Muhammadiyah. Persoalan yang dibahas dalam penelitian ini adalah teori-teori yang membahas esensi manusia dan kedudukan filsafat manusia dalam pemikiran Muhammadiyah. Sumber utamanya adalah pemikiran KH. Ahmad Dahlan, ideologi dan langkah Muhammadiyah. Sedangkan sumber pendukungnya adalah pemikiran aktifis ortom yang mengunakan nama Muhammadiyah atau para peneliti outsider Muhammadiyah. Penelitian ini menggunakan paradigma kualitatif-rasionalitik. Jenis penelitian ini berdasarkan ruang lingkupnya termasuk penelitian keagamaan, berdasarkan tipe penelitian, termasuk penelitian eksploratif, dan menggunakan pendekatan filsafat. Peneliti mengalisa data menggunakan langkah-langkah sebagai berikut: pertama, menganalisa data dengan filsafat ilmu, yaitu ontologi, epistemologi dan aksiologi. Kedua, menganalisa secara filosofis data-data tersebut dengan metode verstehen (pemahaman), yaitu tahap simbolik, tahap pemaknaan atau penggalian, tahap kontruktif atau kehidupan simbol dan tahap interpretasi. Ketiga, hasil dari verstehen disajikan dengan metode pengungkapan atau metode penerangan. Kajian ontologi filsafat manusia dalam pemikiran Muhammadiyah secara tekstual hanya memahami dari salah satu sudut atau meminjam Leaming personal and camera view. Kedua, epistemologi filsafat manusia dalam pemikiran diri Muhammadiyah. Ada dua cara atau jalan untuk memahami diri manusia, yaitu dengan penyucian hati dengan cara dzikrullah, sholat dan memikirkan tragedi kedasyatan akhirat serta dengan tafakkur (berfikir sejernih-jernihnya). Ketiga, aksiologi filsafat manusia dalam pemikiran diri Muhammadiyah. Produknya adalah sifat-sifat humanitas yang meliputi persatuan, amanah atau kepercayaan, keterbukaan, propetis-humanis,  tanggungjawab, dan nilai religiuitas. Setidaknya ada dua model manusia secara nyata menurut Muhammadiyah, yaitu model manusia tercerahkan atau rausyan-fikr-Muhammmadiyah dan model manusia monodualis atau monodualis-Muhammadiyah. Paham atau aliran filsafat manusia dalam Muhammadiyah adalah eksistensialis-idealis. Realnya adalah manusia yang hanya berfikir untuk beramal atau manusia yang hanya beramal saja yang disebut manusia Muhammadiyah. 
الأعمال الطبية الحديثة بين الأحكام الفقهية والقانون الإندونيسي (دراسة مقاصدية في طفل الأنابيب و منع الحمل و زراعة الأعضاء) Fajar, Ricky
Profetika Jurnal Studi Islam Vol. 17, No. 2, Desember 2016
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v17i02.5302

Abstract

A The purpose of this study is to describe the surgery of modern medicine in in vitro fertilisation (IVF), contraception and organ transplants between Indonesian  regulation, it’s seen from the viewpoint of "maqosidsyareahIslamiyah," and I started with definition of the surgery of modern medical, legal jurisprudence, legislation and maqosidsyareah, then an explanation of the applicable regulations, and laws maqosid of the review that took place in Indonesian society.in this study I used qualitative research and literature, by reading medical books required and books of fiqh contemporary for completeness, then I used the method of comparison, between the opinions of medicine and jurisprudence, and method of conclusions by looking at events that hit with a solution from the point of view of maqosid to keep human emergency law, of keeping religion, life, property, intellect, and descent, with the words of scholars in the application maqosidsyareah. Conclusions of law IVF, including temporary because of sterility of husband and wife, and this is permitted, other than one of the two or lease womb is forbidden like adultery, although there is a need and treat infertile, thenvasectomy and tubal ligation including emergency contraception is forever, the rest, including the need is temporary, except spiral, modern gelding, and implants that could be forever, then autograft, isograft, and allograft included in the emergency laws if they can help the lives, while the rest, including the need if it’s proven to be beneficial. Tujuan tesis ini menjelaskan operasi medis modern dalambayi tabung, kontrasepsi dan transplantasi organ antara undang undang Indonesia dan hokum fiqih, dilihat dari sudut pandang “maqosid syareah islamiyah”, dan saya mulai dengan pengertian operasi medis modern, hukum fiqih, undang-undang dan maqosid syareah, kemudian penjelasan tentang ketentuan yang berlaku, serta hokum maqosid dari tinjauan yang terjadi di masyarakat Indonesia.Saya berpedoman dalam penelitian ini dengan studi kualitatif dan kepustakaan, dengan membaca buku kedokteran yang diperlukan dan buku fiqih kontemporer untuk kelengkapanya, kemudian saya gunakan metode perbandingan,antarapendapat kedokteran dan fiqih, dan metode kesimpulan dengan melihat kejadian yang melanda dengan solusi dari sudut pandang maqosid untuk menjaga hukum darurat manusia, dari menjaga agama, jiwa, harta, akal, dan keturunan, dengan perkataan ulama dalam penerapan maqosid syareah. Kesimpulan dari hukum bayi tabung, termasuk kebutuhan dengan sebab mandulnya suami istri, dan ini dibolehkan, selain salah satu dari keduanya atau sewa rahim haram mirip zina,walau ada kebutuhan dan mengobati mandul, kemudian vasektomi dan tubektomi termasuk kontrasepsi darurat bersifat selamanya, sisanya termasuk kebutuhan bersifat sementara, kecuali spiral, kebiri modern, dan implant yang bisa bersifat selamanya, kemudian autograft, isograft, dan allograft termasuk dalam hukum darurat jika mampu menolong nyawa, adapun sisanya termasuk kebutuhan jika terbukti bermanfaat. الخلاصة: إستهدف هذا البحث بيان الأعمال الطبية الحديثة في أطفال الأنابيب ومنع الحمل وزراعة الأعضاء بين القانون الإندونيسي والأحكام الفقهية،من جانب حكم "مقاصد الشريعة الإسلامية"، وابتدأت في هذا الجهد بمفهوم العملية الطبية الحديثة، ثم مفهوم الأحكام الفقهية و القانون الإندونيسي و مقاصد الشريعة منها.ثم بيان الضوابط الطبية والفقهية فيها، ثم الأحكام المقاصدي بنظر إلى الواقع في مجتمع إندونيسي.وقد إعتمدت الدراسةبالبحث النوعي،وإعتمدت بدراسة المكتبية بقرآءة الكتب الطبية المحتاجة والكتب الفقهية المعاصرة لإتمام المعلومات.كما إستخدمت المنهج المقارن,وذلك بمقارنة بين موقف الطب و الفقه.والمنهج الإستنباطي بنظر إلى الواقعة المنتشرة الذي محل تحليلها من جانب المقاصد لحفظ ضرورة الناس، من حفظ الدين،والنفس،والمال،والعقل والنسل مع أقوال العلماء في تطبيق المقاصد الشريعة. ونتيجة المقاصد في طفل الأنابيب حكمه داخل في الحاجية بين الزوجين بسبب العقم وذلك جائز فعلا،أما من غير أحدهما أو مع إستئجار الأرحام فهذا حرام وشبه زنا ولو بوجود حاجة ولعلاج العقم، ثم فاسكتومي وتوبكتومي من نوع منع الحمل الضروري المؤبد،وبقية الأنواع داخل في حكم حاجية للمؤقتإلاّ اللولب،والخصاء الحديث،والهورمونات الجلدية الإمتصاص في نوع حاجية دائمة،ثم غريسة ذاتية متمالثة ومتباينة من الضرورة حكما إن حصلت إنقاذ الحياة وبقية الأنواع في الغريسة حكمه كالحاجية إذا تبينت الفائدة.
PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM AHMAD SYAFII MAARIF Ali, Mohamad
Profetika Jurnal Studi Islam Vol. 17, No. 2, Desember 2016
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v17i02.5293

Abstract

The Indonesian Islamic intellectualism is increasingly dynamic and accounted in the global arena. This perception occurs because on the one hand, Indonesia is the largest concentration of Muslim population in the world, and on the other side there is an ontentic, dynamic and inclusive process of Islamic intellectualism. The 1980s Indonesian Islam gave birth to a series of "new intellectuals" whose ideas contributed significantly to embroidering the Indonesian pillars of social progress and justice: the Islamization, nationalism, humanity and modernity. One of the pioneers of new intellectualism worth taking into account is Ahmad Syafii Maarif. He is widely known as an Islamic thinker as well as a social activist involved in solving national and humanitarian issues. So far, the public recognizes Buya Syafii as a Muslim historian and intellectual who devotes his enormous intellectual energy to builds an inclusive Islamic culture. Beyond, there is one dimension of Buya Syafii's idea that is almost oblivious to the public's attention, namely the spark of his thoughts on Islamic education which is driven concern over the social reality of Islamic education which is dichotomous, backward, and poor in thought.The thought of Buya Syafii is intended to find a way out of the crisis of Islamic education from the "trap" of history, namely by redialog with the Qur'an. Hypothetically, Islamic education thought he borrowed, patterned religious-critical.Geliat intelektualisme Islam Indonesia semakin dinamis dan diperhitungkan di kancah global. Persepsi ini terjadi karena di satu sisi, Indonesia merupakan tempat konsentrasi penduduk Muslim terbesar di dunia, dan di sisi lain ada proses pertumbuhan intelektualisme Islam yang ontentik, dinamis dan inklusif. Dekade 1980-an Islam Indonesia melahirkan sederet “intelektual baru” yang ide-idenya berkontribusi signifikan dalam menyulam pilar-pilar Indonesia berkemajuan dan berkeadilan sosial, yaitu: ke-Islaman, kebangsaan, kemanusiaan, dan kemodernan. Salah satu pelopor intelektualisme baru yang layak diperhitungkan adalah Ahmad Syafii Maarif. Dia dikenal luas sebagai pemikir Islam sekaligus aktivis sosial yang terlibat dalam upaya pemecahan persoalan kebangsaan dan kemanusiaan. Sejauh ini, publik mengenal sosok Buya Syafii sebagai seorang sejarawan dan cendekiawan Muslim yang mencurahkan energi intelektualnya yang begitu besar untuk membangun kultur Islam inklusif. Di luar itu, ada satu dimensi pemikiran Buya Syafii yang hampir luput dari perhatian publik, yaitu percikan pemikirannya tentang pendidikan Islam yang digerakkan keprihatinan atas realitas sosial pendidikan Islam yang dikotomik, terbelakang, dan miskin pemikiran. Pemikiran Buya Syafii ditujukan untuk mencari jalan keluar atas kemelut pendidikan Islam dari “jebakan” sejarah, yakni dengan mendialogkannya kembali dengan Al-Qur’an. Secara hipotetik, pemikiran pendidikan Islam yang diusungnya bercorak kritis-religius.
DISTORSI SEJARAH ISLAM PADA MASA AL-KHULAFĀ AR-RĀSYIDŪN DAN DAULAH UMAYYAH (Tinjauan Kritis Buku Ajar Sejarah Kebudayaan Islam Madrasah Aliyah) Andri Permana, Luthfi Romdhon
Profetika Jurnal Studi Islam Vol. 17, No. 2, Desember 2016
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v17i02.5298

Abstract

Distortion in the history of Islam has been occured since the first codification of the history of Islam which supported by Shi’ites historian such as Abu Miḥnaf Luṭ bin Yahya and others. Distortion in modern era refers to hegemony of orientalism which has big influence and power in this field. Distortion was caused by religion, sect, money motive etc. This distortion spread from society to school. The distortion happened at Rashidun Caliphate’s time, which was started by rebellion toward Uṡmān. The rebelllion cause Uṡmān death. That killing has great implications; Jamal and Siffīn wars, Kharijites revolts, hatred from some groups toward Umayyad Caliphate and in other effects at ummah. This writing aims to find out a method in studying the history of Islam, distortion and its implications, different opinions between ṣaḥābat and Islamic view toward it. Author applied in writing this thesis bibliography method with historic-philoshopic approach from datas and evidences.  Based on datas and evidences, the author can conclude that methods at researching, writing and teaching history of Islam is very important to purify the history of Islam from distortion. Distortion means attempt to mislead datas or misinterpert intentionally or unintentionally. Distorsions have bad effects at Islam and ummah. If datas and histories are distorted, it will estrange people from Islam slowly which found out at some people and groups. Teaching history of Islam at schools which also distorted need to be totally reformed started from researching, writing and teaching method. The different opinions between ṣaḥābat because of the death of Uṡmān. Ṣaḥābat had different opinions about hastening or postponing qiṡās to Uṡmān murderers which cause Jamal and Siffīn wars. The implications of different opinions between ṣaḥābat have big influence in people creed toward ṣaḥābat from that day until now. It also causes hatred from some people and sects toward Umayyad Caliphate because Mu’āwiyah; founder Umayyad Caliphate has some different opinions with Ali-raḍiyallahu’anhuma- besides other hatred factors.  Distorsi sejarah Islam terjadi sejak masa awal penulisan sejarah Islam yang terutama dimotori oleh Syiah melalui periwayatan sejarawan seperti Abu Miḥnaf Luṭ bin Yahya dan lainnya. Pada masa sekarang terutama karena hegemoni orientalisme yang begitu kuat. Distorsi tersebut terjadi karena motif agama, sekte, materi dan lainnya. Hal tersebut menyebar di masyarakat hingga level sekolah. Distorsi tersebut terutama pada fase khulafaurrasyidin dengan pemberontakan terhadap Uṡmān hingga ia terbunuh yang berimplikasi panjang; perang Jamal dan Siffīn, pemberontakan Khawārij, kebencian sebagian kalangan kepada Daulah Umawiyyah dan efeknya yang lain di tubuh umat dalam banyak bidang. Penelitian ini bertujuan mengetahui cara orisinil dalam studi sejarah Islam untuk menangkal distorsi, distorsi dan dampaknya serta perselisihan diantara para ṣaḥābat dan pandangan Islam menyikapi perselisihan tersebut. Penelitian ini menggunakan metode penelitian bibliografi dengan pendekatan historis-filosofis dari data yang didapatkan. Berdasar data dapat disimpulkan bahwa metode studi sejarah Islam penting dalam upaya menjaga kemurnian sejarah Islam dari distorsi. Distorsi itu sendiri bermakna upaya menghancurkan Islam terlepas sengaja atau tidak sengaja. Dampak distorsi berpengaruh pada Islam dan umat, ketika informasi dan sejarah yang diterima terdistorsi, hal itu akan menjauhkannya dari agama secara perlahan-perlahan sebagaimana yang terjadi pada sebagian kalangan. Pengajaran sejarah Islam di sekolah pun ikut terdistorsi yang menunjukkan urgensi perbaikan menyeluruh yang harus dimulai dari metode penelitian, penulisan dan pendidikan yang orisinil. Perselisihan antar ṣaḥābat dipicu kematian Uṡmān yang terzalimi. Mereka berbeda ijtihad antara menyegerakan atau menunda qiṡās yang menyebabkan terjadinya perang Jamal dan Siffīn. Dampaknya di umat terasa terutama dalam masalah akidah terhadap ṣaḥābat sejak itu hingga sekarang. Hal tersebut juga mempengaruhi pandangan sebagian kalangan terhadap Daulah Umawiyyah mengingat posisi Mu’āwiyah; pendiri Daulah Umawiyyah yang berselisih dengan Ali -raḍiyallahu’anhuma- disamping sebab-sebab kebencian yang lain.

Page 1 of 3 | Total Record : 22