cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota salatiga,
Jawa tengah
INDONESIA
MUDARRISA Indonesian Journal of Islamic Education Studies
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education, Social,
MUDARRISA is an Indonesian journal of Islamic Education Studies published by Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga, Indonesia. MUDARRISA covers the study of Islamic education all over the world, especially at the primary and secondary (school) levels. The study should aim at gaining some new knowledge in the scope Islamic education (at those levels) or gaining any developmental advantages.
Arjuna Subject : -
Articles 156 Documents
Implementasi Pendidikan Profetik dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Syaifullah Godi Ismail
MUDARRISA: Jurnal Kajian Pendidikan Islam Vol 5, No 2 (2013)
Publisher : Prodi PGMI IAIN Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (470.496 KB) | DOI: 10.18326/mdr.v5i2.299-324

Abstract

Penelitian ini dilakukan di SMPN 4 Salatiga yang bertujuan untuk menjawab permasalahan 1) Bagaimana implementasi pendidikan tradisi kenabian dalam pengajaran Pendidikan Agama Islam? 2) Apa hambatan dalam implementasi pendidikan tradisi kenabian dalam pengajaran Pendidikan Agama Islam? 3) Bagaimana hasil implementasi pendidikan tradisi kenabian dalam pembelajaran pengajaran Pendidikan Agama Islam?. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan penelitian lapangan. Peneliti terjun ke lapangan untuk mengadakan observasi atas fenomena yang ada dalam lingkungan akademik. Data diperoleh dari interview, dokumen dan observasi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa implementasi pendidikan tradisi kenabian dalam pengajaran Pendidikan Agama Islam di SMPN 4 Salatiga menggunakan model pembelajaran pembiasaan dan kolektif, misi penanaman dan nilai-nilai kenabian kepada siswa dilakukan dalam materi, metode, dan evaluasi pembelajaran. Terdapat beberapa masalah dalam implementasi pendidikan tradisi kenabian tersebut yang kemudian memunculkan solusi yang dapat ditawarkan. Hasil dari implementasi pendidikan tradisi kenabian dapat membangun dan membentuk karakter dan moral siswa. Sehingga siswa memiliki perilaku yang mulia, hormat, dan toleran. The study was taken in SMPN 4 Salatiga,  which intends to answer the problems of 1) How is the implementation of the prophetic tradition of education in teaching Islamic religious education? 2) How can the problems of implementation of the prophetic tradition of education in teaching Islamic religious education? 3) How are prophetic tradition of education implementation results in learning education Islam? This study uses a qualitative method by a field research. Investigators went to the field to conduct observations of a phenomenon in a scientific circumstance. The data collected by interviews, documents and observations. Research conducted at SMPN 4 Salatiga. The results of the study pointed out that the implementation of the prophetic education in teaching Islamic education in SMPN 4 Salatiga is applied in the model of learning by habituation and collective model, planting mission and prophetic values on the learner through the learning materials, methods and evaluation of learning. There are a couple of the problems in the implementation of educational prophetic; there are some barriers and solutions offered. Results from the implementation prophetic education can build and shape the character and morals of students, so that students have an attitude of honor, respect and tolerance.  Kata kunci:    implementasi, pendidikan kenabian, pendidikan agama islam
Peran Guru Pendidikan Agama Islam dalam Menumbuhkan Karakter Anti Korupsi Nidhaul Khusna
MUDARRISA: Jurnal Kajian Pendidikan Islam Vol 8, No 2 (2016)
Publisher : Prodi PGMI IAIN Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (340.169 KB) | DOI: 10.18326/mdr.v8i2.173-200

Abstract

Penelitian ini membahas peran guru Pendidikan Agama Islam dalam menumbuhkan karakter anti korupsi dari siswa SMKN 1 Salatiga pada tahun akademik 2014/2015. Hal ini difokuskan pada: 1) bagaimana nilai-nilai pendidikan anti-korupsi dari siswa; 2) apa peran guru Pendidikan Agama Islam dalam membina dan menumbuhkan karakter anti-korupsi pada peserta didik; dan 3) faktor-faktor yang mendukung karakter dan hambatan dalam membina anti-korupsi kepada peserta didik. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Temuan penelitian menunjukkan bahwa kurikulum anti-korupsi sudah masuk dalam kurikulum Pendidikan Agama Islam. Peran guru Pendidikan Agama Islam bersama dengan guru lain seperti menginformasikan, memberikan saran, dan arahan. Guru PAI menumbuhkan karakter anti-korupsi dengan melatih salat lima waktu, menghargai kejujuran, menggunakan metode untuk melatih anti-korupsi, melatih peserta didik bertanggung jawab, disiplin waktu, belajar di luar kelas dan memberi sanksi. Hal yang mendukung karakter anti-korupsi tumbuh di SMKN 1 Salatiga adalah kerjasama dari semua guru, kantin sekolah, ekstrakurikuler, media informasi tentang bahaya korupsi, serta aturan ketat dari lembaga sekolah. Sementara kendalanya adalah sikap acuh tak acuh dari guru, keterbatasan dalam memantau siswa di luar sekolah, latar belakang yang berbeda dari peserta didik dan tidak ada kesepakatan kurikulum. This study discusses the role of Islamic Religious Teachers  in cultivating anti- corruption  character students of SMKN 1 Salatiga in academic year 2014/2015. It is focused on: 1) how is the educational values of anti-corruption of the students; 2) what is the role of Islamic religious teachers in fostering anti-corruption character on the learner; 3) what factors are supporting characters and obstacles in fostering anti-corruption to the learners. This study used a qualitative descriptive approach. The research findings showed that anti-corruption curriculum already included in the Islamic education curriculum. The roles of Islamic teachers together with other teachers such as inform, advice, and give direction as an example. PAI teachers foster anti-corruption character by trains five prayers on time, appreciate honesty, using methods to train anti-corruption, responsible learners trained, time discipline, learning outside the classroom and sanctioning. Supporters of anti-corruption in growing character in SMKN 1 Salatiga is the cooperation of all teachers, school canteens, extracurricular, many media information about the dangers of corruption, strict rules of school institutions. While the obstacles are the indifferent attitude of the teachers, the limitations in monitoring students outside of school, the different background of learners and there is no curriculum agreement. Kata kunci: guru Pendidikan Agama Islam, karakter, korupsi 
Back Issue of Mudarrisa Volume 3 Issue 2 All Six (6) Authors
MUDARRISA: Jurnal Kajian Pendidikan Islam Vol 3, No 2 (2011)
Publisher : Prodi PGMI IAIN Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1182.015 KB)

Abstract

This is the back issue of Mudarrisa Volume 3 Issue 2. Table of contents of Mudarrisa Volume 3 Issue 2:Pendidikan Humanis dalam Islam Mujib ................................................................................................ 159 Studi Analisis Nilai-Nilai Pendidikan Akhlak dalam Kitab Risalatul Mu’awanah Arif Hidayatulloh ............................................................................. 197 Nilai-Nilai Pendidikan Islam Dalam Ritual Tingkepan Munafiah .......................................................................................... 215 Strategi Guru PAI Dalam Membentuk Karakter Anak Tunagrahita Pada SMPLBN Isnaini Masruroh ............................................................................. 247 Membentuk Kepribadian Anak Dalam Pendidikan Islam Imam Subqi ...................................................................................... 271 Peran Kepemimpinan Kepala Madrasah Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan Islam Maryatin ........................................................................................... 293
Peranan Guru PAI dalam Pendidikan Akhlak di Sekolah Edi Kuswanto
MUDARRISA: Jurnal Kajian Pendidikan Islam Vol 6, No 2 (2014)
Publisher : Prodi PGMI IAIN Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (474.58 KB) | DOI: 10.18326/mdr.v6i2.194-220

Abstract

Pendidikan moral saat ini memiliki peran penting di suatu negara, sehingga layaknya pendidikan sekarang ini lebih diarahkan untuk membentuk karakter bangsa. Masalah yang timbul di bidang pendidikan, khususnya pendidikan moral merupakan tanggung jawab seorang pendidik (guru). Guru (pendidik) sebagai pelaksana kurikulum harus mampu menerapkan kurikulum dalam proses pembelajaran. Permasalahan yang diamati dalam penelitian ini adalah apa yang harus dilakukan guru (pendidik) supaya pendidikan akhlak tidak hanya dipahami oleh peserta didik tetapi mampu diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif menggunakan metode interaktif dan non interaktif. Dalam pendidikan moral di sekolah, guru memiliki peran yang sangat dominan, sedangkan peran yang dapat dilakukan oleh guru adalah sebagai berikut: 1) peran sebelum proses pembelajaran adalah: guru sebagai desainer instruksional, guru sebagai penjaga system nilai (teladan) serta guru pengganti orang tua; 2) peran dalam proses pembelajaran adalah: organizer, fasilitator, motivator, inovator dan mentor; 3) peran setelah proses pembelajaran adalah: evaluator. Moral education has an important role in the state, so that education is directed to shape the character of the nation. Issues that arise in the educational field, especially moral education is the responsibility of educator (teacher). Teachers as curriculum implementers should be able to apply the curriculum in the learning process. The problems observed in this study is what should teacher / educator do so that moral education is not only understood by learners but can be applied in everyday life. This research is a qualitative descriptive approach using interactive and non-interactive methods. In moral education at schools, teachers have a very dominant role, while the role which can be done by the teacher in outline as follows: 1) the role of pre-learning such as: teachers as instructional designers, teachers as a guard value (role model) as well as a substitute teacher parents; 2) role in the learning process such as: organizer, facilitator, motivator, innovator and mentor; 3) the role after learning such as: the evaluator. Kata kunci: guru pendidikan agama islam, akhlak, moral
NILAI-NILAI PENDIDIKAN AKHLAK PADA NOVEL HAFALAN SHALAT DELISA KARYA TERE LIY Zulaicha, Siti
MUDARRISA: Jurnal Kajian Pendidikan Islam Vol 1, No 1 (2009)
Publisher : IAIN Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to find the values of moral education (ahklaq) and describe the characteristics of the characters who appear in the Hafalan Shalat Delisa novel and its relevance in the current era of globalization. It is a library research, whereas the data collection uses documentary method, data analysis uses content analysis. The results obtained from this study are: (1) moral values education contained in the novel include the educational value towards: a) God (prayer, dhikr, and pray to Allah, upright accept acts of God, fear of God’s torture, and fear of losing the God’s grace), b) family (mutual respect, devotion, love and care for his family), c) self or ahklaq Mahmudah namely: (impatient, upright, gratitude, optimism, mutual help, hard work, and discipline) and ahklaq madzmumah (ignorant, stubborn, lying and jealousy) d) family (conjugal affection rights, the rights of the husband and wife together, birul walidain) e) environment (nurture and care all created by Allah SWT well). (2) Characteristics of the existing characters in the novel such as Delisa, the errant six years old girl who has different characteristics with children in her age in the case of curiosity, the character Ummi Salamah is a wife as well as good mother (shalihah) who possess high discipline in educating her children. (3) The relevance of educational values in globalization era is the importance of moral education. Through the character education curriculum as well as moral education as early as possible either at home, school, environment, and society to overcome moral decadence.
Pendidikan Islam dalam Masyarakat Madani Indonesia Irfan Charis; Mohamad Nuryansah
MUDARRISA: Jurnal Kajian Pendidikan Islam Vol 7, No 2 (2015)
Publisher : Prodi PGMI IAIN Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (333.108 KB) | DOI: 10.18326/mdr.v7i2.229-258

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk memetakan konsep, gagasan dan pola pendidikan Islam dalam masyarakat madani di Indonesia, dengan berpijak pada konsep pendidikan dan masyarakat madani dari aspek kesejarahan dan kenabian untuk memetakan konsep pendidikan Islam pada masyarakat madani Indonesia pada konteks kekinian dan masa yang akan datang. Penelitian ini menggunakan metode diskriptif analitis dengan mengkaji referensi yang bersumber dari perpustakaan. Dalam penelitian ini didapatkan kesimpulan bahwa masyarakat madani Indonesia mengacu kepada konsep masyarakat madaniyah yang dikembangkan oleh Rasulullah, yakni masyarakat yang memiliki keadaban demokrasi, bertakwa kepada Allah SWT, yang seimbang antara dimensi fikir (iptek) dan dimensi dzikir (imtaq),  dan mampu menyelaraskan dimensi Abdun, sebagai makhluk Allah yang tanpa daya dan dimensi Khalifah, sebagai pemimpin di muka bumi. Sehingga melahirkan sosok manusia yang dalam istilah al-Quran disebut sebagai Ulul Albab. Berangkat dari terbentuknya pribadi-pribadi yang Ulul Albab tersebut maka akan terbentuk sebuah komunitas yang dikenal dengan masyarakat madani Indonesia. This paper aims to map concepts, ideas and patterns of Islamic education in civil society in Indonesia, with rests on the concept of education and civil society from the historical aspect and the prophetic to map the concept of Islamic education in Indonesia's civil society in the context of the present and future. This research uses descriptive analytical method to assess references source from the library. It was concluded Indonesian civil society refers to the concept of Madaniyah society developed by the Prophet, the people who have the civility of democracy, fear Allah SWT, which is balanced between the fikr dimension (Science and Technology) and the dhikr dimension (imtaq), and able to harmonize the abdun dimension, as a creature of God is without power and the dimensions of the Caliph, as a leader on earth. It will create the human figure in terms of the Koran referred to as Ulul Albab. Departing from the formation of Ulul Albab, it will form a community known by the Indonesian civil society. Kata kunci: Pendidikan, Islam, Madani
Improving students’ learning achievement through group counseling of Islamic Cultural History Su lastri
MUDARRISA: Jurnal Kajian Pendidikan Islam Vol 9, No 1 (2017)
Publisher : Prodi PGMI IAIN Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (405.444 KB) | DOI: 10.18326/mdr.v9i1.97-119

Abstract

Learning achievement is the change of cognitive, affective, and psychomotor aspect as the effect of learning process which is measured through assessment, as the treatment to assess how far the material has been mastered by learners after getting learning experiences. This research was aimed to know the improvement of students’ learning achievements that have learning difficulty in group counseling of Islamic Cultural History subject. It was a classroom action research which was conducted in two cycles at the eighth grade of MTs Al Islam Pabelan Bringin in the second semester of 2016 academic year. The instruments which were used in this research were: a) syllabus; b) lesson plan; c) formative test. This research resulted that The research resulted that, the students’ learning outcome in learning the Islamic Cultural History at the eightth grade of MTs Al Islam Bringin in the pre cycle reached 25,80%, then in the first cycle it reached 58,06% so there was an improvement about 19.35%. learning reflection in the first cycle showed an improvement in teacher role as well as the percentage of learning outcome. However, it had not been maximal yet. While in the second cycle, it tend to describe the activity in group, that students were more proactive. As the result, the students’ learning outcome reached 77.41%. although it has not reached 100% yet it can be concluded that learners had passed the passing grade because it had reached over 75%.Keywords: learning ability, group counceling, learning achievement AbstrakHasil belajar merupakan semua perubahan kognitif, afektif dan psikomotorik sebagai  akibat  dari  proses  belajar  mengajar yang diukur melalui kegiatan penilaian, sebagai suatu  tindakan  untuk  menilai  sejauh  mana materi yang diberikan dikuasai peserta didik, setelah menerima pengalaman belajarnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar anak yang mengalami kesulitan belajar melalui kegiatan bimbingan belajar pada materi pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam. Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang dilakukan di kelas VIII MTs Al Islam Pabelan Bringin pada semester II tahun 2016 yang dilaksanakan dalam 2 siklus. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari: a) silabus; b) rencana pembelajaran; c) tes fomatif. Hasil penelitian yang dilakukan, bahwa kemampuan peserta didik dalam pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di kelas VIII MTs Al Islam Bringin pada pra siklus ketuntasannya mencapai 25,80%, kemudian siklus I mencapai 58,06% sehingga mengalami peningkatan sebesar 32,26%. Penerapan bimbingan belajar kelompok dapat meningkatkan kemampuan peserta didik dalam mata pelajaran SKI, terlihat dari siklus I mencapai 58,06% dan pada siklus II mencapai 77,41% sehingga mengalami peningkatan 19,35%. Perbaikan pembelajaran pada siklus I menunjukkan adanya peningkatan baik peran guru maupun persentase ketuntasan belajar. Namun demikian hasil belajar peserta didik belum maksimal. Sementara itu pembelajaran siklus II menjelaskan kegiatan dalam kelompok, peserta didik tampak lebih proaktif.  Hasilnya ketuntasan belajar peserta didik mencapai  77,41% meskipun belum dapat mencapai 100%, namun dapat dikatakan bahwa peserta didik telah mencapai ketuntasan belajar sebab telah memenuhi standar ketuntasan belajar 75%. Kata kunci: kemampuan belajar, bimbingan belajar, hasil belajar
Strategi Pengembangan Profesionalisme Tenaga Pendidik di Madrasah Wakhidati Nurrohmah Putri; Muhammad Aji Nugroho
MUDARRISA: Jurnal Kajian Pendidikan Islam Vol 8, No 2 (2016)
Publisher : Prodi PGMI IAIN Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (332.567 KB) | DOI: 10.18326/mdr.v8i2.313-340

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi pengembangan profesionalisme tenaga pendidik di madrasah, penelitian ini adalah penelitan diskriptif kualitatif yang mencoba mengeksplorasi makna profesionalisme pendidik sebagai langkah mengembangkan mutu madrasah dengan menyesuaikan tujuan pendidikan. Dalam penelitian ini melihat guru sebagai kunci atau figur sentral dalam penyelenggaraan pendidikan atau peningkatan mutu pendidikan madrasah, yang memiliki posisi yang sangat strategis bagi seluruh upaya reformasi pendidikan yang berorientasi pada pencapaian kualitas murid dan persekolahan. Hal ini disebabkan, pada era globalisasi yang makin masif dan ekstensif ini, tanpa didukung oleh sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas, suatu Negara akan tertinggal jauh. Tolak ukur pengembangan Sumber Daya Manusia menjadi prioritas yang sangat urgen dalam pembentukan kepribadian bagi setiap Negara. Dalam menghadapi persaingan sosial, ekonomi, tekhnologi, dan kemanusiaan, semakin bereskalasi secara massif, Maka persyaratan kemampuan yang diperlukan orang untuk melakukan pekerjaan semakin meningkat, dimulai dari pengetahuan, ketrampilan, dan sikap. Dari sinilah, tuntutan akan perlunya profesionalisme dalam bekerja bagi seorang tenaga pendidik sangat dibutuhkan untuk memacu keberhasilan peserta didiknya. Betapapun baiknya kurikulum yang dirancang para ahli dengan ketersediaan peralatan dan biaya yang cukup sesuai dengan pendidikan, namun pada akhirnya keberhasilan pendidikan secara professional terletak ditangan guru. This study aims to determine the development strategy of the professionalism of educators at the school, this research is descriptive qualitative research that tries to explore the meaning of professionalism of teachers as a step to develop the quality of Islamic education by adjusting educational purposes. In this study, the teacher is a  key or central figure in education or improving the quality of Islamic education, which has a very strategic position for all reforms oriented educational attainment of pupils and the quality of schooling. This is because, in the era of globalization, is more massive and this extensive, unsupported by human resources quality, A State would be left far behind. The measurement of the development of human resources is a priority that is extremely vital in the formation of personality to any State. In the face of social, economics, technology competition, and humanity, increasingly escalated massively, then the requirements of the capabilities required to do the work increased, starting from the knowledge, skills, and attitudes. So  "professionalism in the works" for the educators is needed to spur the success of learners. Although  well-designed curriculum was made by  experts with complete facilities, the success of professional education lies in the
Peran Kepemimpinan Kepala Madrasah dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan Islam Marya tin
MUDARRISA: Jurnal Kajian Pendidikan Islam Vol 5, No 2 (2013)
Publisher : Prodi PGMI IAIN Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (399.759 KB) | DOI: 10.18326/mdr.v5i2.195-221

Abstract

Artikel ini akan menjelaskan secara singkat peran kepemimpinan kepala madrasah dalam meningkatkan mutu pendidikan. Seorang pemimpin sekolah memiliki peran strategis untuk mewujudkan kualitas sekolah pendidikan. Lembaga ini membutuhkan pemimpin yang memiliki kemampuan dalam memimpin. Penggerak utama adalah tokoh dan inspirasi dalam merancang dan mengerjakan kegiatan di sekolah. Pemimpin bukan hanya seorang Manajer, dia juga harus menjadi pembangun mental, moral, semangat, dan kolektivitas untuk jajaran bawahannya dan tidak hanya menggunakan aturan tertulis, tetapi juga sikap perilakunya, figur, dan contoh dalam melakukan agenda transformasi kepemimpinan yang lebih baik. Pemimpin tidak harus dianggap sebagai objek eksploitasi, dengan demikian bawahannya harus dianggap sebagai teman dan mitra kerja. Jadi tidak ada kesewenang-wenangan dan ketidakadilan. Karena tanpa bawahan pemimpin kurang berarti. This article will briefly explain the role of the leadership of the head of school in improving education quality. A school leader has a strategic role to realize the school's quality of education.  The institution needs a leader who has skills in leading. The principal mover is a figure and inspiration in designing and working on activities at the school. The leader is not just a Manager, he or she must also be a builder of mental, moral, spirit, and collectivity to his subordinates. He must not only use the written rules, but also the attitude of his behavior, image, and example in making a better leadership transformation agenda. The leader should not be regarded as an object of his exploits, thus his subordinates should be considered as friends and working partners. So there's no arbitrariness besides injustice. Leaders’ role is meaningless without his subordinate. Kata kunci:    kepemimpinan, kualitas pendidikan, sekolah islam, madrasah
Pendidikan Islam Berwawasan Multikultural; Sebuah Upaya Membangun Pemahaman Keberagamaan Inklusif pada Umat Muslim Muhammad Aji Nugroho
MUDARRISA: Jurnal Kajian Pendidikan Islam Vol 8, No 1 (2016)
Publisher : Prodi PGMI IAIN Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (350.618 KB) | DOI: 10.18326/mdr.v8i1.31-60

Abstract

Masyarakat majemuk bagian dari sunnatullah, yang memberikan sumbangan besar bagi munculnya ketegangan, konflik dan krisis sosial, sehingga tuntutan reformasi sistem pendidikan Islam yang terkesan sebagai alat indoktrinasi yang anti realitas multikultural perlu dilakukan agar mampu menciptakan tatanan kehidupan masyarakat yang damai, harmonis, menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, dan mampu beradaptasi dengan berbagai golongan yang berbeda namun tetap tidak terlepas dari akar budaya, agama, jati dirinya, dalam masyarakat yang plural sebagai insān kamīl (manusia paripurna). Pendidikan Islam berwawasan multikultural hadir bertujuan untuk: 1) menghapus prasangka “prejudice”, dan sekaligus untuk melatih dan membangun karakter siswa agar mampu bersikap demokratis, humanis dan pluralis; 2) membangun pemahaman keberagaman siswa yang inklusif sehingga mampu mengeliminir jarak sosial antar peserta didik yang berbeda agama guna terciptanya persaudaraan sejati; 3) mengajarkan bagaimana cara hidup ditengah pluralisme bangsanya; 4) memberikan perlindungan dari diskriminasi; 5) mengakui dan meng-akomodasi kebebasan individu kelompok minoritas, seperti berbicara, berkelompok, menjalankan agama dan sebagainya yang berakar dari nilai-nilai kebebasan, kesetaraan dan demokrasi, sehingga hak-hak kultural minoritas dapat terakomodasi dengan baik, yang berarti bahwa setiap peserta didik mempunyai hak untuk masuk dalam budaya tertentu, ikut dibentuk dan membentuk budaya itu. Plural society is a part of sunnatullah, which contributed greatly to the emergence of tension, conflict and social crisis, so that the demands for reform Islamic education system that impressed as a indoctrination of anti realities of multicultural needs to be done on creating a social order that is peaceful, harmonious, uphold humanity, and able to adapt to different groups but still cannot be separated from the roots of culture, religion, identity, in pluralistic society as insān kamīl. Islamic Education aims to present a multicultural conception: 1) remove the prejudice, and to train and build the character of students to be able to be democratic, humanist and pluralist; 2) build understanding of the diversity of students' inclusive to eliminate the social distance between learners of different religions to create true brotherhood; 3 ) teaches how to live amid pluralism nation; 4) providing protection from discrimination; 5) recognizes accommodation individual freedom of minority groups, such as talking, group, practice religion and so on are rooted in the values of freedom, equality and democracy, so cultural rights of minorities can be accommodated properly, which means that every student has the right to enter into a particular culture, are formed and participate in shaping the culture.

Page 3 of 16 | Total Record : 156