cover
Contact Name
Jurnal Etnohistori
Contact Email
etnohistori@unkhair.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
arlinahmadjid@unkhair.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota ternate,
Maluku utara
INDONESIA
ETNOHISTORI: Jurnal Kebudayaan dan Kesejarahan
Published by Universitas Khairun
ISSN : 24601055     EISSN : -     DOI : -
Jurnal ETNOHISTORI adalah publikasi ilmiah yang diterbitkan dengan tujuan turut serta mengembangkan ilmu Antropologi dan ilmu Sejarah di Indonesia. Karena itu, Redaksi Jurnal ETNOHISTORI menerima karangan dalam kedua ranah disiplin ilmu tersebut. Karangan dapat bersifat ulasan teoritis, refleksi metode, ataupun hasil penelitian lapangan.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 2 (2020)" : 5 Documents clear
MENGOBATI SAKIT DITENGAH KETERBATASAN FASILITAS PELAYANAN KESEHATAN MODEREN DI PULAU MARE KOTA TIDORE Arlinah Madjid
ETNOHISTORI: Jurnal Ilmiah Kebudayaan dan Kesejarahan Vol 7, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/etnohistori.v7i2.2959

Abstract

Artikel ini bertujuan mengungkapkan cara pengobatan kesakitan pada masyarakat Pulau Mare yang yang meskipun berada di antara dua kota besar di Propinsi Maluku Utara namun aksessibilitas masyarakatnya pada layanan kesehatan masih minim. Dengan pendekatan kualitatif, penelitian yang dilakukan pada tahun 2010 ini menggunakan teknik observasi, wawancara mendalam, dan pengumpulan dokumen. Hasil temuan menunjukkan bahwa aksesibilitas adalah salah satu faktor utama yang menghambat masyarakat di pulau-pulau kecil untuk mendapatkan fasilitas kesehatan yang layak dan memadai. Hal tersebut mengakibatkan banyaknya kasus kesehatan tidak terlayani dan tersembunyi dari laporan petugas kesehatan. Dalam menghadapi kendala geografis tersebut, masyarakat Pulau Mare memiliki sejumlah pengetahuan lokal yang telah digunakan selama bertahun-tahun untuk penanganan kesakitan sendiri. Data lapangan memperlihatkan terdapat dua kategori pengobatan di Pulau Mare yakni pengobatan medis dan pengobatan tradisional. Kedua kategori diasumsikan terpengaruh oleh tingkat pendidikan dan aksessibilitas warga terhadap fasilitas pelayanan kesehatan. Masyarakat di kedua desa memiliki kecenderungan yang berbeda dalam hal pemilihan cara pengobatan. Warga Mare Gam lebih cenderung memilih pengobatan medis sedangkan warga Mare kofo lebih memilih mempercayakan pengobatan tradisional dalam menyembuhkan kesakitan mereka. Pola pengobatan tradisional pada dasarnya sama antara Desa Mare Gam dan Desa Mare Kofo yakni bertumpu pada ritual Salai Jin, meski intensitas aktivitasnya lebih tinggi pada masyarakat Mare Kofo. Pengobatan tradisional terbagi atas dua yaitu pengobatan dengan metode ritual dan pengobatan dengan metode tanaman obat. Metode ritual sangat dipengaruhi oleh pandangan kosmologi masyarakat Mare akan penciptaan makhluk manusia, jin dan alam semesta. 
PERGESERAN BAHASA PADA MASYARAKAT LOLODA DI DESA SALU KECAMATAN LOLODA KABUPATEN HALMAHERA BARAT ABDON SILIBA; ANDI SUMAR KARMAN; RIDWAN .
ETNOHISTORI: Jurnal Ilmiah Kebudayaan dan Kesejarahan Vol 7, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/etnohistori.v7i2.4088

Abstract

 Artikel ini mengkaji tentang fungsi bahasa sebagai alat komunikasi dan interaksi yang harus dimiliki oleh manusia dan pemakaian bahasa itu sendiri, masyarakat tutur atau pun lingkungannya. Bahasa dapat berubah karena adanya pergeseran menyangkut mengenai bahasa, dimana sesuai dengan sifatnya yang dinamis, dan sebagi akibat persentuhan dengan kode-kode bahasa lain. Perubahan bahasa menyangkut masalah mobilitas penutur dimana sebagai akibat dari perpindahan penutur atau para penutur itu sendiri yang menyebabkan terjadinya pergeseran itu. Sedangkan pemertahanan bahasa lebih kepada orang tua-tua. Hasil penelitian menunjukan bahwa pandangan masyarakat tentang bahasa Loloda sangat menurun dalam bahasa Loloda..Kata kunci: pergeseran bahasa, Loloda
CAP TIKUS PADA REMAJA DI KELURAHAN BASTIONG KARANCE KECAMATAN TERNATE SELATAN MUSLIM HAMJA; SYAHRIR IBNU; HUDAN IRSYADI
ETNOHISTORI: Jurnal Ilmiah Kebudayaan dan Kesejarahan Vol 7, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/etnohistori.v7i2.4089

Abstract

Minuman cap tikus merupakan salah satu minuman lokal yang diproduksi, persebaran minuman cap tikus dikalangan para remaja bukan hal yang baru kita dengar, namun sudah menjadi umum di telinga masyarakat bahwa minuman cap tikus sering dikonsumsi oleh siapa saja dan khusus bagi remaja di setiap wilayah, kabupaten maupun kelurahan. Persebaran minuman keras dengan berbagai jenisnya berbeda yang di konsumsi dikalangan remaja. Minuman cap tikus juga dikonsumsi oleh remaja juga Bastiong Karance, di Kota Ternate. Penyalahgunaan minuman keras saat ini merupakan masalah yang cukup berkembang dikalangan remaja pada umumnya yang meningkat dari tahun-ketahun khususnya di kelurahan Bastiong Karance. Mengkonsumsi minuman Cap Tikus dikalangan remaja biasanya dipengaruhi oleh lingkungan sekitar dan teman sebayanya, sehingga hal tersebut (mengonsumsi minuman cap tikus) dapat membentuk perilaku yang kurang baik dan ketersediaan minuman tersebut di masyarakat yang begitu muda didapat merupakan salah satu faktor penyebab penyalagunaan konsumsi alkohol dikalangan remaja. Jenis penelitian yang gunakan dalam penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, dengan metode obeservasi serta wawancara. Infroman yang didapat dalam penelitian ini sebanyak 15 orang. Dari 15 orang informan terdiri dari 1 pemerintah kelurahan, 1 pemerintah kecamatan, 3 orang dari masyarakat, dan remaja 7 orang, pemuda 1. Hasil penelitian ini menunjukan, Minuman Cap Tikus ikut dikonsumsi remaja, menunjuhkan dampak yang sangat tidak baik, diantaranya : Mulut Terasa Kering, Jantung Berdegup Lebih Kencang, Menimbulkan Rasa Mual, Kesulitan Bernafas, Sering buang air kecil. Hal ini menunjukan tingkat dari minuman cap tikus yang dikonsumsi oleh para remaja. Persoalan tersebut juga meresakan masyarakat karena sering menimbulkan damapk yang buruk di antara remaja yang sedang mabuk. Kata Kunci : remaja, minuman cap tikus, Bastiong Karance.
PERUBAHAN MUSIK TRADISIONAL DAN RESISTENSINYA PADA MASYARAKAT TIDORE SITI MARYATI SALASA; SAFRUDIN AMIN
ETNOHISTORI: Jurnal Ilmiah Kebudayaan dan Kesejarahan Vol 7, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/etnohistori.v7i2.4090

Abstract

Orang Tidore adalah orang yang menjunjung tinggi warisan leluhurnya. Namun, seiring perkembangan zaman musik tradisional menjadi sangat jarang terdengar dan dimainkan. Selain itu, juga tertinggal jauh dari musik modern. Instrumen dan music tradisional Tidore ini hanya dimainkan dan dinyanyikan pada acara tertentu, seperti pada ritual kesenian daerah dan acara adat. Kondisi ini menimbulkan kecemasan dan kekhawatiran dikalangan masyarakat pendukung musik tradisional Tidore, yang pada tingkat tertentu dapat dianggap sebagai gejala perlawanan. Dalam kehidupan masyarakat subkultur pendukung musik tradisional Tidore, perlawanan yang dilakukan cenderung mempertahankan dengan melestarikan musik tradisionalnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan-perubahan yang terjadi pada musik tradisional Tidore dan menjelaskan resistensi masyarakat pendukung musik tradisional Tidore atas perubahan yang terjadi tersebut. Kata kunci: musik tradisional, resistensi, tidore
RITUAL ARUWAHANG PADA ORANG TERNATE DI TOGOLOBE, PULAU HIRI ASRUL LAMUNU; SAFRUDIN ABD. RAHMAN; DEWI APRIANI ACO
ETNOHISTORI: Jurnal Ilmiah Kebudayaan dan Kesejarahan Vol 7, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/etnohistori.v7i2.4087

Abstract

Ternate is an historical Sultanate with a variety of cultures and traditions. An example of this is the Aruwahang death rite of the ethnic Ternate people of Togolobe, Hiri island. The people of Ternate also have a rich oral tradition, which is still practised today. Ethnic Ternate people uphold these adat (customary) norms and values. The wealth of these traditions serves as evidence that Ternate is a region capable of conserving its ancestral culture as well as giving meaning to the norms and values there of. In order that the meaning of the Aruwahang ritual be fulfilled, it is considered important that it be performed with strong adherence to customary procedure. Ternate people do not consider the Aruwahang to be merely a ceremonial procession, but as an essential ritual after a person’s death. The followers of the Aruwahang believe in the value and meaning that this ritual gives to the people of Ternate. The place the ritual takes place, the attendees (gogoro), the offering of adat food (ngogu adat), and other aspects of the ritual, are all considered to have an important meaning with regards to the life of an ethnic Ternate person. Ngogu adat, usually called jaha se kukusan by the local people, is based upon symbols of life, death and faith in God. This study was conducted in Togolobe village, Hiri Island sub-district, North Maluku. Qualitative data were collected from observation, in-depth interviews, and other technical documentation provided by the study subjects. The study was conducted in four stages: study design, data collection, data analysis, and presentation of results. The data analysis was performed in three stages: data reduction, data display, and conclusion drawing and verification. Two principal conclusions were derived from our study. Firstly, the Aruwahang ritual is an attractive and unique ancestral inheritance that must be maintained by the ethnic Ternate people. Secondly, that Aruwahang is a religious death rite (dina) that is still faithfully practiced today. Kata kunci: Aruwahang ritual, ngogu adat, dina, symbolism 

Page 1 of 1 | Total Record : 5